You're so dazzling, you come to me like you're whispering
Inside the scattering meteor shower
— EXO - Lady Luck
Prenote : Took me longer than i expected, but i hope you still waiting for this.
Enjoy! :)
SWEET ATTEMPTS [ii]
What on the damn earth did he just say?
Kyungsoo berkedip menatap Jongin yang masih menunduk. Pikirannya berkali-kali mencerna kalimat Jongin. Ia menuduh pendengarannya sedang bermain-main saat ini. Setelah gagal meyakinkan dirinya sendiri, Kyungsoo menggeser tempat duduknya sampai menghadap Jongin.
"Bisa kamu ulang lagi?" Kyungsoo mempersiapkan telinganya dengan baik.
Jongin menarik nafas sejenak. Ia berusaha menemukan kepercayaan dirinya yang bersembunyi entah dimana.
"Let's go on a date." Tutur Jongin lirih.
Mulut Kyungsoo menganga. Ia memandang Jongin dengan bibir yang terus membuka dan mengatup dengan cepat.
"A date?"
"Yes, a date."
"Seperti ketika dua orang makan bersama lalu bercerita tentang hal yang tidak penting?"
Dahi Jongin berkerut mendengar kosakata Kyungsoo yang buruk. "Ya, seperti itu."
"A date?"
"Yep, a date."
"Seperti ketika dua orang berjalan di taman sambil berpegangan tangan?"
Oke, pemilihan kata Kyungsoo mulai bertambah aneh. Tapi Jongin mengusir pikiran itu. Ia sedang membangun karakter yang baik untuk Kyungsoo.
"Bisa juga seperti itu."
Kyungsoo terdiam. Lelaki itu menggigiti bibir, membuat Jongin menahan diri untuk tidak beranjak dari tempat duduknya lalu memagut bibir Kyungsoo. Jongin berdehem melawan bayangan dalam kepalanya.
"A date?"
"Yes, Shorty, a freaking date."
Jongin berusaha menjawab dengan sabar. Ia mulai merasa ini adalah ide buruk, melihat tanggapan Kyungsoo seperti anak kecil yang tidak mempercayai adanya Santa Claus pada malam natal.
"Seperti ketika-"
"Oh, lupakan." Jongin menggeram kesal. Ia menyandarkan keningnya ke meja sambil menggumam, "Anggap aku tidak pernah mengatakan itu."
Ada jeda sejenak di antara mereka yang membuat Kyungsoo menyadari Jongin ternyata benar-benar serius. Ia melihat ke lelaki yang masih membenamkan kepalanya di meja, mengutarakan kalimat yang Kyungsoo tidak bisa tangkap dengan jelas. Kyungsoo menarik nafas dalam.
"Cheesecake." Ucapnya singkat.
Jongin segera menoleh, pipinya masih menempel di atas meja. "Apa?"
"Aku bilang, Cheesecake."
Jongin mengeluarkan ekspresi datar sejenak. Ia mengulang kalimat Kyungsoo sampai akhirnya mendapatkan apa yang dimaksud lelaki itu.
"Oh, apa ini artinya kamu mau?" Pekik Jongin dengan suara melengking hingga membuat Kyungsoo berjengit heran.
Goddamit Jongin, act cool.
Jongin bangkit dari posisi sebelumnya. Ia bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada. Mencoba mengembalikan wibawanya sebagai lelaki.
Setelah mengatur agar suaranya tidak terdengar seantusias gadis remaja pada kencan pertama, ia melanjutkan, "So, Satansoo menyukai makanan manis? Itu sama sekali tidak cocok dengan karaktermu. Aku kira kamu lebih suka dengan darah-"
"Setuju atau tidak. Sebelum aku berubah pikiran." Sergah Kyungsoo sebal.
Jongin tergelak. "Oke," Ia kembali meraih pulpen karena telah mendapatkan semangat untuk segera menyelesaikan hukumannya. "deal."
Ribuan kupu-kupu berdansa dalam perut Jongin membayangkan suasana kencan setelah ini. Ia memutuskan untuk kembali tenggelam dengan kertas di kedua tangannya, tanpa menyadari seseorang memperhatikannya sedari tadi dengan pipi memerah.
Kyungsoo ingat satu-satunya misi ketika ia memasuki tahun pertama sekolah menengah atas; sebisa mungkin tidak berteman dengan siapapun. Ia tidak tahu harus merasa beruntung atau tidak, karena julukan Satansoo yang melekat padanya membantu ia mencapai misinya.
Kesalahpahaman beruntun adalah alasan dibalik semua itu.
Kyungsoo selalu berusaha menyamarkan dirinya di antara para siswa. Ia memilih duduk di sudut paling pojok yang jauh dari keramaian saat jam makan siang, tidak berbicara ketika sedang di dalam kelas, sampai tidak mengikuti klub manapun di sekolah. Sikapnya ini membuat desus tidak masuk akal berhembus.
Beberapa siswa mengatakan ia tidak menyukai cahaya matahari.
"Kegelapan membuatnya bisa lebih dekat dengan 'teman-teman'-nya." Bisik Soojung ketika Kyungsoo tidak sengaja menguping pembicaraan wanita itu dengan Jinri.
