Pair : Chanbaek, Kaisoo
.
.
Cast : Park Chanyeol (15)
Park Baekhyun (12)
Park Kyungsoo (14)
Kim Jongin (20)
Warning : INCEST, BDSM, Smut, Pornography, Pedo (For Kaisoo), and crime story.
.
.
Dont Like, Dont read!
Just close, no bash!
.
.
.
.
Udara dingin sepertinya membantu menjernihkan pikiran Baekhyun ketika ia menyusuri lorong-lorong sempit menuju ke gerbang sekolah. Baekhyun duduk di bangku yang ada di sana: memandangi siswa-siswa yang berjalan cepat, bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.
Seperti mimpi, ketika akhirnya Baekhyun mempunyai keluarga seperti yang dia inginkan dan bersekolah seperti yang anak-anak lain lakukan.
Perubahan yang begitu drastis, kebebasan ini begitu mendadak. Masih ada rasa takut dan juga rasa tak aman. Satu-satunya rasa aman adalah bersama dengan Kim Jongin. Aneh memang bukan dengan keluarganya sendiri tapi dengan oranglain.
"Heh, anak haram," Baekhyun mendongakkan kepalanya. Itu Kyungsoo. Dengan anggukan kaku, Baekhyun menyapa Kyungsoo yang kini duduk di sampingnya; sambil menunggu Chanyeol datang.
"Dimana Chanyeol hyung? Dia belum keluar?" Baekhyun menggeleng. Karena kedinginan, pria cantik itu menjejalkan kedua tangannya ke saku celana. Kyungsoo mendengus ketika melihat tubuh mungil Baekhyun menggigil.
"Kau kedinginan?"
Baekhyun lagi-lagi hanya mengangguk, tanpa menjawab. "Ish! Dimana sih pembuat onar itu?" tanya Kyungsoo sambil melirik ke sekeliling. Baekhyun hanya memperhatikan tingkah Kyungsoo. Pria ini tidak terlalu jahat. Dia hanya tidak ramah, selebihnya dia tidak pernah menyakiti Baekhyun.
Yah, kalau saja Baekhyun tahu bahwa Chanyeol-lah yang melarang Kyungsoo untuk menyentuh miliknya.
"Itu dia," kata Kyungsoo bernafas lega. Dari jarak sekitar tiga meter, Chanyeol yang mencolok jelas gampang terlihat. Dengan tubuh jangkungnya yang semapai, pria itu mendekati mereka dengan tatapan dingin.
"Chanyeol."
Chanyeol berhenti melangkah, ada seorang gadis—yang tidak ia kenal tengah menghampirinya. Chanyeol menatap penuh selidik gadis berwajah cantik itu. Cukup cantik. Terlihat lugu dengan wajah plastiknya yang terlihat begitu natural. Tapi, sayang, dia tinggi dan tidak mungil. Chanyeol tidak tertarik.
"Kau Park Chanyeol, kan?"
Chanyeol mengacuhkan gadis itu, menghampiri kedua adiknya yang masih menatap gadis yang dengan beraninya memegang lengan kurus Chanyeol. Kyungsoo membulatkan matanya. Wanita ini pasti akan mati.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Chanyeol melepas tangan gadis itu. Tangan kurusnya balik mencengkeram pergelangan tangan kiri wanita yang saat ini tengah mendelik padanya. Chanyeol tidak suka tatapan penuh kepercayaan diri itu. Diantara seluruh hal di dunia; Chanyeol bersumpah dia membenci tatapan sok berani seperti yang gadis itu lakukan.
Chanyeol Berpikir sejenak, lalu menyunggingkan senyum kakunya. "Kuharap kau tidak tersinggung, nonna. Tapi aku tidak suka tubuhku disentuh orang asing sepertimu," katanya datar. "Percayalah padaku. Aku akan mematahkan tanganmu jika dalam sepuluh detik kau tidak melepaskanku."
Gadis itu tersentak: terkejut dengan ucapan Chanyeol barusan. Ia melepas tangannya ketika menyadari rasa nyeri di perutnya. Itu bukan karena ia kehabisan napas, tapi karena rasa takut.
Tenanglah, Kwon Yuri, kau hanya perlu bertanya padanya. Gadis itu menghela nafas panjang, mengembalikan kepercayaan dirinya lalu menatap manik mata Chanyeol dalam-dalam; penuh keseriusan.
"Kau mengenal Sojung?"
DEG!
Chanyeol terpaku selama lima detik. Tapi sewaktu akhirnya ia mulai bisa menenangkan diri, seringai-lah yang didapat gadis bername tag—Kwon Yuri itu. "Yah, dia gadis yang ku kencani selama sepuluh hari."
"Kau tahu kalau dia koma?"
"Ah. Benarkah. Aku baru tahu."
"Kau tidak tahu?"
"Tidak."
Chanyeol tidak berkata apa-apa lagi, ia menggandeng Kyungsoo dan menuju tempat parkir; meninggalkan gadis bernama Kwon Yuri yang hanya bisa termangu menatap punggung tegap Chanyeol. Baekhyun menghela nafas: mau tak mau harus mengikuti kedua kakaknya.
Sewaktu mereka sudah berada di mobil, Chanyeol langsung melempar tasnya ke dashboard mobil mereka, mengenai gantungan mobil kesayangan Kyungsoo. Gantungan pemberian Jongin tahun lalu.
"Oke, hyung, ada apa lagi ini?" tanya Kyungsoo.
"Dia gadis yang ku kencani selama sepuluh hari."
