Half Light
Summary : Penat dengan semua masalah yang dihadapinya, Midorima Shintarou berniat untuk menenangkan diri dengan berlibur. Diluar dugaan, liburan yang seharusnya menyenangkan malah membuat nyawanya hampir melayang.
Disclaimer : I own nothing except the plot :)
Warning : AU. OOC parah. Rated just in case. No Lemon. Enjoy reading :)
"Isabelle sudah meninggal 10 tahun yang lalu"
Midorima sangat terkejut dengan kalimat terakhir yang diucapkan pemilik toko ikan tadi. Dia hampir menjatuhkan gelas sakenya dari tangannya.
"Tidak mungkin! Aku bersamanya beberapa hari ini. Dia tidak mungkin sudah meninggal. Anda pasti salah" wajah Midorima berubah pucat. Beberapa hari ini, ia bersama Isabelle. Mengobrol bersamanya, memancing di danau bersama bahkan tidur dengan wanita itu. "Isabelle tidak mungkin sudah meninggal" batin Midorima
"Tapi dia memang sudah meninggal. Aku yang menaburkan abunya di danau Tazawa" Tuan Nakatani tidak terlihat berbohong. Begitu pula dengan seluruh warga kota. Mereka malah memandang Midorima seakan dirinya hanya sedang berhalusinasi tentang Isabelle.
"Tidak! Tidak mungkin! Dia nyata! Isabelle itu nyata!" Midorima setengah berteriak. Dirinya masih belum bisa menerima kenyataan kalau Isabelle itu hanya halusinasinya. Wanita itu terlihat sangat nyata. Midorima sangat yakin dengan hal itu. Dia memegang tangan wanita itu, memeluknya, menciumnya, menyentuhnya, semuanya nyata! Dia yakin dengan seluruh akal sehatnya kalau Isabelle itu nyata!
"Seperti apa Isabelle-mu itu?" Nyonya Nakatani berusaha bersikap realistis. Mungkin saja ada seseorang yang mengaku bernama Isabelle pada Midorima.
"Dia tinggal di bukit di seberang danau. Rambutnya hitam, tapi dia selalu mengikatnya. Dia sering memakai gaun panjang berwarna putih. Gaun ala Eropa jaman dulu, yah seperti itulah" Midorima menuturkan cirri-ciri Isabelle sambil masih berusaha mengatasi perasaan shocknya.
"Dan dia memang Isabelle " Nyonya Nakatani menutup mulut setelah mengatakannya, terlihat shock saat Midorima menjelaskan ciri-ciri Isabelle.
"Kalau Anda tidak percaya, mari ikut aku!" Midorima memberi usul. Pria itu berniat mengajak Tuan Nakatani ke rumah Isabelle. "Dia pasti percaya bila dia melihat langsung" pikir Midorima.
"Baiklah" Pria tua itu menyetujui usul Midorima. Keduanya pun bergegas menuju dok kecil kemudian mengendarai perahu motor milik Midorima menuju rumah Isabelle. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di bukit itu. Midorima menambatkan perahunya dengan sekedarnya. Pikirannya kini dipenuhi wanita itu. Isabelle, siapa kau sebenarnya?!
Mereka menghampiri rumah Isabelle yang terlihat sepi. Tidak ada keberadaan wanita itu dimanapun. Tirai-tirai rumah itu tertutup rapat. Midorima mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Dia pun memutar kenop pintu, bola matanya membesar ketika mengetahui pintunya tidak terkunci.
Keadaan didalam rumah pun gelap gulita. Midorima mencoba menyalakan saklar lampu namun nihil. Listrik di rumah itu mati. Tuan Nakatani membuka beberapa tirai agar cahaya matahari masuk menerangi rumah itu.
Betapa terkejutnya Midorima dengan keadaan di rumah itu. Semua perabotan ditutupi kain besar berwarna putih. Tidak seperti saat ia tinggalkan tadi pagi. Semakin ia menyusuri ruangan-ruangan di rumah itu, dia seperti masuk kedalam rumah tak berpenghuni. Rumah ini berbeda 180 derajat, padahal baru tadi pagi ia tinggalkan.
"Tidak mungkin!" Midorima masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tuan Nakatani berjalan ke arah sebuah lemari kayu yang berada di ruang tengah. Dia menyibakkan kain penutupnya sedikit kemudian membuka laci pertama lemari itu, mengeluarkan sesuatu dari dalam laci tersebut, sebuah bingkai foto usang, lantas memperlihatkan pada Midorima.
