"Love is a gamble always, but waiting won't change the dice. Either you roll them or you lose your turn."

.

Prenote : Happy ending, ga ya? Hehe :p

.


SWEET ATTEMPTS [iv]


Mungkinkah ia jatuh cinta?

Bagi Kyungsoo, terdapat sekat yang pekat antara perasaan tertarik, suka, dan cinta.

Ia bisa membedakannya dengan jelas hanya dengan respon tubuhnya.

Kyungsoo tahu ia tertarik dengan Jongin karena matanya selalu berusaha menemukan lelaki itu dimanapun ia berada, setelah Jongin memperkenalkan diri di depan kelas.

Kyungsoo tahu ia mulai menyukai Jongin karena ciuman pertama mereka yang terkesan terpaksa, membuatnya tidak bisa tidur semalam suntuk.

Namun, cinta adalah perasaan yang lebih menuntut.

Lebih rakus dan mengikat.

Dan benaknya terus mengulang pertanyaan yang sama setelah Jongin melemparkan sebuah senyum kikuk di saat lelaki itu tersedak Vodka-nya kemarin malam. Karena jantungnya seakan punya ritme khusus hanya untuk Jongin.

Mungkinkah ia jatuh cinta?

Ia masih ragu.

Dengan sebuah desahan panjang, Kyungsoo memasukkan kode kunci lokernya. Ia memilah beberapa buku untuk pelajaran berikutnya, walaupun otaknya sedang malas bekerja. Kepalanya hampir terantuk saat sebuah lengan tiba-tiba mendarat di bahunya.

Hanya dari aroma mint samar yang ia cium, Kyungsoo dapat menebak siapa yang sedang berdiri di sebelahnya.

"Apa kau sudah dengar Ben Affleck akan menggantikan Christian Bale di film Batman selanjutnya? Man, i hate that guy." Keluh lelaki itu dengan wajah kecewa.

Kyungsoo berubah gugup luar biasa. Semenjak menyadari kemungkinan bahwa ia jatuh cinta pada Jongin, kegugupannya meningkat berkali-kali lipat. Tangan Kyungsoo berkeringat sedang pita suaranya kehilangan kemampuan bicara. Ini adalah rasa gugup paling buruk yang pernah ia hadapi. Lidahnya bahkan kelu, tidak mau bergerak sedikitpun untuk menanggapi Jongin.

Mulutnya membuka dan kembali mengatup tanpa suara.

Jongin mengernyitkan dahi. Ia melepas rangkulannya pada leher Kyungsoo, lalu menyandarkan salah satu sisi tubuhnya di loker. "Kau baik?" tanyanya cemas.

Kyungsoo hanya dapat mengangguk pelan. Genggamannya pada buku Fisika menguat saat Jongin menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Lelaki itu menarik tangannya kembali setelah mengetahui suhu badan Kyungsoo masih di kisaran normal.

Mengabaikan keanehan Kyungsoo, Jongin justru membuka percakapan lain. "Hey, teman-temanku ingin berkenalan denganmu. Mungkin nanti kau bisa makan siang bersama kami?"

Bohong.

Jongin akan mendapat umpatan beruntun dari Baekhyun jika ia membawa Kyungsoo ke meja mereka biasa makan siang. Namun, ia hanya ingin membuktikan bahwa Kyungsoo tidak seperti yang teman-temannya pikirkan selama ini. Ia memandang Kyungsoo yang membelalak ke arahnya dengan dua mata besar yang tidak berkedip sama sekali.

Normalnya, orang biasa seharusnya mengatakan, 'Oh, tentu. Aku akan senang sekali bisa berkenalan dengan mereka'.

Tapi ini Kyungsoo.

Dan tentu saja ia mengacau dengan menjawab, "Apa yang membuatmu berpikir aku butuh berkenalan dengan mereka?"

Jongin terhenyak. Ia terdiam sesaat lalu menatap Kyungsoo dengan mimik terluka, walaupun lelaki itu berusaha menyamarkannya.

"Um," Jongin tertawa sumbang. "mungkin karena kau seseorang yang spesial untukku?"

Oh, damn you, Kim Jongin.

Siapa yang mengizinkannya untuk mengatakan itu dengan tawa malu-malu serta gerakan canggung yang membuat pipinya memanas?

Ia mendapat dorongan untuk mengecup Jongin saat itu juga, namun bibirnya dengan cepat menyambar, "Ah, benarkah?"

Kyungsoo ingin memasukkan tubuhnya ke loker lalu mati membusuk di sana. Ia tidak berani menangkap ekspresi Jongin. Kyungsoo terus memaki dalam hati, berkali-kali gantung diri dalam kepala, karena bodoh, bodoh, bodoh, itu adalah kalimat ofensif yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya.

Jongin menegakkan kedua kakinya sambil menunduk memperhatikan lantai sekolah mereka yang tidak menarik. "Kau... tidak merasakan ada sesuatu di antara kita?"

Jika saja Kyungsoo bisa menghilangkan kegugupannya, ia ingin berteriak-atau mungkin bersorak, 'ya, ya, tentu saja. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku mengatasi denyut nadiku sendiri tiap berada di dekatmu' sampai paru-parunya kering.

Tapi saat ini, Kyungsoo hanya ingin Jongin berhenti.

Ia punya firasat, ia akan melakukan sesuatu yang buruk bila Jongin terus melanjutkan pembicaraan.

"Kyungsoo aku ingin berterus terang." Tutur Jongin lirih.

Lelaki itu menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. Jongin mengambil jeda sejenak, kemudian menatap Kyungsoo tepat di mata, membuat jantung Kyungsoo melakukan lompatan-lompatan tidak wajar.

Mendadak, sebuah kenyataan menampar Kyungsoo tepat di wajah.

Ia tidak lagi ragu mengenai perasaanya.

Oh, ia yakin bahwa ia memang jatuh cinta.

Jongin harus berhenti.

"I'm in love with you."

