"Hidden love is better than open hate."
― Matshona Dhliwayo
.
Prenote : Kurang sayang gimana lagi coba sama kalian sampe nambah chapter lagi sekarang? :)
Hope you guys like it!
.
SWEET ATTEMPTS [iii]
"M-Mom?"
Jongin berkedip tidak percaya melihat ibunya berdiri di depan apartemennya.
"Nini baby!" wanita itu segera membawa Jongin ke dalam pelukan. "Oh, aku sangat merindukanmu." Ia mengamati anaknya sejenak dengan dahi berkerut. "Kenapa kau tidak memakai baju? Apa kau baru bangun?"
Jongin yang masih diliputi rasa terkejut tidak menjawab. Ia justru melempar pertanyaan lain ke ibunya. "Sejak kapan Mom di Korea? Kenapa tidak memberitahuku?"
Mrs. Kim menjentik kening Jongin keras. "Itu karena kau tidak pernah mengangkat telepon dariku."
Setelah Jongin memberi jalan masuk, Mrs. Kim segera melangkah ke dalam. Ia melepas coat beledu serta sepatu Peep Toe-nya. Sejenak, Mrs. Kim mengamati ruang apartemen Jongin. Tidak banyak perubahan terjadi sejak kunjungannya terakhir enam bulan yang lalu.
"Mom selalu menghubungiku ketika tengah malam. Seharusnya, Mom tahu aku bukan orang yang mudah bangun." Jongin menyusul Mrs. Kim duduk di sofa. Ia masih belum menerima kenyataan bahwa ibunya datang ke Korea tanpa pemberitahuan apapun. "Aku merasa bersalah karena tidak menjemput Mom di bandara."
Mrs. Kim memutar bola mata. Ia mengacak rambut Jongin, namun anaknya masih tidak berhenti mengerucutkan bibir. "Aku bukan wanita tua yang butuh pengawasanmu, Nini."
Jongin masih ingin berusaha melawan. Akan tetapi, kerinduannya pada ibunya meredam semua itu. "Kapan Mom akan kembali ke London?"
"Apa itu bahasa halus untuk mengusirku?"
"No!" sambar Jongin cepat. "Aku benar-benar merindukan Mom. Juga Dad. Kenapa kalian tidak pernah mengijinkanku terbang ke London?"
Mrs. Kim mendesah panjang. "Karena kami tahu, kau hanya mengarang alasan agar bisa menonton pertandingan tim sepak bola favoritmu."
"Aku tidak-"
"Jangan mengelak."
"Tapi aku ser-"
"Nini, aku bisa membacamu seperti buku."
Jongin menggerutu pelan karena ibunya tahu rencana terselubungnya. Sambil mencoba menerima kekalahannya, Jongin membaringkan kepala ke pangkuan Mrs. Kim.
Wanita itu tertawa menyadari tingkah kekanakan Jongin masih belum hilang. Sebagai anak lelaki satu-satunya dari tiga bersaudara, Jongin adalah yang paling manja. Walaupun Jongin terus tumbuh dewasa, bagi Mrs. Kim ia tetaplah Jongin kecil yang selalu bersembunyi di balik kakinya ketika menangis.
Jongin memejamkan mata, menikmati sentuhan ibunya yang membelai rambutnya. Ia begitu merindukan suasana ini. Jongin berharap ibunya akan tinggal bersamanya di Korea sedikit lebih lama. Ia ingin mengunjungi restoran Cina favorit keluarga mereka, ia ingin ibunya menonton pertandingan sepak bolanya, ia ingin menceritakan banyak hal yang telah terjadi selama ini, dan mungkin mengenalkan ibunya pada-
"Kyungsoo!" Jongin terkesirap.
Ia baru menyadari sesuatu yang ia lupakan sedari tadi. Dengan terburu-buru Jongin bangkit dari pangkuan ibunya.
Dahi Mrs. Kim berkerut heran melihat anaknya berubah panik setelah menyebutkan nama seseorang. Matanya mengekor ke Jongin yang setengah berlari menuju ruang tidur. Namun, sebelum Jongin sempat mencapai pintu kamar, seorang lelaki keluar dari dalam sana. Lelaki itu mengenakan baju Jongin yang kebesaran tanpa bawahan apapun, memperlihatkan setengah bagian pahanya.
Jongin membeku di tempat.
Kyungsoo yang belum sempat mengumpulkan kesadarannya, sedikit berteriak, "Hey, Jongin aku tidak menemukan celanaku dima-"
Lelaki itu segera menutup mulut saat pandangannya bertemu dengan wanita paruh baya yang sedang membelalak ke arahnya.
Mrs. Kim dan Kyungsoo menoleh cepat ke Jongin, meminta penjelasan.
Oops.
Jongin menelan ludah.
Mrs. Kim menyilangkan kaki di kursi meja makan sambil menatap kedua lelaki yang duduk berseberangan dengannya. Ia menunggu seseorang dari mereka untuk bicara, namun tidak ada satupun yang mau bersuara sedari tadi. Anak lelakinya terlihat malu dengan pipi memerah sedangkan lelaki lainnya tidak berhenti menunduk.
"Jadi," Mrs. Kim akhirnya memulai, "mungkin kau bisa memperkenalkan diri?"
Kyungsoo mendongak menyadari pertanyaan itu ditujukan untuknya. "O-Oh, saya Do Kyungsoo. Kami teman seangkatan."
Mrs. Kim memincingkan mata. "Hanya teman?"
"Bukan." Sergah Jongin tiba-tiba. "M-Maksudku, ya. Maksudku, aku tidak tahu."
Alis Kyungsoo berkerut sementara Mrs. Kim menyembunyikan senyumnya.
