COME BACK HOME
PAIRING : NARUSASU
GENRE : DRAMA/FAMILY
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Naruto memandang cemas, ia melirik Sasuke yang begetar kemudian kembali memandang ruang ICU tempat putrinya ditangani. Sedikitnya ia merasa bersalah tadi, karena memarahi Sasuke begitu tahu putrinya masuk rumah sakit.
Namun saat-saat genting itu, Itachi kakak laki-laki mantan istrinya muncul dan menyeretnya keluar. Membuat Sakura yang datang bersamanya, khawatir. Mereka terlibat adu mulut sedikit hebat, Itachi menyuruhnya untuk tidak menemui keponakannya.
Dan tentu saja ditolak oleh Naruto secara tegas.
"Hinata mulai sekarang akan tinggal bersamaku." Jelasnya secara tegas. Pria pirang itu memang berniat mengambil alih pengasuhan Hinata, ia merasa Sasuke sudah tidak mampu menjaga putri mereka.
"Apa kau bilang!" Itachi menarik kerah baju Naruto, mukanya gusar sedangkan matanya memandang pria itu dengan marah. Seenaknya saja lelaki pirang itu bicara. Itachi tidak akan mengampuni orang yang membuat adik dan keponakannya terluka.
"Sampai dimana kamu membuat adikku menderita, hah? Menikah kemudian bercerai! Lalu sekarang kau juga akan mengambil anaknya." Kemudian dengan kasar kakak Sasuke mendorongnya.
"Sedangkan kau selalu bahagia. Kau sembuh dan menikahi perempuan, kau biarkan adikku sakit sendirian." Lanjutnya dengan sengit, lelaki dengan rambut pirang itu berusaha sabar, ia tahu seperti apa saudara laki-laki Sasuke.
"Kami tidak sakit. Jangan pernah menganggap kehidupan kami selama empat tahun sebagai pesakitan."
Bukkh… Naruto meringis, bibirnya lebam, Itachi meninjunya keras.
"Kau membuatnya menjadi gay! Bukan pesakitan? Lalu kau juga yang menyuruhnya mengandung anakmu! Pencangkokkan rahim!..cuih! Kau tahu seberapa besar penderitaan adikku selama empat tahun bersamamu?" teriaknya bertubi-tubi.
Naruto mengusap bibirnya. Matanya memandang tajam mantan kakak iparnya itu.
"Lalu apa yang sudah kau lakukan selama empat tahun itu. kau membuat kami bercerai!" batas kesabarannya sudah habis, ia bahkan mengabaikan janji perpisahan yang pernah ia ucapkan pada Sasuke dulu, bahwa ia tidak akan pernah menyalahkan Itachi atas perceraian yang terjadi antara dirinya dan Sasuke.
Itachi hampir melayangkan kembali pukulannya, namun sebuah suara menahannya.
"Naruto! Itachi-nii!" Sasuke yang baru datang, segera melayangkan tatapan tajam pada mereka berdua.
"Hinata sudah melalui masa kritisnya, sekarang ia sudah siuman." Itachi mendecih, lelaki itu kemudian pergi. Sasuke melirik Naruto yang mengusap bibirnya, pria itu menghela nafas.
"Naruto, bukankah kau pernah berjanji. Perceraian kita tidak ada sangkut pautnya dengan kakakku." Lelaki pirang memandang Sasuke, kemudian ia memaksakan sebuah senyum. "Maaf, aku emosi."
"Sudahlah, Hinata memanggilmu begitu ia bangun, temuilah anak kita." Pria itu mengangguk.
Sasuke menggosok kedua tangannya yang dingin efek cuaca diluar ruangan, ia menghela nafas kembali melihat punggung Naruto yang berada di depannya.
…
"Ayah!" Sasuke tersenyum sedikit melihat wajah gembira putrinya, walau ia masih Nampak pucat. ia juga dapat melihat senyum sinis kakaknya pada pria pirang itu yang masuk dengan istrinya. Sasuke mendekat dan mengelus sayang rambut Hinata.
Saat dekat baru ia sadar wajah cemberut putrinya, ia bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin ia mengusir Sakura, tapi ia takut putrinya kembali histeris.
