"The more he smiled, the more I wanted to hate him, and yet it was the very thing that made hating him impossible."
― Jamie McGuire
.
Prenote : Here comes the sequel. Because i love you guys, hope you enjoy the ride :)
"I'm Kim Jongin."
Siswa pindahan baru di depan kelas itu tidak membungkuk saat memperkenalkan diri. Ia hanya memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku. Rambutnya berwarna karamel ditata dengan gaya berantakan. Kemeja putihnya dimasukkan secara asal-asalan, serta seringainya.
Tipe seringai dengan sudut bibir sedikit terangkat yang membuat Kyungsoo segera membenci lelaki bernama Kim Jongin itu dalam sekali pandangan.
Begitu angkuh, terlalu percaya diri, menyebalkan,
Dan tampan.
Sangat, sangat tampan.
Jongin menangkap sepasang mata terindah yang pernah ia lihat ketika ia menyisir ruang kelasnya. Saat Mr. Lee mempersilahkannya duduk, mata itu tidak juga beralih darinya. Ia berjalan mendekat ke bangku di belakang pemilik mata itu. Namun, ia terkejut ketika lelaki itu sengaja mengeluarkan sedikit kakinya dari meja yang membuat Jongin terjatuh.
"Do Kyungsoo! Apa yang kamu lakukan? Segera minta maaf." Teriak Mr. Lee.
Jongin melihat lelaki itu menahan tawa. Ia berdiri di hadapan Jongin lalu mengulurkan tangannya.
"I'm not sorry." Ucap lelaki itu dengan kata 'not' yang dibuat sepelan mungkin.
Jongin menyeringai. Ia mengenggam tangan Kyungsoo kuat hingga lelaki itu berdesis.
"Oh, apa itu sakit? I'm not sorry too." Balas Jongin menirukan Kyungsoo.
Dengan sedikit kasar, Kyungsoo menarik tangannya.
Akan tetapi pandangan mata mereka tidak terputus. Di saat ia melihat sorot kemarahan Kyungsoo, Jongin justru merasakan ada dentuman aneh dalam dadanya, ia membalas tatapan itu sedang pikirannya menggumam dalam ketertarikan.
Target locked.
Itu adalah hari dimana Do Kyungsoo dan Kim Jongin mendeklarasikan perang di antara mereka.
.
SWEET ATTEMPTS [i]
.
Kyungsoo menendang benda apa saja yang ada di depannya.
Ia benci Kim Jongin.
Ia membenci Kim Jongin sampai ke seluruh sum-sum tulangnya.
Gara-gara lelaki itu, Kyungsoo terpaksa memalsukan nomor telepon rumahnya agar tidak ada pemberitahuan apapun mengenai hukuman skors-nya. Ia bahkan berbohong pada orang tuanya dengan berpura-pura berangkat ke sekolah seperti biasa.
Dan sekarang, Kyungsoo menyesali semuanya. Ia berjalan tanpa arah tujuan sambil berpikir apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu. Hari ini adalah masa terakhir skors-nya. Kyungsoo telah melewati hari pertama dengan bersembunyi di balik pohon besar sebuah taman, mengisi teka-teki silang seperti orang bodoh. Hari kedua tidak jauh lebih baik. Ia mengunjungi perpustakaan umum hanya untuk tertidur di atas meja dan diusir dua jam kemudian.
Kyungsoo berharap Kim Jongin dikutuk di dasar neraka yang paling dalam.
Ia memasukkan blazer seragamnya dengan paksa ke dalam ransel, membuka dasi yang menggantung di lehernya serta melepas ikat pinggangnya. Ketika ia meneruskan langkah kakinya, Kyungsoo mendengar deru halus mobil yang melambat. Sebuah Ford Mustang V6 Coupe berwarna deep impact blue mengikutinya dari belakang. Kyungsoo tidak perlu memeriksa dua kali untuk mengenali dengan jelas siapa pemilik mobil itu.
"Butuh tumpangan, Shorty?"
God bless you, universe karena mengirimkan Kim Jongin sesaat setelah ia mengucapkan harapan agar lelaki itu dibakar hidup-hidup.
"Tidak." Jawab Kyungsoo cepat.
Tapi Kyungsoo tetap berdiam di tempatnya.
Jongin menurunkan kaca mobilnya lebih rendah lagi sambil tersenyum mengejek. "Kamu tidak tahu mau kemana, kan?"
"Dan tebak siapa yang membuatku terjebak dalam situasi ini?"
Jongin tergelak, "Seorang pria dengan paras sempurna yang kamu coba patahkan hidungnya?"
Oh, sifat itu. Benar-benar kepercayaan diri yang melebihi kapasitas manusia biasa.
"Ayolah. Lagipula punya seorang teman untuk sarapan akan lebih menyenangkan daripada sendiri."
"Bermimpilah yang banyak. Aku tidak akan pernah mau menemani manusia sialan sepertimu."
Jongin mencengkram tangan di dadanya, seperti gesture ketika orang terserang sakit jantung.
"Always so mean. Kamu membuat hatiku terluka." Lelaki itu tertawa dengan mulut lebar yang membuat kedua sudut bibirnya terangkat dalam lengkung menggemaskan hingga Kyungsoo mengutuk.
Handsome fucker.
Jika Kyungsoo merubah pikirannya, itu jelas bukan karena ia ingin berdekatan dengan Jongin. Bukan juga karena lelaki itu begitu menarik mengenakan kaus putih polos dan kemeja navy berpola kotak-kotak yang terikat di pinggangnya. Bukan juga karena wajah bangun tidur Jongin yang tampak polos membuat Kyungsoo ingin berlama-lama memandangnya.
Bukan, bukan, bukan.
Ia hanya putus asa, juga lapar. Itu adalah alasan yang dibuat Kyungsoo—atau lebih tepatnya dibuat-buat dalam kepalanya ketika ia akhirnya duduk di bangku depan sebelah kursi kemudi.
"Nah, tidak sulit kan?" Jongin mengedipkan sebelah mata dengan seringai nakal tergambar di bibirnya.
Ketika melihat itu, Kyungsoo tidak tahu harus memukul wajah Jongin atau melompat ke pangkuannya.
"Seriously? Fried chicken for breakfast?" Kyungsoo memandang heran ke bucket di hadapannya.
Jongin berdecak, "Jangan terlalu banyak bicara. Aku membelinya dengan uangku, kamu hanya perlu memakannya."
Jongin mengambil satu potongan ayam dan mengunyahnya cepat. Kyungsoo bergelut dengan pikirannya. Dahi dan alisnya berkerut sedang wajahnya seperti sedang menimbang keputusan yang berhubungan dengan rahasia negara.
"Aku tidak sedang meracunimu, Shorty."
