Prenote : Final chapter, enjoy :)))
SWEET ATTEMPTS [v]
"Bagaimana dengan adopsi?"
Jongin menaikkan setengah alis sembari melirik ke arah Kyungsoo yang duduk berseberangan dengannya. Matahari senja menyinari kulit putih Kyungsoo dengan cara paling memukau yang pernah ia lihat. Di hadapan mereka, pancake hangat berbalut sirup mapple, didampingi satu jar iced tea yang dingin menunggu untuk disantap.
Kyungsoo menggigit bibir, lalu membalas tatapan Jongin. "Tidakkah kau pikir itu terlalu rumit?"
Jongin memainkan pulpen di jarinya. Ia berpikir sejenak untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan pilihannya. "Aku rasa kita mampu."
Ada hening yang cukup panjang mengisi percakapan mereka setelah itu. Jongin menghela nafas, ia lelah dengan perdebatan yang sudah berlangsung selama tiga puluh menit ini.
"Kyungsoo, kau sudah menolak semua ideku sebelumnya. Adopsi adalah tawaran terakhirku. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak terbuka pada gagasan ini."
Kyungsoo memberinya tatapan penuh rasa tidak setuju. Namun, Jongin tidak goyah dengan apa yang telah ia katakan.
"Fine." Jawab Kyungsoo kemudian.
Jongin bersorak riang lalu menuliskan kata 'Adopsi' dalam font besar sebagai judul essay Bahasa Inggris mereka. Ia lega akhirnya bisa memakan pancake-nya setelah harus berjuang melawan Kyungsoo dan sifat perfeksionis lelaki itu. Jongin berjanji dalam hati, tidak akan lagi memilih Kyungsoo sebagai partner di tugas-tugas yang akan datang.
"Ibumu menghubungiku lagi kemarin malam." Kyungsoo mencoba membuka obrolan ringan untuk menemani mereka menikmati pancake sore itu.
Garpu Jongin terhenti di udara. "Benarkah?" tanyanya tidak percaya. "Wanita tua menyebalkan itu bahkan tidak mengirim pesan apapun padaku." Lanjut Jongin kesal.
Ia mulai iri dengan perhatian ibunya ke Kyungsoo. Semenjak mengakui bahwa ia telah memiliki hubungan resmi dengan Kyungsoo, ibunya selalu memberi perhatian lebih pada lelaki itu. Ibunya bahkan terus membicarakan Kyungsoo walaupun ia sedang berada dalam sambungan dengan Jongin. Pertanyaan yang ibunya ajukan bermacam-macam, mulai dari 'Berapa ukuran kaki Kyungsoo? Aku ingin membawakannya sepatu saat pulang ke Korea' sampai hal detail yang sudah melebihi batasan seperti 'Kau selalu menggunakan proteksi ketika berhubungan dengan Kyungsoo, kan Nini?'
Jongin menggeram frustasi.
Melihat tabiat Jongin yang berubah, Kyungsoo segera memukul kepala lelaki itu menggunakan pipet minumnya.
"Yah, stop sulking." Seru Kyungsoo. Ia menuang teh ke dalam gelasnya lalu meneruskan, "Paling tidak kau hanya menghadapi ibumu lewat telepon."
Jongin tersenyum kecil mendengar itu. "Apa ibumu membicarakan lagi mengenai betapa tampannya aku?"
"24/7, Jongin. Eomma hampir mirip dengan Subway yang selalu terbuka setiap kali aku membahas sesuatu tentangmu."
Hubungan Kyungsoo dan kedua orang tuanya membaik setelah suatu hari ia pulang mendapati meja makan malam penuh dengan makanan kesukaan Kyungsoo. Ibunya bahkan tiba-tiba memeluk Kyungsoo, berbisik kepadanya bahwa ia tidak seantipati yang Kyungsoo kira. Sedangkan ayahnya yang menurunkan sifat canggung padanya (Thanks, Appa), hanya menepuk punggung Kyungsoo sambil memintanya duduk.
Kyungsoo tahu ada andil Seungsoo di balik semua itu. Maka pada tengah malam, untuk pertama kalinya, Kyungsoo mengubungi kakaknya. Percakapan mereka jauh dari kata wajar, karena Kyungsoo kesulitan mengucapkan terimakasih. Tiga menit dari total waktu bicara mereka dihabiskan dalam diam. Tapi Seungsoo mengerti. Seungsoo mengerti apa maksud Kyungsoo meneleponnya saat itu.
Kakaknya kembali membantu Kyungsoo untuk meluruskan masalahnya tentang Jongin. Seungsoo punya kemampuan hebat dalam membaca kapan situasi yang tepat untuk memperkenalkan Jongin ke keluarga mereka. Kakaknya memulai dengan pancingan-pancingan kecil yang berhubungan dengan Jongin setiap kali mereka berada di dekat orangtuanya. Seungsoo yang pulang lebih sering, akhirnya berhasil meyakinkan orangtua mereka bahwa Kyungsoo telah memilih pasangan dengan baik.
Jongin bukan tipe lelaki cerdas, Kyungsoo akui. Namun, lelaki itu mempunyai kepribadian cerah yang bisa menghidupkan suasana rumah Kyungsoo. Ia masih ingat tawa terbahak-bahak ayahnya, ketika Jongin menceritakan tentang kesalahan beberapa pemain bola di lapangan. Kyungsoo baru tahu ayahnya memiliki tim sepak bola favorit yang sama dengan Jongin.
Perlahan-lahan, percakapan meja makan di kediaman Do berubah ramai.
"Mungkin aku harus mampir setelah ini?" saran Jongin sambil memotong pancake-nya kecil-kecil.
Tepat setelah Jongin mengatakan itu, ponsel Kyungsoo bergetar. Ia membaca pesan masuk dari ibunya sejenak, kemudian tertawa pelan.
"Aku rasa kau memang harus mampir." Ujar Kyungsoo sambil menghadapkan layar ponselnya ke Jongin.
Lelaki itu tersenyum melihat deretan kalimat bertuliskan;
Kyungsoo, Eomma dan Appa pulang dari kantor sedikit lebih awal. Ajak Jongin untuk makan malam bersama kita.
"Bagaimana jika kita bertukar keluarga?" kelakar Jongin sambil menyeka sirup mapple yang tersisa di sudut bibirnya.
