Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, Wonkyu.
.
.
Cast :
Park Chanyeol ; 15 tahun.
Park Baekhyun ; 12 tahun.
Park Kyungsoo ; 14 tahun.
Kim Jongin ; 20 tahun.
Choi Siwon ; 23 tahun.
Cho Kyuhyun ; 22 tahun.
.
.
.
Cerita dimulai, dan kau adalah buronanku.
Apakah kau sudah siap?
.
.
Chapter 1
Rumah Yunho terletak di kawasan Gangnam; lebih terlihat seperti sebuah istana dibandingkan sebuah rumah. Hal itu lantaran Yunho adalah tokoh politik paling berpengaruh di Korea sedangkan istrinya; Jung Ahra adalah salah satu anggota Kongres Parlemen.
Keduanya memiliki kedudukan yang penting dan berpengaruh. Wajar jika mereka adalah keluarga kolongmerat yang paling dicari di headline-headline media di Korea.
Anak mereka juga mendapat fasilitas yang berbeda di sekolah. Semua media memberitakan yang baik; keluarga yang harmonis dan anak-anak yang pandai.
Tidak ada yang tahu bahwa Yunho berselingkuh dengan Jaejoong; teman masa kuliahnya dulu. Dia dan Ahra menikah karena hubungan diplomatik kedua orangtuanya dan orangtua Ahra; hanya itu.
Tapi, Ahra mencintai Yunho.
Dia berusaha mencelakakan Jaejoong; tentu saja media tidak mencium kebrutalan Ahra tersebut. Ungkapan yang mengatakan: Orang kaya cenderung melakukan hal kotor tidak dengan tangannya sendiri, mungkin benar.
Ahra membuat mereka berpisah.
Baekhyun.
Anak Yunho dengan Jaejoongpun tak lepas dari pengaruh Ahra. Wanita cantik itu menggunakan segala cara agar Yunho mengasingkan anak haram itu. Ahra tidak akan mau menerima anak yang bukan dari rahimnya; apalagi jika itu adalah anak dari Kim Jaejoong; wanita yang paling dia benci seumur hidupnya.
Yunho tersenyum saat Ahra membaringkan tubuh mungil Baekhyun. Dia tidak menyangka wanita ini mau menerima Baekhyun. Padahal butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan Ahra.
Yunho melakukannya bukan karena mencintai Ahra; tidak sama sekali—Yunho masih mencintai Jaejoong. Dia melakukannya agar Ahra mau menerima Baekhyun di rumah bersama dengan anak-anaknya yang lain.
"Aku ada rapat dengan Presiden, Ahra."
"Pergilah."
"Aku bisa mempercayaimu, kan?"
Ahra tersenyum lembut. Pergi dan aku akan menyiksa anak keparat ini, tapi tentu saja Ahra berakting dengan sangat baik.
"Percaya padaku. Kau bisa pergi. Aku akan menjaganya," kata Ahra tegas. Yunho merasa beruntung Ahra mau mengerti keadaannya. Dia berpamitan; mencium kening Baekhyun sesaat sebelum pergi. Dalam hati Ahra merutuk; baru sebentar dan kau sudah mencium keningnya?
Setelah kepergian Yunho, Ahra hanya membungkus tubuh ringkih itu dengan selimut tipis. Baekhyun dijaga oleh Jongin; orang kepercayaan Yunho tapi juga bukan orang yang suka ikut campur. Jadi seperti apapun dia memperlakukan Baekhyun, pria berkulit tan itu juga tidak akan melapor pada Yunho.
Salah seorang lagi adalah Choi Siwon.
Dia dokter keluarga Park. Dipekerjakan khusus untuk mereka. Tapi meski begitu, dokter Choi paling sering menangani kasus yang dibuat oleh si anak sulung.
Ahra memperhatikan Baekhyun.
Dia cantik; meskipun laki-laki. Membuat Ahra teringat dengan Jaejoong. Di kampus, wanita itu adalah yang paling cantik. Ahra memang cantik tapi menurutnya sendiri; Jaejoong adalah yang tercantik.
Dia menyadari hal itu. Membuatnya membenci Jaejoong. Merebut apapun yang Jaejoong miliki. Termasuk Yunho. Awalnya; agar Jaejoong merasa kesal. Tapi penolakan Yunho saat itu cukup mengejutkan Ahra.
Gadis itu justru jatuh cinta pada Yunho.
"Kondisinya sangat memprihatinkan."
Dokter Choi duduk di ranjang; memperhatikan Baekhyun lebih dekat. Baekhyun baru saja menangis menjerit, sehingga wajahnya memerah dan membengkak. Rambut hitamnya acak-acakan; meskipun hal itu justru menimbulkan kesan manis.
"Kapan dia bangun?"
"Sebentar lagi."
"Kau memberinya bius dengan kadar berapa?" tanya Ahra menatap Siwon dengan mata yang paling kejam. Siwon tahu Ahra sebenarnya tidak ingin anak ini dibius. Ahra ingin memberinya sedikit kejutan sebelum Yunho buru-buru pulang.
