COME BACK HOME

PAIRING : NARUSASU

GENRE : DRAMA/FAMILY

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Sasuke masih lekat memandang lelaki pirang itu yang masih asik bercanda bersama putrinya, kadang mereka tertawa bersama. Sungguh didalam hatinya tidak kalah gembira dengan putrinya saat melihat lelaki itu ada dalam rumah mereka, hidup bersama seperti dahulu.

Setelah dokter Sasori memperbolehkan Hinata rawat jalan. Naruto dan Sasuke sepakat untuk membawa pulang putri mereka, kondisi rumah sakit akan membuat Hinata tambah stres.

Naruto juga tidak bisa menolak, permintaan putri semata wayangnya untuk kembali ke rumah. Kelihatannya pria itu sangat terpaksa menyanggupi permintaan anak gadisnya.

Naruto mungkin terpaksa, tapi Sasuke bahagia begitu juga dengan putrinya.

"Maaf, tidak apa kau tidur di sofa. Naruto?" Tanya Sasuke sedikit tidak enak, namun pria dengan mata biru itu hanya tersenyum ikhlas. "Tidak usah merasa sungkan," kemudian ia tertawa, "Aku juga sering tidur di sofa saat kau marah."

Mereka berdua terdiam, suasana menjadi canggung. Naruto mengutuk otak bodohnya saat tanpa sengaja mengatakan itu, padahal mereka sudah punya kehidupan masing-masing tidak sepatutnya ia mengingat masa lalu.

"Ah~maaf, aku tidak bermaksud…" Ucap Naruto canggung. Sasuke memalingkan wajahnya, diam-diam ada rona merah menghiasi pipinya.

"Aku akan membawa selimut." Naruto mengangguk, ia masih merasa tidak enak hati. Setelah Sasuke memberikan selimut, ia tidak jua pergi tapi memandang lekat pria yang sibuk didepannya. Mengatur bantal di atas sofa berusaha nyaman saat ia berbaring.

"Ada apa?" Tanyanya begitu melihat Sasuke yang masih berdiri. Lelaki berambut hitam itu jadi panik sendiri, bodoh! Kenapa ia malah bengon menatap lelaki itu. Sedangkan Naruto tertawa melihat wajah panik Sasuke, membuat lelaki yang ada dihadapannya kembali terpesona.

Sudah sangat lama ia tidak melihat lelaki itu tertawa seikhlas itu. mata yang menyipit dan deretan gigi yang indah itu menghipnotisnya sekali lagi. ia merasa seolah –olah ada bunga yang mekar di hatinya.

"Hey!" Sasuke tersentak saat Naruto mengibaskan tangannya didepan wajahnya. "Ada apa?" lelaki itu nampak khawatir. Sasuke segera menjauhi diri, berusaha menekan perasaan sendiri

"Aku mau tidur." Kemudian ia buru-buru masuk ke kamar. Naruto yang ditinggalkan mendesah lalu berbaring di sofa, menatap langit-langit rumah.

Ia ingat dulu bila ia marah setelah bertengkar dengan Sasuke, ia pasti terdampar di sofa ini. Ia kesal harus disini menatap langit-langit itu yang seakan mengejeknya.

Naruto juga ingat saat ia pertama kali bertemu Sasuke, ia pernah bilang pada sahabatnya saat melihat lelaki itu sedang berusaha menenangkan anak perempuan yang menagis 'lelaki yang cocok jadi ibu'

Naruto terkekeh, tapi benarkan? Sasuke benar-benar menjadi sosok ibu bagi anaknya. Ia mengusap muka dengan kedua tangannya.

Sebenarnya ia rindu dengan rumah ini, rindu untuk tidur disini juga. Tapi ia merasa egois dengan perasaan rindu itu. Naruto kemudian mengambil ponsel di kantongnya, menghubungi istrinya kemudian.

"Kau sudah tidur?" Naruto tertawa ketika mendengan istrinya merajuk.

"Aku sudah makan, tenang aja Saku-chan."

Sesudah berbicara cukup lama dengan istrinya, akhirnya ia menutup ponselnya dan menghela nafas kemudian. Ia sudah memutuskan menikahi perempuan itu dan berjanji akan melupakan semua masa lalunya.

