Pair : Chanbaek, Kaisoo

.

.

Cast : Park Chanyeol (15)

Park Baekhyun (12)

Park Kyungsoo (14)

Kim Jongin (20)

Warning : INCEST, BDSM, Smut, Pornography, Pedo (For Kaisoo), and crime story.

.

.

Dont Like, Dont read!

Just close, no bash!

.

.

Yunho tidur selama beberapa jam, lalu meninggalkan rumah jauh sebelum anak-anaknya bangun. Tak lama setelah matahari terbit, ia dan Ahra sudah diterbangkan ke London dengan salah satu dari sekian banyak pesawat jet pribadi miliknya.

Mereka akan melewatkan dua minggu di sana, lalu kembali ke kesibukan sebagai pembisnis dan tokoh politik yang sukses. Yunho sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya. Selama bertahun-tahun ia membenci bagaimana para pecundang menusuk dari belakang kolega-koleganya.

Menjual jiwa mereka kepada siapa pun yang punya banyak uang untuk membeli pengaruh apa yang bisa mereka dapatkan. Benar-benar bisnis busuk. Yunho bosan dengan kehidupan politik, tapi sayangnya, hanya itu yang ia ketahui.

"Menurutku," kata Ahra tiba-tiba. Ia menoleh pada Yunho yang juga sedang menatapnya. Mereka sedang ada di pesawat dan baru beberapa menit yang lalu, Ahra menggunakan video call untuk mengkontak Chanyeol, putra kesayangannya.

"Menurutmu apa, Ahra?" tanya Yunho sambil memasang sabuk pengamannya. Ahra tersenyum. Mematikan seluruh barang elektronik karena pesawat akan lepas landas. "Menurutku, lebih baik memasukkan Baekhyun ke sekolah yang sama dengan anak-anak."

"Itu berbahaya, Ahra," kata Yunho tidak setuju. Ahra menoleh dan wajahnya tampak tidak terima. Dia bertanya-tanya apakah Yunho selalu menganggap putra-putranya itu monster?

"Kenapa tidak?"

"Mereka bisa membahayakan Baekhyun."

"Membahayakan?" Ahra tertawa.

Dalam hati dia mengumpat Yunho. Untuk menghilangkan kekesalannya, Ahra membuka botol vodka. Usianya yang sekarang menginjak 42 tahun, seharusnya mengurangi minuman beralkohol. Tapi, Ahra selalu gagal menahannya.

"Justru itu, kufikir ide yang bagus untuk mengakrabkan mereka. Tidakkah kau seharusnya percaya pada anak-anakmu sendiri?"

Pada saat itu, perkataan Ahra ada benarnya juga. Yunho memang berfikir bahwa ide yang bagus untuk membuat mereka akrab.

Terlebih Kyungsoo, pria itu sangat sarkastis dan sulit akrab dengan oranglain. "Kurasa kau benar. Aku akan menelpon Jongin dan mengurus semuanya."

Ahra tersenyum.

"Ya, itu bagus."

Rencananya berhasil, tentu saja untuk membuat anak itu menderita.

.

.

.

Setelah kedua orangtuanya pergi pagi-pagi sekali, Kyungsoo juga bangun. Bukan berarti dia yang paling rajin: ia sengaja bangun lebih awal karena ingin memberi kejutan pada Jongin.

Ia ingin membangunkan Jongin lalu mencium bibirnya. Bahkan membayangkannya saja, sudah membuat wajah Kyungsoo memerah.

Ia melewati tangga, karena memang kamar Jongin berada di lantai tiga. Dan saat Kyungsoo melewati kamar mewah milik Baekhyun, terdengar percakapan disana. Kyungsoo bukan pria baik-baik yang akan berlalu begitu saja tanpa menguping. Apalagi ketika ia mendengar suara Jongin disana.

"Tuan muda, anda ingin sesuatu?"

Itu suara Jongin.

Kyungsoo tahu bahwa diantara semua orang yang ada di rumah, hanya Jongin yang bisa diajak Baekhyun bicara. Kyungsoo bisa melihat mereka, karena pintu kamar Baekhyun dibiarkan terbuka oleh Baekhyun.

Kyungsoo bisa mendengar suara masing-masing melalui lubang ventilasi. Meskipun kamar Baekhyun kedap suara tapi, pintu yang terbuka memudahkan Kyungsoo untuk mencuri dengar.

Kyungsoo bisa mendengar tangisan Baekhyun, tapi bocah itu tidak mau bercerita kenapa dia menangis. Ia hanya mengisahkan tentang cerita-cerita panjang dan mendetail tentang dia dan Victoria. Baekhyun bilang, dia hanya rindu Victoria: itulah sebabnya dia menangis.

Tentu saja Baekhyun tidak menceritakan kejadian sebenarnya mengapa dia menangis. Baekhyun langsung menghapus darah di bahunya begitu Chanyeol keluar dari kamarnya tadi malam. Baekhyun benar-benar takut kalau kakaknya itu sampai melukai Victoria.

Kyungsoo masih menguping. Dan dia bisa mendengar suara tawa Jongin. Pria kurus itu lalu menyampaikan lelucon-lelucon, tentu saja untuk menghilangkan kesedihan Baekhyun.