Kyungsoo terdiam sejenak, memutar senyum ibunya yang semakin sering ditujukan untuk Kyungsoo akhir-akhir ini serta tatapan ayahnya yang menghangat, menenangkan hatinya.
Pandangannya kembali ke Jongin sebelum ia mengutarakan kalimat dengan nada pasti, "Meh. I love my family."
Jongin berlari kecil sambil mengapit bola sepak di antara lengannya. Ia memutuskan untuk sedikit bermain menghabiskan jam istirahatnya kali ini. Dengan sedikit terengah, Jongin duduk di salah satu bangku luar lapangan. Terik matahari siang itu seakan membakar kulitnya. Ia akhirnya membuka kemeja seragamnya, menyisakan kaus putih polos membungkus tubuhnya yang atletis.
Sesaat setelah ia mengatur nafasnya kembali, seorang gadis yang ia kenali sebagai adik kelasnya berjalan mendekat. Gadis itu mengenggam botol air minum di tangannya dengan senyum malu-malu terpasang di bibir.
"Jongin oppa." Gadis itu menyapa, sedikit semu di pipinya mulai muncul. "Ini untukmu."
Jongin mendongak menemukan sebotol air minum tengah disodorkan ke arahnya. Ia hanya berkedip pelan tanpa meraih botol itu.
"Oh, aku Yeri." Ucap gadis itu cepat saat menyadari raut kebingungan Jongin. "Aku ingin berkenalan dengan oppa."
Jongin menyeringai mengetahui kemana arah pembicaraan ini berlanjut. Ia berdiri mengakkan tubuhnya, kemudian menghadap Yeri yang masih tersenyum.
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan ini."
Yeri mengerjap mencoba menangkap maksud Jongin. "Oh, kenapa?"
Jongin menggerakkan telunjuknya, mengisyaratkan Yeri untuk mendekat. Dengan ragu-ragu, gadis itu mencondongkan badannya. "Aku punya sedikit saran." Jongin mengambil jeda sesaat untuk tertawa kecil. "Lari. Selagi masih ada waktu."
Mimik wajah Yeri dipenuhi rasa heran mendengar kalimat Jongin. Ia belum sempat bertanya lebih banyak saat merasakan bulu tengkuknya tiba-tiba meremang."Op-Oppa. Apa kau merasakan sesuatu yang aneh?"
Senyum Jongin terlihat semakin lebar. "Oh, percayalah aku selalu merasakannya."
Yeri segera tergagap ketika menangkap sepasang mata mengintip dari balik bahu Jongin. Gadis itu menelan ludah perlahan sambil mengambil beberapa langkah mundur.
"Goda dia sekali lagi dan aku bersumpah kau tidak akan melihat matahari besok pagi." Ancam pemilik mata di belakang Jongin dengan nada paling mematikan yang pernah gadis itu dengar.
Jongin masih sempat meneriakkan 'told you!' saat Yeri mulai berlari cepat dengan raut wajah ketakutan. Ia tergelak dengan pemandangan yang ia lihat sampai melupakan lelaki yang kini ada di hadapannya.
"Kau sengaja." Tutur lelaki itu kesal. Kedua tangannya bersedekap, mencoba mengeluarkan ekspresi kemarahannya.
"Sengaja apa?"
Jongin menahan keinginannya untuk mencubit pipi Kyungsoo atau mungkin memberinya beberapa kecupan. Karena Kyungsoo yang cemburu menempati posisi teratas di daftar hal terfavoritnya (Ia bahkan rela menurunkan kemenangan Chelsea sebagai pemegang tahta tertinggi sebelumnya. Kyungsoo seharusnya berbangga hati).
"Kau sengaja memancing para gadis itu untuk menggodamu."
"No, i didn't!" bantah Jongin cepat.
Mungkin iya kemarin. Jongin menambahkan dalam hati. Atau kemarinnya lagi, atau Senin lalu. Tapi Jongin bersumpah kali ini ia benar-benar tidak merencanakannya.
Kyungsoo menginjak kaki Jongin keras hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. "Crapload." Umpat Kyungsoo.
Ia melenguh panjang seraya memperhatikan Jongin. Kyungsoo mengira permasalahannya setelah menjadi senior tingkat dua hanya berkisar pada subjek pelajaran yang ia ambil. Namun ternyata, Jongin menambah satu perkara lagi yang membuat kehidupannya semakin sulit.
"Aw, does my sugar get mad? Cute."
Kyungsoo melempar tatapan kebenciannya pada Jongin. Ia menyambar kemeja Jongin, lalu segera memakaikannya kembali ke lelaki itu.
Jongin tersenyum tipis. Ia tahu bagaimana perasaan cemburu Kyungsoo membakarnya saat ini. Jongin-pun pernah ada pada fase yang sama. Akan tetapi ia sekarang bisa bernafas lega. Karena Kyungsoo merubah 'Oh, who's that cute baby boy?' dari gadis di bawah angkatan mereka menjadi 'Astaga, dia melihatku! Aku yakin dia ingin membunuhku!' hanya dengan mata sadisnya.
Kyungsoo menampakkan wajah puas ketika ia selesai memasang kancing terakhir kemeja Jongin. Lelaki itu merapikan lengan kemeja Jongin yang berantakan sejenak, sampai kerutan pada kemeja itu sedikit tersamarkan.
"Kau tidak memasukkan kemejaku ke celana sekalian?" goda Jongin dengan tawa renyah.
Kyungsoo menginjak kaki Jongin lagi, tiga kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Jongin menekuk lutut untuk menyentuh ujung kakinya yang terasa sakit.
"Lelaki kejam!" seru Jongin ketika Kyungsoo mulai berjalan menjauh.
"Stop being a wuss! Kau bisa terlambat pada pelajaran berikutnya jika tidak berhenti mengeluh seperti wanita."
Jongin mengeluarkan nafas panjang. Terkadang ia berpikir apa perasaannya kepada Kyungsoo tidak sebanding dengan perasaan lelaki itu padanya.
Namun ketika Kyungsoo berbalik untuk melihatnya, lalu terdiam dengan mimik khawatir sambil mengutarakan, 'Ap-Apa aku benar-benar menyakitimu?' Jongin memutuskan untuk tidak peduli.
Jongin segera berlari ke arah Kyungsoo kemudian merangkul pundak lelaki itu.
