Sebelumnya di Make You Alive…

.

.

"KALIAN BODOH ATAU APA?! JANGAN HANYA MENONTON! CEPAT TELEPON AMBULANS DAN KEPOLISIAN!" Kuroko benar-benar panik. Dengan cepat Kuroko mengambil telepon genggamnya. Bukan untuk menelepon ambulans atau kepolisian. Tapi untuk menelepon lelaki yang menampung Aomine.

"Ya halo Kuroko?" Ucap orang di seberang

"Ka-Kagami-kun…Aomine-kun… Aomine-kun…" mata Kuroko mmulai berair

"Kuroko?! Ada apa?! Ada apa dengan Aomine?!" orang yang di seberang menjadi panik

"Aomine-kun ke-kecelakaan…"

"APA!?"

.

.

.


Make You Alive

.

Disclaimer : Tadotoshi Fujimaki

Genre(s) : Romance, Tragedy, Hurt/Comfort

Pair : AoKaga

Warning : OOC, AU, AR, Typo(s), EYD, Alur Kecepetan, Hurtnya ga kerasa :'v, gaje, beberapa bagian yang di garis miringi berisi flashback, Shounen-Ai, etc…

KirigayaKyuu©

.

.


Chapter: Aomine's Story. Side B


.

Kagami yang sedang menyetir langsung meminggirkan mobilnya. Badannya tidak bisa di gerakkan. Kelu. Dia seperti tidak percaya apa yang di katakan Kuroko.

"Ti-tidak mungkin k-kan? La-lagi pula k-kau bi-bisa saja ber-berbohong" ya, Kagami mencoba untuk tidak percaya.

"Ini be-benar Kagami-k-kun. Tolong cepatlah ke sini…" suara Kuroko di seberang melemah. Dan kemudian menangis. Bagaimana tidak? Kuroko baru saja menemukan cahaya untuk Kagami. Cahaya yang membuat Kagami-nya tersenyum seperti dulu lagi. Dan sekarang cahayanya-sedang-di ambil. Bagaimana Kuroko bisa tidak menangis?

"I-itu bu-bunyi ambulans 'kan?" tanya Kagami-yang mendengar bunyi di belakang Kuroko-masih tidak percaya.

"Ah, iya, am-ambulansnya baru saja datang. Cepatlah Kagami-kun ke Teiko Hospital. Sepertinya keadaan Aomine-kun memburuk…" Kagami mendengarnya, mendengar suara ambulans dan rintihan-tangisan- Kuroko.

"I-iya, aku akan menuju ke sana"

"Cepatlah Kagami-kun…"

Dan sambungan di matikan. Kagami langsung menancap gas menuju Teiko Hospital.

.

Pupus sudah. Pupus sudah semua niatan Kagami. Niatan Kagami yang ingin sampai rumahnya dan mengajak Aomine berduel memasak. Niatan Kagami yang ingin mengajak Aomine ke amusement park. Niatan Kagami yang ingin melihat Aomine tersenyum. Niatan Kagami yang berasal tulus dari hatinya.

Semua itu pupus, setelah mendengar sebuah kalimat dari Kuroko-temannya. "Aomine-kun ke-kecelakaan"

Memang, Kagami belum mengetahui jenis kecelakaan apa yang menimpa Aomine, tapi ketakutan sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Sekelebat bayangan Himuro yang meninggal-tepat-di depan matanya muncul kembali. Takut. Sangat takut. Kagami tidak mau ke hilangan satu orang lagi dari hidupnya.

"Tuhan, tolong selamatkan Aomine. Apapun jenis kecelakaannya. Tolong tuhan. Aku, aku-" lampu merah. Sekarang Kagami menunggu lampu lalu lintas berubah hijau sambil merenung.

"Jadi ini perasaan tidak enakku. Ternyata ini adalah pertanda." Kagami baru saja sadar atas perasaan tidak mengenakkannya. Ingin Kagami menangis. Tapi air matanya tidak mau keluar. Dan lampu berubah hijau.

.

.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Kuroko terus-menerus mengkomat-kamitkan doa, permintaannya kepada sang Pencipta.

"Tuhan, tolong tuhan, tolong selamatkan Aomine-kun. Aku rela jika hidupku yang harus ku tukarkan…tolong Tuhan" ucap Kuroko dalam hati berkali-kali. Bahkan Kuroko rela hidupnya di tukarkan. Ironis.

"Beep…Beep" bunyi telepon genggam Kuroko.

"Kagami-kun?"

"Ah, Kuroko. Aku sudah sampai di rumah sakit. Kau dimana?" Kuroko tahu, Kuroko peka. Suara Kagami, suara Kagami sendu, seperti tidak bersemangat hidup.

"Um, Kagami-kun sebentar lagi kita sampai"

"Ya, aku tunggu."

Sambungan diputus oleh pihak seberang.

"Lihat? Jika hanya mendengar Aomine kecelakaan saja membuatnya seperti ini, apa lagi jika Aomine mening- tidak. Tidak akan." Kuroko berdebat dengan dirinya sendiri.

Mobil ambulans berhenti. Sepertinya Kuroko sudah sampai di Teiko Hospital. Seorang perawat membuka pintu belakang mobil. Kuroko keluar duluan untuk mencari Kagami. Baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang sudah menepuk pundaknya.

"Kuroko?" ucap seseorang sambil menepuk pundaknya

"Ya- eh? Kagami-kun?"

"Hm, berceritanya nanti saja. Sekarang yang terpenting adalah mempertemukan Aomine dengan dokter"

Kuroko mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan mengikuti Aomine-yang tertidur di kasur yang sedang di dorong para perawat-.

.

Sepi sekali di lorong menuju UGD rumah sakit ini. Langkah Kagami serasa sangat panjang dan lama. Padahal dia merasa berjalan sama cepatnya dengan rombongan Aomine.

"Ugh…" Kagami merasakan sakit yang teramat-amat di kepala dan dadanya.

Kuroko yang melihat 'gejala' pada Kagami langsung menghampirinya "Ka-Kagami-kun? Daijobu desu ka?"

"Uhm, hanya sedikit pusing" Kagami memijat-mijat kepalanya. "Kalau ini mimpi, cepat sadarlah diriku!"

"Ehm, permisi. Apakah anda saudara dari orang yang terkena kecelakaan itu?" tanya seorang lelaki bersurai hitam.

"Ya, ada apa?" jawab Kuroko yang mewakili Kagami.

"Keadaannya memburuk…" Kagami merinding mendengarnya "…kami akan mencoba yang terbaik. Tapi sebelum itu lebih baik anda mengurus data-datanya di ruang administrasi, permisi" dan lelaki ber surai hitam itu pergi memasuki ruang UGD.

"Ka-Kagami-kun, aku yang urus atau kau?" tanya Kuroko

"Aku saja" dan Kagami pergi ke ruang administrasi, sedangkan Kuroko terududuk di kursi rumah sakit.

.

"Ini" Kagami mengembalikan selembar kertas formulir

"Terima kasih, kami akan mencoba yang terbaik" ucap perempuan itu.

Kagami sedang berjalan menuju tempat Kuroko tadi. Kebetulan, dia melihat fending machine, kerongkongannya terasa kering. Kagami memasukan 2 koin 500 yen. Mengambil black coffee-nya. Dan kembali berjalan dengan otak kosong.