"Ini Isabelle" katanya dengan ekspresi sedih. Midorima melihat foto di bingkai itu. Foto seorang wanita dengan memakai gaun putih panjang era abad pertengahan Eropa yang sedang berdiri dengan pose menyamping. Wanita itu tersenyum dan tampak bahagia.
" Iya. Isabelle-ku juga seperti dia" Midorima berkata lirih. Senyuman itu, gaun itu, tatanan rambut itu sama persis dengan Isabelle saat ia pertama kali bertemu dengannya.
"Isabelle meninggal 10 tahun lalu. Kami menemukan jenazahnya tenggelam di dasar danau tak jauh dari bukit ini dengan keadaan kakinya yang terikat pada sebuah jangkar besar. Kami pikir dia bunuh diri karena beberapa hari sebelum jenazahnya ditemukan, suaminya melaporkan kalau dia hilang" Tuan Nakatani mulai menceritakan masa lalu Isabelle.
"Tapi Isabelle tidak mungkin bunuh diri. Aku dan istriku sangat mengenalnya. Dia wanita yang sangat ramah dan periang. Beberapa minggu sebelum kejadian itu, kami memergoki suaminya berselingkuh dengan sahabat Isabelle sendiri, Rin. Aku ingin mengatakannya pada Isabelle, tapi istriku melarangnya. Dia tidak ingin Isabelle menjadi sedih karena suaminya berselingkuh. Isabelle sangat mencintai suaminya" Tuan Nakatani melanjutkan ceritanya. Midorima mendengarkan dengan seksama, tangannya menggenggam bingkai foto itu dengan erat.
"Iya. Dia sangat mencintai suaminya" lirih Midorima. Dia tidak menyangka nasib Isabelle berakhir tragis seperti itu.
"Sampai sekarang aku masih menganggap kalau Isabelle tidak bunuh diri. Dia pasti dibunuh. Entah oleh siapa, tapi dugaanku dia dibunuh oleh suaminya sendiri yang tidak bisa menceraikan Isabelle karena ingin menikahi Rin. Tapi itu hanya dugaanku. Kasus ini pun ditutup dengan kesimpulan Isabelle bunuh diri"
"Lalu dimana suaminya sekarang?"
"Beberapa bulan setelah kematian Isabelle, suaminya meninggalkan rumah ini dan pergi keluar kota bersama Rin. Tapi keduanya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal"
"Isabelle pasti tidak memaafkan mereka" kata Midorima. Tuan Nakatani mengangguk setuju.
"Sejak saat itu sampai sekarang, rumah ini kosong. Beberapa turis yang menyewa pondokmu mengaku melihat cahaya dari rumah ini saat malam. Beberapa dari mereka juga mengaku pernah melihat seorang wanita memakai gaun putih panjang ala Eropa sedang berjalan-jalan di sekitar rumah ini saat mereka berkeliling di danau dengan perahu" ujar pria tua itu, membuat Midorima merinding seketika. Mungkinkah Isabelle hanya arwah gentayangan?
"Tapi aku mengobrol dengannya, berjabat tangan dengannya. Dia terlihat nyata. Aku tidak mungkin berhalusinasi!" Midorima masih bersikeras. Bila bukan Isabelle yang bersamanya, lalu siapa? Tidak mungkin orang lain karena wajah mereka sangat mirip dan sangat mengenal rumah dan bukit ini, bahkan keluarga Takao yang menyewakan pondoknya pada Midorima.
"Aku tidak tahu. Buktinya dia tidak berada disini kan?!" Tuan Nakatani masih memandangnya dengan tatapan prihatin.
"Jadi maksudmu aku bertemu dengan arwah gentayangan?" tanya Midorima. Pria tua itu menatap Midorima lekat-lekat, dia tak ingin meragukan cerita Midorima tapi kemudian mengangguk pelan.
xoxoxo
Sudah dua hari sejak Tuan Nakatani menceritakan semuanya, Midorima sama sekali tidak keluar dari pondoknya. Dia hanya duduk sambil memandangi rumah Isabelle. Midorima berharap bisa bertemu dengan wanita itu meski wanita itu mendatanginya dengan melayang di udara seperti hantu. Tapi didalam hati kecil Midorima, dia yakin Isabelle itu nyata.
