Selamat membaca minna!
The End of Our Friendship
.
.
.
Presents by
Hiname Titania
Disclaimer
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warnings
SasuHina, AU, OOC, typo(s) and etc.
Don't Like Don't Read.
.
Chapter Two: The Other Day
69
Sasuke menghela napas panjang. Kenapa mencintai seseorang bisa begitu menyakitkan seperti ini. Dia, Uchiha Sasuke, pria sempurna yang memiliki segalanya kecuali wanita yang dicintainya. Ironis memang ketika begitu banyak wanita memperebutkan dirinya tapi gadis yang diinginkannya tidak menginginkannya.
Sasuke mengambil smartphone bewarna hitam miliknya. Ia lalu memanggil Hinata.
"Halo?"
"Hinata…" tuturnya sendu.
"Sasuke, Ada apa? Kau baik-baik saja kan?" Nada cemas terdengar dari suara Hinata.
"Kemarilah Hinata…" lirihnya dan setelah itu ia mematikan ponselnya.
Sasuke tengah membuat secangkir kopi ketika suara bel apartemennya berbunyi-bunyi. Dengan kesal ia menyimpan sendok yang tadi ia gunakan untuk mengaduk kopinya, berjalan untuk mengetahui penganggunya di malam hari seperti ini.
Ia melihat intercom apartemennya dan menemukan sosok Hinata yang nampak cemas di balik pintu apartemennya.
"Hinata?" ujarnya setelah membuka pintu apartemennya.
"Sasuke, syukurlah kau baik-baik saja."
"Masuklah."
Mereka berdua duduk di sofa sambil menonton TV yang tidak jelas acaranya.
"Kukira kau kenapa-kenapa," tutur Hinata kemudian.
"Aku baik-baik saja."
"Lantas kenapa telponmu tak bisa dihubungi, hah?"
"Aku mematikannya.'"
"Ya ampun, kau ini membuatku khawatir saja! Tadi kan kau meneloponku mengatakan 'kemarilah Hinata' dengan suara yang mengkhawatirkan. Maksudmu apa?"
"Oh itu … entahlah mungkin aku terlalu lelah karena pekerjaan jadi melakukan hal yang tak jelas atau mungkin aku rindu kau."
Hinata memandang Sasuke aneh. "Kau ini ada-ada saja," tawa kecil menghiasi wajahnya.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan yang nyaman di antara mereka berdua.
"Kau tadi sedang bersama Naruto?"
"Iya, bagaimana kau tau?" raut penasaran terlihat di wajah Hinata.
"Tidak, hanya menebak saja." Sasuke menyandarkan kepalanya pada bahu Hinata. Ada rasa senang karena Hinata meninggalkan Naruto demi dirinya.
"Apa dia marah?"
Hinata menggeleng sambil tersenyum. "Tidak dia mengerti, sangat mengerti."
"Kau sangat mencintainya?"
"Iya," jawab Hinata mantap.
Sasuke pun terdiam.
"Ne, Sasuke kau baik-baik saja kan?"
"Hinata jika kau mempunyai satu pelampung, lalu aku dan Naruto jatuh ke laut tidak bisa berenang. Kau akan berikan pelampung itu pada siapa?"
"Err…pertanyaanmu itu sangat sulit. Aku tidak ingin menjawabnya."
"Jawab saja dengan jujur."
Hinata diam sejenak tampak berpikir keras. "Aku akan memberikan pelampung itu pada…"
Entahlah jantung Sasuke berdetak begitu cepat menunggu jawaban dari Hinata.
"Pada Naruto." Sasuke tersenyum kecut mendengarnya, sudah kuduga. Sasuke berdiri berniat melangkah pergi.
"Sasuke mau kemana?"
"Hn."
"Tunggu. Kau tidak ingin mendengar alasanku memberi pelampung itu pada Naruto?"
"Tidak."
Alsannya sudah jelas karena kau lebih sayang Naruto-kun mu itu di banding aku.
"Asal kau tau saja aku memberikan pelampung pada Naruto tapi aku akan berenang menyelematkanmu Sasuke. Dan kupastikan kalian berdua tidak akan mati."
"Kalau begitu kenapa kau tidak memberikan pelampungnya padaku dan berenang menyelamatkan Naruto?"
"Karena aku lebih suka menyelamatkanmu dengan tubuhku sendiri daripada oleh benda mati."
Sasuke pun diam membeku. Bibirnya dengan sendirinya membentuk seulas senyuman.