"Kuroko, ini" Kagami menyodorkan black coffee

"Arigatou" Kuroko menenggak minumannya

"Jadi, bisa kau ceritakan bagaimana kejadiannya?" ucap Kagami in to the point

"Uhm.. tadi aku sedang berjalan menuju tempat kompetisi dunk. Kau tahu kan Kagami-kun?" Kagami mengangguk. Kuroko memang pernah memberikan selembaran lomba itu padanya.

"Aku ingin melihat, apakah masih ada yang berlomba atau tidak. Itu niatanku… sampai…" Kuroko menelan ludahnya sendiri.

"…aku melihat keramaian di tengah jalan, aku kira ada atraksi menarik. Jadi aku melihatnya…"

"Dan ternyata itu adalah Aomine?" tebak Kagami. Di jawab dengan anggukan Kuroko.

"Se-sebuah truk menyeruduknya. Badan Aomine-kun terjepit diantara tiang listrik dan truk. Darah mengucur di mana-mana…" suara Kuroko mengecil

Hati Kagami seperti ter iris-iris saat mendengarnya. Dia bahkan belum melihat keadaan Aomine sama sekali.

"A-aomine-kun pingsan sebelum aku datang…jadi-" kalimat Kuroko terpotong setelah melihat dua orang lelaki berpakaian serba putih berjalan ke arahnya.

"Apakah anda saudara dari pasie-Kagami?" ucap lelaki bersurai hijau.

"Eh? Midorima? Kau dokter di sini?" keterkejutan Kagami berlanjut. Dia melihat teman semasa SMA-nya yang sekarang sepertinya menjadi dokter di Teiko Hospital.

"Uhm, ya. Aku yang akan terus memantau si rambut bir- ah, Aomine-san." Ucap lelaki bernama Midorima itu-yang ternyata dokter dan teman Kagami-.

"Jadi bagaimana keadaanya?" Kagami tidak bisa bertele-tele sekarang.

Midorima membenarkan posisi kaca matanya yang tidak turun sesenti pun. "Keadaanya mulai membaik…" Kagami dan Kuroko menghela nafas bersyukur mendengarnya "…walau ada beberapa tulang retak. Di kaki, tangan, dan punggung. Dan luka kecil" Kagami merinding.

"Ha-hanya retak 'kan? Tidak pa-patah?" Kuroko angkat bicara.

"Eh? Ada Kuroko juga? Ehm, berutungnya tidak ada tulang patah" ucap Midorima. Membuat mereka berdua lega.

"Midorima-sensei" lelaki bersurai hitam yang ada di samping Midorima seperti ingin membisikkan sesuatu.

"Ada apa Takao?" lelaki itu ternyata bernama Takao. Dan Takao membisikkan sesuatu. Setelah selesai acara bisik-berbisik, Midorima mengangguk.

"Apa sekarang kami boleh menjenguk Aomine-kun?" Kuroko bertanya.

"Maaf, tidak bisa sekarang. Aomine-san…" atmosfir berubah tegang "…Koma"

.


.

"Maaf, tidak bisa sekarang. Aomine-san…" atmosfir berubah tegang "…Koma"

Kagami dan Kuroko kaget bersamaan.

"Ko-koma?! Bagaimana bisa?!" Kagami menjadi histeris

"sepertinya, kepalanya sempat terbentur sangat kencang. Membuat saraf-saraf pusat di tubuhnya berhenti. Dan beruntung, Aomine-san tidak terkena gagar otak"

Okay, Kagami tidak bisa berdiri sekarang. Dia terduduk di kursi. Tatapan matanya kosong.

"Midorima-kun apakah Aomine-san bisa 'bangun' kembali?" tanya Kuroko-yang sepertinya mewakilkan Kagami-.

"Itu, tergantung dengan kondisinya sendiri." Kalimat Midorima tidak masuk kedalam otak Kagami ataupun Kuroko. Yang terdapat di pikiran mereka adalah 'apa Aomine akan meninggal?' sungguh pertanyaan bodoh yang keluar saat orang panik.

"A-aku ingin melihat Aomine sekarang." Kagami yang hendak berjalan lalu di tahan Takao.

"Jangan hentikan aku!" Kagami menggila.

"Kagami, besok kau boleh menjenguknya. Tapi sekarang, biarkan kami yang menjaganya." Ucapan Midorima sangat tegas. Ucapan yang dapat membuat Kagami mereda.

"Ja, kami akan pulang. Terima kasih Midorima-kun, Takao-kun. Tolong jaga Aomine-kun. Ayo Kagami-kun" Kuroko ber-ojigi dan menyeret Kagami-yang masih kaget- untuk pulang.

.

.

Kuroko dan Kagami terdiam di dalam mobil-yang di setir Kagami-. Mereka sedang berada di pikiran masing-masing. Kagami yang mengkhawatirkan Aomine, dan Kuroko yang mengkhawatirkan mereka berdua.

Kalimat Midorima-sensei terus menerus mengiang-ngiang di benak mereka berdua.

"Aomine-san…Koma" dan "Beruntung Aomine-san tidak terkena gagar otak"

Bulu kuduk Kagami dan Kuroko merinding mengingatnya. 'Bagaimana keadaan Aomine sekarang?' itu yang terus menerus di tanyakan Kagami pada dirinya sendiri.

Kagami mengantar Kuroko ke stasiun. "Arigatou, Kagami-kun. Hati-hati di jalan" Kuroko keluar dari mobil. Dan seper sekian detik kemudian, mobil sport merah Kagami menghilang di kegelapan sore menjelang malam.

.

Kagami harus melewati jalan memutar. Di karenakan jalan biasa yang menuju ke rumahnya, sedang di batasi dengan garis kuning-hitam polisi. Jalan yang di mana terjadi kecelakaan Himuro dan…Aomine.

"Ah, kurasa sepertinya Kuroko yang harus ke kantor polisi untuk menjadi saksi" ucap Kagami. Suaranya bergetar. Dan akhirnya, mata Kagami, mengeluarkan cairan bening yang amat deras.

"Aho…mine…" ucapnya di sela-sela tangisannya.

Memang, Kagami baru mengenal Aomine sekitar tiga hari. Tetapi tiga hari itu serasa tiga tahun. Kagami seperti, tidak mau kehilangan Aomine. Di dadanya ada sesuatu yang bergejolak. Berteriak. Menangis. Merasaakan perasaan yang familiar di benakknya.

"Tu-tunggu dulu, i-ini tidak mu-mungkin…ci-cinta 'kan?" Kagami kebingungan sendiri.

Perasaan ini begitu familiar. Dulu dia pernah merasakannya, dan juga membaginya, untuk Himuro. Tapi, tidakkah ini terlalu cepat? Well, cinta Kagami pada Himuro juga termasuk cepat. Tapi tidak secepat ini! Ini baru tiga hari!

Lama kelamaan tangisan Kagami mulai mereda sesampainya di parkiran apartemennya. Arlojinya menunjukan pukul 6, pantas sudah mulai gelap. Mata Kagami lebam kemerahan. Dia berjalan menuju lift.

Lantai dua, tiga, empat, lima. Lift ini berjalan lama sekali. Apartemen Kagami termasuk elit dalam satu lantai terdiri dua lantai dan hanya 2 unit. Sedangkan unit Kagami berada di lantai 10.

"Ting!" bunyi ini menandakan kalau sudah mencapai lantai yang di tuju.

Kagami keluar dari lift dan berbelok ke kanan-menuju unit apartemennya-.