"Sassy boyfriend." Bisik Jongin ke telinga Kyungsoo.
Ia menangkap Kyungsoo yang menunduk, menyembunyikan rona di pipinya dan ia tersenyum.
Entah perasaan Kyungsoo lebih sedikit atau mungkin justru melebihinya, selama ia bahagia, ia tidak peduli.
Jongin belum juga menemukan mengapa Kyungsoo begitu membenci Baekhyun sampai sekarang. Meskipun Junmyeon mulai beradaptasi dengan kehadiran Kyungsoo (Lelaki itu mencoba melempar pertanyaan-pertanyaan untuk memancing percakapan di antara mereka, walaupun masih canggung dan kaku), serta Yifan yang Jongin yakin telah mengeluarkan semua usahanya (Tertawa pada hal apapun yang Kyungsoo lakukan atau utarakan, karena sederhana, ia gugup dan tidak tahu harus melakukan apa), namun Baekhyun adalah perkara khusus.
Lelaki itu selalu berkeringat setiap Kyungsoo bergabung dengan mereka. Jongin tidak bisa menyalahkan Baekhyun, karena Kyungsoo memang bertingkah menyebalkan di sekitar Baekhyun.
Jongin menyeduh kopi sambil memperhatikan Baekhyun yang menyuap sendok demi sendok makan siangnya dengan perlahan. Lelaki itu beberapa kali menelan ludah karena pandangan Kyungsoo tidak beralih darinya sejak tadi. Baekhyun melirik sekilas hanya untuk berakhir dengan bentakan, "What the fuck are you looking at?"
Ia mengirim sinyal keputusasaannya ke Jongin, namun Jongin sudah sibuk bermain dengan ponselnya.
Baekhyun akhirnya bisa kembali bernafas saat Kyungsoo beranjak dari kursinya untuk membeli minuman dingin.
Ia segera meraih pergelangan tangan Jongin. "Oh, astaga." keluh Baekhyun setengah merajuk. "Kau harus berbuat sesuatu. Hatiku yang lembut tidak bisa menerima perlakuan Satansoo lagi."
"Mungkin kau pernah berbuat sesuatu yang buruk?" tanya Junmyeon yang berada di samping lelaki itu.
Baekhyun menoleh kesal. "Joonie, aku bahkan tidak berani bicara padanya." Ia kembali memalingkan wajahnya ke Jongin. "Apa kau tidak mencintaiku lagi? Oh, aku tidak mau mati muda."
Jongin memijat pelipisnya pelan. "Untuk terakhir kalinya Baekhyun, dia tidak akan membunuhmu."
"Paling tidak jauhkan dia dariku. Kau tidak lihat lenganku yang mulai kurus karena nafsu makan siangku hilang beberapa bulan terakhir ini."
Yifan mengangguk-angguk setuju walaupun sebenarnya ia hanya ingin Jongin tidak membawa Kyungsoo ke meja makan siang mereka.
"Jongin, kumohon." pinta Baekhyun dengan nada penuh harap.
Jongin mendesah. "Oh, baiklah." Ujarnya menyerah. Ia tidak mungkin menolak permintaan sahabatnya. Lagipula ia juga penasaran mengapa Kyungsoo hanya berperilaku buruk ke Baekhyun.
Ketika Kyungsoo kembali dengan minuman kalengnya, Jongin segera menariknya menjauh dari meja.
Kyungsoo dapat mendengar Baekhyun yang berbisik, 'You're the best, Jonginnie' dan menangkap wajah Jongin berubah merah padam sebelum ia mendelik lalu menyahut, 'Jangan memanggilku dengan nama itu'.
Mereka berdiri di dekat jendela yang menghadap lapangan. Jongin menghela nafas sejenak. Ia memandang Kyungsoo yang kebingungan di hadapannya.
"What is it?" tanya Jongin tanpa basa-basi.
Kyungsoo memutar kaleng minumnya dengan dahi berkerut. "What is what?"
"You know what is what."
"No, i don't know what is what." Bantah Kyungsoo sambil meraba apa yang sebenarnya menjadi inti pembicaraan ini.
"I believe you know about what is what that i'm talking about."
"Seriously, i don't what is what about what you're talking about."
"I'm talking about what is what that you don't know what but somewhat- ugh, for God's sake," Jongin mengepalkan tangannya di udara. "antara kau dan Baekhyun! Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan dia?"
Kyungsoo berubah kaku sekilas. Ia mendadak membuang pandangannya dari Jongin lalu mengeluarkan 'oh' pelan.
Jongin memincingkan mata. "Kau menyembunyikan sesuatu."
"Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun."
"Oh, kau sangat menyembunyikan sesuatu, Kyungsoo." Ulang Jongin yakin. Hubungan mereka yang sudah berlangsung beberapa bulan membuatnya sangat paham mengenai hal seperti ini. "Kau tahu kau selalu bisa bercerita padaku."
Kyungsoo menunduk sambil menggigit bibir. Ia sebenarnya ingin mengatakan alasannya kepada lelaki itu berkali-kali, namun tenggorokannya serasa kering setiap ia hendak bicara.
"Well... a-aku pernah mendengar... eng, Baekhyun bernyanyi dan... dan dia juga salah satu anggota klub tarik suara... lalu aku menduga... well... yeah..." racau Kyungsoo tidak jelas.
"Kau ingin bertanya pada Baekhyun apa dia bisa memasukkanmu ke klub tarik suara?" sambar Jongin cepat.
Kyungsoo tercekat."Tidak! B-Bukan!"
"Kyungsoo." Sela Jongin dengan nada tidak percaya.
Kyungsoo menghentakkan kaki kemudian menutup wajahnya dengan salah satu tangan. Ia masih bingung mengapa Jongin bisa menebak maksud di balik kalimatnya.
Lelaki itu meraih tangannya lalu menggenggamnya erat. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"You know why." Gumam Kyungsoo malu.
"No, i don't know why."
"Oh, you really know why and why."
"Seriously, i don't know- ow!" pekik Jongin ketika Kyungsoo meninju perutnya.
Ia segera tertawa lalu membawa Kyungsoo ke pelukannya. "Aku yang akan menanyakannya ke Baekhyun, untukmu. Bagaimana?"
Kyungsoo mengepalkan tangannya ke Jongin, memukul dada lelaki itu kecil-kecil, sebelum mengangguk pelan.