Jongin harus segera berhenti.

"Aku tahu kita telah melakukan banyak hal melebihi batas kekasih. Namun, aku ingin membuat ini resmi."

Jongin. Harus. Berhenti. Sekarang. Juga.

"Be mine, please?"

Goddamit.


Ketiga pasang mata saling melirik di atas meja kafetaria itu ketika Jongin datang dengan hidung tersumpal tisu bernoda darah lalu merebut snack keripik kentang Baekhyun dan mengunyahnya seperti orang kerasukan.

"I'M SO PISSED! SO FUCKING PISSED!"

Junmyeon berkedip cepat, mengirimkan sinyal untuk siapa saja agar angkat bicara. Jongin bisa jadi sangat menyeramkan saat sedang marah. Ia ingat terkahir kali Jongin semarah ini adalah ketika Satansoo memajang lembar ujian Kimia lelaki itu pada mading sekolah mereka (Junmyeon masih tidak habis pikir sampai sekarang, bagaimana bisa Jongin tertidur di tengah ujian berlangsung hingga mendapat nilai terendah).

Baekhyun mencoba meraih snack-nya kembali, namun Jongin menepis tangannya kasar. "Jangan sentuh! Ini milikku sekarang!"

Bibir Baekhyun mengerucut sebal.

Meraba keheningan yang semakin canggung di atas meja itu, akhirnya Yifan memberanikan diri untuk bertanya, "Terjadi sesuatu?"

Jongin langsung memberi tatapan paling tajam ke arahnya. "Terjadi sesuatu, katamu?" Yifan mengangguk ragu sambil menelan ludah. "Kau masih bisa bertanya apa terjadi sesuatu padaku?" lanjut Jongin dengan suara yang membuat seisi kafetaria tertuju pada mereka.

Oh, ingatkan Yifan untuk tidak sok pahlawan ketika Jongin sedang murka lain kali.

"Katakan Yifan, orang gila mana yang memukul wajahmu dan berlari tanpa mengucapkan apapun setelah kau menyatakan perasaan padanya?" Ucap Jongin tanpa bernafas. "KATAKAN, YIFAN. KATAKAN!"

Yep, definitely not ever again. Batin Yifan sambil menutupi sebagian wajahnya.

Yifan yakin beberapa gadis mulai berbisik mengedarkan gosip tidak masuk akal atas apa yang mereka saksikan.

"Uh," Junmyeon akhirnya bersuara, walaupun senyumnya terlihat memaksa, "apakah kita sedang berbicara mengenai Satansoo?"

Jongin mengalihkan pandangannya ke Junmyeon dan Yifan bernafas lega.

"TENTU SAJA INI MENGENAI SATANSOO!" teriak Jongin sambil menggebrak meja, meremukkan snack keripik kentang di dekatnya.

Baekhyun memekik sedih.

Baik Yifan maupun Junmyeon tidak berani melanjutkan pertanyaan mereka setelah melihat reaksi Jongin.

Kecuali, Mr. Has No Boundaries of This Year, Byun Baekhyun yang menyahut dengan santai, "Oh, apa itu berarti dia menolakmu?"

Junmyeon dan Yifan membelalak lebar, berpikir jika yang pantas disumpal saat ini bukanlah hidung Jongin tapi mulut Baekhyun.

"AKU TIDAK TAHU KARENA DIA TIDAK MENGUCAPKAN APAPUN, BACON. TIDAK ADAKAH SATUPUN DI MEJA INI YANG SEDIKIT PINTAR UNTUK MENEBAKNYA?"

Jongin menjambak kesal rambutnya.

Ia tidak mengerti.

Ia sama sekali tidak mengerti.

Bagian mana yang salah? Ia merasa hubungannya dengan Kyungsoo berjalan baik kemarin. Jongin sudah merasa ia memperlakukan Kyungsoo dengan usaha terbaik yang ia punya.

"Dia berlari." Jongin mengatur nafas saat mengingat kejadian itu. "Dia memukul wajahku lalu berlari cepat tanpa meninggalkan penjelasan sedikitpun."

Jongin bisa katakan dirinya marah, kecewa, bahkan sakit hati, tapi apa yang paling menganggunya adalah: ia bingung.

Sementara ketiga temannya hanya memandangnya dalam diam, Jongin terus mengutuk apapun yang bergerak di sekitarnya. Ia membutuhkan jawaban. Jika memang perasaannya ternyata sepihak, ia tetap punya hak untuk mendapat jawaban.

Jongin menggebrak meja sekali lagi, hingga Baekhyun melompat lalu memeluk lengan Kris kuat.

Tepat ketika ia mendongak, Jongin menangkap figur Kyungsoo yang sedang berjalan memasuki kafetaria. Jongin segera bangkit dengan kasar, membuat kursi yang ia duduki terjatuh dan menimbulkan suara gaduh.

Suasana kafetaria itu mendadak hening.

Jongin membuang tisu yang ada di hidungnya, kemudian mengambil langkah cepat serta tegas ke arah Kyungsoo.

Seluruh murid segera mencari kursi terdekat untuk duduk. Beberapa memutuskan untuk meninggalkan kafetaria, karena dapat merasakan ketegangan dalam ruangan itu.

"Haruskah kita menghentikan mereka?" Junmeyon berbisik pada Baekhyun dan Yifan.

Ia diliputi rasa khawatir melihat dua lelaki yang kini berdiri berhadapan, menukarkan pandangan saling membunuh.

"Jangan, Junmyeon." Baekhyun menjawab. "Aku takut Satansoo akan melepaskan suatu mantra yang bisa melukaimu."

Mendengar itu, Junmyeon tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Di tengah ruangan, Kyungsoo tidak bergerak sama sekali. Ia berusaha membuat genggaman pada nampan makan siangnya tidak bergetar.

"Kau sadar kau berhutang penjelasan padaku?"

Kalimat Jongin terdengar seperti sebuah pernyataan bagi Kyungsoo. Ia yakin lelaki itu tidak sedang meminta pendapatnya. Jongin hanya menuntut jawaban.