Dia pernah membaca tentang hantu dan semacamnya, tapi Isabelle yang ditemuinya benar-benar seperti seorang manusia. Tubuhnya hangat, hingga saat ini pun Midorima masih bisa merasakan detak jantung wanita itu seperti saat mereka tidur berpelukan. Merasakan kehangatan wanita itu saat mereka bersatu. Hal itu nyata!
"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin arwah gentayangan. Dia nyata. Aku yakin itu" Midorima meyakinkan dirinya sendiri. Dia lantas meraih ponselnya untuk menelpon Aomine. Dia ingin menceritakan tentang Isabelle kepada sahabatnya itu dan berharap Aomine bisa memberinya pemikiran yang cukup logis karena hampir seluruh warga kota menganggapnya sedang berhalusinasi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan mencoba beberapa saat lagi" Aomine tidak bisa dihubungi. Midorima mencobanya beberapa kali lagi namun jawabannya sama.
"Kemana dia?" Midorima menggerutu. Dia berpikir akan menghubungi Kise, tapi mengurungkan niatnya karena Kise pun tidak tahu keberadaannya saat ini atau tentang liburannya kali ini. Dia hanya mengatakan tujuannya pada Aomine.
Dia bahkan merahasiakan tentang kepergiannya dari istrinya dan keluarganya. Midorima ingin menyendiri dan menenangkan diri dari masalah yang tengah dihadapinya. Tapi, dia malah mengalami hal aneh dengan seorang wanita misterius nan mempesona bernama Isabelle.
Malam pun tiba, Midorima mengemasi barang-barangnya dan berniat akan pulang ke Tokyo besok pagi. Perhatiannya tertuju pada sebingkai foto yang tergeletak di kasurnya. Foto Isabelle. Dia meminta izin kepada Tuan Nakatani untuk menyimpan foto wanita itu. Wanita yang telah membuatnya merasa hidup kembali walaupun sebenarnya dia sudah mati. Midorima duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi foto itu. Cantik sekali. Aku harap kau memang nyata, Isabelle.
Tiba-tiba sebuah cahaya terlihat dari rumah Isabelle. Anehnya kali ini cahaya itu berkedip-kedip seperti sandi Morse. Awalnya Midorima tidak menyadarinya. Hingga ia yakin kalau cahaya itu membentuk sandi Morse "HELP" berarti tolong. Tanpa pikir panjang, Midorima pun langsung keluar dari pondoknya dan bergegas menuju doknya, mengarahkan perahunya ke rumah Isabelle.
Seperti tertarik oleh kekuatan magis, Midorima tidak peduli dengan kegelapan dan keheningan di bukit itu. Dia tetap menuju ke rumah Isabelle yang kini terang benderang. "Mungkin Isabelle butuh pertolongan. Mungkin dia sedang ketakutan sekarang" pikirannya dipenuhi oleh beragam spekulasi tentang wanita itu. Dia sepertinya lupa kalau Isabelle sudah meninggal bertahun-tahun sebelum dirinya datang ke tempat ini. Sang pianis itu mulai kehilangan akal sehatnya.
Dia tiba di depan rumah, memutar kenop pintu perlahan. Rumah itu tidak terkunci. Beberapa lampu menyala, padahal tadi siang dia tidak bisa menyalakannya satupun. Keadaan rumah pun sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Isabelle dirumah itu. Tiba-tiba…
"Bukkkk!" sebuah benda keras menghantam kepala Midorima dari belakang. Midorima langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
"Sudah kubilang dia akan datang" kata Satsuki yang muncul dari belakang tubuh Aomine. Pria berkulit gelap itu baru saja memukul kepala Midorima dengan sebatang balok kayu yang cukup berat. Satsuki masuk ke rumah kemudian mematikan semua lampu sementara Aomine menyeret tubuh Midorima keluar rumah. Keduanya membawa Midorima hingga ke dok dan meletakkan tubuhnya ke perahu motor milik Isabelle.
Aomine mengikat kaki Midorima dengan tali yang sangat kuat pada sebuah jangkar besar sementara Satsuki menyalakan perahu motor dan mengendarainya memutar ke arah belakang bukit dan rumah itu.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Aomine. Dia agak tak yakin dengan rencana dadakan Satsuki ini.