"Sedikit. Sebentar lagi dia akan bangun."
Dan benar saja; tepat saat Siwon menjawab, Baekhyun mulai terbangun. Dia bergerak lalu mengerjapkan mata sipitnya. Butuh waktu yang lama bagi Baekhyun untuk menyesuaikan: dimana dia sekarang; apa yang sedang terjadi dan lain sebagainya.
Begitu menyadari ada orang asing, Baekhyun langsung meringkuk; menjauh dari mereka. Baekhyun menatap orang-orang itu dengan mata yang paling membelalak dan paling ketakutan yang pernah Baekhyun lakukan selama ini. Perasaannya semakin tertekan begitu menyadari tidak ada Victoria di sampingnya.
"Aku tidak mau repot-repot menjelaskan siapa aku. Jongin yang akan menjelaskan siapa kau dan siapa aku," jelas Ahra dengan nada dingin. Ia berbicara pada Baekhyun seolah-olah sedang berbicara dengan Jaejoong; jadi dia menggunakan nada yang dingin di perkataannya.
Baekhyun mulai menangis; Jongin yang pertama panik. Dia bisa menduga; kalau kedatangan tiga orang asing pasti menimbulkan kebingungan tersendiri bagi Baekhyun.
Air mata mulai berlinang di pelupuknya, tetapi ditahan; karena Baekhyun tidak mau terlihat lemah di mata oranglain. Lelaki mungil itu pun memohon maaf berkali-kali karena ketakutan melihat mereka. Ahra tercengang; sedangkan Siwon dan Jongin menahan tawa melihat keluguan bocah tersebut.
"Jongin," kata Ahra memecah kecanggungan. "Kau ditugasi Yunho menjaga bocah ini. Kau jelaskan mengenai kami. Tapi jangan katakan soal—kau tahu siapa. Lalu, jelaskan juga kalau nanti malam akan ada penyambutan untuknya. Para wartawan akan datang meliput. Jadi persiapkan dia dengan baik."
"Secepat itu?" tanya Siwon bingung.
"Yah, kalau tidak cepat-cepat dan media mendapat informasi bukan dari kami maka infonya bisa lain nanti. Yunho bisa mendapat skandal."
"Apa yang akan Anda jelaskan?" tanya Siwon, mengingat Yunho dan Ahra adalah tokoh penting di dunia politik. Tentunya ini akan menjadi skandal besar kalau sampai Yunho mempunyai wanita idaman lain.
"Kami mengadopsinya. Itu mudah. Wartawan akan percaya dengan sedikit omongan manis," katanya sambil memberi isyarat Siwon untuk memeriksa Baekhyun. Siwon mengangguk lalu mulai memeriksa si bocah.
Tapi, ketika Siwon mendekati Baekhyun, bocah itu menolak. Baekhyun merasakan kegugupan yang tak dapat dijelaskan. Baekhyun tidak tahu dari mana sumber kecemasan itu. Apalagi saat tangan Siwon mencoba menyentuh tubuhnya. Baekhyun ketakutan setengah mati.
"Bius saja! Susah sekali!" Perintah Ahra pada Siwon. Dokter muda itu tampak ragu-ragu; apalagi baru saja dia sudah melakukan pembiusan pada Baekhyun. Salah-salah bisa menyebabkan shock yang akan berdampak lebih lama.
"Tapi. . ."
"Beri dosis yang kecil saja," kata Ahra mulai menggunakan nada tinggi. Dia menatap Jongin yang masih diam tidak melakukan sesuatu.
"Jongin, ini tugasmu! Aku tidak mau tahu nanti malam kau harus bisa membuatnya lebih jinak; bukan berlaku seperti kera begini."
"Ini karena dia hidup terasingkan selama bertahun-tahun," jawab Jongin membela Baekhyun. Dia bukan kera; menurut Jongin, Baekhyun sangatlah manis; hanya saja dia masih bersikap apatis pada orang asing.
"P—pergi!"
Di dalam kamar seluas empat ratus meter itu, tiba-tiba suasana menjadi sunyi saat Baekhyun berteriak ketakutan; sangat keras. Ia menjerit; menangis saat Siwon masih mencoba mendekatinya.
Baekhyun takut dengan orang asing.
Ia juga benci ketika tubuhnya disentuh; kecuali oleh Victoria; Baekhyun pasti akan mengamuk. Ia menggigit lengan pria itu. Baekhyun menangis; menjerit memanggil nama Victoria.
"Tuan Muda, Tenanglah! Kami tidak akan menyakiti Anda. Kalau Anda tidak bisa tenang, kami terpaksa membius Anda. Maka dari itu, saya mohon, Anda untuk tetap tenang," kata Siwon berusaha selembut mungkin. Baekhyun menatapnya masih sambil menangis.
"Aku mau Victoria! Victoria!" Baekhyun berteriak hingga tenggorokannya perih; nafasnya tersengal dan keringat mulai membanjiri pelipisnya. Pria-pria itu; yang Baekhyun tidak tahu siapa nama-namanya, kembali berdiskusi. Salah satu dari mereka mengeluarkan suntikan dan yang lainnya, mencekal tubuh mungil itu agar tidak berontak.
