COME BACK HOME
PAIRING : NARUSASU
GENRE : DRAMA/FAMILY
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Malam yang penuh dengan keramaian di tengah-tengah kota Konoha, berbagai macam penjual makanan dan beberapa tontonan hiburan selalu menghiasi kota.
Biasanya orang-orang akan memadati jalan-jalan sempit, walaupun di sini jelas terlihat orang-orang berekonomi sedang, mana mau orang-orang berdompet tebal berdesakan di sini. Mereka pasti akan jauh memilih restoran mewah dengan kelas VIP.
Ya, mungkin Sasuke juga akan memilih hal itu, bukan karena ia sombong dan melupakan dari mana ia berasal. Tapi ia benci keramaian. Namun tidak untuk Hinata, gadis itu kelihatan suka walaupun ia tidak ingin berbaur di sana.
Beberapa kali ada teman sekolah kenalan yang mengajak bermain, tapi putrinya lebih memilih menggandeng tangan Naruto dan Sasuke. Adakalanya Hinata begitu mirip dengannya tapi, kadang sifat Naruto yang ceria turun padanya. Lihat bagaimana wajahnya begitu gembira melihat suasana ramai, namun ia juga tidak suka berbaur dengan keramaian itu.
Kata Konan… anaknya lebih suka bermain sendiri, daripada mengajak temannya. Ah sifat anti sosialnya turun dengan pekat pada Hinata. Ngomong-ngomong soal Konan, karena perempuan itulah ia berakhir bersama dengan si dobe idiot yang berciuman super hot dengannya tadi. Mengingat hal itu, muka Sasuke memerah. Ingin lagi tapi ia malu meminta pada mantan suaminya itu, lagian mana mungkin melakukannya di tempat seperti ini.
Ah ia jadi ingat bagaimana itachi protes saat ia bilang ingin menemani Hinata melihat kota di malam hari, padahal hanya alas an untuk lebih mendekatkan Konan dan kakaknya.
"Sasuke."
"Naruto."
Mendadak mereka kembali canggung, pria pirang itu menggaruk pipinya salah tingkah. "Kau duluan," katanya namun di sambut dengan diamnya Sasuke, mereka sama-sama diam untuk beberapa saat, sebelum Hinata menarik tangan papanya.
"Papa es krim," mintanya sambil mengoyang-goyangkan tangan Sasuke, Naruto berinisiatif untuk menggendong putrinya. "Tidak boleh, baby. Nanti sakit perut." Anaknya cemberut membuat Naruto gemas, ia mengecup pipi gempal anaknya sambil di gigit tanpa niat menyakiti. Membuat Hinata memekik lalu memukul kepala Naruto, pria itu terkikik.
Senyum tipis muncul di bibir Sasuke melihat Naruto dan Hinata, seandainya ia benar-benar kembali bersama. Setiap hari mungkin akan selama-selamanya seperti ini. Sasuke kembali terkejut ketika tangannya di genggam oleh mantan suaminya, ia membalas erat genggaman itu.
Langkahnya mereka mungkin akan lebih bahagia, kalau saja tidak ada perempuan itu yang berdiri di depan dengan pandangan terluka.
Sepertinya ia baru membeli beberapa kue, namun, sayang kue enak itu berjatuhan beserta air mata yang tumpah.
"Sakura." Panggil Naruto gugup, Hinata segera mengerat pelukan di leher ayahnya begitu melihat perempuan itu.
Sakura tidak menyangka akan bertemu suaminya di sini, padahal ia sendiri, kesepian. Sedangkan suaminya bersenang-senang dengan mantannya dahulu, bahkan mereka berpegangan tangan.
"Aku tahu, Naruto masih menyukai Sasuke, kan?" ia menghapus tangisannya, Naruto gelagapan. Ia melepaskan genggamannya di tangan Sasuke, namun lelaki dengan rambut unik itu mengeratkan genggaman. Tidak mau melepaskan Naruto barang sedikit pun.