"Tentu saja" Satsuki menjawab mantap. Mereka pun tiba di sebuah sudut kecil antara bukit itu dengan sebuah batu besar. Tanpa sepengetahuan mereka, Midorima sudah sadarkan diri sejak tadi. Dia membuka matanya perlahan. Kepalanya masih sakit akibat hantaman tadi. Tapi dia bisa melihat dengan jelas kalau sahabat baiknya dan istrinya kini sedang berada didepannya, berusaha membunuhnya.
"A-apa ya-ng ka-kalian la-lakukan?" Midorima berusaha bangkit meski kepalanya sakit. Tapi ia tidak berdaya karena tangan dan kakinya terikat kuat. Aomine dan Satsuki tersentak kaget melihat Midorima yang telah siuman.
"Seharusnya kau pukul lebih keras" Satsuki mengomeli Aomine.
"Aku sudah memukulnya cukup keras!" kata Aomine. Dia pun buru-buru melemparkan jangkar kedalam danau. Jangkar itu meluncur dengan cepat ke dasar danau dan menarik tubuh Midorima kedalam air. Perahu agak miring ketika tubuh Midorima mulai tercebur kedalam danau. Midorima panik, ia berusaha berpegangan pada pinggiran perahu hingga perahu itu kehilangan keseimbangan, tapi Satsuki buru-buru melepaskan pegangan tangan Midorima.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Midorima. Air matanya menitik dari ujung matanya. Dia tidak percaya, istrinya berkomplot dengan Aomine-sahabatnya sendiri untuk menghabisi nyawanya.
"Maafkan aku Shintarou. Tapi kau harus mati!" Satsuki mendorong tubuh Midorima dengan kuat hingga pegangan Midorima terlepas dan masuk kedalam air. Jangkar itu menarik tubuhnya dengan cepat kemudian berhenti setelah mencapai dasar danau.
Seluruh tubuhnya sudah berada didalam air, dia berusaha berenang keatas tapi tali itu mengikat kakinya dengan kuat. Midorima masih bisa mendengar suara perahu motor Satsuki dan Aomine yang meninggalkan tempat itu, meninggalkan ia yang mungkin akan mati tenggelam sebentar lagi.
Tenaga Midorima makin melemah. Dia hampir kehabisan napas. Dia pun menghentikan usahanya melepaskan diri. Tiba-tiba dia teringat kembali pada Isabelle.
"Jadi seperti inilah yang kau alami?!" batin Midorima. Dia tidak menyangka akan mengalami nasib seperti Isabelle yang dikhianati oleh pasangan hidupnya dan sahabatnya sendiri. Midorima memejamkan matanya. Dia sudah benar-benar kehabisan napas. Aku akan mati. Aku akan mati, Isabelle!
Namun, tiba-tiba ia merasakan sebuah gerakan didekatnya, dia membuka matanya perlahan dan..
"Isabelle!" serunya dalam hati saat sosok Isabelle kini berada didepannya. Rambutnya yang panjang terurai dengan indah, pantulan cahaya bulan di permukaan danau sedikit memberi penerangan didalam air. Wanita itu tersenyum kemudian mencium bibir Midorima berusaha memberikan pernapasan bantuan. Setelah itu, Isabelle bergerak kearah kaki Midorima yang terikat dijangkar kemudian memotong talinya.
Meski sudah diberi pernapasan bantuan, tapi keadaan Midorima semakin melemah karena dia sudah berada didalam air cukup lama. Midorima pun tak sadarkan diri. Isabelle berenang ke atas permukaan danau sambil memegangi tubuh Midorima. Dia terus berenang hingga ke tepi danau tak jauh dari dok rumahnya. Dia menyeret tubuh Midorima hingga menjauhi permukaan danau.
"Sudah kuduga, mereka pasti akan tetap membunuhnya" katanya lantas memberikan pernapasan bantuan pada Midorima lagi.
"Kumohon bertahanlah" katanya sambil terus memberikan pernapasan bantuan pada Midorima tapi pria itu tidak kunjung siuman. Detak jantungnya kian melemah.
"Kumohon bangunlah!" air matanya mulai menetes dari ujung matanya saat Midorima tidak bereaksi apa-apa. Dengan segenap hatinya, dia tidak ingin Midorima mati.
"Kumohon! Shintarou, bangunlah!" Isabelle berteriak pelan. Lalu, ada gerakan pelan dari Midorima. Pria itu batuk perlahan berusaha mengeluarkan air dari tenggorokannya. Dia mulai membuka matanya, dan tersenyum saat melihat sosok Isabelle berada disampingnya sekarang.