"Lepaskan aku! Victoria! Tolong aku, Victoria!" Ruangan itu kedap udara. Diterangi oleh lampu gantung yang dipasang di sepanjang langit-langit kamar; sangatlah tidak mungkin bagi oranglain dapat mendengar jeritan Baekhyun. Sekeras apapun Baekhyun menjerit; tidak akan ada yang mendengar.
Kesadaran Baekhyun mulai menghilang. Bocah berusia dua belas tahun itupun merasakan tubuhnya kembali lemas; matanya berkunang-kunang; dan dia mulai mengantuk.
"Maafkan kami, Tuan Muda," bisik salah satu dari mereka—yang bertubuh paling kurus; Kim Jongin. Perasaan Baekhyun mulai membaik saat matanya menangkap senyuman menenangkan pria kurus itu. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh Victoria ketika Baekhyun kesepian dan sedih; mencium keningnya. Pria itu mencium keningnya.
.
.
.
KETIKA Yunho kembali ke Mansion pada malam harinya, salah satu dari bawahannya; menghampiri dan melapor tentang keadaan Baekhyun padanya. Yunho bertanya, apakah Baekhyun masih ketakutan dan berteriak histeris pada orang asing, pria kurus itu menjawab agak segan. Yunho berhenti berjalan. Menatap bawahannya itu dengan mata yang berkilat marah.
"Dia masih takut?"
"Ya, Tuan. Dia sangat ketakutan."
"Kau membiusnya?" Tanya Yunho.
"Ya, maafkan saya."
Yunho mendesah. Membuka pintu ruang kerjanya lalu duduk di kursi. Sang bawahan hanya mengikuti; berdiri di samping Yunho sambil menunggu sang majikan untuk berbicara.
"Pasti sangat sulit bagi Baekhyun melewati kesepiannya selama ini," katanya dengan nada yang sarat akan kesedihan. Pria kurus itu merunduk; tidak tega melihat wajah putus asa seorang Park Yunho.
"Dia sedang tidur sekarang?"
"Ya, Tuan. Tuan Muda sedang istirahat. Saya membiusnya dalam dosis yang dianjurkan dokter Choi. Jadi jangan terlalu khawatir."
"Apa kata dokter Choi?"
"Tuan Muda dalam kondisi sehat."
"Apakah anakku masih terkena agorafobia?"
"Kata dokter Choi, Tuan Muda masih mengidapnya. Meskipun hanya skala yang kecil dan bukan dalam tahap kritis; tapi Tuan Muda masih merasa takut pada keramaian, suara orang, supermarket, suara langkah kaki, diskotik dan—"
"Hentikan!" Yunho berteriak; tidak mau mendengar diagnosis apapun tentang anaknya. "Aku sudah cukup mendengarnya. Sekarang, kau boleh pergi. Aku mau mengurus hal lain dulu."
"Ya, Tuan. Saya permisi."
"Kim Jongin."
Pria kurus itu membalikkan badan saat Yunho memanggil namanya. Tuannya itu tampak sedih; matanya mungkin tidak meneteskan air mata terlalu banyak, tapi Jongin tahu bahwa Yunho sedang memendam kesedihan mendalam saat ini.
"Tolong jaga dia untukku," katanya lembut.
"Tentu. Saya akan menjaganya."
Jongin tersenyum.
.
.
.
Di ruang kamar Baekhyun, Kyungsoo memasuki ruangan itu dengan mengendap-endap. Penjaga yang menjaga ruangan kamar Baekhyun sedang tertidur. Kyungsoo menyeringai; bubuk itu berhasil! Penjaga bodoh itu tertidur, katanya dalam hati, memuji dirinya sendiri.
Lelaki bermata bulat itu mengenakan kaos bewarna hitam dan celana pendek berwarna gelap. Ia memasuki kamar Baekhyun sambil membawa sebuah tape recorder; meletakkannya di dekat telinga Baekhyun dan kemudian menyetelnya sekali tekan.
Baekhyun tidak terbangun karena pengaruh bius. Kyungsoo kesal. tahu begini; tadi dia mengajak Chanyeol ikut. Kakaknya itu pasti lebih sadis dibanding yang dia lakukan sekarang. Tapi, ngomong-ngomong dimana Kim Jongin? Dia tidak menjaga Baekhyun?
"Sedang apa kau disini?"
Kyungsoo tersentak. Menoleh dan mendapati Jongin tiba-tiba datang setelah sedetik yang lalu ia bicarakan. Jongin ini datang di saat yang tidak tepat!
"Kau mau berbuat yang aneh-aneh?" tanya Jongin dengan nada menyebalkan. Kyungsoo sudah menduga pria ini pasti menuduhnya yang tidak-tidak.
"Kau sendiri, sedang apa disini?" tanya Kyungsoo balik. Jongin meneliti tubuh Baekhyun dan mengembalikan tape recorder itu kepada Kyungsoo.