Beberapa termasuk yang paling jorok yang pernah didengar Kyungsoo. Mereka lalu tertawa. Kyungsoo fikir Baekhyun sudah terbiasa dengan Jongin. Mereka terlihat akrab sekali, untuk kali ini Kyungsoo benar-benar iri pada Baekhyun.

"Tuan muda, anda sudah tidak sedih lagi, kan?"

Kyungsoo mulai merindukan Jongin. Segala candaannya ketika dia sedang sedih Kyungsoo benar-benar rindu. Baekhyun beruntung bisa mendapat Jongin sebagai pengawal pribadi. Sedangkan dia mendapatkan Kyuhyun hyung yang luar biasa galak. Kyungsoo merutuk.

Dan di luar kehendaknya, karena terlalu berkutat pada dirinya sendiri, Kyungsoo tidak menyadari kalau Jongin berdiri di pintu kamar Baekhyun. Jongin ada disana. Menatapnya seakan dia adalah penjahat yang akan melukai Baekhyun. Tatapan Jongin tentu saja menyinggung Kyungsoo.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kyungsoo dengan nada tinggi. Jongin menghela nafas, terlalu bosan dengan sikap kekanak-kanakan Kyungsoo. Jongin keluar dari kamar Baekhyun: menutup pintunya dan menggeret Kyungsoo ke dapur yang ada di bawah.

"Duduklah," kata Jongin. Kyungsoo menurut meskipun tatapannya masih terlihat dingin. Mereka duduk di meja kecil yang dijadikan mini bar. Itu tempat kesukaan Chanyeol. Bahkan hyungnya itu selalu melarang Kyungsoo menyentuh anggur-anggur mahalnya.

"Aku hanya menjaga dan melindunginya. Semua karena Tuan Yunho. Ini permintaan langsung dari beliau. Kau jangan salah sangka," Jongin menjelaskan. Tapi Kyungsoo masih tak perduli. Ia melirik arlojinya dan menghitung dengan cepat. "Sebentar lagi Chanyeol hyung akan datang."

Kyungsoo memang selalu ingat kebiasaan Chanyeol. Karena tak berapa lama, pria tinggi itu menghampiri para maid dan memesan minuman kesukaannya. "Aku mau kopi."

Terdengar begitu jelas.

Kyungsoo senang ada alasan untuk menghindar dari Jongin. Pria bermata bulat itu langsung menghampiri kakaknya. Memeluk Chanyeol dengan sayang. Sedangkan yang dipeluk, hanya acuh tanpa membalas.

"Ini tuan, kopi anda."

Para maid memberi Chanyeol cangkir kopi dan beberapa gula tambahan, lalu menghilang: menyiapkan sarapan untuk mereka. Kyungsoo menatap kakaknya untuk menghindari Jongin yang masih ajeg menatap padanya.

Chanyeol kemudian memesan menu yang ingin dimakannya. Para maid mendengar tuan mudanya itu menginginkan sarapan dengan aroma ham dan sosis di atas panggangan.

Kyungsoo selalu suka yang berkuah dan benci panggang-memanggang di pagi hari. Jadi dia memesan yang sebaliknya.

Ketika Jongin pergi untuk mengurus Baekhyun, barulah Kyungsoo bisa mengucapkan sumpah serapah yang sedari tadi ditahannya. Chanyeol hanya diam mendengarkan. Namun tentu saja sebagai kakak yang baik, dia harus menasehati Kyungsoo.

"Ini masih pagi. Kau tidak mau wajahmu itu berkeriput kan," Chanyeol menjelaskan ketika melihat wajah adiknya makin keruh.

Pria jangkung itu bisa melihat kalau Kyungsoo tengah kesal—entah karena apa—sambil menggerutu tak jelas, Kyungsoo mengumpat-umpat. Brengsek, brengsek, begitu katanya.

"Kau tahu. Jongin tidak mau membangunkan aku dan lebih memilih menemani anak sial itu. Dia itu kan kekasihku, hyung! Bukan kekasih anak haram itu," katanya mengeluarkan semua uneg-unegnya.

Chanyeol menanggapi dengan santai ucapan Kyungsoo. Ia menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Menikmati perlahan-lahan cangkir kopinya yang pertama, zat adiktif itu langsung menyerbu otaknya.

Rasa hangat dan kebas menguasai tubuhnya. Ia tersenyum pada Kyungsoo seraya omelan itu masih terus dilanjutkan, namun pada suatu titik Chanyeol pun melayang ke dunia lain.

Menemani Baekhyun? Bocah itu tidak mengatakan apapun pada Jongin, kan? Ya. Kalau sampai dia buka mulut, dia akan benar-benar melihat mayat Victoria Nonna.

Kyungsoo mencondongkan tubuhnya ke arah Chanyeol. Matanya berkilat: tanda setiap kali dia punya rencana-rencana brilliant. "Hyung, bagaimana kalau kita memberi pelajaran pada anak sial itu. Tanganku sudah gatal."

Tatapan Chanyeol mengintimidasi. Kyungsoo merasa seperti ditempatkan di jalur kereta bawah tanah tempat para maniak dan pemerkosa dan dia ditinggal sendiri. Memang agak berlebihan, tapi Kyungsoo memang berlebihan.

"Dengar, Park Kyungsoo."

