Chapter : 7
(kinda messy lol, enjoy!)
-flashback-
12 April 2000
"Hei, Sehun! Ambillah bolanya!"
"Baiklah, hyung", jawab Sehun sambil menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.
Bocah laki – laki dengan sarung tangan baseball itu adalah Sehun, sedangkan bocah laki – laki yang lain dengan tongkat pemukul baseball di genggaman tangannya adalah Kris, sahabat yang sudah Sehun anggap sebagai hyung-nya.
Usia mereka terpaut hanya 2 tahun, namun tubuh Kris lebih tinggi daripada anak seumurannya. Ia terlihat tampan meskipun usianya belum genap 12 tahun dan hal inilah yang membuat ia mempunyai banyak teman atau mungkin semacam penggemar perempuan di kelas bahkan di sekolahnya.
Sehun yang masih berumur 10 saat itu terlihat sedikit bingung saat ia melihat seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya sedang duduk dan tampak menangis di sebuah bangku yang tak jauh dari tempat dimana bola baseball Sehun berhenti menggelinding. Gadis itu menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya seakan menutupi kesedihan dan air matanya.
"Hei!"
Sehun mencoba untuk menyapa gadis itu tak lama setelah ia mengambil bola baseball yang ia cari. Gadis itu tak merespon dan hal inilah yang membuat Sehun semakin penasaran. Ia berjalan mendekat ke bangku tempat gadis itu menangis dan duduk berjajar dengan gadis misterius yang baru ditemuinya.
"Hei!", sapa Sehun sekali lagi sambil menepuk pelan pundak gadis itu.
Gadis itu mengucek matanya pelan untuk menghilangkan sisa air mata yang menetes sebelum akhirnya ia menatap Sehun dengan wajah imutnya. Mata rusanya berbinar dan kemerahan, bibir merah mudanya mengerucut dengan lucunya dan alisnya bertaut dan mengerut seakan bingung dengan kehadiran Sehun.
Sehun sedikit terkejut saat ia melihat wajah imut gadis di hadapannya saat ini. Ia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya dan hal ini membuat ia sedikit bingung.
"Kamu siapa?", tanya gadis itu polos.
Sehun tak dapat mengatakan satu kata pun saat itu seakan otaknya tak mampu lagi memerintahkan apa yang akan tubuhnya lakukan. Ia menatap lekat ke arah gadis itu dan tanpa ia sadari muncul semburat kemerahan di kedua pipinya.
Gadis itu terlihat semakin bingung saat melihat tingkah aneh bocah laki – laki di hadapannya. Ia melambaikan pelan telapak tangannya di depan wajah Sehun dan menatap ekspresi wajah Sehun yang kosong dengan polos sambil sesekali mengedipkan matanya lucu.
"A- ah iya" ucap Sehun gelagapan. "Aku Oh Se Hun. Kau bisa memanggilku Sehun"
Sehun mengulurkan tangannya, mengajak gadis di sampingnya berjabat tangan sebagai tanda perkenalan mereka. Gadis dengan mata rusa yang berbinar dengan cantiknya itu menjabat tangan Sehun dengan senyuman kecil menghiasi wajah manisnya.
"Aku Lu Han dan tentu saja kau hanya bisa memanggilku Luhan" ucap gadis kecil bernama Luhan itu sembari tersenyum dengan polosnya.
"Lalu, apa kau pikir kau bisa memanggilku dengan sebutan lain selain Sehun?" balas Sehun.
"Kurasa aku bisa memanggilmu Oh Se atau Oh Hun atau mungkin memanggil nama panjangmu. Tak masalah kan?"
"Baiklah. Baiklah. Terserah apa katamu"
Sehun mengajak Luhan untuk ikut bermain baseball dengannya dan juga Kris setelahnya. Luhan dengan senang hati menerima ajakan Sehun dan mereka pun memainkan permainan ini dengan cerianya. Namun tanpa siapapun sadari, di sisi lain, Kris juga merasakan hal yang sama dengan Sehun saat pertama kali ia bertemu dengan Luhan.
8 Mei 2008
Waktu terus berputar dan kehidupan Luhan berubah menjadi lebih baik sejak saat ia bertemu dengan Sehun dan juga Kris. Luhan adalah seorang gadis penyendiri dan pemurung saat ia kecil, namun sejak Sehun dan Kris datang di kehidupannya, ia berubah menjadi gadis yang ceria. Luhan tak pernah mempunyai seorang teman pun saat ia kecil, namun sejak Sehun dan Kris datang, ia menemukan teman bahkan sahabat yang mampu menjadi tempat sandaran baginya.
Luhan sangat bersyukur ia dapat bertemu dengan dua orang lelaki yang bisa ia andalkan dan mau menjadi sahabatnya, namun tanpa ia sadari Sehun dan Kris tengah memiliki masalah dengan hati mereka. Sehun menyukai Luhan sejak pertama kali ia bertemu dengannya, hal sama juga terjadi pada Kris.
23 Oktober 2009
Tahun telah berganti dan sudah menjadi tradisi di keluarga Oh untuk memberikan posisi tertinggi perusahaan mereka kepada putra tertua mereka. Sehun tau pasti bahwa ia adalah pewaris tunggal perusahaan keluarga Oh dan itu berarti ia harus meninggalkan Seoul untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, meninggalkan Kris dan Luhan, meninggalkan gadis yang amat dicintainya.
25 Oktober 2009
Setiap langkah kaki Sehun terasa berat saat ia berjalan keluar dari rumah mewahnya. Dadanya terasa sesak saat ia menyadari bahwa hari ini ia akan pergi meninggalkan Luhan dan juga Kris di Seoul. Namun, apa hendak dikata jika memang hal ini telah menjadi tradisi di keluarga Oh, di keluarga Sehun.