"Sepertinya seseorang menyimpan perasaan lebih terhadapmu, Kyungsoo."
"Mom!" Jongin memekik dengan suara merajuk.
Kyungsoo bernafas lega mengetahui Mrs. Kim bersikap ramah kepadanya. Ia merasa hampir mati kaku karena suasana tegang di ruangan itu sebelumnya.
"Aku akan membuat hidupmu menderita jika kau membawa percakapan apapun setelah ini ke sekolah. Got it?" ancam Jongin ke Kyungsoo.
Mrs. Kim yang mendengar itu menendang kaki anaknya dari bawah meja. "Jangan bersikap kasar, anak nakal!"
Jongin mengerut di kursinya sambil mengeluh kesal, "Mom tidak pernah membelaku."
Kyungsoo tertawa melihat Jongin yang berubah seperti anak kecil saat berada di sekitar ibunya. Ia menyaksikan Mrs. Kim mulai menasehati Jongin untuk menghilangkan sifat buruknya. Jongin beberapa kali berusaha membantah, akan tetap Mrs. Kim justru memarahinya lebih gencar lagi. Rasa iri muncul dari dalam dada Kyungsoo melihat interaksi antara anak dan ibu itu.
"Kau harus memaafkannya, Kyungsoo. Anak ini memang sering bertingkah bodoh." Tutur Mrs. Kim lembut.
Kyungsoo bisa menangkap lenguhan panjang Jongin yang tidak setuju.
Mrs. Kim tersenyum sejenak lalu melanjutkan, "Apa Nini juga sering menyusahkanmu?"
Kyungsoo meredam tawanya kuat mendengar nama panggilan Jongin.
"Oh, anda tidak perlu khawatir mengenai itu. Nini," Ia menekankan kata itu sambil melirik Jongin, "adalah teman yang baik."
Mrs. Kim mengangguk puas dengan jawaban Kyungsoo. Ia segera mencubit kedua pipi Jongin kemudian meracau tentang menggemaskannya Jongin ketika masih kecil. Kyungsoo tertawa beberapa kali sedang Jongin hanya bisa merespon dengan, 'Mom, berhenti mempermalukanku'.
Kyungsoo mengagumi kemiripan fisik di antara Jongin dan ibunya. Ia bisa menemukan bibir Mrs. Kim di wajah Jongin serta bentuk mata feline mereka yang serupa. Mrs. Kim memiliki tinggi yang sama dengan Kyungsoo. Penampilannya cukup sederhana meskipun Kyungsoo yakin keluarga ini berpenghasilan tinggi. Rambut coklat gelap kemerahan wanita itu dipotong sebahu, membingkai tulang pipinya yang tinggi dengan apik.
"Oh, aku terlalu banyak berceloteh." Desah Mrs. Kim.
Jongin membenarkan pernyataan itu diikuti keluhan pasrah, "Terlambat, Mom. Aku sudah tidak bisa menyelamatkan harga diriku."
Kyungsoo dan Mrs. Kim tertawa ketika Jongin membentur-benturkan kepalanya ke meja. Pandangan Mrs. Kim beralih ke Kyungsoo yang tidak bicara sejak tadi. Mrs. Kim baru menyadari ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan seseorang yang mungkin spesial bagi Jongin.
"Ah, Kyungsoo apa kau serius hanya menganggap Nini sebagai teman? Karena aku yakin kalian baru saja melakukan hubungan yang sudah melebih batas itu."
Jongin membelalak lebar dan lutut Kyungsoo terantuk meja karena terkejut. Mendeteksi mimik panik Kyungsoo, Jongin segera menghampiri ibunya.
"Oke, cukup sampai di sini interogasinya Nyonya Besar Kim." Jongin meletakkan kedua tangannya di pundak ibunya. "Mengingat ini sudah jam dua belas siang dan seorang anak lelaki tampan belum mendapatkan sarapan, tidakkah anda merasa mempunyai tugas lain?"
"Ah, benarkah?" sahut Mrs. Kim ketus mengetahui tingkah menyebalkan anaknya.
Jongin menaik-turunkan alisnya cepat.
"Bisakah kau mempercayai kurang ajarnya anak ini?" Mrs. Kim menggerutu sambil memandang Kyungsoo.
"Oh, tenanglah Mrs. Kim. Itu sudah bukan rahasia lagi." Jawab Kyungsoo ringan.
Mrs. Kim menghela nafas, ingin menawarkan pilihan lain. Namun seakan dapat membaca pikiran ibunya, Jongin dengan cepat memotong, "No, Mom. Jangan berpikir aku akan makan makanan dari luar. Aku hanya mau masakan Mommy."
Mrs. Kim menyerah kalah. Ia menoleh ke arah Kyungsoo lalu meminta Kyungsoo untuk makan siang bersama mereka. Kyungsoo tersenyum sambil mengangguk. Ia bahkan menawarkan diri untuk membantu Mrs. Kim di dapur.
Jongin mengamati Kyungsoo yang masih duduk. Mata lelaki itu mendelik ke arahnya sementara bibirnya mengisyaratkan beberapa kata tanpa suara.
"A-Apa?" tanya Jongin bingung.
Kyungsoo melirik Mrs. Kim sejenak lalu kembali menatap Jongin sambil melakukan gerak bibir yang sama.
"Kyungsoo, bicaralah yang-"
"Pinjamkan dia celanamu, anak bodoh." Sela Mrs. Kim dengan tawa renyah.
Wajah Kyungsoo mendidih. Ia merutuk kedunguan Jongin berulang kali.
Mendapati kecanggungan di hadapannya, Mrs. Kim tidak bisa menahan keinginannya untuk menggoda pasangan-tanpa-status-jelas itu.