"Oh, well, tadi kau sudah mengatakannya. Maksudku, kau yang membuatnya koma?" Suara Kyungsoo bergema di dalam mobil membuat Baekhyun kaget setengah mati. Mana mungkin Chanyeol membuat seorang gadis masuk Rumah Sakit? Itu mustahil.
"Aku memukulnya," jawab Chanyeol tanpa beban. Baekhyun melotot: tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dengan suara setenang itu, Chanyeol mengatakannya tanpa rasa bersalah sama sekali. Pria ini monster!
"Tapi kenapa kau memukulnya, hyung?" tanya Kyungsoo dengan helaan nafas begitu panjang. Chanyeol tersenyum miring melihat ekspresi berlebihan Kyungsoo. "Tidak bisakah kau hanya menjentikkan jarimu ke dahinya? Apakah itu tidak cukup?"
"Itu bukan gayaku, kau tahu."
Chanyeol mengemudi dengan tangan kirinya, memindah gigi dengan menggunakan tangan kanan dan menjejak pedal gas dengan pelan ketika sepeda tak tahu diri menyabrang melewati mobilnya.
"Sekalian saja kau tabrak sepeda itu kalau kau memang psychopat sejati," kata Kyungsoo sarkastis. Chanyeol hanya tertawa menanggapi. Serius. Kyungsoo benar-benar tak habis fikir dengan jalan fikiran kakaknya itu.
"Tapi kenapa kau memukulnya, hyung?" tanya Kyungsoo ketika Chanyeol mengurangi kecepatan di tikungan tajam. Chanyeol hanya tersenyum. Rahangnya terkatup rapat tidak berniat menjawab pertanyaan Kyungsoo sama sekali.
"Hyung," katanya, kali ini dengan nada yang serius. Chanyeol menoleh. Ketika Kyungsoo sudah mengubah nadanya, itu artinya pria ini benar-benar serius. Dan demi apapun di dunia—hati Kyungsoo-lah yang paling berharga untuknya.
"Apa yang membuatmu memukulnya?" tanya Kyungsoo, hampir tak menggerakkan bibir sama sekali. Chanyeol menjawab dengan malas-malasan.
"Entahlah. Aku ingin saja."
"Dan ayah yang menyelesaikannya?"
"Ya." Secara insting, Chanyeol melirik ke kaca spion. Menyunggingkan senyum miringnya ke arah Baekhyun: membuat pria cantik itu mengenyakkan diri beberapa senti lebih dalam ke kursi. Memejamkan mata, tak mau menatap ke dalam manik kelam milik Chanyeol.
"Ya Tuhan! Berapa yang ayah bayar agar keluarga gadis itu tak menuntutmu?" Chanyeol tidak tahu tentang hal-hal seperti itu. Dia menghela nafas. "Aku tidak tahu, Kyungsoo. Itu bukan urusanku."
"Dasar pria brengsek," desis Kyungsoo pelan. Chanyeol tidak tersinggung sama sekali. Dia justru tersenyum dan mengelus surai hitam Kyungsoo. Mengacaknya lembut: membuat omelan Kyungsoo masih terus berlanjut. "Jangan mengacak rambutku! Menyetir yang benar!"
"Yes, sir," jawab Chanyeol enteng.
Baekhyun menatap mereka dengan pandangan sedih.
Sejujurnya, Baekhyun iri. Yah, Meskipun mereka sering bersarkatis-an ria, terutama Kyungsoo, tapi Baekhyun tahu bahwa kedua orang itu saling menyayangi satu sama lain. Sesuatu yang belum pernah Baekhyun dapatkan selama ini.
"Kalian sudah pulang?" tanya Kai menyambut di depan pintu. Baekhyun tersenyum membalas sapaan hangat Kai. Sedangkan Kyungsoo memilih melewatinya dan menaiki tangga. Asal tahu saja Kyungsoo masih belum bisa memaafkan Jongin tentang kejadian tadi pagi.
"Selamat sore, Kim Kai," ucap Baekhyun lembut begitu Chanyeol sudah menaiki tangga. Jongin tersenyum menatap Baekhyun yang begitu manis hari ini. "Tuan muda. Bagaimana sekolahnya?"
"Menyenangkan," jawab Baekhyun berbohong. Nyatanya sekolah adalah tempat paling mengerikan baginya. Apalagi Chanyeol ada disana.
"Tuan muda pasti kesulitan mengejar materi."
"Yah, begitulah." Baekhyun manyun.
"Victoria Nonna tidak tahu bahwa selama ini guru privateku sebenarnya sangat membosankan. Aku jadi tidak semangat belajar karena dia. Hufh!" Baekhyun mulai beraegyo dan itu membuat Jongin salah tingkah.
"Aku harus bagaimana, Kai? Aku tidak mau ketinggalan banyak pelajaran sedangkan teman-temanku pintar semua," katanya mulai mengadu. Jongin menahan tawa saat melihat wajah menggemaskan Baekhyun. Tapi dia mencoba menahan keinginan untuk mencubit pipinya. Tahan. Tahan. Kau harus tahan Kai.
Akhirnya karena melihat Baekhyun yang tampaknya sedih tertinggal materi, Jongin menyarankan Baekhyun agar ikut kelas private dengannya. Mulai pukul delapan malam hingga pukul sembilan. Baekhyun menyetujuinya tanpa berfikir.
.
.
.
.
"Tuan muda. Kau tidak makan?" tanya Kai begitu masuk ke kamar Baekhyun. Sejak Baekhyun pulang sekolah hingga sekarang pukul delapan, Baekhyun tidak makan sama sekali. Dia hanya makan beberapa snack dan minum-minuman manis di kulkas di dalam kamarnya. Kai jadi khawatir.