"Kalimat itu justru membuatku menaruh curiga padamu saat ini."
Namun, akhirnya lelaki itu menyerah dan ikut makan bersamanya.
Jongin harus akui ini adalah pertama kali mereka bisa bercakap tanpa harus berkelahi. Di masa awal ia pindah, teman-teman barunya mengingatkan Jongin agar wasapada dengan Kyungsoo karena tatapannya yang seperti ingin menghanguskan siapa saja. Jongin hanya bisa tertawa.
Bagaimana mungkin lelaki dengan mata paling menawan ini bisa dikategorikan mematikan?
Jongin bahkan pernah mendapat satu pukulan di kepala dari Yifan saat ia menceritakan kejadian yang ia lihat sepulang sekolah. Jongin ingat, ia sedang berjalan ke parkiran mobil dan tidak sengaja menangkap Kyungsoo sedang beradu pandang dengan seorang anak kecil.
"Apa yang kamu lihat?" bentak Kyungsoo saat itu, hingga membuat bibir anak kecil di hadapannya bergetar menahan tangis.
"Menangislah, anak cengeng. Apa yang kamu tunggu?" lanjut Kyungsoo dengan senyum sinis dan tatapan mengancam. Jongin yang menyaksikannya hanya bisa berteriak awww, cuuuteee! seperti gadis remaja dalam hati.
Yifan yang mendengarkan ceritanya memandang kesal, "Kamu pasti sudah gila. Tidak ada yang lucu dari membuat anak kecil menangis."
Oh, tapi bagi Jongin justru itu yang menarik dari Kyungsoo. Karena lelaki itu berbeda dari yang lain.
Maka sejak hari itu, ia makin sering menggoda Kyungsoo. Memasukkan garam ke dalam minuman Kyungsoo, mengganti kopi yang Kyungsoo pesan menjadi larutan kecap, sengaja melempar bola basket ke arah Kyungsoo, mengejek bagaimana kikuknya dia ketika berhadapan dengan gawang, menyandungnya, memukulnya, dan masih banyak lagi.
Jika ditanya apakah ego yang membuatnya tidak mengakui bahwa ia tertarik dengan Kyungsoo, Jongin dengan tegas menjawab, bukan. Karena ia tahu, perhatian Kyungsoo tidak akan beralih padanya dengan hal klise yang biasa.
Dan Jongin harus berbangga hati karena tebakannya benar.
Kyungsoo mulai membalas semua perlakuannya. Lelaki itu merekatkan ransel Jongin ke bangku dengan super glue, menaburkan obat pencahar ke makan siangnya, dan mereka mulai berkelahi.
Banyak sekali berkelahi.
Hingga lama kelamaan, mereka punya nama panggilan khusus untuk masing-masing.
Jongin memanggilnya Do Kyung Short dan Kyungsoo menyapanya dengan Kim Junk In.
"Oh, astaga. Apa kamu benar-benar meracuni ini?" tanya Kyungsoo panik saat ia melihat Jongin berhenti mengunyah.
Jongin tergelak. Jika Yifan melihat ekspresi Kyungsoo saat ini dan masih tidak mengakui bahwa Kyungsoo cute, pasti ada yang salah dengan cara kerja otaknya.
"Coba tebak."
Kyungsoo mematung di tempat. Ia bersiap untuk memuntahkan makanan di dalam mulutnya.
"No. Idiot." Jongin dengan cepat menahan Kyungsoo. "Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu."
"You better be serious, Junk In. Atau aku akan memotong penismu dan membuatnya sebagai gantungan kunci."
See? How sweet he is.
"Aku serius." Jongin mengambil satu potongan lagi untuk meyakinkan Kyungsoo, "Bagaimana jika kita buat peraturan? Tidak boleh ada kekerasan fisik antara kita selama hari ini."
"Apa yang kamu maksud dengan hari ini?" Kyungsoo tertawa sarkastik, "Kamu pikir aku akan terus bersamamu selama satu hari penuh?"
Jongin tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, menyandarkan dagu ke kepalan tangannya dan menunggu. Karena Kyungsoo harusnya tahu ia hanya punya dua pilihan; menuruti Jongin atau kembali berjalan tanpa tujuan untuk menghabiskan waktu sampai jam pulang sekolah selesai.
"Shit. I hate you."
Bingo!
"Aku akan menyimpulkan itu sebagai tanda persetujuan."
"Bonehead."
"But handsome."
"Evil scum."
"But handsome."
"Goat turd."
"Buuuut? Handsome."
Jongin melihat Kyungsoo yang terus berbisik mengeluarkan makian. Ia tertawa geli.
"Ah, karena ada kamu di sini, aku jadi punya ide bagus."
Kyungsoo menatapnya penuh pertanyaan. "Apa maksudmu?"
"Habiskan makananmu. I'm craving for Cognac."
Kyungsoo mengucapkan kalimat yang ia segera sesali setelahnya, "I like Cognac."
Kyungsoo seharusnya tidak menyetujui Jongin. Ia seharusnya lebih memilih berjalan sendiri daripada mengikuti lelaki ini. Langkah Kyungsoo berhenti sebelum mencapai pintu depan.
"Junk In, kita belum 20 tahun." Desisnya gelisah.
Lelaki di depannya justru tersenyum licik, "Karena itu aku bilang aku membutuhkanmu."
"Aku tidak punya pengalaman dalam mencuri apapun."
"What? Mencuri? Shorty, aku punya banyak uang. Untuk apa merendahkan harga diriku dengan tindakan semacam itu?"
Jongin menarik dagu Kyungsoo dengan telunjuknya, "Aku yakin kamu akan bisa mengikuti ketika aku sudah mulai bicara." Ia melihat sorot keraguan di mata Kyungsoo. "Nah, untuk sekarang, pasang senyum dan berhentilah jadi pengecut."
Jongin meraih pergelangan tangan Kyungsoo. Dengan desahan yang panjang, akhirnya Kyungsoo menurunkan kekhawatirannya.
Mereka memasuki salah satu Liquor Store kecil. Rak-rak tinggi berjajar di dalamnya dengan susunan yang rapi. Ada bau khas alkohol tercium di toko berlantai kayu itu. Beberapa refrigator berdiri dengan embun es yang menampilkan botol-botol Beer dingin berbagai merk. Jongin membawanya ke counter toko itu yang terbuat dari barrel-barrel wine kosong.
"Bahkan hanya dengan melihatmu aku tahu kamu belum cukup umur." Sapa pegawai di balik counter.
Jongin melirik ke papan nama bertuliskan 'Lay' di dada lelaki itu.
"Oh, ayolah aku hanya kekurangan tiga tahun." Sahut Jongin.
"No. Pulanglah, usahamu hanya akan berakhir sia-sia."
