Chapter: 4


Hari yang di tunggu Luhan pun tiba. Hari ini ia dan Sehun akan menikmati liburan atau Sehun menyebutnya dengan honeymoon di Jepang. Sehun sudah bersiap menunggu Luhan di depan rumahnya, sedangkan Luhan masih bingung dengan segala macam barang bawaannya. Begitulah Luhan.

"Yeobo-ya~ Kau mau kita ketinggalan pesawat eoh?" teriak Luhan dari luar rumah mereka yang megah.

"Yak yak! Aku disini!" balas Luhan sembari berjalan keluar rumah. Ia terlihat kewalahan membawa segala macam barang yang akan di bawanya. Ia menggeret 2 buah koper, menyangklong tas pink-nya di tangannya yang sesekali merosot ke pergelangan tangannya.

"Sehun-ssi bisakah kau menolongku?"

"Aigo, baiklah nona muda" balas Sehun sambil sedikit membungkukkan badannya layaknya hormat seorang pengawal kepada ratunya.

Sehun pun segera membawakan kedua koper yang Luhan bawa dan membukakan pintu mobil untuk Luhan. Luhan segera masuk ke dalam mobil mewah tunggangan Sehun yang akan membawanya pergi menuju bandara.

Hening pun terjadi. Tak ada perbincangan kecil antara mereka. Hanya ada suara pemutar musik yang mulai terabaikan karena kedua pasangan ini telah sibuk dalam pikirannya masing-masing.

"Luhan, apa kau tak merindukan orang tuamu?"ucap Sehun berusaha menciptakan sedikit perbincangan kecil antara dirinya dan Luhan. Lagian, jika Sehun tak memulainya terlebih dahulu, maka tak akan ada perbincangan apapun di dalam mobil yang membawa pasangan ini.

"uhmm... sedikit?" balas Luhan sambil sedikit menerawang seakan-akan mempertanyakan kejujuran dari jawabannya pada dirinya sendiri.

"hanya sedikit? Bagaimana jika kita menjemput eomma dan appamu serta Baekhyun?"canda Sehun sambil sedikit melirik Luhan. Penasaran akan respon Luhan.

"menjemputnya? Kapan? Untuk apa? Apa kau ingin mereka mengantar kita ke bandara?" jawab Luhan antusias. Matanya berbinar indah membuat Sehun mengembangkan senyum kecilnya.

"Astaga~ bisakah kau mengulangnya satu-satu? Kau cerewet sekali" cibir Sehun sambil terkekeh pelan.

Luhan mem-poutkan bibir kecilnya lucu. Membuat Sehun ingin mengecup singkat bibir plum menggoda milik Luhan itu.

"Hey, jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu atau aku akan mengecupnya." Sehun menampakkan smirk andalannya. Luhan yang melihatnya hanya bergidik sambil memberikan tatapan horornya pada Sehun.

"Ayo, cepatlah jawab pertanyaanku" ucap Luhan manja.

"Baiklah. Haha. Eomma, appa, dan adikmu sudah ada di bandara. Anak buahku sudah menjemput mereka dan mengantarkannya ke bandara" Luhan pun tersenyum bahagia mendengarnya.


"Eomma~ Appa~" teriak Luhan dari kejauhan saat ia melihat sepasang lelaki perempuan paruh baya serta seorang gadis manis sedang duduk di tempat untuk menunggu keberangkatan pesawat. Eomma, appa dan adik Luhan yang mendengar teriakan anak mereka langsung berdiri dan menunggu Luhan tanpa berhenti tersenyum haru. Meskipun baru 5 hari mereka tak bertemu, namun tampaknya mereka sudah sangat merindukan satu sama lain. Tak terkecuali ayah dan adik Luhan, Baekhyun.

Luhan membuka lebar lengannya sambil berlari menuju tempat eomma, appa, dan adiknya menunggunya. Luhan pun memeluk eommanya dengan erat, seakan tak pernah mau untuk meninggalkannya.

Appa Luhan berdeham, "Hey hey. Kau pikir appa-mu ini tak merindukanmu?"

Luhan melonggarkan pelukannya kepada ibunya dan melepaskannya perlahan. Ia pun beralih menatap dua manik ayahnya yang terlihat merasa bersalah dengan tatapan marah.