"Tuan muda, makan dulu baru kita mulai kelasnya," katanya lembut mencoba membujuk Baekhyun. Tapi pria imut itu hanya menggeleng. "Ada Chanyeol dibawah. Aku takut."
Jongin hanya manggut-manggut. Tidak mau memperpanjang masalah. Mungkin dia hanya canggung dengan Chanyeol dan wajah dingin Chanyeol tidak membantu sama sekali, kata Kai dalam hati, yang sebenarnya bukan karena itu.
"Kalau begitu kita mulai kelasnya."
Jongin akhirnya bisa menjelaskan materi pelajaran. Tetapi saat dia berbicara lambat, Baekhyun malah terlihat mengantuk. Namun bila ia terburu-buru, seperti yang sekarang tengah ia lakukan: Baekhyun akan kebingungan dan mengeluh. Jongin jadi bingung sendiri.
"Aku tidak bisa mengerti kalau kau bicara secepat itu," katanya pelan. Pipi Baekhyun benar-benar merona dan dengan tersipu-sipu ia berkata, "Maaf."
Jongin tersenyum.
Ia memberikan bahan pelajarannya yang pertama: buku pegangan, bersama tape kecil dan dua kaset. "Kaset ini sesuai dengan isi buku," ujarnya, dengan sangat perlahan. "Tadi sebelum kesini, aku sudah merekamnya. Malam ini kau harus mempelajari bab satu dan mendengarkan kedua kaset itu beberapa kali. Besok kita akan mulai dari sana."
Baekhyun agaknya tersentuh.
Ia tersenyum dan hampir saja memegang tangan Kai kalau saja rasa takut itu tidak muncul secara tiba-tiba. Baekhyun baru ingat kalau dia bersama dengan pria asing di ruangan tertutup yang kedap udara. Rasa takut itu menyerangnya tanpa bisa ia kendalikan.
"Tuan muda, kau tidak apa-apa?" tanya Jongin.
"Ya. Tidak apa," sahut Baekhyun melirik cepat ke arah pintu keluar. Entah kenapa dia ingin Jongin keluar sekarang. Tapi bukankah itu tidak sopan untuk mengusir orang? Baekhyun jadi bingung sekarang.
Jongin bukannya pelayan tanpa keahlian khusus. Terlebih, Baekhyun mudah sekali terbaca; jelas pria mungil itu tengah ketakutan. "Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan muda. Jangan lupa untuk menyetel kasetnya."
Baekhyun hanya mengangguk sambil tersenyum.
Begitu Jongin keluar, hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah mengunci pintu. Baekhyun duduk di kursi dekat jendela, membuka jendela kamarnya dan membiarkan udara dingin masuk melalui celah ventilasi. Baekhyun selalu suka merenung di bawah bintang—entah kenapa kerlipan bintang bisa menenangkan suasana hatinya yang buruk.
Tanpa terduga, Baekhyun tiba-tiba mengingat ciuman pertamanya dengan Chanyeol tadi siang. Baekhyun meraba bibir tipisnya. Ya Tuhan, Baekhyun baru menyadari bahwa itu ciuman pertamanya! Itu adalah hal tergila yang pernah Baekhyun lakukan. Chanyeol adalah kakaknya dan dia berciuman dengan Chanyeol? Baekhyun kau gila! Kau gila!
Baekhyun beringsut gelisah, jantungnya berdebar ketika mengingat ciuman tadi siang. Bagaimana bibir tebal Chanyeol bergerak di bibirnya. Menekan. Membelit lidahnya. Sial. Tubuh Baekhyun sekarang merinding dan terasa panas.
"Mungkin karena sekarang aku lapar," kata Baekhyun pada dirinya sendiri. Ia menutup jendela dan membuka pintu untuk mengecek ke bawah. Mungkin ada makanan tersisa yang ada di dapur.
Ketika Baekhyun menuruni tangga, dia berdoa dalam hati, Semoga tidak ada Chanyeol. Tidak ada Chanyeol. Tidak ada Chanyeol.
Dan doanya terkabul. Tidak ada siapapun di dapur.
Baekhyun buru-buru membuka kulkas. Dia agak terkejut mendapati beberapa toples yang berisi kimchi dan juga daging asap. Seharusnya makanan-makanan ini dipanaskan tapi terlalu lama. Baekhyun sudah sangat kelaparan.
"Kau ada disini?"
DEG!
Baekhyun enggan menoleh. Dari suaranya, jelas itu suara Chanyeol. Baekhyun sudah menghafal di luar kepala suara milik kakak tertuanya itu. Suara berat yang terdengar begitu dingin.
"Kau lapar?" tanyanya lagi sambil mendekat ke arah Baekhyun. Pria yang lebih pendek sama sekali tak menjawab. Jantungnya sudah berlompat-lompatan saat tubuh Chanyeol semakin mendekat ke arahnya.
'Apa yang dia lakukan?' Baekhyun bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak pernah segugup ini. Biasanya Baekhyun hanya akan takut dan merasa terancam. Tapi ini berbeda. Baekhyun merasakan perasaan gugup dan was-was; bukan lagi perasaan takut. Dan itu aneh sekali.
"Bisa kau minggir? Aku mau mengambil vodkaku."
Baekhyun tidak bisa menggerakkan badannya. Sama sekali. Chanyeol yang sudah berada di belakang Baekhyun hanya menyeringai. "Atau. . . Tidak perlu minggir juga tidak apa-apa."