"Berpura-pura bisu lagi, hmm?"

Nada Jongin begitu menyakitkan, mengoyak jiwa Kyungsoo seperti taring singa yang runcing.

"Jawab!" bentak Jongin sambil menyambar nampan Kyungsoo hingga jatuh ke lantai.

Kyungsoo menggigit bagian dalam bibirnya kuat saat rasa menyengat mulai menyerang matanya. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak mau menangis di depan Jongin maupun murid lainnya.

Kyungsoo berbalik untuk keluar, tapi Jongin dengan cepat menariknya. Kedua tangan Jongin meraih kerah kemeja Kyungsoo, membawa wajah mereka mendekat.

Kyungsoo dapat melihat kilat amarah bercampur kepedihan dari mata Jongin.

"You" Lelaki itu berbisik dengan suara parau yang mengiris hatinya, "are the worst thing that ever happened to me, Do Kyungsoo."

Bersama itu, Jongin menghentakkan tubuh Kyungsoo, lalu pergi tanpa menoleh lagi.


Kyungsoo mengintip perlahan dari balik pintu kelas untuk memastikan Jongin tidak sedang di koridor. Ia berusaha menghindari lelaki itu beberapa hari ini. Setiap kali Jongin tertangkap matanya, Kyungsoo akan berlari cepat lalu bersembunyi di balik loker atau ruangan apapun di dekatnya. Kyungsoo juga sengaja datang terlambat pada kelas-kelas dimana ia dan Jongin mempunyai jadwal yang sama.

Ini melelahkan, Kyungsoo harus akui. Walaupun ia pernah melakukan hal serupa ketika hubungannya dengan Luhan memburuk, ia tidak mengira kejadian seperti ini akan menimpanya lagi sekarang.

Kyungsoo menghembuskan nafas panjang. Begitu yakin bahwa Jongin tidak terlihat dalam jarak pandangnya, ia segera berlari kecil keluar dari kelas.

Kyungsoo memijat keningnya yang sedikit pusing. Setelah memendam rasa kalut akibat berbagai perasaan yang begitu berat menggelayuti hatinya, Kyungsoo akhirnya melepaskan semua itu lewat tangis kemarin malam.

Oh, siapa bilang lelaki tidak boleh menangis karena perihal cinta?

Matanya masih terasa sembab, walaupun Kyungsoo sudah melakukan berbagai cara untuk menyamarkannya.

Kyungsoo baru tahu kebenaran dari kalimat 'seseorang yang membuatmu paling bahagia adalah orang yang juga punya peluang untuk menyakiti hatimu paling dalam'.

Dan Jongin telah mengambil peluangnya.

Kyungsoo tidak lagi bisa berkonsentrasi pada apapun. Ia menumpahkan sereal sarapan paginya, hampir tertabrak karena tidak melihat lampu lalu lintas yang masih menyala hijau, hingga tidak menuliskan catatan apapun di buku pelajarannya belakangan ini.

Kyungsoo tidak mengira Jongin punya dampak yang begitu besar untuknya. Ia bahkan masih bisa bangkit sendiri setelah permasalahannya dengan Luhan.

Namun, mengapa tidak dengan Kim Jongin?

Tubuhnya mendadak kaku ketika menangkap sosok Jongin tidak jauh darinya. Lelaki itu sedang melingkarkan lengannya pada pundak Baekhyun sambil tertawa lebar. Ia ingin berbalik, berpura-pura tidak melihat, tetapi terlambat. Mata Jongin telah menemukannya.

Senyum lelaki itu lenyap seketika dari wajahnya. Ia melepaskan lengannya pada Baekhyun dan tatapannya berubah sinis.

Kyungsoo berusaha tetap berjalan sambil menunduk. Ia masih bisa melihat langkah sepatu Jongin yang semakin mendekat. Namun ketika mereka akhirnya berpapasan, Jongin tidak melakukan apapun selain meninggalkan aroma kopi pekat yang mengusik akal sehatnya.

Kyungsoo merindukan Jongin.


Jongin merindukan Kyungsoo.

Pikirannya melayang pada sepasang mata sedih yang ia tangkap beberapa hari ini.

Dia tidak pantas sedih, Jongin berpikir, apa yang membuat Kyungsoo terlihat begitu sedih setiap kali mereka berpandangan? Bukankah dia yang tidak menginginkan hubungan ini?

Jongin melempar bola-bola kertas tanpa arah ke seluruh penjuru kelas. Ia menanti Kyungsoo masuk, karena mereka berbagi kelas yang sama pada subjek Matematika. Junmyeon yang duduk di sebelahnya, tidak henti memandang Jongin.

"Kau belum memasukkan apapun ke perutmu, selain tiga gelas kopi sejak tadi pagi." Ucap lelaki itu khawatir.

Jongin tertawa. Junmyeon bisa jadi secerewet ibunya pada saat-saat tertentu. "I'm fine. Tenanglah."

Junmyeon menggumamkan beberapa kata yang Jongin tidak tangkap dengan jelas, karena matanya sibuk mengekor Kyungsoo yang akhirnya tampak di pintu kelas. Tanpa sadar, ia melempar bola kertas di genggamannya ke arah Kyungsoo ketika lelaki itu duduk.

Kyungsoo menoleh sambil memegangi bagian belakang kepalanya, mencari sumber darimana kertas itu berasal.

Namun, pandangan Kyungsoo kembali ke depan saat ia bersitatap dengan Jongin.

Sebuah seringai tiba-tiba bermain di bibir Jongin.

Ia kembali melemparkan bola kertas ke arah Kyungsoo, menghujani lelaki itu dengan serangan bertubi-tubi. Walaupun Kyungsoo tetap bergeming, tetapi Jongin tidak berhenti.

Kyungsoo yang kehilangan kesabaran, akhirnya memungut salah satu bola kertas di dekat kakinya dan melemparkannya kembali ke Jongin.

