.

At Least, There is Still You

.

Author : Za Khazakaizzz

Title : Dangshin igie "at least there's still you"

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum (HaeBum)

Support cast : Kyuhyun, Sungmin (KyuMin)

Ratet : T

Desclimer : all cast is belonging theirself, but this fiction is mine. Cuma pinjem judul lagunya Suju M buat judul FF ini.

Warning : Gander Switch for Kibum, Sungmin, Ryeowook and Heechul

\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

ooo000ooo

.

Chapter 2 : The Fault

Author pov

Kibum masih berkutat dengan aktivitasnya, meski sudah lebih dari 5 jam ia bersama 'kekasih'nya tersebut, namun ia tidak kunjung bosan untuk terus memperhatikan bagaimana deretan angka rumit yang tertera di sana.

Ya, dia memang sedang bersama 'kekasih'nya. Tumpukan buku yang begitu tebal dengan angka-angka yang sedang ia kerjakan.

Tidak seperti saat ia sedang belajar biasanya, malam ini kibum kurang sedikit fokus dengan hal yang sudah menjadi hobinya tersebut. Terbukti dari helaan nafas yang terusa saja ia lakukan dengan berat.

Matanya tetap pada lembar di atas meja, tangannya tetap menggurat di atas kertas tersebut, sementara fikirannya terbagi menjadi dua. Sebagian kecil ia gunakan untuk berfikir agar soal-soal dihadapannya mudah terpecahkan, dan sebagian besar fikirannya melayang jauh membayangkan kembali memorinya bersama seseorang.

.

Hari itu, guru mata pelajaran bahasa inggris sepertinya hampir lupa ingatan bahwa jam belajar para muridnya telah habis 15 menit yang lalu. Aroma senja yang indah di ufuk barat sana sudah tenggelam dan tergantikan dengan nyanyian senyap hewan-hewan kecil pengiring malam.

Dengan tubuh yang sedikit terseok, kibum tetap berjalan. Ia baru saja berpisah jalan dengan sungmin, heechul dan juga ryeowook. Ia mencoba menghubungi orang-orang di rumah agar menjemputnya, namun sayang melihat kondisi ponselnya saat ini sepertinya itu mustahil.

"kenapa batereinya harus habis di saat seperti ini? Aku lelah sekali kalau harus berjalan sampai rumah" keluhnya.

Dengan masih dalam keadaan yang lesu, ia terus berjalan. Membawa beban yang berat di dalam tas punggungnya itu. Seketika matanya berbinar saat melihat telefon umum yang berdiri dengan tegak di seberang jalan sana.

Tangan-tangan mungilnya menekan 8 angka yang ia yakini dapat tersambung dengan rumahnya. Beberapa kali ia terus menekan dan mendengarkan nada yang keluar dari speaker telepon umum tersebut. Dan beberapa kali juga ia terus menghela nafas kesal karena tidak ada yang menjawab telfonnya.

"hey… sedang apa di sana?" ia mendengar ada seseorang dari luar kotak telefon umum berteriak cukup kencang. Seperti mengenali suara tersebut, tapi ia mengabaikannya dan tetap mencoba menghubungi telfon rumahnya.

Hingga tanpa sadar, bahkan ia juga tidak merasakan ada pergerakan lain dari pintu telefon umum tersebut. Ada seseorang yang juga masuk ke dalam kotak telefon umum dimana dirinya berada.

"si-siapa kau?" tanya kibum dengan sedikit berteriak.

Ia tidak berani untuk membalikan tubuhnya. Dirinya terlalu takut untuk melakukan hal tersebut, bahkan tangan kanannya saja masih setia memegang gagang telefon karena terlalu takut dengan seseorang yang berdiri di balik punggungnya.

Jantungnya mendadak bergerak begitu cepat saat melihat bayangan orang di belakangnya terlihat mengangkat tangannya, seperti sedang ingin memukulnya. Atau membunuhnya? Ia membuat kedua bola matanya semakin membesar. Hatinya terus berdoa dan bergumam mencari pertolongan. Sementara matanya sudah memerah ingin menangis karena ketakutan.

"AAAAAAAAK-" jeritnya membahana, mengisi seluruh ruangan sempit tersebut saat merasakan tangan kirinya ditarik paksa untuk berbalik.

Dan apa yang ia dapati?

Bukan pria bertubuh besar dan sangar. Bukan benda tajam yang berada di tangan orang tersebut. Dan tentunya bukan seperti apa yang ia fikirkan barusan.