Kehangatan acara pagi yang berlangsung lima belas menit tadi pun pudar dalam waktu singkat. Kegugupan Kyungsoo juga tidak membantu.

"Dia adalah milikku. Hanya aku yang boleh menyiksanya. Jika oranglain melakukan itu, aku yang akan menghancurkannya. Kau mengerti?" Chanyeol akhirnya bisa santai ketika Kyungsoo mengangguk.

"Hyung," katanya, melirik cepat ke arah Baekhyun, bocah itu datang bersama Jongin. Dan Kyungsoo benar-benar cemburu sekarang. Tidak seperti Jongin, Kyungsoo mudah sekali terbaca.

"Kalian tahu kan pesan Tuan Yunho tadi pagi?" Jongin berdeham-deham begitu melihat wajah sangar Kyungsoo. Dia sedikit canggung sekarang. "Mulai hari ini, tuan muda akan sekolah. Tuan sudah mengurus semuanya. Dan dia akan sekolah di lingkungan yang sama dengan kalian."

Baekhyun kelas satu. Sekolah menengah pertama dan sekolah itu bersebelahan dengan sekolah Chanyeol. Yunho benar-benar berniat menyatukan keluarganya.

Kyungsoo melirik dan beringsut malas, kemudian akhirnya berkata, "Dan kau meminta kita untuk mengurusnya? Memangnya dia itu bayi?"

"Kau tentunya tahu dia mengidap—"

"Aku tahu. Kau mengulanginya terus."

"Dia adikmu, itu jelas." Jongin mendecakkan bibir sambil menatap Kyungsoo. Kyungsoo memalingkan wajahnya. Jujur saja, melihat Jongin begitu melindungi dan membela Baekhyun membuat Kyungsoo sedih.

Senakal-nakalnya Kyungsoo, dia juga manusia biasa. Dia mencintai Jongin dan ketika kekasihnya membela oranglain, wajar jika Kyungsoo merasa kesal dan juga sedih.

Chanyeol-lah yang pertama kali melontarkan jawaban. Sambil menatap Baekhyun yang terus merunduk, Chanyeol tersenyum manis sekali. "Kau tenang saja, Jongin. Aku akan menjaganya."

Dengan gaya teramat kering ia berlagak akan membela Baekhyun apapun yang terjadi. Dengan segera, Jongin langsung tahu: bahwa itu justru kebalikannya.

"Kyungsoo, cepat mandi, sebentar lagi kita berangkat," kata Chanyeol pada Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk dan segera bergegas mandi selagi menunggu sarapan siap. Tinggallah mereka bertiga dan para maid. Baekhyun terlalu menunjukkan kegugupan ketika bersama Chanyeol dan Jongin menyadari hal itu.

"Jangan takut, Tuan muda."

Chanyeol sama sekali tak menanggapi. Dengan masih menggunakan bathrobe, pria itu terus menyesap kopinya. Pandangan matanya juga hanya fokus pada cangkir miliknya: mengacuhkan Jongin maupun Baekhyun. Tak berapa lama, sarapan mereka tiba. Baekhyun sudah akan makan sebelum tiba-tiba Chanyeol bicara padanya.

"Lebih baik kau mandi dulu. Makan sarapanmu kalau kau sudah mandi sama seperti Kyungsoo," katanya dengan suara dingin. Baekhyun melirik ke arah Jongin yang mengangguk. Itu artinya, dia tidak boleh membantah.

"Ne, hyung," jawab Baekhyun pelan. Jongin memperingati Baekhyun tentang seragam yang ia letakkan di ranjang—meminta Baekhyun untuk langsung memakainya. Meskipun Baekhyun tidak menjawab, tapi dia mendengar perkataan Jongin.

.

.

.

Baekhyun sudah memakai seragamnya. Pria cantik itu mematut dirinya di cermin, memejamkan mata, memberi nasehat pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Baekhyun mengambil tasnya. Berjalan ke meja dan mengambil ponsel yang beberapa menit yang lalu dibelikan oleh Jongin. Atau Kai—pria itu menyuruhnya memanggil seperti itu.

"Aku pernah melihat ini di televisi," kata Baekhyun senang. Seperti mimpi ketika akhirnya dia mempunyai benda itu. Karena ketika ia tinggal bersama Victoria, wanita itu pasti memarahi Baekhyun saat dia meminta atau merengek minta dibelikan.

Dibawanya ponsel itu dan Baekhyun mengecek kontak yang ada di sana. Hanya ada dua kontak. Nama Jongin dan juga nama Yunho. Baekhyun menekan nomor yang menggunakan nama Kim Jongin, dan setelah empat deringan, Baekhyun mendengar suara yang familiar.

"Tuan muda, selamat pagi."

"Hanya ingin mengecek apakah benda ini berfungsi," ujar Baekhyun sambil tersenyum. Suara di sebrang terdengar merajuk: entah bagi Baekhyun itu seperti rajukan.

"Kau pikir aku mau memberimu barang rusak?" tanya Kai dengan nada menggoda. Baekhyun buru-buru membalas, "Tidak, tentu saja tidak."

Jongin tertawa.

"Segeralah turun, Tuan muda. Chanyeol sudah akan berangkat," Baekhyun merasakan kegugupan yang luar biasa ketika teringat bahwa dia akan berangkat bersama Chanyeol.