"Apa kabar, Hinata-chan." Sapa Sakura sambil tersenyum manis yang ditanggapi dengan diamnya Hinata. Naruto yang berdiri disamping wanita itu tertawa. "Lihat apa yang dibawa Kansan, Hina-chan." Naruto masih memasang wajah gembira ketika memperlihatkan sekantung makanan kesukaan putrinya.
Sakura menyerahkan pada Hinata, mencoba mengambil hati gadis itu. Namun gadis kecil itu menepis hingga makanan itu jatuh berhamburan.
"Pergi!" ucapnya kasar dengan logat suara kanak-kanaknya. Matanya memandang benci pada perempuan yang ia anggap telah mencuri kebahagian papa dan dirinya, benci karena perempuan itu ada dalam hati ayahnya.
"Hinata" Sasuke menenangkan Hinata, takut gadis itu kalut. Itachi yang berada disebelah masih memasang muka penuh kebencian.
"Pergi…pergi!...PERGI!" Hinata kembali histeris. Itachi bangkit dan menyeret Naruto keluar beserta istrinya. Sasuke semakin panik ketika anaknya berusaha bangun dan memanggil ayahnya.
"Jangan pergi ayah ! jangan tinggalkan Hinata!" Gadis itu menangis kencang, Sasuke memeluk berusaha meredam tingkah putrinya.
Pria pirang itu menarik dirinya dari cengkeraman Itachi, dan menyuruh Sakura untuk menunggunya diluar. Sedangkan ia kembali pada Hinata, mantan kakak iparnya berdecak.
"Hinata tenang. Papa bilang tenang." Gadis itu tidak juga berhenti, sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri. Sasuke cemas sekaligus takut dengan keadaan putrinya.
Suasana kembali tegang saat seorang dokter memeriksa kondisi Hinata. Raut wajah dokter itu Nampak gusar ketika memandang Sasuke dan Naruto.
"Aku perlu bicara dengan kalian berdua."
.
Naruto dan Sasuke menundukkan wajahnya, sedikitnya merasa menyesal apalagi dokter yang ada dihadapan mereka adalah kawan mereka sejak masih remaja.
"Beginilah kalau aku percaya pada pasangan seperti kalian! Seharusnya aku tidak menuruti permintaan kalian." Dokter itu nampak kesal, sekaligus menyesal pernah percaya pada Sasuke dan Naruto. Seharusnya ia menolak saat Sasuke mengajukan diri menjadi bahan percobaannya.
Ia pikir mereka akan terus hidup bersama dan membahagiakan anaknya, tapi nyatanya mereka berpisah. Padahal ia yang paling tahu bahwa hubungan seperti itu tidak pernah berhasil di dunia ini. Saat itu ia terlalu naïf dengan percaya semua janji setia kedua teman akrabnya.
Naruto mendongak. Dokter Sasori adalah teman akrabnya, temannya itu sangat ahli dibidangnya.
Karena temannya itulah ia dan Sasuke berhasil memperoleh anak dari tubuh Sasuke sendiri.
"Sasori biarpun kami berpisah, tapi Hinata tidak kekurangan kasih sayang."
"Lalu, apa yang terjadi pada anak malang itu sekarang?!" lelaki berambut merah itu benar-benar marah.
"Hinata tidak sama dengan lainnya. Kalian harus ngerti! dia lahir dari tubuh lelaki!" teriak dokter itu tinggi. Naruto dan Sasuke Cuma bisa menunduk.
"Karena tercipta dalam rahim buatan, banyak dari sel tubuh Hinata tidak berkembang secara sempurna. Bagian otaknya yang paling rawan." Lanjutnya lagi
"Padahal kalian paling tahu hal itu, tolong jaga baik-baik Hinata. Bagiku gadis itu sangat berharga selain karena ia adalah wujud keberhasilan ku, aku juga sudah menganggapnya anak sendiri." Ucap dokter Sasori lebih lembut, setelah sebelumnya menumpahkan amarahnya.
"Jadi, usahakan jangan memberikan tekanan pada gadis cilik itu." Setelah itu dokter Sasori menyerahkan resep obat yang harus ditebus. Sasuke dan Naruto hanya mengangguk lemah.