"Aku yang akan menjaga Tuan Muda mulai sekarang," jawab Jongin santai. Dia menyentuh kening Baekhyun; memastikan pria ini tidak kedinginan dengan pendingin ruangan yang saat ini sedang menyala.
"Kau kan pengawal pribadiku!" Sentak Kyungsoo. Jongin mendesah; pandangannya masih tertuju ke arah Baekhyun yang tampak menggeliat; sepertinya dia akan bangun.
"Sudah tidak lagi, Kyungsoo," katanya sambil tersenyum. "Kau kan sudah ada Kyuhyun hyung sekarang. Dan aku gantian yang menjaga Tuan Muda."
"Kau bahkan memanggilnya Tuan Muda?" tanya Kyungsoo tak percaya. Jongin tertawa lalu mencium bibir Kyungsoo dengan cepat; membuat rona merah menjalar di wajah dan telinga Kyungsoo.
"Lalu kau mau aku memanggilmu Tuan Muda? Kau kan kekasihku." Katanya lagi. Kyungsoo menggeleng; tersenyum.
"Kyungsoo?"
"Ya?"
Kyungsoo agak terkejut karena Jongin tiba-tiba memanggilnya. Tepat saat itu, Kyungsoo merasa ada pergerakan di sisi ranjang; Baekhyun sudah bangun.
"Bantu aku. Bantu aku menenangkan dia."
"Kenapa? Aku tidak mau!"
"Dia adikmu kan!"
"Adik apanya?" Kyungsoo mendelik, dia berseru marah pada Jongin. "Dia anak pelacur itu! Sedangkan aku dan Chanyeol hyung adalah anak sah dari perkawinan yang sah. Dia anak haram! Aku membencinya!"
"Kyung!"
Kyungsoo tersentak saat Jongin membentaknya. Meskipun dia nakal; meskipun dia menjengkelkan; hanya Jongin yang selalu memaklumi apapun tindakannya. Hanya karena bocah haram ini, Jongin membentakku?
"Kenapa kau membelanya sementara kau baru mengenalnya!" Jongin tahu bahwa tidak baik terus memperdebatkan hal ini. Kyungsoo bisa cemburu dan itu tidak baik untuk hubungan Baekhyun dan juga Kyungsoo. Sementara Yunho memintanya untuk menyatukan keluarga mereka.
"Dengar. Sayang. . ."
"Aku tidak mau dengar!"
Kyungsoo menutup telingannya dengan kedua tangan. Dan karena suara berisik mereka, Baekhyun merasa terganggu saat Kyungsoo terus berteriak-teriak dengan suara yang keras. Baekhyun menggeliat—memandang sekitar lalu tertegun.
Ini bukan rumahnya, bukan juga rumah Victoria. Ah! Baekhyun ingat; tadi seseorang membiusnya. Seseorang berpakaian dokter dan—
"Kau sudah bangun, Tuan Muda?" Suara Jongin. Lelaki mungil yang dipanggil Baekhyun pun langsung menoleh. Terkejut ketika mendapati mereka menatap intens ke arahnya.
"Kau ingat aku. Aku yang tadi."
Baekhyun ingat. Pria itu yang mencium keningnya! Sama seperti Victoria! Baekhyun mengangguk lalu berusaha setenang mungkin. Jongin tersenyum; tampaknya Baekhyun jauh lebih tenang sekarang.
"Aku tidak akan menyakitimu," kata Jongin penuh kelembutan. Baekhyun masih menolak untuk disentuh tapi dia sudah mulai merespon omongan Jongin.
"Ini Kyungsoo. Kakak Anda."
Baekhyun menoleh ke arah pria yang satunya. Pria bermata bulat. Baekhyun ingat. Itu wajah yang ada di foto. Victoria bilang, namanya adalah Kyungsoo. Bocah dua belas tahun yang kata Victoria adalah raja dari segala bentuk kotoran menjijikkan. Dulu Baekhyun bisa tertawa ketika Victoria mengeluh, tapi sekarang, Baekhyun benar-benar tidak ingin tertawa.
"Aku akan menceritakan soal keluarga Anda. Tapi, sebelum itu; maukah Anda mendengarkan ceritaku sampai selesai? Jangan berteriak-teriak. Setuju?"
Baekhyun mengangguk setuju.
Jongin fikir Baekhyun sudah bisa menerimanya; dia ingin menyentuh rambut Baekhyun agar pria itu nyaman tapi yang ada; Baekhyun justru berteriak ke arahnya.
"Jangan sentuh aku!"
Baekhyun mundur ke belakang, menyentuh tembok yang ada di belakangnya, lalu menggigil saat Kyungsoo menatapnya aneh. Tapi, tidak dengan Jongin. Dia justru menanggapi dengan santai dan tersenyum.
"Baiklah. Perjanjian selanjutnya," katanya sambil menatap ke dalam manik Baekhyun. Jongin benar-benar bisa memperlakukan orang dengan baik. Kyungsoo juga dulu bersikap buruk padanya; tapi Jongin bisa menaklukkan Kyungsoo. "Tidak ada sentuhan. Tidak ada kontak fisik. Setuju?"