Kyungsoo tidak berusaha meluruskan apapun. Ia justru tertawa diam-diam, mengetahui Soojung mempunyai pikiran konyol semacam itu.
Namun gosip dan wanita sama halnya seperti api dan rumput kering. Berita itu menyebar cepat dari mulut ke mulut. Yang membuat Kyungsoo heran adalah, para siswa mempercayainya.
Rumor lain yang beredar menyebutkan, "Jika kamu memanggil nama asli Satansoo, kamu akan mendapatkan kesialan selama tiga hari berturut-turut."
Ia bahkan mendengar Taemin, salah satu murid di kelas Fisikanya membenarkan pernyataan itu. "Aku sendiri telah mengalaminya."
Ya, itu terdengar menggelikan. Namun hebatnya, tidak ada lagi yang memanggil nama Kyungsoo setelahnya. Jika ada siswa yang harus berbicara dengan Kyungsoo, dia hanya akan mengucapkan kata singkat seperti hey, halo, atau permisi.
Lama kelaman Kyungsoo banyak menemukan kisah konyol tentang dirinya. Bahkan, penglihatan Kyungsoo yang buruk dan membuat ia harus memincing tiap kali melihat sesuatu dari jauh, diartikan sebagai tatapan penuh kutukan. Para siswa selalu menunduk jika sedang berpapasan dengan Kyungsoo.
Akan tetapi, puncak ketakutan mereka pada Kyungsoo terjadi di suatu pagi.
Kyungsoo yang saat itu terlambat, terpaksa memanjat pagar sekolah. Karena terburu-buru, tangan kanan Kyungsoo tergores besi runcing pagar dan menimbulkan luka cukup dalam. Kyungsoo yang panik segera berlari ke toilet. Bahunya tidak sengaja menyenggol saklar lampu ruangan itu.
Dan apa yang dilihat oleh siswa di dalam toilet adalah sebuah scene berefek dramatis seperti di film horor;
Lampu ruangan yang tiba-tiba padam dengan seberkas sinar dari ventilasi menyinari setengah badan Kyungsoo, menampilkan darah di lengannya yang terluka.
Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya ketika ia menangkap kengerian di wajah para lelaki dalam ruangan itu. Ia terbahak keras. Dalam hitungan detik, seisi ruangan segera berlari keluar tanpa sempat mengancingkan celana mereka terlebih dahulu.
Kehidupan sekolah Kyungsoo berlangsung seperti apa yang ia inginkan setelahnya. Tenang, damai, tanpa gangguan.
Hingga satu tahun kemudian, seseorang merusak itu semua. Seseorang yang kini sedang duduk di hadapannya, menyuap satu potongan kecil Blueberry Cheesecake lalu mengunyahnya seperti bayi yang belum memiliki gigi.
"Kamu punya cara makan yang menyebalkan." Ujar Kyungsoo ketus.
Jongin hanya tersenyum, ia kembali memakan cake-nya dengan cara yang sama. Tangan Kyungsoo gatal untuk menancapkan garpu di jarinya ke leher lelaki itu.
"Kurasa julukanmu harus berubah menjadi Sassy Satansoo." Balas lelaki itu tenang.
Kyungsoo memandangnya tajam, akan tetapi Jongin justru tergelak. Ia masih saja heran kenapa tatapannya tidak pernah bisa mengintimidasi Jongin.
Kyungsoo mengabaikan Jongin dan kembali menyuap Plain Cheesecake-nya. Ia tidak sadar, Jongin mengeluarkan ponsel lalu mengambil gambar Kyungsoo ketika ia sedang lengah.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Kyungsoo panik. Ia segera menyambar ponsel Jongin, namun lelaki itu menghindar dengan cepat.
"Diam. Aku sedang mengunggah fotomu ke akun media sosialku."
Mata Kyungsoo membelalak. Ia berdiri dari kursinya, menghampiri Jongin yang sedang terkikik geli dengan jari yang sibuk menuliskan beberapa kata.
"Having a date with Sassysoo." Kata lelaki itu sambil menahan Kyungsoo untuk tetap diam di belakangnya.
Lelaki di belakangnya menghentakkan kaki karena frustasi.
"Yah! Kim Junk In, hapus foto itu sekarang juga!" perintah Kyungsoo.
"Terlambat." Goda Jongin ketika beberapa temannya mulai memenuhi kolom komentar.
ByunBitch : KAMU BERKENCAN DENGANNYA? Oh, Tuhan sebenci-bencinya aku kepadamu, aku masih ingin melihatmu besok pagi.
GalaxyFan : Dimana kalian berkencan? Neraka?
SuhoDaddy : I hope you rest in peace, Jongin.
Kyungsoo masih di posisinya semula, melemparkan tatapan kebencian ke arah Jongin. Ia yakin lelaki itu sedang merencanakan berbagai prosedur pembunuhan dalam kepalanya. Jika orang lain berada di posisinya sekarang, mereka akan berpikir ulang untuk menggoda Kyungsoo lebih lanjut. Tapi Kim Jongin adalah satu kasus berbeda. Karena ia selalu menganggap setiap gerakan Kyungsoo seperti boneka pororo mungil yang menggemaskan. Apalagi saat ini.