"Uh?" Kagami menyadari kalau ada seorang lelaki berdiri di depan pintu apartemennya.

Merasakan ada suara, lelaki itu menengok "Ah, Konbanwa"

"Konbanwa, ada apa ya?"

"Ehm, apa benar ini apartemennya Aomine Daiki-san?" tanya lelaki itu pada Kagami.

"Lho, kok lelaki ini bisa kenal dengan Aomine" pikir Kagami. "Uhm, anda siapa ya?" tanya Kagami balik.

"Ah, sumimasen. Saya Kasamatsu Yukio, dan anda?"

Kagami memperhatikan orang ini dari atas sampai bawah "Kagami Taiga. Ada apa ya mencari Aomine?"

"Ehm, ingin memberikan sesuatu. Apa Aomine-nya ada?" ucap Kasamatsu

"Kau siapanya Aomine?" Kagami terus mengulur-ulur percakapan mereka

"A-aku pemilik kafe 'KaiFue' dan 'boss'nya Aomine. Apa Aomine belum bilang?" Kasamatsu melihat raut wajah Kagami yang kebingungan "Ck, ano yatsu…" kalimat Kasamatsu membuat Kagami bingung. Sejak kapan Aomine bekerja? Dan, mengapa dari cara bicara orang ini seperti sangat kenal Aomine?

"Aomine sedang tidak ada di sini" ucap Kagami.

"Ah? Sou desuka. Jadi ini benar tempat tinggalnya Aomine kan?" Kagami mengangguk

"Saya akan kembali besok. Terima kasih ya" Kasamatsu ber-ojigi dan pergi menuju lift.

"Aomine…" pergerakan Kasamatsu berhenti "…Kecelakaan" benar-benar berhenti

.

"A-apa? Ba-baru saja tadi sore dia ke kafe ku, kok bi-bisa?" raut wajah Kasamatsu menegang. Kagami merasa kalau orang ini bukan orang jahat, dan sepertinya sudah lama mengenal Aomine, jadi…

"Besok kau boleh ke Teiko Hospital untuk menjenguknya. Ini nomorku, jika sudah sampai silahkan kabari. Konbanwa" setelah Kagami memberikan secarik kertas-yang sepertinya tercantum nomor telepon Kagami- dia lalu memasuki apartemennya tanpa menengok. Meninggalkan Kasamatsu yang masih tidak percaya.

"Ba-bagaimana ini? Ryo…"

.


.

Kagami tertidur di sofa dengan tidak tenang. Keringat bercucuran dari seluruh badannya. Mulutnya seperti mengigaukan nama seseorang. Badannya bergerak ke sana-kesini.

"Hi-HIMUROOOOOO!" Kagami terbangun. Terbagun dari mimpi buruknya. Baru saja dia melihat kejadian Himuro meninggal di mimpinya. Untung, bukan Aomine yang meninggal di mimpinya itu.

"Ahk! Aku butuh air" Kagami segera menuju ke keran air. Mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya.

"Ah…" air yang memasuki rongga tenggorokkanya cukup mendinginkan badan Kagami.

"Himuro…bukannya kau berjanji untuk menjaga Aomine? Tapi mengapa…mengapa Aomine bisa terkena kecelakaan seperti ini?" Kagami menangis. Lagi.

Kagami merasa begitu bodoh, meminta Himuro-yang jelas-jelas sudah meninggal- untuk menjaga Aomine. Kagami terus menangis, sambil memanjatkan do'a. dan tanpa di sadarinya, sesosok bayangan tipis menatap kearahnya sedih.

"Maafkan aku Kagami…" bayangan itu mendekat ke arah Kagami.

"Ah!" Kagami merasa ada yang memegang pipinya, lebih tepatnya menghapus air matanya. "Himuro…" salah satu orang yang ada di benaknya. "Tidak mungkin itu Himuro, mungkin hanya imajinasiku saja" Kagami segera mengenyahkan pikiran itu.

"Aku akan menjaganya untukmu, Kagami" Dan bayangan itu hilang.

.

.

Kagami tidak bisa tidur. Pagi hari, sekitar jam 6, dia langsung melesat ke Teiko Hospital. Dia sangat ingin melihat Aomine.

Kagami memasuki mobil sport merahnya. Menyolokkan kunci mobil dan men-starter nya. Kagami tanpa basa-basi langsung menginjak gas untuk melihat Aomine.

.

"Hoaam, Ya halo?" Ucap seseorang di seberang

"Kuroko, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Kau dimana?"

"Astaga Kagami-kun ini masih jam 6 pagi?! Tunggu, apa kau ingin membolos kerja hari ini? Oh, aku masih di rumah"

"Kerjaanku sudah selesai semua, tinggal di kirim ke pihak percetakkan. Cepatlah ke rumah sakit. Dan, ya aku membolos"

"Ttaku, Kagami-kun aku tidak bisa bolos, tapi mungkin aku boleh masuk siang. Aku akan segera ke sana. Ja"

"Hm"

Dan Kagami memutus sambungan.

.

Dengan sangat cepat, Kagami sudah sampai di Teiko Hospital. Dan tentu, dengan bodohnya Kagami menuju ruang UGD, yang jelas-jelas tidak mungkin Aomine masih berada di sana.

"Dimana Aomine?" tanyanya pada diri sendiri.

"Ah…Kagami-san. Cepat sekali datang? Ini kan belum jam berkunjung" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Kagami.

"Ta-Takao 'kan? Ehm, di mana Aomine?" tanya Kagami lagi.

"Dia berada di ruang ICU. Karena kau bisa di bilang 'saudaranya' aku akan mengantarmu" Kagami tersenyum berterima kasih "Tapi sebelumnya, kau harus membawa tanda pengenal" dan Kagami diantar Takao untuk mengambil tanda pengenal dan segera menuju ruangan Aomine.

.


"Di sini" sekarang Kagami dan Takao sudah berada di depan pintu ruangan ICU. Dengan pelan Takao membuka pintunya.

Mereka berdua memasuki ruangan itu, dan alangkah terkejutnya Kagami saat melihat Aomine. Keadaan Aomine sekarang sangatlah mengerikan -bagi Kagami-. Dengan selang-selang ventilator terpasang pada hidung dan mulutnya, perban di kepalanya, wajahnya yang seharusnya berwarna ke-coklatan menjadi pucat bagai orang yang mau mati, mesin-mesin elektrokardiogram –pendeteksi detak jantung- berada di samping Aomine, dengan kabel-kabel entah apa yang menempel pada tubuhnya-yang pastinya penuh dengan luka-.

"A-a-ao-mine…" suara Kagami bergetar. "I-ini lebih parah dari pa-pada Himuro…" hatinya menangis.

"A-apa boleh aku duduk di sini? Menjaganya?" tanya Kagami-yang masih dengan suara bergetarnya-

"Eh? Ehm, tentu. Jika kau ingin bertanya lebih lanjut tunggu sampai Midorima-sensei datang. Ja, aku akan melanjutkan tugasku" Takao undur diri sambil ber-ojigi.

"Ya, arigatou"

Sekarang Kagami duduk di samping Aomine. Memegangi tangannya yang tertempel selang infus.

"Aomine…baru tadi pagi kau membuatkanku nasi goreng. Kenapa sekarang kau malah tertidur nyenyak disini?" Kagami mengajak ngobrol Aomine. Yang pasti tidak dapat di jawab Aomine.