"Mungkin Nini ingin melihatmu berpakaian seperti itu lebih lama, Kyu-"
"MOM!" Jongin memekik dan Mrs. Kim terbahak keras.
Kyungsoo sekarang tahu darimana sifat menyebalkan Jongin berasal.
Kyungsoo bisa merasakan banyaknya perbedaan suasana antara makan malam di Kediaman Do dan makan siangnya dengan keluarga Kim tempo hari. Ia mengingat kembali bagaimana riangnya percakapan antara Jongin dengan ibunya. Walaupun Kyungsoo tetap diam seperti batu, tapi Mrs. Kim selalu berusaha membuatnya ikut bicara.
Sedangkan pada makan malam keluarganya, satu-satunya percakapan yang terjadi hanyalah antara ibu dan ayahnya, seakan-akan Kyungsoo tidak pernah ada di hadapan mereka. Kyungsoo tidak ambil pusing jika memang mereka tidak menganggapnya, ia sudah terbiasa. Namun yang membuat hatinya gusar adalah, topik yang orang tuanya bahas dari hari ke hari selama bertahun-tahun selalu sama; Kakaknya, Seungsoo.
Seungsoo baru saja mendapat beasiswa, Seungsoo terpilih menjadi presiden mahasiswa, Seungsoo sedang mengikuti olimpiade nasional, Seungsoo ini, Seungsoo itu.
Kyungsoo sampai hafal apa saja pencapaian kakaknya walaupun mereka tidak pernah berhubungan. Seungsoo memang selalu menyempatkan diri untuk menelpon Kyungsoo atau sekedar mengirim pesan singkat, menanyakan kabar. Akan tetapi, Kyungsoo tidak pernah menghiraukannya.
Suasana hati Kyungsoo mendadak buruk setiap kali Seungsoo berada di sekitarnya.
Seperti beberapa hari ini.
Kyungsoo terus mengurung dirinya di kamar menyadari Seungsoo akan berada di rumah selama seminggu. Ia bahkan berpura-pura tidur setiap kali kakaknya mengetuk pintu kamar. Namun apa yang tidak bisa terhindarkan adalah makan malam. Empat hari terakhir Kyungsoo menahan diri mendengar percakapan di atas meja itu. Ia merasa seperti makhluk tak kasat mata bagi ibu dan ayahnya. Seungsoo beberapa kali berusaha membangun percakapan yang berhubungan dengan Kyungsoo. Tapi nihil, ayah dan ibunya hanya akan menjawab pendek dengan kalimat seperti, "Ah, benarkah? Aku tidak tahu", "Oh, mungkin", sampai "Lebih baik kita membicarakan topik yang lain, Seungsoo".
Kyungsoo berusaha untuk sabar.
Malam ini, ia mengambil kursi di sebelah Seungsoo tanpa memandang ke arah siapapun di meja makan itu.
Kyungsoo dapat merasakan Seungsoo memperhatikannya sedari tadi. Lelaki itu mendesah karena adiknya masih saja dingin terhadapnya.
"Kau pulang sedikit terlambat hari ini. Ada kegiatan lain?" tanya Seungsoo dengan seramah mungkin.
Ia mengulurkan satu mangkuk nasi ke Kyungsoo, berharap Kyungsoo akan melihatnya barang sebentar saja. Tapi ternyata tidak, adiknya tetap menunduk.
"Ya." Jawab Kyungsoo pendek.
Kyungsoo menggeser tempat duduknya lebih dekat ke meja, lalu menyumpit Nakji Bokkeum ke dalam mulutnya.
"Tidak bisakah kau memperpanjang liburanmu, Seungsoo? Kami masih merindukanmu." Mrs. Do menyambar cepat.
Kyungsoo melirik mata ibunya yang berbinar ketika menanyakan itu. Ia mengunyah nasinya dengan susah payah, merasakan dadanya penuh amarah. Kenapa Kyungsoo tidak menemukan binar yang sama sekalipun ketika ibunya berbicara padanya?
"Ah, aku minta maaf, Eomma. Ada beberapa tugas yang masih menunggu untuk dikerjakan." Sesal Seungsoo
Kakaknya mulai menceritakan tentang masalah kehidupan kuliahnya. Ia juga menambahkan tentang pengalamannya bertemu banyak orang penting. Kyungsoo mendengarkan dalam diam, berkali-kali menelan kepahitan saat ayahnya menyahut dengan nada antusias.
"Kau harus belajar dari kakakmu, Kyungsoo. Jangan terus mengucilkan diri seperti sekarang." Cetus Mr. Do datar.
Kyungsoo merasakan gejolak di perutnya. Hal yang paling dibenci Kyungsoo adalah kalimat-kalimat seperti itu. Ia tidak ingin dibandingkan dengan kakaknya. Mengapa orang tuanya hanya menganggap Kyungsoo ketika ada celah untuk memakinya?
"Oh, tapi aku melihatnya diantar pulang oleh seseorang tadi siang. Kau belum mengenalkannya pada Eomma dan Appa?" tandas Seungsoo berusaha memperbaiki situasi.
"Belum." Kyungsoo kembali menjawab dengan singkat.
"Kau harus mengenalkannya pada kami, Kyungsoo." Seungsoo tertawa canggung. "Aku yakin dia lelaki yang spesial untukmu." Lanjutnya sambil mengingat ketika ia tidak sengaja melihat adiknya berciuman dengan seorang lelaki sepulang sekolah tadi.
Hening seketika menyeruak di ruangan itu. Kedua orang tuanya mematung seakan baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Tunggu..." Mr. Do menatap Kyungsoo dan Seungsoo bergantian. "Lelaki spesial?"
