Chapter : 3

.

.

.

Hanya lilin-lilin kecil disekeliling kolam renang dan lampu taman-lah yang menerangi tempat ini. Tempat dimana Sehun mengajak Luhan makan malam dengan suasana romantis. Meskipun bukan Sehun yang memasak semua masakan ini, tapi setidaknya ia berhasil membuat Luhan tetap duduk dan menyantap makan malamnya meskipun ada sedikit keterpaksaan dari Luhan.

Sehun tak henti-hentinya menatap wajah Luhan. Menatap wajah yang membuat hatinya jatuh pada pesonanya dalam waktu sesaat. Meskipun sedikit perih mengingat masa lalunya, ia tetap berusaha untuk menepis semua memori itu.

Luhan yang merasa sedari tadi ada yang menatapnya, mulai sedikit risih dengan perlakuan Sehun. Luhan menghentikan makannya dan ikut memandang Sehun. Sehun segera tersadar dan berusaha untuk menutupi rasa malunya. Luhan terlihat tak peduli dengan Sehun yang salah tingkah dan melanjutkan makan malamnya.

"Aku lelah. Aku akan masuk kamar dan tidur lebih dulu. Selamat malam"ucap Luhan tiba-tiba; membuat Sehun sedikit kaget dibuatnya.

Sehun mengangguk kecil sambil mengucapkan 'selamat malam' pada Luhan. Luhan pun berlalu pergi meninggalkan Sehun dengan pikirannya yang berkecamuk.

"Apa kau tak mengingatku, Luhan?" batin Sehun dalam hati sambil menampakkan senyum mirisnya.


Sehun telah selesai dengan makan malamya, meskipun berakhir dengan ia makan sendirian. Luhan terlihat sedang memegang remote dan menggonta-ganti channel tv. Ia terlihat sangat bosan.

"Aku kira kau sudah masuk ke kamar dan tidur"ujar Sehun membuat Luhan menghentikan aktifitasnya dan beralih menatap Sehun.

"Entah. Tiba-tiba saja rasa kantukku hilang" ucap Luhan sembari kembali menatap layar tv yang lebar itu.

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Selamat malam, Luhan"ucap Sehun sambil berlalu menuju tempat tidurnya.

Luhan menyadari bahwa baru saja Sehun menyebutkan namanya. Ia bingung. Hari ini adalah hari pertamanya bertemu dengan Sehun, tapi bagaimana bisa ia mengetahui namanya. Bahkan sebelum Luhan menyuruh Sehun untuk hanya memanggil Luhan dengan namanya sebagai panggilan kesayangan Sehun terhadap Luhan, Sehun sudah terlebih dulu menanyakan apakah namanya Luhan saat mereka di make up kembali. Luhan berusaha mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu atau mengenal Sehun sebelumnya, namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tak mengingat kejadian apapun di masa lalunya.


Sehun terbangun di tengah tidurnya, mendapati tak seorang pun berbaring di sampingnya. Ia pun keluar dari kamar, berusaha memastikan bahwa istrinya masih ada di rumah itu dan tidak kabur. Ia berkeliling mencari Luhan dari kamar ke kamar. Akhirnya, Sehun pun menemukan bidadarinya sedang tertidur pulas.

Sehun berjalan masuk dengan memperhatikan langkahnya, mencegah agar langkahnya tak mengeluarkan suara apapun. Ia pun duduk di pinggiran ranjang tempat Luhan tertidur. Wajah Luhan terlihat sangat damai saat ia tertidur, menampakkan betapa indahnya mimpi yang sedang ia alami dalam tidurnya saat ini.

Sehun membelai surai Luhan dengan lembut sambil sesekali tersenyum. Mengingat memori masa lalunya dengan Luhan yang membuat dadanya terasa sesak kembali. Bulir air mata Sehun pun mengalir begitu saja di pipinya. Dengan segera ia mengusapnya lalu memejamkan matanya; berusaha untuk menetralisir pikirannya. Sehun pun menyibakkan rambut Luhan yang menutupi dahinya, lalu mengecup dahinya mesra.

"selamat malam, Luhan...ku"ucap Sehun sarkastik sambil tersenyum miris dan berlalu pergi meninggalkan kamar tempat dimana Luhan tertidur.