Jongin berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil ransel Kyungsoo, lalu menarik Kyungsoo keluar dari cafe. Kyungsoo yang kebingungan hanya mengikuti kemana Jongin membawanya tanpa melawan.
"Aku belum menghabiskan makananku." Protes lelaki itu.
Jongin berhenti. Ia melepaskan genggamanya di pergelangan tangan Kyungsoo kemudian berbalik dengan sebuah senyum tergambar di bibirnya. "Ah, aku minta maaf. Tapi jika kamu memasang wajah seperti tadi terus, aku tidak bisa menahan diri untuk menciummu."
Kyungsoo terlihat kaget sejenak sebelum akhirnya menyambar cepat, "What kind of face?"
Jongin menarik ransel Kyungsoo ke bahu. Senyumnya belum hilang ketika ia menautkan kedua alis Kyungsoo dengan jarinya. "This kind of face, sugar."
Pipi Kyungsoo berubah merah mendengar itu. Ia segera menepis tangan Jongin dari wajahnya.
"Lelaki brengsek." Umpatnya kesal.
Kyungsoo terlalu sibuk berjalan mendahului Jongin untuk menyembunyikan semu di pipinya sampai ia tidak menyadari kemana ia melangkah.
"Hey, sugar!" Jongin terbahak sejenak. "Kamu salah arah. Mobilku ada di sebelah sana." Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin menujuk ke salah satu direksi yang berkebalikan dengan tempatnya berdiri sekarang.
Dengan rasa malu yang menguasainya, Kyungsoo sengaja menabrak Jongin sambil merebut ranselnya yang menggantung di pundak lelaki itu.
"Ak-Aku sudah tahu." Sahut Kyungsoo tergagap. "Aku hanya mencoba mempermainkanmu." Jongin ingin membuka mulut untuk bicara tapi lelaki itu segera memotongnya, "And stop calling me with that dumb pet name, you klutz."
Jongin menggigit bibir agar tidak tertawa. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya sebelum berlari menyusul Kyungsoo.
"Jam berapa kamu harus ada di rumah?" teriak Jongin cukup keras.
Tanpa berbalik ke arah lelaki itu Kyungsoo berteriak dengan suara yang sama kerasnya. "I'm a grown-up, asswipe." Ia mendengus. "Aku bisa pulang kapanpun aku mau."
"Ah, baiklah. Bagaimana dengan sedikit berjalan-jalan?"
Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia langsung disambut dengan mimik jahil Jongin ketika lelaki itu sudah di sebelahnya. "Kamu tidak sedang merencanakan hal gila lagi, kan?"
Jongin hanya menyeringai.
Tentu saja Jongin merencanakan sesuatu yang gila. Kenapa pula Kyungsoo harus jatuh dengan trik yang sama karena rasa penasarannya. Lelaki yang duduk di kursi kemudi itu menjelaskan bahwa ia akan menuruti kemana insting Kyungsoo mengarah.
"Jadi aku hanya perlu mengatakan lurus, kanan atau kiri?" tanya Kyungsoo sekali lagi.
Jongin mengangguk antusias. "Exciting, right?"
Exciting, my balls! Pikir Kyungsoo. "Tapi aku sama sekali tidak tahu jalan."
"Disitu adalah bagian menariknya. Kita tidak akan tahu dimana kita berakhir."
"Kita bisa tersesat."
"Apa kamu lupa ada teknologi yang disebut GPS? Jangan bertingkah seperti orang purba-" Jongin segera menggigit lidah sebelum kata umpatan lain keluar dari mulutnya.
You are a good boy, Kim Jongin. Jangan merusak apa yang sudah kamu bangun malam ini.
Ia perlahan melirik Kyungsoo yang seperti tidak tersindir sama sekali. Lelaki itu justru sedang bergelut dengan tali seatbelt yang tidak mau terpasang secara sempurna.
"Stupid seatbelt!" gerutu Kyungsoo kesal setelah perjuangannya tidak membuahkan hasil.
Jongin tertawa. Ia belum menghidupkan mesin mobilnya hanya untuk menonton pertunjukan antara Kyungsoo dan seatbelt-nya.
"This," Bisik Jongin sambil membantu Kyungsoo memasang seatbelt-nya. "is how you do it, sugar."
Bunyi 'klik' terdengar tidak lama kemudian seiring dengan senyum Jongin dalam jarak yang terlalu dekat untuk Kyungsoo.
Oh, tidak itu bukan senyum Kim Jongin yang Kyungsoo kenal selama ini. Tidak ada seringai, kelicikan, atau kesombongan terdeteksi di senyum itu. Kyungsoo tidak terbiasa.
"So, kamu sudah siap?"
Kyungsoo mengangguk pelan. Detak jantungnya berantakan melihat perubahan sikap Jongin terhadapnya. Bagaimana bisa lelaki menyebalkan yang menganggunya setiap hari ini bisa secara ajaib berubah menjadi seorang gentleman yang begitu menarik?
No, pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Benak Kyungsoo berteriak panik.
Jongin menghidupkan mesin mobilnya dan segera menginjak pedal gas perlahan, membawa roda mobil itu ke atas jalan raya.
"Kamu bertingkah mencurigakan." Celetuk Kyungsoo setelah hening yang cukup lama.
"Bisa kamu jelaskan bagian mana yang mencurigakan?" lelaki itu bertanya santai, sambil membelokkan kemudi.