"Tidak!" jawab Luhan judes.

"Aku tak pernah berfikir appa akan merindukanku!" ucap Luhan sambil membuang mukanya ke Baekhyun, adiknya yang tak kalah manis darinya.

"Hahaha. Ayolah aku tau kaulah yang sebenarnya merindukan appa-mu yang tampan ini" ucap appa Luhan ke-ge-er-an. Appa Luhan pun diam-diam memeluk anak sulungnya dan membelai surai coklatnya perlahan.

"Baiklah, appa tau. Maafkan appa." Luhan pun berbalik. Ia tersenyum saat appa-nya menyadari kesalahannya sendiri.

"Maafkan appa ne?"Luhan tak menjawab.

"Appa, bisakah kau melepaskanku? Aku malu" ucap Luhan seraya memberontak berusaha melepaskan dekapan erat yang appa-nya berikan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dekapan yang diberikan appa Luhan semakin erat jika Luhan semakin berontak.

"Ada syaratnya"

"Kau harus memaafkan appa dan hidup bahagia dengan Sehun-mu itu. Kau harus berjanji pada appa. Sekali lagi, maafkan appa. Appa mencintaimu" Appa Luhan pun mencium pucuk kepala Luhan lalu melepaskan pelukannya terhadap Luhan.

Luhan hanya bisa memandang sedih ke appa-nya. "Appa, aku memaafkan appa. Aku rela melakukan ini untuk kita semua. Aku berjanji pada appa untuk hidup bahagia bersama orang aneh ini"ucap Luhan sambil berusaha membendung air matanya.

Sepasang appa dan anak ini pun berpelukan satu sama lain.

"Hey, Luhan! Aku bisa mendengar suaramu itu! Rasakan pembalasanku nanti eoh!"ujar Sehun yang mendapat lunjuran lidah dari Luhan.

"Eonni, kau tampak lebih cantik" ucap Baekhyun tiba – tiba yang membuat Luhan kaget.

Luhan pun beralih menatap Baekhyun dan mengacak rambutnya perlahan.

"Bercerminlah. Tampaknya kau tampak lebih cantik dariku" Mereka berdua pun terkekeh pelan hingga 2 pasang mata mereka terlihat seperti bulan sabit.

"Appa, aku ijin membawa tuan putri ini ke Jepang" ucap Sehun di tengah kekehan kedua kakak beradik itu. Appa Luhan yang mendengarnya langsung tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya. "Bawalah. Buat dia bahagia" jawab appa Luhan.

"Yak! Tuan putri?"teriak Luhan pada Sehun sambil tertawa remeh.

Sehun tak menjawabnya dan langsung menarik pergelangan tangan Luhan; membawa Luhan berdiri di sampingnya. Mereka pun pamit kepada orang tuanya dan langsung memasuki pesawat yang sudah di pesan tiketnya oleh Sehun jauh – jauh hari,


"AAHH~ Akhirnya" Luhan pun menghembuskan nafasnya kasar saat keluar dari Tokyo International Airport. Ia langsung membuka pintu mobil salah satu taksi yang berhenti tepat di depannya.

"Tunggu"

"Tunggu sebentar. Anak buah ayahku akan menjemput kita sesaat lagi. Sabarlah" ucap sambil mencegah Luhan membuka pintu taksi itu.

"uhmm.. Baiklah"balas Luhan sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Tak lama mereka menunggu, mobil mewah berwarna hitam pekat berhenti di depan tempat mereka berdiri. Seorang lelaki berbadan tegap mengenakan setelan tuxedo hitam pun keluar dari mobil itu, menghampiri Sehun dan Luhan.

"Tuan muda, mari saya antarkan" ucap lelaki tersebut sesaat setelah berdiri di depan pasangan SeLu.

Sehun menanggapinya dengan senyuman kecil, "Baiklah. Tolong bawakan barang-barangku" perintah Sehun dengan lembut

"Baik, Tuan Muda" balas lelaki itu sambil segera mengambil barang bawaan Sehun maupun Luhan lalu membawanya menuju ke bagasi mobil.

Sementara sang 'anak buah' ayah Sehun membawakan barang bawaan SeLu ke bagasi, Sehun membuka pintu mobil tersebut dan mempersilahkan Luhan masuk ke mobil layaknya seorang Pangeran mempersilahkan seorang Putri untuk memasuki kereta kudanya.