Jongin tersenyum kecil. Jika memang ini harus kembali dari awal, maka Jongin akan melakukannya.

Ia terus mengganggu Kyungsoo yang duduk beberapa bangku di depannya bahkan ketika pelajaran sudah berlangsung.

Kyungsoo dengan posisinya yang tidak menguntungkan, hanya bisa menggerutu 'apa sebenarnya yang dia mau' sambil berusaha fokus ke papan tulis.

Segera setelah pelajaran selesai, Kyungsoo dengan cepat menghampiri Jongin. Para murid lain sudah tidak lagi di dalam kelas, memilih pulang dengan cepat setelah pelajaran terakhir mereka hari ini akhirnya selesai.

"Apa maumu?" bentaknya kesal.

Jongin menyeringai tipis lalu memiringkan kepalanya, "Wow, kau akhirnya bisa bicara." Ia berdiri dari tempat duduknya, tidak melepaskan tatapannya dari Kyungsoo sedetikpun. "Aku kira kau akan berpura-pura bisu selamanya."

Jongin masih bisa mendengar Kyungsoo memaki 'brengsek' sebelum kepalan tangan Kyungsoo meninju rahang kirinya. Kyungsoo terlihat terkejut, ia berjalan mundur terburu-buru menjauhi Jongin.

Namun, Jongin tiba-tiba mencengkram lengannya kuat, lalu membalas pukulan Kyungsoo di tempat yang sama.

Kyungsoo terjembab, ia menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Sakit?" tanya Jongin angkuh.

Kyungsoo segera berdiri, lalu kembali mengayunkan tangannya ke wajah Jongin. Tetapi dengan cepat, Jongin menangkap lengan Kyungsoo. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo segera menyerang perut Jongin dengan lututnya. Lelaki itu sedikit tersentak ke belakang.

Cengkraman Jongin tetap tidak lepas dari lengannya. Ia menarik tangan Kyungsoo, lalu memutar tubuhnya hingga kini mereka tidak lagi berhadapan. Sedetik kemudian, Jongin menghimpitnya kuat, memaksa dada Kyungsoo untuk bersentuhan dengan meja.

Jongin menikmati sejenak pemandangan Kyungsoo yang setengah membungkuk di depannya. Posisi mereka begitu menjanjikan.

Ia lalu menempelkan dadanya ke punggung Kyungsoo dan berbisik ke telinga lelaki itu, "Bukankah kita belum pernah mencoba posisi ini?"

Mata Kyungsoo membelalak lebar. Ia merasakan seluruh tubuhnya merinding setelah apa yang dikatakan Jongin. Kyungsoo berusaha memberontak, namun Jongin justru menjilat bagian belakang telinganya dengan ujung lidah. Ia mengerang sementara Jongin tertawa mengejek.

"Aku sudah hafal bagian-bagian sensitif dari tubuhmu, Kyungsoo."

Jongin menggerakkan jari tangannya yang bebas menelusuri bagian dalam paha Kyungsoo.

Kyungsoo memejamkan mata. Jongin tidak mungkin berbuat senekat ini. Demi Tuhan, mereka masih berada di dalam kelas. Seseorang bisa masuk dan memergoki mereka kapan saja.

Ia menahan desahannya ketika sesuatu di balik celana Jongin menggesek bagian belakang tubuhnya.

"J-Jongin." Kyungsoo berusaha bicara ketika Jongin mulai menggerakkan pinggulnya naik turun.

"Yes?"

"Jangan di sini." Ucap Kyungsoo lemah.

Jongin tiba-tiba menindih tubuh Kyungsoo dari belakang, menekan miliknya ke pantat Kyungsoo, lalu tangannya mulai bermain di atas resleting celana Kyungsoo.

"Beri aku alasan, karena aku baru saja merasakan milikmu menegang."

Kyungsoo memaki aliran darah yang terus memompa bagian bawah tubuhnya.

"Bagaimana jika seseorang melihat kita?"

"Itu tidak akan terjadi jika kau tidak berisik." Jongin melirik jam tangannya sekilas. "Kita memiliki kurang dari dua puluh menit sebelum janitor masuk dan membersihkan kelas."

Dengan gerakan cepat, Jongin menarik Kyungsoo untuk berdiri, lalu mengangkat Kyungsoo ke atas meja. Bibir Jongin segera menyambar bibirnya dalam ciuman kasar dan gigitan-gigitan kecil. Genggaman lelaki itu mengerat di pinggang Kyungsoo saat lidah mereka bertemu. Kyungsoo larut dalam candu setara Heroin yang ia rasakan dari tiap sentuhan Jongin. Ia menelusupkan jari-jarinya ke rambut Jongin, membawa wajah mereka lebih dekat lagi agar lelaki itu memperdalam ciumannya. Suara desahan tidak terhindarkan dari mulut keduanya. Jongin beralih ke garis rahang Kyungsoo. Di tengah jilatannya yang bermain di sana, ia menarik tangan Kyungsoo untuk mengenggam miliknya.

Kyungsoo melenguh merasakan Jongin juga memiliki hasrat yang sama tinggi dengannya saat ini. Ketika Jongin berpindah ke belakang telinganya, Kyungsoo mencengkram milik Jongin hingga lelaki itu mengeluarkan desahan pelan.

"Saku celana sebelah kiri, Kyungsoo. Cepat." Ucap Jongin kemudian.

Kyungsoo menuruti perintah Jongin. Ia meraba saku lelaki itu dan menemukan benda persegi berbungkus alumunium.

"Seriously, Jongin? Kau membawa ini kemana-mana?" tanyanya heran.

Jongin tergelak lalu melepaskan hisapannya di leher Kyungsoo. Ketegangan mereka selama beberapa hari ini masih tersisa. Kyungsoo tahu itu dari sorot kebencian di mata Jongin yang terlihat begitu menyala.

"Just in case." Jawab Jongin ringan. "Dan ternyata berguna, kan?"