Luhan membuka matanya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Sehun, seorang namja yang terlihat tegas dan kuat menangis tanpa sebab. Hal ini membuat Luhan semakin bingung. Sebenarnya Luhan tak benar-benar tertidur saat Sehun memasuki kamarnya dan saat Luhan mencoba membuka matanya, ia melihat air mata Sehun mengalir di pipinya, membuat Luhan mengurungkan niatnya untuk membuka mata dan lebih memilih untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sehun mencium keningnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pada saat Sehun melakukan hal itu, jantung Luhan berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi semua itu tak berlangsung lama karena Luhan menganggapnya hanya sebuah kecupan biasa dan ia tak mempunyai perasaan apa pun terhadap Sehun.


"yeobo-ya, ireona. Ini sudah pagi"samar-samar Luhan mendengar suara itu. Ia sudah tahu betul siapa pemilik suara itu. Luhan tak menunjukkan pergerakkan apapun. Ia masih sangat mengantuk.

"Yeobo-ya, ini sudah pagi"ucap Sehun kembali membangunkan Luhan dengan sedikit mengguncangkan tubuh Luhan. Luhan tetap enggan untuk membuka matanya.

Sesaat kemudian, Luhan merasakan kehangatan menyapu bibirnya. Tunggu, apa-apaan ini. Luhan pun segera membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Sehun tengah mencium bibirnya sambil sedikit melumatnya. Jantung Luhan pun berdetak sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Jujur saja ia terbuai dengan ciuman dan lumatan yang Sehun berikan saat Sehun berusaha membangunkannya. Namun, tak lama Luhan tersadar dan segera menjauhkan tubuh Sehun darinya. Ia pun duduk dengan posisi tangan kanannya sebagai penyangga.

"Yak Pabbo! Apa yang kau lakukan?"teriak Luhan sambil menggesekkan jari telunjuknya di bibirnya.

"Mianhae. Habisnya kau tak mau bangun, aku terpaksa melakukan hal itu. Lagian kau adalah istriku, jadi wajar saja kan kalau aku melakukan morning kiss seperti ini sebagai caraku untuk membangunkanmu?"ujar Sehun sambil menampakkan senyum hangatnya.

"setidaknya kau mencoba cara lain untuk membangunkanku. Bukannya langsung mencium bibirku"ucap Luhan sambil sedikit mem-pout kan bibirnya. Membuat Sehun semakin gemas dengan Luhan.

"Apakah aku harus menyirammu dengan se-ember air sebagai cara lainku untuk membangunkanmu?"Sehun terkekeh pelan.

"Haiss. Kau memang tak mengerti apa yang aku maksud. Setidaknya cobalah untuk mengguncangkan tubuhku!"

"Tapi aku sudah melakukannya berulang dan itu tak membuatmu membuka mata. Jadi, yaaa~ terpaksa aku harus mencium bibirmu. Hitung-hitung sedikit memberi bibir manis ini pelajaran agar tak berkata kasar padaku"ucap Sehun sambil menyentuh bibir Luhan.

Perlakuan Sehun ini membuat Luhan blushing. Dengan segera Luhan melepaskan tangan Sehun dari bibirnya dan beranjak dari ranjang; meninggalkan Sehun yang tengah terkekeh pelan. Luhan pun berjalan beberapa langkah lalu membalikkan badannya; menatap Sehun intens.

"Apa?"tanya Sehun bingung

Luhan masih memandang Sehun intens lalu segera menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tak apa"

"Lupakan"balas Luhan sambil berlalu pergi meninggalkan Sehun.

"Jika kau telah selesai mandi, menujulah ke meja makan. Aku sudah memasakkanmu beberapa menu untuk sarapan yaa~ meskipun entah rasanya seperti apa."ujar Sehun pada Luhan yang kini sedang melangkah menuju kamar mandi di dalam kamar yang luas ini.

Luhan mengangguk dan Sehun pun pergi menuju dapur; menyiapkan beberapa piring dan sendok serta gelas untuk dirinya dan Luhan.


Luhan telah selesai mandi. Ia memakai celana pendek di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya dan kaos casual yang terlihat kebesaran. Bukan karena ukurannya, tapi memang seperti itulah modelnya. Ia pun segera menuju ke dapur; tempat ia akan menikmati sarapannya.

Dari kejauhan tampak sebuah sandwich dengan isian keju, selada, tomat, bawang bombay serta daging asap dan telur yang menggoda. Sandwich adalah salah satu makanan favorit Luhan sejak ia kecil, tak heran jika ia langsung berlari dan menarik kursi makan saat ia mengetahui makanan itu tersaji di meja makan. Sehun yang melihatnya hanya terkekeh.

"Aku tahu itu adalah makanan kesukaanmu, Luhan. Aku sengaja membuatkannya untukmu" batin Sehun dan tanpa sadar ia tersenyum.