"Fine. Masalah selesai. Sekarang kita kembali ke meja dan kau harus berjanji padaku untuk tidak mengganggu Baekhyun lagi."
"Hmm." Jawab Kyungsoo sambil kembali mengangguk.
Ketika mereka duduk bersama lagi, Jongin menampakkan wajah cerahnya. Baekhyun sudah mengantisipasi kabar baik apa yang akan ia dengar dari lelaki itu.
"So, Baekhyun," Jongin berkata, senyumnya terlihat begitu bahagia. "aku menduga apakah klub tarik suara masih kekurangan orang?"
Baekhyun tergagap sejenak, memutarkan pandangannya ke seisi meja itu. "Y-Ya. Kami masih membutuhkan beberapa vokalis lagi. Kamis depan kami akan mengadakan seleksi."
"Perfect!" sorak Jongin riang.
Ia merangkul bahu Kyungsoo lalu mengguncangkannya beberapa kali. "Aku punya rekomendasi vokalis terbaik untukmu. Tolong daftarkan dia masuk ke dalam seleksi." Ujarnya sambil menyentuh pipi Kyungsoo yang sedang menunduk.
"O-Oh." Baekhyun memaksakan senyumnya. Ia menatap pasangan di depannya bergantian. "Ok! HAHAHAHAHA."
Yifan dan Jumyeon saling melirik diam-diam karena menangkap rasa frustasi Baekhyun. Suasana mendadak hening sebelum akhirnya Kyungsoo beranjak untuk mengembalikan buku ke perpustakaan. Sesaat setelah Kyungsoo berdiri, ia menoleh ke arah Jongin sejenak.
"Um, J-Jongin?"
"Yes, sugar?"
Kyungsoo menelan ludah. Ia menjilat bibir sementara kepalanya mencoba menenangkan diri. "Fuck you." Thank you.
Ketiga lelaki di meja itu terkejut dan Kyungsoo memejamkan mata, memaki dirinya sendiri. Namun, Jongin tersenyum.
"You're very welcome."
Mata Jongin tidak lepas dari Kyungsoo saat lelaki itu meninggalkan kafetaria dengan derap yang terburu-buru. Ia membuang nafas panjang lalu berucap penuh kekaguman, "Isn't he the most adorable little thing that ever lived on earth?"
Akan tetapi, ketika ia berbalik, Jongin mendapati Baekhyun memberi tatapan menikam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"AKU MEMINTAMU UNTUK MENJAUHKAN DIA DARIKU TAPI KAU JUSTRU MEMBUATKU SEMAKIN DEKAT DENGANNYA?!" teriak lelaki itu keras. " YOU ARE SO DEAD KIM JONGIN, DO NOT CALL ME YOUR BAEKBITCH EVER AGAIN, YOU FUCKING TRAITOR!"
Jongin hanya bisa mengerut di atas kursinya.
Baekhyun menggerutu, mengutuk kebodohan Kim Jongin dalam hati saat ia melihat Kyungsoo memasuki ruang latihan vokal. Ia sama sekali belum paham apa yang Jongin lihat dari lelaki itu. Kyungsoo bahkan punya julukan menyeramkan yang memang mencerminkan kepribadiannya yang sadis.
Kyungsoo berkali-kali menolehkan kepalanya ke belakang, memandang Jongin dengan rasa penuh harap karena kepercayaan dirinya jatuh sampai menyentuh tanah. Jongin yang khawatir segera memanggil Baekhyun mendekat dari balik pintu ruang latihan itu. Baekhyun tidak bisa lebih kesal lagi. Ia berjanji akan menobatkan pasangan itu sebagai pasangan paling aneh abad ini.
"Aku membencimu. Kau punya tiga puluh detik, sebelum aku memutuskan untuk menamparmu." Tandas Baekhyun sambil menatap Jongin yang tampak bingung.
"Baekhyun, aku tahu kau tidak bisa akur dengannya. But, here's the deal." Jongin menggigit bibir karena bingung memulainya darimana. "Dia sebenarnya sangat pemalu."
"KAU BILANG SATANSOO PEMALU? OH, JONGIN AKU HARUS MEMANDIKANMU DENGAN AIR SUCI AGAR KUTUKANNYA KEPADAMU HILANG." Potong Baekhyun cepat.
"Baekhyun, kau adalah sahabatku. Bisakah kau sedikit membantuku dalam hal ini? Aku benar-benar jatuh padanya." Jongin bersemu hingga mulut Baekhyun menganga karena melihat lelaki di depannya berubah seperti anak anjing kecil yang lucu.
Baekhyun membuang nafas, menandakan bahwa ia menyerah. "Oh, baiklah."
Jongin mencubit kedua pipi Baekhyun sejenak dan segera berhenti ketika Kyungsoo memincingkan mata ke arahnya. Ia akhirnya bercerita secara singkat mengenai Kyungsoo serta kemampuan buruknya dalam menyampaikan emosi. Jongin bahkan memohon agar Baekhyun bisa sedikit lebih bersabar karena Kyungsoo lama kelamaan pasti akan menampakkan sifat aslinya. Awalnya, Baekhyun tidak percaya. Namun ketika melihat Kyungsoo yang menunduk dengan telapak tangan mengepal dan keringat menetes di pelipisnya, ia sedikit membuka hati.
"Aku bersumpah dia punya selera musik yang sama denganmu. Kalian berdua pasti bisa akrab."
Baekhun memutar bola matanya. "Jangan terlalu menjualnya padaku, Kim Jongin. Aku bisa menuntut ganti rugi jika kau berbohong kali ini."
Jongin tersenyum lalu berterimakasih pada Baekhyun. Mereka berdua memalingkan wajah ke Kyungsoo yang masih berdiri kaku tanpa tahu harus berbuat apa.
"You know, kau boleh masuk jika ingin menonton. Mungkin dia akan sedikit lebih tenang."
Tanpa pikir panjang Jongin segera menghampiri Kyungsoo.
"J-Jongin aku rasa aku ingin mengurungkan ini." Ucap Kyungsoo sambil berbalik menuju pintu keluar.
Jongin dengan sigap menahannya untuk tetap tinggal. "No, sugar. Kau bisa melakukan ini. Apa kau tidak menghargai usahaku untuk meyakinkan Baekhyun?"