"Tuan muda ingin kemana terlebih dahulu?" tanya seseorang yang menjemput Sehun dan Luhan tadi sambil menyetir mobil.

"Antarkan aku ke villa-ku terlebih dahulu. Aku ingin istirahat terlebih dahulu" jawab Sehun

"Baiklah Tuan Muda", pemuda ini pun kembali berkonsentrasi dengan jalan raya yang di hadapinya.

Luhan?

Ia sedang mendengarkan musik melewati sepasang headset yang langsung tersambung dengan handphone-nya. Sesekali ia bergumam mengikuti lirik lagu yang hanya terdengar olehnya sambil menatap kosong ke arah jendela mobil.

Sehun yang bosan hanya mencuri – curi pandang ke arah Luhan sambil sesekali tersenyum kecil, mengingat Luhan sama sekali tak berubah setidaknya sebelum kejadian itu. Ah, sudahlah.

Mobil yang di tunggangi SeLu ini pun berhenti tepat di depan rumah klasik khas Jepang. Rumah ini mempunyai halaman yang luas dan dipenuhi oleh aneka bunga yang bermekaran, termasuk bunga sakura. Ada semacam sungai buatan beserta jembatan mini yang menghubungkan gerbang masuk dengan pintu masuk ke dalam rumah klasik ini. Meskipun exterior villa ini berbentuk seperti rumah klasik khas Jepang, tapi interiornya tampak seperti rumah modern yang mewah dengan bar kecil.

Luhan sempat kagum dengan suasana villa milik Sehun ini. Sehun menengok ke arah belakang saat ia menyadari Luhan tak ada di belakangnya saat ini, padahal ia sudah sampai di pintu masuk rumah tersebut.

"Hey! Kau tak mau masuk ke dalam?" tanya Sehun dengan sedikit berteriak. Ia berhasil membuat Luhan kembali tersadar.

"Ah.." Luhan tampak linglung. Ia langsung kembali menarik pegangan koper yang di bawanya dan berjalan menuju tempat dimana Sehun saat ini sedang berdiri.

Luhan mengikuti kemanapun Sehun berjalan. Ia bahkan tak fokus dengan apa yang akan di pijaknya karena terlalu sibuk melihat – lihat apa yang ada di sekelilingnya.

Entah sejak kapan, Koper yang berada di belakangnya kini hilang entah kemana. Luhan tampak kebingungan saat mengetahui hal ini.

Sehun berada di dapur yang tak jauh letaknya dari tempat Luhan yang terilhat kebingungan. Ia tampak terkekeh kecil melihat Luhan yang tampak menggemaskan jika seperti ini.

"Kau mencari sesuatu?" ucap Sehun sambil meneguk segelas air putih yang telah dituangnya.

Luhan mengangguk, "uhm.. koperku?" tanyanya dengan wajah menggemaskan membuat Sehun ingin mencubit pipinya saat ini juga.

Sehun tertawa melihat polah Luhan.

"Aku sudah menaruhnya di kamar. Kau tak menyadarinya?"

Luhan menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia berjalan menuju tempat duduk di pinggiran meja bar yang terletak tak jauh dari dapur. Sehun menghampiri Luhan yang tampak bosan.

"Kau lapar?" tanya Sehun

Luhan mengangguk

"Tunggu sebentar. Aku akan memasakkanmu sesuatu" ujar Sehun disertai dengan wink-nya. Ia pun berlalu meninggalkan Luhan.

Luhan meraih handphone miliknya. Ia mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari eomma-nya. Tanpa menunggu apapun, ia segera menghubungi eomma-nya.

"yeoboseyo?"

"yeoboseyo. Eomma, mianhae aku tak menjawab teleponmu. Bahkan aku tak memberi tahumu bahwa aku sudah tiba di Jepang beberapa jam yang lalu"

"Aigoo Luhan. Gwenchana. Eomma hanya khawatir tentang keadaanmu"

"Eomma khawatir? Hahaha.. Disini ada Sehun yang menjagaku eomma. Eomma tak perlu khawatir. Aku bukan anak kecil lagi."

"Yak! Apakah salah jika seorang ibu mengkhawatirkan anaknya?"