Tangan Baekhyun tiba-tiba bergetar saat memegang smartphonenya.

"Tuan muda?"

"Eh? Ya. Aku segera turun."

Digenggamnya erat-erat ponsel itu dan ia bertanya-tanya apakah tidak apa-apa berangkat bersama Chanyeol? Tapi, Baekhyun buru-buru menggeleng. Ditepisnya fikiran buruk mengenai Chanyeol. Bagaimanapun, dia adalah kakak kandungnya.

Baekhyun menyimpan ponselnya di saku lalu bergegas turun karena tidak mau membuat mereka menunggu. Ketika dia turun, dilihatnya kakaknya itu sudah bersiap-siap akan berangkat. Kyungsoo juga sudah memakan sarapannya.

"Kita berangkat," kata Chanyeol pada Kyungsoo. Adiknya itu menatap Baekhyun yang masih diam belum bergerak. Matanya memincing. "Kau tidak mau ikut?" tanyanya dengan nada sinis.

"Dia bahkan belum makan," jawab Jongin agak kesal. Dia berniat akan mengantar Baekhyun: setelah bocah itu mendapat sarapannya.

Tapi, Chanyeol berpendapat lain.

"Dia ikut dengan kami," perintah Chanyeol. Perintah verbal semacam ini, langsung ke intinya, tanpa sepatah kata pun yang tak perlu, justru membuat Jongin akhirnya menyerah. Pria ini akan mengamuk kalau perintahnya tidak dituruti.

Ia melirik ke arah Baekhyun yang menunduk ketakutan. "Kau berangkat dengan mereka, Tuan muda. Tenang saja. Mereka akan menjaga anda," pinta Jongin lembut.

Chanyeol sibuk dengan ponsel smartphone ketika Jongin meminta untuk menjaga Baekhyun. Chanyeol hanya berdehem—menyetujui lalu berbalik menuju ke tempat parkir.

Kyungsoo memilihkan mobil sport warna merah untuk mereka naiki. Tanpa banyak bicara, Chanyeol memilih mobil pilihan Kyungsoo. Baekhyun mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.

Chanyeol duduk di balik kemudi. Kyungsoo duduk di samping. Sedangkan Baekhyun masuk ke bangku belakang dengan tas ransel yang kebesaran untuknya.

Udara terasa dingin dan lembap. Salju tipis menutupi tanah; tentu saja ini masih musim dingin. Baekhyun yang mungil dipakaikan Jongin syal yang menutupi leher dan juga dagunya.

Chanyeol mengamati Baekhyun melalui spion di dalam mobil. Mengamatinya dengan seksama; tak terdengar sepatah kata pun dari bangku depan.

Kyungsoo sibuk memainkan kuku-kuku jarinya. Chanyeol sibuk mengemudi dan Baekhyun yang terus-menerus duduk diam ketakutan. Dia masih trauma dengan sikap Chanyeol kemarin malam. Benar-benar menakutkan.

Mereka berada di rute Street Dongjoon; lalu lintas yang padat ketika jam-jam pagi seperti saat ini.

"Berapa populasi di Seoul, sih?" tanya Kyungsoo, memecah keheningan yang pekat. Dia agak jengkel ketika mobil kakaknya tiba-tiba berhenti karena macet.

"Tiga ratus ribu," sahut Chanyeol, menginjak rem saat lampu merah. Kyungsoo mendengus. "Bisakah kita berhenti sebentar untuk minum kopi? Disana itu?" pinta Kyungsoo menatap kakaknya.

Si pengemudi berlagak tuli. Dan tak berapa lama melaju di atas kecepatan rata-rata. Jalanan mulai lengang; jalan yang lebar menyebabkan mereka melesat dengan kecepatan seratus kilometer per jam.

"Bisakah sekali saja, kau mendengarkan aku, hyung? Aku ini adikmu," ucap Kyungsoo jengah. Chanyeol justru menyeringai mendengar umpatan Kyungsoo barusan.

"Sayangnya, aku tidak suka diperintah."

"Ah—Ya Tuhan!" Kyungsoo memasang wajah pura-pura terkejut yang mengesankan. Chanyeol tertawa melihatnya. "Aku lupa, hyung. Kau kan memang punya kelainan dominasi yang tinggi. Yah, untuk poin itu, aku lupa."

Chanyeol tertawa—menyetujui ucapan Kyungsoo. Dari balik kaca spion, pria itu bisa melihat wajah ketakutan Baekhyun. Dan tanpa bisa dicegah, penyakit sialannya tiba-tiba muncul begitu saja.

Melihat buruannya ketakutan, Chanyeol akan semakin buas, itulah penyakit sial yang tidak bisa dia sembuhkan.

Chanyeol mengarahkan mobil ke halte. Berhenti sesaat dan Kyungsoo terlihat kebingungan. Sekolah masih lumayan jauh dari sini. "Kenapa, hyung? Kau lupa jalan menuju ke sekolah?"

Chanyeol menatap Baekhyun ke arah depan; melalui kaca spion. Baekhyun balik menatap Chanyeol dengan pandangan takut. Dia sudah was-was sekarang. "Kau, Baek, turun di sini!"