Kyungsoo mendesah lalu memandang Jongin dengan sorot putus asa. Melihat beberapa pasang mata yang sedang mengamatinya saat ini sudah membuat kegugupannya meningkat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia harus bernyanyi di depan mereka.
"Mungkin kau bisa memejamkan matamu. Bayangkan kau ada di dalam mobilku seperti selama ini ketika kau menyanyi."
Kyungsoo memainkan jari tangannya, berusaha mencari kata yang bisa membuat Jongin setuju bahwa ini adalah ide yang buruk.
"Bernyanyilah untukku. Jika kau menyia-nyiakan kesempatan ini aku tidak akan pernah lagi mau bicara padamu." Tandas Jongin tegas.
Terkadang ia lelah menjadi seseorang yang terus mendukung Kyungsoo. Ia juga ingin melihat Kyungsoo melakukan usahanya sendiri, menaikkan nilai harga dirinya sendiri, karena Jongin juga ingin Kyungsoo bertindak sesuai dengan jalan pikirannya. Jongin mengambil salah satu kursi di ruangan itu yang paling dekat dengan tempat Kyungsoo berdiri nantinya.
Menangkap ada sedikit keganjilan antara Jongin dan Kyungsoo, Baekhyun akhirnya mengambil tindakan. Jongin benar-benar berhutang banyak padanya kali ini.
"Eng, Satan- oh, maksudku, Ky-Kyungsoo." Sapa Baekhyun sambil tersenyum memaksa. Kyungsoo menoleh dan Baekhyun berupaya keras untuk tidak terpengaruh dengan mata tajam Kyungsoo yang menatapnya.
Ia menelan ludah. "Seleksi akan dimulai beberapa menit lagi. Kau ingin mungkin sedikit mengobrol, err, denganku?"
"Oh, haruskah?" jawab Kyungsoo datar.
Baekhyun memiringkan kepala mendengar jawaban ketus Kyungsoo. Dalam otaknya ia sedang mengejar Jongin dengan tombak panjang karena telah melibatkannya dalam urusan ini.
"Ya, ya. Aku memaksa."
Baekhyun menarik Kyungsoo untuk duduk bersila di dekat piano dalan ruangan itu. Ia menjilat bibir, berpikir topik apa yang seharusnya ia bawa dalam percakapan kali ini, sambil tidak lupa untuk mengutuk Kim Jongin sekali lagi. Atau mungkin lebih, karena lelaki itu pantas mendapatkannya.
"Aku dengar dari Jongin kita punya selera musik yang sama."
Baekhyun menunggu jawaban Kyungsoo dalam diam, berdoa semoga kalimatnya tidak salah agar Kyungsoo tidak membakar jiwanya di neraka.
"Oh, benarkah? Kalau begitu aku boleh berasumsi bahwa kau salah satu penggemar berat Billy Joel."
Baekhyun mengerjap cepat. "KAU MENYUKAI BILLY JOEL?" pekiknya riang.
"Ya! Hanya orang bodoh seperti Kim Jongin yang tidak menyukainya." Tutur Kyungsoo kemudian.
"The Longest Time is the best." Ujar mereka bersamaan.
Kyungsoo dan Baekhyun saling bertukar pandang sebelum tertawa bersamaan. Mereka akhirnya saling menyebutkan album terbaik yang pernah mereka dengarkan, diselingi banyak 'Oh, aku juga menyukainya', 'Ya, aku setuju denganmu' sampai keduanya menyadari bahwa Jongin benar. Mereka memang memiliki banyak kesamaan.
"Bicara soal Jongin, aku yakin dia memaksamu untuk mendengarkan lagu EXO setiap kali kalian di mobil."
Kyungsoo terbahak setelah Baekhyun mengatakan itu. "Tidak hanya itu, Baekhyun. Dia bahkan berceloteh mengenai Kai tanpa henti. Kai is handsome, Kai is sexy, Kai is blablabla hanya karena dia tahu wajah mereka mirip. Aku sampai bosan."
"Tapi harus aku akui vokalis utama EXO punya suara yang menarik."
"Maksudmu D.O?"
"What? No, the other one! D.O is a bitch." Seru Baekhyun sedikit memekik.
Kyungsoo memalingkan wajahnya ke Baekhyun, mengeluarkan raut tidak setujunya. "Hey! Dia memiliki karakter suara yang unik! Lagipula, lelaki dengan terlalu banyak eyeliner itu tidak sebaik D.O."
"Dia punya kontrol pitch yang bagus!" Balas Baekhyun gusar.
Mereka berlanjut dengan pertengkaran sengit, mengabaikan Jongin yang berkedip bingung apa yang menyebabkan perubahan suasana di antara dua lelaki itu. Namun dalam hati, ia sedikit lega melihat Kyungsoo dan Baekhyun paling tidak bisa saling bicara.
Baekhyun menghembuskan nafas berat. "Okay, okay, lebih baik kita sama-sama setuju bahwa mereka memiliki keahliannya masing-masing."
"Or," Kyungsoo tersenyum licik, "let's just agree that Chen is the bitchest."
Keduanya mengangguk-angguk puas. Tiba-tiba, seorang wanita berambut panjang dengan kaki jenjang yang sempurna memasuki ruangan itu. Baekhyun langsung meminta Kyungsoo untuk berdiri sembari memberi pengarahan singkat bahwa wanita di depan mereka adalah Kim Taeyeon yang menjabat sebagai presiden klub tarik suara.
"Kyungsoo, kau harus tenang. Bayangkan apa saja yang membuat pikiranmu teralih dari rasa gugup." Saran Baekhyun ketika melihat Kyungsoo kembali berkeringat.
Kyungsoo hanya mengangguk kaku. Ia nelihat Jongin yang masih memainkan ponsel serta beberapa murid lain yang memang ingin menyaksikan seleksi hari ini. Kyungsoo menangkap beberapa orang yang ia kenal di antara murid yang mengikuti seleksi.
Ketika gilirannya tiba, Kyungsoo kehilangan suaranya, hell, ia bahkan lupa cara bernafas.
Kyungsoo melirik Baekhyun yang sedang berbisik ke arahnya, "Lihat ke arah Jongin, lupakan orang lain yang ada di sini."
Kyungsoo menelan ludah lalu mengalihkan pandangannya ke Jongin. Lelaki itu duduk dengan salah satu pipi bersandar di kepalan tangannya dan sebuah senyum tipis lembut mewarnai bibirnya. Mulut Jongin bergerak dalam sebuah isyarat yang Kyungsoo tafsirkan sebagai, 'Good luck, you can do it.'