Luhan makan dengan lahapnya hingga ia tak menyadari bahwa orang yang membuat makanan ini sama sekali belum menyentuh sarapannya. Ia pun menatap ke arah Sehun yang kini sedang berjalan menuju kursi makan.

"Kau menyukainya?"tanya Sehun

Luhan mengangguk antusias dengan mulut yang penuh dengan kunyahan sandwichnya.

"Apakah ini enak?" tanya Sehun sekali lagi

"Mekhkipun ini tak enak. Aku akan tetap memakannya kaeena ini adaah makanan kekhukaankhu" balas Luhan dengan mulut yang penuh. Sehun yang melihatnya tak bisa menahan hasratnya untuk tertawa dan akhirnya ia pun tertawa terbahak-bahak mengingat suara lucu yang Luhan buat saat ia sedang berusaha bicara dengan mulut penuh.

Luhan memberi Sehun death glare-nya pertanda ia tak suka dengan perlakuan Sehun. Sehun pun menyadari tatapan yang Luhan berikan padanya dan segera berhenti untuk tertawa.

"Kau tak memakan sarapanmu?" tanya Luhan sambil memandang sandwich di depan Sehun

"Kau menginginkannya lagi? Ambilah"jawab Sehun

"Tidak. Aku sudah kenyang. Lagian aku tak mau jadi gadis yang gemuk. Iihh mengerikan"ucap Luhan sambil menerawang ke atas membayangkan dirinya menjadi gemuk, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.

"Baiklah jika kau tak mau"

Sehun pun mengambil sandwich yang berada di piringnya dan segera melahapnya. Luhan yang melihatnya hanya bisa ngiler melihat sandwich yang dimakan Sehun dengan lahapnya. Sehun pun memandang wajah Luhan yang melongo lalu menghentikan acara makannya.

"Hei. Aku tak akan bisa makan dengan tenang jika istriku menginginkan apa yang sedang aku makan. Aku akan membuatkanmu. Tunggu di sini"ucap Sehun mengintruksi Luhan.

"Tunggu"

"Kau tak usah membuatkanku lagi. Aku sudah bilang padamu bahwa aku sudah kenyang. Tapi... Kau bisa membuatkanku lagi nanti malam. Hehehe"ucap Luhan sambil terkekeh; membuat matanya membentuk bulan sabit.

Sehun yang melihatnya hanya terpaku. Ia tak bisa bergerak sedikit pun. Seperti ada yang menahan kakinya untuk bergerak walaupun hanya 1 senti.

Senyum ini tak berubah sedikitpun. Senyuman ceria yang Luhan berikan pada Sehun beberapa tahun yang lalu sebelum kejadian itu menimpa Luhan. Sehun merasa memori itu berputar kembali di otaknya. Membuat ia merasakan sesak di dadanya. Ia pun segera memejamkan matanya; -lagilagi- mencoba untuk menetralisir pikirannya.

Luhan melihat Sehun dengan tatapan seribu tanya. "apa yang terjadi padanya? Apakah aku salah mengucapkan sesuatu?" pikir Luhan.

"Yak Oh Sehun! apa yang terjadi padamu?"ucap Luhan sedikit berteriak mengingat jarak yang lumayan jauh antara dirinya dengan Sehun.

Sehun pun segera membuyarkan pikirannya tentang masa lalu. Ia pun menggeleng pelan dan berkata, "Tak apa."sambil tersenyum hangat pada Luhan.

"uhmm~ Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas sandwich-mu yang lumayan enak dan...segelas susu ini"ucap Luhan meneguk susu dalam gelas di mejanya lalu berlalu pergi meninggalkan Sehun yang masih terpaku.

"Dia benar-benar lupa" ucap Sehun lirih sambil mendecis setelahnya lalu menampakkan senyum mirisnya.


Luhan tengah asyik dengan handphonenya, padahal tv di hadapannya sedang menyala. Ia tengah membalas pesan kakao-talk dari Baekhyun, teman kuliahnya. Tak lama handphonenya berdering, menampakkan nama 'Kyungsoo'di layar handphonenya. Perlu diketahui bahwa Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo merupakan tiga sekawan yang tak dapat dipisahkan. Tanpa pikir panjang, Luhan pun segera menggesek pelan layar handphonnya lalu menempelkan handphone dengan layar 5,7"di telinganya.

"Luhan-sshi~ maaf aku tak bisa menghadiri acara pernikahanmu kemarin malam. Aku terlalu capek setelah mengerjakan beberapa tugas makalah dari Cho Seonsaengnim"cerocos Kyungsoo to-the-point dari seberang sana.

