Chapter: 5


"K- kau siapa?"

secara refleks Luhan memundurkan langkahnya. Mencegah terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan atas kehadiran pria misterius ini secara tiba – tiba.

Senyum

Pria di hadapan Luhan tersenyum dengan begitu mempesonanya.

"Kau tak mengingatku?"

Luhan memandang pria di depannya dengan tatapan bingung. Mengingatnya? Bahkan bertemu dengannya saja baru pertama kali ini.

Perlahan Luhan menggelengkan kepalanya.

"Ah~ Baiklah. Namaku Kris Wu. Kau bisa memanggilku Kris", ucap pria bernama Kris ini sambil menyodorkan tangannya; mengajak Luhan untuk berjabat tangan dengannya.

Dengan sedikit ragu Luhan menjabat tangan Kris tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Kris.

"Ah~"

Kris segera menyelesaikan acara berjabat tangannya dengan Luhan dan segera merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan handphone miliknya.

"Aku melihatmu sedang kebingungan menelpon seseorang. Dan yaah~ kurasa kau membutuhkan ini" ia menyodorkan handphone miliknya ke arah Luhan.

Luhan tak sesegera itu langsung menerima bantuan dari Kris karena ia merasakan sedikit pening di kepalanya.

"Lu, kau butuh bantuan?"

"sepertinya... Aku sudah berusaha menelpon Sehun tapi saat sambungannya mulai terhubung, handphoneku mati"

"Well, kurasa kau membutuhkan ini"

Suara ini terngiang di kepala Luhan bersamaan dengan pening yang semakin menjadi – jadi. Luhan memegang dahinya sambil memejamkan erat kedua matanya.

Suara ini sangat mirip dengan suara yang dimiliki oleh pria di hadapannya.. Kris

Tubuh Luhan oleng, membuat Kris menjadi was – was.

"Lu, kau tak apa?", ucap Kris sambil memegang kedua bahu Luhan; mencegahnya agar tak ambruk. Handphone yang dibawanya tetap ia genggam.

Apa aku baru saja menyebutkan namanya? Well, damn it!

Kris menyadari bahwa ia baru saja menyebutkan nama gadis di depannya, seolah ia telah mengetahui namanya. Padahal, gadis ini belum memperkenalkan dirinya.

Luhan yang telah merasa peningnya telah mereda segera berdiri dengan tegak.

"A- apa kau baru saja menyebut namaku?" tanya Luhan bergetar. Ia merasa ada yang janggal. Apakah pria ini baru saja menyebut namanya? Bagaimana ia bisa tahu? Padahal Luhan sama sekali belum memberi tahukan identitasnya.

"M- mungkin kau hanya salah mendengar" jawab Kris sambil tersenyum berusaha untuk menutupi kebohongannya.

Luhan menautkan kedua alisnya bingung.

Kris kembali menyodorkan handphone di genggamannya kepada Luhan.

"Kurasa kau masih membutuhkan ini" ucapnya sambil tersenyum hangat.

Luhan mengangguk pelan sambil perlahan menerima handphone bantuan dari Kris dengan tanga bergetar. Ia ketakutan. Untung saja ia menghafal nomor handphone Sehun, jadi dengan mudahnya ia dapat menghubungi Sehun jika ia sendirian dan tersesat.

Ia meminta izin dari pemilik handphone ini untuk menelpon Sehun dengan jarak sedikit terpisah dari pemilik. Ia membutuhkan privasi.


Nafas Sehun terengah – engah saat ia berhenti sejenak setelah berlarian mencari Luhan. Ia merasa sangat bodoh dan ceroboh. Bagaimana bisa ia meninggalkan bahkan melupakan gadis yang dicintainya di tempat ramai seperti ini? Ia tak ingin kehilangan Luhan-nya untuk kedua kalinya. Tidak.

Saat akan melangkahkan kakinya untuk berusaha mencari Luhan lagi, handphone yang ia letakkan di saku jas-nya bergetar menandakan ada panggilan yang masuk.

Dengan segera ia merogoh saku jas-nya dan melihat ke arah layar handphonenya. Ia sangat berharap bahwa Luhan adalah sang penelpon, tapi ternyata ia hanya menemukan deretan angka dibarengi dengan getaran handphonenya saat ia menatap layar handphone canggih miliknya itu.