Luhan terkekeh

"Ngomong – ngomong apakah kau sudah mulai menerimanya?"

Luhan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan eomma-nya.

"Nugu?"

"Sehun. Kau sudah bisa menerimanya?"

"Eomma kumohon jangan bahas masalah itu. Aku masih bingung dengan perasaanku"

"Ah! Ah! Arraseo. Baiklah. Jaga dirimu baik – baik. Maaf jika eomma mengganggu acara honey moon-mu dengan Sehun. Kkk~"

"Yak eomma! Arraseo."

Luhan tertawa kecil mengingat pembicaraannya dengan eommanya. Jujur saja ia merindukan eommanya walau baru beberapa jam tak bertemu.

Sehun terlihat berjalan ke arah Luhan dengan membawa 2 piring berisi makanan. Luhan kaget melihat pemandangan makanan yang dibawa Sehun. Pemandangan? Menurut Luhan, makanan ini lebih cocok disebut sebagai pemandangan karena terlalu indah.

Luhan dapat melihat sebuah telur yang di lipat berbentuk piringan yang tak terlalu besar dengan nasi goreng ala Sehun #LOL dan french fries di sekitarnya. Aaa~ Jangan lupakan sepucuk daun parsley dan tomat yang dibentuk mawar sebagai garnish-nya. Menggiurkan.

"A- aku tak menyangka kau mempunyai bakat dalam hal memasak" ucap Luhan sambil memandang ke arah Sehun yang kini duduk bersamanya di meja makan.

"Maka dari itu jangan meremehkanmu" balas Sehun disertai dengan smirk-nya.

Luhan mendengus kesal pada pernyataan Sehun. Tanpa menunggu apapun, ia segera mengambil sendok yang berada tak jauh dari piringnya.

Luhan menyupkan sesendok makanan yang telah dibuat oleh Sehun ke dalam mulutnya.

Luhan mengunyah makanan di mulutnya sambil mengerjap tak percaya tentang apa yang ia rasakan saat makanan ini masuk ke dalam mulutnya.

"Apakah...enak?" tanya Sehun ragu melihat reaksi Luhan.

Luhan tak menjawabnya.

Ia menyendok makanan yang berada di piringnya dan menyuapkannya ke Sehun. Sehun yang terkejut atas perlakuan Luhan yang tiba – tiba padanya hanya bisa tersenyum sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan yang diberikan Luhan.

"Bagaimana? Aaa~ Ini sangat enak Sehun-ah~"

Luhan tak hentinya memuji masakan yang di buat Sehun. Mata indahnya sesekali membentuk bulan sabit saat ia menyendokkan makanan yang ada di depannya ke mulutnya.

Sehun mengangguk kecil sebagai respon atas pernyataan Luhan.


Sehun tersenyum kecil saat ia melihat Luhan sedang memainkan handphone-nya sambil merebahkan diri di sofa.

"Mandilah! Hari sudah sore. Malam ini kita akan jalan – jalan"

Luhan tak menampakkan respon apapun. Bahkan ia masih berkutat dengan handphonennya.

"Atau kau ingin mandi bersama denganku?" Sehun menyeringai.

Luhan langsung menggeser letak handphonennya yang semula berada tepat di depan wajahnya. Ia tampak memberi Sehun death glare yang langsung disambut dengan kekehan oleh Sehun.

Sehun berjalan mendekati Luhan untuk menyuruhnya mandi –sekali lagi-.

"Mandilah" ucap Sehun sambil mengelus pelan surai rambut Luhan.

"Kenapa kau tak duluan saja?" balas Luhan tanpa berhenti memainkan handphone-nya.

"A-a..." entah mengapa Sehun tak ingin mandi terlebih dulu. Dan lihat! Ia tak memiliki alasan untuk membantah pertanyaan Luhan.

"Baiklah ayo main batu gunting kertas. Yang kalah akan mandi terlebih dahulu!" Sehun mulai frustasi #HAHAHAHA

"Baiklah"

Mereka mengankat salah satu tangan mereka dan berkata "batu gunting kertas"

JRENG #eh -_-

Tangan Sehun tampak membentuk gunting, sedangkan tangan Luhan tampak melebarkan kelima jarinya yang berarti membentuk kertas.