DEG!
DEG!
DEG!
Pria tinggi itu menjangkau vodka dinginnya dari balik punggung si mungil. Membuat tubuh mereka berdesakan dan saling menghimpit. Baekhyun merutuk: kenapa dia tadi tidak minggir saja.
"Kau mau aku menyuruh pelayan memanaskan dagingnya?" Chanyeol menegak vodkanya dengan tegukan yang keras. Menatap Baekhyun yang hanya diam menunduk tak menjawab sama sekali. "Kenapa kau tidak menjawabku?"
Tetap diam.
Chanyeol mendecakkan bibirnya.
Sedikit kesal karena Baekhyun tidak mau menjawab pertanyaannya dari tadi. "Baiklah kalau begitu," katanya sedikit ketus. "Makan saja daging membekumu itu. Selamat malam."
Sewaktu Chanyeol berbalik dan hampir kembali ke kamarnya, tiba-tiba saja Baekhyun bersuara. "Hyung," katanya pelan. Chanyeol menoleh: menunggu reaksi Baekhyun yang begitu lambat baginya.
"Aku tidak mau membangunkan mereka. Tapi aku lapar," katanya mencoba jujur. Baekhyun berfikir mungkin ini saat yang tepat baginya untuk memperbaiki hubungan mereka berdua. Meskipun Baekhyun tidak yakin.
"Kalau begitu tinggal panaskan saja dagingnya."
Lagi-lagi, wajah Baekhyun merona. Dia malu mengakui bahwa saat bersama Victoria, sekalipun Baekhyun tidak pernah berada di dapur untuk memasak. Segalanya telah dipenuhi oleh wanita itu.
Bahkan Baekhyun tidak tahu cara menghidupkan kompor karena kompor-kompor di rumahnya dulu sering ditempelkan memo tanda bahaya. "Aku. . ."
"Tidak bisa memanaskan?" Tebak Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. Chanyeol meminum tegukan kaleng vodka-nya dengan tegukan keras; lalu membuangnya ke tong sampah.
"Berikan padaku. Biar aku yang panaskan."
"Apa?" Mungkin Baekhyun salah dengar jadi dia mengulangi pertanyaannya. Tidak mungkin kan yang barusan tadi? Chanyeol mau memanaskan daging untuknya? Itu—sedikit—mengejutkan.
Chanyeol tidak memperdulikan ekspresi wajah Baekhyun. Pria jangkung itu lantas mengambil daging kulkas yang membeku, sebotol anggur merah dan juga kimchi. Dengan cekatan ia menuangkan minyak zaitun setelah panci penggorengan mulai panas. Sedikit minyak dan dua gelas anggur merah.
"Hm. . Aku tidak minum anggur, hyung," katanya pelan; takut. Chanyeol memasukkan daging asap dengan terus menggorengnya menggunakan anggur merah. Itu resep kesukaan Chanyeol—pria itu memang suka sekali dengan anggur.
"Hyung,"
"Tenang saja jika kau memasak anggur seperti ini, alkoholnya akan berkurang drastis. Kau tidak akan mabuk hanya memakan ini," sahut Chanyeol dengan lagak biasa-biasa saja. Tenang dan juga datar. Baekhyun tidak mengetahui poin itu. Jadi dia hanya mengangguk.
Tapi ternyata tidak berhenti sampai disitu. Hidangan makan malam tadi, Chanyeol keluarkan semua. Masih sisa lumayan banyak. Salah satunya, Risotto dengan jamur porcini yang merupakan hidangan pertama. Lalu, steak florentine yang juga dipanaskan Chanyeol.
"Apa tidak apa-apa sebanyak ini, hyung?"
"Tidak apa. Biasanya pelayan akan membuang sisa makanan. Tapi sepertinya malam ini sisa banyak dan mereka juga sudah makan malam." Chanyeol menutup acara masak-memasaknya dan menghirup aromanya. Ini enak. Chanyeol mulai lapar lagi.
"Wah, kelihatannya enak," kata Baekhyun, matanya berbinar-binar. Chanyeol mengeluarkan satu kotak lagi di dalam kulkas, lalu memberikannya pada Baekhyun. "Es krim," timpal Chanyeol.
"Bagaimana kau tahu aku suka es krim, hyung?" tanya Baekhyun terkejut. Chanyeol mengendikkan bahunya dan mulai mengambil piring. Menaruhnya di meja. Sepertinya ia mulai lapar karena bau daging asap-anggurnya. "Hanya menebak saja. Bocah naif sepertimu pasti menyukai es krim."
Baekhyun tersenyum.
Tidak percaya ternyata Chanyeol mau melakukan hal ini untuknya. Apakah ini pertanda yang bagus untuk hubungan mereka? Baekhyun berharap Chanyeol mau menerimanya suatu saat nanti.
"Gomawo, hyung," katanya senang. Chanyeol menyeringai. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Baekhyun yang kini sudah memerah sempurna.
"Layanan kamar ditutup. Beri aku bayaran atas layanan kamarnya barusan," katanya sambil masih terus mendekati Baekhyun. Baekhyun tersentak: kebingungan.
"Apa?"
"Beri aku bayaran, sayang,"
Chanyeol perlahan-lahan mendekatkan wajah mereka berdua. Menempelkan bibirnya dengan bibir Baekhyun dan menghisapnya. Menekan beberapa kali kemudian menyedotnya dengan suara yang keras. Rasa vodka yang tertinggal di mulut Chanyeol membuat Baekhyun tersadar dari masa transnya.