Naruto panik, ia melihat Sasuke lalu melihat istrinya. Kemudian ia batuk-batuk karena pelukan erat Hinata di lehernya.
"Kembali saja pada Sasuke!" teriaknya, membuat lelaki itu bertambah panik.
"Kau salah paham. Sakura!" ia ikut berteriak ketika melihat istrinya berlari menjauh, berniat mengejar namun tangannya masih di tahan oleh Sasuke. Ia melihat lelaki itu sedih namun dengan terpaksa ia melepaskan tangan pria manis yang menggenggam erat tangannya, mereka saling menatap dengan ekspresi yang sama-sama sulit di tebak.
Ia menyerahkan Hinata, namun anak gadisnya tidak mau melepaskan lehernya
"Tidak boleh! Ayah tidak boleh pergi. Nanti ayah di culik lagi."
"Sasuke." Naruto memohon membuat sesak di hati si pria cantik, apa yang ia pikirkan tadi? Apa ia pikir Naruto akan memilihnya hanya karena sebuah ciuman. Ia lupa mantan suaminya masih punya istri yang ia cintai.
Ia berusaha melepaskan tangan Hinata di leher Naruto dengan perasaan miris, anak perempuannya menolak sambil menangis.
"Jangan pergi ayah, Hinata mohon! Nanti ayah tidak akan kembali." Mata anak gadisnya berkaca-kaca menarik kerah baju ayahnya dengan erat, namun Sasuke menarik tangan kecil tak berdaya anaknya. Setelah bebas dari pelukan erat itu, Naruto bergegas mengejar istrinya. Hati Sasuke kembali tercabik, sedangkan Hinata berontak dalam pelukannya sampai terjatuh ke bawah
Ia langsung cemas, berusaha mengambil putrinya kembali. Namun Hinata berdiri melupakan rasa sakit dan mengejar ayahnya. Sasuke panik ia memanggil putrinya dengan kalut.
Ketika ia berhasil menangkap Hinata, putrinya menjerit. Di depan ada sileut Naruto yang terus berlari tanpa menengok ke belakang, mengabaikan jeritan pilu putrinya.
Anaknya menangis keras berteriak kalut. "Aku janji ayah, tidak akan cengeng lagi! Kembali! Jangan pergi! Ayaaaaaaaaaaaaaaah!" Hinata berontak dalam pelukan erat Sasuke, menjerit-jerit keras. Mereka menjadi pusat perhatian, pria yang di panggil papa itu berusaha membujuk anaknya. Namun Hinata sama sekali tidak mau mendengarkan Sasuke, ia terus memberontak dan menjerit-jerit.
"Sayang… dengarkan papa nak." Namun Hinata mengeleng-gelengkan kepalanya putus asa. Ia ketakutan sangat. Ia takut ayahnya di culik lagi dan tidak akan pernah kembali.
Tidak bisa mengantarnya ke sekolah seperti biasa, tidak ada ayah ketika ia sarapan pagi. Tidak ada yang menyuapinya, tidak ada yang bermain dan bercanda lagi dengannya. Ia tidak mau ayahnya di culik lagi, padahal Hinata sudah bersikap baik selama ini.
"Hinata tidak menangis lagi, tidak cengeng! Hinata nurut dengan papa, kan?!" Sasuke mengangguk cepat, anak gadisnya terus berteriak sambil menangis menimbulkan simpati di sekitarnya. Orang-orang mulai berbisik.
"Lalu kenapa ayah di culik lagi sama siluman rubah itu! Kenapa?! Hik!" Sasuke mengelus putrinya dan menepuk-menepuk punggung Hinata biar tenang.