Harusnya ia memang tidak boleh memiliki perasaan itu lagi. hanya bersama Sasuke begini ia mulai goyah, mungkin ini akan menjadi ujian berat untuknya selama tinggal bersama lelaki itu.

"Ayah!" Naruto terkejut melihat Hinata yang mengucek matanya, di pelukannya ada boneka beruang besar pemberiannya. "Kenapa bangun, sayang?" Tanyanya sambil duduk.

"Pipis." Pria yang sudah menjadi ayah itu tertegun, sudah berapa lama anaknya tidak membagunkannya walau ia ingin ke kamar mandi. Apa selama ini sudah menelantarkan gadis kecilnya? Atau putrinya sendiri yang menjauhinya.

"Perlu ditemenin?" Hinata mengangguk, setelah urusan Hinata selesai Naruto ingin kembali berbaring. Namun gadis kecilnya kembali menarik bajunya.

"Ayah kenapa tidur diluar? Apa papa tidak bolehin ayah tidur di kamar?" Tanya anaknya sambil memiringkan kepalanya imut. Naruto hampir saja ingin mencubit pipi chubi Hinata, namun gadis itu menghindar dan berlari kearah pintu kamar Sasuke. Dan mengetuknya dengan tidak pelan.

"Papa!" Naruto tersentak, lalu buru-buru menyusul putrinya, "Hinata! bukan…" Tapi terlambat karena Sasuke keluar sambil mengucek matanya.

"Ada apa sayang?" Tanyanya sambil menguap, sedangkan Naruto di hadapannya hanya diam membatu. Bukan apa-apa ia memang lelaki yang seksualnya tidak normal, melihat Sasuke yang hanya memakai celana pendek tentu menaikan libodonya.

"K-Kau telanjang?" Tanya Naruto dengan suara agak aneh, pria itu berusaha menahan dirinya. Saat Sasuke menyadari apa yang ia lakukan dengan spontan ia menutupi daerah pribadinya, mukanya ikut memerah karena malu dengan pelan ia masuk kedalam dan mengambil selimut.

Namun tidak dengan putrinya, Hinata sama sekali tidak paham dengan situasi panas itu. Ia mengikuti papanya yang duduk diatas ranjang, dengan gaya angkuh padahal mukanya merah.

"Papa kenapa mengusir ayah?" pria putih itu mengacuhkan putrinya, masih malu dengan keadaannya sendiri.

"Papa!" panggil Hinata kembali, "Papa bertengkar dengan ayah?" raut putrinya menjadi sedih.

Melupakan kejadian tadi Naruto menghampiri putrinya. "Kami tidak bertengkar, ayah hanya kepanasan didalam." Penjelasannya terasa ganjil ditelinga Sasuke, membuat pria itu mendelik kearah Naruto. Saat sadar apa yang ia katakan, Naruto hanya tersenyum kaku.

"Kalau begitu, ayah akan tidur didalam?" dengan terpaksa Naruto mengangguk, berusaha menghilangkan pikiran kotornya yang muncul sesaat. Sasuke menjadi sedikit khawatir, sesungguhnya sudah lama ia tidak tidur bersama pria itu. Ia takut terlepas control.

"Aku juga ingin tidur bersama, sudah lama sekali ya, papa?" Sasuke hanya mengangguk kaku. Setidaknya ia dan Naruto sama-sama menghela nafas lega. Bersyukur tidak akan berdua saja.

Hinata dengan wajah gembira berlari mengambil selimutnya, meninggalkan dua orang yang masih dalam kondisi canggung. Dari ekor matanya Naruto melirik lelaki itu yang masih menutupi tubuhnya dengan kain selimut.

Sesaat tanpa ia sadari Sasuke meliriknya juga. Mata mereka bertemu membuat mereka tersentak sendiri. Sasuke salah tingkah, namun ia menutupi dari rasa malu dengan berbaring di ranjangnya. Sedangkan Naruto mengusap mukanya. Ia sendiri berubah gugup.

Sebenarnya Naruto sudah biasa melihat Sasuke tidur dengan hanya memakai celana dalam, hidup selama empat tahun bersamanya. Naruto sudah hafal betul kebiasaan lelaki itu.

