Chapter : 8

(maafkan segala typo(s) yang bertebaran (;-;)v)


"Kris?" tanya Luhan. "Maksudmu Kris yang waktu itu menolongku?"

"Entahlah. Tapi kurasa, ya"

Luhan mengangguk – anggukkan kepalanya. "Lalu, apa yang kau lakukan saat itu? Saat kau mendengar bahwa aku tertabrak?" tanya Luhan antusias dengan senyuman mengembang di wajahnya.

Sehun tersenyum, "Ibumu menelponku saat itu dan aku sangat panik" jawab Sehun jujur. "Aku sangat panik hingga aku tak tau harus berbuat apa. Pikiranku saat itu hanya 'bagaimana keadaan Luhan saat ini' dan 'aku ingin pulang'"

"Oh ya! Lalu Kris? Beri tahu aku tentang Kris. Mengapa ia bisa berada di Jepang?"

"Aku tak tahu tentang itu. Yang pasti, semua itu adalah salahku." Sehun menghembuskan nafasnya kasar. "Tak seharusnya aku menyalahkan Kris saat itu. Tapi, aku bertindak bodoh"

"Jadi, apa maksudmu?" tanya Luhan

"Jadi," Sehun memulai penjelasannya. "Beberapa hari setelah kau tertabrak, appa-ku mengizinkanku untuk kembali ke Seoul selama beberapa hari. Kau tau? Merayunya bukanlah perkara yang mudah, namun syukurlah aku berhasil."

Luhan terkekeh pelan dan Sehun terlihat bingung.

"Apa ada yang lucu?" tanya Sehun.

Dengan sedikit tertawa, Luhan menjawab "Tak ada, lanjutkan!"

"Baiklah" jawab Sehun. "Jadi, aku pulang kembali ke Seoul dan hari itu juga aku langsung pergi ke rumah sakit tempat kau di rawat. Emosiku menjadi – jadi saat aku melihat wajah Kris. Aku sangat kacau saat itu. Aku terus menyalahkannya, membentaknya, bahkan aku sempat berusaha mati – matian untuk menahan pukulan tanganku di wajahnya."

"Aku sangat bodoh, Luhan" lanjut Sehun. "Aku membuatnya pergi dan secara otomatis aku telah menghancurkan persahabatan kita. Maafkan aku."

Luhan dapat merasakan kesedihan Sehun meskipun hanya dengan melihatnya. Melihat Sehun dalam keadaan seperti ini merupakan hal yang sangat langka dan sepertinya, Luhan telah melihat sisi lain dari Sehun yang jarang Sehun tunjukkan kepada orang lain. Sisi manusiawinya, sisi kelemahannya.

Sehun menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya dan hal ini semakin membuatnya tampak menyedihkan. Luhan berusaha menenangkan hati Sehun dengan mengelus pelan punggung orang yang mulai dicintainya itu.

"Sehun, kau tak melakukan kesalahan" ucap Luhan. "Kau sangat kacau saat itu dan aku yakin semua orang di dunia ini akan melakukan hal yang sama sepertimu saat mereka dalam keadaan seperti itu. Melihat orang yang dicintai terbaring lemas dan menitipkannya pada seorang sahabat yang sedikit lalai, semua itu maklum."

Sehun berpaling menatap Luhan dan langsung mendekapnya dalam pelukannya. Luhan membalas pelukan Sehun dan sedikit mengelus punggungnya pelan. Mungkin, semuanya terlihat sedikit romantis bagimu. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah Sehun tak ingin Luhan tahu bahwa ia menangis dan terlihat lemah saat ini.

"Sekali lagi, maafkan aku" bisik Sehun pelan.

"Kau tak melakukan kesalahan" jawab Luhan.


Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka setelah itu. Selama perjalanan, mobil Sehun tampak hening. Luhan tak berani memulai sebuah pembicaraan karena ia tahu Sehun sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di istana milik mereka. Sehun masih tampak muram. Ia berjalan pergi meninggalkan Luhan di belakang setelah mereka keluar dari mobil. Luhan memaklumi hal itu karena ia juga dapat merasakan perasaan bersalah Sehun.