"Ayah kembali! Papa bawa ayah kembali!" Hinata kembali histeris kali ini ia memukul-mukul kepalanya, Sasuke berusaha menenangkan putrinya menahan Hinata untuk tidak menyakiti diri sendiri. Pria itu agak kewalahan apalagi Hinata terus memanggil ayahnya, beberapa orang yang merasa kasihan ikut menenangkan anak itu. Jangankan berhasil gadis itu semakin histeris.
Yang bisa Sasuke lakukan adalah memeluk putrinya, walau ia kembali di abaikan, gadis itu terus memukul kepalanya yang tiba-tiba berdengung. "AYAH KEMBALIIIII!." Sasuke takut anaknya akan kembali jatuh sakit, dengan terburu-buru ia menelpon Itachi. Namun sebelum terhubung dengan kakaknya Hinata mulai bernafas pendek-pendek, Sasuke kalut.
"Sayang! Jangan sayang! Ayo bernafas dengan tenang sayang." Perlahan Hinata menutup matanya, Sasuke sudah tidak bisa membendung kecemasannya. Sifatnya yang biasannya tenang berubah total. Ia menjerit minta tolong kepada siapapun saat ia mulai merasakan putrinya berhenti bernafas.
…
Di sebuah rumah yang tidak mewah namun juga bukan bukan rumah yang sederhana, duduk lelaki dengan kunciran rambut di belakangnya. Matanya memandang perempuan yang ada di depan, membuat wanita dengan rambut biru itu gugup.
Itachi bukan tidak tahu apa maksud Sasuke meninggalkan mereka berdua di sini, dan ia bukannya tidak tahu perasaan perempuan itu padanya, tapi dia tidak mungkin bisa membahagiakan perempuan itu sebelum membahagiakan adiknya. Menjauhi Sasuke dari penderitaan, biarpun ia yang berkorban hati dan melihat perempuan yang ia kasihi ini bersama dengan adiknya.
Ia bisa menahan penderitaannya sendiri! Namun ia tidak akan pernah sanggup melihat penderitaan adiknya.
"Jadi, Konan apa maksud semua ini?" tanyanya berat saraf dengan ketajaman. Yang di tanya hanya duduk kaku.
"Kupikir Sasuke benar-benar mencintai Naruto," katanya pelan.
"Konan!" Itachi membentak tidak terima. "Cinta bisa hadir dengan kebersamaan! Aku percaya kau bisa meluluhkan adikku." Katanya lagi, memandang lekat perempuan itu. Konan diam ia sudah lelah dengan semua ini.
Sejak ia remaja dan bertemu lelaki ini, hal pertama ia lihat adalah kekaguman pada sosok dewasa Itachi. Kekaguman itu berubah menjadi cinta selama bertahun-tahun.
Ia tidak pernah pacaran, selalu bersama lelaki ini, menemaninya berusaha yang terbaik di sampingnya. Tidak pernah tertarik pada lelaki lain, selalu berharap dan menunggu Itachi untuk sekedar memalingkan matanya dari Sasuke untuknya, walaupun sesaat.
Tapi mata itu tidak pernah berpaling padanya, padahal Sasuke sudah menikah. Ia masih bersabar.
Hingga akhirnya ia terkejut dengan permintaan Itachi, untuk membuat Sasuke jatuh cinta padanya. Tapi demi kebahagian lelaki itu Konan menyanggupinya, di hatinya timbul rasa resah dan bangga.
Resah karena ia tidak mungkin lagi bersama Itachi, bahagia karena lelaki yang paling ia cintai pasti bahagia kalau Sasuke bahagia dengannya. Di hatinya juga timbul kebangaan kalau ia bisa meluruskan adik Itachi yang menyimpang. Tapi melihat keluarga kecil Sasuke membuat Konan sadar, ia tidak mungkin masuk dan mengusik kebahagian itu.
"O… ayolah Itachi-kun," ia berujar santai sambil memotong buah, pencuci mulut setelah makan malam.
"Kita juga selalu bersama, tapi aku tidak bisa membuat kau cinta padaku."
"Konan."
