COME BACK HOME
PAIRING : NARUSASU
GENRE : DRAMA/FAMILY
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Pagi ini sempat membuat Sasuke tidak enak hati, bayangkan saat ia bangun pagi-pagi hanya untuk berdiri di depan pintu menunggu Naruto. Namun pria itu tidak datang, Hinata yang bersikeras sekolah padahal kondisinya tidak baik, diam-diam putrinya menangis ia tahu.
Namun ia bersyukur saat ia dan Hinata keluar, Naruto sudah ada di depan pagar dalam sebuah mobil. Tidak tahukah kalau ia sangat berterimakasih pada tuhan untuk kehadiran laki-laki itu.
Hinata berlari dan melompat dalam pelukan pria itu dengan senang, sebenarnya Sasuke juga ingin melakukan hal yang sama namun rasa gengsi menghalangi keinginannya itu.
"Ku pikir kau tidak datang." Naruto hanya tersenyum.
"Maaf terlambat." Ujarnya penuh penyesalan, Sasuke tidak ambil hati kedatangan pria itu saja sudah sangat ia syukuri.
"Apa tidak apa Hinata pergi sekolah?" Tanya Naruto khawatir, gadis berambut hitam itu menggeleng pelan.
"Hinata ingin ketemu Konan-sensei, ayah."
Kedua orang itu menghela nafas, Naruto memandang pria itu yang mengangguk pasti agar dirinya berhenti khawatir. Lagian Hinata itu keras kepala kalau di larang ia pasti nanti bakal bawel.
"Mau ku antar sekalian?" ia kembali bertanya, pria itu menggeleng pelan. Ada yang harus ia persiapkan di rumah dulu sebelum ke kantor, hari ini ada rapat khusus. Naruto kemudian tersenyum lalu segera pergi dengan mobil pribadinya.
.
Naruto tahu ia sudah melakukan hal fatal sejak kemarin. Mencium Sasuke, berjanji pada Sakura dan membuat anak semata wayangnya menderita dan juga memberi harapan pada satu-satunya pada lelaki yang paling ia cintai di dunia.
Tapi tetap saja kehadiran lelaki itu di kantornya membuat ia tidak tenang.
"Aku rasa perlu membantumu Naruto." Kurang ajar! Ini memang diluar kendalinya.
"Tidak usah, Sasu. Aku yang mengurusnya."
Lelaki berkulit putih itu memandang Naruto dalam diam, ia tahu lelaki itu sedang bimbang. Karena itu ia muncul di sini berusaha memantapkan pilihan Naruto sendiri.
"Aku sudah bicara dengan Sakura," ujar Sasuke enteng, ia memandang lekat-lekat pada mata biru yang mendadak terlihat sangat terkejut.
"K-kapan?" hanya itu yang keluar dari mulut Naruto, ia bahkan tidak bisa berkata apalagi tubuhnya terasa kaku.
"Tadi, di sekolah Hina-chan." Terus ia melanjutkan.
"Ia bilang ia mengerti dan mau mengalah, aku tidak tahu Sakura wanita sebaik itu. Aku sudah salah menilainya." Mulut Naruto terbuka sekarang, ia mulai khawatir.
"Jadi… nanti jemput Hinata dan bicara baik-baik padanya." Bagai di sambar petir Naruto terlonjak dari kursinya dan menerjang Sasuke, ia mencengkeram kedua belah bahu kokoh laki-laki itu.
"M-maksudmu Hinata bersama Sakura?" Sasuke mengangguk dahinya mengerut karena melihat wajah kalut si pirang.
"Bodoh! kenapa kau biarkan anak kita bersama wanita sinting itu!" Naruto berteriak keras, sekarang ia mondar-mandir tak tentu arah. "Sinting?" Tanya Sasuke kurang paham, kedua tanganya ia silangkan ke dada ketika tak mendapat jawaban. Naruto malah sibuk sendiri menelpon seseorang.
Tadi sebelum Sasuke ke kantor mantan suaminya ini, ia menjemput anaknya namun di sana ia bertemu Sakura. Memang sebenarnya Sasuke sudah berniat ingin bicara dengan istri mantan suaminya, karena ia tidak terlalu yakin dengan si pria pirang. Dan gadis itu datang sendiri ke sini.
Awalnya ia berpikir wanita itu pasti akan marah saat ia bilang bahwa ia menginginkan Naruto kembali. Ia tidak menyangka ternyata Sakura sangat pengertian, ia bilang sebenarnya ia tahu kalau Naruto masih sangat mencintai Sasuke. Karena itu ia akan melepaskan Naruto dan mengembalikan padanya.
