Hai hai /tebar flying kiss/
Oiya, lupa ngasih tau kalo sebenernya chap 1 waktu kejadian si Luhan lari pake baju pengantin sampe si Sehun nylametin Luhan pake helikopter, itu terinspirasi dari salah satu manga yang author baca '-'
Oke happy reading aja~
.
.
.
"Aku adalah pengantinmu, manis" bisik namja tampan itu di telinga Luhan. Luhan yang mendengarnya langsung menoleh ke arah namja itu; mengamati penampilan namja tersebut.
"Dia pengantinku? Cih!" batin Luhan. Tunggu..
Ia merasakan panas di pipinya, itu berarti..
Tidak, wajahnya menampakkan semburat merah di sekitar pipinya. Luhan yang sadar akan hal itu langung mengutuk pipinya(?) karena memerah dalam saat yang tidak tepat dan tentu saja akan membuat orang di sampingnya ke-GR an
"Kenapa? Kau senang?" suara namja tampan itu membuyarkan runtukan dalam hatinya.
Luhan tak menjawabnya. Lebih tepatnya terlalu malas untuk menjawabnya.
"Aaa~ Aku tahu kau sungkan untuk mengatakan iya. Ngomong-ngomong, kau terlihat semakin manis jika wajahmu memerah seperti itu"
Luhan membelalakkan matanya. Terkejut. Bagaimana bisa namja ini mengetahui bahwa wajahnya sedang memerah saat ini. Padahal, kini ia sedang menatap jendela.
"Bisakah kau berhenti memanggilku manis? Aku sangat membencinya!" balas Luhan dengan sedikit membentak.
"Baiklah, nyonya" balas namja itu dengan watadosnya.
"Yak! Kau!" ucap Luhan sambil menjotos(?) lengan namja tersebut.
Luhan rasa pukulan yang ia layangkan pada namja itu sudah cukup keras, tapi entah mengapa namja itu tak merasa seperti kesakitan sedikit pun. Luhan yang merasa pipinya memanas pun segera memalingkan wajahnya menatap jendela -lagi-.
Namja itu terkekeh sambil memegang bekas pukulan Luhan melihat tingkah Luhan yang menurutnya menggemaskan ini.
.
.
.
Tak terasa helikopter namja tampan itu sudah sampai di landasan. Landasan dadakan lebih tepatnya karena terletak di halaman gedung yang sangat luas ini.
Dengan tiba-tiba namja tampan itu pun menggendong Luhan ala bridal.
"apa-apaan ini?" batin Luhan.
Meskipun beberapa kali Luhan mengancam namja ini agar segera menurunkannya, tapi namja ini tak menggubrisnya dan tetap tersenyum; melanjutkan perjalanannya membawa Luhan kembali ke altar gedung.
.
.
Kini kedua pasangan ini sudah di depan pintu altar gedung yang megah ini.
"Turunkan aku sekarang juga!"
"Shireo!" jawab namja itu sambil tersenyum. Luhan yang mendengar jawaban namja itu hanya bisa pasrah.
.
.
.
Asisten-asisten namja itu membukakan pintu altar untuk namja itu. Sesaat kemudian namja itu berteriak pada tamu-tamunya, dan tentu saja ayah, ibu dan adik Luhan, Baekhyun mendengarnya dengan sangat jelas.
"Lihatlah. Aku berhasil membawa kembali pengantinku yang manis ini!" teriak namja itu.
Para tamu pun mulai bertepuk tangan.
"Wah. Hebat ya. Sudah tampan, ia pun berani berkorban demi pengantinnya" ucap salah seorang tamu berbisik pada tamu yang lain.
Luhan mendengar salah satu bisikan tamu tersebut. Ia tak habis pikir mengapa para tamu, baik wanita maupun pria, menyebut namja ini tampan. Padahal menurutnya, namja ini sangatlah aneh.