Perempuan itu meletakkan pisau buah di atas meja, melihat ke dalam mata lelaki mempesona yang tidak pernah bisa ia jangkau.
"Mungkin Itachi sakit hati, tidak bisa menutup kuping dari mulut-mulut busuk di sekitar mu. Tapi cobalah Itachi sekali-kali lihat bagaimana Sasuke itu."
"Sasuke mungkin menderita karena orang-orang memandang jijik padanya, menderita karena selalu di gunjing, di jauhi orang. Tapi aku tahu yang lebih membuat ia menderita adalah kakaknya sendiri tidak mau menerima keadaanya, kakaknya sendiri yang memandang jijik padanya."
"Cukup Konan!" Itachi membentak, namun wanita cantik itu tidak takut.
Itachi tidak boleh lagi seperti itu, lelaki itu harus keluar dari hidupnya yang serba sempurna untuk Sasuke.
Berhenti untuk menjadi ayah dan ibu bagi Sasuke. Ayolah, Itachi hanya seorang kakak.
"Orang yang membuat Sasuke menderita adalah kau!" tunjuk Konan berani. Itachi menahan amarahnya ia bahkan berdiri dari kursi namun suara ponsel menghentikan pertengkaran aneh mereka.
"Ada Apa?" Tanya wanita itu khawatir ketika melihat wajah pucat di depannya.
"Hinata pingsan." Dan mereka berdua berubah panic.
…
Di lain tempat Naruto yang cemas buru-buru pulang, ia takut Sakura hilang kendali. Ketika ia sampai ia terkejut dengan keadaan rumah yang berantakan.
Sakura terduduk di lantai dengan tangan berlumuran darah, wanita itu menyakiti tubuhnya sendiri.
"Sakura," panggilnya cemas, Sakura melihat suaminya tajam menyimpan kemarahan. Barang-barang keras yang ada di hadapannya di lempar dengan kasar ke arah Naruto. Beberapa mengenai tubuhnya hingga lengannya berdarah.
"Pergi!" ia kembali berteriak lalu menangis, saat Sakura sudah berhenti melempar, Naruto mendekat menyentuh bahu bergetar wanita itu. Sakura menengok ke atas matanya berkaca-kaca.
"Naruto mencintai Sasuke kan?" Pria pirang itu menggeleng pelan, ia tahu Sakura dalam emosi yang sangat labil. "Kalau Naruto lebih bahagia bersama Sasuke, aku akan melepaskanmu." Ia menutup mulutnya menangis lagi.
"Aku tidak apa-apa! Pulang saja pada Sasuke aku beri izin." Naruto tahu, kata-kata itu menakutkan lebih dari apapun.
Naruto merengkuh tubuh istrinya. "Tidak. Aku pernah bilang pada Saku-chan untuk percaya padaku, kan? Aku tidak akan meninggalkanmu tidak akan pernah." Di dalam pelukannya Sakura kembali tenang.
"Benarkah?" Naruto mengangguk sedih.
Sebenarnya ia memang terpaksa menikahi Sakura tujuh bulan yang lalu, perempuan itu menderita penyakit mental. Karena terlalu lama hidup sendiri.
Ia sendiri tidak tahu darimana Itachi menemukan perempuan ini.
Mungkin selama Sakura dekat dengannya, wanita itu merasa punya seseorang dalam hidupnya setelah kehilangan semuanya. Setelah Naruto resmi bercerai, ia tidak pernah menemui Sakura lagi. Lagian ia hanya sedang memberi Sasuke dan dirinya waktu untuk menenangkan diri, setelah emosi Sasuke mereda Naruto berniat akan berusaha kembali lagi pada lelaki itu. Sejujurnya ia masih sangat mencintai pria yang terlalu sok jual mahal tersebut.
Tapi entah darimana perempuan itu muncul lagi dalam hidupnya, awalnya ia tidak mempermasalahkan kehadiran wanita itu selama ia tidak menganggunya. Namun perempuan itu aneh, ia punya kepribadian ganda.