Hari berikutnya, semuanya tampak mulai kembali normal. Atmosfer yang penuh dengan kesedihan di rumah mewah itu perlahan mulai sirna. Namun, ada satu hal yang tampak sedikit aneh pagi itu. Sepasang kaki jenjang terlihat menuruni tangga dan perlahan memperlihatkan sang empunya. Dengan baju piama dan mata setengah tertutup, Sehun, sang pemilik kaki jenjang itu berjalan menuruni tangga, menuju ke ruang makan.

"Morning" sapa Luhan dengan senyuman manis mengembang di wajahnya.

"Morning" jawab Sehun malas seakan ia sedang mengigau.

Sehun tengah menarik kursi makan saat Luhan mengerutkan alisnya dan berdeham, membuat Sehun menghentikan apa yang dilakukannya dan menatap Luhan dengan tatapan tak kalah bingungnya.

"Apa?" tanya Sehun. "Apa ada yang salah?"

"Sejak kapan kau menyantap sarapanmu dengan baju piama dan mata setengah tertutup seperti itu?" Mata Luhan menelusuri penampilan Sehun yang tak seperti biasanya dengan bingung, "terlebih lagi kau belum mandi"

"Ah, ayolah!" jawab Sehun malas. "Aku tak habis pikir, hal sekecil ini dapat memengaruhi pikiranmu. Aku sangat lapar dan aku tak dapat menahannya lagi. Apakah sudah jelas, Nona Luhan?"

Luhan tertawa kecil mendengar pernyataan Sehun dengan nada malas yang menurutnya lucu. Ia kemudian berjalan menuju Sehun yang masih setia memegang kursi yang telah ia tarik sebelumnya. Dewan tawa kecil yang masih terdengar, Luhan membelai pelan rambut Sehun dengan sedikit menjinjitkan kakinya. "Baiklah baiklah. Makanlah hingga kau kenyang, Tuan Oh"

Sehun dan Luhan duduk berhadapan dengan menu sarapan terhidang di depan mereka. Para pelayan yang memang bertugas untuk menyiapkan sarapan segera melangkahkan kaki mereka menuju ke tempat lain selain ruang makan. Memang menu sarapan mereka tak semewah yang kau bayangkan, namun tetap saja Luhan membiarkan para pelayan membuatkannya karena ia berpikir bahwa dengan cara itulah ia dapat menghormati mereka.

"Oh ya, Sehun" ucap Luhan tiba – tiba di tengah acara sarapan mereka. Sehun hanya membalasnya dengan gumaman kecil.

"Sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengatakan hal ini, tapi entahlah aku tak ingin membuat suasana hatimu menjadi semakin buruk" Luhan tertunduk sebelum akhirnya ia kembali menatap menu sarapan di piring "Bisakah kita menemui Kris lagi?"

Sehun berhenti mengunyah dan berbalik menatap Luhan dengan tajam atau setidaknya begitulah menurut Luhan.

"Menemuinya lagi katamu?" tanya Sehun

Luhan telah berfikir tentang hal ini sebelumnya dan bahkan menyiapkan nyalinya sebelum ia menanyakan hal tersebut, namun Luhan tak menyangka akan seperti ini jadinya. Hanya dengan tatapan Sehun yang setajam elang saja bibir Luhan tak dapat di gerakkan.

"Uh, Sehun, aku tau ini bukan ide yang bagus, tapi bisakah kita menemui Kris lagi?" ujar Luhan dengan alis bertaut seakan tak yakin dengan apa yang telah ia ucapkan. "Bisakah kita mengulang semua dari awal lagi? Aku pikir itu adalah hal yang baik untuk kita, untuk persahabatan kita" sambung Luhan dengan kepala tertunduk.