Kyungsoo tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Kecemburuan tiba-tiba merambat sampai tengkuknya. Apakah Jongin berpikir untuk menyutubuhi orang lain selain dirinya? Gagasan itu membuat pikirannya berkabut. Sifat pertama dari perasaan cintanya untuk Jongin meluap.

Posesif.

Ia ingin memiliki Jongin untuk dirinya sendiri.

"Fuck me now." Perintah Kyungsoo tanpa ragu.

Jongin menjauhkan tubuhnya lalu menatap Kyungsoo dengan raut terkejut. "What?"

"Fuck me now, Jongin." Ulang Kyungsoo lebih tegas.

Jongin tergagap sejenak, "A-Aku bisa menyakitimu."

"Aku tidak peduli." Kyungsoo membuka kancing celana Jongin sambil menatap lelaki itu tajam. "Aku tidak peduli jika nanti kau meninggalkan bekas luka atau apapun. Fuck me rough and deep."

"Oh, kau benar-benar membunuhku." Desis Jongin ketika merasakan kombinasi antara sensasi jari hangat Kyungsoo yang melingkari miliknya dan kata-kata kotor yang baru saja lelaki itu ucapkan.

Kyungsoo segera menggigit bungkus aluminium yang sedari tadi ia pegang, lalu menggulung benda elastis di dalamnya pada milik Jongin.

"Bend over, sugar. Let me see that beautiful ass cheeks of yours."

Kyungsoo segera membungkuk membelakangi Jongin. Kedua tangannya terkapar pasrah di atas meja sementara Jongin menurunkan celananya. Kyungsoo menggertakkan gigi ketika kepala milik Jongin menyentuh jalan masuknya.

"God, you're so gorgeous like this." Tutur Jongin parau ketika melihat bagaimana posisi ini membuat Kyungsoo begitu menggoda.

"Jangan membuang waktu, Jongin."

Jongin menyeringai tipis sebelum akhirnya mulai menenggelamkan miliknya ke dalam Kyungsoo. Jika Kyungsoo menginginkan ini kotor dan kasar, Jongin akan dengan senang hati mengabulkannya.

Kyungsoo menggigit bibir, ketika milik Jongin telah masuk seutuhnya. Kukunya menggores permukaan meja merasakan rasa menyengat yang membakar di dalam sana. Jongin belum bergerak. Kyungsoo tahu lelaki itu menunggunya untuk menyesuaikan diri. Ia menggerakkan pinggulnya sedikit demi sedikit, menelan milik Jongin inci demi inci, menghasilkan geraman dari lelaki di belakangnya. Tiba-tiba, Jongin menempatkan kedua tangannya di pinggang Kyungsoo.

"Aku harap kau sudah siap."

Tanpa menunggu balasan dari Kyungsoo, lelaki itu menghujamnya kuat hingga Kyungsoo menjerit. Desahan memenuhi kelas itu seiring dengan gerakan pinggul yang saling beradu. Jongin mengeratkan cengkramannya di pinggang Kyungsoo, menuntun lelaki itu ikut bergerak, agar miliknya tertanam lebih dalam lagi.

Ia tidak hanya menyalurkan nafsunya kali ini. Jongin menumpahkan semua rindunya akan sentuhan Kyungsoo, tawanya, senyumnya, semua yang berdesakan di otak Jongin selama berhari-hari.

Peluh mulai bertetesan di kening Jongin namun gerakannya tidak melambat. Kyungsoo menahan keinginannya untuk berteriak karena kenikmatan yang ia terima. Milik Jongin mengisinya dengan sempurna, memenuhi setiap bagian dalam dirinya, sedang miliknya sendiri menggesek sisi meja. Pandangan Kyungsoo berubah kabur saat Jongin akhirnya menyerang titik yang tepat. Ia mengatur nafas sebelum mengeluarkan lenguhan bercampur sengal, "Ah yes, Jongin, there."

Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar dari luar ruang kelas. Jongin segera membekap mulut Kyungsoo, memintanya untuk diam.

Kyungsoo mengangguk lemah. Jongin tidak berhenti menghujamnya kasar. Kyungsoo hampir terisak karena semuanya terasa begitu sensitif. Setiap bagian tubuhnya telah menyerah di lengan Jongin.

Lelaki itu membungkukkan badan hingga bibirnya menyentuh telinga Kyungsoo. "Kau begitu membingungkan, kau tahu itu?" Ujar Jongin. Ia memberi satu hujaman keras ke Kyungsoo hingga Kyungsoo mengiggit telapak tangannya. "Kau memukulku tempo hari, setelah itu mengabaikanku, dan sekarang kau memintaku untuk memuaskanmu seperti pelacur sialan."

Gerakan Jongin berubah brutal dan berantakan. Kyungsoo terus memohon dengan gumaman tidak jelas agar Jongin mempercepat hujamannya. Suara di luar ruang kelas itu semakin dekat namun adrenalin Kyungsoo justru memanas.

Jongin mengutuk pelan saat Kyungsoo menjepit miliknya.

"Oh, kau benar-benar kotor, Kyungsoo." Tangan Jongin meraba masuk ke dalam seragam Kyungsoo, menelusuri kulit lelaki itu yang begitu halus. "Kau semakin terpacu karena tahu seseorang bisa menemukan kita dalam posisi ini, hm?"

Kyungsoo tidak menjawab, perutnya menghangat karena gejolak luar biasa yang memberontak di dalam sana. "Kau tahu apa yang akan mereka lihat jika mereka menemukan kita?"

Jongin menghabisi titik sensitifnya lagi, lagi dan lagi. Kyungsoo mendesah tertahan. "Mereka akan melihat wajahmu yang pasrah menikmati bagaimana tubuh kita menyatu, menghisap milikku ke dalam dirimu, seperti hidupmu bergantung pada tiap hujamanku."

Oh, ia benar-benar sudah dekat.