Sebetulnya ia juga tidak begitu terkejut, namun karena sudah lama tidak melihat Sasuke dalam keadaan naked, dan sekarang ia melihatnya membuat tubuhnya gerah.

Setelah menikah dengan Sakura, ia memang bisa menekan perasaan itu walaupun berhadapan dengan lelaki lain. Naruto memang kadang bisa tergoda dengan lelaki yang bersikap menantang dan manis. Dan selama ini, ia dengan mudah bisa mengusir perasaan itu.

Namun dihadapkan pada situasi ini, berhadapan dengan lelaki yang ia cintai. keabnormalnya muncul mendadak. Sekarang ia tidak tahu apa bisa menahannya.

Dengan pelan ia mendekat, duduk di dekat Sasuke berbaring. Entah apa yang ia pikirkan ketika tangannya terjulur, namun…

"Ayah!" Panggilan putrinya membuat ia tersentak. "Oh, Hinata-chan." Ia tertawa kaku. Gadis kecil itu melompat dan merangkul tubuh ayah dan mencium pipinya. "Oyasumi." Tersenyum manis.

Namun sebelum ia membalas mencium anaknya, Hinata berguling dan masuk dalam pelukan papanya yang hangat. Naruto berpikir gadis kecilnya akan berada ditengah dan memberi jarak. Namun ia sendiri yang harus tidur di samping pria itu.

Dag—dig—dug—Sasuke terus menekan dadanya yang menggila, ia takut putrinya menyadari suara jantungnya. Sedangkan Naruto yang berada di sebelahnya tak kalah gugup, bukan, apa-apa sih, sudah ia bilang ia bukanlah pria normal.

"Ayah, aku tidak bisa tidur dengan lampu terang." Lagi-lagi pirang itu tersentak, kemudian buru-buru ia mematikan lampu. Meninggalkan sebuah lampu dengan cahaya redup di samping tempat tidur. Kembali membaringkan tubuhnya di samping Sasuke.

Naruto berusaha memejamkan matanya, mengusir segala sesuatu yang membuat tubuhnya panas. Namun, entah untuk beberapa lama ia juga belum bisa tidur.

Tanpa sedar ia membalik kan tubuhnya berhadapan dengan punggung terbuka Sasuke. Mungkin lelaki itu tidak sedar kalau selimutnya sudah turun.

Dan hasratnya meningkat lagi, bertapa ia ingin menyentuh tubuh itu. Untuk beberapa saat Naruto menahan dirinya dan mengigit bibirnya yang basah. Sialan! Ia takut kelepasan.

Namun, pada akhirnya ia menyentuh tubuh putih itu dengan telunjuknya dan jantungnya berpacu dengan cepat. Sedangkan Sasuke terbangun dari tidurnya yang belum nyenyak, ketika sadar Naruto mengelus punggungnya. Ia memejamkan mata.

Tubuhnya gementar, jari-jarinya ia remas perlahan. Tangan besar Naruto semakin turun mendekati pinggangnya dan jantungnya semakin berdetak gila, tanpa sadarnya ia memeluk putrinya erat.

"Papa! Sesak." Ucap gadisnya perlahan sambil mendorong tubuh papanya, Sasuke terkejut lalu buru-buru melepaskan pelukannya.

Sedangkan Naruto lain lagi, sanking terkejut dengan perbuatannya ia menyentakkan tangannya yang sudah sebagian memasuki celana Sasuke dengan cepat. Membuat ia terjungkal ke lantai.

Hinata dan Sasuke terkejut mendengar suara cukup keras. "Ayah, kau tak apa-apa?" Naruto hanya bisa tertawa hambar.

Begitulah yang dialaminya sepanjang malam, tidak bisa tidur. Sekarang dibawah matanya ada kantung yang sangat besar.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke khawatir, dengan berlagak Naruto menggeleng padahal ia ingin hari ini istirahat total. Tapi ia tidak ingin membuat lelaki itu khawatir.

"Ayah! Apa kau akan mengantar aku hari ini?" Tanya anaknya dengan gembira. Naruto mengangguk, membuat Hinata tersenyum bahagia. Ia bahkan makan dengan lahap apapun yang di masak oleh papanya.

Naruto mengelus sayang kepala anaknya. Namun suara berat di belakangnya membuat ia terkejut.

