Warning : very Short

Chapter 2 : The Boy ( Akashi's PoV) END


'aku menyukaimu, Akashi-kun'

'aku minta maaf, untuk sementara ini aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun'

'se-setidaknya biarkan aku jadi temanmu!'

'eh?'

'aku mohon! Aku mohon! Aku-'

'ba-baiklah! Jangan memohon lagi!'


Akashi Seijuuro menghela nafas setelah melihat gadis itu pergi, kalau tidak salah namanya [Full name], gadis yang aneh. Biasanya tidak ada gadis yang akan berusaha menjadi teman orang yang telah menolaknya, tapi mengapa dia tidak seperti itu?.


Aku berjalan menuju rak sastra dan bahasa, ingin membaca salah satu buku sastra yang menurutku dapat menenangkan pikiranku setelah berlatih dengan para Raja tak bermahkota. Aku melihat seorang gadis bersurai [hair color] tengah merutuk pelan.

'ukh.. bagaimana ini?... pasti akan dapat remid' suaranya samar samar, jadi hanya beberapa kata yang terdengar.

Gadis itu bisa masuk ke sini karena bea siswa-kan? Tapi aku tidak begitu paham apa yang membuatnya bisa masuk ke sekolah ini, menurut rumor yang beredar gadis ini sangat pandai dalam seni, maksudnya semua seni. Aku tidak begitu percaya dengan rumor yang berbeda.

Ah, gadis itu menatapku. Ada apa dengan matanya?, seolah ada sebuah binar di matanya dan itu sedikit membuatku heran.

"kenapa kau memandangku seperti itu?" sepertinya dia panik, tangannya melambai lambai dan wajahnya memerah, ya. Dia panik.

"tidak kok! Hanya saja aku Cuma mau tau bagaimana caranya agar mendapat nilai sempurna sepertimu..." suaranya terdengar semakin mengecil dan dia menundukkan wajahnya, menatap kertas putih dengan nilai 56 besar yang di tulis dengan tinta merah –kertas ulangannya.

"nilaimu jelek sekali" lagi lagi dia panik, tangannya berusaha mengangkat kertas itu ke wajahnya untuk menyembunyikannya dariku, tapi percuma, aku sudah terlanjur melihatnya. Untuk apa di sembunyikan lagi?.

"percuma saja kau panik, aku sudah melihatnya. Dan merenung juga jangan di sini" sanggahku sambil berjalan ke rak bahasa, mengambil buku bahasa inggris lalu menuju tempat yang selalu ku datangi saat ingin membaca di sini.

"sini" timpalku di samping sebuah rak, tanganku mengisyaratkannya untuk mengikutiku, dan di lakukan olehnya, aku lanjut berjalan menuju sebuah jendela menghadap halaman depan sekolah ini, di depannya ada beberapa pohon sakura yang sedikit menutupi jendela.

Aku duduk, menunggunya untuk duduk di depanku. Menyandarkan kepalaku di jendela yang dingin, membuatku melupakan semuanya sejenak. Merasa ada seseorang di sebelahku aku membuka mataku dan menyodorkan buku itu padanya.

"bacalah, tanyakan apa saja yang menurutmu susah padaku"


Sejak saat itu aku dan [name] tidak pernah lagi berbicara, seolah peristiwa yang sempat membuat sebuah perasaan hangat menyelimutiku itu tidak pernah terjadi, hari ini juga sama. Ah, gadis itu tengah berjalan ke arahku.

"salam!" aku terhenti, gadis itu menunduk di hadapanku, ah wajahnya memerah. Dan lagi perasaan hangat itu kembali menyelimutiku. tanpa sadar sebuah tawa terlepas dari bibirku, walaupun sangat samar.

"selamat pagi, sampai jumpa lagi"


"selamat pagi Akashi-kun!" "selamat pagi" hari ini dia menyapaku lagi

"pagi [name]" "ha-hai! Selamat pagi!" tanpa sadar setiap aku berpapasan dengannya kami selalu saling menyapa, juga setiap bertemu dengannya, lagi lagi aku merasakan kehangatan itu.


"a-ah.. sou! Bagaimana kalau aku menyimpan tulisan no 1-mu, kalau kau ingin melihatnya kau bisa memintanya padaku!" dia mengeluarkan sebuah buku, diary mungkin?, tapi ada sesuatu yang aneh dengan senyumnya, seakan ada bunga yang bermekaran di sekitarnya. Lagi, perasaan hangat itu muncul lagi, di ikuti oleh debaran aneh di jantungku.

"...terserah" dia bersorak kecil, membuka halaman bukunya dan memberikannya padaku. Setelah ku kembalikan dia bersiap siap pergi, gayanya seperti anak kecil yang di ajak ke tempat yang belum pernah di kunjungi olehnya.

"[name], kau juga... katakanlah apa yang ingin kau katakan aku pasti akan mendengarkan" tanpa sadar aku menirukan gaya seorang pemuda yang sedang malu.