Kyungsoo menyentuh miliknya sendiri, namun Jongin menarik tangannya dan menahannya di punggung. "Aku yakin kau bisa keluar tanpa menyentuh dirimu."

Kyungsoo mengerang. Ia mengikuti setiap gerakan Jongin hingga akhirnya ia mencapai puncaknya dengan terisak.

"Oh, damn it Kyungsoo."

Jongin memejamkan mata sembari menempelkan keningnya ke leher belakang Kyungsoo. Ia mempercepat gerak pinggulnya sampai mati rasa. Jongin mendesahkan nama Kyungsoo terus menerus, hingga kepuasannya sendiri menjemput. Ia menggigit bahu Kyungsoo, agar teriakannya teredam.

Mereka berdua terengah, mengejar deru nafas masing-masing. Jongin masih bisa mendengar suara di luar ruang kelas itu. Ia segera melepaskan miliknya dari dalam Kyungsoo.

Keduanya berpadangan sekilas. Biasanya, setelah intimasi seperti ini berakhir, mereka akan bercakap, atau mungkin saling melayangkan pukulan kecil tanpa arti.

Namun kali ini, hanya ada kesunyian di antara mereka.


Mereka mulai berkelahi lagi. Bermula dari Jongin yang putus asa karena kehilangan perhatian Kyungsoo, ia akhirnya memutuskan untuk menumpahkan kopi paginya ke seragam lelaki itu.

Ia benci Do Kyungsoo.

Ia membenci bagaimana gerak bibir Kyungsoo tiap kali lelaki itu mendapat giliran untuk membaca teks pada kelas Bahasa Inggris. Ia membenci mata coklat tua Kyungsoo yang binarnya membuat Jongin hampir menabrak dinding. Ia membenci senyum Kyungsoo, caranya berjalan, bentuk hati di bibir lelaki itu ketika ia tertawa,

Dan ia membenci fakta bahwa Kyungsoo tidak bisa menjadi miliknya.

Baekhyun mengganti band-aid di dahi Jongin yang sebelumnya polos menjadi berpola Jerapah. Jongin meringis ketika jari lelaki itu tidak sengaja menyentuh lukanya. Kyungsoo melempar penggaris besi ke arahnya kemarin siang tanpa sebab apapun.

Jongin dan Baekhyun duduk di pinggir lapangan, mengenakan seragam olahraga biru tua mereka, sambil mendengarkan Mr. Lee dengan bosan.

Jongin melirik Kyungsoo yang duduk tidak jauh darinya. Seperti biasa, Kyungsoo duduk sendiri dengan jarak yang sedikit lebar antara ia dan murid lain.

Jongin mendesah. Ia masih menemukan mata sedih Kyungsoo hari ini. Jongin ingin menghapus apapun yang membuat gundah hati lelaki itu. Namun ia adalah si brengsek yang hanya bisa mencuri perhatian Kyungsoo lewat cara yang berkebalikan dengan orang biasa.

"Jangan terlalu lama memandangnya." Baekhyun menginterupsi. Tangan lelaki itu menarik dagu Jongin agar mengalihkan tatapan. "Kau tahu kutukan Satansoo masih berlaku walaupun kau sudah menidurinya."

Jongin memutar bola mata. Baekhyun belum juga kehabisan teori bodohnya mengenai Satansoo.

"Aku terkadang bertanya-tanya, mengapa aku berteman denganmu."

Baekhyun tergelak. Ia meraih lengan Jongin lalu bersandar di bahu lelaki itu. "Because i'm cute and loveable."

Selain menyandang gelar sebagai Mr. Has No Boundaries of This Year, sepertinya Baekhyun juga harus mendapat gelar Siluman Gurita. Tangannya selalu menempel pada siapa saja yang ada di dekatnya dan enggan lepas layaknya tentakel.

"Hanya Chanyeol yang mau mengakui itu." Sahut Jongin datar.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Park Chanyeol memujaku lebih dari itu."

"Oh, tentu, kau adalah dewa matahari unt-"

"Byun Baekhyun! Kim Jongin! Ini bukan tempat untuk memadu kasih!" sela Mr. Lee dengan suara melengking.

Baekhyun dan Jongin bertukar pandang geli sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

"Ah, baiklah kami akan meneruskannya lagi nanti." Jawab Baekhyun untuk sedikit membuat Mr. Lee lebih kesal.

Mr. Lee mendelik tajam ke arah Baekhyun, namun Baekhyun justru tersenyum dan berkedip-kedip cepat, membuat guru olahraga itu menggeleng-geleng sebal.

Jongin menahan tawa. Memang hanya Baekhyun yang bisa membuat seorang guru mengalah hanya dengan tingkah lucunya.

"You're right, you do loveable." Candanya sambil mengacak rambut Baekhyun.

Mereka tidak menyadari sepasang mata memperhatikan keduanya sedari tadi dengan tatapan penuh rasa cemburu.

Ketika Mr. Lee selesai dengan penjelasannya, ia mempersilakan para murid untuk melanjutkan ke sesi pelajaran berikutnya. Jongin mengapit leher Baekhyun menggunakan lengannya sambil berjalan ke ruang ganti. Lelaki itu terus menggelitik perutnya dan Jongin membalas dengan mengeratkan jepitan lengannya pada leher Baekhyun.

Kyungsoo yang mengamati itu sejak awal pelajaran olahraga berlangsung, terus meredam kecemburuan dalam dadanya. Ia bertanya-tanya apakah mungkin Jongin dan Baekhyun kini mempunyai hubungan lebih dari sahabat?

Ketika mereka masuk ke ruang ganti, percakapan antara Baekhyun, Jongin dan beberapa murid lainnya samar-samar terdengar olehnya. Ia menangkap suara Jimin yang menanyakan kejadian di kafetaria beberapa hari lalu kepada Jongin. Ada jeda sejenak sebelum suara Jongin menyahut dengan kalimat singkat, "Itu urusan pribadi."