Baekhyun mendorong bahu Chanyeol tapi kekuatan Chanyeol lebih besar darinya. Pria itu justru menarik pinggang Baekhyun agar mendekat. Memberinya hisapan yang bergairah dan kecupan yang hangat.
Baekhyun menarik napas, menahannya saat jantungnya mulai berdebar lagi. "Hyung," katanya terengah. Chanyeol melepas ciuman mereka selama lima detik lalu kembali menyambar bibir Baekhyun. Mengemutnya seperti permen rasa anggur yang memabukkan.
Baekhyun bingung, jantungnya berdebar seperti debuman yang berdengung-dengung. Baekhyun tidak tahu kenapa dia memejamkan mata; meremas lengan Chanyeol. rasanya ini terlalu cepat. Ciuman itu. Hisapan lidahnya. Baekhyun tidak tahu kenapa ciuman Chanyeol tidak menghentakkan dunianya seperti biasa.
Kenapa dunianya tidak bertalu-talu, mengapa ia tidak merasa takut. Kenapa hatinya menghangat saat bibir Chanyeol mulai berhenti bergerak. Kenapa hatinya mendingin seperti ribuan bongkahan es?
"Baek, aku rasa aku kecanduan bibirmu."
Chanyeol melirik bibir bengkak Baekhyun. Dia ingin mengulum, mencecap dan melewati setiap inchi bibir sang namja mungil. Lagi, lagi dan lagi.
"Bolehkah?"
Sebenarnya Chanyeol tidak butuh jawaban.
Dengan segera ia kembali melumat bibir Baekhyun.
Menggerakkan dengan gerakan lembut namun menekan. Tubuh Baekhyun bergetar. Dunianya mulai runtuh. Bukan. Bukan takut yang seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuat Baekhyun diam. Membuat pria mungil itu berhenti mendorong dada Chanyeol dan justru meremas lengan Chanyeol.
Inikah yang dinamakan ciuman?
.
.
.
.
Pukul tujuh pagi. Kyungsoo melangkah masuk ke ruang makan. Disana sudah ada Chanyeol dengan wajah datar, membenahi buku-bukunya; memasukkannya ke dalam tas ransel. Pria itu selalu menata jadwal sekolah saat pagi hari. Berbeda dengan Kyungsoo yang selalu rajin menatanya di malam hari.
"Hyung, mana Baekhyun?"
"Mana ku tahu. Aku bukan pengasuhnya."
Chanyeol mengenakan mantel. Suhu udara di luar sekitar empat derajat Celsius dan dia tidak mau mati kedinginan.
"Tuan muda Chanyeol. Anda mau minum kopi?" tanya seorang pelayan. Chanyeol mengangguk. Dia menatap Baekhyun yang baru saja turun dari tangga. Pemuda itu seperti biasa: selalu membuatnya terpesona. Dengan mantel merah mencolok dan juga syal yang bertengger di lehernya, Baekhyun benar-benar terlihat manis. Chanyeol menyeringai.
"Baekhyun, tidurmu nyenyak?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun sudah duduk tepat di depannya. Baekhyun mengangguk dan duduk dengan canggung. Baekhyun menyapa Kyungsoo.
"Selamat pagi, Kyungsoo hyung."
"Cih!"
Kyungsoo menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Tuan muda. Kau sudah belajar?" Jongin masuk dan melihat kedua orang itu: Chanyeol dan Baekhyun duduk berseberangan di meja makan yang berantakan, seolah sudah berjam-jam mereka main panco. Itu adalah tas dan buku-buku Chanyeol.
Baekhyun menatap Jongin.
Tersenyum dengan mata sabitnya.
"Maaf. Kemarin lelah sekali. Aku belum sempat belajar. Maafkan aku," kata Baekhyun dengan suara pelan—merasa bersalah.
Tentu saja Baekhyun tidak bisa belajar. Ciumannya dengan Chanyeol semalam membuat Baekhyun tidak bisa berfikir jernih. Jantungnya hampir saja membunuhnya. Jadi Baekhyun ketiduran saat Chanyeol masih menciumi bibirnya.
Jongin tertawa.
Mengelus rambut Baekhyun dan mengatakan tidak apa-apa. Baekhyun juga ikut tersenyum. Merasa lega karena Jongin ternyata tidak mempermasalahkannya. Chanyeol menatap mereka berdua dengan intens. Sangat intens. Chanyeol tidak pernah suka saat buruannya tersenyum untuk pria lain.
"Kita berangkat," ujar Chanyeol dan dengan lambat berdiri. Baekhyun belum makan apapun sedangkan Kyungsoo makanannya baru habis separuh.
"Hyung, makananku belum habis. Duduklah dulu!" Sergah Kyungsoo menahan lengan Chanyeol. Chanyeol masih memfokuskan pandangannya tepat di mata Baekhyun. "Kyungsoo kau lanjutkan makananmu. Nanti kau diantar Jongin. Aku akan berangkat dengan Baekhyun."
"Kalau begitu aku berangkat sekarang," Kyungsoo tiba-tiba berdiri dan mengambil ranselnya di kursi. Dia kan masih marah dengan Jongin. Kyungsoo tidak mau diantar Jongin. Tapi Chanyeol menolak. Dia mendudukkan Kyungsoo dengan kasar. Membuat Kyungsoo meringis.
"Hyung!"
Bentak Kyungsoo keras.
"Duduk!"
Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Membawanya keluar rumah. Sedangkan Kyungsoo hanya mendesah malas. Sungguh brengsek hyungnya itu. "Aku tahu anak haram itu buruannya. Tapi ini sudah keterlaluan. Kenapa juga dia harus mendorongku?"