"Kau benar-benar tinggal disini?" Sosok Itachi berdiri sambil melipat kedua tangannya angkuh.

"Kakak, mau sarapan?" Sasuke buru-buru berdiri, dan mempersilahkan kakaknya untuk duduk. Namun lelaki itu masih diam, mengirim tatapan benci pada mantan adik iparnya.

"Selamat pagi." Seorang wanita muncul di belakang kakaknya, tersenyum manis.

"Konan-sensei!" Hinata gembira melihat sensei kesayangannya muncul di rumahnya. Wanita yang di panggil Konan itu kembali menampilkan senyumannya.

Itachi ikut tersenyum, kemudian mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di samping Sasuke. Naruto melirik mantan kakak iparnya itu sekilas, ia tahu maksud di balik senyum sinis Itachi kepadanya. ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh pria itu.

Karena itu, Naruto menyelesaikan sarapannya dengan cepat. "Ayo, Hinata." Anaknya mengangguk, Sasuke kembali merapikan baju putrinya.

"Biarkan aku yang mengantar Hinata bersama Konan." Kata Itachi, sambil menangkap tangan keponakannya. Si anak kelihatannya juga senang. Naruto diam sebentar.

"Kalau begitu aku pergi duluan." Akhinya ia mengalah, dan segera keluar, ia tidak nampak senang ketika Itachi mengikutinya.

"Menurutmu Konan bagaimana? Cantik tidak." Tanya itachi, sama sekali tidak mengharapkan jawaban.

Naruto tidak menjawab. "Siapa tahu Konan bisa merayu Sasuke. Seperti Sakura padamu waktu dulu." Naruto menggantup rahangnya kuat-kuat.

"Berhenti ikut campur kehidupan adikmu!" Itachi terkekeh. "Aku pasti tidak ikut campur, kalau gay sepertimu tidak berkeliaran disekitar adikku."

Naruto melempar tatapan benci pada mantan kakak iparnya itu. "Kenapa kau selalu tidak menyukaiku? Bukankah aku dan Sasuke tidak bersama lagi seperti yang kau harapkan!"

Itachi berdecih, "Karena kau seperti penyakit menular, menjijikkan." Naruto mengepalkan kedua tanganya, ia sebenarnya malas ribut dengan laki-laki itu.

Dari dulu semenjak ia dan Sasuke menjalin hubungan, lelaki berambut panjang itu adalah orang yang menentang hubungan mereka. Waktu itu ia masih bergelora, ia menikahi Sasuke diam-diam. Setelah sebulan berlalu baru kemudian ia dan Sasuke memberitahu kakaknya.

Itachi murka, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kakak Sasuke sering berbuat ulah untuk memisahkan mereka. Puncaknya saat ia menyuruh Sakura mendekati dirinya. Cara itu berhasil, karena Sasuke yang mulai menragukanya, padahal Naruto tidak menaruh perhatian pada Sakura.

Setelah punya anak, Sasuke memang lebih sensitive, dan pencemburu. Ia mulai tidak percaya pada Naruto dan menuduhnya selingkuh, apalagi kakaknya sering memanasi. Setelah empat tahun hidup bersama akhirnya mereka sepakat untuk berpisah.

Naruto takut perkembangan Hinata menjadi terganggu, karena hampir setiap hari rumah mereka di warnai dengan pertengkaran. Sasuke dan Naruto akhirnya memilih jalan itu. Namun pada akhirnya Sasuke tahu, semua karena ulah kakaknya. Tapi terlambat, Naruto sudah menikahi Sakura.

Perempuan itu sebatang kara. Naruto tidak tega meninggalkannya setelah uji coba bunuh diri yang dilakukan perempuan itu.

Naruto menghela nafas, kemudian memasuki mobil pribadinya. Setelah itu diam-diam Itachi ikut pergi juga, pria itu memang berniat menjodohkan adiknya dengan teman semasa sekolahnya sekaligus guru Hinata di sekolah.

"Kakak! Apa maksudmu meninggalkan Konan-nee, tadi?"

"Hm." Itachi acuh tak acuh, ia masih sibuk memeriksa beberapa dokumen.