Para asisten namja itu pun berbicara pada namja itu "Kau hebat tuan muda". Namja yang disanjung itu pun tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagianya.
"Turunkan aku!" bentak Luhan.
"Baiklah, nyonya." jawab namja itu.
Luhan yang mendengarnya langsung menatap dengan wajah mengancam ke arah Sehun.
.
.
.
Kini Luhan dan namja itu sedang berada di ruang make up. Luhan harus memakai segala macam make up lagi untuk memperbaiki penampilannya sebagai seorang pengantin. Sedangkan namja itu hanya perlu diberi sedikit bedak dan penataan rambut yang tidak terlalu rapi agar tetap terlihat keren.
"Namamu Luhan kan?" ucap namja itu.
Meskipun tak mendengar jawaban dari Luhan, namja itu tetap memperkenalkan dirinya.
"Kenalkan namaku Oh Sehun. Kau bisa memanggilku Sehun." ucap Sehun, namja tampan itu memperkenalkan dirinya.
"Am I care?" jawab Luhan tanpa menatap Sehun.
Sehun yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut.
Setelah selesai di make up ulang, kini sehun dan luhan pun segera menuju ke altar pernikahan.
Sehun menggandeng tangan Luhan; mengapit pergelangan tangan Luhan di antara lengannya.
"Kau terlihat sangat cantik, Luhan" ucap sehun samar-samar.
Luhan yang mendengarnya langsung merasakan panas di kedua pipinya. Ia memilih untuk tak menanggapi perkataan Sehun dan tetap menghadap ke arah depan. Andai ia bisa, Ia akan lari dari semua ini.
.
.
.
"Oh Sehun, apakah kau bersedia menerima Luhan sebagai istrimu apapun adanya kau selalu ada di sampingnya?" ucap sang pendeta.
"Aku bersedia" ucap Sehun sambil memamerkan deretan gigi rapinya pada Luhan.
Luhan yang melihatnya mulai terlihat bingung tentang apa yang akan di balasnya nanti. Luhan masih ragu jika ia ingin menikahi lelaki yang belum pernah ditemuinya dan mempunyai sikap aneh –menurutnya- ini.
"Luhan, apakah kau bersedia menerima Oh Sehun sebagai suamimu apapun adanya dan selalu membuatnya bahagia?"
"Aku.. Aku"
"Baiklah akan saya ulangi. Luhan, apakah kau bersedia menerima Oh Sehun sebagai suamimu apapun adanya dan selalu membuatnya bahagia?"
"Aku.. A- aku.. Aku ber-sedia".
.
.
.
Setelah selesai menerima ucapan 'selamat' dari teman-teman sehun dan luhan maupun dari rekan kerja ayah mereka yang tak terhitung banyaknya, mereka pun dengan menggunakan mobil pengantin yang mewah pergi menuju rumah yang telah di siapkan Sehun jauh-jauh hari.
Tempat dimana mereka akan berbagi suka dan duka. Tempat mereka memulai kehidupan mereka yang sebenarnya.
.
.
Hening.
Begitulah suasana di dalam mobil yang sedang membawa sepasang pengantin ini. Tak seperti pasangan berbahagia yang telah menikah, mereka tak berbicara, bahkan hanya sekedar saling memandang pun tidak. Keduanya disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
Luhan? Ia sedang berpikir keras mengapa teman-teman kuliahnya tak henti-hentinya berkata 'suamimu sangat tampan dan kaya. kau adalah yeoja yang paling beruntung Luhan' . Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. Membuatnya berpikir betapa konyolnya hidup ini. Yeoja paling beruntung? justru Luhan mengutuk hidupnya yang menyedihkan ini.
Sedangkan Sehun, ia sibuk merangkai kata untuk memecah keheningan di antara mereka berdua.
'kau cantik' itu sudah terlalu biasa
'kau manis' Luhan tak akan menyukainya
'kau sedang apa?' bahkan ia telah dengan jelas melihat Luhan, yeoja yang sekarang duduk di sampingnya sedang menatap jendela; menghindari kontak dengannya.