Kadang ia baik tapi kalau ada yang tidak sesui dengan kemauannya, wanita itu akan berubah beringas. Ia ingat bagaimana Sakura mengancamnya.
Waktu itu giliran ia menjaga Hinata, dan ia membiarkan Sakura ada di rumahnya. Wanita itu masuk ke kamar di mana putrinya lagi tidur.
Sambil mengangkat sebilah pisau tajam di atas tubuh putrinya yang sedang tertidur, ia mengancam Naruto.
'Kalau Naruto tidak menikah denganku kupastikan anakmu dan Sasuke akan mati.' Waktu itu dirinya sangat marah pada perempuan itu ia bahkan ia menampar Sakura dengan keras. Setelah itu Sakura mencoba bunuh diri dengan cara memotong nadinya sendiri.
Tapi saat tahu kondisi Sakura sebenarnya, Naruto merasa kasihan. Ia juga pernah sendiri, merasa kesepian kadang kegelapan juga muncul di hatinya. Tapi untungnya ia bertemu dengan Sasuke yang sama-sama sendiri, lelaki itulah yang menariknya dari lubang penderitaan bernama kesepian.
Kata dokter, Sakura mengidap penyakit mental Hyperpragia serta depresi hebat, penyakit itu kambuh kalau ia merasa keinginannya tidak terkabulkan. Dan ia akan menjadi malaikat cantik kalau dalam kondisi tenang. Sebenarnya Naruto juga tidak terlalu tahu penyakit itu, hanya saja saat bersamanya Sakura sedemikian manis tidak jahat. Karena itu ia menjaga emosi perempuan itu.
Itulah sebabnya ia mengambil keputusan yang berat ini demi melindungi Sasuke, Hinata dan Sakura. Ia tidak ingin Sakura menyakiti orang-orang yang di cintainya, iapun tidak ingin Sakura menyakiti dirinya sendiri. Biarlah ia menanggung sendiri penderitaan ini.
Bulan-bulan yang lalu begitu berat baginya namun setelah setahun bersama Sakura, mempelajari tingkahnya. Naruto memutuskan untuk menjaga wanita itu seumur hidup dan menikah dengannya, tapi ia tidak berniat menyakiti Sasuke. Ia berencana tetap menjaga Hinata dan mendoakan kebahagian mantan cantiknya, walaupun bukan denganya.
Tapi ternyata yang ia pikirkan semuanya berantakan, salah dan banyak menimbulkan luka. Baik untuk dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Naruto pada seorang dokter kepercayaan istrinya, dokter itu tersenyum sekilas.
"Stabil. Asal emosinya di jaga saja dengan baik, ia tidak akan mengamuk." Naruto mengangguk. Setelah Sakura tenang ia memanggil dokter untuk mengecek kondisi istrinya. Ia bisa bernafas lega untuk sementara.
Ia bingung sekarang harus bagaimana? Ia tidak ingin menyakiti Sasuke dan Hinata. Tapi ia takut Sakura akan macam-macam pada keluargannya. Tapi kalau mengirim Sakura ke rumah sakit ia juga takut akan menimbulkan kelukaan yang besar pada wanita itu yang selalu kesepian.
Pria pirang itu akhirnya terduduk di sebuah kursi, pikirannya kusut. Namun suara dering ponsel membuyarkan semua lamunannya.
"Hallo" Sapanya tanpa mengecek siapa yang menghubunginya.
"Kemari kau brengsek!" Suara bentakan di seberang membuat ia segera menjauhi ponsel dari gendang telinganya, ia kenal suara itu. Mantan kakak iparnya. Ada apalagi dengan lelaki itu? Pikirnya pusing.
"Ada apa Itachi?" Nadanya terdengar malas.