Ia juga meminta waktu pada Sasuke dan ingin menghabiskan waktu dengan suaminya dan Hinata untuk terakhir kali. Tentu saja si lelaki cantik tidak sanggup menolak permintaan itu.
Jadi kenapa sekarang Naruto sepanik itu?
"Apa! Terbang! Sayang, tenanglah ayo kita bicara lagi." Mohon Naruto membuat Sasuke kembali mengerutkan dahinya, ia geram sebenarnya yang menjadi masalah di sini adalah Naruto. Ia berniat tidak ? meninggalkan Sakura dan kembali padanya dan Hinata.
Saat Naruto menutup ponselnya ia mengarahkan tatapan tajam pada Sasuke. "Semua salahmu! Sakura sekarang ingin terbang bersama Hinata, " tuduhnya.
"Maksudmu mereka berada di taman bermain?" Sasuke masih tidak paham. Apalagi yang ia pikirkan kecuali wanita itu mengajak putrinya bermain di wahana mungkin? Naik bianglala atau komedi putar. "Bodoh kau Sasuke! Ia akan bunuh anak kita." Teriaknya geram.
"Mana mungkin." Pria itu tersenyum sedikit, tidak percaya. "Kau tidak kenal dengannya brengsek! Ia wanita gila." Naruto bergegas menarik tangan Sasuke dan segera keluar dari kantor setelah sebelumnya meneriaki sekretarisnya untuk mendial semua tugasnya.
Ketika mereka sudah berada di dalam mobil dengan laju yang cepat karena Naruto sudah tancap gas sedari tadi. "Hei Naruto apa yang kau katakan benar?" Tanyanya masih tidak percaya, wanita itu tidak terlihat jahat. Naruto mengangguk wajahnya lebih cemas daripada tadi. Mendadak ia juga ketakutan. Naruto sialan!
"Kalau memang gila kenapa kau menikahinya. BAKA!" teriaknya marah.
"Tentu saja untuk melindungi kalian berdua!" jawaban itu menyentak Sasuke, ia memandang lekat-lekat wajah panik pria di sampingnya yang mengemudi dengan kecepatan penuh, ia bahkan tidak sedar saat tubuhnya maju mundur karena Naruto menyalip mobil lain di depan. Suara klason dan kutukan-kutukan manusia tidak di gubris pria itu sedangkan Sasuke malah seperti mendengarkan suara lonceng surga.
Naruto menendang kaki Sasuke, "Jangan terpesona. kita harus menyelamatkan Hinata!"
"Bodoh." Ia menutup mukanya yang memerah bisa-bisanya ia terpesona begitu di saat begini
"Aku terpaksa menikahi Sakura karena ia mengancam akan membunuh kalian … juga bunuh diri. Aku pikir akan jadi pahlawan dengan menolong kalian bertiga. Ternyata aku salah… kalian bertiga malah menderita karenaku."
Sasuke tertegun, ia lupa lelaki yang empat tahun lalu menikahinya adalah sesosok manusia berbudi tinggi. Jangan-jangan karena ingin melindungi ia dan Hinata juga Sakura, Naruto melakukan hal ini. Sial ia merasa buruk. Mungkin ini juga salahnya andainya dulu ia tidak termakan mentah-mentah fitnah Itachi atau karena cemburu butanya mungkin mereka tidak akan mengalami hal ini.
"Kira-kira tempat yang bagaimana untuk terbang?" Tanya Naruto tiba-tiba, Sasuke berpikir sebentar walaupun tidak mudah berpikir jernih saat kalut begini.
"Gedung!" Serunya tiba-tiba. "Benar gedung! Tapi gedung yang mana! Anak setan!" Umpat Naruto kemudian.
"Kepala udang! Bukan kau yang harus berpikir di mana kira-kira Sakura membawa Hinata!SAKURA ISTRIMU TOLOL!" Naruto nyengir mendengar serapah lelaki itu, setidaknya ia sedikit berpikir jernih setelah itu.
"Iya… iya kepala ayam … " Lalu Naruto ingat perkataan Sakura yang pernah bilang tentang salah satu gedung favoritnya, maka tanpa buang-buang waktu Naruto mengebut lebih cepat lagi. Sekarang Sasuke lebih focus.
…
"Lepas!" Gadis kecil memberontak dalam dekapan Sakura sambil menangis. Wanita itu tertawa seram.