Kyungsoo hanya bisa diam menyaksikan kejadian yang berlangsung depannya. Jongin meyakinkan Lay dengan berbagai macam bujukan sampai sogokan. Akan tetapi, Lay tetap tidak goyah.
"Oh, baiklah." Desah Jongin dengan nada kecewa. Kyungsoo bisa melihat bahu Lay yang tidak lagi tegang. Ia sudah bersiap menarik Jongin keluar. Namun, lelaki itu menahannya.
"So, Lay, tell me," Jongin melingkarkan lengannya ke pinggang Kyungsoo. "apa yang kamu pikirkan tentang homoseksual?"
"Excuse me?" Lelaki itu bersedekap, tidak mempercayai apa yang di dengarnya.
"Ya, homoseksual. Gay. Boy and boy relationship?"
"Gross." Sergah Lay cepat.
"Good!" Pekik Jongin riang, "Karena aku dan kekasihku akan mulai melakukan hal yang kamu pikir menjijikan jika kamu tidak memberikan apa yang kami mau."
Lay dan Kyungsoo menatap Jongin dengan mata melebar.
"Aku tidak akan tertipu dengan lelucon bodoh semacam itu."
"Oh, kamu pikir kita sedang melucu?"
Sorot mata Lay berubah ngeri ketika melihat Jongin menghadap Kyungsoo.
"Mari gunakan mulut manismu untuk sesuatu yang lebih berguna, Shorty." Bisik Jongin di telinga Kyungsoo sebelum melumat bibir bawahnya.
Kyungsoo bohong jika ia tidak tertarik dengan tindakan bodoh Jongin.
Tubuhnya seperti menyala dengan ketegangan, kegembiraan, serta rasa was-was yang justru membuat keberaniannya meningkat. Ia menyukai hal-hal gila seperti ini.
Kyungsoo membalas ciuman Jongin, mengeratkan tubuh mereka lebih dekat lagi, dan mencengkram rambut Jongin kuat.
"Percaya sekarang?" tanya Jongin yang melihat Lay masih belum mentuntaskan rasa terkejutnya.
"T-Tidak. Kamu tetap tidak boleh-"
"Fine." Potong Jongin segera.
Ia menangkupkan tangannya ke pantat Kyungsoo lalu meremasnya. Kyungsoo mendesah merasakan serangan tiba-tiba itu.
"Baby, don't. Kamu tahu aku tidak tahan jika kamu melakukan itu." Ucap Kyungsoo dengan suara separau mungkin.
Jongin menyembunyikan senyum, mengetahui Kyungsoo telah beradaptasi dengan rencananya.
"Kita bisa melakukannya di sini, kalau kamu mau." Balas Jongin sambil menelusuri bibir Kyungsoo menggunakan ibu jarinya.
Kyungsoo menarik ujung kaus Jongin mendekat dan membawa bibir mereka kembali dalam ciuman. Tangan Jongin tidak berhenti menjelajahi tubuh lelaki di depannya. Mereka mengeluarkan desahan yang sengaja dibuat sekeras mungkin.
"OKAY, OKAY! APA YANG KALIAN MAU?" Teriak Lay yang sudah tidak tahan dengan pemandangan itu.
Dengan seringai penuh kemenangan Jongin menjawab, "Hardy V.S.O.P Organic," Ia mengeluarkan kartu debet dari dompetnya, "please."
Setelah membeli satu kotak chocolate truffle, Jongin membawa Kyungsoo ke apartemennya. Di dalam mobil mereka tidak berhenti tertawa mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
"Bagaimana jika pegawai itu juga gay?" Kyungsoo membuntuti Jongin masuk ke ruang tengah apartemen itu.
"Oh, please Shorty, bagaimana perasaanmu jika ada orang berciuman seperti kita tadi? Kamu juga pasti ingin menghentikannya."
Jongin menepuk sofa kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Kyungsoo untuk duduk.
"You're a crazy dipshit, do you know that?"
"But still, handsome, right?
Kyungsoo memutar bola matanya.
Ia menemukan bahwa mengobrol dengan seseorang ternyata bisa menyenangkan. Kyungsoo bahkan lupa terakhir kali ia mempunyai seseorang yang bisa diajak bicara. Ia selalu berpikir bahwa menjadi penyendiri adalah hal yang paling sesuai untuknya.
"Apa kamu sering melakukan trik yang sama?"
Kyungsoo merasakan detak jantungnya berubah cepat ketika menanyakan itu. Dan ia segera ingin menariknya kembali. Ia takut yang akan dikatakan Jongin selanjutnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Ya." Jawab Jongin pendek tapi cukup membuat hati Kyungsoo menyusut seperti balon yang kehilangan udara.
"Cemburu?" Goda Jongin ketika melihat Kyungsoo berubah diam.
"N-no! Stupid."
Tapi Jongin bisa mendengar tawa Kyungsoo yang terlalu dipaksakan.
"Oh, Tuhan. Kamu cemburu!" Jeritnya senang.
Kyungsoo terus mengingkarinya dengan banyak cacian yang mendorong tawa Jongin lebih keras lagi.
Kyungsoo mengutuk betapa dungu dirinya. Tentu saja Jongin bisa melakukannya dengan siapa saja. Ia benci mengapa Kim Jongin diciptakan seperti sebuah magnet yang menarik banyak orang. Hanya dalam tiga bulan kepindahan lelaki itu, ia sudah dikenal oleh seluruh siswa sekolah. Para gadis selalu mengerumuninya kapan saja Jongin sedang berada di loker. Jongin juga selalu duduk dengan kalangan anak populer seperti Yifan, Baekhyun, Junmyeon, dan beberapa nama yang Kyungsoo tidak pedulikan.
"Aku bercanda." Cetus Jongin tiba-tiba, "Aku biasanya meminta temanku, Minseok, untuk membelinya karena dia sudah cukup umur.
"Aku tetap tidak peduli." Jawab Kyungsoo sambil mengiggit bibir untuk menghentikan senyumnya, berharap Jongin tidak menyadarinya.
Namun, dalam diam ternyata Jongin selalu sadar apa saja tindakan bodoh Kyungsoo.
Jongin sadar Kyungsoo mencuri pandang ketika ia sedang bermain bola. Ia bisa melihat lelaki itu menunduk sambil tersenyum dari pinggir lapangan tiap kali ia berhasil mencetak gol.
Jongin juga sadar bagaimana kekhawatiran Kyungsoo melihat luka di wajah Jongin sesaat setelah mereka berkelahi. Dan Jongin harus mengakui ia juga merasakan hal yang sama pada Kyungsoo.