Seungsoo tercekat menyadari kesalahannya. Ia segera menoleh cepat ke Kyungsoo yang semakin menundukkan kepala. Lelaki itu mengenggam ujung bajunya sendiri kuat, hingga kainnya berkerut tidak beraturan.
"Appa belum tahu?" tanya Seungsoo heran.
"Mereka hanya peduli dengan segala sesuatu tentangmu." Sela Kyungsoo tiba-tiba.
Seluruh jiwanya terlalu lelah untuk menjelaskan lebih lanjut. Tidak hanya menjadi bayang-bayang Seungsoo, sekarang statusnya bertambah menjadi seorang anak dengan orientasi berbeda.
Kyungsoo menarik mundur kursinya dengan kasar. Ia sengaja mendongak agar ketiga orang di meja itu tahu kemarahannya. "I'm full."
Kyungsoo berjalan secepat mungkin ke kamarnya, kemudian menguncinya. Ia meringkuk di tempat tidur sambil meraih ponselnya. Bibirnya bergetar menahan tangis dan ia butuh pengalih.
"Kyungsoo?" sebuah suara menyapanya dari ujung sambungan.
Kyungsoo menghela nafas panjang agar bisa bicara. "Hey, Jongin."
"Kyungsoo? kau baik-baik saja?" Jongin terdengar sangat khawatir.
Inilah yang Kyungsoo butuhkan. Seseorang yang memang melihatnya secara nyata. Ia bisa merasakan nada tulus Jongin sedikit menenangkannya.
"Bicaralah." Bisik Kyungsoo. "Aku mohon bicaralah, apa saja."
"Hey, ada apa?"
"Jongin, kumohon." Ia tidak sengaja mengeluarkan isak pelan. Kyungsoo membekap mulutnya agar isakan itu tidak berlanjut.
"Dimana kau sekarang? Aku akan menjemputmu."
"Tapi, ibumu?"
"Mom menginap di rumah kakakku selama dua hari, tidak usah pikirkan itu. Katakan Kyungsoo, sedang dimana kau sekarang?"
"Rumah." Jawab Kyungsoo. Ia beranjak dari tempat tidur lalu mulai mengepak beberapa barang ke dalam ranselnya.
"Lima belas menit." Tutup Jongin sebelum sambungan itu terputus.
Kyungsoo mengambil beberapa buku yang ia butuhkan untuk besok pagi. Untuk pertama kalinya ia bersyukur mengapa Tuhan menciptakan Kim Jongin.
Kyungsoo benar-benar ingin pergi dari rumahnya saat ini.
Setelah memakai sepatu, ia melompat keluar dari jendela kamar menuju ke pagar depan rumahnya. Ia menarik resleting hoodie-nya sampai ujung, lalu menunggu dengan sabar. Kurang dari lima belas menit kemudian, Jongin sampai di depan rumahnya. Kyungsoo masuk dengan tergesa lalu meminta Jongin untuk berjalan secepatnya.
Jongin melihat bibir dan mata Kyungsoo yang sedikit bengkak. Kecemasannya naik sampai batas tertinggi melihat lelaki di sebelahnya terus menatap ke jendela, menghindari pandangannya. Jongin terdiam. Bertanya pada Kyungsoo apa yang terjadi adalah sesuatu yang percuma. Ia harus menunggu beberapa saat sampai emosi lelaki itu mereda.
"Tic-Tac?" Jongin menyodorkan kotak permen kesukaannya ke Kyungsoo.
Lelaki itu berpaling ke arahnya dengan mimik datar. "Tidak."
Jongin menaikkan kedua alisnya bersamaan. "Oke." Ia menelan beberapa butir permen itu ke dalam mulutnya sendiri. "Wanna go crazy tonight?"
Kyungsoo menggeleng pelan. "Aku sedang tidak ingin."
Jongin mengiggit bibir. Ia memutuskan untuk kembali berkonsentrasi mengemudi.
Berhubungan dengan Kyungsoo memiliki pasang surut tersendiri untuknya. Kadang lelaki itu bisa membalas sikap manisnya, kadang ia sama kerasnya seperti bongkahan es. Mungkin Jongin harus sedikit lebih berusaha lagi agar bisa mengerti Kyungsoo seutuhnya.
"Aku punya sedikit lelucon." Jongin mencoba usaha pertamanya untuk menghadirkan senyum Kyungsoo. "What's orange and sounds like a parrot?"
Kyungsoo mendesah. Ia sedikit tidak enak hati jika mengabaikan Jongin yang sudah bersedia menjemputnya. "What?"
"A carrot." Jongin tergelak geli. "You got it? Because carrot and par-"
"I got it, fathead." Potong Kyungsoo ketus.
Kyungsoo mengira Jongin akan berhenti setelah itu. Tapi tidak, lelaki itu masih saja meneruskan lelucon-lelucon garingnya. Jongin bahkan menertawakan leluconnya sendiri sementara Kyungsoo tetap belum merubah ekspresinya.
"Apa yang berwarna biru dan memiliki bau sama dengan cat warna merah?" Jongin melanjutkan.
Kyungsoo memutar bola mata. Ia tidak lagi membalas dan memilih menanti Jongin menjawab leluconnya sendiri.
"Cat warna biru." Jongin kembali tertawa tidak jelas. "kau mengerti? Karena bau cat akan selalu sama. Jadi-"
"Oh, Tuhan, aku tahu! Bisakah kau berhenti?" seru Kyungsoo geram. Ia memijat pangkal hidungnya karena frustasi.
"Aku baru akan berhenti jika kau tersenyum." Ujar Jongin ringan.
Kyungsoo mendengus panjang. Ia menarik paksa kedua sudut bibirnya agar Jongin bisa menutup mulut.