Kyungsoo terkejut dengan perintah kakaknya. Ia menjulurkan kepala ke bangku belakang dan mendapati wajah Baekhyun yang memucat.

"Jalanlah ke depan. Disitu ada halte, kau bisa naik bus dari sini. Ayah sudah memberimu kartu kredit, kan? Kau bisa menggunakannya untuk membayar bus."

"Hyung!"

Kyungsoo agak khawatir. Bagaimanapun Baekhyun adalah orang baru. Dia takut dengan keramaian dan orang asing. Dan Chanyeol menyuruhnya naik bis sendiri di Seoul? Yang benar saja!

"Tunggu apa?"

Baekhyun mencengkram ujung seragamnya. Air mata mulai menetes ketika menyadari bahwa ternyata semua orang begitu membencinya. Tubuh Baekhyun bergetar. Apalagi melihat banyak mobil lalu lalang di jalanan; Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa. Dia bingung sekali.

"A—aku tidak tahu jalan menuju ke Sekolah. Aku takut. Aku. Aku. Tidak bisa, hyung,"

Mendengar jawaban Baekhyun, membuat darah Chanyeol mendidih. Dengan suara yang tinggi, dia membentak Baekhyun. "Kau mau turun atau aku menyeretmu keluar!"

Kyungsoo meringis, Ini terlalu kejam. Tidakkah ini berbahaya kalau sampai bocah ini menghilang? Yunho akan marah besar! Kakaknya ini memang gila!

"Hyung," kata Kyungsoo pelan. Chanyeol melirik dengan tatapan mengerikan. Seolah-olah dia mengatakan, Jika kau ikut campur, kau juga keluar. Membuat Kyungsoo diam dan duduk dengan tenang.

Perlahan-lahan Baekhyun turun dari mobil dan mulai berjalan menjauh. Dia sudah menangis. Kepalanya pusing dan tubuhnya bergetar melihat orang-orang banyak menunggu di halte.

Fikiran tentang, bahwa orang-orang itu jahat. Orang-orang itu akan menyakitinya; tidak bisa Baekhyun hilangkan begitu saja.

Dilawannya dorongan kuat untuk berteriak ataupun menjerit. Baekhyun menoleh ke belakang untuk memastikan. Mobil kakaknya sudah berjalan menjauh. Meninggalkannya sendirian. Kenapa dia begitu jahat padaku? Kenapa dia membiarkan aku sendirian di sini?

Jongin, masih mengawasi di belakang. Yunho tidak bodoh untuk membiarkan Baekhyun berangkat bersama anak sulungnya. Dia meminta Jongin untuk mengikuti mereka dari belakang.

Tentu saja Jongin mengawasi. Dengan hati-hati, Jongin memakir mobilnya dan menghampiri Baekhyun yang meringkuk di sudut halte. "Tuan muda."

Baekhyun terkejut. Dia kaget Jongin ada disini tapi di dalam hatinya, Baekhyun bersyukur begitu banyak.

"K—Kai."

.

.

.

Mereka memasuki Caffe Donatie di pinggir jalan sekitar halte. Jongin tidak tega membiarkan Baekhyun tidak sarapan sama sekali. Apalagi ini sekolah pertamanya.

Mendapat sapaan pelan dari pemuda yang sedang mengelap meja, Jongin tersenyum. "Bisakah aku mendapat waffle dengan cream, telur goreng, pancake strowberry dan juga susu coklat?"

"Tentu, tuan. Silahkan menunggu."

Jongin duduk di salah satu meja kosong dan Baekhyun mengikutinya. Baekhyun berusaha sebaik mungkin mengabaikan tatapan para pengunjung yang lain.

Duduk sambil menunduk, Baekhyun terus-menerus memilin ujung seragamnya. Tangan mungilnya memerah. Jongin menyadari hal itu. Dengan perlahan, Jongin meraih tangan itu. Tersenyum manis pada Baekhyun.

"Jangan takut. Aku ada disini."

Baekhyun terpaku untuk sesaat. Pria ini selalu membawa kenangan yang sama: Victoria yang baik hati dan selalu melindunginya dalam kegelapan.

"Gomawo," katanya dengan suara lirih. Jongin tersenyum. Mulai berani mengusak rambut hitam Baekhyun. Dan rupanya, Baekhyun sudah tidak menolak. Apakah ini pertanda yang bagus?

"Sayangnya, saat di sekolah, aku tidak bisa melindungimu. Aku hanya bisa melakukannya di rumah dan disini; seperti sekarang ini. Kuharap, ada oranglain yang bisa melindungimu nantinya."

Ada kilatan kesedihan di mata Jongin dan Baekhyun menyadarinya. Dengan wajah yang mantap, Baekhyun tersenyum pada Jongin. Wajahnya manis sekali. "Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengatakan hal itu."

DEG!

Jongin salah tingkah. Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ketika pesanan datang, Baekhyun agak kerepotan karena Jongin tidak membantu memindahkan piring-piring itu. Piringnya banyak sekali.

"Kai? Kau tidak apa-apa?" tanya Baekhyun agak bingung. Jongin terlihat seperti orang melamun dan Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa.

"Aku tidak apa-apa. Tadi hanya sedikit... Sedikit...?"

"Sedikit?"