Setelah sekian lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya ia pun menemukan kata yang tepat untuk memecah keheningan antara mereka; membuat sebuah perbincangan kecil antara ia dan Luhan.
.
.
.
"Terima kasih" ucap Sehun tak yakin. Tak yakin Luhan akan menjawabnya ataupun hanya sekedar menoleh untuk menanggapinya
Dan ternyata benar dugaannya
Luhan tak menjawabnya
Tak ingin keheningan itu tercipta lagi, ia pun segera melanjutkan perkataannya
"Terima kasih karena kau telah menjawab 'aku bersedia'" sambung Sehun sambil tersenyum untuk menutupi -sedikit- rasa canggungnya
"Aku terpaksa" Luhan menoleh pada Sehun
"Aku melakukannya karena terpaksa. Semua ini demi orang tuaku."
.
.
Hening sejenak.
Sehun berusaha mencerna kata-kata Luhan barusan. 'setidaknya ia telah menanggapi perkataanku' batin Sehun.
Tak ingin keheningan menyapanya lagi, ia pun segera membalas perkataan Luhan yang baru saja ia lontarkan.
"Aku tau itu. Dan aku yakin kau akan mencintaiku seiring berjalannya waktu." jawab Sehun mantap tanpa lupa untuk menunjukkan senyumannya.
"Terserah apa katamu"
"Baiklah, Nyonya Oh" jawab Sehun sambil menekankan kata 'nyonya Oh'
"Nyonya Oh? Kau bercanda?" tanya luhan sambil tersenyum remeh
"Tidak. Aku serius."
"Lagipula kau sekarang sudah menjadi istriku dan margaku adalah 'Oh' jadi tentu saja nama barumu adalah Nyonya Oh" sambung Sehun sambil -sekali lagi- menekankan kata 'Nyonya Oh'.
"Aku menolak nama baruku!"
"umm.. Aku punya nama yang lebih bagus untuk di jadikan nama barumu.. Luhannie"
"Lebih bagus katamu? Kau membuatku bertambah muak jika kau memanggilku dengan sebutan Luhannie-mu itu"
"Baiklah. umm... Bagaimana dengan.. istriku?" usul sehun dengan percaya diri
"Kau membuatku merasa seperti tante-tante" Luhan pun menunjukkan wajah facepalm nya pada Sehun
"Lalu kau mau kupanggil apa?" tanya sehun mulai kesal
"Cukup panggil namaku. Luhan. el-u-ha-a-en" balas Luhan. Luhan pun segera memalingkan wajahnya kembali menghadap jendela mobil.
"Tak ada panggilan kesayangan?"
Luhan tak menjawabnya
"Setidaknya biarkan aku memanggilmu Luhannie atau yeobo-ya.." ucap sehun merayu
"Tak ada penolakan!" ucap Luhan tegas sambil memandang atau melototi wajah Sehun lebih tepatnya. Tak lama, ia pun kembali menghadap ke jendela.
Sebenarnya bisa saja ia membentak sehun karena gerutu-gerutuannya yang tak kunjung berhenti. Tapi, saat ini Luhan tengah malas melakukannya. Terlalu tabu jika yeoja cantik sepertinya membentak seorang namja. Apalagi, namja itu adalah suaminya sendiri. Bisa saja sopir yang menyetir mobil ini mendengar seluruh pembicaraannya dengan Sehun barusan. Tapi ia tak peduli akan hal itu dan kembali asyik dengan lamunannya kembali.
.
.
.
Hari beranjak sore.
Mobil yang membawa sepasang pengantin ini pun berhenti di depan sebuah rumah megah. Luhan keluar dari mobil dan langsung memandang tak percaya tentang apa yang ada di hadapannya. Ia memeriksa detail-detail luar bangunan itu. 'Betapa megahnya' batin Luhan. Rumah ini sangat berbeda dengan rumah keluarga Luhan yang tidak semegah ini tetapi sangat nyaman.