"—Dan satu lagi…untuk sementara waktu turuti semua keinginan putri kalian, untuk mencegah stress yang berlebihan pada otaknya." Ucap dokter itu kemudian.
Setelah berada diluar Naruto Nampak menghela nafas, Sasuke menyadari wajah suram pria itu. ia tahu berat untuk Naruto mengatasi keadaan yang sedang ia alami.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Sasuke sedikit penasaran, namun Naruto memandangnya dalam diam.
"Kau sebaiknya pulang dan istirahat, biar aku yang menjaga Hinata." Sasuke melipat kedua tangan di dada, pertanyaannya tidak dijawab oleh Naruto. "Bagaimana kalau putri kita… memintamu untuk tinggal bersama kami?" Tanya Sasuke lagi.
Naruto menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Akan ku pikirkan nanti, pulanglah."
Sasuke masih memandang pria itu lama, tidak bisa menebak pikiran pria pirang itu.
"Mau kubawakan makanan?" tanyanya sekali lagi dengan khawatir, namun mantan teman hidupnya menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia tidak mau merepotkan lelaki itu. "Istirahat saja."
…
Naruto kembali menggaruk kepalanya. Membuat Sakura mengerti tidaklah mudah, istrinya itu memang sedikit sensitif bila berhubungan dengan bekas orang yang pernah ia nikahi dulu.
"Ini tidak akan lama, sampai Hinata sembuh semuanya akan kembali seperti semula." Ujar Naruto meyakinkan istrinya.
"Bagaimana kalau anakmu, menginginkan kalian kembali bersama?" Sakura tentu takut itu terjadi.
"Kau tidak bisa percaya padaku?" Tanya Naruto sambil mengenggam kedua tangan istrinya. "Aku bukan tidak percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada Sasuke." Tutur istrinya kemudian.
"Jangan cemas. Itu tidak akan terjadi."
"Janji." Naruto tersenyum, ia memeluk istrinya dengan sayang. "Kau bisa menelpon ku setiap saat."
Setelah meyakinkan istrinya, Naruto bergegas kembali ke kamar putrinya dirawat. Ia merasa bersalah menyuruh istrinya pulang sendirian, tapi ia juga takut anaknya kembali histeris bila Hinata tidak menemukannya.
"Ayah!" ia disambut oleh suara ceria putrinya, Naruto langsung menghampiri anak gadisnya.
"Kau belum pulang?" Tanya pemuda pirang itu saat melihat Sasuke masih menemani putrinya. Sasuke menggeleng, Naruto memandang penuh arti pada lelaki itu. dulu Sasuke adalah pria yang sangat kaku, jarang berinteraksi. Mungkin karena ia Cuma hidup berdua dengan kakaknya.
Ketika ia berhasil masuk dalam kehidupan mereka, sedikit demi sedikit hati Sasuke mencair apalagi ketika ia mengandung dan melahirkan Hinata. Sifatnya sedikit jadi lembut.
Bukan ia tidak tahu penderitaan Sasuke, ketika pria itu memutuskan untuk jadi bahan percobaan Sasori sewaktu melakukan pencangkokkan rahim. Memang tidak layak disebut bahan percobaan karena ia dan Sasuke datang sendiri pada Sasori untuk memiliki momongan.
Melihat lelaki putih itu sendiri membesarkan Hinata. Membuat ia merasa sangat bersalah pada penderitaan yang Sasuke rasakan sewaktu bersamanya, juga membuat lelaki itu menderita setelah berpisah dengannya.
Ia menghampiri mereka, anak gadisnya langsung mengulurkan tangan yang disambut Naruto dengan senyum lebar.
"Ayah tidak pergi lagi, kan?" Tanya Hinata penuh harapan, Naruto menggeleng berusaha menyenangkan putrinya. "Ayah akan pulang ke rumah?" Tanya putrinya lagi kali ini dengan mata berbinar. pria itu juga mengangguk.
"Ayah, papa, ayo kita pulang ke rumah." Ucap Hinata sambil memegang tangan papa dan ayahnya, Naruto tersenyum melihat senyum gembira putrinya. Sasuke memaksa senyum di wajahnya, ia tahu Naruto lakukan itu untuk menyenangkan putrinya. Jauh di lubuk hatinya ia juga berharap Naruto bisa pulang ke rumah kembali dan mereka bisa hidup bersama lagi.