"Ha…ha.. tenang saja gadis manis. Kita berdua akan pergi bersama ke akhirat dengan begitu papa dan ayahmu akan bersama … ha…ha…" Gadis kecil itu makin ketakutan apalagi tubuhnya sudah semakin terdorong pada pembatas.
Sedangkan wanita beriris hijau malah tertawa tidak waras.
"Hinata tidak mau!" gadis kecil terus memberontak, ia makin ketakutan ketika ia bisa melihat ke bawah gedung tangisannya makin pecah. Namun tidak diindahkan oleh wanita itu, cengkeraman Sakura bukalah lawan yang sepadan dengannya.
Kalau sekiranya papa tidak menyuruhnya menemani si bibi ini dan iming-iming es krim. Ia tidak pernah mau.
"HE…HE… jangan takut kita kan membahagiakan kedua orang tuamu Hinata-chan." Sakura terbahak dengan keras.
"Jangan Sakura!" Teriakan Naruto yang muncul mendadak dari pintu membuat seringai Sakura semakin besar, Sasuke segera mematikan ponselnya. Ia menghubungi Itachi meminta bantuan. Jantung Naruto berpacu dengan cepat melihat anak dan istrinya ingin terjun ke bawah, ia menggerakkan kedua tanganya untuk menenangkan istrinya.
Sedangkan pria emo di sampingnya, mulai memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan untuk menolong putrinya.
"Ayah! Papa! Tolong Hinata." Gadis kecilnya merasa lega melihat kedua orang tuanya, ia menggapai-gapai kedua tangannya. Sakura menarik tubuh kecil itu sampai pada tepi lantai gedung, untung ada pembatas di sana kalau tidak mungkin tubuh kecil itu akan meluncur ke bawah.
Keadaan itu membuat Naruto dan Sasuke panik seketika.
"Istriku, tenanglah! Semua ini salah paham. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah. Percayalah." Naruto bicara terlalu cepat, membuat Sakura memicing matanya. Marah.
"Bohong! Kau bohong!" Kemudian ia tersenyum manis, "Tapi tenang saja, Naru-kun. Kau bisa bersama Sasuke. Setelah aku dan Hinata mati." Kemudian wanita itu tertawa aneh, Sasuke mengepalkan kedua tangannya erat. Naruto benar, wanita ini sinting! Sial dapat dari mana Itachi menemukan perempuan seperti ini?
"Salah." Naruto mulai berbicara lunak ia berusaha mendekat. "Aku tak akan kembali pada Sasuke. Percaya padaku."
"Jangan mendekat! Atau aku akan langsung terjun bersama Hinata!" Ancamnya membuat pekikan si gadis kecil ketika tubuhnya terus di dorong, seketika Naruto menghentikan pergerakan Sasuke yang sepertinya mendekati Sakura.
"Sayang." Naruto terus membujuk, Sasuke sudah mulai jengah. Pria pirang itu memberi isyarat pada Sasuke untuk tidak bergerak biar ia menyelesaikan semua ini.
Naruto berusaha mendekati lagi sambil terus berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan perempuan itu, butuh sedikit waktu lama untuk menenangkan wanita itu. Hampir saja batas kesabaran Sasuke habis.
Naruto memeluk tubuh ringkih wanita itu, lalu memberi isyarat pada Sasuke untuk mengambil putrinya. Dengan cepat Sasuke bergerak lalu mengambil Hinata dan menggendong putrinya, perasaannya seketika lega gadis kecil itu menangis keras dalam rangkulannya.
Naruto melepaskan pelukan dan menyapu kedua air mata Sakura yang menangis mendadak.
"Sakura-chan aku pernah bilangkan, cukup percaya padaku dan semuanya akan baik-baik saja." Si wanita melihat Naruto lekat-lekat namun saat menyadari Sasuke di samping pria itu, ia kalap lagi.
Ia menarik tubuh Sasuke beserta Hinata untuk terjun ke bawah, Naruto berteriak keras. Sasuke yang kalut menendang tubuh perempuan itu sampai menabrak pembatas, tubuhnya terjungkal kebelakang dan jatuh ke bawah dengan cepat.
"kyaaaaaaaaaaaaaa!"
Dan suara barkkk mengakhiri lolongan panjang itu.
"S-Sasuke." Naruto terlalu syok, "Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak sengaja" jawabnya datar sambil menenangkan Hinata yang terkejut, setelah itu Itachi datang dengan Konan dan Sasori.