Jari-jari Kyungsoo bermain di atas pahanya sendiri. Ia belum pernah berada pada situasi secanggung ini. "Kamu menjadi baik."
Sebuah seringai muncul di bibir Jongin. "Dan itu menganggumu?"
"Alasan dibalik itu yang menggangguku."
"Karena aku ingin." Sahut Jongin cepat.
Kyungsoo memberengut. Tidak puas dengan jawaban Jongin. "Hanya itu?"
"Ya. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin mengenal Do Kyungsoo, bukan Satansoo yang dibicarakan orang-orang."
"Kenapa?"
Jongin menggerak-gerakkan bibirnya. "Entah. Mungkin karena kamu begitu tertutup. Kanan atau kiri?" tanya Jongin ketika melihat persimpangan.
Kyungsoo yang tidak siap segera memutuskan kanan dengan asal. Jongin bersiul menuruti Kyungsoo.
"Mungkin juga karena aku hanya ingin ada obrolan di antara kita." Lanjut Jongin sebelum ia tersenyum kecil. "Atau mungkin karena ada sedikit bagian dari diriku yang tertarik padamu?"
Kyungsoo memalingkan pandangan ke lelaki di sebelahnya. Jongin memiringkan kepala ke samping, lalu membalas pandangan Kyungsoo. "Ada yang salah, Do Kyungsoo?"
Mata Kyungsoo mengerjap cepat. Ia berdehem merasakan setiap kata dalam otaknya tiba-tiba berlarian dan enggan terangkai. "N-No. Let's talk."
Jongin kembali menanyakan arah dan Kyungsoo menjawab lurus. Ia menunggu Jongin untuk memulai pembicaraan, karena ia tidak pernah ahli dalam hal itu.
"Berceritalah tentang sesuatu." Jongin akhirnya angkat bicara. Mobilnya berbelok setelah Kyungsoo menggumamkan kanan.
Kyungsoo menelah ludah. "Aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan."
Jongin manggut-manggut. "Baiklah. Bagaimana kalau kita saling melempar pertanyaan? Aku akan memulainya duluan. Setuju?"
Ada sesuatu di nada halus Jongin yang membuat perut Kyungsoo seperti sedang digelitik. "O-Oke."
"Film favorit?"
Kyungsoo berpikir sebentar, ia hampir suka semua jenis film. Setiap malam, Kyungsoo menghabiskan beberapa film sebelum tertidur. "Mungkin... Inception? Aku sudah menonton itu puluhan kali."
Wajah Jongin berubah cerah. "Wow, kita punya kesamaan. Bukankah Christoper Nolan tidak pernah mengecewakan? Kiri? Lurus?"
"Lurus." Jawab Kyungsoo. "Kamu menonton semua filmnya?"
Jongin mengangguk riang. "Ya! The Prestige, Memento, oh Batman Trilogy. He's the best."
Percakapan setelah itu mengalir sangat natural dari bibir keduanya. Jongin beberapa kali mengutip kalimat di film kesukaannya yang membuat Kyungsoo tertawa.
"Your turn, sugar."
Walaupun Kyungsoo masih risih dengan panggilan rayuan itu, Kyungsoo tidak menunjukkannya. "Berapa kekasih paling banyak yang kamu punya dalam satu waktu?"
Jongin tergelak. "Aku menanyakanmu mengenai film dan kamu langung melompat ke pembicraan pribadi? Sassy." Ia membenarkan posisi duduknya sebelum menyambung, "Empat, sepertinya."
"Oh, God you're a player!" Ungkap Kyungsoo menyembunyikan kekecewaannya. "Semuanya laki-laki?"
"Tiga perempuan, satu laki-laki. I'm not gay. Aku hanya mengikuti naluri. Gender tidak pernah menjadi masalah bagiku." Jongin memutar kemudi saat Kyungsoo mengatakan kiri. "Giliranku? Um, kamu pernah punya kekasih?"
Kyungsoo menggeleng dengan seringai geli. "No. Aku hanya bermain-main. Tapi tidak pernah membawa hubunganku ke tingkat itu."
Jongin merasa tenggelam dalam jok mobilnya. "J-Jadi, aku adalah salah satu permainanmu?"
Lelaki di sampingnya menoleh dan Jongin menelan ludah menunggu apa yang akan diutarakannya. "Itu dua pertanyaan, dummy. Sekarang giliranku." Kyungsoo menyandarkan pelipisnya di kaca mobil. "Apakah yang tadi mengunci Mr. Lee di toilet adalah kamu?"
Jongin langsung meledak dalam tawa. Kyungsoo menoleh cepat. "Oh, astaga! Itu benar-benar kamu? Tidakkah kamu merasa itu terlalu keterlaluan?"
Kyungsoo mengingat setelah detensi para siswa menunggu Mr. Lee untuk membubarkan mereka. Namun pria itu tidak kunjung datang. Ia juga ingat Jongin terus-terusan menahan tawa setelah kembali dari toilet lalu menarik Kyungsoo keluar dari ruang kelas tanpa mengucapkan apapun.
"He's an ass. Okay? Lagipula ini bukan pertama kalinya aku mengerjai seorang guru."