Baekhyun mengangguk.
"Sekarang. Kita mulai ceritanya."
.
.
.
Baekhyun tampak manis. Dia didandani sedemikian rupa; jas bewarna hitam, dasi kupu-kupu dan pelembab bibir bewarna pink. Dengan surai rambutnya yang sewarna kelam malam; dia menarik perhatian banyak orang—termasuk Jongin sekalipun. Pria berkulit tan tersebut tersenyum manis pada Baekhyun.
Baekhyun masih menunduk; ketakutan.
"Wah, Tuan Muda. Kau manis sekali."
"Te—terima kasih," kata Baekhyun gugup.
Dia sedang berusaha bersikap ramah. Setelah berjam-jam Jongin mendekati dan membujuknya; akhirnya Baekhyun mau menerima kenyataan bahwa Yunho adalah ayahnya. Meskipun; jauh di dalam lubuk hatinya; Baekhyun masih merindukan Victoria dan berharap bisa kembali bersama dengan wanita itu.
Jongin agak mendekat; merapikan dasi kupu-kupu Baekhyun yang agak menceng. Baekhyun tertegun. Meskipun rasa panik masih berada dalam fikirannya, tapi Baekhyun tidak ingin membuat Jongin merasa kecewa dengan sikapnya.
"Jongin-ah!" Itu suara Kyungsoo. Dia berlari lalu mengapit lengan Jongin dengan buru-buru. Menatap Baekhyun dengan pandangan tidak suka.
"Jongin itu milikku! Jangan berani-berani menggodanya!" Seru Kyungsoo ketus. Jongin menegur Kyungsoo tapi meskipun begitu tangan Jongin tetap mengelus surai lembut kekasihnya. Penuh kelembutan; penuh kasih sayang. Baekhyun jadi teringat dengan Victoria. Hanya wanita itu yang selalu memberinya kasih sayang yang tulus. Baekhyun merindukan Victoria.
"Aku milikmu. Itu pasti, Kyungsoo. Tapi jangan bersikap begitu pada Tuan Muda. Dia itu kan adikmu," ujar Jongin lembut. Kyungsoo menggerutu—masih menatap Baekhyun dengan pandangan tidak suka. Tapi toh Jongin maklum; Kyungsoo memang sulit dekat dengan orang asing. Dia tipikal yang mudah membenci dan berfikiran buruk pada kesan pertama.
"Apakah Chanyeol hyung akan datang?" tanya Jongin menatap Kyungsoo. Pria yang ditanya hanya acuh. Dia memainkan kuku-kuku tangannya. Tidak terlalu perduli apakah kakaknya akan datang atau tidak. Itu tidak berpengaruh bagi kelangsungan hidupnya.
"Dia pasti datang. Dia tidak punya alasan untuk mengelak. Dia tidak mungkin mengambil resiko dan dicoret dari daftar ahli waris."
"Yah, mungkin."
Jongin melirik ke arah Baekhyun. Dia melepaskan apitan Kyungsoo lantas berdiri mendekat ke arah Tuan Mudanya. Baekhyun gugup karena jarak mereka terlampau dekat. Tiba-tiba panik kembali menyerangnya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan menyentuhmu."
Jongin tersenyum. Memberi kode agar Baekhyun berjalan berdampingan dengannya. Tanpa menyentuh; tanpa bicara: mereka lebih saling memahami.
"Jongin! Jongin!" Suara Kyungsoo tidak dihiraukan. Pria tampan itu hanya terus berjalan dan memikirkan cara agar membuat Baekhyun merasa nyaman. Dia mempunyai kewajiban untuk menjaga Baekhyun; karena Baekhyun adalah tugasnya.
"Itu siapa?" tanya Baekhyun menunjuk pada seorang pria tampan dengan rambut moonwalk-nya. Rambutnya hitam kelam; ditata serapi mungkin; sangat tampan. Pria itu berdiri tidak jauh di depan Baekhyun.
"Itu adalah Chanyeol. Dia anak pertama keluarga Park."
"Kakakku?"
"Yah, begitulah."
"Apakah dia menakutkan?"
Jongin menahan tawa saat mendengar pertanyaan Baekhyun barusan. Dia sangat polos; dan juga manis. Jongin akui; pemuda mungil ini benar-benar sangat menarik.
"Bagaimana menurutmu?"
Pancing Jongin; sebenarnya niatnya untuk menggoda Baekhyun. Tapi yang digoda tampaknya tak sadar. Baekhyun malah menggeleng dengan wajah imutnya.
"Kau ini! Manis sekali!"
Jongin tidak bisa menyentuh Baekhyun. Bahkan meskipun dia ingin—dia tetap tidak bisa. Kalaupun bisa; Jongin sudah mencubit pipi gembulnya. Pasti menggemaskan sekali, rutuk Jongin dalam hati.