Jongin menatap Kyungsoo.
"Barusan kau bilang apa?"
Kyungsoo merutuk kebodohannya. Kenapa tadi dia menggumam. Jongin tidak boleh tahu kalau Chanyeol punya niat buruk pada Baekhyun. Bisa mati dia dibunuh Chanyeol. "Aku bilang, Chanyeol hyung keterlaluan! Dasar tuli! Cepat antar aku dan jangan bicara padaku!"
Jongin tidak langsung menuruti. Dia menghimpit tubuh Kyungsoo. Jongin menyeringai saat melihat wajah Kyungsoo yang gugup. Kekasihnya ini memang selalu pasrah padanya. Diam-diam Jongin merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Kau masih marah padaku, sayang?"
"Aku bilang jangan bicara, brengsek!"
"Sayang sekali aku tidak bisa."
Jongin mencium Kyungsoo.
.
.
.
Sepertinya Chanyeol sedang tidak terburu-buru. Dia mengemudi dengan pelan. Menikmati cuaca dingin yang melanda kota Seoul. Baekhyun duduk di samping kemudi. Meskipun awalnya Baekhyun menolak tapi toh, Chanyeol tidak pernah bisa dibantah. "Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Chanyeol.
Baekhyun manyun. Pria cantik itu mati-matian berusaha agar tidak terlalu gugup. "Kau ingin menanyakan sesuatu?" ulang Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol tidak setuju. Dia tidak ingin menanyakan apapun—Baekhyun hanya gugup dan yah, sedikit takut.
"Kau yakin? Tidak ingin tanya soal ciuman?" Tanya Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol sambil menggigit bibir bawahnya, ia gugup dan kemudian menunduk karena takut. Chanyeol menahan diri untuk tersenyum, seolah menikmati rona merah di pipi adik keduanya itu.
"Jangan gugup begitu. Santai saja," perintah Chanyeol. Baekhyun melirik dengan mata yang awas. Sepertinya kebiasaan untuk takut dengan orang asing sulit untuk ia hilangkan. Tapi Baekhyun tetap mengangguk. Tidak ingin membuat Chanyeol marah padanya.
Chanyeol tidak berkata apa-apa lagi. Pria tinggi itu hanya fokus mengemudi sedangkan Baekhyun memandang jendela samping kanannya.
"Yah, well, kita sudah sampai."
Chanyeol membuka mobilnya, diikuti Baekhyun yang berjalan di belakang. Semua pasang mata langsung tertuju pada mereka. Chanyeol yang tinggi dan juga tampan. Dengan rambut moonwalknya yang berwarna hitam; benar-benar mengalihkan pandangan semua gadis ke arahnya. Sedangkan Baekhyun yang berada di belakang terus menunduk dalam diam.
"Hai, Chanyeol." Sapa Sojung, gadis berambut pirang sepinggang yang tinggi dan juga seksi. Chanyeol melirik sekilas, menunggu sang yeoja menyelesaikan ucapannya. "Kau tidak membalas sapaanku."
Sojung memanyunkan bibirnya; dan demi Tuhan, bagi Chanyeol itu menjijikkan. Masih lebih manis saat Baekhyun yang melakukannya di dalam mobil tadi. "Hai juga, wanita jalang," jawab Chanyeol malas. Sojung sebal tapi tidak berani membalas.
"Dua minggu lagi ulangtahunmu. Kau akan mengundangku, kan?" Chanyeol hanya menganggukkan kepala; gadis ini pasti ingin di undang. Tentu saja, setiap kali dia berulang tahun, para gadis akan berlomba-lomba memamerkan dirinya. Mengenakan pakaian mewah dan juga berlian mahal; mereka hanya memanfaatkan Chanyeol agar mendapat koneksi pria kaya lainnya. Cih! Murahan, Chanyeol mengumpat.
"Tunggu! Aku belum selesai bicara, Park Chanyeol!" Chanyeol mengacuhkan panggilan Sojung. Dia menggeret tangan Baekhyun karena pria mungil itu terlalu lama bergerak. "Cepat sedikit, dasar brengsek!"
Dibentak seperti itu membuat Baekhyun hampir menangis, ia berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang menggenggam tangannya. Meskipun tenaganya lemah, tapi Chanyeol menyadari penolakan Baekhyun. Ia menatap ke arah Baekhyun. "Berhentilah berontak! Aku ini hyungmu!"
"Aku—aku hanya lapar," sahut Baekhyun ragu-ragu. Chanyeol menatap Baekhyun sebentar lalu menghela nafas. Jika bukan karena Yunho, mungkin dia bisa mengacuhkan bocah ini dan membiarkannya mati kelaparan.
Tapi, bagaimanapun juga, Baekhyun masih tetap adiknya. "Kalau kau melakukan sesuatu yang tolol, menolak sentuhanku atau tidak mau aku atur, kau akan tahu akibatnya." Chanyeol mengatakannya tanpa ragu, seolah dia memang senang memancing ketegangan Baekhyun yang malang.
Kemudian Chanyeol membawa Baekhyun melewati beberapa ruang kelas; menuju kafe yang ada di atas. Kafe yang setiap menunya berharga mahal yang dikhususkan untuk orang-orang kaya yang ada disana. Mereka melewati etalase besar yang memamerkan berbagai macam kue pastri yang cantik. Baekhyun menatapnya dengan mata berbinar. Dia suka kue manis; Victoria selalu memberinya kue seperti itu ketika mereka masih tinggal bersama.