Tak ada kata apapun yang terucap dari bibir Sehun. Ia menghembuskan nafasnya kasar dan meletakkan secuil roti yang sebelumnya ia pegang, "Aku sudah kenyang". Sehun pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Luhan yang dengan penuh penyesalan menatap punggung Sehun.

Kerja bagus, Luhan, kau telah membuat suasana hati Sehun kembali memburuk.


Sejak perbincangan di pagi itu, Sehun tak menampakkan dirinya di hadapan Luhan. Pria jakung berwajah tampan itu menyendiri atau kau bisa menyebutnya merenung di kamarnya, memikirkan dengan matang apa yang telah Luhan katakan di pagi itu agar saat ia menyatakan keputusannya tak ada penyesalan yang mengganjal di benaknya.

Sehun memikirkan berbagai dampak yang mungkin akan terjadi jika ia menyetujui apa yang di inginkan Luhan dan membandingkannya dengan apa yang akan terjadi jika ia menolaknya. Bagaimanapun, ia juga merasa bahwa ide yang di utarakan Luhan merupakan ide yang bagus untuk sebuah hubungan persahabatan, namun ada hal lain yang masih mengganjal di benaknya. Tentang bagaimana jika Kris masih menyukai Luhan dan bagaimana jika ia berpura – pura untuk menjalin persahabatan lagi, namun ternyata Kris malah mendapatkan kesempatan emas untuk merebut Luhan dari sisinya.

Memang, tak baik untuk memiliki prasangka buruk terhadap seseorang sebelum kita benar – benar mengenalnya. Namun, entahlah, setelah sekian lama Sehun mengenal Kris, ia masih saja memiliki prasangka yang buruk dengannya apalagi jika hal tersebut bersangkutan dengan Luhan.

Setelah beberapa lama, dari pagi hari hingga menjelang senja Sehun menyendiri dan memutuskan untuk tak menampakkan dirinya di hadapan Luhan, ia pun menyiapkan jawaban atas keputusannya, merangkai kata – kata yang akan di ucapkannya sebagai tanggapan atas ide Luhan.

Makan malam telah terhidang di meja makan saat Sehun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Ia dapat mendengar dengan jelas suara piring yang bertatapan dengan meja makan dari depan pintu kamarnya. Ia mulai berjalan menuju meja makan dan mendapati Luhan telah siap untuk menyantap menu makan malam kali ini.

Mata Luhan terbelalak seakan terkejut akan kehadiran Sehun. Dengan tatapan dingin yang membunuh, Sehun berjalan menuju meja makan. Ia tampak santai, sedangkan Luhan, ia menunduk dan tampak aura bersalah mengelilinginya.

"Uh, hai" sapa Luhan dengan nada yang terdengar tak meyakinkan. Sapaan? Oh, kau bisa menyebutnya seperti itu karena kali ini, Luhan benar – benar tak tau apa yang harus ia katakan pertama kali saat Sehun kembali menampakkan dirinya di hadapannya. Jadi, begitulah.

Tak ada balasan dari sapaan Luhan. Luhan bisa memaklumi hal itu karena ide yang menurutnya dapat mengembalikan persahabatannya dengan Kris telah menghancurkan suasana hati Sehun dan membuat suasana hatinya kembali memburuk. Sangat sangat buruk hingga Sehun tak menampakkan batang hidungnya sedikit pun hari itu dan bagaimana pun Luhan sedikit kecewa dengan idenya sendiri.

Sehun terlihat seperti biasanya. Tak ada gerak – gerik yang menandakan bahwa ia sedang dalam suasana hati yang buruk dan hal ini membuat Luhan sedikit lebih lega dari sebelumnya. Mereka pun mulai menyantap menu makan malam mereka dengan lahap.