"Oh, Tuhan." Desah Kyungsoo. Jongin sudah menyiapkan diri dengan kalimat panjang berisi nasehat dari bibir lelaki itu. Tapi ia terkejut karena Kyungsoo melanjutkan dengan, "Aku kira hanya aku satu-satunya manusia jahat di dunia ini."
"Oh, ya? Memang apa yang kamu lakukan?"
"Kamu ingat ketika tikus-tikus percobaan di laboratorium tiba-tiba lepas ke kantor guru?"
Jongin melongo. "That was you?"
"The one and only."
"Itu seribu kali lebih kejam dariku. Apa kamu tahu Ms. Im sampai menangis karena tikus itu masuk ke dalam rok nya?"
"Aku tahu." Kyungsoo tergelak sampai matanya terpejam. "And it was hillarious."
"You're really the spawn of devil." Jongin mendesah panjang. "Ah, about that. Aku penasaran apa kamu sebenarnya nyaman dengan julukan Satansoo?"
Kyungsoo terdiam. Ingatannya melayang pada satu masa yang membuatnya memutuskan untuk tidak memiliki teman. Ia menghidari tatapan Jongin, lebih memilih menyusuri pemandangan di luar jendela. Kyungsoo menyaksikan jalanan dengan puluhan mobil melesat pada kecepatan sedang, pejalan kaki dengan gelas kopi kertas di genggaman, tapi memorinya tidak teralih sedikitpun. Rasa bersalah karena ingatan tentang masa lalunya kembali menghantui.
Jongin menunggu Kyungsoo dengan khawatir. Ia telah melewati beberapa persimpangan tanpa menanyakan pendapat lelaki itu.
"Hey, kamu tidak perlu menjawabnya." Ucap Jongin menenangkan. Ia meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya.
"Aku-" Genggaman Jongin di tangannya mengerat saat ia mulai bicara. Menandakan bahwa lelaki itu mendengarkan. "Aku sedikit takut mempunyai teman dan julukan itu membantu orang-orang untuk menjauhiku. Mungkin aku bisa mengatakan bahwa aku sedikit nyaman?"
Laju mobil Jongin melambat ketika bertemu lampu merah. Kyungsoo mendongak dan baru menyadari langit sudah semakin gelap.
"Apa kamu pernah disakiti oleh temanmu?"
Kyungsoo tergelak denga tawa menyedihkan. "Justru aku yang menyakitinya."
"Kamu ingin melanjutkan ceritamu?"
Kyungsoo menggeleng. "Ada bagian dari hidup yang tidak memuaskan. Aku lebih suka menyimpannya untuk diriku sendiri."
Jongin tidak tahu harus lega atau bersalah. Bisa mengetahui salah satu rahasia Kyungsoo membuatnya merasa lebih dekat dengan lelaki itu. Akan tetapi, melihat Kyungsoo berubah diam seperti sekarang sangat menganggu pikirannya. Jongin mendesah, ia mengedarkan pandangan ke jalan yang ternyata cukup ia kenali. Setelah melihat papan jalan dengan nama tempat yang sudah ia tebak sebelumnya, Jongin berubah riang. Ia menyenggol bahu Kyungsoo dengan sikunya.
"Kamu pikir rencana gilaku hanya sebatas ini?"
Jongin mengedipkan sebelah mata dan Kyungsoo terdiam penuh tanya.
Kyungsoo memusatkan pandangan pada warna ungu yang bersinar begitu memukau seperti lampu neon di langit malam. Ia meghirup nafas dalam, berterimakasih diam-diam karena Jongin membawanya ke tempat ini. Mereka berada di tengah Gwanghwamun Square. Di depan Kyungsoo patung Laksamana Yi Sun-sin berdiri kokoh dikelilingi air mancur yang melesat ke udara mulai dari selutut sampai melebihi kepalanya. Kyungsoo mengagumi bagaimana monumen bisa tetap menghadirkan aura magis perang samudera yang megah.
"Kamu menyukainya?"
Jongin memasukkan kedua tangannya dalam saku. Ia tersenyum mengetahui ada sedikit binar bahagia di mata lelaki itu. Kyungsoo membisikkan 'ya' tanpa mengalihkan pandangannya. Namun Jongin masih bisa menemui nada sedih dalam suara Kyungsoo.
"Hey, punch me."
Kyungsoo mendengus pendek.
"Seriously, punch me. Anggap ini balasan karena aku menanyakan sesuatu yang sensitif padamu."
Kyungsoo tetap geming, ia melirik Jongin dalam tatapan otakmu-pasti-sudah-hilang-separuhnya. Jongin berdecak, ia meraih tangan Kyungsoo lalu memukulkan kepalan tangan lelaki itu ke dadanya.
"Are you nuts?" Kyungsoo berusaha melepaskan cengkraman Jongin.
"Oh, ayolah. Haruskah aku memaksamu?"
Kyungsoo memutar bola matanya. "Dengan cara?"
Ia ingin menarik kembali ucapannya. Kalimat itu hanya akan mendorong Jongin untuk berbuat lebih gila lagi. Dan Kyungsoo segera membelalak saat menemukan senyum licik di wajah Jongin.
"Do Kyungsoo has a small dick!" teriak Jongin dengan suara yang menggema.