"Dia baik," kata Jongin mulai serius. Tatapan Baekhyun yang selalu tertuju ke bawah, mulai berani menatap ke arah Jongin. Baekhyun penasaran dengan si putra sulung—kakak tertuanya. "Dia baik di awal. Orang-orang langsung berempati karena sikap ramahnya itu. Bukannya aku bermaksud menjelek-jelekkan Tuan Muda. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Jadi berhati-hati saja pada Tuan Muda Chanyeol."
Jongin mencoba memperingatkan.
"Berarti dia jahat?"
Jongin jadi bingung menjelaskannya.
"Sedang membicarakan Chanyeol hyung?" Tiba-tiba Kyungsoo menyerobot pembicaraan. Jongin hanya mendesah; sedangkan Baekhyun kembali menunduk. Entahlah. Dia tidak begitu nyaman saat bersama Kyungsoo.
"Dia itu berpenyakit mental; kalau kau ingin tahu," kata Kyungsoo tanpa basa-basi. Baekhyun terkejut. Dia melirik ke arah Chanyeol yang masih betah menyeruput minuman anggurnya; tampaknya dia normal.
"Kyungsoo, sopan sedikit!"
Kyungsoo jelas merasa senang karena perhatian itu. Sesuatu yang bisa membuat Jongin memperhatikan atau menegurnya; Kyungsoo pasti selalu menyukainya. "Dia lebih mengerikan daripada aku! Ayah bahkan sampai kelimpungan membereskan kekacauan yang dibuat olehnya."
"Jangan mengolok-olok Chanyeol! Kau itu kan adiknya."
Jongin tidak suka jika ada orang yang membicarakan oranglain. Seperlunya saja; hanya untuk peringatan tak masalah. Tapi tidak untuk keburukan-keburukannya.
"Kalau kau tidak percaya," ucap Kyungsoo tidak mengindahkan teguran Jongin. Dia menunjuk pada kakaknya, yang berdiri sambil terus meneguk wine-nya. Tatapan matanya kosong; tapi Baekhyun yakin akan satu hal; pria itu tengah memikirkan sesuatu.
"Kau lihat aku."
Kyungsoo berjalan meninggalkan mereka. Menuju kakaknya. Dia memang berjalan mantap tapi wajahnya tampak ragu; entahlah. Baekhyun merasa seperti itu.
"Hyung."
Pria raksasa itu menoleh. Menatap Kyungsoo dengan tatapan jengah. Lalu kembali menyeruput anggurnya. Lebih menyenangkan menyesapi anggur dibanding menanggapi ucapan adiknya. Tentu saja itu menurut versi Chanyeol sendiri.
"Kau datang untuk melihat anak haram ayah?" tanya Kyungsoo santai. Chanyeol tidak merespon. Matanya masih mengawasi kalau-kalau ada yang menarik hatinya. Dia terus mengawasi; Chanyeol suka yang lemah; dia seseorang yang gemar berkuasa dan Yah—dia suka bertindak sebagai master.
"Anak itu. . . Sangat cantik."
Kilatan mata bening itu mulai menunjukkan ketertarikan; meski masih mengacuhkan. Kyungsoo menyeringai; sepertinya ini akan jadi tontonan yang menarik.
"Tapi dia lelaki—kau tahu, kan?"
"Namja?"
Satu lagi. Chanyeol lebih interest dengan lelaki dibanding perempuan. Rasa dominan atas lelaki membuatnya merasa bahwa dia yang paling perkasa; dan sekali lagi, Chanyeol mulai tertarik.
"Dia mungil. . ."
Ingatkan Chanyeol untuk tidak berlari dan berteriak mencari pria yang dimaksud Kyungsoo. Karena dia tidak mau orang-orang tahu kedoknya yang sebenarnya.
"Bibirnya merah. . ."
"Cukup Kyungsoo! Apa yang ingin kau katakan!" Menurut analisa Kyungsoo, pria ini sudah mulai tertarik. Kyungsoo tidak perduli apakah itu membahayakan Baekhyun atau tidak. Kyungsoo benci dengan anak haram itu; Kyungsoo benci dengan bekas yang ditinggalkan oleh wanita jalang itu.
"Kau tahu dia mengidap—"
"Aku tahu. Dimana dia sekarang?"
"Hooh! Kau sudah tidak sabar, hyung?"
"Sialan! Katakan dimana dia!"
Kyungsoo menyeringai; ketika pria ini mulai meletakkan anggurnya—zat adiktif-nya; itu tandanya pria ini mulai mendapatkan buruan baru.
"Disana. . ."
Kyungsoo menunjuk Baekhyun.
Dan Chanyeol?
Jangan tanya. Sekarang matanya memancar penuh keingintahuan. Matanya berkilat-kilat. Buruannya ini memang sangatlah cantik. Kulitnya putih mulus; dan Yah—dia mungil; sangat pas untuk dipeluk. Wajahnya kekanak-kanakan. Berbanding terbalik dengan wajah penuh kharismanya. Dan Chanyeol selalu suka yang berbeda.
.
.
.
Setelah pengenalan yang singkat—sangat singkat. Yunho mengajak anak-anaknya untuk makan malam bersama. Para tamu undangan juga makan; tentu saja menurut kartu menu yang telah tersedia.