"Dimana perempuan sinting itu?!" Tanya Itachi cepat, namun di sana hanya ada Naruto dengan wajah horor menatap ke bawah, beserta adiknya yang berwajah lega menepuk punggung anaknya.
"Jatuh ke bawah." Ujar Sasuke santai yang membuat tiga orang di sana hanya melonggo.
Keributan besar terjadi di bawah gedung, jasad Sakura sudah tidak bisa lagi di jelaskan bentuknya. Naruto menatap miris merasa bersalah sekaligus lega. Mungkin ini perasaan jahat tapi rasanya beban beratnya terangkat begitu saja.
Ia bersumpah ia yang akan menanggung semuanya. Ia tidak akan menyalahkan Sasuke, kalau masuk penjara biarlah ia yang menerima hukumannya.
"Selamat siang." Naruto tidak terkejut ketika dua orang polisi menghampirinya.
"Nama saya Kapten Deidara dan ini partner saya Tobi."
"Kami perlu keterangan anda berdua selaku saksi sebelum korban mati." Naruto tersenyum lega, perasaannya bebas entah kenapa. "Saya sendiri yang jadi saksinya pak, Sasuke tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini."
Kemudian ia merasakan sakit di rusuknya, Sasuke memukul perut pria itu matanya tajam memandang ke arahnya. Memberi isyarat jangan bertindak bodoh! Jangan menanggung semua sendiri.
"Saya juga disana pak, saya yang akan menjelaskan semuanya."
.
"Kenapa tidak pernah cerita?" Naruto memandang orang di sebelahnya, ia mengenggam tangannya erat.
"Sudah ku bilangkan, aku ingin melindungi kalian … walau tidak berhasil." Pria di sampingnya yang berkulit putih ikut menggenggam tangan yang setia mengelus jari-jarinya.
"Naruto apa kau masih mencintaiku?" Mungkin ini memalukan bagi Sasuke untuk bertanya, tapi ia tidak tahan. Lelaki di sampingnya terkekeh.
"Itu sudah tidak perlu di pertanyakan! Apa ciuman kemarin tidak sampai?" pria emo itu tersenyum kecil, dalam sekali gerakan ia menduduki paha Naruto. Mungkin ia juga lupa ada di mana mereka sekarang.
"Jadi… sekarang tidak perlu ditahankan? … ah…" ia mengesek pinggang pasangannya dan mendesah sendiri, Naruto kelabakan.
"S-Sasu … kita sedang di dalam mobil … po…" Si pirang tidak bisa meneruskan kalimatnya lagi saat Sasuke berpose mengigit jari tengahnya dan mengusap dadanya sendiri yang dua kancing kemeja sudah (entah kapan) terbuka.
"Aku sudah tidak tahan."
Sial! Ia memang lelaki penggoda.
Setelah itu ia juga mungkin sudah tidak peduli kalau mereka sekarang ada di mana, ia hanya fokus pada ciuman memabukkan yang Sasuke tawarkan. Tidak peduli pada dua polisi yang horor di depan.
"Woi…woi ini mobil polisi tuan-tuan! Kalau anda ingin melakukannya tolong …" Kapten Deidara sudah tidak bisa meneruskan ucapan pada dua sejoli dibelakang yang sudah mabuk cinta.
"Uhhh… Naru!"
"AAAAAAAAAA! Tolong jangan lakukan itu di sini!" Sang Kapten depresi, partnernya yang lagi mengemudi tiba-tiba melenguh. Sebelah tangannya mencengkeram celananya sendiri, di balik topeng yang dipakainya matanya berkabut memandang kaptennya.
"Kapten, Tobi tidak tahan juga." Apa yang terjadi padanya hari ini? Apa hari ini adalah kamis sial?
"Enghhh… Naru more!"
"Tolong Tobi. Kapten."
"UWAAAAAAAAAAAAAAA! CARI KAMBING SANA!"
END
Omake
Itachi memandang perempuan di sampingnya dengan heran, tidak kah ia tahu kalau ia panik tau adiknya ada di kantor polisi.
Kenapa malah menyeretnya kesan-kemari bermain dengan Hinata di taman bermain. Dan sepertinya keponakan manisnya ceria kembali dan melupakan sepenuhnya kejadian dua jam yang lalu.
"Paman beli aku es krim."Pinta keponakanya manja, ia menghela nafas.
"Konan, aku harus menemani adikku."
"Ada Naruto."Jawabnya cepat, kemudian ia langsung menyeret pria itu dan calon keponakannya membeli tiga es krim.
"Aku tak suka makan dingin."