Kyungsoo segera menutup mulut Jongin ketika beberapa orang melihat ke arah mereka. Jongin menggigit tangan Kyungsoo hingga Kyungsoo mengaduh, melepaskan bungkammannya.
"Do Kyungsoo has a-"
Satu pukulan mendarat di perut Jongin beserta pekikan panik, "Oh, Tuhan! Diam!"
Jongin menyeringai, "Mudah, kan?" Ia membentangkan kedua lengannya, memberi izin ke Kyungsoo untuk kembali memukulnya.
"Jangan menyesalinya." Sahut Kyungsoo sambil memasang kuda-kuda seperti seorang petinju.
"Tidak akan." Balas Jongin percaya diri.
Selama itu membuatmu lega, aku tidak akan pernah menyesal.
Kyungsoo melayangkan pukulan kedua ke dadanya. Jongin berusaha tetap berdiri di tempatnya, mengeluarkan kata yang makin membakar emosi Kyungsoo. Lalu pukulan ketiga Kyungsoo diiringi dengan teriakan "Aku benci hidupku", pukulan keempat dengan "Aku benci keluargaku", hingga rentetan pukulan yang Jongin tidak bisa hitung berapa kali dengan umpatan kasar beruntun. Jongin menunggu sampai lelaki itu puas walau tubuhnya mulai terasa sakit. Sampai akhirnya, Kyungsoo terengah dengan wajah menunduk dan bibir bergetar.
Jongin segera membawa lelaki itu ke antara dua lengannya. Ia menempatkan bibirnya di puncak kepala Kyungsoo seraya berbisik, "Jika kamu menghadapi hari yang buruk, atau suasana hatimu sedang kacau, kamu boleh memukulku lagi sebagai pelampiasan."
Kyungsoo mengeluarkan sengal dalam tawanya. "Manusia bodoh."
"Aku tidak bercanda." Jongin mengubur hidungnya di rambut Kyungsoo. Mencium aroma lemon dari shampoo lelaki itu. "Aku benar-benar peduli padamu, Kyungsoo."
"Don't, okay? Kamu tidak tahu apa yang membuatku begini."
Jongin menggumam. "Kamu bisa beritahu aku ketika sudah siap. Aku tidak akan kemana-mana."
Kyungsoo menggigit bibir kuat. Ia menahan tangisnya mati-matian. Rasa lelah yang ia pendam selama ini buncah, pecah menjadi isakan kelu dan pahit. Ketika Jongin melepaskan pelukannya, Kyungsoo menariknya kembali. Jarinya mencengkram kain kemeja Jongin.
"Please stay like this for a while."
Kyungsoo tidak perlu jawaban, karena Jongin merapatkan tubuh mereka lebih dekat lagi. Ada banyak hal yang memenuhi kepala Kyungsoo dalam tujuh belas tahun masa hidupnya. Beberapa melekat kuat dan tidak mau hilang dan beberapa lainnya merusak penilaian Kyungsoo terhadap dirinya sendiri seperti sel kanker.
"Kamu tahu apa yang menyedihkan?" suara Jongin memecah keheningan.
Kyungsoo menenangkan diri, ia mengatur nafasnya lalu menjawab, "Apa?"
"Lion King."
Kyungsoo terdiam sejenak, merutuk mengapa dalam situasi seperti ini Jongin masih bisa bersikap bodoh sebelum akhirnya tertawa.
"Hey, apa yang lucu?" seru Jongin sedikit jengkel.
Kyungsoo menarik tubuhnya menjauh, tawanya masih belum berhenti. "Bodoh."
Jongin menghentakkan lengannya sebagai tanda protes. "It was sad, okay? Aku menangis sampai berjam-jam ketika menonton itu."
Kyungsoo terbahak sampai mengeluarkan air mata. "And you said i am the one who has a small dick? Ingatkan aku untuk membawa cermin lain kali."
Jongin kembali menampakkan seringai andalannya. "Ah, kamu menantang? Kamu pikir rencana gilaku hanya membawamu kesini?" Jongin berjalan mundur mendekati air mancur yang berada di belakangnya.
"Hey! Apa yang kamu lakukan!" jerit Kyungsoo panik.
Jongin berbalik cepat, ia berlari di tengah air mancur yang kini bercahaya dengan warna biru. Kemeja putihnya basah hingga kuyup tapi lelaki itu justru menampakkan wajah paling cerianya.
"Oh, come here! Kamu kalah dengan anak kecil yang biasa bermain di sini saat musim panas."
Kyungsoo melihat Jongin melakukan tarian kecil di sekitar air mancur itu. Ia ingin menjambak rambutnya karena frustasi.
"Pertama, mereka adalah anak kecil. Kedua, aku tidak membawa baju ganti. Dan ketiga, tidak ada orang gila yang bermain air di udara sedingin ini, dumbass!"
"Apa?" Jongin mengeluarkan gesture seakan tidak menangkap suara Kyungsoo dengan jelas. "Aku tidak bisa mendengar perkataan dari seorang pengecut."
Kyungsoo menggertakkan gigi sedang Jongin beputar dengan gerakan mengejek, menggoda Kyungsoo.
"C'mon, grow some balls!"
"Yah, Kim Jong Shit! You're a dead meat!"