"Ne, Aomine. Kau tahu? Orang yang sedang tertidur amat nyenyak sepertimu memang tidak dapat menjawab obrolan. Tapi kata orang, mereka bisa mendengarnya"

"Ah…" mata Kagami terbuka-tertutup. Rasa kantuk baru saja menjalari matanya sekarang. Dan tanpa sadar, Kagami tertidur-masih dengan tangan mereka yang saling bertautan-.

.

"Duh, kenapa tidak di angkat telepon ku?" Kuroko mengeluh kesal. Sudah setengah jam Kuroko mencoba menghubungi Kagami, namun hasilnya nihil. Sekarang pukul 8. Dan Kuroko sudah sampai di rumah sakit.

"Sepertinya ini sudah masuk jam besuk" dia berjalan menuju meja resepsionis.

"Ano…sumimasen, saya ingin membesuk seseorang" ucap Kuroko

"Hai, sekarang sudah masuk jam besuk. Silahkan isi formulir ini." Perempuan itu memberi selembar kertas dan pulpen pada Kuroko.

Setelah mengisi formulir itu, Kuroko segera memberikannya kembali kepada resepsionis. "Ini"

"Eeto, siapa nama orang yang akan anda besuk?" tanya perempuan itu sambil mengisi data di komputer.

"Aomine… Daiki" perempuan itu berhenti mengetik.

"Ah, penghuni ICU ya? Sumimasen, untuk penghuni ICU harus di dasari dengan perjanjian dokter terlebih dahu-" kalimat perempuan itu dipotong "Aku yang mengizinkannya"

"Midorima-sensei!" perempuan itu terkejut dan segera memberikan Name Tag kepada Kuroko.

Midorima dan Kuroko segera menuju ruangan ICU yang di tempati Aomine.

"Midorima-kun terima kasih" Kuroko mengucapkannya dengan malu-malu. Ya, dulu sewaktu SMA, Kuroko memang pernah menyukainya. Bukan dalam artian cinta, tetapi kagum. Lebih tepatnya, dan itu masih berlangsung sampai sekarang.

"Hn" Midorima mengeluarkan Tsundere no Jutsu-nya yang bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.

Mereka berdua sampai di depan pintu ICU. Dengan perlahan, Kuroko membuka pintu –seakan takut membangunkan ornag yang berada di dalam-. Sama seperti Kagami, Kuroko juga sangat terkejut melihat keadaan Aomine. Dan tambah terkejut lagi setelah melihat Kagami tertidur -dengan tangan yang masih saling bertautan- disamping Aomine.

"Ehm, mungkin aku akan mengeceknya nanti. Ja, Kuroko" Midorima meninggalkan ruangan ICU.

Kuroko tersenyum miris melihat dua kaum adam di hadapan matanya. Beruntung Kuroko membawa syal –yang masih terpasang di lehernya-. Dia segera melepas syalnya dan menyelimuti badan Kagami dengan itu.

Di karenakan tidak mau mengganggu mereka berdua, Kuroko ber inisiatif untuk keluar.

"Eh?" baru saja Kuroko mau membuka pintu, tetapi sudah ada orang lain yang membukanya.

"Ah, Ohayou." Ucap lelaki itu yang teryata tidak sendirian.

"Ohayou, eeto…anda siapa ya?" tanya Kuroko

"Aku Kasamatsu Yukio, dan dia Hayakawa Mitsuhiro" mereka berdua ber-ojigi. Kuroko yang tahu sopan santun ikut ber-ojigi.

"Mau membesuk siapa ya?"

"A-Aomine Daiki…" Kuroko yang tidak tahu-menahu tentang 'masalah lainnya' Aomine pun mempersilahkan kedua lelaki itu masuk.

Awalnya Kuroko tidak tega membangunkan Kagami, tapi di karenakan ada tamu, ya jadinya Kuroko mau tidak mau harus membangunkannya "Kagami-kun…Kagami-kun…bangun…" Kuroko sedikit mengguncang-guncang badan Kagami.

"Engh? Hoaaam…ah, Kuroko" Kagami ahkirnya terbangun dari tidurnya. Di matanya tersisa sedikit cairan bening.

"Ohayou, Kagami-san" mendengar ada suara asing, Kagami menoleh ke arah suara tersebut.

"Ehm? Eeto…kasama…tsu-san da yo ne?" tanya Kagami yang di balas anggukan kepala Kasamatsu.

"Ini, maaf kami hanya membawa kalangan bunga" Kagami mendengar plus melihat orang asing-lagi-. Terlebihnya, cara bicara lelaki itu, seperti bocah. "Ah, saya Hayakawa Mitsuhilo" lelaki itu memperkenalkan dirinya.

"Kagami Taiga"

Dan mereka ber-empat memulai perbincangan yang membahas tentang 'kecelakaan' Aomine.

.

"Ya, nanti aku akan ke kantor polisi" ucap Kuroko kepada Kagami yang sekarang berada di luar kamar membiarkan Kasamatsu dan Hayakawa menghabiskan waktu dengan Aomine.

Kagami mengangguk "Tanomu, Kuroko"

.


.

Sekarang hari sudah menjelang malam. Kuroko sudah kembali dari kantor polisi, dan sedang dalam perjalanan menuju rumah. Kasamatsu dan Hayakawa yang tentunya memiliki pekerjaan di café, sudah kembali dari tadi siang. Dan sekarang hanya Kagami sendiri merenung di samping kasur Aomine.

"Keadaanya mulai memburuk, Kagami. Jika terus berlanjut, ini akan membahayakan hidup Aomine" Midorima membenarkan posisi kaca matanya yang tidak turun se sentipun

"APA?! Tu-tunggu, kau kan dokter! Harusnya kau bisa membuat keadaanya lebih baik dong?!" Kagami menaikkan suaranya

"Kagami… turunkan suaramu, ini di rumah sakit…" Midorima mengingatkan "…Dan itu tidak sepenuhnya salah kami. Jika Aomine memiliki semangat hidup, mungkin keadaanya tidak akan seburuk ini" dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Midorima dalam menjadi dokter, ini pertama kalinya dia mendapatkan pasien yang tidak memiliki semangat untuk sembuh dan hidup.

"Ano… Kagami, apa kau tahu masalah apa yang dia punya? Bisa saja dia terkena koma karena faktor masalah"

Kagami terdiam. Dia tahu kalau Aomine memiliki masalah, tetapi dia tidak tahu masalah apa yang di miliki Aomine secara persis.

"A-aku tidak tahu…" suara Kagami melemah.

Midorima menepuk pelan pundak Kagami "Hm, kalau begitu, kau berdo'a lah. Kami juga akan melakukan yang terbaik. Sonja" dan dia melangkah menjauh dari Kagami.

"Ahomine…" Kagami mencium kening Aomine, berharap dia akan bangun. Lama kelamaan Kagami tertidur di samping Aomine.

.

.


"Hoaaaaaamm…" aku menguap untuk yang kesekian kalinya hari ini. Sungguh membosankan.

Padahal ini baru masuk semester 2 kelas 1 SMA, tapi semua sekarang terasa membosankan. Bahkan basket –olahraga ku yang paling ku suka- rasanya membosankan. Sekarang aku sedang tertidur di atap sekolah, memandang langit-langit. Berharap ada sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosanku. Dan secara tiba-tiba aku ingin pergi ke gedung basket. Kakiku dengan sendirinya berjalan ke arah gedung olahraga.