"Ia, kita akan pulang begitu Hinata-chan sehat."
"Aku tidak sakit." Gadis itu merengek manja. Naruto memeluk sayang gadis manisnya itu. kemudian ia melirik Sasuke yang masih setia mengelus rambut Hinata.
"Sasuke, pulang dan istirahatlah" Sasuke menggelengkan kepalanya. "Aku juga akan menjaga Hinata."
.
"Kau benar-benar akan tinggal bersama mereka?" Tanya Sakura tidak percaya. Apalagi suaminya pulang pagi-pagi dan berkemas. Ia memang menyetujui Naruto untuk tinggal dengan Sasuke dan anaknya, tapi kalau mendadak begini timbul rasa takut dalam dirinya. Membuat matanya berkaca-kaca, takut kehilangan suaminya. Sakura benar-benar tidak kuasa membendung air mata.
Padahal ini adalah awal-awal cinta mereka bersemi dalam ikatan pernikahan, kini orang yang sangat mengerti perasaannya dan sangat ia cintai tinggal dengan orang yang pernah suaminya cintai. Walau ia tahu mereka sudah berpisah lama, tetapi ia takut perasaan keduanya akan timbul kembali.
"Kenapa menangis? Aku tidak pergi jauh."
"Tapi kau dan Sasuke." Isak Sakura semakin jelas terdengar. Matanya yang berkaca-kaca, menatap lekat ke wajah suaminya. Seakan menyampaikan bahwa ia takut suaminya akan diambil oleh pria itu lagi.
Naruto tersenyum, ia tahu kekhawatiran istrinya. Dia pun menghentikan mengemasi barang yang akan dibawa. Perlahan ia menghampiri istrinya. Kemudian dengan penuh kasih sayang, dipeluknya tubuh Sakura.
"Cukup percaya padaku."
"Aku mencintaimu, Naruto."
"Aku tahu," Ucap lelaki pirang itu seraya mengelus rambut istrinya dan memberi kecupan mesra di bibir merah Sakura. "Karena itu percayalah padaku." Dan Sakura akhirnya luluh.
Wanita itu masih terisak namun ia turut membantu suaminya berkemas, beberapa pakaian penting dan laporan keuangannya di kantor. Ia memang tidak membawa semuanya karena mereka masih di kota yang sama, jadi kalau ada hal-hal penting ia bisa kembali.
Naruto menghapus air mata istrinya yang masih meleleh. "Jika ada sesuatu, segera hubungi aku."
"Aku akan menelponmu sejam sekali." Naruto tertawa. "Kalau begitu apa aku harus merekatkan ponsel di telingaku?" kelakarnya membuat Sakura memajukan bibirnya, mayum.
"Jangan lupa makan. Dan hati-hati." Ingatnya pada Naruto, lelaki itu mengangguk. Dengan berat hati sakura melepas kepergian suaminya, hatinya masih dibalut perasaan tidak enak dan takut. Ia memohon pada tuhan agar menjaga hati suaminya. Dengan lemas ia membalas lambaian Naruto.
Dia tetap berdiri mematung di pintu rumahnya, sampai mobil pribadi suaminya menghilang di belokan jalan. Dengan langkah lesu, Sakura pun melangkah masuk. Duduk tidak bergairah di kursi tamu yang mewah. Pikirannya masih terus menerawang jauh memikirkan apa yang dilakukan suaminya dan lelaki itu.
…
tbc
aku mau minta maaf pada kalian semua, padahal aku janji cerita ini hanya ada 2 atau 3 chap. Tapi aku membutuhkan waktu yang panjang bila menyelesaikan sebuah cerita. Jadi kemungkinan cerita ini akan berchapter banyak. Dan pastinya apdetnya juga lama sangat ^^
Kembali ke inti cerita, kalian tentu merasa aneh dengan kejadian setelah Hinata melalui masa kritisnya ia langsung ceria begitu. Itu sengaja agar alurnya lebih cepat. ^^
Kemudian tentang pencangkokkan rahim dan sel tidak sempurna, itu tidak ada didunia nyata,pada perempuan sih, bisa tapi untuk lelaki mana ada^^ hanya imajinasi aneh saya. :P
Dan jreng-jreng Itachi dapat peran sedikit jahat…tapi tenang karna ini drama tanpa banyak konflik jadi itu abang tidak akan jahat-jahat amat.