"Mau pesan sesuatu?" ujar seorang wanita di sebelah kiri Chanyeol. Pria tinggi itu terlihat bingung menentukan pilihan. Melirik Baekhyun sekilas. "Jangan makanan manis. Ini masih pagi, pilihlah nasi."
Baekhyun mengangguk; dalam hati masih menginginkan kue-kue itu. Dan sebelum wanita itu sempat mencerocos tentang daftar menu, Chanyeol sudah mengayunkan tangan sambil berkata, "Espresso. Jus strawberry. Susshi. Miso soup dan juga nasi putih."
Wanita itu tersenyum, dan menyuruh mereka menunggu beberapa saat. Suasana tiba-tiba hening. Chanyeol memainkan game di ponsel sedangkan Baekhyun hanya diam sambil melamun.
Ketika pelayan tadi membawakan espresso dan pesanannya, Chanyeol segera menyuruh Baekhyun untuk makan. Baekhyun memang penurut sekali. Dia makan dengan tenang sambil sesekali menyeruput miso soupnya.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan. Bocah ini menyeruput soup dengan suara yang keras dan juga mimik muka yang seolah sedang menggoda Chanyeol. Berterima kasihlah pada hormon sialan yang membuat penis Chanyeol tiba-tiba menegang melihat seruputan Baekhyun barusan.
"Sial," umpatan Chanyeol mau tak mau membuat Baekhyun berhenti makan. Bocah manis itu menatap Chanyeol tidak mengerti. Wajah lugunya malah terlihat begitu sensual di mata Chanyeol, seakan mengatakan, aku akan menjilat penismu dengan senang hati, kau mau?
"Kau sengaja memancingku, ya?" tanya Chanyeol sengit. Baekhyun tidak mengerti dengan omongan Chanyeol barusan. Dia mengerjap dan Ya Tuhan, itu semakin memperburuk keadaan. Chanyeol menghembuskan nafas kasar: menyuruh Baekhyun segera menghabiskan makanannya dan segera masuk ke dalam kelas.
Baekhyun yang penurut tentu saja menuruti omongan Chanyeol. Tidak tahu kalau sekarang Chanyeol tengah tersiksa menahan hasrat. Mungkin bermain game bisa mengusir hormon sialanku, kata Chanyeol pada dirinya sendiri.
.
.
.
Ketika pelajaran berakhir dan jam istirahat tiba, beberapa gadis mengelilingi meja Baekhyun. Baekhyun tidak suka keramaian jadi saat dia hendak pergi menghindar, gadis-gadis itu malah menggeret tubuhnya. Baekhyun berusaha melawan tapi karena jumlah mereka enam orang, Baekhyun tidak bisa mengatasi sendirian.
Mereka membawa Baekhyun ke lantai teratas sekolah. Tempat itu kosong, kotor dan juga sepi. Sambil mengertakkan giginya, Baekhyun meneriaki mereka. Baekhyun juga laki-laki jadi dia tidak ingin kalah dengan para gadis.
Tidak ada yang bicara menjawab bentakan Baekhyun. Mereka memukuli Baekhyun, menjambaki rambut Baekhyun hingga Baekhyun merasa pusing dan kemudian menelanjangi tubuh bagian atas Baekhyun. Baekhyun tentu saja kaget dengan perlakuan mereka. "Apa yang kalian lakukan?"
Baekhyun merasa dunianya sempit saat mereka mengelilinginya—tapi dia berusaha tetap terlihat kuat. Jangan sampai wanita-wanita itu tahu tentang kelainannya yang takut pada orang asing. Baekhyun berusaha benrontak saat mereka menggeretnya ke kolam renang sekolah mereka.
"A—apa yang—"
BYUR!
Mereka mendorong Baekhyun ke dalam kolam dengan kedalaman dua meter. Baekhyun tidak bisa berenang, jadi dia berteriak meminta tolong pada mereka. "Hey, bagaimana jika dia mati?" Salah seorang gadis tampak panik melihat Baekhyun hampir tenggelam.
"Tunggu sebentar lagi. Aku belum puas melihatnya tersiksa." Kata sang pimpinan dengan suara tenang dan lengan terlipat.
"Kau yakin dia tidak akan mati?" Tanya yang lainnya lagi. Sang pimpinan menoleh ke bawah dimana Baekhyun hampir tak bergerak disana. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menarik tubuh Baekhyun ke tepian. Segera setelah itu, Baekhyun terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya.
"Orang miskin sepertimu tidak pantas berada di sekolah ini," kata wanita itu dengan geraman rendah sehingga membuat si pria mungil ketakutan. "Kau juga berani sekali mendekati Chanyeol. Kau fikir kau itu siapa? Berkedok adik angkat, kau ingin menggoda Chanyeol, kan?"
Baekhyun mulai menggertakkan giginya karena kedinginan. Baekhyun hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Dia tidak mengerti mengapa orang-orang selalu berbuat jahat padanya. Baekhyun tahu melalui televisi; bahwa di kehidupan yang sebenarnya, pembully-an itu nyata.
Victoria juga selalu mengatakan hal itu. Tapi, saat sekarang, ia mengalaminya sendiri, rasanya itu benar-benar menakutkan. Mereka menampar Baekhyun, menjambakinya hingga sebuah deritan pintu membuat mereka semua menghentikan siksaannya.
"Aku mencarimu ke kelas dan kau tidak ada. Sudah kuduga kau ada di sini, Baekhyun," kata suara itu—rendah tapi sarat akan makna.