"Sakit perut?" katanya agak ragu. Baekhyun menampakkan wajah prihatin yang justru menggemaskan bagi Jongin. Kai mengambil air mineral, meminumnya dan malah tersedak saat Baekhyun menatap matanya.

"Kalau begitu kau ke kamar mandi saja. Aku akan menunggu disini dan makan," katanya lembut. Jongin merasa rahangnya turun dengan cepat tapi dia tetap melakukannya. Pergi ke kamar mandi entah untuk apa. Kenapa denganku? Kai sadarlah! Dia Baekhyun! Dia bukan Kyungsoo!

.

.

Hari pertama sekolah adalah hari yang buruk. Ternyata sekolah adalah tempat yang mengerikan, membuat lelaki cantik itu bahkan terlalu takut untuk memulai pembicaraan.

Ketika semua orang berbondong-bondong untuk bicara dengannya—tentu saja karena dia putra angkat Park Yunho, Baekhyun justru menjauhi mereka.

Orang-orang menganggap kalau Baekhyun terlalu sombong dan tidak mau bergaul. Mereka bahkan sudah merencanakan tentang pembullyingan yang akan mereka lakukan.

Sekumpulan wanita penggosip mulai bergosip. Menyebar isu-isu konyol tentang Baekhyun. Lelaki itu autis, aneh, penyakitan dan terakhir isu anak haram.

Jam istirahat kedua. Chanyeol memang berencana ke kelas Baekhyun hari ini. Dia mendengar dari bisikan para gadis; saat Chanyeol melewati lorong—bahwa pria-pria disana meletakkan tumpukan sampah di loker Baekhyun.

Wajah Chanyeol langsung berubah.

Dari jendela di kelas; karena Chanyeol sangat tinggi dia bisa melihat dengan jelas. Baekhyun menuju ke tempat loker. Ketika Baekhyun membuka pintu loker, sampah-sampah berceceran mengenai wajah putih mulusnya.

"Sialan!" Chanyeol mengumpat. Apalagi melihat wajah Baekhyun yang tampak ingin menangis, pria raksasa itu ingin menghajar orang-orang yang mengganggu buruannya.

Tapi Chanyeol masih diam. Ini masih tempat umum. Chanyeol bukan orang gegabah yang akan merusak image-nya hanya karena loker penuh sampah.

Karena loker cukup tinggi, sampah itu langsung mengenai wajah Baekhyun. Semua orang tertawa. Menertawai Baekhyun dan menyebutnya, dungu, bodoh dan lain-lain.

Tubuh Baekhyun menggigil.

Ia sedang berusaha mengendalikan penyakit anti sosialnya. Ketika seseorang membuka pintu dengan bunyi berdentang keras, suara tawa itu menghilang. Berganti dengan suara bisikan.

Tanpa perkenalan sama sekali, pria itu bertanya dengan wajah dingin, "Siapa yang menaruh sampah-sampah busuk ini?" tanyanya sambil menatap orang-orang yang berada di ruangan.

Semua orang diam.

Baekhyun terkejut ketika mendapati Chanyeol membuka pintu kelasnya. Rasa takut itu pun mulai menyergap Baekhyun. Pria ini lebih mengerikan dibanding tumpukan sampah, itu menurut Baekhyun.

"Aku tanya, siapa yang melakukannya?"

Dan ketika tak satu pun berani mengaku, pria itu masih berdiri: menunggu. Dia mendekati gerombolan pria-pria yang ada di dalam kelas.

"Kalian kan?" Tudingnya. Seenak jidat.

"I—itu."

"Jika hal ini terjadi lagi," katanya mulai mengancam. "Aku akan membalasnya lebih buruk dari ini. Kalian dengar. Dia adikku! Tak seorangpun bisa menyakitinya."

Sementara pria-pria itu memerhatikan Chanyeol dengan seksama, dari rambut hitamnya yang dipotong cepak hingga sepatu mewah yang dibeli dari toko satu-harga.

Potongan dan dandanannya tanpa cela, wajahnya tampan, pinggangnya ramping, bahunya tegap dan cukup tebal: membuktikan bahwa pria ini pastilah seorang high class.

Menurut rumor, pria ini menyukai anggur, wanita dan mobil sport mewah. Ia memiliki jet, kapal yacht dan semua itu ia umbar tanpa ragu-ragu. Tulisan besar di atas kepalanya menyatakan: Inilah putra sulung paling berkuasa nomor satu di Korea! Mencari masalah dengannya sama saja mencari masalah dengan seluruh warga Korea!

"Maafkan kami," ucap salah satu dari mereka. Chanyeol hanya mendengus. Berbalik dan menghampiri Baekhyun yang menatapnya ngeri. Chanyeol memegang tangan Baekhyun dan menariknya keluar.

Mereka keluar dari ruangan, membanting pintu, membuat tidak senang semua orang yang ada di dalam kelas.

"Hyung?" tanya Baekhyun saat mereka ada di ruang kesehatan. Entah kenapa Chanyeol membawanya kemari. Padahal menurut Baekhyun, dia tidak sakit sama sekali. Dia sudah membersihkan sampah yang tadi menempel dan dia hanya perlu kembali ke kelasnya.

Baekhyun gugup ketika menyadari hanya dia dan Chanyeol yang ada di ruangan itu.

Tuhan, jangan lagi. Ini bukan mimpi, Tuhan, kumohon!