Hingga makan malam berakhir pun tak ada satu kata yang terucap dari bibir Sehun. Hal ini membuat perasaan bersalah Luhan semakin meningkat. Luhan adalah orang yang dengan mudah menunjukkan perasaan hatinya melalui gerak – gerik atau pun ekspresi wajahnya dan hal ini terjadi tanpa ia sadari. Seperti saat ini, Luhan menundukkan kepalanya setelah ia dan Sehun selesai menyantap makan malam malam mereka. Hal ini pertanda waktu makan malam telah berakhir dan tak akan ada kesempatan lagi baginya untuk setidaknya bertemu dengan Sehun karena ia yakin Sehun tak akan menunjukkan batang hidungnya lagi.

Di sisi lain, Sehun sangat mengetahui apa yang Luhan rasakan saat itu. Ayolah, bukankah kau tahu bahwa Sehun dan Luhan telah memulai persahabatan mereka sejak mereka kecil? Tentu saja dalam kurun waktu selama itu, Sehun dapat dengan mudah mengetahui apa yang Luhan pikirkan bagaikan ia membaca buku yang terbuka dengan jelas. Sehun dapat mengetahui perasaan Luhan saat ini hanya dengan melihat tingkah lakunya dan jika Luhan sedang tertunduk, hal itu pertanda ia merasa bersalah akan suatu hal.

"Luhan?" panggil Sehun, membuat Luhan mendongak menatap mata hazel milik Sehun. "Apa kau baik baik saja?"

Luhan masih tak membuka mulutnya. Ia dapat merasakan air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya dan dalam hitungan detik saja, butiran air mata tampak meluncur dari mata Luhan. Tanpa satu kata apapun, Sehun segera bangkit dari kursi makannya. Air mata yang mengalir dari mata Luhan semakin banyak dan isakannya semakin jelas terdengar. Hati Luhan seakan ditusuk ribuan pisau saat ia tahu Sehun pergi meninggalkan ruang makan. Dalam hati, ia berjanji tak akan pernah memaafkan dirinya, meskipun Sehun telah memaafkannya.

Namun, tiba – tiba seseorang menarik kursi yang di duduki Luhan dan memutarnya ke samping saat Luhan tengah jatuh di dalam fikirannya. Sejenak ia terkejut, namun kemudian ia sadar siapa yang telah melakukan hal ini. Sehun, dunianya, satu – satunya pria yang ia cintai. Pria bertubuh jakung ini berlutut di hadapan Luhan dan menangkup kedua sisi wajah gadis manis di hadapannya. Hal ini membuat Luhan mengalihkan pandangannya dan menatap kedua mata hazel milik pria yang memiliki sejuta pesona di hadapannya. Perasaan Luhan bercampur aduk saat itu. Ia merasa bahagia karena Sehun terlihat mengkhawatirkannya, peduli padanya, namun di sisi lain ada secuil perasaan bersalah yang kembali menggerogoti benaknya saat bayangan perbincangan mereka pagi itu melintas di pikirannya.

"Menangis karena hal seperti ini, huh?"

Sehun mengusap lembut pipi Luhan yang dibasahi oleh aliran air mata dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis, ok?"

Mendengar kata – kata yang diucapkan oleh Sehun, air mata Luhan semakin mengalir deras. Sehun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Merasa menemui jalan buntu, akhirnya ia merengkuh tubuh Luhan dengan kedua tanganya dan membuat gadis manis itu hanyut dalam pelukannya.

"Aku tak suka melihatmu seperti ini." bisik Sehun ke telinga Luhan.

Sehun membelai lembut rambut Luhan dan membisikkan beberapa kata yang menurutnya dapat menenangkan hati Luhan.

"Aku- aku telah membuatmu marah," ucap Luhan terisak masih dalam pelukan Sehun. "Maafkan aku. Kumohon jangan mengurung dirimu di kamar lagi dan membuatku merasa kesepian."

Sehun membelai lembut kepala Luhan seraya menghirup aroma wangi shampo yang biasa Luhan gunakan. Sehun menyadari betapa besarnya keinginan Luhan untuk kembali mempersatukan persahabatan mereka dengan Kris dan kali ini Sehun bertindak bodoh untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Ia sadar, tak seharusnya ia berpikir panjang, memiliki prasangka buruk kepada Kris, sahabat lamanya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. Ia sadar, tak seharusnya ia takut jika Kris merebut Luhan darinya karena ia yakin Luhan tak akan pernah meninggalkannya.