Akan tetapi yang membuat Jongin akhirnya tahu bahwa perasaan Kyungsoo padanya bukan sekedar benci adalah, karena ia sadar yang membuat para gadis berhenti menghimpitnya di loker ialah Kyungsoo. Hal itu sempat membuatnya heran. Biasanya, satu gerombolan gadis menahannya hanya untuk mendengarkan lelucon-lelucon bodoh Jongin—tentu saja dengan beberapa rayuan tersirat. Namun tanpa sebab, suatu siang ia tidak menangkap satupun gadis yang berusaha menghampirinya. Jongin membawa topik itu ke percakapan meja makan siangnya.
Dan ia lebih dari terkejut saat Junmyeon memberinya tatapan heran sambil berkata, "Kamu tidak tahu?" Lelaki itu bertukar pandang dengan Yifan dan Baekhyun. "It's Satansoo."
Lidah Jongin hampir tergigit mendengar itu. "Maksudmu?"
Baekhyun meneruskan sambil berbisik, "Satansoo melempar tatapan mematikannya ke tiap gadis yang mendekatimu."
Jongin mendengus, "Kalian sedang bercanda, kan?"
Yifan memutar bola matanya. Ia mengambil beberapa potong cracker lalu mengunyahnya pelan, "Jongin, berhentilah bermain-main dengannya. Dia bisa membunuhmu tanpa kamu sadari kapan."
"Yifan benar, Jongin. Hentikan sebelum ini bertambah parah." Bisik Baekhyun lagi.
Jongin mengerutkan dahinya, "Dia hanya orang biasa. Kenapa kalian begitu takut padanya?" Ia melirik ke arah Baekhyun. "Dan kenapa kamu terus berbisik? Tidak ada yang akan mendengarmu di tempat seramai ini."
Baekhyun mencengkram pergelangan tangan Jongin kuat. "Karena dia adalah satan, Jongin. Kamu tidak akan tahu kapan dia sedang bersembunyi, mungkin dalam kegelapan, mencuri dengar, merencenakan untuk memakan jiwamu pelan-pelan, lalu-"
"Stop it." Potong Jongin. "Aku rasa kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Chanyeol."
Mulut mereka segera terkunci rapat ketika Kyungsoo masuk ke kafetaria, membuat hampir semua isi ruangan itu menelan ludah. Jongin melihat Kyungsoo berjalan cepat dengan kaki kecilnya yang mengingatkan ia pada seekor penguin.
Ia tidak habis pikir bagian menakutkan mana dari lelaki itu yang dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.
"So, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Kyungsoo yang membawa Jongin kembali dari lamunannya. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 11 pagi. Masih banyak waktu yang harus dibuang sampai jam pulang sekolah usai.
"Video games? Aku ingin tahu apa cara kerja jarimu sama kikuknya dengan kaki pendekmu."
"Oh, my God. Kamu tidak bisa berhenti menjadi menyebalkan barang sebentar saja, ya?"
"Hey! Kamu tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kamu selalu membuatku mengambil kesimpulan sendiri."
"Dan setelah tahu semua itu, kamu masih saja meneruskan obrolan denganku. Manusia idiot."
"Jangan lupakan bahwa manusia idiot ini sedang berlaku baik padamu."
Kyungsoo mendengus pendek, "Perlakuanmu ini justru membuatku ingin menghajarmu."
"Bukankah biasanya kamu berakhir dengan luka yang lebih banyak dariku?" Jongin menyilangkan kaki sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Aku benar-benar ingin memukulmu sekarang."
"Nope. Can't do it, Shorty. Kita sudah punya peraturan."
"Oh, apa kamu ingat aku tidak pernah menyutujui secara langsung mengenai peraturan itu?"
Jongin menggertakkan giginya. Do Kyungsoo memang luar biasa keras kepala. Tapi Jongin tidak pernah kehabisan akal untuk membalas lelaki itu.
"Apa kamu berusaha mengalihkan konsentrasiku ke topik lain untuk menutupi buruknya permainan game-mu?"
"Kamu," Kyungsoo mengarahkan jari telunjuknya ke Jongin, "akan menyesali semua perkataanmu."
"Ancamanmu tumpul tanpa bukti, Kyung Short. Bisa kita mulai sekarang?"
Jongin mengambil console controller-nya. Setelah berargumen panjang tentang game apa yang akan mereka mainkan (Jongin menyarankan FIFA Soccer 14 tapi Kyungsoo menyebutnya nerd, Kyungsoo memilih Call of Duty tapi Jongin mengatakan seleranya sama seperti anak umur 10 tahun, dan seterusnya, dan seterusnya) akhirnya pilihan mereka jatuh pada Forza Horizon.
Console sudah di set, sekotak chocolate truffle menunggu manis di atas meja, gelas dengan tangkai sedang telah disiapkan untuk dua orang, serta satu botol Cognac yang Jongin beli membuat semuanya sempurna.
"Siapapun yang kalah, harus meminum satu shot. Setuju?"
Kyungsoo tersenyum, "Bersiaplah menjadi sangat, sangat mabuk, Junk In."
Bunyi tombol controller serta deru mobil dari speaker mewarnai ruang tengah itu setelahnya. Ada banyak kata kotor melayang setiap mereka berhasil saling mendahului. Bahu mereka berbenturan untuk mengacaukan kosentrasi satu sama lain. Hingga akhirnya, Kyungsoo berteriak dengan suara paling kencang ketika ia mencapai garis finish. Jongin bersandar malas di sofanya. Kyungsoo menuang Cognac di depan Jongin ke gelas lalu menyodorkannya ke lelaki itu.
"Ini baru permulaan." Ujarnya senang.
Jongin menyambar gelas di tangan Kyungsoo. Ia mendekatkan kotak coklat di meja itu lalu memilih salah satunya.
"Cognac, paling sesuai dengan chocolate truffle. Kamu pernah mencobanya?"
Kyungsoo menggeleng. Ia melihat Jongin memasukkan potongan chocolate truffle ke dalam mulutnya. Balutan bubuk cocoa di coklat itu tertinggal di bibir Jongin dan jarinya. Lelaki itu menyapu bubuk yang tersisa di bibirnya menggunakan lidah, kemudian menjilat jari telunjuknya dengan gerakan sangat pelan. Mata Jongin tersorot tajam ke arah Kyungsoo, ia meneruskan jilatan ke ibu jarinya sebelum memasukkannya ke mulut dan berhenti. Lalu, Jongin menyeringai kecil.
Kyungsoo menduga apa yang dilakukan oleh lembaga sensor sampai mereka bisa membiarkan satu Film Porno berjalan semacam lelaki ini bebas berkeliaran.
Kim Jongin seharusnya menjadi barang ilegal.