69
Akhirnya waktu istirahat pun tiba, Hinata membereskan meja kerjanya. Tubuhnya ia rentangkan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Pekerjaan sebagai seorang jurnalis memang tidak mudah, pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan objektivitas tinggi ini memang sudah sejak dua tahun ini ia geluti. Meskipun ia masih junior di pekerjaannya ini, Hinata bisa dikatagorikan sebagai orang yang berbakat dan memiliki potensi tinggi dalam bidangnya ini. Tidak heran jika beberapa hari yang lalu ia dipromosikan oleh perusahaannya untuk menjadi seorang reporter berita. Namun naasnya ia tidak mendapatkan posisi tersebut karena kesialannya. Oh ya semenjak ia bekerja di sini ia memang menjadi rival Haruno Sakura yang merupakan jurnalis terbaik di perusahaan ini sebelum akhirnya Hinata datang dan membahayakan posisinya. Maka tidak jarang jika mereka terlihat bersaing antara satu sama lain berusaha menunjukan siapa yang terbaik dari yang terbaik.
Memikirkan kekalahannya dari Sakura selalu berhasil membuat dirinya sedih. Rivalnya sekarang sudah naik jabatan dan mempunyai acara sendiri sedangkan dia masih di sini berkutat dengan komputer dan note-note kecilnya. Namun di lain hal semenjak ia kalah dari Sakura, ia semakin bersemangat dalam bekerja karena dalam hatinya ia sudah berniat ingin menyusul rivalnya itu.
"Hinata!" panggil seseorang.
Hinata menoleh dan menemukan Temarilah yang memanggilnya, wanita yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu merupakan salah satu rekan kerja dan seniornya. Ia melangkah mendekati Hinata.
"Temari-san." Sambut Hinata sambil tersenyum ramah.
"Kau mau pergi ke kantin?" tanyanya
Hinata mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu aku ikut bersamamu," ujarnya tersenyum, merekapun berjalan berbarengan menuju kantin.
Lima menit kemudian mereka sudah berada di kantin, seperti biasa suasana kantin di jam-jam istirahat seperti ini memang selalu ramai. Pegawai-pegawai dari berbagai divisi akan berkumpul di kantin yang bisa di bilang cukup besar untuk menampung berates-ratus pegawai.
Hinata dan Temari duduk berhadap-hadapan setelah mereka mendapatkan makanan mereka. Di pinggir tempat duduk mereka terlihat sekelompok pegawai wanita yang terkikik-kikik geli, salah satu di antara mereka memegang salah satu majalah. Dalam hati Hinata agak penasaran dengan isi majalah tersebut, ada hal apakah di majalah tersebut yang membuat pegawa-pegawai wanita itu kegirangan.
"Ne Hinata kau sudah tau?" tanya Temari.
"Tentang apa?"
"Uchiha Sasuke tahun ini di nobatkan sebagai pria terseksi oleh Majalah People. Kau sudah melihatnya?" tanya Temari antusias.
Hinata tersenyum kecil mendengarnya ada perasaan bangga di hatinya mengetahui sahabatnya itu di nobatkan sebagai pria terseksi oleh majalah people, majalah no satu itu dan mengalahkan artis-artis. "Benarkah? Aku belum melihatnya."
"Ish, kau ini padahal pegawai lain heboh membeli majalah itu karena ada Sasuke-nya, ya sudahlah biar nanti aku pinjamkan padamu punyaku."
"Thank you."
"Biasa aja, ngomong-ngomong Sasuke itu memang lelaki idaman ya, kalau aku belum menikah mungkin aku akan seperti wanita lain yang tergila-gila padanya. Bagaimana menurutmu?" curhatnya.
Hinata hanya tersenyum, tidak ada yang tau kalau Sasuke adalah sahabatnya. Ia memilih untuk merahasiakannya mungkin kalau orang-orang di sekitarnya tau tentang kedekatan mereka, ia mungkin sudah repot dengan wanita-wanita yang meminta no handphone sahabatnya itu. Pria itu memang dari dulu selalu berhasil membuat orang-orang kagum terhadapnya. Kapandaiannya dalam berbisnis itu memang luar biasa dan ketampanannya itu harus Hinata akui memang di atas rata-rata. Tidak jarang ia terpesona dengan pria itu. "Iya dia memang pria idaman."