"Duk…Duk…Duk"

Aku mendengar ada suara bola yang di drible. Tunggu, di tengah jam pelajaran? Ya, ku akui aku sedang membolos pelajaran. Tetapi siapa orang yang 'juga' sedang membolos itu?

"Hoi" panggilku. Sayangnya, seseorang itu –yang kelihatan sebagai lelaki- terlalu sibuk dengan permainannya.

"Hoi!" aku menepis bola yang akan di shootnya ke arah ring.

"AAAA?! Apa-apaan kau?!" teriak orang itu kaget dan kesal.

Aku memperhatikan wajahnya"Lagian dari tadi aku panggil kau tidak mau menyahut"

"Ck, gomen-eh?! Kok aku yang minta maaf?!" aku tertawa kecil melihat tingkah bodohnya.

Mungkin merasa diperhatikan olehku, dia agak kurang nyaman untuk bergerak"Ehm, bisa kau memperkenalkan dirimu?"

"Hm? Kenapa harus aku duluan?" wajah lelaki itu menekuk. Kesal.

"Tttaku, aku Kise Ryota. Dan kau?" dia mengulurkan tangannya.

Aku awalnya masih menimbang-nimbang, apakah dia bisa menjadi teman yang baik atau tidak. Tapi, masa bodo lah. Kita lihat kedepannya bagaimana.

Aku menjabat tangannya "Aomine Daiki"

Dan itu adalah saat pertama aku bertemu dengan Kise.


.

.

"Hachi!" Kagami bersin. Ruangan ini mungkin terlalu dingin untuknya? Atau Kagami sedang sakit?

"Duh, di mana ya selimutku?" Kagami mencari-cari selimutnya – yang dia bawa dari rumah-

"Ah! Atta!" dia menarik selimutnya dari sofa dan membungkus dirinya sendiri "Ya tuhan, jam 1 malam? Harusnya kan aku pulang ya?" Kagami bingung sendiri sambil merebahkan badannya di sofa

Mungkin karena belum begitu mengantuk, Kagami membuka ponselnya. Siapa tahu ada Mail dari Kuroko atau pekerjaan.


Subject : -none-

From : -uknown-

To : Kagami Taiga

Berterima kasih lah padaku. Karena aku kau boleh menginap di rumah sakit. Itu bukan karena aku peduli atau tidak ya! Oh, besok aku akan mengecek keadaanya lagi. Terus lah berdo'a! dan jangan tertidur di samping nya. Kau malah akan memperburuk keadaanya nanti.


Kagami tahu E-mail dari siapa itu. Midorima. Pasti. Dari cara tsunderenya itu dan lelucon tidak jadinya. Haha, Midorima ingin menyemangatkan Kagami, hm?

Dan lama kelamaan Kagami tertidur. Memimpikan seseorang yang pernah bersarang di hatinya. Bahkan sampai detik ini juga. Dan seseorang itu sedang mengamati Kagami dan Aomine.

.

.


Sudah seminggu sejak pertemuan ku dengan lelaki bersurai kuning dengan mata aneh itu. Dan aku sama sekali belum bertemu dengannya lagi. Well, bukan karena aku ingin bertemu dengannya lagi. Hanya saja, lelaki aneh itu seperti memiliki magnet yang menarik kebosananku. Alah, bicara apa aku ini.

"Hm, apa aku ke gedung olah raga aja ya?" aku sedang memikirkan hal sepele sekarang.

Jika aku ke gedung olahraga-basket-nanti pasti aku akan disuruh latihan dan pasti aku akan di omelin. Yah walapun aku bisa saja kabur. Tapi para senpai tidak mungkin akan membiarkanku pergi begitu saja kan? Aha! Mengendap-endap saja! Siapa tahu dia ada. Eh, tunggu. Sekarang kan jam pelajaran. Apa mungkin senpai dan dia ada di sana? Eh iya ya? Kenapa aku baru sadar sih? Ya sudah deh! Lihat aja dulu!

Dan aku berjalan- berlari menuju gedung olahraga. Beruntung tidak ada guru yang melihatku. Voila. Aku sudah sampai di gedung olah raga. Hm, tidak ada bunyi bola yang di drible. Mungkin dia tidak membolos lagi ya?

Akupun memasuki gedung. Uh? Siapa itu? Kok kayaknya menangis ya? Tunggu, bukannya itu…lelaki kemarin ya? Yang rambut kuning…namanya ki-ki ki siapa ya? Eeto…hm, ki ryo… kis.. oh! Kise. Ya itu Kise, sepertinya.

"Ehm, hoi!" panggil ku.

"Eh? Ah!" sepertinya itu Kise. Ya, Kise. Aku melihatnya dengan cepat menghapus sesuatu di wajahnya.

"Ehm, apa kau di Ijime?" ijime, pembullyan terhadap sesama pelajar. Aku pernah mendengarnya di sekolah ini.

"Eng? Tidak kok…" suaranya lemah sekali. Tidak seperti kemarin.

"Hey, aku punya suatu pertanyaan yang dari minggu kemarin terus menerus ada di kepala ku…" wajahnya mulai normal kembali "…apa kau bersekolah disini?"

Sunyi. Tiba-tiba suasana di sini menjadi sunyi. Kenapa aku bertanya seperti itu? Ya simpel. Karena aku tidak pernah melihat batang hidungnya disini. Karena aku lebih suka membolos sedari semester kedua di mulai, aku jadi suka memperhatikan orang-orang. Tapi aku tidak pernah melihat wajahnya di sekolah ini. Yah, baru minggu-minggu ini saja aku melihatnya.

"Eng, aku…aku memang bukan dari sekolah sini." Aku tidak terkejut. Aku sudah menduganya "aku dari Kaijo. Kelas 1" jelasnya

"Terus ngapain kau di Touou?" ya, aku masih bingung di bagian 'ngapain lelaki bersurai dan bermata aneh ini numpang main basket di sini'

"Mmm, aku dengar.. ada seorang lelaki berkulit dekil yang jago bermain basket, dan jadwal kosongku hanya setiap hari selasa. Hari ini" sepertinya urat-urat kepalaku membuat perempatan. Kalimat 'dekil' agak sedikit menyinggungku.

"Terus, kau mau ngapain dengan lelaki dekilitu kalau bertemu?" tanyaku, menekankan kata 'dekil' ha.

"Hm…aku akan mengajaknya 1on1?" sepertinya dia masih bingung.

"Apa ada ciri-ciri lain dari si lelaki itu?" sekarang aku melihat dirinya memasang wajah bingung dengan telunjuk di dagunya seakan-akan sedang berpikir. Kawaii. Jujur deh.

"Um…katanya rambutnya biru tua, kulitnya dekil, badannya tinggi, dan dia pemalas. Begitu kata senpai ku" wajahku memerah sekarang. Bukan karena tersipu malu. Melainkan semua ciri-ciri itu seperti menggambarkan ku!

"Eh? Sou ka? Siapa nama senpai mu? Akan ku bunuh dia nanti…" wajahnya menegang "Dan apa kau tidak sadar, kalau kau sudah bertemu dengan 'lelaki' itu dua kali?" wajahnya tambah tegang

"K-kau Aomine…adalah le-lelaki yang aku ca-cari?" wajahnya memancarkan aura 'aku tidak percaya'

Okey. Aku kesal sekarang. Aku mencibir di hadapannya. "Terserah kau saja. Jadi, mau 1 on 1? Apa taruhannya?"