"Syukurlah kau baik-baik saja" ada kelegaan yang luar biasa dari nada suara Isabelle saat Midorima akhirnya sadarkan diri. Dia pun memeluk pria itu.
"Aku tahu kau nyata. Aku yakin kau nyata" ujar Midorima sambil memegang wajah Isabelle. Kini dia makin yakin kalau Isabelle benar-benar nyata. Wanita itu sudah menyelamatkan nyawanya. Tapi Isabelle tidak memakai gaun seperti yang biasa ia pakai. Saat ini, dia memakai jaket kulit dan celana panjang kulit serta membiarkan rambutnya terurai hingga pinggang.
"Kau akan baik-baik saja mulai sekarang" dia berbisik ditelinga Midorima. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah botol beling kecil berbentuk pipa bulat dan panjang. Dia mengocok botol itu beberapa kali kemudian membuka tutupnya lantas mengarahkannya ke hidung Midorima. Saat Midorima menghirup aroma dari cairan yang berada di botol itu, dia pun kembali tak sadarkan diri.
xoxoxo
Midorima membuka matanya perlahan. Dia memandang ke sekeliling. Butuh beberapa menit sampai ia benar-benar yakin kalau dia sudah berada di kamarnya di pondoknya. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela sedikit menyilaukan matanya. Dia menarik selimutnya dan berusaha melindungi diri dari silaunya sinar matahari.
"Ah~ kau sudah bangun rupanya" Nyonya Nakatani masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan kemudian meletakkannya diatas meja kecil disebelah tempat tidur Midorima. Semangkuk mie soba yang hangat, semangkuk nasi dan sepiring salad serta secangkir ocha panas. Aromanya membuat selera makan Midorima muncul. Dia memang merasa lapar karena semalam dia tidak makan malam. Nyonya Nakatani membantunya untuk duduk.
"Arigatogozaimasu" Midorima tersenyum lemah.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nyonya Nakatani sambil menyerahkan nampan itu kepada Midorima lalu duduk disebelahnya.
"Lebih baik. Kenapa aku bisa ada disini?" samar-samar Midorima ingat bahwa semalam dia datang ke rumah Isabelle karena cahaya lampu bersandi Morse. Kemudian Aomine menyerangnya. Satsuki juga ada disitu. Mereka berencana membunuh dirinya dengan cara mengikatkan dirinya pada sebuah jangkar dan menenggelamkannya. Lalu Isabelle menyelamatkan dirinya dan membawanya keluar dari danau.
"Kami melihat ada asap dari bukit itu. Kami takut terjadi sesuatu yang buruk, makanya kami langsung menuju kesana. Saat sampai disana, kami menemukan kau yang sedang pingsan tak jauh dari perahu motormu yang terbakar" Nyonya Nakatani menjelaskan kembali peristiwa tadi malam.
"Dimana Isabelle?" Midorima menanyakan wanita itu. Nyonya Nakatani kembali memandanginya dengan tatapan aneh.
"Tidak ada siapa pun disana. Hanya kau seorang" katanya. Midorima tahu Nyonya Nakatani pasti akan berkata seperti itu. Dia pun memilih diam, tak ingin bersikeras dengan apa yang telah dilihatnya tadi malam. Isabelle benar-benar nyata dan wanita itu telah menolongnya tapi tidak akan ada yang percaya padanya. Midorima pun hanya menyimpan kenyataan itu untuk dirinya sendiri.
"Makan dan beristirahatlah" Nyonya Nakatani kemudian meninggalkan Midorima sendirian. Midorima memandang kearah bukit tempat rumah Isabelle dari jendela kamarnya. Bukit itu tampak biasa seperti saat ia baru pertama kali datang. Namun, bagi Midorima bukit itu menyimpan kenangan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Disana ia bertemu dengan Isabelle dan jatuh cinta padanya. Disana pula istrinya dan sahabatnya mencoba membunuhnya entah karena alasan apa. Mungkin alasan yang sama seperti suami dan sahabat Isabelle saat mereka menghabisi nyawa wanita itu.