"Ku dengar dia baru saja putus dengan model bernama Karin itu. Syukurlah aku tidak suka dengan wanita itu."
"Aku sudah mendengarnya. Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Hinata heran.
"Aku pernah bekerja untuk meliput beritanya dan kau mau tau saat aku wawancara dia juteknya minta ampun." ujar Temari dengan nada kesal.
"Benarkah?" Sebenarnya Hinata juga berpikir seperti itu, dulu waktu Sasuke memperkenalkannya, wanita itu menatapnya sinis dan membalas sapaan-sapaannya juga dengan nada ketus. Tapi Hinata tidak ambil pusing, wanita itu adalah kekasih yang di pilih sahabatnya jadi ia harus menghargainya lagipula ia tidak suka menilai orang dari luarnya mungkin di balik kejutekannya itu dia adalah sosok yang baik hati, bisa saja kan? Sasuke saja sampai mau berpacaran dengannya.
69
Hinata mampir ke sebuah toko buku dekat dengan kantornya. Ia memang sudah berniat kemari selain untuk membeli novel-novel romansa yang suka di bacanya, ia juga berniat membeli majalah People tentang Sasuke itu. Ia ingin menunjukan apa yang baru saja di dapatkan sahabatnya itu, sesuatu yang bergengsi yang Hinata tau tidak akan membuat Sasuke bahagia atau apa dan Hinata yakin Sasuke belum tau tentang ini, ia terlalu sibuk bekerja. Meskipun ia sudah tau akan bagaimana nanti reaksi Sasuke tetap saja ia ingin menunjukannya.
Setelah membeli novel dan majalah Hinata akhirnya sampai di perusahaan Sasuke menggunakan taxi. Ia berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi, tolong hubungkan saya dengan Uchiha Sasuke," ujar Hinata ramah.
Resepsionis yang bernama Kin itu menatapnya sinis, Hinata tidak peduli ia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. "Sebentar," ujarnya ketus.
Hinata menunggu Kin menyelesaikan pembicaraannya lewat telpon, Hinata memperhatikan Kin yang terlihat kesal. Ia menutup telponnya dan menatap Hinata tajam. "Uchiha-sama menunggumu."
Hinata tersenyum. "Terima kasih." Dan ia pun berlalu tak sadar dengan pandangan iri yang di tunjukkan Kin padanya.
Hinata mengetuk pintu menunggu Sasuke membiarkannya masuk. Tak perlu waktu yang lama sebelum akhirnya Sasuke membiarkannya masuk. Ia melangkahkan kakinya dan menemukan Sasuke yang terlihat serius menatap layar laptopnya. Bajunya sudah berantakan, tangan kemejanya yang di gulung sampai siku dan dasinya yang sudah merolot dengan dua kancingnya yang terbuka membiarkan Hinata untuk melihat sedikit akses dari kulit putihnya. Hinata merona meskipun berantakan Sasuke masih terlihat sangat menawan.
"Sasuke, apa aku menganggumu?" jujur saja Hinata tidak enak hati karena datang tiba-tiba tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
"Tidak," jawab Sasuke masih melihat layar laptopnya.
Hinata agak sebal dengan tingkah Sasuke yang terlihat tak berminat dengan kedatangannya. Akhirnya ia memilih duduk di sofa di ruangan Sasuke dan menyimpan barang-barangnya di meja. Ia memperhatikan Sasuke. Sasuke masih tampak serius dan terhanyut ke dalam perkerjaannya. Bosan karena di diamkan akhirnya Hinata memutuskan untuk bermain game di dalam ponselnya. Hanyut dengan game yang sedang di mainkannya, Hinata tak menyadari Sasuke telah membereskan pekerjaannya dan berjalan mendekatinya.
"Kau sedang apa?" tanya Sasuke.
Tangan Hinata terlihat begitu lincah bergerak-gerak menyentuh touch-screen ponselnya. "Game."
Sasuke duduk di sebelahnya memperhatikan Hinata beberapa saat lalu memandang kantong plastik yang terletak di atas meja yang ada di depannya. Sasuke membuka kantong plastik itu dan menemukan dua kotak gabus. "Apa ini?"
Hinata baru saja menyelesaikan permainannya, ia memasukan ponselnya ke dalam tas furlanya itu. "Oh itu fu yung hay," jawab Hinata.
"Untukku?"
Hinata mengangguk. " Mengenalmu cukup lama, aku tau kau seorang yang gila kerja dan pasti melupakan waktu makan siangmu, jadi aku memutuskan untuk membelikanmu itu."