"Ba-bagaimana kalau yang menang boleh meminta 3 permintaan?" pffffttt aku nyaris tertawa kencang mendengar taruhan seperti itu. Itu sih bukan taruhan, dan apa dia pikir yang kalah itu akan menjadi jin dari lampu hah? Hahaha.

"Hm, not bad. Ayo kalau begitu. Sepuluh menit. Dan yang mencetak skor terbanyak akan menang" sepertinya Kise bukan pemain basket yang setara dengan level ku. Atau bisa di bilang kalau dia lebih payah dari pada ku? Ha. Mode sombongku keluar.

Bola ku pegang. Bersiap-siap untuk melakukan jump ball.

"Hup!" aku melemparnya. Kami berdua meloncat. Dan salah satu dari kami menggapai bola itu.


.

.

Kagami terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya, terbangun dari mimpi buruknya. Apa lagi mimpi buruk Kagami? Ya kalau tidak tentang Himuro ya…mimpi buruk yang masih nyata hingga sekarang. Tentang Aomine.

"Ugh…" Kagami bangkit dari kubur. Ralat, Kagami bangkit dari tidurnya.

"Jam berapa ini?" mengambil ponsel miliknya dari saku. "tujuh? Wow, rekor terbaru. Biasanya jam setengah delapan." Dia[un berjalan ke arah kasur Aomine.

"Hoi, Ahomine… bangun dong. Aku ingin mengajakmu 1 on 1…sepi sekali dirumah. Kayak dulu waktu belum ada kau" Kagami mengelus-elus puncak kepala Aomine.

"Tok..Tok…" bunyi pintu diketuk.

Dua orang lelaki berpakaian serba putih masuk ke dalam ruang ICU yang di tempati Aomine. Dari warna rambutnya, Kagami sudah tahu. Itu dalah Midorima dan Takao-perawat sekaligus asisten Midorima.

"Ohayou, Kagami-san" Takao menyapa Kagami, yang di balas dengan anggukan kepala

"Jadi bagaimana keadaan Aomine?" tanya Kagami.

"Kau ini…bodoh ya? Aku periksa saja belum!" omel Midorima yang di iringi suara ketawa yang di tahan Takao. Kagami mendelik bagaikan ular ke arah mereka berdua.

Midorima berjalan mendekat ke kasur Aomine. Melakukan hal-hal ke medisan yang tidak di ketahui Kagami. Dan beberapa tahun, ralat. Menit kemudian, Midorima telah menatap Kagami serius.

"Maaf Kagami, tapi…tidak ada perkembangan dari Aomine."

Sunyi.

Kagami terdiam. Terduduk. Pusing melanda kepalanya.

"Mengapa dari kemarin tidak ada perkembangan? Apa Aomine akan mat- tidak. Tidak mungkin. Tidak akan." Pikiran Kagami mulai terpecah-pecah.

"A-ah mungkin saja karena baru dua hari ya? Ahaha, mana mungkin langsung menunjukan perkembangan kan ya? Ahahaha" ucap Kagami dengan tawa yang 'agak' di paksakan.

Takao melihat wajah Kagami dengan tatapan kasihan. Sedangkan Midorima pamit undur diri dari ruangan.

"Kagami-san. Aku akan mengganti infus Aomine-san nanti siang dan melakukan pengambilan darah" Takao ber-ojigi dan keluar mengikuti Midorima.

"Shit" umpat Kagami. Dia memukul-mukul pahanya yang tidak bersalah itu, paha yang di jadikan pelampiasan Kagami.

"Ping…" bunyi ponsel Kagami.

"Mail?" Kagami membuka pesan itu.


Subject: -none-

From: Kuroko Tetsuya

To: Kagami Taiga

Doomo. Kagami-kun, apakah kau hari ini akan masuk kerja? Tugasmu mulai menumpuk lho…atau kau akan izin? Atau masuk siang? Apa kau masih ingin menjaga Aomine-kun? Kalau kau mau bekerja mari bertukar tempat dengan ku. Aku yang akan menjaga Aomine-kun. Tidak baik lho, terlalu lama di rumah sakit.


"Kuroko ka? Hm, sepertinya aku akan bekerja" Kagami menatap isi pesan Kuroko lagi "Tidak baik terlalu lama di dalam rumah sakit, hm?"

Kagami berjalan medekat menuju kasur Aomine. Di ciumnya pucuk kepala Aomine, seperti memberikan semangat. Dan dengan pakaian kemarin –tanpa mandi atau ganti baju- Kagami segera menuju konbini untuk sarapan dan sehabis itu menuju kantor, sepertinya.

"Itte kimasu, Aomine. Cepatlah bangun! A-ho-mi-ne!" dengan cengiran 'moe' andalannya –yang berusaha menutupi raut wajah yang penuh kesedihannya- Kagami keluar dari ruang ICU. Dan menitipkan Aomine pada Takao."Mungkin Kuroko yang harus menjaga Aomine. Sehabis sarapan aku akan mengabarinya lah"

Keluar dari ruangan dan berjalan menuju konbini. Lorong rumah sakit itu sangat sepi ya? Sudah setahun aku tidak melewati tempat ini. Terakhir kan saat mengetahui Himuro sudah…

.

Kagami memasuki konbini "laper sih, tapi kenapa tiba-tiba nafsu makanku hilang ya?"

"makan apa ya enaknya?" dia sekarang melihat-lihat counter makanan. Ada onigiri, udon, ramen, bento, spaghetti, cake, ayam, daging, dan masih banyak lagi. Kagami masih bingung untuk memilih makanan.

"Ah, irrashaimase" ucap seroang perempuan –yang ternyata pekerja di sini- saat baru melihat Kagami. Mungkin karena Kagami terlalu sibuk memilih makanan, dia tidak menyadari kalau ada perempuan yang sudah berdiri di sampingnya.

"Tuan, jika ingin sarapan, saya sarankan paket yang ini saja" Kagami tidak terkejut –terkejut baginya itu kalau ada Kuroko tiba-tiba muncul- saat menengok.

"Ah, sou desu ka? Oke, aku ambil 2" Kagami berjalan menuju kasir.

"Saya panaskan dulu ya" Kagami menangguk. Sekitar 1 menit, dan perempuan itu sudah berdiri di depan mesin kasir.

"Karena ada potongan harga, semua menjadi 1500 yen" Kagami memberikan uangnya padasang 'kasir' dan menerima makanannya.

Perempuan itu ber-ojigi "Terima kasih, datang kembali" Lelaki yang sedang di landa perasaan 'galau' itu menuju lantai atas untuk memakan makanannya.

Sepi. Karena masih pagi kali ya? Kagami segera membuka plastik dan mengambil isinya. Satu botol Amai Ocha dan satu kotak makanan, yang berisi nasi, daging, dan telur, serta ada sausnya. Seperti bukan sarapan pagi saja.

Baru saja Kagami ingin meneguk minumannya, tetapi dia melihat siluet di depannya. Kagami pikir itu bisa saja hantu kan?

"Doomo" "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?! K-Kuroko?! Nga-ngapain kau disini?!" teriak Kagami. Beruntung tidak membangunkan seluruh kota.

"Hidoi na, Kagami-kun. Aku yang akan menjaga Aomine-kun untuk sesi pagi. Tapi aku butuh nutrisi dong? Aku juga manusia yang bisa lapar Kagami-kun" Kuroko menatap Kagami dengan wajah datar-tetapi tersirat kesedihan disana-

"Eh? Aku kan belum mengabarimu kalau kau akan- ah sudah lah. Makan apa kau?" tanya Kagami

Kuroko masih memandangi Kagami "Hm, bubur?"