" Terima kasih Isabelle" Midorima tersenyum.
xoxoxo
Dua bulan kemudian, Perfektur Akita
Midorima kembali ke kota Semboku, kembali mengunjungi danau Tazawa. Kali ini dia datang untuk berlibur dan berusaha meredakan kesedihan karena duka yang mendalam setelah kematian Aomine dan Satsuki yang mengenaskan.
Seminggu setelah percobaan pembunuhan yang mereka lakukan pada Midorima, keduanya mengalami kecelakaan mobil saat kabur diam-diam ke Busan. Keduanya tewas seketika. Meski mereka pernah berusaha membunuhnya tapi Midorima tetap merasakan duka yang mendalam. Keduanya pernah menjadi orang-orang terpenting dalam hidupnya. Dia sangat menyayangi keduanya. Dan Midorima cukup shock karena kejadiannya persis seperti yang dialami Isabelle.
Midorima pun menempati pondok yang sama. Tempat itu tidak banyak berubah. Midorima berniat membeli pondok itu agar ia bisa datang kesini sesuka hatinya karena hanya disinilah ia bisa mengenang Isabelle dan merasa dekat dengannya.
xoxoxo
"Halo" wanita itu mengangkat teleponnya yang berdering saat ia sedang duduk di sebuah batu besar sambil memandang kearah danau Tazawa.
"Kau sudah sampai?" tanya seorang pria yang berada diujung telepon.
"Sudah dari kemarin. Kenapa baru menelponku sekarang?" wanita itu terdengar kecewa karena lawan bicaranya telat menanyakan kabarnya.
"Iya maaf. Aku sedang dalam misi. Harusnya kau senang karena aku masih menyempatkan waktuku yang sangat berharga untuk menelponmu"
"Huh? Jadi aku harus bilang wow gitu?!" wanita itu mengerucutkan bibirnya, kesal pada pria pelupa diujung telepon yang berjanji akan segera menelponnya saat dia tiba di Akita.
"Jadi, kau sudah bertemu dengan pria itu?" lawan bicaranya mengalihkan topik pembicaraan, tak ingin berlama-lama berdebat dengan wanita itu.
"Disini? Belum. Mungkin ia tidak akan datang kesini dalam waktu dekat" wanita itu terdengar sedih sambil memainkan sebuah ranting pohon kecil dengan tangannya, menuliskan namanya ditanah.
"Hahaha! Pria itu sungguh hebat! Bisa membuat adikku yang bodoh ini bersedih seperti itu" lawan bicaranya tertawa sambil meledek wanita itu.
"Hei! Aku tidak bodoh!" sergah wanita itu dan makin sewot karena kakaknya meledeknya. Kakak laki-lakinya itu malah tertawa keras diujung telepon.
"Tapi dia memang hebat " lanjut wanita itu lagi. Wajahnya bersemu merah saat kembali memikirkan pria itu. Mengingat momen-momen indah saat bersamanya. Saat mengobrol dengannya, saat berciuman dengannya dan saat bersatu dengannya.
"Iya dia hebat. Dia bisa membuatmu berpaling dari misi dan memilih untuk menyelamatkan nyawanya daripada membunuhnya"
Wanita itu mengiyakan. Midorima Shintarou mungkin bukan pria yang luar biasa. Dia hanya seorang pianis musik klasik yang sangat berdedikasi pada profesinya. Selain itu dia hanya seorang pria biasa yang memiliki nasib jelek karena istri dan sahabatnya bersekongkol untuk membunuhnya demi harta warisan. Sungguh tragis. Baguslah mereka berdua sudah mendapat karma sebelum dirinya membunuh mereka.
Wanita itu teringat kembali saat Satsuki menceritakan tentang Midorima yang memiliki temperamen buruk dan sangat kasar. Satsuki bilang Midorima mencoba membunuhnya karena ingin menikah dengan wanita lain. Namun, kenyataannya terbalik. Justru Satsuki yang akan membunuh Midorima demi menikah dengan Aomine dan harta warisan.
"Aku tahu dia tidak jahat makanya aku membatalkan misi itu" kata wanita itu.
"Aku percaya padamu. Insting kita tidak pernah salah kan?!"
"Iya" wanita itu menghela napas lega karena instingnya kali ini pun benar.
"Hey, apa kau jatuh cinta padanya?" wanita itu tersentak dengan pertanyaan kakaknya yang begitu tiba-tiba.
"Wh-what the hell? No!" wanita itu menjawab dengan agak terbata tapi mukanya memerah. Jelas sekali ia berbohong. Dia memang sudah jatuh cinta pada Midorima Shintarou.