"Not good enough, sugar."
Kyungsoo kembali mengeluarkan senyum setengah hatinya lebih lebar.
"Sekarang, kau terlihat seperti badut seram yang ingin membunuhku."
"Aku sedang tidak ingin tersenyum. Okay?" Keluh Kyungsoo lelah.
"But, Kyungsoo, even EXO said, when you smile, sun shines—"
"Oh, stop it." Kyungsoo berpura-pura mual mendengar Jongin merayunya lewat lagu.
"—a brilliance you can't—"
"Berhenti, Jongin."
"—fit into a—"
"STOP. IT."
"—framewok of languange."
"Stubborn pig."
Kyungsoo menggigit telunjuknya sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia menahan tawa karena Jongin begitu menyebalkan dan bodoh dalam waktu bersamaan.
"Aha! kau akhirnya tersenyum!" Jongin mengatur pandangannya agar bisa tetap fokus ke jalan namun tidak melewatkan senyum Kyungsoo.
"Diam. Aku membencimu."
"But, when you smile, sun shi—"
Kyungsoo segera menampar pipi Jongin keras. Jongin melongo sambil memegangi pipinya yang terasa perih.
"Kau menamparku?" pekiknya tidak percaya. "What are you? Gadis tiga belas tahun yang memergoki kekasihnya selingkuh?"
Kyungsoo bersiap menampar Jongin sekali lagi sebagai ancaman. Namun ekspresi ketakutan Jongin memancing tawanya. "Idiot."
Ia melihat Jongin tersenyum tipis dan masalah sebelumnya perlahan hilang dari kepalanya. Bahkan nafsu makannya muncul kembali.
"Aku lapar." Celetuk Kyungsoo. Matanya menelusuri jalan di depan, mencari tempat makan terdekat di sekitar mereka.
"Burger?" saran Jongin ketika melihat restoran fast food berjarak seratus meter dari penglihatannya.
"Tidak buruk." Kyungsoo tersenyum, sedang Jongin mengatur denyut nadinya yang berantakan.
Itu adalah senyum yang ia tunggu sedari tadi.
Jongin tertidur di sebelahnya. Mereka menyelinap ke atap sekolah setelah percakapan singkat, "Aku bosan. Let's skip the next class" dan Jongin menerimanya dengan "Kau mengambil keputusan yang tepat" sambil mengeluarkan cengiran jahilnya.
Ia tidah habis pikir kenapa lelaki itu bisa terlelap dengan lengan sebagai bantal dan lantai semen yang keras sebagai alas tidurnya. Kyungsoo mendesah panjang. Pikirannya tentang pertengkaran dengan kakaknya masih belum berhenti menghantui. Ia tidak menceritakan apapun ke Jongin.
Tumbuh di keluarga yang mengacuhkannya, membuat Kyungsoo sangat buruk dalam berkata-kata.
Apa yang ia ungkapkan tidak pernah sesuai dengan apa yang ada dalam otaknya. Ia selalu gugup ketika berbicara dengan seseorang yang punya andil dalam hidupnya, terlebih pada situasi yang rumit. Kyungsoo kesulitan menemukan teman yang mau memahami kegugupannya, yang mau memahami bahwa ia tidak sengaja mengucapkan "Enyahlah" padahal ia ingin berterimakasih.
Kyungsoo telah berupaya mengubahnya. Ia memilih menjadi pendengar dalam lingkungan sosial, seperti ketika temannya berkumpul menceritakan kisah lucu mereka, atau tentang perihal cinta, bahkan saat mencurahkan masalah pribadi.
Tingkat pertemanannya meningkat sangat baik setelah itu. Ia mulai dikenal menjadi lelaki pendiam yang murah senyum—karena Kyungsoo menanggapi apapun dengan senyum daripada harus berbicara. Ia bahkan mencoba peruntungan asmaranya dengan beberapa lelaki.
Tapi para lelaki itu menganggap Kyungsoo membosankan dan terlalu antipati. Kyungsoo berhenti mencari kekasih setelahnya. Ia berpikir kehidupan dengan beberapa teman sudah cukup membuatnya bahagia.
Namun Kyungsoo salah besar.
Sebuah kejadian tak terduga terjadi ketika ia ditarik oleh Luhan—salah satu teman baiknya setelah jam pelajaran ketiganya selesai. Lelaki itu berurai air mata sambil mencengkram lengan Kyungsoo kuat. Kyungsoo segera bertanya apa yang terjadi. Luhan menangis di bahunya, ia menumpahkan kekesalannya karena ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Kyungsoo mengangguk-angguk sambil mengusap punggung Luhan untuk menenangkannya. Akan tetapi kengerian segera merambat ke seluruh tulang Kyungsoo saat Luhan bertanya dengan suara menyedihkan, "Menurutmu apa yang menyebabkan ayahku berselingkuh?"
Tidak.
Oh, jangan lakukan ini.
Kyungsoo dilanda kepanikan luar biasa. Kepalanya mengeluarkan alasan-alasan yang masuk akal untuk membuat kesan positif. Ia berusaha menangkap salah satu dari puluhan alasan itu susah payah. Kyungsoo menggigit bibir, sementara Luhan terus menunggunya mengucapkan sesuatu.
Dan setelah perjuangan panjang dengan dirinya sendiri, apa yang bergulir dari lidah Kyungsoo adalah sesuatu yang paling menyakitkan hingga Kyungsoo ingin membunuh dirinya tanpa ampun, "Mungkin ibumu pantas untuk ditinggalkan."
Luhan terperanjat. Tangisnya berhenti digantikan kemarahan yang tersorot dari dua bola matanya. Kyungsoo sangat, sangat menyesal, tetapi tentu saja ia tidak bisa meminta maaf. Mulutnya tidak dirancang untuk selaras dengan otaknya.