"Hinata pingsan! Keparat!" Naruto terkejut ia bahkan terbangun tanpa sedar dari tempat ia duduk, apa yang terjadi pada anaknya tadi? Karena terlalu takut pada kondisi Sakura ia bahkan melupakan putrinya yang juga sakit. Keadaan ini semakin menambah pusing.
Ia seperti memakan buah simalakama, kalau ia meninggalkan Sakura ia takut wanita itu nekat mencelakai diri sendiri, Hinata dan Sasuke. Tapi kalau ia memilih Sakura putrinya yang akan menderita.
Ia mengambil jaket dan kunci mobil, setelah mencium Sakura yang masih tertidur karena pengaruh obat. Ia bergegas pergi.
Ketika sampai dengan terburu-buru ia masuk ke rumah Sasuke, namun ia malah di hadang oleh kakaknya. Lelaki itu memandang tajam, wajahnya beringas memancarkan hawa kebencian yang dalam.
"Apa kau benar-benar seorang ayah?!" Naruto diam menatap lelaki itu tanpa ekspresi apapun, yang di tatap murka untung Sasuke keluar bareng Konan. Di belakang mereka ada Sasori yang ikut keluar. Air mukanya juga tidak senang. Diam-diam Naruto bernafas lega, kalau Sasori masih bisa menampilkan raut kejam berarti anaknya tidak kenapa-napa.
"Kalau kalian tidak sanggup menjaga Hinata. Kembalikan ia padaku!" itu katanya sebelum ia benar-benar pergi. Sasuke menghela nafas berat, ia mengerti dengan tindakan Sasori. Lalu pandanganya berpaling ke a rah Naruto yang berdiri di depan kakaknya.
Itachi nampak sekali beremosi untuk menghajar mantan suaminya.
"Ita-nii. Sebaiknya kau mengantar Konan dulu. Ini sudah sangat malam." Itachi berdecak namun menuruti permintaan adiknya.
Setelah kepergian dua orang itu, Sasuke mendekat pada Naruto yang masih berdiri mematung.
Plakkk!
Ia dengan kencang menampar pipi laki-laki itu, namun Naruto bergeming. Menahan rasa sakit itu.
"Padahal kau tahu putri kita sedang sakit."
"Maaf." Perkataan yang keluar dari mulut lelaki itu, membuat Sasuke gementar. Ia ingin sekali menghajar lelaki itu, biar ia tahu bagaimana perasaannya tadi saat ia pikir ia akan kehilangan putrinya.
"Apa kau pikir dengan minta maaf akan menyelesaikan semuanya." Ia menahan dirinya untuk tidak berteriak, namun Naruto tetap diam. Karena menahan amarah dan kesal ia menarik keras baju lelaki itu dan memukul kasar bertubi-tubi dada bidang Naruto, namun lagi-lagi lelaki pirang itu menahan rasa sakit sekali-kali ia meringis karena pukulan itu mengenai titik hatinya.
Namun, ia tahu rasa sakit ini jauh berbanding dengan rasa sakit yang harus di tahan oleh Sasuke, Hinata dan Sakura. Ia hanya pria yang jahat.
Sasuke akhirnya mengakhiri pukulannya, ia memandang pria pirang itu yang masih menahan kesakitan. Tanpa aba-aba ia merengkuh tubuh di hadapannya, Naruto kaget.
Sasuke memeluk tubuh dihadapannya dengan kuat, bibirnya bergetar. Ia jarang jujur dengan perasaannya apalagi meminta pada orang lain, namun kalau sekarang harus memohon akan ia lakukan. Ia tidak akan mengulangi kejadian dulu dan menyesali kemudian.
"Naruto kembalilah, Hinata membutuhkanmu! Tidak! aku juga membutuhkanmu." Naruto ikut bergetar. Ini semua salahnya.
"Kau masih mencintaiku Naruto. Aku tahu! Kau tidak usah berbohong."