"Tak apa, Kyung. Toh makalah-makalah itu lebih penting dari pesta pernikahanku yang akan membuang waktumu percuma jika kau menghadirinya"jawab Luhan

"jeongmal mianhae, Luhan-sshi. Terima kasih atas pengertianmu. Sudah dulu ya? Makalah-makalah ini sedah memandang tajam ke arahku sejak tadi pagi"ujar Kyungsoo sambil terkekeh pelan.

"Ne, Kyungsoo-ya" jawab Luhan sambil mengangguk kecil. Ia pun menjauhkan handphone itu dari telinganya dan segera menyalakan tv. Meskipun ia tak tahu entah apa yang akan di tontonnya nanti.

Sehun mencari letak keberadaan Luhan , dan akhirnya ia menemukan Luhan sedang berbaring di atas sofa sambil menonton tv. Sehun pun segera duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa Luhan. Ia mengamati tingkah luhan yang sedari tadi tak henti-hentinya menekan tombol 'channel' pada remote yang di bawanya. Sehun pun berhenti mengamati aktifitas Luhan dan beralih menatap layar tv.

Sehun menyipitkan matanya saat berusaha menonton tv. Bagaimana tidak, cahaya tv yang datang lalu pergi lagi dengat secepat kilat membuat Sehun merasa sedikit pusing.

"Aigo, apakah kau setiap hari menonton tv dengan cara seperti ini?"celoteh Sehun

Luhan beralih menatap Sehun, namun ia tak berniat untuk menjawab satu patah kata pun. Ia pun kembali menatap layar tv itu kembali. Luhan baru sadar bahwa sedari tadi ada amplop berisi secarik kertas di atas perutnya. Luhan pun penasaran lalu meraih amplop itu dan menatap Sehun. Sehun hanya tersenyum melihat Luhan yang kini tengah memandangnya dengan tatapan tanda tanya.

Luhan pun membuka amplop itu dan menemukan sebuah tiket perjalanan ke 'Jepang' untuk minggu depan. Luhan sontak kaget dan membelalakkan matanya dengan segera ia beralih menatap Sehun.

"Ke Jep..ang?" tanya Luhan pada Sehun dengan tatapan tak percayanya. Luhan telah memimpikan dirinya pergi ke Jepang, menikmati indahnya bunga sakura yang sedang bermekaran di musim semi yang hangat dengan keluarganya, temannya atau mungkin kekasihnya sejak ia masih kecil. Luhan kecil mempunyai impian yang sangat besar dan ia berambisi untuk meraih semua harapannya.

Sehun melihat tingkah Luhan dan tak henti-hentinya tersenyum ikut merasakan bahagia. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaan yang Luhan lontarkan padanya. Ia tahu salah satu impian Luhan sejak kecil adalah melihat begitu banyak bunga sakura pada musim semi yang hangat di Jepang. Dan Sehun rasa minggu depan adalah waktu yang cocok untuk mewujudkan keinginan Luhan ini.

"Kita mempunyai waktu sekitar 3 hari untuk mengemasi barang. Lebih baik kau siapkan segera sekarang agar esok tak terburu-buru mengemasinya"ucap Sehun pada Luhan yang mulai meraih remotenya kembali.

Luhan menanggapi pernyataan Sehun dengan anggukan kecil dan sebuah senyum yang sangat manis terukir di wajahnya.

"Gomawo, Sehun-ssi"ucap Luhan pada Sehun.

"Aku tak melakukan apa-apa untukmu, Luhan. Aku hanya ingin mewujudkan impian masa kecilmu" balas Sehun lalu segera pergi meninggalkan Luhan. Sehun telah keceplosan untuk melontarkan tujuannya mengajak Luhan ke Jepang saat musim semi seperti ini.

Luhan yang berusaha mencerna perkataan Sehun semakin bingung dengan perlakuan Sehun. Ia merasa sepertinya Sehun tahu tentang masa lalunya, tapi mencoba untuk menutup-nutupinya. Bayangkan saja, orang yang baru saja kau temui langsung mengerti keinginanmu saat kecil. Bukankah itu aneh? Luhan pun masih heran dengan tingkah-tingkah aneh lainnya yang Sehun tunjukkan padanya.

.

.

.

-TBC-

Annyeonghaseyo readers~~

Mian updatenya ngaret banget. Author lagi menjalani masa-masa UKK, jadi mohon kemaklumannya :v

Karena setelah author lihat review-review readers kebanyakan meminta untuk di lanjut, jadi langsung aja yah jadi satu nge-balesnya 'Ini udah di lanjut yahh~'

Setelah baca jan lupa review-annya ya? Sangat diharapkan banget looh :v

See you next chap ^^