Apa yang Kyungsoo ingat setelah itu hanyalah, Luhan melayangkan satu pukulan ke rahang kanannya lalu meninggalkannya sendiri.
Luhan tidak pernah berbicara lagi padanya.
Namun, Kyungsoo tahu, itu adalah kesalahannya.
Setiap kali Kyungsoo tidak sengaja berpapasan dengan Luhan, lelaki itu selalu mengeluarkan mimik merendahkan. Ia kadang berbisik ke teman-temannya, lalu mereka menertawakan Kyungsoo bersamaan.
Dan Kyungsoo berkali-kali kembali mengingatkan dirinya, bahwa itu semua adalah kesalahannya.
Semenjak itu, Kyungsoo memutuskan untuk menjadi penyendiri. Tidak akan ada orang yang dirugikan karena mulut tajamnya, tidak akan ada yang sakit hati, baik dirinya maupun orang lain. Ia bersyukur Luhan memilih sekolah menengah atas yang berbeda dengannya. Kyungsoo tidak bisa membayangkan hidup dengan rasa bersalah yang menggelayut setiap kali ia melihat Luhan.
"Kau melamun lagi." Suara Jongin menariknya dari masa lalu.
Lelaki itu bangkit, lalu duduk bersila di sebelahnya.
Kyungsoo memandang Jongin sekilas. Ia berbohong jika hubungan apapun-orang-lain-menyebutnya dengan Jongin saat ini tidak membuatnya cemas. Ia bahkan telah banyak berkelahi dengan Jongin di awal hanya agar lelaki itu menjauh. Namun, semua perlakuan itu justru membawa mereka lebih dekat.
Perkara paling sulitnya adalah, Kyungsoo merasakan nadinya mendadak kacau ketika Jongin ada di dekatnya.
"Kenapa kau terbangun?" tanya Kyungsoo, memilih mengabaikan pernyataan Jongin agar tidak ada pembahasan lebih lanjut.
"Kita terlambat lima menit untuk kelas selanjutnya, idiot."
Kyungsoo melirik jam tangannya cepat. Ia lupa Ms. Im mengadakan tes tertulis hari ini.
"Shit, shit, shit!" Kyungsoo berteriak sambil memasukkan kemejanya ke dalam celana.
Jongin meraih salah satu pergelangan tangan Kyungsoo, lelaki itu tersenyum dengan mimik yang tidak tergambarkan. "Dalam hitungan ketiga, kita lari, okay? Wanita picik itu tidak pernah menoleransi keterlambatan."
Kyungsoo mengangguk lalu Jongin memulai hitungan mundurnya.
Dan ketika tangan Jongin menuntunnya kuat dalam derap langkah cepat serta tawa yang begitu lepas, Kyungsoo menyadari sesuatu.
Sebuah perasaan yang begitu kuat dan posesif kepada Jongin.
Ia tidak tahu harus membiarkan perasaan itu mengalir atau justru menghentikannya.
Kyungsoo sadar, cepat atau lambat ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Seungsoo. Sehingga, ketika ia pulang dan menemukan Seungsoo duduk di dalam kamarnya, ia tidak lagi terkejut. Kyungsoo melepas atribut seragamnya dengan malas sebelum menarik nafas panjang untuk menghadapi masalahnya dengan sikap dewasa.
"Hey." Seungsoo mencoba menyapa, nadanya rendah dengan rasa bersalah yang tersirat.
"Hey." Ia membalas sambil duduk di tempat tidur sementara Sesungsoo berada di kursi belajarnya.
Seungsoo terlihat melipat bibirnya ke dalam dengan badan membungkuk, menyejajarkan pandangan mereka. "Kyungsoo, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu-"
"It's okay, Hyung." Kyungsoo mendengus lelah.
Ia ingin meneriakkan, bukan. Bukan hanya itu permasalahan di antara mereka. Namun, Kyungsoo terjebak dengan limbo dalam kepalanya.
Seungsoo tetap terdiam di tempat. Sorot matanya penuh keraguan sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan, "Kyungsoo, aku selalu berusaha memperbaiki hubunganku denganmu. Tapi, jika kau terus mengabaikanku seperti ini, aku tidak akan pernah tahu apa yang menjadi penyebab kau begitu membenciku."
Aku tidak membencimu. Aku kecewa padamu. Jawab Kyungsoo dalam hati.
Akan tetapi, ketika melihat punggung Seungsoo menegak, Kyungsoo sadar ia telah mengucapkan itu dengan keras.
"Ap-Apa?"
Tidak ada jalan pintas untuk lari kali ini. Mau tidak mau, Kyungsoo harus mengumpulkan apa yang ingin ia ungkapkan selama bertahun-tahun.
"Aku buruk dalam menjadi seorang adik." Ujar Kyungsoo sambil menunduk. "Tapi kau juga buruk dalam menjadi seorang kakak."
Ia melirik ke Seungsoo untuk melihat perubahan ekspresi kakaknya. Seungsoo terlihat tenang dan menunggu Kyungsoo kembali meneruskan kalimatnya. "Kau memang memperbaiki keadaan, Seungsoo. Tapi, kau tidak pernah membelaku. Sekalipun."
Tangan Kyungsoo terkepal keras mengingat bagaimana Seungsoo tetap diam ketika di sekolah dasar ia dipanggil dengan 'Seungsoo-dongsaeng' sampai tidak ada yang tahu siapa nama aslinya, atau bagaimana kakaknya tahu mengenai permasalahan verbalnya selama ini tapi tidak pernah membantunya untuk mengatasi itu, atau bagimana orang tuanya jelas-jelas mengabaikannya dan Seungsoo tidak mencoba untuk bicara mengenai bagaimana perasaannya kepada orang tua mereka.