"Aku khawatir pada Sasuke" lanjutnya, Konan menyipit matanya lalu mengangkat Hinata yang asyik menjilat es krimnya. Gadis kecil itu melihat bingung saat ia di pindahkah pada pangkuan Itachi.
"Hinata-chan katakan pada sensei, siapa yang paling Hinata sayangi."
Gadis kecil itu memandang lucu dengan mata bulatnya. "Ayah dan papa." Konan tersenyum puas lalu menyeringai ke arah Itachi.
"Kau lihatkan. Apa kau mau mengusik kebahagian keponakanmu? Biarkan Naruto yang menyelesaikan semua. Ia tidak akan membiarkan apapun yang menyakiti adikmu." Itachi ikut menyipit mata. Percuma berbincang panjang lebar lagi, ia pasti bakal di ceramah seperti tadi.
Ia baru tahu sifat baru Konan ini, rasanya dulu wanita itu tidak pernah mengomel selalu menuruti permintaannya.
Gadis itu tadi mengomel hampir sejam membuat kupingnya panas. Katanya ini salahnya karena mengenalkan wanita sakit jiwa pada keluarga adiknya, jadi sekarang Itachi tidak berhak lagi mengatur atau mencampuri urusan adiknya. Ah… ia sudah berusaha menerimanya. Jadi tolong jangan mengomel lagi.
"Kyaaa! Hinata-chan ayo kita coba naik itu." Kenapa malah perempuan itu yang menikmati semua ini, keponakannya berbinar juga. Pada akhirnya ia kembali di seret.
"Aku benci naik bianglala."
Ia rasa nanti di kehidupan mendatangnya, ia harus terbiasa dengan suara berisik perempuan itu.
"Paman! Aku mau naik itu, itu! dan itu!" Adakah yang bisa memberitahu kalau ia benci dengan taman hiburan.
tamad
jangan anggap ini gantung. Anggap saja mereka nggak di tangkap karena pandai berkelit lidah. He… he… gax pandai biking ending. ^^
special buat aicinta si review sejatinya NARUSASU (kau tahu sebenarnya kau pahlawan di pair ini) terimakasih banyak telah mendukung serta muncul di fic senior maupun junior. Dan tentu saja special buat…
yang udah ripiu kalian juga pahlawan! : YoungChanBiased, InspiritWoohyunI, Dewi15, , Kuro Rozu LA, Naminamifrid, shanzec, suira seans, InfinitelyLove, lover NARUSASU NARUGAA, justin cruellin, Tomoyo to Kudo, Aoi Blues, Ini nama, airahara, aicHanimout, Akira, aicHanimout, Ara, breaking down, Anggi736, Kuro Rozu LA, chiimao13, oka, Oranyellow-chan. Esya. , sekikaoru. Berserta guest yang udah ngedukung aku.
Yang follow dan fav
Story: Come Back Home, is on the favorites list of following users
Akira Kyouya
06-11-2015
Anggi736
06-10-2015
Black LIly no Emiko Eva
01-10-2015
ChientzNimea2Wind
12-24-2014
Cloud the First Tsurugi
12-24-2014
ColdGreen
08-29-2014
Dewi15
09-30-2014
Dodomppa
06-10-2015
HanaHanami69
06-10-2015
Kitsune Syhufellrs
08-27-2014
Kuro Rozu LA
12-31-2014
Lagi Malas Login
09-08-2014
Matsuoka Rose
02-03-2015
NaluCacu CukaCuka
03-17-2015
Naminamifrid
08-30-2014
Oranyellow-chan
03-17-2015
PhoenixBoy3
12-24-2014
Seth Chaos
08-26-2014
Siti257
08-30-2014
Tomoyo to Kudo
08-26-2014
YoungChanBiased
10-05-2014
Yuu Yume
03-18-2015
anclyne
01-31-2015
andiiramayana
04-27-2015
angelkyute56
03-16-2015
.52
03-20-2015
chiimao13
06-10-2015
03-31-2015
.1
03-25-2015
justin cruellin
08-28-2014
kaisoo1
06-11-2015
komomiki21
03-18-2015
lover NARUSASU NARUGAA
12-25-2014
ming cantik
05-12-2015
musriaya
04-02-2015
.12
06-10-2015
.75470
12-24-2014
nur. .3
08-27-2014
onyxsapphiretomatjeruk
09-17-2014
12-24-2014
09-06-2014
shanzec
09-30-2014
suki da shaany
02-06-2015
uchihaenji935
08-29-2014
vichang
01-10-2015
zielavienaz96
06-11-2015