Oh, sialan. Jika sudah sampai sejauh ini dan satu-satunya yang Kyungsoo bisa buktikan adalah sifat pengecutnya, ia tidak akan bisa mengatasi rasa menyesalnya.
Jadi, Kyungsoo memejamkan mata lalu berdehem, mencoba meloloskan suaranya.
Nada pertama yang bergulir dari lidah Kyungsoo sedikit sumbang. Namun, setelah pundak Kyungsoo berhenti menengang, Jongin bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya karena terlalu terpikat. Beberapa murid dalam ruangan itu berbisik meributkan 'Apa kau yakin itu Santansoo?' sementara Baekhyun membelalak, tidak menyangka kenapa Kyungsoo menyembunyikan bakat seindah ini. Lagu Thinking out Loud menjadi sebuah irama baru di ruangan itu karena Kyungsoo menyanyikannya dengan timbre berbeda.
Ketika Kyungsoo selesai bernyanyi, Jongin berdiri dari tempat duduknya, bertepuk tangan paling keras sambil berteriak bangga, "See? See? That's my boyfriend! You people should call him Angelsoo from now on!"
Kyungsoo langsung menatap tajam ke arah lelaki itu kemudian mendesis dengan mata mendelik, "Jongin, not a good time. Sit the hell down."
Kyungsoo menutup pintu mobil Jongin pelan. Matanya mengikuti lelaki yang kini setengah duduk di atas hood Mustang-nya dengan gaya khas-kedua tangan berada dalam saku sedang mulutnya sibuk mengunya permen Tic-Tac yang entah sudah keberapa kali. Kyungsoo berhenti melangkah sejenak, memotret kesempurnaan lelaki itu dalam kepalanya. Karena bahkan di bawah penerangan yang buruk, wajah rupawan Jongin tidak kehilangan pesonanya. Ia mendesah pendek. Ada kalimat yang tertahan di ujung lidahnya sejak kemarin dan Kyungsoo hampir sekarat karena ia begitu ingin mengungkapkannya.
Permasalahannya sederhana; rasa bersalah.
Dari hubungan mereka, Kyungsoo mengetahui bahwa Jongin adalah orang yang dapat menahan emosinya dengan baik. Sangat, sangat baik. Namun sekali Jongin kehilangan kendali, aura lelaki itu bahkan bisa membuat orang di sekitarnya berjengit ngeri. Maka dari itu, ketika Kyungsoo menyadari ia sempat membuat Jongin marah, Kyungsoo sadar bahwa ia sudah keterlaluan.
"Sugar?" Jongin memandang Kyungsoo dengan dahi berkerut. "Ada apa?"
Menangkap ketulusan dari nada Jongin membuat rasa bersalah Kyungsoo semakin menjadi. Ia segera mendekat ke Jongin, lalu berdiri di hadapan lelaki itu. "K-Kau sempat marah kemarin."
Jongin memberengut, mencoba meraba kejadian mana yang Kyungsoo maksud. "Benarkah? Aku tidak ingat."
"Ketika aku hampir mengurungkan niatku untuk ikut seleksi." Sahut Kyungsoo untuk melengkapi ingatan Jongin.
"Ah..." Jongin meluruskan kakinya, menciptakan perbedaan tinggi badan di antara mereka. "Bukan masalah besar, sayang. Aku bahkan sudah lupa."
"Tidak. Kau tidak boleh lupa Jongin." Sergah Kyungsoo cepat.
Bagaimana mungkin lelaki ini bisa mengatakan itu dengan santai sedang ia dirundung rasa bersalah yang seakan mencekik lehernya?
Jongin memiringkan kepala melihat tingkah aneh Kyungsoo. Lelaki di depannya menggumamkan kata-kata tidak jelas, salah satu tanda bahwa ia sedang berusaha mengungkapkan sesuatu.
"Jika aku berubah menjadi lelaki brengsek yang meyebalkan kau berhak marah, Jongin. Aku memberimu hak penuh."
Jongin tergelak karena pernyataan itu. "Oh, sugar, c'mere." Kyungsoo mendekatkan tubuhnya ke Jongin. Lelaki itu segera meletakkan kedua tangannya di atas bahu Kyungsoo sambil tersenyum geli. "Jalan pikiranmu sangat aneh, kau tahu itu?"
Kyungsoo mendengus, membenarkan kalimat Jongin. Walaupun Seungsoo sudah memberitahunya bagaimana cara membangun percakapan yang baik, ia tetap saja menjadi seorang lelaki kikuk yang lebih baik tidak bicara.
"Itu bukan karena aku tidak ingin marah kepadamu. Tapi terkadang suatu masalah aku biarkan berlalu jika itu tidak terlalu mempengaruhiku. Kau tahu otak sempitku lebih baik menampung rumus Momentum sialan yang kau ajarkan tempo hari, daripada hal seperti itu."
Kyungsoo tersenyum tipis karena jawaban Jongin, meski ia belum puas karena lelaki itu memaafkannya begitu saja.
"Lagipula, itu merupakan salah satu daya tarikku." Lanjut Jongin menyombongkan diri. "You know, the cool Kim Jongin, yang membuat gadis-gadis terpekik setiap kali aku lewat." Kyungsoo memutar bola mata dan Jongin menambahkan, "Atau mungkin yang membuatmu jatuh cinta?"
Jantung Kyungsoo berhenti berdetak. Jongin memandangnya, seperti mencari sebuah jawaban dan Kyungsoo kesulitan menangkap nafasnya.
"Kau jatuh padaku kan, Kyungsoo?"
Pikiran Kyungsoo menjerit yes, i'd fall for you so, so badly, you self unconcious jerk.
Tetapi tidak sepatah katapun keluar dar bibirnya. Sebagai gantinya, mata mereka justru saling menemukan satu sama lain. Menciptakan sebuah magnet tak kasat mata yang membuat wajah mereka semakin mendekat, hingga nafas keduanya menyapu menjadi satu. Namun, sebelum bibir mereka sempat bersentuhan, ponsel Kyungsoo bergetar dalam kantongnya. Kyungsoo refleks terlonjak ke belakang, memutus suasana romantis itu.