Jongin yang melihat perubahan suasana di antara mereka mengambil satu truffle lagi, lalu menempelkannya ke bibir Kyungsoo. Lelaki di sebelahnya berkedip cepat sebelum membuka mulutnya. Kyungsoo mengecap coklat lumer, bubuk cocoa yang pahit, sedikit rasa kacang di dalam lidahnya, serta jari Jongin yang mengusap bibirnya lembut. Jongin mendekatkan wajahnya ke Kyungsoo, membuat Kyungsoo menahan nafas karena debaran dalam dadanya berubah kacau. Ia merasakan bibir Jongin di cuping telinganya.
Kemudian, lelaki itu berbisik dengan suara dalam yang parau. "Membayangkan sesuatu?"
Mata Kyungsoo membelalak. Ia segera menyikut perut Jongin keras.
"Yah! Kita sudah punya perjanjian." Teriak lelaki itu gusar.
Kyungsoo menyeringai sinis, "Kamu pikir aku adalah orang yang menepati janji?"
Kemudian entah siapa yang memulai, mereka berdua kini berguling di atas karpet bercorak zebra di lantai ruang tengah itu. Kyungsoo menindih Jongin dan mencekik lehernya. Dengan segala tenaga yang ada, Jongin meraih kedua tangan Kyungsoo, berusaha melepas cengkraman Jongin. Posisi berpindah dengan cepat. Jongin kini berada di atas Kyungsoo, dan menahan kedua lengan Kyungsoo di samping kepala lelaki itu.
"Jangan lupakan perbedaan kekuatan di antara kita, Shorty. Aku bisa membuatmu babak belur sekarang juga."
Kyungsoo mencoba melepaskan diri dari Jongin, namun perkataan Jongin benar. Perbedaan postur tubuh di antara mereka membuatnya kesulitan.
"Then do it, jackass!" Jerit Kyungsoo marah.
Jongin mengamati Kyungsoo yang mengernyitkan dahi. Alis lelaki itu berkerut dan bibirnya tertarik ke bawah. Ia menatap Jongin dengan penuh ancaman. Dan apa yang ada di pikiran Jongin saat ini hanyalah, cute cute cute!
Jongin tersenyum tipis, "Ah, menyenangkan sekali melihat wajah marahmu yang seperti ini."
Kyungsoo menendang-nendangkan kakinya. Mencari celah agar ia bisa menggulingkan Jongin. Tapi Jongin menekankan tubuhnya ke paha Kyungsoo lebih keras lagi.
"Bukankah aku sudah bilang aku sedang tidak ingin bertengkar?"
"Kalau begitu lepaskan aku sekarang juga." Sambar Kyungsoo cepat. Ia baru menyadari Jongin makin bergeser ke atas, mendekati sesuatu di bawah perutnya.
"Hmmmm," Jongin berpura-pura berpikir, "bagaimana dengan tidak?"
"Fuck." Kyungsoo berdesis merasakan celananya mulai sesak.
Jongin yang mengetahui itu tergelak. Ia membungkuk hingga dada mereka saling bersentuhan. Bibirnya kini menjilati bagian belakang telinga Kyungsoo. Lelaki di bawahnya mengerang sambil terus memberontak.
"Sssht." Bisik Jongin, "Just enjoy it, baby." Jongin mulai menggesekkan miliknya ke milik Kyungsoo, membuat tubuh keduanya panas dilalap gairah.
"Don't you dare, Kim Jongin! Demi Tuhan, aku akan membunuh-" Kalimat Kyungsoo terpotong karena Jongin mengunci bibirnya dengan ciuman panas dan kasar.
"Kamu menginginkan ini, kan?" tanya Jongin sambil meneruskan pagutannya ke bibir bawah Kyungsoo. "Katakan."
"No, you faggot! Lepaskan aku sekarang juga!"
Tapi Jongin justru terbahak. "Kamu yakin?" Ia menggerakkan bagian bawah tubuhnya lagi dan Kyungsoo mendesah putus asa.
"Y-Ya."
"Ah, tapi benda di dalam celanamu mengatakan sebaliknya."
Ini tidak akan berakhir. Jongin akan terus menggodanya sampai Kyungsoo mau mengakui bahwa ia menginginkan Jongin. Kyungsoo menelan ludah ketika melihat mata Jongin yang penuh nafsu saat itu. Ada beberapa peluh yang menetes dari pelipisnya. Seringai dari bibir lelaki itu tidak behenti terpasang.
"Berubah pikiran?"
Oh, dan suaranya yang berubah turun beberapa oktaf dengan sedikit serak menggantung membuat kuduk Kyungsoo berdiri.
Sexy bastard.
Tapi Kyungsoo punya cara lain untuk membalik keadaan. Ia menarik pinggulnya ke atas hingga milik mereka kembali bergesekan. Jongin memejamkan matanya kuat, sedang Kyungsoo tersenyum senang.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu jika kita ada dalam situasi yang sama?"
Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Jongin membalas, "Situasi yang sama katamu? Apa kamu tidak sadar, aku sedang mendominasi di sini?"
Oh, terkutuklah Kim Jongin sampai semua keturunannya.
"What do you want?" Kyungsoo berdesis menantang.
Jongin menyeringai. Ia tidak sadar genggamannya ke pergelangan tangan Kyungsoo melemah. Mengetahui kesempatan itu Kyungsoo segera menghentakkan tangannya hingga Jongin terjembab. Ia menarik kerah kaus Jongin lalu membawa Jongin ke atas sofa.
"Kamu belum melakukan hukumanmu." Ucap Kyungsoo sambil duduk di pangkuan Jongin, menahan kedua pahanya sampai lelaki itu diam.
Ia mengambil gelas berisi alkohol di meja lalu dengan paksa meminumkannya ke Jongin. Minuman itu tidak masuk secara sempurna ke mulut Jongin hingga menghasilkan tetesan yang mengalir dari bibir Jongin sampai ke lehernya. Kyungsoo yang masih dalam pengaruh gairah sebelumnya, menjilati semua tetesan itu tanpa tersisa.
Ia menggerakkan lidahnya di antara leher Jongin, membuat lelaki itu mendesah sambil menarik nafas panjang. Jongin mencengkram pinggang Kyungsoo kuat mengumpat damn it, damn it berulang dalam kepalanya ketika Kyungsoo menghisap lehernya.
"Apa kamu akan terus diam seperti orang idiot?" tanya Kyungsoo dengan nada marah.
Jongin tertawa pelan, ia menarik dagu Kyungsoo mendekat, menggigit bibir lelaki itu dan berbisik, "You messed with the wrong guy, darling."
Lalu, seperti sebuah kompetisi mereka membuka pakaian satu sama lain. Beradu siapa yang lebih cepat menelanjangi lawannya, dengan Cognac dan coklat yang terus mereka sisipkan di antara ciuman mereka. Bibir Jongin berpindah menulusuri leher hingga dada Kyungsoo, mengumpulkan erangan lelaki itu. Jongin menarik dirinya sebentar untuk mengagumi banyak jejak yang ia tinggalkan di kulit putih Kyungsoo.