Beberapa tamu undangan berbisik-bisik; membisikkan tentang betapa sempurnanya sang putra sulung. Di malam itu, selain mengenalkan Baekhyun sebagai anggota keluarga yang baru, Yunho juga memamerkan Chanyeol. Pria itu berhasil masuk sekolah menengah atas dengan nilai terbaik; mendapat banyak pujian dan mendali sains. Yunho sangat bangga padanya.
"Chanyeol."
Yunho menatap ke arah Chanyeol yang sedang menyantap hidangan koktailnya. Bagi mereka berbicara saat makan memang tidak dianjurkan tapi, terkadang Yunho melakukannya.
"Ya, ayah."
"Kau tidak keberatan kan kalau Baekhyun tinggal bersama kita mulai sekarang?" Tatapan dingin itu langsung tertuju ke arah Baekhyun. Baekhyun langsung gemetar ketakutan. Diam-diam Chanyeol menyeringai. Pria ini takut padaku, menarik sekali, katanya dalam hati.
"Tidak sama sekali. Aku justru senang ayah mau mengakui Baekhyun. Dia pasti sangat menderita tinggal bersama Victoria nonna."
"A—aku tidak menderita. Aku bahagia bersama dengannya," jawab Baekhyun cepat. Dia memegang garpu miliknya; memegangnya begitu kuat karena sebenarnya Baekhyun terlalu takut untuk menjawab. Tapi dia tidak mau orang-orang mengira Victoria memperlakukannya dengan buruk.
Dan Chanyeol adalah orang yang tidak suka dibantah. Dia meletakkan pisau miliknya dengan suara keras. Yunho hanya diam; dia tidak pernah bisa mengendalikan anak sulungnya itu.
"Kau tidak setuju denganku?"
"A—apa?"
"Setuju saja, Baek. Dia tidak suka dibantah," kata Kyungsoo berbisik. Tapi pendengaran Chanyeol tidak boleh dianggap remeh. Dia bisa mendengar suara Kyungsoo barusan.
"Makan saja daging dombamu! Atau jejali mulutmu dengan asparagus kalau kau tidak ingin makan daging, lalu tutup mulut kotormu itu, Park Kyungsoo!"
Kyungsoo sudah biasa diperlakukan begitu oleh Chanyeol. Dia hanya berdehem; menyetujui lalu benar-benar menjejali mulutnya dengan asparagus dengan saus kacang. Kyungsoo ingin muntah!
"Kau senang tinggal disini. Benarkan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun terus menunduk; dia takut dan juga bingung. Tapi, suara kepalan tangan di atas meja membuat Baekhyun tersentak. Apakah kakaknya ini marah padanya? Benar kata Kyungsoo, pria ini benar-benar mengerikan!
"Jawab pertanyaanku!"
"A—aku. . ."
"Chanyeol sudahlah," tegur Yunho. Tapi Chanyeol malah menatap Yunho. Pandangannya seolah tidak mau kalah. Baekhyun tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Baekhyun mulai menangis; dia memang cengeng. Tapi Baekhyun berusaha meredam suara tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya. Disini masih banyak tamu. Baekhyun tidak ingin mempermalukan Yunho.
"M—maafkan aku," kata Baekhyun bermaksud mencairkan suasana. Chanyeol langsung berubah. Dia bersikap seakan tidak ada yang terjadi lalu kembali menikmati hidangan koktail kerangnya.
Pesta tersebut berlangsung cepat. Setelah makan malam; berdansa lalu doorprize-hadiah, pesta segera dibubarkan. Pesta tersebut berlangsung meriah. Karena Yunho termasuk kolongmerat terpandang di Korea, sangatlah masuk akal jika pesta itu langsung ada di headline berita-berita di siaran.
Semuanya ditulis dengan baik oleh para jurnalis. Tidak ada yang mengetahui sesuatu telah terjadi. Karena selama makan malam; setelah perseteruan kecil Chanyeol dan Baekhyun. Kaki jenjang Chanyeol sengaja menyentuh kaki-kaki mungil Baekhyun.
Awalnya Baekhyun fikir Chanyeol tidak sengaja. Tapi ketika kaki itu merambat naik ke pahanya; barulah Baekhyun sadar ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun Baekhyun baru berusia dua belas tahun tapi dia sudah mengerti dengan hal-hal seperti itu.
"Keberatan jika aku masuk kamarmu?" Suara Chanyeol mengejutkan Baekhyun. Tentu saja. Ini sudah larut; bahkan jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Chanyeol tiba-tiba ada di sini; mengetuk pintunya dan mengejutkan Baekhyun yang sudah mau tertidur.
Pria ini mengenakan kaos tanpa lengan bewarna hitam. Memperlihatkan otot kekarnya dengan celana panjang bewarna senada. Tapi meskipun tanpa jas atau apapun; pria ini tetap bersinar dengan mata bulatnya.
"I—ini sudah malam. Aku. Maaf. Hyung."