Walaupun tangan Kyungsoo sibuk melipat pakaian olahraganya, Kyungsoo tidak kehilangan konsentrasi pada pembicaraan di belakang punggungnya.

"Apakah kalian punya hubungan khusus?" tanya sebuah suara lain yang Kyungsoo tidak kenali dengan jelas.

Detak jantungnya berubah cepat. Ia mempersiapkan diri untuk mengetahui apa jawaban Jongin atas pertanyaan itu.

"Mungkin." Balas Jongin dengan nada yang menggantung.

Kyungsoo tersenyum lega. Paling tidak, Jongin masih menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan biasa. Namun kelegaannya tidak bertahan lama ketika Jongin melanjutkan kata sebelumnya dengan, "Some sort of a fuck buddy."

Rahang Kyungsoo mengeras. Tangannya mengepal kuat dan emosinya meledak di tempat. Ia berderap cepat ke arah Jongin, lalu menarik paksa pundak lelaki itu.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

Jongin terkejut mendapati Kyungsoo yang kini ada di depannya memberikan sebuah tatapan menusuk.

"Fuck buddy?" jawab Jongin tidak yakin.

Ia merasa tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Kyungsoo tidak ingin terikat, namun lelaki itu bersedia melakukan hubungan seks belasan kali dengannya.

"Kau tidak terima?"

Seluruh isi kepala Kyungsoo memuntahkan makian kepada Jongin dan dirinya sendiri. Kenapa setelah ia menemukan seseorang yang akhirnya mengerti kekurangannya, Kyungsoo justru membuat segala sesuatunya menjadi rumit? Dan kenapa seseorang yang ia yakini telah memahaminya bisa mengeluarkan kalimat sekeji itu?

"You bastard." Kyungsoo berdesis hingga para murid di sekitar mereka berhenti bergerak. "You're a fucking bastard, Kim Jongin."

"Huh," Sebuah seringai sarkastik muncul di wajah Jongin. "Itu seharusnya menjadi dialogku, Kyungsoo."

Kyungsoo meraih bagian depan pakaian olahraga Jongin kemudian mendorong lelaki itu sampai menabrak dinding.

Jongin berdiri cepat, ia kembali menghampiri Kyungsoo. "Oh, baiklah. Aku rasa kita lebih baik selesaikan permasalahan ini sekarang juga."

Melihat aura mematikan yang dipancarkan kedua lelaki itu, Baekhyun segera berlari ke luar ruangan menuju kantor guru.

Karena ia yakin sebuah perkelahian hebat akan segera terjadi.


Mr. Park mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja. Punggungnya bersandar pada bangku, sedang matanya menatap dua murid yang duduk di hadapannya.

Mr. Park mengira ia tidak akan menemukan Kim Jongin dan Do Kyungsoo berada di kantornya lagi dengan permasalahan yang sama. Ia mengikuti perkembangan dua murid pembuat onar itu dan ia menduga semuanya telah berjalan baik ketika tidak ada kabar tentang mereka yang berkelahi atau membuat kekacauan.

Jongin berakhir babak belur kali ini. Tangan kanannya mengalami cedera hingga tidak bisa digerakkan. Beberapa lebam di wajahnya terhitung lebih banyak dibanding milik Kyungsoo.

"Ada yang mau menjelaskan?" tanya Mr. Park lelah.

Ini sudah ketiga kalinya ia bertanya, tapi tetap tidak ada jawaban. Menjadi kepala sekolah tidak akan pernah mudah selama murid seperti kedua lelaki ini masih ada di dunia.

"Baiklah. Kali ini aku akan memberikan kalian waktu tiga menit. Satu hal yang perlu aku ingatkan, Surat Peringatan ketiga akan membuat kalian keluar dari sekolah. Lebih baik kalian mencari cara untuk meyakinkanku bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi." Jelas Mr. Park panjang lebar.

Pria itu kemudian melangkah keluar, meninggalkan Kyungsoo dan Jongin di ruangannya.

Kyungsoo memalingkan wajah ke arah Jongin. Ia melihat lelaki itu menunduk, memeriksa luka pada sikunya yang tergores lantai.

Pikiran Kyungsoo mendadak kusut. Berpuluh-puluh kata maaf berenang dalam kepalanya namun ia tidak bisa menangkap satupun.

Kyungsoo tidak ingin menyesal kali ini. Ia tidak ingin kehilangan Jongin. Beberapa hari ini sudah cukup menyiksa batinnya. Memorinya memutar semua kencan mereka, betapa bahagianya Kyungsoo memiliki Jongin di sisinya, bagaimana perasaan ringan bersarang di tubuhnya setiap kali Jongin menutup percakapan telepon tengah malam mereka.

Kyungsoo bodoh jika rela melepaskan itu semua dan masih menggunakan alasan kegugupannya sebagai tameng.

Ia harus menemukan cara. Seungsoo benar. Pasti ada cara untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya ia rasakan.

Tiba-tiba Jongin beranjak dari tempat duduknya. "Katakan pada Mr. Park bahwa aku yang bertanggung jawab atas semua kekacauan hari ini." tandas Jongin tanpa melihat Kyungsoo. "Aku benar-benar tidak bisa berada di dekatmu, sekarang."

Kyungsoo terperanjat. Ia segera berdiri dan menghalangi Jongin keluar dari ruangan.

"Aku akan bicara sekarang." Ucap Kyungsoo penuh keyakinan.

Jongin mendorong tubuh Kyungsoo ke samping lalu berjalan melewatinya.

"Jongin, aku mohon." Ia menggapai tangan Jongin, tetapi Jongin segera menghentakkan genggamannya.

"Aku lelah, Kyungsoo. Tidak bisakah kau memberiku jeda?" Balas Jongin sambil terus berjalan.

"Jongin, dengar-"

Jongin tidak menghentikan langkahnya. Kyungsoo yang putus asa segera menarik kerah belakang kemeja Jongin kuat.

"KIM JONGIN! YOU FUCKING LISTEN TO ME, RIGHT NOW." Teriak Kyungsoo frustasi.