"I'm gonna fuck you senseless, right here and right now. Kamu tidak akan bisa berjalan untuk keesokan harinya."
Seluruh badan Kyungsoo panas mendengarkan apa yang diucapkan Jongin. "Damn, you should. Aku tidak mau membuang waktuku untuk sesuatu yang percuma."
"Good. Bersiaplah."
Dalam kejadian cepat setelah banyak makian dilontarkan dari bibir keduanya sedang tangan Jongin tidak berhenti bekerja, Jongin merasakan miliknya berada di dalam Kyungsoo. Jongin tidak tanggung membuat lelaki itu berteriak karena ia benar-benar menghujam Kyungsoo tanpa perasaan. Keduanya larut dalam tiap gerakan, memuja tubuh satu sama lain dengan umpatan.
Mereka tidak bisa menebak mana yang lebih memabukkan; Alkohol yang mereka minum atau tiap gelora dari tubuh mereka.
Saat Kyungsoo merasakan dirinya sudah hampir di puncak dan Jongin mengigigit bibir karena merasakan hal yang sama, ia mendengar bel pintu depan berbunyi. Namun, Jongin tidak mempedulikannya. Ia mentuntaskan gejolak di bagian bawah tubuhnya dan milik Kyungsoo menggunakan tangannya hingga mereka berteriak bersamaan.
Jongin terengah dengan Kyungsoo yang terkulai di dadanya. Bel pintu depannya masih berbunyi sampai Jongin menggeram kesal. Ia mengambil kaus hanya untuk menutup bagian bawah tubuhnya lalu membuka pintu itu.
Di hadapannya seorang lelaki bergaris rahang runcing yang ia kenali sebagai penghuni kamar sebelah menatapnya penuh kemarahan.
"Bisakah kalian menurunkan volume suara kalian?" Ia sedikit tercekat menyadari Jongin yang masih telanjang.
"Oh," Jongin menoleh ke arah Kyungsoo yang tertidur di sofanya. "Kami sudah selesai. Tenanglah."
"O-Okay." Lelaki itu berjalan menuju kamarnya. Menutupi mukanya yang setengah memerah karena membayangkan apa yang baru saja terjadi di kamar itu.
Ia kembali terhenti saat Jongin berteriak dari depan pintu, "Tapi mungkin nanti malam kamu akan mendengarnya lagi."
Sebelum ia sempat mencerna apa yang dimaksud Jongin, ia melihat pintu apartemen itu sudah ditutup.
Ketiga teman Jongin menatapnya penuh rasa terkejut. Junmyeon masih berusaha menyeka sisa jus jeruk yang baru saja ia semburkan ke meja itu. Yifan dan Baekhyun berpegangan erat seakan dunia baru saja runtuh di depan mata mereka. Sedangkan Jongin menyeruput yoghurt dinginnya santai.
"Y-You... You what?!" Pekik Baekhyun dengan suara tinggi.
Jongin tergelak, "Kalian tidak percaya? Apa kalian tidak melihat ia berjalan seperti bebek seharian ini?"
Ia akhirnya kembali ke rutinitas sekolahnya setelah skors-nya berakhir. Jongin tidak sabar menunggu jam pelajaran berikutnya dimana ia punya jadwal yang sama dengan Kyungsoo. Ia baru saja merangkum apa yang terjadi di hari sebelumnya kepada teman-temannya dalam satu kalimat pendek, "Guess what. I've fucked Satansoo yesterday. Twice."
"Oh, astaga. Ini adalah kiamat untukmu Kim Jongin. Kamu lebih baik mengucapkan kata-kata terakhirmu sekarang." Lanjut Baekhyun.
"Relax. Sudah kubilang kan dia tidak berbahaya? Ah, kamu harus tahu bagaimana ia mendesah kemarin."
"Ew. Ew. Just ew, Jongin. Aku tidak ingin tahu detailnya." Yifan menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghapus bayangan kotor di otaknya.
"What the hell were you thinking?" Sela Junmyeon sambil merebut yoghurt di tangan Jongin. Membenci bagaimana lelaki itu terlihat sangat santai setelah apa yang terjadi.
"Errr... bagaimana dia sangat menggoda hingga aku ingin memasukkan-"
"Oh my God!" Sergah Baekhyun yang sudah menutupi kedua telinganya.
"Hey, aku hanya menjawab pertanyaan Junmyeon!" Ucap Jongin membela dirinya sendiri.
Junmyeon memijat dahi mengetahui rendahnya tingkat kewarasan Jongin.
"Dia di sini, dia di sini." Rutuk Yifan cepat saat melihat Kyungsoo membawa nampan kosong bersiap untuk makan siang.
Pandangan Jongin mengikuti Kyungsoo yang masih berjalan limbung. Merasa diperhatikan, Kyungsoo menoleh mendapati empat pasang mata yang melekat ke arahnya. Tiga pasang di antaranya segera membuang muka, berpura-pura bicara dengan mimik panik, sedang satu sisanya berjalan mendekat, melihat Kyungsoo dengan senyum tipis terpulas di bibirnya.
"Butuh bantuan untuk berjalan?" sindir lelaki itu.
Kyungsoo berdecak. Ia membalikkan badannya, membalas tatapan Jongin dengan sorot paling menantang, "Kamu bangga hanya membuatku kesulitan berjalan? Aku kira kamu akan membuatku sama sekali tidak bisa melangkah."
Jongin menggigit bagian dalam pipinya karena kalimat itu. Ingatan tentang bagaimana Kyungsoo memantul di atas pangkuannya kemarin membuat pelipisnya berkeringat.
"Apa itu sebuah tantangan? Kamu sedang menantangku?" Jongin tertawa sinis dengan kedua tangan berada dalam saku, memainkan kunci mobil untuk mengalihkan pikirannya.
Kyungsoo tidak menjawab. Walaupun dalam hati ia mengakui jika kesempatan itu terbuka, ia tidak segan melingkarkan kakinya di pinggang Jongin dan meminta Jongin untuk menghujamnya lebih keras daripada kemarin.
Sial. Sejak kapan pikirannya jadi sekotor ini?
Mengabaikan Jongin yang menunggu jawabannya, Kyungsoo justru menyodorkan nampannya pada penjaga kafetaria itu. Ia menerima nasi, seokbakji, kentang panggang dengan parmesan, dan udang goreng tepung. Kyungsoo mengambil tambahan satu dessert puding mangga dengan fla vanila. Mendadak, sebuah ide muncul di dalam kepalanya. Ia mencolek sedikit fla di puding itu lalu memandang Jongin yang berada tidak jauh darinya. Dengan gerakan pelan, Kyungsoo menjilat fla di jarinya, memainkannya dalam gerakan memutar dan sedikit mengeluarkan lidah untuk menggoda lelaki itu.