"Luhan, Ayo masuk"
Tak mendapat jawaban dari Luhan, Sehun pun mengetes kesadaran Luhanh
"Luhan.."
"..." Luhan tak menjawabnya. Ia masih terlalu asyik dengan lamunannya.
"Luhan..." Sehun pun mengguncangkan sebelah pundak Luhan dan akhirnya Luhan pun sadar dari lamunannya.
Dengan wajah linglung, Luhan pun menatap wajah Sehun
"Ayo masuk"
Luhan pun segera mengikuti Sehun dari belakang.
Sehun berjalan menuju pagar yang terkesan elegan itu. Ia membuka pagar yang terlihat masih terkuci. Bukan kunci biasa yang digunakan untuk membuka pagar itu; melainkan sebuah kartu yang sekilas mirip dengan kartu kredit. Kartu itu pun di gesekkan di tempat yang sudah tersedia di pagar itu. Dan pagar pun terbuka.
Sehun berjalan mendahului Luhan.
Luhan pun berlari kecil mengejar sehun; berusaha menyamakan langkah kecilnya dengan langkah jenjang milik Sehun.
.
.
Kini mereka telah sampai di depan pintu rumah megah ini.
Sehun pun segera membuka pintu rumah ini menggunakan kartu yang berbeda dengan sebelumnya. Saat Sehun mencoba untuk membuka pintu, ia mendengar dengan samar-samar, orang di belakangnya tengah berbicara. Siapa lagi kalai bukan Luhan.
"S- sehun.. ini rumah..mu?" tanya Luhan lirih
"Ini rumah kita, Luhan. Maaf aku tak dapat membelikanmu rumah yang megah" balas Sehun santai
"APA KAU GILA? Rumah ini sudah lebih dari cukup jika hanya untuk di tempati 2 orang" ucap luhan meledak-ledak
"Hahaha.. Aku tahu itu. Aku hanya ingin menggodamu, manis" Sehun pun membuka pintu dan dengan tampang watados-nya, ia melengos meninggalkan Luhan.
Luhan pun berlari kecil mengejar sehun; memasuki rumah mereka.
"Yak! Berhenti memanggilku seperti itu.." Luhan terdiam. Rumah ini masih gelap. Luhan pun segera memasuki rumah itu; mencari letak saklar lampu. Ia menemukannya.
Luhan pun berjalan masuk lebih dalam ke rumah itu.
"Sehun. Dimana dia?" batin Luhan. Luhan pun segera berkeliling mencari Sehun.
"Sehun? kau dimana?" Tak henti-hentinya ia berkata seperti itu sambil berkeliling rumah.
Tepat di halaman belakang, ia menghentikan pencariannya terhadap Sehun. Ia terpaku, tak bisa berkata apa-apa. Luhan pun mengedip-ngedipkan matanya; memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata.
Dan musik klasik pun mulai terdengar. Entah siapa yang memutarnya.
Luhan pun memutuskan untuk kembali ke tempat dimana para tamu akan dijamu. Tapi, saat ia membalikkan tubuh rampingnya, wajahnya tertabrak oleh tubuh jakung Sehun. Tanpa berkata apapun, Sehun langsung memutar badan Luhan dan menggandeng tangan Luhan; membawa Luhan menuju tempat yang membuat Luhan speechless.
-TBC-
.
.
.
Gimana? Jan lupa repiuannya yo~
Oke ini sedikit balesan pertanyaan beberapa readers '-'
EXOST Panda: Sebenernya, emang konsep innocent bride terinspirasi dari salah satu manga yang pernah author baca. Tapi author lupa judulnya. mian
Baby Kim: Waktu itu ceritanya si Luhan udah bener-bener udah kebawa ke alam bawah sadar /lol/ jadi gabisa denger suara apapun /hening/
Wes yo? See you next chap :-)