"Kak, kau tidak sedang menjodohkan aku, kan?" Itachi melihat adiknya dan tersenyum.

"Konan gadis yang baik, Hinata juga menyukainya."

"Kak!" Sasuke protes, namun kakaknya berdiri lalu menaruh kedua tangannya di kedua pundak adiknya.

"Sasuke, apa kau tahu saat ayah tidak ada! Bagaimana cara orang-orang itu melihat kita?" Sasuke melihat kakaknya dalam diam.

"Mereka memandang kita penuh rasa kasihan dan kebencian. Tapi aku tidak peduli pandangan mereka," Itachi melepaskan tangannya, dan berjalan menuju ke jendela besar yang ada di ruangannya.

"Asal bukan kau yang mereka hina, aku tidak tahan setiap kali mereka membicarakanmu, memandangmu jijik, mencari kekuranganmu! Merendahkanmu. Aku ingin membunuh mereka setiap kali melihatmu dengan cara itu." Sasuke memandang kakaknya berkaca-kaca. Ia tahu kakaknya melakukan semuanya untuknya.

Mungkin karena mereka hanya hidup berdua saja, kakaknya jadi menahan beban yang sangat banyak, lelaki itu bahkan tidak peduli dengan kehidupannya, asal adiknya bahagia.

Sasuke mendekat lalu meremas bahu kakaknya, " Akan ku coba." Ujarnya pelan, Itachi berbalik dan senyum hadir di bibirnya.

"Bagaimana kalau besok kau dan Konan makan siang? akan kuatur jadwalnya." Sasuke mengangguk, Itachi menunjukkan rasa senangnya dengan menepuk kuat-kuat bahu adiknya.

"Aku yakin, kau dan Konan akan hidup bahagia. Kakak tahu seperti apa perempuan itu."

Sasuke hanya tersenyum saja. Mungkin ini saatnya ia bisa membahagiakan kakaknya.

Tbc

Ah… jadi begini! Untuk semua reader jangan bosan sama cap ini jadi kayak sinetron ^^.

Oke saatnya salam balik ^^

onyxsapphiretomatjeruk di tunggu cap lanjutnya jangan lama2 ya (maaf, ya lama ^^)

Dewi15 (iya ^^)

Tomoyo to Kudo (^^)d.

shanzec (^^)

Arum Junnie (ok)

RisaSano (terimakasih)

InfinitelyLove sumpah kenapa harus sakura masuk ke dalam kehidupan NaruSasu? (entahlah mungkin karena cewek lain gx kepikiran)

Ivy Bluebell tapi jalan ceritanya agak kecepatan bagiku, jdi kayak buru2*)bukan maksud nge-flame lo...(iya, akan saya usahakan agr tidak cepat ^^. Gx apa^^ yang nge flame aja gx saya anggap flame ^^) Naah ap nanti ada flashback mengapa narusasu bercerai? Aq sangat penasaran... soalnya nggak cukup kalo hanya pendiskripsian singkat...(flashbacknya gx ada, menurutmu cap ini cukup buat penjelasannya?)

Naminamifrid Kenapa Nami gak rela Naruto pisah dengan suke. Ok, lanjut terus jangan patah semangat ya?( saya juga gx rela ^^, terimakasih atas semangatnya)

Aicinta yang dimaksud 'come back home' itu naru kembali kerumah sakura apa feelingku mengatakan naru kembali ke banget sama sasuke.( gx lah, ini beneran narusasu, bukan abal-abal, saya bukan orang yang melakukan surprise pairin ^^. Ini akan berakhir heppy ending. Dijamin ini drama abis ^^)

Guest (OK)

himekaruLI (terimakasih)

Kim Tria (^_^) ya, tidak apa

YoungChanBiased senpai jangan bjarkan ini cepet happy ending ya, biarkan sasuchan menderita dulu xDD(sebenarnya maunya cepat-cepat sih, ^^ biar cepat end. Tau sendiri saya apdetnya selalu molor ^^, tapi liat aja dulu.)

suira seans author san fic ini kapan apdet? jangan hiatus pliss u.u( saya mah jarang hiatus, tapi apdetnya yang molor ^^)

sekikaoru Sedih naru sama sasu ud pisah. Tp nanti bakal balikan lg kan?.(^^)d