Sehun mengepalkan tangannya dan mengangkatnya perlahan ke atas. Ia sedang melakukan selebrasi kemenangan.

Di sisi lain, Luhan tampak illfeel dengan Sehun yang menurutnya over reacting.

"Baiklah baiklah. Aku akan mandi terlebih dahulu" ucap Luhan kesal.

"Memang itu yang seharusnya kau lakukan" Sehun tampak tersenyum penuh kemenangan.


Pasangan suami istri yang masih muda ini memasuki mobil pribadi milik Sehun.

Luhan tampak mempesona dengan mini dress hitam putihnya dan blazer cantik berwarna biru safir di bagian luarnya dan hitam di bagian dalamnya selutut. Ia juga membawa tas kecil yang di pegang dan mengenakan high heels berwarna hitam yang tak terlalu tinggi. Surai coklatnya digulung rapi ke atas menyisakan beberapa helai kecil di sekitar poninya.

Sehun?

Ia hanya memakai tuxedo lengkap seperti biasanya. Tapi, tetap saja ia terlihat sangat tampan malam ini.

"Tuan muda?" tanya sopir pribadi Sehun.

"Chidorigafuchi" jawab Sehun seolah mengerti apa maksud pertanyaan sopirnya.

Sopir pribadi Sehun ini bernama Yakamoto. Dia berumur tak lebih dari 25 tahun. Maka dari itu Sehun lebih menganggap Yakamoto sebagai hyung-nya daripada sopir pribadinya.

"Chadorigifuchi? Apa itu?" tanya Luhan.

Sehun tersenyum kecil.

"Chidorigafuchi" ucap Sehun membenarkan perkataan Luhan.

"Kau akan mengetahuinya nanti"

Setelah beberapa menit duduk di dalam mobil sambil menikmati gemerlap kota Tokyo di malam hari, akhirnya Luhan dan juga Sehun sampai di tempat tujuan mereka, Chidorigafuchi.

Chidorigafuchi adalah taman bunga sakura yang paling terkenal di Jepang. Meskipun malam hari, kita masih bisa melihat warna indah bunga sakura karena setiap pohon mempunyai lampu tersendiri. Di tengah taman Chidorigafuchi terdapat sebuah sungai dan beberapa perahu kecil untuk disewakan pada pengunjung.

Luhan membelalakkan matanya saat disuguhi pemandangan malam yang sangat indah. Bunga sakura yang bersinar di malam gelap, ahh indahnya.

Sehun tersenyum senang karena ia berhasil mewujudkan salah satu impian Luhan.

Sehun pura – pura terbatuk untuk menarik perhatian Luhan.

"Mau berjalan denganku?" ucap Sehun sambil menekuk lengannya.

Luhan tersenyum dan segera mengaitkan pergelangan tangannya dengan lengan Sehun.

Setelah berkeliling menikmati keindahan bunga sakura yang bermekaran di malam hari, Luhan dan Sehun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang sudah disediakan.

Luhan mengobrak abrik isi dalam tasnya. Ia mencari handphonenya.

"Aaa~ Kau mau berfoto?" tawar Luhan disertai dengan senyumannya.

Sehun mengangguk. Meskipun ia sangat tak suka berfoto maupun difoto, toh ini demi Luhan. Ia tak bisa menolak apapun yang di inginkan Luhan.

Luhan mengotak – atik sejenak handphone-nya lalu mengarahkannya tepat di tengah-tengahnya dan Sehun.

Hana...

Dul...

Set...

Click!

Sehun mengecup pipi Luhan saat hitungan ketiga. Luhan menoleh ke arah Sehun saat menyadari apa yang baru saja Sehun lakukan. Pipi Luhan memerah seketika.

Sehun tertawa puas melihat reaksi Luhan. Tanpa kata apapun, ia merebut handphone yang berada di genggaman Luhan dengan mudahnya.

"Sini biar kulihat."

Luhan ikut melihat layar handphone yang berada di hadapan Sehun saat ini.

"Uhmm.. Tak terlalu buruk" nilai Sehun.

Luhan segera mengambil handphone-nya kembali dan berdiri.