Jongin menelan ludah, matanya melebar dengan ukuran yang ia pikir mustahil sebelumnya.
Hell shit. Do Kyungsoo is the hottest beast alive.
Kyungsoo merasa lebih dari puas dengan reaksi Jongin saat ini.
Ia lalu berjinjit, membuat bibirnya sejajar dengan telinga Jongin, sebelum berbisik, "Membayangkan sesuatu?"
Kyungsoo meninggalkan satu tamparan keras di pantat Jongin dan lelaki itu membeku tak bergerak. Tawa Kyungsoo terdengar menggema setelahnya.
Oh, how the taste of revenge is always, always, so sweet.
Kyungsoo bersiap untuk kelas berikutnya dengan wajah cerah. Ia masih menyimpan wajah bodoh Jongin di kafetaria tadi dalam memorinya. Kyungsoo mengeratkan genggaman di tali ranselnya sambil memasuki ruang kelas. Ia tidak heran menemukan Jongin sudah berada di dalamnya, duduk di atas salah satu meja dengan tangan terlipat di dada, sesekali tertawa dengan Junmyeon yang ada di hadapannya.
Kyungsoo segera mengambil bangku yang paling jauh dari Jongin. Ia mengeluarkan buku Matematikanya dari dalam ransel, mencoba membaca bab yang akan dipelajari untuk hari ini. Sebagai seorang siswa, Kyungsoo merupakan anak yang rajin. Ia mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri, membaca ulang materi yang disampaikan tiap harinya, dan menduduki peringkat pararel atas dari seluruh siswa sekolah itu.
"Hey, Seulgi. Bisakah kita berpindah tempat duduk?" Kyungsoo menoleh ke belakang mendapati Jongin yang sedang membungkuk dengan wajah terlalu dekat dengan Seulgi.
"Please, pretty eyes." Mohon Jongin sambil meraih dagu gadis itu. Kyungsoo bisa melihat Seulgi yang bersemu ketika ia akhirnya mengangguk dan mengambil barang-barangnya.
"Thankyou, princess."
Kyungsoo memutuskan untuk berpindah tempat mengetahui Jongin kini duduk di belakangnya. Tapi lelaki itu menahan bahu Kyungsoo agar tetap duduk.
"Kamu tidak berpikir bisa lepas begitu saja setelah kejadian tadi, kan?" Ujar Jongin dengan nada mengejek.
Kyungsoo tidak sempat membalas karena suara decit kursi dan langkah terburu-buru terdengar ketika Ms. Im masuk ke ruang kelas mereka.
"Just wait, Shorty. I'm in charge right now." Bisik Jongin kemudian.
Pelajaran itu dimulai dengan Ms. Im yang menjelaskan mengenai prinsip aljabar dan penggunaannya. Kyungsoo menggoreskan beberapa catatan ke dalam bukunya. Melingkari bagian penting agar lebih mudah ditemukan ketika ia membaca ulang nanti. Ms. Im memberi lima soal latihan dengan kesulitan yang bertingkat. Ia menawarkan ke siswa dalam kelas itu untuk mengerjakannya ke depan. Meskipun Kyungsoo sudah menemukan semua jawabannya, ia bukanlah tipe yang suka unjuk diri.
"Oh, Kyungsoo! Kamu sudah selesai mengerjakan semuanya?" Teriak Jongin dengan sengaja.
Kyungsoo menoleh, menghabisi Jongin dengan matanya dan membunuh Jongin berkali-kali dalam kepalanya.
"Benarkah? Kalau begitu silahkan tuliskan jawabanmu di depan Kyungsoo-ssi." Kata Ms. Im ramah.
Kyungsoo memberi anggukan pelan lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mengerti apa yang Jongin rencanakan. Karena Jongin harusnya tahu bahwa Kyungsoo pasti bisa menjawab semua pertanyaan di atas papan tulis itu. Saat Kyungsoo telah mengambil beberapa langkah, ia baru menyadari sesuatu.
"Ada yang salah Kyungsoo-ssi? Cara berjalanmu sedikit aneh hari ini." tanya Ms. Im khawatir.
Kim sack of shit Jong fucking In.
Kyungsoo dapat mendengar Jongin yang meredam tawanya. Ms. Im menatapnya penuh perhatian sedang Kyungsoo terdiam di tempatnya.
"Kyungsoo-ssi?"
"Sa-saya baik-baik saja, Ms. Im." Kyungsoo mencoba berjalan lagi dengan senormal mungkin, menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.
"Kamu yakin?"
"Ya, ya. Ms. Im. Saya-"
"He's not alright." Potong Jongin. Seisi kelas kini mengalihkan pandangannya ke lelaki itu. "Sesuatu terjadi padanya kemarin. Benar kan, Kyungsoo?"
Oh. My. Frickin. God. Bagaimana aku harus menjawabnya? Benak Kyungsoo berteriak panik.
"Apa yang terjadi Kyungsoo-ssi?"
"Saya-Saya-" Damn you, Kim Jongin. Damn you. "Sa-"
"Dia terkena ambeien." Sela Jongin cepat.
Warna di wajah Kyungsoo seperti terkuras saat mendengarnya. Ia berubah pucat pasi sementara ruang kelas itu tiba-tiba dipenuhi tawa yang menggaung. Ia bahkan melihat Ms. Im menggigit bibirnya kuat.
Kyungsoo mengepalkan tangannya keras.
Ia bersumpah akan menggantung kepala Jongin di aula sekolah mereka.
Kyungsoo membalas Jongin keesokan harinya (Walaupun kemarin ia sudah memukul Jongin hingga bibir lelaki itu sobek, tapi Kyungsoo berpikir meh, itu tidak cukup untuk membuat semuanya sepadan). Ia menyemprotkan pistol air ke bagian depan celana lelaki itu saat Jongin keluar dari kamar mandi lalu berteriak, "Oh, Tuhan apa kamu memuaskan dirimu sendiri di siang bolong, Jongin?" hingga siswa di sekitar mereka terkikik dan sebagian lainnya memberi pandangan jijik.
Jongin tidak tinggal diam. Ia memasukkan kondom pada ransel Kyungsoo di jam pelajaran berikutnya. Jongin sudah tahu akan ada pemeriksaan reguler yang diadakan oleh Mr. Park hari ini.
Para guru dipersiapkan untuk masuk ke tiap kelas dan menggeledah isi ransel semua siswa. Dan benar saja, salah satu guru terkejut menemukan apa yang ada di dalam ransel Kyungsoo.