Wanita-wanita itu sontak menoleh ke sumber suara. Disana, berdiri pria tampan yang tubuhnya berkilatan lantaran keringat sehabis bermain basket. Tidak ada yang berani menjawab ataupun bergerak. Kaki jenjang pria itu mendekati kerumunan. Menatap Baekhyun dengan pandangan datar sekali.
"Berdiri," katanya pada Baekhyun. Tapi pria mungil itu tak bergerak satu inchipun. Bahu anggunnya yang terbuka, bergetar ketakutan. Kesadarannya juga semakin berkurang karena mereka terus-terusan menjambaknya.
"Berdiri aku bilang, Park Baekhyun!" Sentakan Chanyeol adalah alarm bagi Baekhyun. Pria cantik itu mencoba berbicara: tapi tak satupun kata yang keluar. Semua itu tersedak, lalu menghilang.
Chanyeol menatap gadis-gadis itu, kemudian mencengkram pergelangan salah satu gadis. Pimpinan gadis-gadis tersebut: kalau tidak salah namanya Reinna—Chanyeol pernah dikirimi coklat olehnya.
Chanyeol memojokkan Reina ke dinding.
"Kau apakan dia?"
Gadis itu memejamkan matanya ketika gerakan tangan Chanyeol mulai mencekik lehernya. Menghasilkan warna merah muda di wajahnya karena mulai kehabisan oksigen. Gadis itu menjerit. Teman-temannya yang lain kebingungan: mereka ingin menolong Reina tapi mereka juga takut pada Chanyeol.
"To—Tolong aku, Eunji. ."
Wanita yang dipanggil lebih memilih melarikan diri; membiarkan Chanyeol mencekik leher sahabat baiknya. Tidak ada yang tersisa kecuali mereka bertiga. Semua lari ketakutan. Punggung Reina melengkung bagaikan lengkungan busur panah, cekikan Chanyeol tidak main-main sama sekali.
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan padanya?"
Gadis itu pun kembali menjerit ketika tindakan itu terulang pada bagian payudaranya. Chanyeol meremasnya dengan kasar hingga mencakar puting payudaranya dari luar seragam sekolah Reina.
"Sakit," suara itu memohon dengan lirih. Tapi Chanyeol justru menyeringai. Mainan barunya memohon dengan wajah pasrah. Chanyeol selalu suka itu.
"Sstt—Jangan ada teriakan."
Gadis itu sesenggukan: menggelengkan kepalanya. Rasa sakitnya benar-benar membuat tubuhnya lemas. Mungkin jika Chanyeol meremasnya dengan lembut tanpa cakaran di puting dia akan memuja sentuhan pria tampan itu. Tapi ini berbeda: Chanyeol bukan memberi sentuhan tapi siksaan.
"Jika sekali lagi, aku melihat kau menyiksa Baekhyun—" Chanyeol mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya. Pisau itu sekarang diletakkan di dekat leher jenjang sang wanita. Gadis itu melihat wajah mengerikan Chanyeol yang membuat bulu kuduknya merinding. "Aku akan menyiksamu dengan ini. Kau mengerti?"
Dengan perlahan namun pasti, gadis itu mengangguk paham. Dan dengan cepat pula, Chanyeol melepas cengkramannya. Tapi belum melepas gadis itu sepenuhnya. Satu goresan sebagai kenang-kenangan: adalah salah satu kesukaannya.
"Arghh. ." Bagi gadis itu, goresan tadi adalah yang terburuk yang pernah ia terima di kulit mulusnya. Tubuhnya bergetar ketakutan. Chanyeol menyeringai dan membisikkan kalimat yang membuat gadis itu menyesal bukan main.
"Jika kau berani mengadu soal ini, aku pastikan saham Jjong-Corporation akan turun di titik terendah di pasar saham malam ini, orang kaya baru."
Mata gadis itu terbuka. Menatap wajah mengerikan Chanyeol yang persis seperti monster baginya. Bibirnya bergerak dengan suara pelan. Menyetujui permintaan Chanyeol barusan.
"Aku mengerti. Maafkan aku."
Chanyeol mengamati leher indah gadis itu; memerah: lalu melonggarkan desakan tubuh raksasanya. Melepaskan sang gadis yang langsung lari setelahnya. Untuk beberapa saat, Chanyeol akhirnya teringat dengan Baekhyun. Pria cantik itu meringkuk menatap Chanyeol. Tubuhnya bergetar hebat. Baekhyun menangis.
"Berdiri, Baekhyun."
Baekhyun jelas merasakan kehadiran jemari tangan pada rambut hitamnya. Bibir tebal yang menyentuh bibirnya dengan gerakan lembut. Chanyeol menciumnya lagi! Jemari itu pun menarik lengan kurus Baekhyun semakin erat. Menjeratnya agar adiknya tak berontak ataupun melawan.
Baekhyun merasakan debaran itu lagi. Datang menghampiri dengan debuman yang luar biasa keras. Semakin keras setiap kali Chanyeol melumat bibirnya lembut. Baekhyun tidak membalas ciuman Chanyeol tapi dia juga tidak berontak. Membiarkan Chanyeol melumat bibirnya.
.
.
TBC
Chanyeol itu hampir seperti bipolar; moody; tergantung situasi dan moodnya yang berubah-ubah. Psychopat yang punya sisi baik—punya sisi buruk. Seperti manusia biasa, dia juga punya perasaan dan orang yang bener-bener tulus dia sayangi(read: Kyungsoo). Akan ada darah di episode-episode mendatang.
#Sabar aja cinta akan tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu.