Jongin yang sudah di ambang batas kesabaran segera menyahut dengan suara yang tidak kalah keras, "FINE, YOU SICK SCUMBAG!"

Kyungsoo mengambil nafas beberapa kali. Ia menatap Jongin yang menunggu dengan raut bosan dan seperti ingin menghabisinya sekarang juga.

Kyungsoo mengepalkan tangannya kuat ketika kalimat pertama akhirnya keluar dari mulutnya. "Aku buruk dalam berkata-kata. Jadi apapun yang aku katakan setelah ini, kau harus artikan sebaliknya."

Dahi Jongin mengernyit sementara mimik lelaki itu berubah kesal, "What the fuck-"

"Please, Jongin." Kyungsoo berbisik lirih. "Just please."

Jongin mengunci bibirnya rapat lalu mengangguk saat ia melihat Kyungsoo berkaca-kaca. Intuisinya mengatakan Kyungsoo tidak sedang bercanda.

"Kim Jongin." Kyungsoo memulai. Suaranya bergetar tapi ia tidak mau memusingkan itu. "I hate you." I love you.

Jongin termangu.

"I hate you so fucking much." I love you so fucking much.

"Hariku buruk setiap kali aku melihat wajahmu. Kau membuatku muak. Aku ingin membunuhmu, berharap kau tidak pernah diciptakan karena kau punya senyum paling menjijikan di seluruh dunia. Aku benci caramu memandangku dengan tatapan seolah aku adalah satu-satunya orang yang paling berharga di sekitarmu. Aku benci gelembung yang bermain dalam perutku saat kau tertawa. Aku sangat, sangat membencimu. Aku tidak pernah merasa sebenci ini terhadap seseorang."

Jongin tergelak kecil dan tubuh Kyungsoo mendadak kaku. Ia berkedip beberapa kali, merasakan lidahnya seperti terikat.

Dengan terburu-buru Kyungsoo menunduk sambil menggumam pelan. "Aku membenci semua tentangmu, Kim Jongin."

Kyungsoo tidak berani memandang kemanapun selain sepatunya. Benaknya memutar berbagai kemungkinan jika hal ini tetap tidak membuat Jongin mengerti maksud isi hatinya.

Namun, semuanya luluh saat sepasang lengan merengkuhnya dalam pelukan. Kyungsoo tersenyum lega. Segala bebannya jatuh tak bersisa ketika ia membalas pelukan Jongin.

"K-Kau mendapat pesannya?" tanyanya ragu.

Jongin melepaskan dekapannya, lalu mengecup bibir Kyungsoo singkat. "Clearly, sugar."

Dada Kyungsoo berubah menjadi stasiun balon udara yang membuatnya seakan melayang-layang di angkasa.

Mr. Park masuk ke ruangan itu hanya untuk mendapati dua lelaki dengan senyum lebar terpulas di wajah mereka serta jari yang tidak berhenti bertaut.

Di saat Mr. Park memulai rentetan nasehatnnya, pikiran Jongin sudah tidak lagi di tempatnya. Karena kepalanya terisi dengan rekaman kalimat Kyungsoo yang telah ia terjemahkan.

Hariku indah setiap kali aku melihat wajahmu. Kau membuatku bahagia. Aku selalu ingin memelukmu, bersyukur kau telah diciptakan karena kau punya senyum paling memikat di seluruh dunia. Aku suka caramu memandangku dengan tatapan seolah aku adalah satu-satunya orang yang paling berharga di sekitarmu. Aku suka gelembung yang bermain dalam perutku setiap kali kau tertawa. Aku sangat, sangat mencintaimu. Aku tidak pernah merasa sejatuh cinta ini terhadap seseorang.

Aku mencintai semua tentangmu, Kim Jongin.


Setiap murid hampir tidak mempercayai matanya ketika melihat dua lelaki yang baru saja bertengkar hebat, kini keluar dari ruangan Mr. Park dengan tangan yang saling menggenggam. Keduanya bertukar senyum, serta tatapan penuh kebahagiaan.

Jongin terus mencuri kecupan-kecupan singkat dari Kyungsoo, tidak menghiraukan mulut menganga dari murid di sekitar mereka.

"Hentikan, Jongin. Kau menjijikan." Perintah Kyungsoo yang mulai risih dengan mata yang mengikuti mereka.

Namun, Jongin justru mengeluarkan seringai liciknya. Ia menangkup wajah Kyungsoo, lalu memberi ciuman panjang di bibir lelaki itu. Kyungsoo mendengar beberapa benda terjatuh serta suara gadis-gadis tercekat di belakangnya. Ia segera menarik diri kemudian memberi Jongin pukulan keras di dada.

"Idiot." Makinya kesal.

"Oh, maybe i am. But, it's okay," Jongin tersenyum dan Kyungsoo merasakan semu merambat ke pipinya. "Because, i am your idiot."

Itu adalah hari dimana Do Kyungsoo dan Kim Jongin mendeklarasikan hubungan cinta di antara mereka.


END OF CHAPTER 4 : TO BE CONTINUED


A/N :

Ciee yang udah liburan kuliah update-nya cepet banget. Hehehehe.

There will be an epilogue, guys. Mungkin dalam dua atau tiga hari kalau mood-nya lagi baik. Permasalahan Kyungsoo sama keluarganya bakal dibahas di situ :3

Dan kayanya, BBM aku eror-_- Udah nyoba install ulang cuman masih ga berfungsi dengan baik. Maafin untuk yang udah invite kemarin. Terus barusan aku bikin ask fm (link di bio profile) buat para anon yang mungkin mau kenal lebih deket. Buat yang udah punya contact aku, sementara tanya-tanya lewat situ aja. PM juga boleh :3

Btw, ending-nya gimana? Udah cukup manis buat mengakhiri cerita ini belum?

Please kritik, saran serta review-nya yah! XD

KAISOO FTW!

—RedSherr88