"Apa kenyangnya?" pikir Kagami dalam hati "Mau ini?" Kagami menyodorkan paket satunya kepada Kuroko. Jarang sekali Kagami memberikan makanannya pada orang lain.

"Tidak usah. Aku sudah membeli bubur di bawah" Kuroko memperlihatkan bungkusan yang di bawanya dari bawah "Beneran tuh?"

"yasudah, itadakimasu" Kuroko juga bersiap-siap untuk makan.

.

"Kuroko, aku titip Aomine pada mu ya. Aku harus mengerjakan 'tumpukan' tugas yang sengaja kau berikan pada ku" ucap Kagami sambil mendengus.

"Hati-hati Kagami-kun" Kuroko tidak mengubris hinaannya Kagami.

Dan Kagami memasuki mobilnya untuk menuju 'Marukawa Shouten'. Tempat di mana dia berkerja menjadi editor. Walau wajah Kagami tidak ada mirip-miripnya untuk menjadi editor sih. Beruntung, Kagami menjadi editor Shounen Manga, bukan Shoujo Manga. Atau dia akan menjadi 'banci' seumur hidupnya.

Kagami bekerja sampai jam 1 siang nanti, sedangkan Kuroko akan bekerja dari jam 1 siang hingga jam 6 sore. Yah, kan mereka atasan dan bawahan ini, jadi tidak ada yang mengambil pusing karenanya.

Kuroko memasuki rumah sakit lebih dalam lagi. Karena ada Midorima-kenalan Kuroko dan Kagami- dia bisa leluasa untuk menjenguk Aomine.

"Ah! Kuroko-san!" panggil seseorang dari belakang. Secara spontan, Kuroko menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.

"Ohayou, Takao-kun." Sapa Kuroko.

"Uhm, aku hanya ingin memberi tahu kalau ada tamu di ruangan Aomine-san." Kuroko mengangguk saat mendengarnya. Walau dia bingung, siapa yang menjenguk Aomine selain Kagami dan dirinya.

"Oh, iya. Arigatou, Takao-kun" Takao tersenyum "Ja, aku harus bertugas lagi. Shitureishimasu" dan Takao berjalan menuju 'ruangan' yang di duga Kuroko adalah ruangan perawat.

"Tamu? Siapa yang menjenguk Aomine?" tanya Kuroko dalam hati

Keluar dari lift. Berjalan sedikit, dan Kuroko sampai di ruangan Aomine. Kuroko mengintip sedikit untuk melihat siapa 'tamu' yang di ceritakan Takao.

"Kriiiitttt…" Kuroko membuka pintu.

"Ah, Ohayou" sapa seseorang dari dalam.

"Ehm, Ohayou" Kuroko menatap lelaki itu dengan seksama "Lelaki ini, bukannya yang menjenguk Aomine kemarin ya?

"Ka-kasa- Kasamatsu-san da yo ne?" tanya Kuroko. Lelaki itu mengangguk, dan tersenyum lemah

"Eeto… apa boleh aku bertanya padamu?"

"Tentu saja" jawab Kasamatsu. Kuroko membulatkan tekatnya, dan rasa keingin tahuannya.

Sejenak, tapi pasti. Keteganggan mengisi ruangan ICU yang sedang di huni tiga lelaki itu.

Kuroko memejamkan matanya. Lalu membukanya kembali.

"Ya?"

"Sebenarnya… anda ini…siapanya Aomine?"

.


.

"Sebenarnya… anda ini…siapanya Aomine?" tanya Kuroko dengan tatapan serius dan, wajah pokerface andalannya.

"Ehm…" sekarang Kasamatsu sedang ragu. Memberi tahu hubungannya dengan Aomine atau tidak. Jujur dia ingin memberi tahu hal ini kepada Kagami dahulu. Tapi Kasamatsu masih ada perasaan ragu.

Bohong. "A-aku adalah teman semasa SMAnya du-dulu" ucapnya. Ya, Kuroko tahu. Itu bohong.

"Kasamatsu-san. Bisakah kau memberi tahu ku? Atau kau ingin mengatakannya hanya pada Kagami-kun?" Kuroko menatap mata Kasamatsu.

"Okey, okey maaf. Tapi tolong jangan beri tahu ini pada Kagami dulu. Sepertinya dia belum mengetaui masalah Aomine. Dan, mungkin aku bisa mengatakannya padamu" kata Kasamatsu. Keadaan tegang kembali

"Baiklah" mereka berdua seperti sedang melakukan pejanjian.

"Aku, Hayakawa, dan 3 orang lainnya yang bekerja di 'Kaifue' café, adalah temannya kekasih Aomine. Setelah aku menemukannya, aku ingin menghiburnya. Walau aku- kami tahu kalau Aomine tidak akan mengenal kami. Tetapi membuatnya ingat selalu dengan kekasihnya itu tidak baik, jadi aku berfikir untuk menunjukan sesuatu tentang Nya yang tidak di ketahui Aomine, lalu memintanya untuk maju. Tidak hanya diam di tempat merenungi kesalahan yang bukan di buatnya" kata Kasamatsu panjang lebar. Sedikit, tapi Kuroko mulai mengerti kalau Kasamatsu ini memang bukan orang asing. Walau cara bahasa Kasamatsu kurang dapat di tangkap Kuroko sih.

"Anokekasih Aomine itu siapa? Dan kesalahan apa yang di maksud anda?" tanya Kuroko lagi.

"Kekasih Aomine. Mantan-lebih tepatnya. Kise…Ryota"

Hening sejenak. Kuroko rasanya pernah mendengar nama itu. Atau Cuma perasaannya saja?

"Kesalahan itu…itu sangat…menyakitkan untuk Aomine…tapi maaf, aku, bahkan teman-temanku tidak berani untuk menceritakan masalah ini pada siapapun. Maaf." Wajah Kasamatsu seperti orang yang bersalah.

"Ung…tak apa. Aku mengerti"

Mereka berdua di landa keheningan-lagi. Masih tenggelam pada pikirannya masing-masing. Menatap kosong ke arah Aomine.

.

.


Okey, jujur. Aku tertarik dengan Kise. Sekarang, kami tengah 1 on 1. Skor kami imbang. 28-28. Dia cukup kuat juga. Namun sayang, aku yang akan menang disini.

Bola sudah ada di tanganku. Iya, IYA! Aku suka padanya! Tapi tunggu. Aku harus menyelesaikan game ini terlebih dahulu.

"Tidak Akan ku biarkan lewat!" teriak Kise

"Coba saja kalau bisa!" aku menyeringai

"Daikiiii!" Kise mencoba mengambil bola yang ada di tangaku. Wow, dia memanggil nama depanku. Apa mungkin…ini cinta yang berbalas?

"Yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang!" teriakku, saat mencoba men-dunk

"Dan yang bisa mencintaimu, hanya aku seorang!" ucap lelaki itu tidak mau kalah.

Aku tersentak. Kaget. Tidak percaya apa yang di ucapkannya. Lalu aku tesenyum

Tapi…"HYAAAAAAAA" teriak kami berdua

"Bugh!"

Kepala kami saling berbentur. Aku tidak berhasil memasukan bola. Waktu permainan bahkan sudah selesai.