Kyungsoo bahkan yakin, ketika orang tuanya tahu mengenai orientasinya, tidak akan ada suara Seungsoo untuk menenangkan mereka atau sedikit melempar kenyataan bahwa Kyungsoo sudah dewasa dan ia bisa memilih jalannya sendiri.
"Oh, Kyungsoo." Seungsoo mendesah menyadari pada bagian mana duri penyekat di antara mereka selama ini. Ia meraih tangan Kyungsoo lalu menepuk-nepuknya kecil. "Kita sama-sama punya kekurangan, aku mengerti. Dan jika boleh jujur, milikku adalah, aku kesulitan memahamimu."
Kyungsoo menatap Seungsoo sesaat, mencari arti dalam ucapan itu. "Maksudmu?"
"Kau begitu membingungkan, Kyungsoo. Aku sempat berpikir bahwa kau membenci semua orang di dunia. Maka dari itu aku tidak mengambil tindakan. Aku tidak ingin kau menganggapku mencampuri urusanmu. Bagaimana jika hal itu membuatmu semakin membenciku?"
"Oh, omong kosong macam apa ini?" tanya Kyungsoo sinis.
"Tidak, Kyungsoo. Dengarkan aku dulu." Seungsoo menjilat bibir, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak meninggi. "Aku kakakmu, kau punya hak untuk bicara apapun, sesulit apapun itu, sebagaimanapun buruknya kau dalam mengungkapkannya. Aku sama sekali tidak akan tersinggung karena sekali lagi, aku adalah kakakmu."
"Kau menyalahkanku?"
"Oh, tidak, tidak." Sergah Seungsoo cepat. "Hanya saja, diam tidak merubah apapun. Bagaimana seseorang bisa tahu isi hatimu bila kau tidak mengatakannya terus terang?"
Kyungsoo menelan ludah perlahan. Ia melepas genggaman kakaknya, kemudian menggosok wajahnya berulang kali. Itu masuk akal.
Bagaimana jika selama ini salah satu yang membuatnya menderita adalah dirinya sendiri?
"Tapi aku tidak pernah bisa menyuarakan isi hatiku dengan benar. Aku selalu meracau, Seungsoo."
"Bukan berarti kau tidak punya kemampuan menjelaskan, kan? Pasti ada cara, Kyungsoo. Kau lebih baik membuat orang lain mengerti daripada mengubur diri dalam rasa bersalah ataupun kecewa."
Otak Kyungsoo tiba-tiba sesak dengan peluang yang ia lewatkan untuk memutar balik keadaan seandainya ia mau terbuka sedikit saja. Seandainya ia mau berusaha lebih keras untuk meluruskan kesalahannya.
"Aku butuh waktu untuk sendiri." Kyungsoo berkata lirih.
Seungsoo mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Ia mengacak rambut Kyungsoo sesaat sambil berkata, "Take your time, dongsaeng. Ingat, kau bisa memanggilku kapanpun kau butuh."
Kyungsoo mengangguk lemah. Ketika Seungsoo hilang dari pandangannya, ia segera merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang membosankan.
Terkadang dalam hidup, seseorang menerka-nerka tentang berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Sedang sisanya, mereka gunakan untuk mengulang banyak skenario buruk yang telah terjadi.
Namun untuk sekarang, apa yang Kyungsoo inginkan hanyalah melupakan apapun yang membuat getirnya kembali.
Karena ternyata bukan hanya Seungsoo, bahkan ia pun gagal memahami dirinya sendiri.
Kyungsoo tidak menghitung pada kencan keberapa kepalanya mulai teregistrasi dengan kebiasaan-kebiasaan Jongin. Ia sekarang menemukan alasan mengapa bibir Jongin terasa seperti kopi dan mint. Lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk minum kopi pada jam istirahat serta pulang sekolah karena ia mudah sekali mengantuk. Di saku celana Jongin, permen Tic-Tac hijau selalu absen berada di dalam sana. Jongin akan mengunyahnya ketika pelajaran tengah berlangsung, atau saat ia sedang mengemudi.
Jongin sendiri mulai mengetahui beberapa hal yang tidak pernah Kyungsoo bicarakan sebelumnya.
Misalnya fakta bahwa Kyungsoo bukan penggemar film horor, seperti yang ia pikirkan selama ini. Lelaki itu justru menutup matanya sepanjang film ketika Jongin mengajaknya menonton di bisokop pada kencan keempat mereka. Jongin menggoda Kyungsoo saat film itu berakhir dengan 'Bagaimana mungkin seorang Satan bisa takut dengan hantu?' dan berhenti setelah Kyungsoo menendang keras betisnya.
Fakta lain yang Jongin dapatkan adalah, Kyungsoo suka sekali makanan manis. Seperti ketika mereka membeli satu loyang Cinnamon Rolls untuk menemani kencan ketujuh mereka, menonton pertandingan Chelsea vs Arsenal. Jongin hampir tidak percaya ketika Kyungsoo menghabiskan tiga perempat bagian dari isi loyang itu sendirian.
Namun, keterkejutan Jongin berganti dengan rasa gemas saat lelaki itu menoleh dengan wajah polos, "Bisakah kita mampir membeli ini lagi sebelum kau mengantarkanku pulang?"
Oh, Kim Jongin tidak pernah punya kekuatan untuk menolak Kyungsoo.
Sebagai jawaban, Jongin justru mencium Kyungsoo. Ia melumat bibir Kyungsoo, memagutnya dengan rakus, sebelum tangannya menyelinap ke dalam celana lelaki itu. Jongin bahkan tidak peduli berapa skor akhir pertandingan karena tangannya sibuk memuaskan Kyungsoo dan desahan lelaki itu membuatnya otaknya berhenti bekerja.