"Kenapa terbata-bata begitu?" Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun agar masuk ke dalam. Mengunci pintunya dan mendapat reaksi yang buruk dari Baekhyun. Pria cantik itu mulai gelisah; ini ganjil—seorang pria berada di kamarnya di tengah malam dengan pintu terkunci.
"Aku hanya ingin menjenguk adikku." Chanyeol meneliti tubuh Baekhyun. Tubuh mungilnya terbungkus piyama bewarna merah muda. Oh God! Adakah yang lebih menggemaskan dari ini?
"Tapi aku mau tidur, hyung."
"Sebentar saja. Lima menit?"
Tiba-tiba saja Baekhyun tidak dapat berbicara. Dia hanya diam saat pria tampan ini menyentuh kedua bahunya. Mata bulat pria ini mengerjap; tampak begitu polos; tapi Baekhyun tahu bahwa pria ini menyimpan rencana yang buruk.
"Hyung. . ."
"Hm?"
Wajah Chanyeol memang benar-benar sempurna. Dengan rambut hitamnya yang halus; keningnya yang indah; membuat Baekhyun untuk sepersekian detik: mengagumi wajahnya. Baekhyun iri karena sebagai seorang pria dia justru terlahir cantik. Tidak seperti Chanyeol yang sangat tampan, tinggi dan juga berkharisma.
"Kau terpesona padaku?" Chanyeol terkekeh. Semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh mungil Baekhyun. Punggung Baekhyun menyentuh tembok—dia tidak bisa kemanapun setelah ini. Baekhyun tiba-tiba terserang panik berlebihan.
"Bahumu mulus sekali."
Mata Chanyeol terus menatap bahu Baekhyun. Dia mendekatkan bibirnya ke bahu itu; membuat nafas Baekhyun berhenti untuk sesaat. Ini tidak benar. Dia kakakku! Sadarlah, Park Baekhyun!
Slurp!
Chanyeol menjilati bahu Baekhyun. Bahu itu bergetar menanggapi sentuhan Chanyeol. Tubuh Baekhyun langsung lemas. Fikirannya kosong; Baekhyun tidak tahu kenapa kejadiannya begitu cepat seperti ini.
"H—hentikan! Ah—Ah."
Jilatan itu makin intens. Chanyeol juga menghisap dan menggigit bahu itu. Terus melakukannya sampai dia puas. Baekhyun sudah melemah. Dia jatuh terduduk di lantai dan Chanyeol berjongkok agar bisa tetap mencicipi bahu mulus tersebut.
"Saatnya menu utama," katanya sambil menyeringai. Baekhyun tidak bisa menangkap maksud dari pria itu. Tubuhnya terlalu lemah untuk digerakkan.
"Akhh!"
Chanyeol menggigit bahu itu dengan keras. Baekhyun menjerit. Ini berbeda dari yang tadi. Ini sakit! Baekhyun menjerit sambil menangis; kenapa dia melakukan ini padaku?
"Darahmu. . Banyak juga. Aku suka."
Baekhyun merasa kepalanya pening saat Chanyeol terus menerus menggigitnya tanpa jeda. Darah sudah merembes ke piyama Baekhyun. Percuma dia berontak; tangan kekar Chanyeol menghalangi pergerakannya. Dia terlalu kuat.
"Sebut namaku!"
Baekhyun mencengkram kaos hitam Chanyeol; ia menggeleng dan menahan sakit yang semakin lama semakin mendera tubuhnya. Dia kesakitan tapi pria ini tak berhenti menggigiti kulitnya. Baekhyun berharap di saat-saat seperti ini; Victoria datang dan menolongnya.
"Kurasa sudah cukup."
Belum sampai Baekhyun menjawab perkataan Chanyeol, tiba-tiba pria itu berkata dengan nada yang tegas dan tatapan dingin. Baekhyun bergetar ketika pria itu berkata; "Kalau kau melaporkan ini, aku akan membunuh Victoria. Jangan berfikir aku tidak bisa melakukannya. Karena aku akan benar-benar membunuhnya. Dan kau akan melihat mayatnya setelah kau melapor pada oranglain."
"Hiks. . ."
Chanyeol tertawa; keras.
"Selamat malam. Sayang."
Dan meninggalkan Baekhyun yang terduduk dengan darah di sekitar bahunya. Baekhyun tidak tahu dan tidak mengerti mengapa kakaknya berlaku seperti itu padanya. Apakah karena aku anak haram? Tapi, Kyungsoo tidak seburuk ini. Apa salahku?
TBC
Karena beberapa pertimbangan; aku mengganti umur mereka berdua; yah—aku suka pedo; tapi perbedaan yang terlalu jauh juga menjadi pertimbanganku. Semoga suka ya—dan terimakasih atas saran dan kritik kemarin.
Soal apakah ini ada kaitannya dengan novel dengan judul yang sama; sama sekali tidak. Aku bahkan tidak tahu ada novel dengan judul yang sama. Bisa dicek kalau kalian mau. Jadi, karena tida ada notice bahwa ini adalah remake; ini sama sekali bukan remake. Dan karena itu, aku juga mengganti judul FF ini.
Terakhir; review please.
Terima kasih.