Dengan malas ia menggesek pelan layar handphone itu ke arah kanan. Ia pun segera mendekatkan alat komunikasi ini ke telinganya.

"Se- sehun. Aku takut"

Luhan?

Ia ketakutan

"Luhan. Tenanglah. Sekarang kau berada di mana?"

Perasaan bersalah Sehun semakin menjadi saat ia mengetahui Luhan sedang ketakutan. Ia berjanji tak akan pernah membiarkan kejadian ini terulang kembali.

"A- aku tak tahu. Aku hanya bisa melihat club malam dengan kedai kecil sushi di depannya"

Club malam

Kedai sushi

Sehun langsung mengerti tempat dimana Luhan berada hanya dengan menyebutkan apa yang ada di sekelilingnya. Ia segera berlari menuju tempat yang telah Luhan beri ciri – cirinya.


Luhan menyodorkan handphone yang telah ia gunakan untuk menelepon Sehun ke arah Kris.

"Terima Kasih"

Luhan berterima kasih pada Kris, sambil menundukkan kepalanya. Ia benar – benar takut pada Kris.

Kris tersenyum dan menjawab ucapan terima kasih Luhan dengan 'well, sama – sama'. Ia segera memasukkan handpone-nya ke dalam saku celananya.

"Uhm, Kurasa aku harus pergi" ucap Kris.

Luhan mendongakkan kepalanya, "Ah. Baiklah. Sekali lagi terima kasih banyak"

"Tak apa. Bye" Kris mulai menjajakkan kakinya pergi meninggalkan Luhan.

Luhan melambaikan kecil tangannya ke arah Kris yang kini telah menjauh. Ia tahu ia tak akan mendapat balasan lambaian tangan dari pria yang telah menolongnya karena ia melakukan gerakan lambaian tangan setelah Kris membalikkan tubuh tegapnya. Tapi, entah mengapa ia tetap melambaikan tangan mungil-nya.

Luhan menghembuskan nafas-nya kasar. Ia kembali sendirian. Dan ia benci sendirian.


Seseorang memeluk pinggang ramping Luhan dari belakang. Membuat Luhan sedikit kaget. Ia telah tahu pasti siapa orang yang kini memeluknya. Aroma parfum yang khas dari sang pemeluk dapat dikenali dengan mudah oleh Luhan.

Luhan memutar tubuhnya dan memeluk erat Sehun, pria yang melakukan mem-back hugging dirinya. Ia memendam wajahnya di dada bidang Sehun.

"Jangan tinggalkan aku...lagi", ucap Luhan sambil mengeratkan pelukannya pada Sehun.

Sehun semakin mengeratkan pelukannya kepada Luhan.

"Maaf, aku terlalu ceroboh"

"Aku tak akan mengulanginya. Aku berjanji"

Luhan melepaskan pelukannya pada Sehun dan mulai mengusap air matanya yang hampir jatuh.

"Apa kau lapar?" tanya Sehun

Luhan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum layaknya gadis berumur 5 tahun yang mendapatkan lolipop.

"Kajja" Sehun menggandeng tangan Luhan menuju kedai ramen ternama di sekitar tempat ia berdiri. Dengan senang hati Luhan menerima ajakan Sehun karena tak dapat dipungkiri bahwa perutnya telah meronta kelaparan.


Setelah menikmati ramen, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke villa milik Sehun yang menjadi tempat tinggal sementara mereka di Jepang karena malam telah beranjak larut.

Sebuah pertanyaan terbesit di benak Sehun saat ia dan Luhan sedang dalam perjalanan pulang. Siapakah orang yang rela meminjamkan handphone miliknya pada Luhan untuk menelpon Sehun? Apakah Luhan yang meminjamnya? Tapi terlihat sangat mustahil jika Luhan meminjam handphone milik orang lain karena ia adalah seorang gadis yang pemalu.

"Luhan, apa aku boleh tahu siapa yang meminjamkan handphonenya untukmu?" tanya Sehun sesaat setelah mereka memasuki villa miliknya.

Luhan menghentikan langkahnya menuju kamar dan berbalik menatap Sehun.