"Hahahaha. Aku tahu kau berbohong. Tapi kau tidak bisa membohongiku!"
"Kau ini apa-apaan! Sudahlah aku tidak ingin membahasnya!"
"Hahaha! Tidak masalah kok kalau memang benar. Walaupun kita pembunuh bayaran tapi kita juga manusia yang bisa jatuh cinta kan?!"
"Iya sih~ tapi~ "
"Tapi apa?"
"Tapi kita tidak mungkin bisa hidup bersama dengan orang yang kita cintai kan?!" wanita itu terdengar putus asa. Cinta dan profesinya rasanya mustahil berjalan beriringan.
"Ayah dan Ibu saling mencintai kan?! Mereka bisa hidup bersama sampai sekarang" ujar kakaknya, berusaha membesarkan hati wanita itu.
"Tapi Ibu tahu soal profesi Ayah"
"Kalau begitu kau katakan siapa dirimu yang sebenarnya pada pria itu"
"Apa? Tidak mungkin! Dia pasti akan menjauhiku! Aku pernah berusaha membunuhnya!"
"Kalau begitu berarti dia tidak mencintaimu. Tinggalkan saja dia dan cari pria lain yang bisa menerimamu dan keluargamu apa adanya" jawab pria diujung telepon dengan gamblang.
"Onii-chan! Sudahlah! Tidak usah membahas pria itu" wanita itu mulai sebal bila kakaknya mulai menceramahinya.
"Oke, oke. Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku bila ada masalah. Bye!"
"Bye" wanita itu pun menutup teleponnya. "Onii-chan selalu sok tahu deh" dia menggerutu pelan. Dia kembali memikirkan Midorima, laki-laki yang menjadi target pembunuhannya tapi dia malah menyelamatkan nyawanya. Wanita itu berubah pikiran ketika berada didekatnya. Pria itu ramah dan hangat. Dia juga teman mengobrol yang menyenangkan. Matanya sangat tulus dan lembut, wanita itu yakin Midorima tidak mampu bersikap kasar pada siapapun apalagi seorang wanita. Instingnya tidak pernah salah.
Dia jatuh cinta pada Midorima saat pria itu menciumnya pertama kali. Ciuman lembut yang tidak akan pernah dilupakannya. Juga saat-saat dimana mereka bersentuhan hari itu. Hal itu merupakan yang pertama baginya dan Midorima dengan jujur bilang bahwa ia sudah menikah dan dalam proses bercerai dengan istrinya. Wanita itu sangat bahagia saat melewati hari-hari bersama Midorima yang singkat meski dengan identitas palsu sebagai Isabelle.
Wanita itu pun bangkit. Dia menepuk-nepuk celana jeansnya yang agak kotor kena tanah kemudian berjalan menuju rumah yang baru saja dibelinya dengan harga murah. Rumah milik Isabelle. Langkahnya berubah pelan dan hati-hati saat ia mendapati seorang pria sedang memotret pemandangan disekitar rumahnya.
"Ohayogozaimasu" wanita itu mengejutkan pria itu dari belakang, membuat pria itu tersentak kaget kemudian menoleh kearahnya,
"Ohayogozaimas…." Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia sangat terkejut melihat wanita itu. Bahkan ia hampir tersandung oleh ranting yang berada dibelakangnya saking terkejutnya.
"Apa yang sedang Anda lakukan disini?" wanita itu bertanya dengan ramah.
"Isabelle" gumam pria itu pelan.
"Eh~ maaf?" wanita itu terlihat tidak mengerti dengan ucapan pria tadi.
"Maafkan aku. Aku hanya sedang memotret pemandangan disini" pria itu menjelaskan.
"Ahh~ Begitu yaa. Pemandangan disini memang indah sih" wanita itu tersenyum lagi. Senyuman yang sama yang pernah menyapanya dua bulan yang lalu tepat disini.
"Aku Midorima Shintarou. Siapa namamu?" tanya Midorima yang penasaran karena wanita itu mirip sekali dengan Isabelle meski memakai sweater rajut dan celana panjang jeans serta membiarkan rambut hitamnya terurai hingga pinggang.
"Aku Mayumi. Hijikata Mayumi."
FIN
A/N : END! Terima kasih sudah membaca fic gaje ini :) Feel free to critic and review. Thanks :)