"Itta…" aku mengusap kepalaku yang terbentur. "Hoi Kise? Kau gak apa-apa?" Kise terjatuh di atasku. Beruntung.

Aku menatapnya dari bawah. "Hiks…" dia menangis?! Oh tidak… jangan menangis

"Ki-Kise kau kenapa?" aku mulai histeris, mengguncang badannya.

Terlanjur, dia sudah menangis. "Kise?" aku membersihkan cairan bening yang terus menerus mengalir di pipi putihnya.

"Apa segitu sakitnya?" dia hanya diam. Aku tidak tahu apa yang merasuki ku. Tapi dia sempat bilang 'Dan yang bisa mencintaimu, hanya aku seorang' maksudnya untuk aku 'kan?

Aku mengangkat wajahnya untuk menatap pada mataku. "Kise, apa yang kau bilang tadi benar?" tanyaku.

"A-aku, i-itu be-Hmph!" aku menciumnya. Ya. Mencium bibirnya. Bibir yang sangat lembut.

Manis. Itu yang kurasakan. Aku menciumnya dengan lembut. Ciuman kasih sayang, bukan nafsu. Sampai akhirnya aku menghentikan ciuman itu karena membutuhkan pasokan udara.

"Aomine-cchi…" suaranya parau, air matanya sudah berhenti.

"A-apa itu benar?"

"Ya…aku mencintai Aomine-cchi!" Kise langsung menciumku lagi. Kali ini penuh dengan nafsu.

Aku menahannya. Sepertinya kami harus 'melakukan' itu. Di UKS? Bukan ide buruk. Akupun menggendongnya. Beruntung tidak ada orang yang melihat kami. Sayangnya…UKS sudah ter isi beberapa murid yang kelelahan sehabis olahraga. Akupun berjalan lagi menuju gudang. Tempat yang pasti tidak ada seorangpun yang mengetahui. Kalau tidak salah, kuncinya berada di bawah pot.

Aku meraba tanah di bawah pot. Dan memang ada di sana. Mmebuka pintu gudang dengan kunci. Dan masuk bersama Kise yang penuh dengan nafsu. Dan tidak lupa, aku menutup plus mengunci pintu lagi. Tempatnya tidak begitukotor. Hm, its show time.

Aku langsung mencium Kise. Memasukkan lidah ku untuk berdansa bersama lidahnya. Saat mulutku bekerja, begitu pula untuk tanganku. Ku buka kaos jahanam yang menghalangiku untuk melihat tubuh putih dan mulusnya Kise. Ku coba memelintir tonjolan berwarna pink itu yang sudah tegang.

"Akh!" desah Kise. Sepertinya dia butuh udara. Aku menyudahi acara 'menarinya' dan menjilati leher Kise yang penuh keringat. Tetap saja manis.

"Ah…Hnn…Aomine-cchi…" desahnya saat aku menjepit tonjolan itu. "AKH!" aku membuat kiss mark di leher putihnya.

Hm. Aku merasa 'milik' Kise sudah menengang. Aku pun memegangnya "Nnnh..aah…" desahan lolos dari mulutnya.

"Kise…" aku menelanjangi lelaki bersurai kuning di depan ku ini. Pipinya bersemu merah

"Y-ya? Ahh… Aomine-cc ah…cchi?" ucapnya tambah desahnya. Itu karena aku memegang 'milik'nya yang tambah keras dan cairan pre'cum' keluar dari 'milik'nya

"Aku juga… mencintaimu…" pipi kami sepertinya memerah. Walau gelap aku masih dapat melihat wajah Kise. Bibir kami menyatu kembali.

Dan sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang.


.

.

Kasamatsu pamit undur diri, mengingat ada café yang harus di urusnya. "shitureishimasu, Kuroko-san"

"Ya, hati-hati di jalan" bunyi pintu ditutup terdengar.

"Kesalahan apa yang dilakukan Aomine-kun pada mantan kekasihnya?" pertanyaan yang terus menerus terngiang-ngiang di telinganya.

"Aomine-kun cepatlah bangun…" Kuroko mengelus kepala Aomine.

Dan sepertinya, Kuroko tahu kalau Aomine memiliki hidup yang begitu tragis. Sepeti Kagami. Mungkin.

.

.

.


A/n:

Hai hai! huaaa maaf ya baru update sekarang! eehee masih asik kan ceritanya? ohoho #ketawaCantik #digebukinMasyarakat

maap ya kalo hurtnya ga kerasa lagi :v huhu. mana aku sok taku dengan barang" medis -_-. flashbacknya masih sedikit (kayaknya ada bagian C deh) oh iya! maaf juga! buat 'adegan' kaga bener -_- huhu :v

ehm... jadi tahu ga siapa mantannya aomine? hm? ehehe :v KISE RYOTA lah itu deh begono. masih bingung sama 'KaiFue' dan kasamatsu? kan udah dibilang di cerita tadi :v mereka yang kenal aomine... aomine ga kenal mereka :v. oh iya sepoyler: kise juga dulu adalah pegawai KaiFue. chap depan bakal di bahas kok!

hm.. balasan review dulu yak? Balasan review untuk chapter 4!:

Lily Kotegawa-san: iya.. seumuran aja deh:V kalo buat lebih muda.. gapantes buat mukanya aomine.. #diDunk aomine... eh? emba..emba nyanyi ya? aku kira ngeden :v #diGampaReader #ditendang Lily-san oke ampun. itu bukan tulisan alay kok... itu hanya tulisan...4L4Y. :v hiks:v Ini update kok! ^6^ makasih lho ya udah mau nyempetin review :3

Kagami Tania-san: Tenang aja...Aomine Seme kok! tapi disini karena lagi galau jadi letoy :v ehehe:v maaf ya.. tuntutan plot :'v. btw.. Makasi udah mau nyempetin Review! :* peluk cium

Kurosaki Seika-san: Tauk nih aomine bobo terus-_- ga laper apa?! i-iya... iyaa.. ntar bangun... tapi tidur lagi... bangun... tidur lagee :vhohoho oh iya.. baca dong fic baru aku wkwkwk malah promosi :v 'Wedding Mistake' slight AkaKuro juga.. kalo pada stuju ehehe... MAKASIH banget udah mau nyempetin waktu berhargamu untuk ripiu... :"* muah muah (ceritanya di cium gitu)

PeniPhoenix24-san: Huaaa! jangan di culik! tar mati beneran gimana! :'v... ck tau gitu...aku buat kerjaan kagami jadi aktor sinetron aja deh -_- :v.. iya kuroko teriak. datar. e. to. gimana ya? teriak pake muka datar? :/ kuroko sedih pake muka datar:/ ga bisa bayangin deh :v. ini aku ceritain siapa 'masa lalu' sekaligus 'mantannya' aomine hoho :v ini udah lanjut ko! Makasih yaaa mau review ceritakuuu

Cium Cium Peluk Untuk kalian semua! :* makasih udah mau review = menghargai ketikan anak SMP kelas 1 ini. :v

dah ah banyak ngomong aku :v mending lanjutin ngetik 'MYA Aomine story part C'

oh iya, Special thanks to:

.7 ; Ffureiya ; Ra Chan243 ; Pikaaaaa ; Lily Kotegawa ; Kiseki Arvel ; ItsukaMei ; Kagami Tania ; Cloud The First Tsurugi ; Kurosai Seika ; Guest ;

dan kalian! Readers!

love you pull! :*

.

Sonja,

Kirigaya Kyuu