Ia tersenyum simpul, "Tentu saja. Ia bernama Kris. Kris Wu lebih tepatnya." jawab Luhan dengan innocent-nya.

Kris?

"K-.. Kris? " Sehun kembali memastikan apa yang baru saja ia dengar.

Luhan mengangguk , "Ya, ada masalah?" ucapnya sambil menautkan kedua alisnya bingung.

"Tidak. Hanya saja, apa kau pernah bertemu dengannya sebelumnya sehingga kau mengenalnya?"

"Tidak. Aku baru pertama kali bertemu dengannya tadi dan ia memperkenalkan diri lalu meminjamkan handphone miliknya" jelas Luhan pada Sehun.

Sehun menghela nafas lega dan mengangguk – anggukkan kepalanya pertanda paham akan apa yang telah dijelaskan oleh Luhan sebemumnya.

Untung saja kau tak mengingatnya,Lu

"Ah, baiklah" ucap Sehun . Luhan mengangguk bingung lalu memutuskan untuk kembali berjalan ke arah kamarnya untuk meletakkan tas dan mengganti baju-nya dengan piyama. Sehun mengikuti langkah Luhan dari belakang karena ia akan tidur satu kamar dengan Luhan.


Luhan terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mendapati sebuah lengan melingkar di pinggang rampingnya saat ia mencoba untuk bangun. Ia pun membalikkan badannya untuk menatap pria yang kini mendekapnya erat sembari terlelap.

Luhan tersenyum kecil saat ia melihat mata tajam Sehun tertutup dan memperlihatkan wajah tampan Sehun saat ia terlelap.

"Kau telah berhasil membangunkanku dengan tatapanmu" ucap Sehun tiba – tiba dengan mata yang masih tertutup.

Semburat merah tampak di kedua pipi Luhan. Ia segera membalikkan badannya agar Sehun tak melihat wajah merahnya.

Sehun mengeratkan dekapannya membuat punggung Luhan semakin mendekat ke dada bidang Sehun. "Good Morning, Princess"

Cheesy

"Morning" jawab Luhan sambil tersenyum tanpa sepengetahuan Sehun.

Luhan memindahkan tangan Sehun yang semula berada di pinggangnya menjadi berada di ranjang. Ia memutuskan untuk bangun terlebih dahulu karena entah mengapa ia ingin memasakkan sarapan untuk Sehun.


Semerbak aroma telur goreng *lel* membangunkan Sehun dari tidurnya. Saat ia membuka kedua matanya, ia mendapati Luhan tak berada di sampingnya.

Luhan? Memasak?

Sehun tertawa remeh membayangkan Luhan bisa memasak karena sejauh ini ia tak pernah melihat Luhan memasak. Ups, sebenarnya pernah. Tapi saat itu Luhan berhasil membuat dapur rumahnya hampir kebakaran karena ia lupa akan ramyun instan yang tengah dimasaknya. Gadget adalah salah satu alasan mengapa Luhan bisa lupa dengan ramyun-nya saat itu.

"Kau sudah bangun?", suara Luhan menyambut kedatangan Sehun yang kini mendekat ke arah Luhan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.

Sehun mengangguk kecil. Ia dapat menebak dengan pasti apa yang sedang Luhan siapkan untuk sarapan. Telur mata sapi, daging asap, keju, selada dan tomat dibalut dengan roti. Apalagi kalau bukan sandwich?, makanan favorit Luhan.

"Kajja", Luhan membawa dua piring berisi sandwich dan meletakkannya di meja makan yang terletak tak jauh dari dapur. Sehun berjalan mengikuti langkah kecil Luhan. Ia menarik kursi makan dan membiarkan Luhan mendudukinya, lalu menarik kursi yang berhadapan dengan Luhan dan mendudukinya.

Sehun mulai mengangkat sandwich buatan Luhan dari piring dan menggigitnya.

"Enak?" tanya Luhan.

Sehun mengangguk kecil sambil tetap mengunyah sandwich-nya.

"Enak. Tapi sandwich buatanku lebih enak"

Luhan mem-poutkan bibirnya.