"Do Kyungsoo, bisa jelaskan apa ini?"
Mulut Kyungsoo menganga lebar melihat benda yang sedang diperlihatkan Mr. Lee kepadanya.
"Dia hanya bersiap-siap untuk nanti malam, Mr. Lee." Sahut Jongin dengan senyum puas.
Mr. Lee segera meminta Jongin untuk diam. Kyungsoo hanya menunduk tanpa berkata apapun hingga Jongin hampir merasa bersalah.
Hampir.
Saat Mr. Lee melanjutkan penggeledahan ke ransel Jongin—setelah memberi hukuman detensi ke Kyungsoo yang dimulai dari hari ini Jongin melihat Kyungsoo memasang seringai licik ke arahnya.
Jongin menduga-duga mengapa lelaki itu berubah ceria. Dan ia segera menemukannya ketika Mr. Lee bertanya, "Untuk apa kamu membawa pembalut wanita?"
You piece of crap, Do Kyungsoo.
"Mungkin Jongin tahu ini adalah hari pertama menstruasinya." Balas Kyungsoo.
Suasana tegang di kelas itu berubah dengan tawa pelan serta bisikan-bisikan geli.
Jongin dapat membaca gerak bibir Kyungsoo yang mengutarakan 'Take that, asshole' ketika Mr. Lee menjatuhkan hukuman detensi juga untuk dirinya.
Dan sekarang, di sinilah mereka berdua, setelah jam pulang sekolah, bersama delapan murid lain dalam sebuah ruang kelas. Walaupun mereka ingin menghajar wajah lawannya satu sama lain, mereka menahannya mati-matian. Kyungsoo dan Jongin sadar mereka harus sangat berhati-hati mengingat hukuman skors mereka kemarin bisa berakibat lebih buruk. Jadi, mereka sengaja duduk berdekatan hanya untuk saling mengeluarkan kata kotor selagi tangan mereka sibuk me-resume paper yang telah dibagikan Mr. Lee.
"Apa kamu sudah kehabisan kata-kata?" Bisik Kyungsoo setelah ia melayangkan 'Dumbfuck' dan Jongin tidak membalasnya.
"I'm hungry." Jawab Jongin tidak lama kemudian.
Kyungsoo tertawa tapi mimik Jongin terlihat begitu serius hingga ia merasa iba.
"Eat this gum." Kyungsoo menyerahkan satu permen karet dari dalam sakunya ke Jongin. Lelaki itu memandangnya sejenak, mengeluarkan muka tidak percaya sebelum mengambil permen di tangan Kyungsoo.
"Apa aku sedang bermimpi? Oh, apa ini benar-benar terjadi? Hey!" Jongin mengeraskan suaranya, "Satansoo member-" Kyungsoo segera menginjak kaki Jongin agar lelaki itu diam.
"Don't flatter yourself, Junk In." Kyungsoo berdecak. "Itu balasan traktiranmu kemarin."
"Hanya dengan satu permen? Wow, kamu benar-benar orang yang tahu balas budi."
Kyungsoo membuka paper ke halaman berikutnya, menuliskan beberapa kata sebelum akhirnya menyahut, "Kamu memaksaku berciuman denganmu demi sebotol Cognac, membuatku mabuk setelahnya, lalu mempermalukanku di depan kelas setelah aku memuaskanmu seharian. Ah, kamu benar, aku tidak tahu balas budi."
Entah kenapa, ada cubitan-cubitan kecil di hati Jongin saat mendengar itu. Ia menjadi terlihat begitu brengsek di mata Kyungsoo. Dan itu tidak termasuk dalam rencananya. Jongin hanya ingin Kyungsoo mengingatnya lebih daripada orang lain.
Ketika itulah Jongin menyadari, mungkin ini waktunya berhenti. Mungkin ini waktunya meluruskan hubungan di antara mereka. Karena paling tidak, ia sudah mendapatkan perhatian Kyungsoo. Lagipula, Jongin mulai lelah dengan adu mulut di antara mereka. Ia menginginkan pelukan, ciuman hangat di depan pintu rumah, atau usapan di rambutnya ketika harinya sedang buruk.
Jongin mendadak gugup. Ia mengambil nafas panjang, merapikan kemejanya sebentar, lalu menusuk pipi Kyungsoo menggunakan pangkal pulpen.
Kyungsoo memutar bola matanya sambil mengerang, "Apa lagi sekarang?"
"Kalau begitu biar aku yang membalas budi." Tukas Jongin datar.
Kyungsoo menghentikan gerak tangannya. Ia menghadap ke arah Jongin dan melihat lelaki itu menunduk, memainkan ujung kakinya.
"You know... mungkin setelah ini aku bisa mentraktirmu lagi."
Jongin merasakan rasa panas merambat di wajahnya sesaat setelah ia mengatakan kalimat itu.
Apakah dia barusan... tersipu? Batin Kyungsoo.
Tapi Kyungsoo berusaha menghilangkan pikiran konyolnya. Ia menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
Yeah, peluang Kim Jongin tersipu sama dengan peluangnya berhasil menguasai dunia.
"Are you asking me on a date or something?" canda Kyungsoo ringan.
Jongin mendesah, ia ingin mengatakan, Ya. Apa kamu tidak lelah dengan situasi sekarang? Because, i do, Kyungsoo. Mungkin jika kita berhenti bertengkar kita bisa lebih saling mengenal. Aku sangat menikmati percakapan denganmu saat di apartemenku. Namun yang keluar dari bibir Jongin hanya, "Well, jika kamu menyebutnya seperti itu, aku juga tidak masalah."
Jantung Kyungsoo berhenti sesaat. Ia menoleh ke arah Jongin dengan alis berkerut dan muka heran.
What on the damn earth did he just say?
END OF CHAPTER 1 : TO BE CONTINUED
Author's Note:
Hello! So, akhirnya aku bikin sequel dari drabble ini.
Semoga sesuai dengan harapan kalian, karena aku nggak nyangka drabble singkat kemarin ternyata banyak yang suka. Btw, di sini aku cuma ngejabarin adegan NC-17 nya dalam bentuk smut aja. Are you guys okay with that? Walaupun kalian mungkin udah ngebayangin yang panas-panas, ternyata kemampuanku cuma sebatas ini, hahaha (Please, don't kill meh).
Mungkin butuh waktu yang agak lama untuk nulis chapter selanjutnya meningat sebagai mahasiswa teknik yang rajin (fangirling-an) aku punya banyak tugas mendekati akhir semester ini.
Nah, gimana? Apa kalian masih tertarik sama kelanjutannya? FF ini bisa jadi two or three shots, sepertinya sih.
Tell me what you think! Review, saran dan kritik sangat diterima :))))
KAISOO FTW!
—RedSherr88