Sasuke tersenyum kecil, senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapapun. "Thanks," ujarnya kemudian mulai memakan fu yung hay-nya itu.
"Tapi itu mungkin sudah dingin, tak usah kau makan saja."
Sasuke mengangkat satu alisnya menatap heran. "Tak apa, sayangkan kalau di buang."
Hinata tersenyum senang, ia juga mulai membuka kotak yang satu lagi berniat untuk memakannya.
"Ku kira yang satu itu juga untukku," sahut Sasuke menghentikan Hinata dari kegiatannya.
Hinata menatap Sasuke geli. "Kau kira ini untukmu? Aku tak mau hanya melihatmu memakan sedangkan perutku juga keroncongan."
Sasuke tersenyum kecil.
Sadar akan tujuan utamanya kemari, Hinata mengeluarkan majalah yang di belinya dari dalam tasnya. Sasuke tampak memperhatikannya. "Ada apa?"
"Ini." Ujar Hinata seraya menyodorkan Majalah People di depannya, cover dari majalah itu sendiri adalah dirinya sendiri yang terlihat hanya mengenakan celana jeans dengan tubuh atas yang tak terbalut apapun memperlihatkan perut sixpacks-nya.
"Ta-da! selamat kau menjadi pria terseksi di tahun ini!" ujar Hinata bersemangat. "Kau sudah mengetahuinya?" lanjutnya.
Sasuke menggelengkan kepalanya. Seharusnya ia merasa bangga atau bahagia mendapatkan julukan seperti itu tapi entahlah ia merasa biasa saja mungkin karena ia sudah terbiasa mendapatkan hal-hal tersebut. Tahun lalu saja ia di nobatkan sebagai pria paling berkarismatik oleh majalah… entahlah ia sudah lupa.
"Sudah kuduga, kau terlalu sibuk hingga tak tau tentang hal ini." Tutur Hinata.
Sasuke tak menggubrisnya, ia melanjutkan melahap fu yung haynya.
"Kau terlihat biasa saja, tapi tak apalah kau memang selalu seperti ini." ujar Hinata mengerti dengan sikap Sasuke. Ia menyimpan kembali majalah tersebut ke dalam tasnya.
Hinata memperhatikan Sasuke yang tengah menyantap makanannya dengan lahap, ia tersenyum. "Sasuke, jika kau makan seperti itu terus mungkin tahun depan kau akan dinobatkan menjadi pria tergendut loh." canda Hinata dengan tawanya yang terdengar renyah di telinga Sasuke.
Sasuke menatap Hinata dan tersenyum tipis. "Mungkin kau benar."
Dan mereka berdua pun tertawa.
"Jangan sampai terjadi," ucap Hinata di sela-sela tawanya.
"Kenapa? Kau malu jika punya sahabat gendut," tanya Sasuke dengan nada menggoda.
"Tentu saja tidak. Ah mungkin jika kau gendut kau akan terlihat sangat lucu." Hinata membayangkan perut buncit Sasuke yang turun-naik ke atas dan ke bawah saat berlari. Pffft.. Hinata tak kuasa menahan tawanya ia bisa merasakan perutnya yang mulai sakit karena terus tertawa.
Entah apa yang di bayangkan gadis itu, tapi Sasuke senang bisa melihat tawa Hinata seperti itu. Ah betapa detik itu juga ia ingin memeluk gadis ini. Sangat berbahaya jika ia terlalu lama bersama Hinata, hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.
"Cepat habiskan makananmu, aku antar kau pulang."
"Baiklah."
.
.
To be continued …
A/N: Sebenarnya chapter ini bisa dijadikan sebagai filler belaka. Saya hanya ingin menunjukan sekilas bagaimana hubungan persahabatan antara Sasuke dan Hinata. Scene yang paling saya suka di chapter ini adalah saat Sasuke bertanya pada Hinata mengenai siapa yang akan diselamatkannya ketika ia hanya memiliki satu pelampung, bagaimana dengan kalian? Jujur pertanyaan yang diberikan Sasuke itu terinspirasi dari program acara reality show Petir. XD
Anyway, terimakasih banyak atas dukungan-dukungan yang telah kalian berikan kepada saya baik itu berupa review, fav, atau pun follow, bahkan ketiga-tiganya. You all are amazing! God bless you all!
Hope to see you soon ladies and gentlemen!^^