Sehun memasuki mobil mewahnya dengan berat hati, meskipun ia menebarkan senyuman bahagianya kepada tuan dan nyonya Oh. Ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tak ingin ia meninggalkan Luhan bersama dengan Kris yang notabenenya adalah orang yang mempunyai perasaan yang sama kepada Luhan.
"Bisakah kita bertamu sebentar di rumah Kris?" tanya Sehun pada sopir pribadinya.
"Baiklah, tuan" jawab sopir itu.
Sehun sampai di sebuah rumah yang tak kalah mewahnya dengan rumahnya. Rumah bergaya romawi ini terlihat sangat elegan dengan ukiran – ukiran penyangga rumah yang sangat indah. Hal ini sudah pasti menunjukkan perekonomian pemilik rumah yang makmur.
Sehun menelpon Kris dan memberi taunya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Sesaat kemudian, pelayan Kris datang dan membukakan pintu gerbang rumah Kris.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kris sesaat mereka duduk di sofa mewah milik Kris.
"Aku akan pergi ke Jepang" jawab Sehun dengan berat hati.
"Kapan?"
"Sekitar 1 jam lagi"
Kris tersenyum senang seakan ia telah memenangkan sebuah perlombaan. "lalu, maksud kedatanganmu kesini?"
"Aku hanya ingin kau menjaga Luhan"
"Tentu saja. Aku akan melakukannya dengan senang hati tanpa perintahmu sekalipun" jawab Kris sinis.
"Katakan padanya aku mencintainya dan aku akan kembali untuk menikahinya kelak"
Suara gelak tawa Kris memenuhi ruangan itu. "Apa kau bercanda?" jawabnya remeh "Apa kau tak pernah berpikir jika saat kau kembali, tiba – tiba sahabatmu telah menikahinya terlebih dahulu?"
"Aku yakin kau tak akan melakukannya" jawab Sehun mantap. "Aku yakin Kris yang kukenal bukanlah tipe orang seperti itu"
Kris menyeringai, "Baiklah. Aku akan menyampaikan semua pesanmu. Sekarang kau bisa berangkat dengan tenang dan kembali untuk menikahi Luhan, itu pun jika kau bisa."
"Terima kasih, Kris"
20 Januari 2012
Kris menepati janjinya. Ia menyampaikan semua pesan Sehun pada Luhan beberapa hari setelah Sehun berangkat ke Jepang. Luhan mendengarnya dengan perasaan yang sedih karena Sehun tak menemuinya terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkannya.
3 tahun berlalu dan selama 3 tahun itu juga Luhan tetap menunggu Sehun untuk kembali. Sangat besar harapan Luhan untuk melihat wajah Sehun kembali dan mengungkapkan bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan Sehun.
3 tahun telah berlalu dan selama 3 tahun itu juga Kris menemani hari – hari Luhan. Ia menjaga Luhan bagaikan permata langka yang rapuh dan membutuhkan perlindungan ketat. Meskipun, dadanya terasa sesak setiap kali Luhan mengatakan bahwa ia sangat merindukan Sehun, ia tetap melaksanakan seluruh pesan Sehun dengan senang hati mengingat ini adalah kesempatan yang paling berharga dalam hidupnya.
14 Februari 2013
Hari valentine. Hari yang identik dengan coklat dan ciuman tengah malam. Hari yang biasanya akan kau habiskan dengan pasanganmu. Hari ini adalah hari valentine ke-4 yang akan Luhan lalui tanpa kehadiran Sehun. Tanpa kehadiran orang yang sangat ia cintai.
Luhan memutuskan untuk pergi sendirian ke sebuah supermarket setelah Kris memberitaunya bahwa ia sedang menghadiri pesta ulang tahun kerabatnya. Luhan menghembuskan nafasnya kasar saat ia melihat jajaran coklat berbentuk hati di etalase supermarket itu.
Andai saja ada Sehun disini, pikir Luhan.
Luhan memasuki supermarket itu dan mengambil beberapa coklat yang telah menarik perhatiannya, membayarnya, lalu pergi dari supermarket itu untuk kembali ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan ia tak dapat berhenti memikirkan Sehun. Hanya ada Sehun di pikirannya. Luhan menatap jalanan aspal kota Seoul dengan pikiran dipenuhi oleh Sehun. Tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju dengan kecepatan maksimum menuju ke arahnya. Lamunan Luhan tentang Sehun buyar saat ia mendengar teriakan beberapa pejalan kaki dan suara klakson mobil yang memekakkan telinganya. Semuanya tampak seperti slow motion bagi Luhan. Mobil itu semakin mendekat ke arah Luhan dan Luhan semakin panik. Andai ia bisa, ia akan segera mengangkat kakinya dan berlari secepat yang ia bisa, namun entah mengapa kedua kaki Luhan seakan terpaku di jalanan itu. Lalu, tiba – tiba semuanya menjadi gelap bagi Luhan.
Tangan Kris bergetar saat seseorang menelponnya dan mengatakan bahwa Luhan mengalami kecelakaan. Dadanya terasa sesak dan ia dapat merasakan air matanya mulai mengalir. Secepat yang ia bisa, ia memacu kendaraannya. Kris menjadi pengendara brutal saat itu. Ia tak memedulikan berbagai rambu lalu lintas yang menurutnya hanya menghalangi jalannya menuju rumah sakit saat itu.
Ia merasa telah mengingkari janjinya untuk selalu menjaga Luhan. Ia merasa telah mengingkari janji yang ia sepakati dengan sahabatnya, Sehun. Ia merasa telah menghancurkan semuanya. Persahabatannya, Luhan, bahkan dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Sehun. Maafkan aku."
-flashback end-