"Ayo! Aku bosan jika berada di sini terus"

Sehun segera ikut berdiri dan menggandeng tangan Luhan. Kali ini ia akan membawa Luhan mencicipi ramen khas Jepang. Mereka harus berjalan beberapa saat untuk mencapai Shibuya Center Town. Tempat dimana mereka akan menemukan kedai – kedai ramen.

Luhan melepaskan genggamannya pada tangan Sehun saat ia sampai di tempat penyeberangan. Tempat penyeberangan ini sangat ramai pada malam hari. Sehun sudah berulang kali mengingatkan pada Luhan untuk menaruh handphone-nya sebentar saja. Tapi Luhan menolaknya. Ia berkata bahwa ini adalah pesan singkat dari Baekkie, adiknya, ia harus membalasnya secepat mungkin.

"Luhan, ayo!" teriak Sehun pada Luhan yang masih asik dengan handphone-nya.

Luhan tak mendengarnya karena suasana di jalan raya sedang ramai saat ini. Saat ia kembali memandang ke arah depan setelah memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas-nya, ia mendapati Sehun yang sudah berjalan jauh di depan.

"Sehun-ah!"

Luhan berteriak pada Sehun, tapi sayang Sehun tak mendengarnya. Ia tampak menikmati perjalanannya seolah tak sadar bahwa Luhan telah ditinggal.

Saat Luhan berusaha menghubungi Sehun, tiba – tiba saja handphone-nya mati karena baterainya habis. Sial.

"Luhannie, Apa kau lapar?"

Sehun menoleh ke arah belakang dan tak menemukan Luhan di belakangnya. Senyum Sehun yang awalnya mengembang kini memudar. Raut wajah yang awalnya tampak ceria kini berubah menjadi cemas. Ia sangat ceroboh. Bagaimana bisa ia meninggalkan Luhan.

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan coba sesa-

"Shit!"

Sehun mengacak frustasi rambutnya. Ia pun mencoba berkeliling mencari Luhan.


Seseorang menepuk pelan pundak Luhan saat ia sedang menunggu suatu keajaiban muncul. Saat Luhan berbalik, ia harus mendongak karena tubuh orang yang kini di hadapannya jauh lebih tinggi daripada ia. Dengan mendongak seperti ini ia dapat melihat wajah orang yang menepuk pendaknya beberapa saat yang lalu. Sangat tampan.

Wajahnya... tak asing, batin Luhan

"Kau butuh bantuan?" ucap laki – laki di hadapan Luhan sambil tersenyum hangat.

"K- kau siapa?"

-To Be Continued


Halo hai semuanya~~~ Pada kangen yah... sama ff ini? *nggak* -_-

Maaf yang sebesar – besarnya kalo apdetnya lamaaaaaaaaaaaa banget. Otak lagi beku banget buat mikir huehue T^T

TAMPAR AKU, READERS. TAMPAR AKU T^T

Oke, kali ini bakalan ada sesi pembalasan review #eh. Here you go~

: Tunggu chapter-chapter selanjutnya aja. muahahaaha :v Makasih udah mau baca^^

RZHH 261220 II: Sehun itu... pacarku *ditabok sehun-stans*. Makasih udah mau baca^^

HyunRa: Penasaran? Sama, saya juga :v Tunggu chap selanjutnya aja. Makasih udah mau baca^^

younlaycious88: Tunggu chapter selanjutnya aja ya? :v Makasih udah mau baca^^

AmeliaBellatrix: Entahlah. Tunggu next chap aja :v Makasih udah mau baca^^

Oh SeRa Land: Ini udah di lanjut. Makasih udah mau baca^^

Sanshaini Hikari: Tunggu di chapter selanjutnya. muahahaha :v Makasih udah mau baca^^

.58: Penasaran? Sama, saya juga. Ini udah di lanjut. Makasih udah mau baca^^

ruixi: Ini udah di update ya? Makasih udah mau baca^^

luji: Entahlah. Ini udah di lanjut. Maaf kalo update-nya lamaaa. Makasih udah mau baca^^

Gigi onta: Ini next chap-nya. Makasih udah mau baca^^

lisnana1: Ini udah di lanjut ya? Makasih udah mau baca^^

preciouselu: Masih lanjut kok. Cumaan update-nya agak lamaan. Makasih udah mau baca^^

Tunggu chapter selanjutnya ya? Maaf kalo makin kesini, makin aneh ceritanya T^T See you~