"Mibuchi kau ada kamus?" tanyaku, nafasku sedikit tersenggal senggal setelah berlari kecil dari kelas 2 A ke 3 B.

"tentu, memangnya kenapa?. Sei-chan biasanya tidak membutuhkan kamus untuk pelajaran bahasa" Mibuchi memberiku kamus yang di bawanya, kebetulan hari ini dia pelajaran bahasa inggris. Aku tidak menghiraukannya, bel baru saja berbunyi. Kalau aku tidak cepat aku akan terlambat masuk ke kelas. [name] masih berdiri di tempatnya tadi, dengan ekspresi bagai anak kecil yang permennya di ambil.

"ini, pakailah [name], lalu kembali lah ke kelasmu, aku yakin kau tidak mau dihukum Oda-sensei" dia mengambil kamus itu dengan senyum lebar dan mata berbinar, perasaan aneh itu muncul lagi.

"arigato! Akashi-kun, aku ke kelas dulu ya!"


"Akashi-kun, terima kasih sudah meminjamkanku kamus ini ya" bacaku pelan, 2 surat baru saja terjatuh dari kamus yang ku pinjamkan pada [name], yang satu tertulis "untuk Akashi-kun" dan yang satu tertulis "untuk Teman Akashi-kun".

"sei-chan!" Suara Mibuchi mengagetkanku, meskipun aku tidak menampakannya, aku memberikan kamus itu pada Mibuchi, mengembalikannya. Tanpa sadar aku menyisipkan surat itu di kantung celanaku.

"ini, terima kasih" Mibuchi memandangku penuh arti, dan itu membuatku sedikit risih dan menajamkan pandanganku padanya.

"Apa ?" Mibuchi hanya menghela nafas, seolah lelah dengan sikapku, dia kenapa sih?.

"Sei-chan, kau meminjam ini untuk anak kelas 2 B, [name]-chan, kan?" dari mana dia mengetahui [name] dan ekspresinya itu membuatku ingin mencukur semua rambut panjangnya itu.

"dari mana kau tau [name]?"

Mibuchi menatapku dengan ekspresi kaget yang berlebihan, seperti yang di manga yang sering di baca oleh Mayuzumi. Sebelum berubah menjadi ekspresi bejat. Lagi, aku ingin sekali menucukur semua rambutnya, bersamaan dengan bulu matanya yang lebat itu.

"kau tau, [name]-chan itu populer di kalangan kami, semua mengatakan kalau [name] adalah kouhai termanis yang pernah mereka temui"

"HAH?!"

"woah! Tidak usah teriak Sei-chan!, jangan jangan kalian pacaran ya ?"

"...kami tidak pacaran, jangan bercanda"

"heh... tapi hati hati loh, aku dengar Kotarou katanya ingin pacaran dengan [name]-chan loh..."

Aku tidak ingin kehilangan kehangatannya


"Sekarang saatnya aku yang akan mengatakannya, aishiteru, wo ai ni, aku mencintaimu, ich liebe ditch, i love you, saranghae ..."

"su-sudah! Kau tidak perlu mengatakannya lagi!"


"sepertinya tingkah laku seira benar benar mirip denganmu, [name]"

"tapi dia juga mewarisimu"

"jelas, dia anak kita"

Aku menatap [name] yang terlelap dengan kepalanya yang bersandar di bahuku, melingkarkan kedua tangannya melingkar di badanku, memelukku dengan hangat, menciptakan senyum tulus yang selalu kudapat ketika melihat keluargaku.

Diam diam aku mengeluarkan handphoneku, memotret wajah [name] yang sedang tertidur lalu masuk ke aplikasi yang dulu sering di pakai oleh wanita ini.

11 January 2028, musim dingin yang kulewati bersamamu selalu terasa hangat,perasaan hangat itu selalu ku rasakan saat melihatmu dan anak kita yang manis.


END

Ini apa coba?! Gaje gini mas, yap itulah endingnya. Aku rencananya mau buat ini sebagai side story TT_TT, dan terima kasih kepada yang telah me-Review fanfict ini

Alice dreamland : iya, aku hapus tu fanfict gaje, tapi rencananya memang mau di tulis ulang dengan lebih baik, dan aku nggak ngerti maksudnya 'di jabarin bagian awalnya doang' maksudnya ? maafkan diriku yang lalot TT_TT

Arisa Hamada : terima kasih, karena sudah menyukai fanfict ini, dan aku sudah nemu ide untuk si Tsundere-sama ini, tapi belum di tulis.

Guest : makasih regitta-san, mudah mudahan kamu puas

Guest : iya, aku ngambil plot dari side story-nya key of love volume 1, Diary of Love,kan ? aku paham kok kalau memang di bilang Cuma bisa ngikutin plot orang, soalnya aku biasanya dapet ide setelah membaca buku atau menonton drama, tapi semoga kamu suka ya, aku juga akan coba membuat fanfict dengan ide sendiri, terima kasih.

Tolong review dan katakan apa kekurangan fanfict ini :D