Dua puluh detik kemudian, Chanyeol yang pertama kali membuka mulut. "Kau lapar?" katanya sambil menyentuh pipi mulus Baekhyun. Baekhyun mundur ketika tangan Chanyeol mulai menyentuhnya.

"Aku sudah makan. Bersama Jongin tadi," jawabnya berusaha tidak terlalu gugup. Chanyeol mengerutkan kening saat mendengar nama Jongin disebut.

"Jongin?"

Baekhyun menyumpahi dirinya sendiri. Kenapa aku sebodoh ini? Bagaimana kalau sampai Jongin terkena masalah karena aku?

Menyadari wajah panik Baekhyun, Chanyeol justru tersenyum. "Kau khawatir karena Jongin? Tenang saja. Aku tidak akan menyakiti Jongin. Setidaknya, karena dia memberimu makan, itu artinya aku tidak akan terlalu merasa bersalah."

Baekhyun merasa sangsi, benarkah pria ini punya rasa bersalah. Bahkan dia terlihat menakutkan dengan tawa miringnya.

"Jangan mendekat," seru Baekhyun lantang. Dia mundur ketakutan saat melihat tubuh raksasa Chanyeol menghimpitnya di tembok. Baekhyun merasa sesak nafas; penyakitnya kambuh secara tiba-tiba.

"Hyung, aku harus ke kelas," kata Baekhyun pelan begitu ia menemukan alasan. Lagipula sebentar lagi kelas akan dimulai.

"Mengapa begitu terburu-buru?" Chanyeol bertanya pada Baekhyun ketika bocah itu berusaha mendorong tubuhnya. Tubuh Baekhyun mulai bergetar. Nafasnya memendek.

"Masih ada jadwal," begitu jawaban Baekhyun. Tapi, Chanyeol hanya tertawa. Pria itu mendorong tubuh mungil Baekhyun dan mencekik lehernya.

"H—hyung. S—Sesak."

"Berbaring di ranjang," kata Chanyeol sambil mengeraskan rahang. Baekhyun menjerit tapi jeritannya tak cukup kencang karena cekikan Chanyeol.

"Berbaring di ranjang," bisik Chanyeol lagi. Tanpa jendela yang dapat membantunya kabur, Baekhyun terpaksa mengangguk. Ia menempatkan diri di ranjang begitu tangan Chanyeol melepas lehernya.

Pria itu langsung merengkuh tubuh Baekhyun. Baekhyun menjerit: dan dia merasa tertekan. Tiba-tiba, Chanyeol menampar pipi Baekhyun. Keras sekali. Saking kerasnya menyebabkan pipinya terasa ngilu. Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sedih. Matanya hampir menjatuhkan air mata.

"Hiks... Hyung."

"Kau tahu. Obsesiku adalah ketakutan. Hasratku akan menggebu ketika melihat air mata dan juga rasa takut," katanya sambil menjilat-jilat leher Baekhyun. Pria cantik itu masih berontak. Ia memukul kepala Chanyeol tapi pria jangkung itu dengan mudahnya mengendalikan kedua tangan Baekhyun.

Dengan tangannya yang kekar, Chanyeol mencengkram kedua tangan Baekhyun. Satu tangannya yang lain, Chanyeol gunakan untuk membuka rahang Baekhyun.

"M—Mphmm."

Baekhyun tersentak. Lidah Chanyeol melesak masuk kedalam mulutnya tanpa aba-aba. Menghisap lidahnya: melilitnya dan memberinya air liur. Baekhyun menggelengkan kepalanya tapi tangan Chanyeol mencengkram rahangnya. Baekhyun tidak bisa menghindar. Tapi dia tak menyerah. Baekhyun masih berusaha menggelengkan kepalanya.

"Hmphh—Hmphh."

Baekhyun mendesak tubuh Chanyeol. Tapi percuma. Tubuhnya terlalu ringkih untuk melawan tubuh raksasa Chanyeol. Tangannya pun tak bisa membantu karena Chanyeol menahannya.

"Nggh. . ."

Chanyeol menghisap lidah Baekhyun. Mengajak lidah mungil itu untuk bertarung dengannya. Baekhyun meneteskan air mata. Dia jijik dan tubuhnya menggigil. Tapi Chanyeol terus menyedot lidah Baekhyun. Membuat seluruh persendian Baekhyun terasa lemas.

Bukannya Baekhyun menikmati, pria itu hanya kaget: ini adalah kali pertama mulutnya disentuh. Perasaan takut dan rasa asing itu membuat Baekhyun semakin membenci Chanyeol; kakak kandungnya.

Chanyeol melepas tautan mereka. Menatap wajah memerah Baekhyun yang sedang mencari udara. Lalu menatap sekilas ke arah bibir Baekhyun. Bibirnya merah, mungil dan juga tipis.

Chanyeol tersenyum, manis sekali.

Chanyeol mendekatkan wajahnya lagi. Hanya memasukkan lidah, belum mencicipi bibir ranum itu sama sekali. Tunggu waktu yang tepat dan dia akan melakukannya.

"Mppmh."

Chanyeol mulai mencium bibir Baekhyun. Terburu-buru; panas dan juga lengket. Dia menghisap bibir Baekhyun bagai tofu. Lambat tapi bergairah. Chanyeol menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan: mencari angle yang tepat untuk menyamankan posisinya.