Kenapa ia harus mencium Sasuke kemarin? kenapa ia malah menunjukkan perasaannya pada lelaki itu? Sekarang Sasuke nekat dan ia tidak akan tahu harus berbuat apa.
Ia tetap diam meski Sasuke mencium bibirnya.
Sedangkan lelaki berambut hitam yang sedari tadi memejamkan mata sambil menempelkan bibirnya pada orang yang paling ia sayang, diam-diam merasa senang. Ia tahu masih ada cinta untuknya dari Naruto.
Ia masih ingat bagaimana pria itu menciumnya penuh perasaan, menggebu dan ketakutan. Ia tahu lelaki itu tidak suka ia dengan orang lain. Itu karena Naruto masih sayang padanya.
Ketika merasakan pergerakan bibir Naruto di bibirnya ia membuka mata, disana... ia melihat perempuan berambut pink itu memandang tajam ke arahnya.
Sasuke kembali memejamkan matanya dan menekan kepala Naruto memperdalam ciumannya. Mungkin ia egois, tapi kalau bersikap begini dapat membawa kembali Naruto pada keluarga sesungguhnya, ia akan mencoba.
Setelah melepaskan diri, sang Uzumaki menghela nafas. Ia memang tidak bisa menolak ketika Sasuke sudah keras kepala begini.
"Aku lega putri kita baik." Sasuke memandang mata biru di depannya berusaha membaca, apa yang sedang di pikirkan pria pirang itu.
"Ayo kedalam," ajaknya ketika ia tidak bisa membaca apapun.
"Aku harus pulang." Sasuke jelas terkejut. "Bagaimana dengan Hinata?" Tanyanya geram.
"Besok pagi-pagi aku akan kesini." Ia memang tidak tahu apa yang di pikirkan oleh mantannya ini. Ia tahu Naruto sedang menyembunyikan sesuatu. Pria itu mencintainya dan juga entahlah apa yang sedang di pikirkannya.
"Naruto…" Sasuke diam sebentar, ia meneguk air liurnya. Ia sebenarnya tidak pandai mengulang kata, apalagi kalau itu adalah permohonan.
"Kalau besok kau kembali. Apa artinya kau benar-benar kembali ke rumah ini?" Naruto mengepalkan kedua tangannya, apa yang harus ia katakan pada lelaki yang paling ia kasihi ini? Ia bimbang.
"Kalau kau tidak bisa bilang pada Sakura, aku akan membantumu. Aku akan bicara padanya."
"Jangan!" Seru Naruto tiba-tiba. "Aku akan bicara sendiri!" ucapnya dengan panik, Sasuke mengernyit dahinya tidak paham.
"Oke, baiklah" ia tidak membantah, itu artinya Naruto benar-benar akan kembali padanya. Syukurlah kalau begitu.
.
Naruto membawa mobilnya dengan perasaan yang tidak menentu. Sekarang apa? Apa yang harus ia lakukan?! Semua karena kebodohannya! Karena ia tidak bisa menahan diri
Siaaal! Ia memukul kemudi mengutuk isi kepalanya sendiri.
Tanpa ia sadari di belakang Sakura bersembunyi, sewaktu Naruto masuk kamarnya ia pura-pura tertidur, menyelinap masuk mobil ketika naruto lenggah.
Sakura tahu, suaminya hanya beromong kosong padanya! Ia mencintai Naruto… pria itu satu-satunya yang mengerti dia, pria itu satu-satunya alasan ia buat hidup! Selama ini semua orang memandang ia lemah, kotor dan menjijikkan, namun Naruto berbeda laki-laki itu menganggapnya ada. Sakura ada di dunia ini hidup dan bernafas.
Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun merebutnya! Tidak akan pernah!
Diam-diam perempuan itu tersenyum aneh, dalam kepalanya muncul ide yang menyeramkan.
Tbc
Satu cap lagi habis, mungkin besok langsung aku apdet. Jadi puasa gx da utang. Pura-pura gax ingat fic-fic yang lain.