Dan banyak sekali yang bertanya apa penyebab narusasu pisah. Seperti saja bilang ini bukan konflik yang berat jadi penyebab perpisahan itu hanya masalah faham yang berbeda dalam rumah tangga. Dan sedikit ada campur tangan itachi nanti akan jelas seirin berjalan cerita ini.
Sekarang sesi Tanya jawab
Seth Chaos : Wah, fic kamu luar biasa!Satu kata buat fic ini…SAMPAH!...Pengen muntah setelah baca fic kamu ;)(terimakasih ;)
Neill : Nggak rela NaruSasu cerai, apalagi Naruto udah nikah lagi huweee maki nynesek bacanya :( (tenang saya gax bikin hurt kok, jadi tidak akan galau ^^)
Tomoyo to Kudo : Howaaaaaa...kirain tadi cuman oneshoot ternyata bukan. Syukurlaaaahhh... :D Itu kira2 hinata kenapa y? O.o (hinata sakit, sengaja dibikin begitu)
InfinitelyLove : Asdfghjkl…ini bagussssss bingit…lanjut ya hehe(ha…ha… ni lanjutannya.)
.12 : Ayo update author-san ..Seruuu nihh (terimakasih…ni lanjutanya)
ClapJun : Suka sih sama plotnya, tapi ko sasu jatohnya kaya ibu2 ya? (emang sasuke perannya disini ibu-ibu :) #diamaterasu) kenapa di fic ini jarang ada 'koma'? Apa cuma di hp aku yg gini?( maaf, bukan salah ponsel kamu kok, tapi aku yang oon dan malas banget edit secara mendetail)
EthanXel : ini m-preg? Kasihan kenapa mereka berpisah?apa maksud Itachi?lanjut :) (karena ini temanya tidak berat, jadi saya tidak terlalu membahas tentang penyebab perpisahan mereka. Iya ini m-preg, si abang tachi tidak suka hubungan narusasu, jadi ia menganggap gay sebagai pesakitan.)
funny bunny blaster : terimakasih
Aicinta : kenapa mereka harus berpisah( jawaban diatas) kenapa sasu ga nyari pendamping lagi aja neji misalnya biar naru nyesel ( nanti ceritanya makin ribet:))
Ndah D. Amay : Dari judulnya kyanya naruto bakal balik sama sasuke y? (sebenarnya aku ini paling susah nyari judul. Biasanya aku menyelesaikan sebuah cerita tanpa ada judul, baru kemudian aku memikirkan judulnya. Kebetulan saja aku melihat lagu korea 2ne1 yang ada lirik come back home :D)
Shin : ni lanjutannya.
Tatan : terimakasih
CA Moccachino : Hanya saja kalo pembawaannya gak terlalu cepat pasti lebih bagus lagi. Typo juga banyak yg nyempil. Tolong diperhatikan lagi. *wink* (sebenarnya saya memang sengaja mempercepat alurnya…karena saya ingin secepatnya menamatkan fic ini. Tau sendiri saya orang yang agak molor kalau apdet fic. Soal typo kayaknya itu penyakit saya deh…sedih lihat fic sendiri tidak pernah berkembang. T-T)
Guest : kasih notice charanya dong sasuke sama naruto(sudah saya kasih, kemarin lupa) akun yanh bilang fic kamu sampah, aku udah nemuin beberapa fic yang dikomenin dia kayak gitu, keep writing (terimakasih atas semangatnya, saya orang yang tidak gampang patah semangat untuk hal-hal yang seperti itu, jadi biarkan saja dia berkoar-koar, paling nanti bosan sendiri :))
namikaze kinan : iya ni apdetnya.
: baru kali ini hinata dapet peran jadi anaknya narusasu ( soalnya saya suka hinata.)
Jasmine DaisynoYuki : ada apa dg hinata (saya rasa sudah terjawab, kan ^^)
Xilu : terimakasih
Kim Tria : :D