SRET!

Chanyeol menutup semua perlawanan Baekhyun dengan mencekal tangannya. Menikmati bagaimana bibir itu berusaha menutup dan dia yang bergerak. Menjilat bibir itu dan menghisapnya dengan suara keras. Baekhyun hampir kehabisan nafas.

"Nggh. . ."

Dan Chanyeol mengerti. Dia melepas ciumannya. Hanya empat detik Chanyeol membiarkan Baekhyun bernafas memasok udara. Chanyeol kembali mencumbu bibir Baekhyun. menggerakkan brutal, serampangan dan tak tentu arah.

'Sial! Bibirnya!'

Chanyeol menekan bibir Baekhyun hingga kepala Baekhyun terdesak. Baekhyun sudah menangis dia tidak tahu harus berbuat apa. Tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan kakaknya.

"Balas ciumanku, brengsek!" Seru Chanyeol kasar. Baekhyun ketakutan. Dia menjerit tapi ketika dia melakukannya, Chanyeol justru kembali mencekik lehernya. "S—shh. Sakit."

"Sekali lagi kau berteriak, kusumpal mulutmu dengan penisku!"Chanyeol menggeram marah. Dia menarik tubuh ringkih itu hingga ke pangkuannya. Dan reaksi Baekhyun tentu saja meringkuk menjauh. Terlebih saat dia mendengar kata penis. Baekhyun takut setengah mati.

"Julurkan lidahmu."

Baekhyun tentu saja menolak. "T—tolong. Seseorang tolong aku!" Baekhyun memukul dada Chanyeol saat pria itu masih memangkunya. Chanyeol semakin tersulut, dia meremas junior Baekhyun dengan sentakan yang kuat.

Baekhyun kaget.

Spontan langsung menjatuhkan kepalanya di dada Chanyeol. "Julurkan lidahmu," kata Chanyeol dingin. Baekhyun meringis saat tangan Chanyeol menekan juniornya menggunakan kuku. Sakit sekali.

"Bagus, anak pintar," ucap Chanyeol pelan tapi dingin. Chanyeol kembali mempertemukan lidah mereka. Baekhyun merasa perasaan yang sama seperti tadi: risih dan juga aneh. Baekhyun memejamkan mata karena terlalu takut. "Gerakkan sayang, balas lidahku."

Baekhyun menggeleng, tanda menolak. Tapi Chanyeol tak semudah itu menyerah. Ia kembali meremas junior Baekhyun dari luar celananya. Sambil menggunakan kuku, Baekhyun tersentak kaget. "Hiks—hyung, sakit sekali."

"Kalau sakit, gerakkan sayang."

Dengan kaku, Baekhyun membalas. Mau tidak mau. Rasanya aneh. Apalagi ketika Chanyeol justru mengulum lidahnya ke dalam mulut. Ahh hyung, hentikan. Baekhyun ingin bilang seperti itu tapi suaranya tak keluar karena Chanyeol mengulum lidahnya.

"Kau tahu," katanya melepas kuluman bibirnya. Baekhyun merasa lidahnya terasa kering: efek Chanyeol menguras habis liurnya. "Aku masih bersikap baik padamu karena Ayah. Tapi jika kau berani melawanku, aku tidak akan segan membuatmu menderita. Kau paham, sayang?"

Baekhyun diam tapi mengangguk.

Chanyeol merapikan seragamnya lalu berujar tanpa menatap Baekhyun sama sekali. "Kembalilah ke kelas. Aku ada ulangan sebentar lagi," katanya dingin sambil membuka pintu. Meninggalkan Baekhyun sendirian disana dan menangis.

TBC

Kalau ada yang tanya, ttg kenapa Chanyeol ngisep darah. Tidak ada kata-kata ngisep. Chanyeol hanya menggigit; yah kalau menghisap kan waktu dia mencium bahu Baekhyun. Jadi, dia bukan vampir ya, keke.

Dan karena ini Psycho dan kekerasan, kalau ngga suka, bisa close. Jika ada bash, berarti anda tidak bisa membaca Warning yang sudah saya tulis. Saya termasuk orang yang down kalau ada yg bash; kritik gpp tapi jgn bash. Hargai orang yang udah nulis. Saya berusaha menulis dengan cara yg berbeda untuk setiap FF; mengertilah untuk bagian itu.

DYASPC, itu ringan, berbau smut.

Short Collection, berbau Fluff yang ringan.

Number nine, saya menulis dengan cara yang beda, dengan alur yang beda dari kebanyakan FF. Memang, tidak harus menyukai FF saya, cukup memberi kritik yang bermanfaat dan kalau ngga suka, knp harus dilanjut membaca? Itu juga yg membuatku menghentikan sejenak Number nine~~I'm so sorry.

Karena aku agak down untuk melanjutkan FF itu. Sebagai gantinya, aku akan fokus sama FF ini dan DYASPC, saya akan memulai kembali FF itu. Adakah yg seneng? Atau malah ngga ada? Hehe.

.

.

The last, Wanna give me some review?

NB: Thanks alot to : Yoogeurt.

#StayStrongChanyeol#WeLoveYou#PleaseSmileAgain