Dengan gerakan canggung ia meraih ponselnya. Alisnya berkerut melihat nama Baekhyun tercetak di layarnya. Ia segera membuka pesan dari lelaki itu.
Jongin melihat Kyungsoo yang mendadak mematung di hadapannya. Lelaki itu membelalak sambil menatap ponselnya tanpa bergerak sedikitpun. Jongin yang berubah khawatir memutuskan untuk melongok, mencari tahu apa isi pesan yang baru saja diterima Kyungsoo. Tetapi tiba-tiba, Kyungsoo memandang Jongin dengan senyum cerah yang mungkin membuat bulan malam ini malu untuk menampakkan diri.
"J-Jongin, i'm in." Ujar lelaki itu setengah berbisik. "Baekhyun bilang aku lolos."
Jongin mencerna kata-kata Kyungsoo sejenak, sebelum bersorak kegirangan. "Oh, my God, you're in!" Ia langsung menarik Kyungsoo dalam pelukan erat. "Congratulation, sugar!"
Mungkin bagi orang lain ini bukan sesuatu yang besar. Namun untuk Kyungsoo yang akhirnya berhasil melakukan hal sesuai kehendak hatinya, ini adalah sebuah pencapaian tertinggi. Dan kepuasan dalam dadanya, membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi.
"Jonginnie."
Kali ini, giliran Jongin yang membeku. Ia menarik Kyungsoo perlahan dari dekapannya lalu memandang lelaki itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
"Apa Baekhyun yang menyuruhmu memanggilku seperti itu?"
Kyungsoo mengangguk kecil, membuat Jongin mengutuk eksistensi Byun Baekhyun di dunia ini. Ia tahu cepat atau lambat lelaki itu akan menjadi bumerang baginya.
"Jonginnie." Kyungsoo mengulang dan ia menahan senyum, melihat Jongin memerah sampai ke ujung telinga.
"Jongin-"
"Damn it, Kyungsoo. Berhenti menggodaku." Sela Jongin cepat sambil menyembunyikan wajahnya yang malu.
"Oh, baiklah. Aku akan serius kali ini." Kyungsoo menarik nafas sedalam-dalamnya, mengabaikan Jongin yang mengerjap penuh tanya.
"Jonginnie, i-" fuck you. No Kyungsoo, itu bukan kalimat yang tepat. "I-" rock you? Shit, Kyungsoo. Fokus. (What the hell is 'i rock you' anyway? Stupid). "Eng, I-" love you, i love you, i love you, let's kiss, get married, and build our dream home, and then make a baby. Oh, sial aku mulai tidak waras.
Kyungsoo memukul-mukul kepalanya.
"Kyungsoo." Jongin menghentikan Kyungsoo untuk menyakiti dirinya sendiri. "I've got it." Ujar Jongin kemudian, berusaha menenangkannya, namun justru memicu kemarahan Kyungsoo kepada dirinya sendiri.
Jongin mengacak rambut Kyungsoo, lalu mencium kening lelaki itu. "Sudah malam. Sebaiknya kau masuk."
Ketika Jongin beranjak untuk membuka pintu mobilnya, Kyungsoo dengan cepat menahannya. Jongin menaikkan kedua alisnya melihat tingkah aneh Kyungsoo. "Ada apa?"
Kyungsoo tidak menjawab. Lelaki itu justru berjinjit sambil menarik dasi Jongin, kemudian mengecup bibirnya. Kedua mata Jongin terpejam merasakan kelembutan bibir Kyungsoo, ia melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu, mengundang kehangatan untuk masuk di antara tubuh mereka. Ini adalah pertama kalinya Kyungsoo berinisiatif untuk menciumnya tanpa paksaan atau pancingan. Mereka membatasi ciuman itu tanpa lidah, tanpa desahan, seperti anak remaja polos yang baru mengenal cinta.
Dan semuanya begitu manis hingga mereka tidak ingin melepaskannya.
Jongin merasakan kedua telapak tangan Kyungsoo di dadanya, nafas Kyungsoo berhembus di hidungnya, serta jari kaki lelaki itu yang masih berjinjit saat sebuah 'i love you' diucapkan oleh Kyungsoo melawan bibirnya.
Ia terperanjat. "Katakan itu sekali lagi." Tuntut Jongin sambil sedikit menjauhkan jarak wajah mereka.
"I love you. Jonginnie, i love you." Kyungsoo berkedip, tidak mempercayai kata yang baru saja keluar dari mulutnya. "Oh, Tuhan aku mengatakannya."
Jongin merutuk, berharap Kyungsoo tidak mengucapkan itu karena ia tidak bisa menahan gejolak di perutnya serta thump thump thump di jantungnya yang tidak lagi berirama.
Ia kembali mencium Kyungsoo, kali ini dengan pagutan yang posesif, karena persetan dengan ciuman polos tadi, hormon mudanya merangsang untuk memiliki Kyungsoo setelah pengakuan lelaki itu padanya.
"You know what, aku berubah pikiran. Aku akan mampir, lalu meyakinkan kedua orang tuamu agar kau bisa menginap di apartemenku malam ini."
Itu adalah kata terakhir yang Jongin ucapkan sebelum Kyungsoo menarik lelaki itu masuk ke dalam rumahnya.
Sehun menikmati Sabtu pagi bahagianya. Cicit burung di luar jendela apartemen, secangkir teh hangat yang uapnya masih mengepul, alunan musik klasik yang mengalun merdu, semua begitu sempurna sampai sebuah suara merusaknya dalam sekejap mata.
"Yes, Jongin! More! More!"
Sehun berdecak. Ia masih saja belum mengerti mengapa dinding apartemen semewah ini tidak cukup menahan suara menyebalkan yang berasal dari tetangga sebelah kamarnya.
"Fuck, Kyungsoo! You really like it rough, huh?"
Sehun sudah tidak tahan lagi. Ia segera berderap keluar dari kamarnya, lalu menekan bel apartemen 'Jongin' (sebuah kehormatan bisa mengetahui nama lelaki itu lewat jeritan seseorang, sindir Sehun dalam hati).
Dan seperti biasa, Jongin selalu membuka pintu apartemennya tanpa punya pikiran untuk memakai baju terlebih dahulu.
"Oke, ini sudah keempat kalinya aku datang kesini karena alasan yang sama dan kau belum juga merubah apapun." Ujar Sehun dengan intonasi serius.