Kyungsoo buru-buru melepas sepatunya lalu berlari mengejar Jongin. Percikan air mulai membasahi rambutnya, kemejanya, dan Kyungsoo beberapa kali memejamkan mata ketika air mengenai wajahnya. Senyum kemenangan terpasang di bibir Jongin mengetahui usahanya berhasil. Ia segera menghindar ketika Kyungsoo berusaha menangkapnya.
Di tengah dingin yang mengggit, tatapan orang-orang di sekitarnya, sinar bulan sabit yang malu-malu, serta warna-warni pelangi dari puluhan air mancur, Kyungsoo berlari, tergelincir beberapa kali, namun terus tertawa, tertawa, dan tertawa.
Jongin terpaku melihat Kyungsoo. Pandangannya tidak bisa beralih kemanapun selain ke lelaki itu. Ia merekam ekspresi Kyungsoo, memahat lekat-lekat pancaran kebahagiaan dari mata Kyungsoo ke dalam ingatannya.
Kyungsoo berhenti karena Jongin tidak lagi menghindar. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya lelaki itu gusar.
Isi kepala Jongin menjerit, i love you i love you i love you, you're so precious, please be mine
Tapi Jongin menelannya kembali, ia yakin nanti akan ada waktu yang lebih tepat.
Jongin mengulurkan tangannya ke arah Kyungsoo. "Menginaplah di apartemenku. Aku tidak bisa menjelaskan ke orang tuamu kenapa kamu pulang tengah malam dalam keadaan basah."
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Biarkan itu menjadi masalahku."
"No, Kyungsoo. Aku yang membawamu kesini, aku punya tanggung jawab atas kamu. Jangan melawan."
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Kyungsoo akhirnya membalas Jongin dengan anggukan pelan.
Mereka tidak mengerti apa yang membuat mereka terkikik selama perjalanan pulang. Awalnya, Jongin menyetel musik untuk menutupi kecanggungan karena keduanya tidak mengenakan apapun selain bokser. Kecanggungan itu menghilang saat Kyungsoo mulai bersenandung kecil mengikuti lagu yang sedang diputar. Jongin baru mengetahui Kyungsoo punya suara serupa lelehan coklat. Manis, lembut, sekaligus hangat. Walaupun ia sudah bisa menebaknya sejak mendengar desahan Kyungsoo, (pada kejadian yang sangat berbeda dengan sekarang, Jongin berdehem, memaki isi kepalanya yang kotor) tapi mendengar Kyungsoo bernyanyi dalam melodi adalah suatu hal yang begitu menyenangkan telinganya.
Tanpa sadar, Jongin membelai pipi Kyungsoo dengan ibu jarinya sembari berkata, "Kamu punya suara yang indah." Jongin mengira lelaki itu akan memborbardirnya dengan umpatan, namun Kyungsoo justru tersenyum. Jongin hampir kehilangan fokus dari jalanan di depannya.
Kyungsoo menggoda Jongin untuk ikut bernyanyi. Jongin mengelak, mengungkapkan suaranya akan membuat Kyungsoo mati tercekik, tapi Kyungsoo terus memaksa. Akhirnya, mereka berdua bernyanyi dengan volume tidak wajar dan Kyungsoo tergelak karena Jongin tidak bohong mengenai kemampuan buruknya dalam bidang tarik suara. Jongin tidak tersinggung, ia justru memadukan tawanya dengan Kyungsoo. Lalu mereka mulai menertawakan hal-hal kurang penting yang setelahnya mereka pikir tidak lucu sama sekali (seperti menyedihkannya lampu kuning karena hanya menjadi perantara antara lampu merah dan hijau, bagaimana irinya binatang lain karena ada zebra cross tapi tidak ada gorilla cross atau tiger cross).
Ketika mereka bersiap untuk keluar setelah Jongin memarkirkan mobilnya, sebuah jeda panjang terjadi sewaktu tatapan mereka bertemu. Bagi Jongin, mata Kyungsoo adalah jebakan tanpa jalan keluar. Ia terperangkap di dalamnya, tapi tidak menginginkan untuk lepas sama sekali. Kyungsoo tidak juga mengalihkan pandangan. Wajah Kyungsoo terlihat begitu berbinar di bawah remang cahaya lampu mobil, membuat arus listrik puluhan ampere merambat ke seluruh organ tubuh Jongin. Dalam waktu yang sangat lambat, Jongin menghabisi jarak di antara mereka.
"Aku ingin membuat pengakuan." Bisik Jongin, nafasnya berhembus ke pipi Kyungsoo dan Kyungsoo tidak siap. Ia tidak siap dengan dentuman genderang dalam dadanya. "I always adore your eyes, Kyungsoo. They're so dazzling."
Kyungsoo merasa dunia mengerucut, menjelma menjadi manusia bernama Kim Jongin.
Dan ketika Jongin mencium bibirnya terlebih dahulu, semuanya terasa berbeda. Ini bukan ciuman pertamanya dengan Jongin, Kyungsoo sadar. Namun sensasi dalam hatinya berkata lain. Kyungsoo membalas ciuman Jongin, menyelipkan lidahnya di antara kedua bibir Jongin hingga lelaki itu mendesah. Kyungsoo masih saja mengecap kopi dan mint di bibir Jongin yang ia tidak tahu darimana asalnya.