Sehun melepaskan pelukannya dan menatap dengan teliti gadis yang membuatnya jatuh hati untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupnya. Gadis yang membuat jantungya berdetak lebih cepat, untuk pertama kalinya saat ia masih belia.

"Maaf. Aku tak bermaksud untuk membuatmu merasa seperti itu." ucap Sehun dengan menghembuskan nafasnya kasar. "Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Maafkan aku"

Luhan menganggukkan kepalanya pelan. Melihat Luhan seperti ini merupakan suatu pemandangan terburuk yang pernah Sehun lihat. Melihat gadis manis yang dicintainya menangis mampu membuat Sehun merasakan nyeri yang teramat di dadanya. Dalam hati ia bersumpah bahwa ia tak akan pernah membiarkan malaikatnya, dunianya, jantung hatinya menjatuhkan setetes air mata pun, lagi.


Hari telah berganti dan matahari telah menampakkan dirinya di ufuk timur, bersinar dengan cerah, membuat dunia terlihat lebih indah. Sepasang insan terlihat tengah menyantap makanan yang -terhidang di hadapan mereka dengan lahap. Tak ada suara apapun yang dapat kau dengar. Hening dan sunyi.

Namun, semua tak berlangsung lama. Sesaat setelah mereka selesai menyantap sarapan, suasana keceriaan kembali menyapa. Seperti biasa, Luhan melewati hari – harinya dengan senyuman dan tawa yang seakan tak akan pernah pudar dari paras manisnya. Sehun merasa beruntung setiap kali ia mendapati Luhan tersenyum dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat hanya karena gadis yang dicintainya itu melihat bunga – bunga yang mulai bermekaran di taman.

Hari itu matahari bersinar dengan cerah membuat senyuman manis di wajah Luhan terlihat semakin indah. Sehun tak akan pernah bosan dengan pemandangan terindah yang pernah ia lihat. Sejenak angannya melayang dan pikirannya terasa kosong, namun kemudian ia sadar akan suatu hal yang terjadi tempo hari. Tentang ide Luhan untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka dengan Kris. Tentang bagaimana malaikatnya menangis hanya karena kebodohan yang telah Sehun lakukan.

Sehun tak ingin pemandangannya berlalu begitu saja. Ia tak ingin memanggil makhluk terindah yang telah menjadi miliknya ke tempat dimana ia menikmati keindahan senyuman Luhan bagaikan sebuah candu dan membuat senyuman indah itu menghilang. Syukurlah, pikir Sehun saat Luhan tiba – tiba berjalan ke arahnya dengan senyuman masih menghiasi paras ayunya. Sehun tanpa sadar juga ikut tersenyum melihat senyuman itu semakin mendekat ke arahnya.

"Sehun, bisakah kita membeli membeli 1 jenis bunga lagi?" Tanya Luhan dengan wajah berbinar menampakkan keceriaan.

"Lagi? Bukankah 5 jenis bunga saja sudah cukup?" Jawab Sehun kembali bertanya. Dalam hati, Sehun tak kuasa menolak permintaan Luhan. Apapun akan ia lakukan agar ia dapat melihat senyuman indah di wajah Luhan. Sehun bukanlah pecinta benda berpenampilan cantik, karena menurutnya, kecantikan Luhan saja sudah cukup untuk menggantikan berbagai macam benda berharga berpenampilan cantik di dunia ini. Hanya Luhan. Ya, hanya Luhan.

"Ah, Ayolah! Aku membutuhkan 1 jenis bunga lagi agar taman kita memiliki warna yang saaaaangat indah" Luhan berkata dengan wajah yang menggemaskan hingga membuat Sehun tertawa kecil melihat kelucuan gadis di hadapannya.

"Jadi, bunga apa yang kau inginkan?" tanya Sehun.