"Apa aku pernah setuju untuk merubah sesuatu?" Balas Jongin santai.
Mulut Sehun menganga lebar. "Oh, kau pasti sudah gila."
"Ding-dong, wrong! Seseorang yang gila adalah kekasihku sekarang jika kau masih saja menganggu permainan kami."
Tepat setelah Jongin mengatakan itu, Kyungsoo berteriak dari dalam kamar. "Yah, Kim Jongin don't you dare leave me hanging like this! Move your freaking ass right now, or i will cut your dick in two!"
Jongin menyeringai licik, "See?"
Tanpa meminta maaf ia segera membanting pintu apartemennya tepat di depan wajah Sehun.
Kyungsoo terkikik di atas ranjang ketika Jongin masuk ke ruang tidurnya. "Tetangga menyebalkan itu mempercayainya?"
Jongin mengangguk sambil tersenyum puas. Mereka sengaja masih berteriak, walaupun permainan mereka telah lama selesai hanya untuk membuat Sehun kesal. Jongin segera merengkuh Kyungsoo dengan posisi Kyungsoo memunggunginya. Ia menghujani Kyungsoo dengan kecupan-kecupan kecil, menghasilkan tawa dari lelaki di pelukannya. Kaki mereka saling bersilangan di bawah selimut dan keduanya membiarkan kulit telanjang mereka bersentuhan.
"Say that you love me again, please." Jongin berkata di antara bibirnya yang masih menempel di leher belakang lelaki itu.
Kyungsoo menyelipkan jarinya ke genggaman Jongin, menyukai kontrasnya warna kulit mereka. "Aku sudah mengucapkannya sepanjang malam, Jongin."
"Itu masih belum cukup." Jawab Jongin cepat.
Rambut lelaki itu menggelitik bahunya, hingga Kyungsoo kembali terkikik.
Mengungkapkan cinta bukan lagi perkara yang sulit lagi bagi Kyungsoo. Raut kebahagiaan yang terpancar di wajah Jongin, adalah candu yang membuatnya berani untuk menyatakan perasaannya. Dan demi melihat rona itu lagi, Kyungsoo akhirnya berbalik menghadap lelaki itu.
"I love you." Bisiknya, pandangannya tidak lepas dari Jongin dan di dalam hitam mata lelaki itu, Kyungsoo menemukan binar yang ia dambakan.
"Lagi."
"I love you."
"Lagi."
"I love you, i love you, i love you."
"Lagi."
"Jonginnie!" pekik Kyungsoo sambil tertawa.
Jongin menggertakkan giginya kesal. "Oh, aku bersumpah akan membunuh Baekhyun setelah ini."
Namun, sebelum Jongin mencari cara untuk menghabisi Baekhyun, Kyungsoo melingkarkan lengannya ke leher lelaki itu.
"Kau ingat saat pertama kali kita membeli Cognac?"
Jongin mencium harum rambut Kyungsoo sejenak, kemudian menjawab, "Ya, kenapa?"
"Aku ingin melakukannya lagi. Tapi kali ini, biar aku yang mengambil peran utama."
"Oh, Do Kyungsoo." Jongin mencium bibir Kyungsoo, satu, dua, tiga, empat. "Kau benar-benar tipe kesukaanku."
Kyungsoo membenamkan kepalanya di dada Jongin, membiarkan degup jantung lelaki itu mengambil alih kewarasannya sejenak. Kemudian ketika ia merasakan detakan dalam diri mereka mulai seirama, Kyungsoo mendapatkan satu kesimpulan yang menarik.
Cinta merupakan takdir yang bersembunyi dalam kedok ketidaksengajaan beruntun hingga manusia berpikir itu hanya kebetulan semata. Namun dari setiap kebetulan, terdapat sebuah uji coba.
Dan Kim Jongin adalah percobaan yang berbuah manis untuknya.
.
.
.
.
.
.
"Kau tahu? Ini masih terlalu pagi untuk Cognac. Mungkin kita bisa melakukan satu sesi permainan lagi selagi menunggu?"
"Oh, you're a monster, Kim Jongin."
Sementara itu, di kamar sebelah mereka, seorang lelaki mengutuk berbagai umpatan kasar sambil sibuk mencari lokasi apartemen baru. Sesederhana karena ia sadar, melawan pasangan yang sedang dimabuk asmara adalah sesuatu yang percuma.
SWEET ATTEMPTS : THE END
A/N :
Maafkan daku yang terlalu larut sama ExoluXion sampe akhirnya baru update. Ini ceritanya sih mau epliogue, cuma kenapa jadi whole chapter lagi ahahahaha. Yaudahlah ya. Dan aku engga percaya kalian masih mau minta aku nambah sekuel, kalian teh jatuh cinta sama Kyung Short and Junk In apa gimana?
Sebenernya aku mau banget bikin pairing lain, cuma mood-nya lagi di Kaisoo banget nih entah kenapa, jadi aku minta maaf :( Kemarin sempet sih iseng bikin drabble 'An Ordinary Day' yang OT12 (yang belum baca, sok, sok, dibaca).
Oiyah, abis ini lagi semangat mau bikin cerita baru lagi, di draft aku ada dua genre; Fluff sama Angst tapi aku masih bingung mana yang mau dibikin dulu. Kira-kira kalian lebih suka yg genre gimana? Siapa tahu akunya jadi lebih semangat ngerjainnya, ahahahahaha.
So, so, so, ini adalah akhir perjalanan dari Sweet Attempts. Tapi engga menutup kemungkinan nanti aku bikin one-shot yang berhubungan dengan cerita ini (walaupun pasti gak dalam waktu deket). Kasih saran, review, serta kritik kalian buat FF ini yah. Sekalian mau tahu dong apa yang bikin kalian tertarik sama cerita ini. (Author banyak mau nih! Iya, maaf ;_;)
TERIMAKASIH BANGET YANG UDAH REVIEW SELAMA INI. (Aku nggak percaya yang awalnya cuma drabble nyampah bisa sampe 100 lebih yg ngefavoritin, terharu *sobs*), makasih buat yang udah nunggu berbulan-bulan, yang ikutan larut, jengkel, bete karena cerita ini, i love you so much!
Sampai jumpa lagi di cerita Kaisoo selanjutnya!
KAISOO FTW!
-RedSherr88