Ciuman itu manis, mengingatkan Jongin akan gulali di masa kecilnya. Ia hampir gila sedang benaknya enggan berhenti merapalkan Kyungsoo, Kyungsoo, Kyungsoo, Kyungsoo.
Beruntungnya, Kyungsoo cukup waras untuk menghentikan ciuman itu. Karena Jongin mulai berpikir ia bisa saja menghabiskan malam di dalam mobil agar bisa merasakan bibir Kyungsoo lebih lama lagi.
"Mu-Mungkin kita bisa teruskan ini di kamarmu?" ujar Kyungsoo parau.
Jongin tidak butuh menimbang dua kali, ia segera keluar dari mobil. Jongin menarik Kyungsoo melupakan fakta bahwa mereka sedang setengah telanjang. Jongin menekan tombol elevator terburu-buru, merengkuh Kyungsoo ke dekapannya ketika pintu elevator terbuka, lalu menghujani Kyungsoo dengan banyak kecupan singkat hingga lelaki itu terkikik.
Jongin berusaha memasukkan password apartemennya, dengan bibir yang kembali bertautan dengan Kyungsoo. Lelaki itu melingkarkan tangannya ke leher Jongin, berupaya mengganggu usaha Jongin membuka pintu apartemennya. Setelah Jongin berhasil, ia segera menghimpit Kyungsoo di balik pintu, mengalihkan bibirnya untuk menjelajahi Kyungsoo. Dari belakang telinga, leher, bahu, dada, terus turun, turun, memastikan tidak melewatkan satupun bagian tubuh Kyungsoo.
Dengan sebuah senyum terangkai di bibir, Jongin bangkit lalu menarik Kyungsoo ke ruang tidurnya.
Kyungsoo menghabiskan waktunya sebisa mungkin untuk menelusuri wajah Jongin yang kini ada di atasnya. Entah kenapa, ia menyukai hidung Jongin yang sedikit bengkok. Mungkin karena bagian itu mengingatkan Kyungsoo bahwa Jongin bukan sebuah manekin yang tanpa cela.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jongin sambil mulai membuka satu-satunya pakaian yang tersisa di antara mereka.
You, Kim Jongin. "Your dick?"
Way to ruin the moment, Do Kyungsoo. Keluhnya dalam hati.
Namun ketika melihat Jongin tertawa, Kyungsoo bernafas lega. Jongin memperlakukannya dengan halus malam itu. Seakan ia adalah barang berharga yang rapuh. Kyungsoo menikmati bagaimana Jongin mendesah, melenguhkan namanya. Semuanya terasa sangat memabukkan. Jongin dengan sengaja membuat permainan itu begitu pelan. Bukan untuk menggoda Kyungsoo, ia ingin mereguk tiap suara dari bibir lelaki itu. Ketika Kyungsoo menancapkan kukunya kuat, Jongin mempercepat gerakannya. Mereka menjerit ketika mencapai kepuasan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Jongin segera membersihkan kekacauan yang mereka timbulkan sebelum akhirnya berbaring. Keduanya tidur berhadapan dengan kaki saling bermain di bawah selimut. Kyungsoo tidak berani membuka percakapan karena ia sadar, dalam keadaan seperti ini apa yang keluar dari mulutnya bukanlah kalimat romantis. Ia tidak ingin merusak suasana.
Jongin membiarkan hening menguasai, hingga ia tertidur tidak lama kemudian. Kyungsoo masih menatap lelaki itu dalam diam. Ia menyibakkan rambut Jongin sambil mendaratkan satu kecupan di kening lelaki itu. "Thankyou, Jongin." Kyungsoo tersenyum tipis lalu kembali berbisik, "Thankyou so much."
Matahari Sabtu pagi adalah sesuatu yang paling menganggu Jongin. Ia benci dengan tirai putih apartemennya yang membuat sinar matahari terlihat lebih terang di dalam kamarnya. Terlebih lagi, pagi ini bunyi bel pintu menggaung tanpa henti sedari tadi. Jongin menggeram kesal. Ia membekap kepalanya dengan bantal tapi suara bel itu tidak kunjung lenyap. Dengan mata mengantuk dan banyak umpatan, Jongin memakai celana asal-asalan lalu menuju ke depan. Ia segera membuka pintu itu dengan gusar.
Akan tetapi, rasa kantuk Jongin hilang dalam sekejap ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
"M-Mom?"
END OF CHAPTER 2 : TO BE CONTINUED
Kenapa jadi fluffy, kak? Eng, anu ._.
Kelamaan nggak? Akhirnya memutuskan buat bikin three shots, so chapter depan bakal jadi chapter terakhir :3 Setelah itu mau nerusin Sidestory HunHan yang engga kelar-kelar. Semoga ga ada yang nungguin, hahaha *penggal pala author*
Eh, mau nanya siapa tahu ada yang mau baca. Lebih enakan pake 'Kamu' atau Kau' karena ini kedua kalinya aku dapet teguran soal itu. Kalo menurut yang lain gimana? Soalnya, kalo pake 'Kau' biasanya aku berubah baku banget, hehehe.
Lastly, ditunggu kritik saran serta review-nya!
KAISOO FTW!
—RedSherr88