"Aku tak meyangka, sejak kapan kau bisa membuat sandwich sendiri?" tanya Sehun

"Kau meremehkanku? Meskipun begini aku juga pernah belajar memasak bersama eomma-ku eoh. Yaah, meskipun beberapa kali gagal tapi setidaknya aku bisa membuat sandwich sendiri" ucap Luhan sambil menjulurkan lidahnya di akhir pernyataannya.

Sehun hanya mengangguk – anggukkan kepalanya sebagai respon atas penjelasan Luhan.


"Lu, kau mau ke Disneyland?" tawar Sehun pada Luhan yang kini sedang asyik memainkan gadget-nya dan mengabaikan TV yang menyala.

"DISNEYLAND?!" tanya Luhan antusias akan ajakan Sehun.

Sehun mengangguk meng'iya'kan pertanyaan Luhan sambil tersenyum senang atas antusiasme Luhan.

"Jakkaman. Aku akan mengganti bajuku" ucap Luhan sambil sedikit berlari menuju kamarnya.


Kaos casual berwarna baby pink dengan tulisan 'princess' dipadukan dengan hot pant berwarna biru jeans dan sneaker berwarna pink telah berhasil membuat Luhan tampak seperti remaja berumur 15 tahun. Rambut coklat-nya dibiarkan tergerai membuat Luhan terlihat semakin cute.

Kali ini Sehun tak mengenakan setelan tuxedo yang membosankan, melainkan sweater lengan panjang berwarna abu – abu bertuliskan 'supreme' dipadukan dengan celana panjang berwarna coklat karamel dan sneaker berwarna merah. Dandanan Sehun kali ini mampu membuat Luhan terpesona, bahkan beberapa gadis melirik Sehun dengan tatapan tertarik.

Mereka berdua menikmati berbagai macam wahana di Disneyland hingga tak sadar bahwa matahari telah berada tepat di atas kepala mereka dan beberapa jam lagi wahana ini akan segera ditutup.

"Apa kau tak ingin membeli boneka?" tawar Sehun pada Luhan saat mereka berjalan keluar setelah menikmati wahana Big Thunder Mountain.

Luhan mengangguk senang sambil menggandeng erat lengan Sehun.


Saat mereka memasuki toko souvenir, mata mereka disuguhi dengan berbagai macam pernak – pernik tokoh kartun Disney. Luhan terlihat sangat senang hingga ia bingung harus membeli yang mana.

Langkah Luhan terhenti saat ia menemukan deretan boneka bambi berjejer rapih tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Pening itu kembali.

"Kau ingin boneka ini?"

"Aaa~ BAMBI!"

"Poppo dulu atau aku tak akan memberikannya padamu"

"Sehunnie, kumohon"

"Baiklah, Little deer"

Mata indah Luhan terpejam erat seiring dengan rasa pening yang semakin menjadi – jadi. Luhan memegang dahinya dan mengurutnya perlahan. Ia tak tahu mengapa akhir – akhir ini ada yang aneh dengan dirinya.

De Javu

Ia merasa sering mengalami De Javu akhir – akhir ini; merasa seperti telah melakukan perbuatan atau mengalami suatu hal yang ia lakukan saat ini sebelumnya.

Pening yang dirasakan Luhan semakin menjadi – jadi. Ia memutuskan untuk berjongkok sambil mengurut dahinya; berharap agar pening yang ia rasakan segera menghilang.

"LUHAN" suara khas milik Sehun tak mampu membuat Luhan mengalihkan konsentrasinya agar pening yang ia rasakan menghilang. Untung saja Sehun datang di saat yang tepat, saat dimana Luhan hampir menyerah dan pingsan menahan rasa pening di kepalanya.

Tubuh Luhan terkulai lemas sesaat setelah ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun. Ia menyerah akan rasa sakit di kepalanya.


Sehun langsung berdiri setelah duduk beberapa lama menunggu sang dokter yang memeriksa Luhan keluar dari ruangannya.

"Dr. Choi, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Sehun was – was kepada Dr. Choi; dokter pribadinya yang berada di Jepang. Sebenarnya ia berasal dari Korea, sama seperti Sehun, akan tetapi karena keluarga Sehun merekrutnya menjadi dokter pribadi di Jepang ia harus berpindah tempat tinggal di Jepang.

"Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya. Mari", Dr. Choi langsung mengantarkan Sehun menuju ruangannya yang terletak dua blok dari tempat Luhan beristirahat.

"Silahkan duduk" , ujar Dr. Choi mempersilahkan Sehun untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Dr. Choi.

Dr. Choi menyilangkan jari – jari lentiknya di sela – sela jari lalu meletakkannya di meja di hadapannya.

"Tuan Oh, apakah ia mengidap amnesia?" tanya Dr. Choi.

"Ya. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Luhan dan amnesia yang di idapnya?"

"Hmm, Kurasa akhir – akhir ini ia akan mengalami pening yang teramat sangat karena ingatannya hampir pulih"

Sehun membelalakkan matanya saat Dr. Choi mengatakan bahwa ingatan Luhan akan segera pulih. "Dokter, apakah ingatannya akan kembali utuh seperti semula?"

"Tidak. Ia hanya akan mengingat masa – masa bahagianya, tapi jika Tuan menghendaki, kami bisa memberikan Nona Luhan terapi agar ingatannya utuh seperti semula"

Sehun mengangguk – anggukkan kepalanya, "Aah, baiklah. Terima kasih atas penjelasannya" ucap Sehun seraya berdiri dan berjabat tangan dengan Dr. Choi.


Sehun memutuskan untuk mengunjungi ruang inap Luhan di rumah sakit setelah ia keluar dari ruangan Dr. Choi.

Luhan tengah menatap jendela kamar saat Sehun memasuki ruangan ini. Kini ia tengah berjalan menuju ranjang Luhan.

"Lu~"

Luhan membalikkan kepalanya menghadap Sehun yang kini duduk di pinggiran ranjangnya. Sehun tersenyum dan Luhan merasa bahwa senyuman Sehun saat ini adalah yang paling hangat.

Luhan ber'hmm' ria sebagai responnya atas panggilan Sehun dan tersenyum dengan manis.

"Kau sudah baikan?" tanya Sehun.

"Yaahh, setidaknya untuk saat ini ya."

"Kau lapar?" tanya Sehun sekali lagi.

Luhan menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tapi, ada yang ingin aku tanyakan padamu"

Luhan tak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Meskipun ia baru beberapa kali mengalami kejadian yang sama persis dengan apa yang baru saja ia alami, tapi ia merasa sangat janggal. Bahkan ia beranggapan bahwa ia menderita amnesia dan ingatannya akan segera pulih atau bahkan mengidap kanker otak setelah mengingat – ingat isi buku yang dulu pernah dibacanya.

"Silahkan, tuan putri" goda Sehun yang mampu membuat Luhan sedikit tertawa.

"Sehun"

"Ya?"

Luhan ragu akan pertanyaan yang akan ia tujukan pada Sehun. Ia juga bingung harus memulai dari mana pertanyaannya.

"uhhmm.. A- apa kita penah bertemu sebelum-...nya?"

Akhirnya ia melepaskan sebuah pertanyaan yang mengusiknya sambil menatap ragu ke arah Sehun.

Sehun menatap kaget ke arah Luhan yang sedang menampakkan wajah bingungnya. Sehun merasa seperti oksigen tak berada di bumi lagi. Sesak. Ia merasa tak bisa bernafas jika mengingat masa lalu Luhan dengannya ditambah lagi dengan pertanyaan Luhan yang baru saja dilontarkannya.

"Lu-..."

-To Be Continued


Halo readers – readers setiaku!

Makasih banget atas review-an kalian. Makasih juga yang udah ngasih semangat buat aku. Well, kalian berhasil ngebuat aku kembali semangat nglanjutin ff aneh ini :v

Maaf yang sebesar – besarnya kalo chapter ini aneh banget hahah.

Oh ya, review-an kalian selalu aku baca kok, jadi jangan khawatir. Tinggal review langsung dibaca /oke apa ini

Karena ffn kena internet positif, aku tegasin lagi bahwa ff ini bakalan agak lama updatenya. Maaf.. Tapi janji deh kalo pas ffn bisa dibuka, pasti update kok. Yang sabar eapzzz

Sekian dari saya, JANGAN LUPA REVIEW YAAH? *teriak pake toa*

See you next chap :*