Jongin akhirnya memuaskan hasratnya secara layak ketika mereka sampai di depan rumah Kyungsoo. Bermula dari sebuah ciuman perpisahan, ia tidak bisa menahan dirinya untuk mengklaim Kyungsoo lebih jauh lagi.
Hormon muda dan Do Kyungsoo adalah kombinasi yang mengerikan untuknya.
Mereka bersetubuh di kursi belakang mobil Jongin yang sempit dengan Kyungsoo di pangkuannya. Tangan Jongin mencengkram pinggang lelaki itu, menuntunnya untuk naik turun dalam gerakan dalam, cepat, dan kasar. Bibir mereka tidak berhenti bertautan, bercak kemerahan bisa ditemukan di leher keduanya, dan Jongin terus mengutuk betapa sempurna miliknya berada di dalam Kyungsoo. Seperti tubuh mereka memang tercipta untuk satu sama lain.
Dan segalanya bertambah baik bagi Jongin ketika akhirnya Kyungsoo mulai membuka dirinya tanpa perlu pancingan.
Lelaki itu membagi impiannya dengan Jongin pada kencan mereka yang kesepuluh. Ia membawa Kyungsoo menikmati kembali pemandangan malam di Gwanghwamun Square, dengan satu botol Vodka di tangan masing-masing.
"Aku ingin menjadi penyanyi." Ungkap Kyungsoo. Pandangannya menerawang pada gedung tinggi di depan mereka. "Aku selalu menemukan kebahagiaan ketika sedang bernyanyi."
Jongin tidak melepaskan matanya dari wajah lelaki yang begitu menawan di sebelahnya. "Lalu kenapa tidak? Kau punya suara yang memikat."
Kyungsoo tertawa pedih. "Itu tidak semudah yang kau bayangkan."
"Aku ingin menjadi astronot." Jongin menyahut. "Itu baru hal yang tidak mudah."
Kyungsoo menunduk dengan tawa yang sama. "Oh, tentu. Nilai pelajaran Astronomi-mu mengerikan."
Jongin menarik kedua lututnya sampai ke dada. Ia meneguk Vodka-nya beberapa kali sebelum menjawab, "Tapi tidak berarti aku harus merubah mimpiku, kan? Aku hanya perlu lebih berusaha. Sedangkan kau," Jongin mengambil jeda sejenak untuk mengenggam tangan Kyungsoo, "kau sudah memiliki bakat."
"Aku sudah katakan itu tidak semu-"
"No, Kyungsoo, listen. Jika pikiranmu terus berputar pada rintangan yang akan kau hadapi nantinya, kau hanya akan jalan di tempat." Jongin melihat Kyungsoo menggigit bibir dan ia segera merangkul pundak lelaki itu. "Beri sedikit kepercayaan pada dirimu sendiri."
Kyungsoo menatapnya heran dengan mulut sedikit terbuka, "Kemana kau membawa lari Kim Jongin yang angkuh dan menyebalkan itu?"
Jongin tergelak sambil meluruskan kakinya yang mulai pegal. "Oh, apa kau merindukannya? Aku tidak heran, karena dia memang begitu mempesona."
"Meh. He's no hotter than my butt."
Jongin melirik ke bagian bawah tubuh Kyungsoo sekilas, "Oh, aku tidak bisa melawan. Your butt is indeed the hottest."
Sebuah pukulan keras segera mendarat di lengan Jongin diiringi raut wajah Kyungsoo yang marah.
"Douchebag." Maki Kyungsoo kesal.
"Birdbrain." Balas Jongin sambil tertawa.
"Fucktard."
"Shitkicker."
"Saphead."
Jongin memutuskan untuk menghentikan perang umpatan di antara mereka dengan kecupan. Ia mengerahkan seluruh keberanian yang ada, lalu berbisik dengan bibir yang masih saling melekat, "Pretty boy."
Setelah jarak di antara mereka menjauh, Jongin segera meraih Vodka-nya lalu meneguk isi botol itu tanpa bernafas.
Kyungsoo merasakan aliran darah di tubuhnya mengalami percepatan saat menangkap rona di pipi Jongin. Wajahnya seperti terbakar, sedang dadanya mendadak ramai.
Terlalu ramai.
Oh, Tuhan. Kyungsoo menjerit dalam hati ketika menemukan pertanda apa itu.
Mungkinkah ia jatuh cinta?
END OF CHAPTER 3 : TO BE CONTINUED
.
A/N :
TADAAAAAAA~
Seneng atau sedih nih chapter-nya ditambahin? Semoga jalan ceritanya masih menyenangkan yah buat kalian. Ehehehehehe.
Spesial thanks banget buat Fara (Kaisoo32) yang udah persuasif lewat PM minta chapter-nya dipanjangin lagi. (Suka nggak, suka nggak?)
Btw, yang mau tahu, atau kenalan, atau ngisengin author boleh banget loh PM, tukeran PIN BBM juga boleh sekaliiiih :3 (tapi jangan salahin aku kalo isi RU-nya tiba-tiba penuh sama Kaisoo *nyengir*)
So, so, gimana buat tanggepan kalian buat chapter ini? Makasih juga buat yang udah ngejawab pertanyaan aku kemarin, akhirnya di sini aku coba pakai 'Kau', udah pas belum? Lebih enak nggak dibacanya?
Ah, author kebanyakan nanya nih. Yaudah, author-nya pamit.
Saran, kritik, review tetep ditunggu banget! ILYSM *kisses*
KAISOO FTW!
—RedSherr88