"Peony"

"Peony?" tanya Sehun mengulang jawaban Luhan.

"Ya," Luhan mengangguk – anggukkan kepalanya dengan antusias "seseorang pernah berkata padaku, jika kau menanam bunga peony di tamanmu, maka hidupmu akan penuh dengan kebahagiaan dan keberuntungan" ucap Luhan dengan tersenyum manis.

Sehun memandang dengan tatapan kosong gadis di hadapannya. Ia tahu siapa orang yang telah memberi tahu Luhan tentang hal yang telah gadis itu ucapkan. Kris. Sehun sedikit merasakan cemburu saat ia menyadari bahwa Luhan masih mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Kris, meskipun hal itu telah berlangsung lama. Namun, perlahan rasa kecemburuan itu mereda dan Sehun lebih memilih untuk mengabaikan sebuah fakta bahwa Luhan masih mengingat apa yang dikatakan Kris, meskipun ia sendiri tak tahu Luhan masih mengingat dengan pasti orang yang telah memberi tahunya tentang hal itu atau tidak.

Secara otomatis, suasana di sekeliling mereka menjadi sunyi. Luhan mengejapkan matanya dengan lucu saat ia menyadari bahwa ia telah menunggu respon dari Sehun dalam waktu yang cukup lama. Luhan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Sehun dan memandang wajah Sehun dengan tatapan yang bingung. Tak berguna, tentu saja.

"Sehun?" Luhan menggoyahkan pelan tubuh Sehun dan syukurlah, cara ini manjur untuk membuat lamunan Sehun buyar. "Jadi, kapan kita akan membelinya?" tanya Luhan.

"uh, ya, kita akan membelinya nanti" jawab Sehun dengan sedikit tergagap.

"Baiklah. Terima kasih, Tuan Oh" ucap Luhan seraya memeluk dari samping pria yang sedang duduk di hadapannya.

Sehun hampir saja lupa apa yang akan ia katakan pagi ini sebagai jawaban atas kejadian hari kemarin. Luhan melepaskan pelukannya, dan berniat akan kembali ke taman saat sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan kanannya.

"Luhan" panggil Sehun dengan tatapan kosong mengarah ke depan. Luhan menoleh ke belakang dan membalik badannya dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Ya?" jawab Luhan.

"Tentang Kris..."

Seakan mengerti tentang apa yang akan Sehun katakan, Luhan segera menempati tempat duduk di hadapan Sehun dan menghembuskan nafasnya. "Jika kau memang tak menyetujui ideku, tak apa. Kurasa hal itu bukanlah sesuatu yang penting lagi jika kau tak menyukainya" ucap Luhan dengan masih tersenyum.

"Aku setuju dengan idemu" Sehun menatap mata Luhan dan mengkokohkan pendiriannya saat kedua matanya menatap mata Luhan. Ia telah memikirkan hal ini secara matang dan ia rasa inilah hal yang terbaik bagi mereka bertiga. Luhan terkejut dan tak percaya akan hal yang telah ia dengar. Matanya berbinar dan senyuman manis semakin mengembang di wajahnya. "Kurasa idemu merupakan sesuatu yang baik untuk kita bertiga" sambung Sehun dengan tersenyum.

"Sehun, apa kau yakin?" tanya Luhan dengan lucu. Sehun hanya menganggukkan kepalanya pertanda 'ya' dan hal ini membuat Luhan semakin bahagia. Sesuatu yang baik akan segera datang, pikir Luhan. Namun, bukankankah sesuatu yang baik selalu diiringi dengan rintangan terlebih dahulu?

-To Be Continued


a/n : ampuni author dan kemalasan author hueeeeEE jangan bunuh author, author masih pengen ngelanjutin lel ;(( Maaf banget baru sempet update karena ya begitulah. Terima kasih banget buat kalian yang masih setia nungguin update-an ff aneh ini lol *krik krik* ILY'ALL SO MUCH. SEE YA NEXT CHAP ;))