Kibum tak sanggup lagi membendung air matanya saat mendapati donghae lah yang sejak tadi berdiri di balik punggungnya, donghae yang menarik tangannya agar berbalik dan donghae juga yang kini berada di hadapannya. Tersenyum begitu lembut dengan sepasang matanya yang berbicara kekhawatiran.

"gwaenchanna?"lirihnya pelan.

Donghae tidak mendapatkan jawaban apapun dari suara indah kibum. Tapi, matanya menangkap ada sesuatu yang akan menetes dari balik manik indah di hadapannya. Membentuk bulir-bulir kecil yang membasahi kulit lembut tersebut.

~I loved you from the start, you know
It's never gonna change
I swear to god~

Bisik-bisikan angin malam yang berhembus masuk melewati celah, masuk ke dalam kotak telefon umum tersebut. Sepasang tangan yang membingkai wajah kibum, dengan penuh kasih mengusapnya, menghilangkan jejak kesedihan di sana.

~malmuneul mangneun hansum mari eomneun ipsul
geu sigane seon neowa na (geu gose)

amudo eomneun bit sok
honjaman nameun usan
geu heojeonhame meomchwoseo

gwireul makgo anil geoya
nuneul gama amureochi anheun cheokhae bojiman
I know

waenji moreuge nun ape biga naerigo
geudaero nan amu mal hal su eobseosseo haruman~

Butir demi butir hujan terus menetes, membanjiri bumi yang tidak terlalu kering. Menebar suhu dingin yang menusuk kulit, membuat penghangat sebagai hal pertama yang dicari oleh setiap orang.

~meoreojineun gureumeul jabajwo
neoreul magaseon bitmuri meotji anke
heulleoganeun i siganeul tto jabajwo
i sunganeul meomchwo sarangi meotji anke

Oh, haneureun meokgureume nunmureul ssodanaego mongnoha bureujiman ne ireumeul
dameun meari majeo bissorie jamgyeo nal samkyeodo gwaenchanha
simjangeun jeotji anha, sarangeun meotji anha~

Mereka bersentuhan. Sebuah ciuman yang entah siapa yang memulainya, hingga keduanya larut dalam kegiatan tersebut di tengah dinginnya hujan yang sedang mengguyur. Telinga mereka terlalu tuli untuk mendengarkan semuanya, bahkan mereka juga teralu tuli untuk mendengar detak jantung masing-masing.

~beonjineun gieogeul ssiseonaeji ma (jiwonaeryeo hajima)
ieojin kkeuneul nogiryeo haji ma (kkeunheonaeryeo hajima)

eoreum gateun biga simjange bakhyeonna bwa i kkeuchi eomneun Raining spell
naege doraoneun jumuni doendamyeon,
doraondamyeon on momi jeojeodo gyeondil su isseul tende~

Tetap seperti itu. Kedua tangan donghae menambah sensasi mesra keduanya dengan memegang pinggang kibum yang sedikit berjinjit untuk menggapai wajah donghae.

Seperti tersadar akan sesuatu, sepasang tangan cantiknya yang sejak tadi berada di depan dada donghae, mendorong pria tersebut agar melepaskan kontak ciuman diantara keduanya. Wajahnya tertunduk merona.

"mi-mianhae" gumamnya.

~meoreojineun gureumeul jabajwo
neoreul magaseon bitmuri meotji anke
heulleoganeun i siganeul tto jabajwo
i sunganeul meomchwo sarangi meotji anke

soneul ppeodeodo
keuge bulleodo
peobutneun bi teume huimihaejyeo Oh mam soge
chamatdeon nega dasi ssodajyeo
nunmuri eonjejjeum geuchil su isseulkka~

Sudah kubilang, keduanya tadi terlalu tuli. Hingga tidak menyadari sama sekali bahwa di luar tengah hujan cukup lebat. Membuat keduanya sedikit terkejut saat tahu kalau ternyata hujan sudah turun sejak lama. Membuat keduanya mau tidak mau harus menembus hujan untuk sampai rumah, mereka tidak terlalu bodoh untuk memilih tetap berada di telefon umum berdua, bukan?

~meoreojineun gureumeul jabajwo
neoreul magaseon bitmuri meotji anke
heulleoganeun i siganeul tto jabajwo
i sunganeul meomchwo sarangi meotji anke

irheobeorin neol chaja hemaeda neoreul nohajun
bitmureul wonmanghaedo majimak heullin han bangureul dama
nae du nuneul gama sarangi meotji anke~ (Super Junior – Raining Spell For Love)

Motor besar dengan warna hitam yang mendominasi, melaju dengan sangat cepat. Menerobos hujan yang berteriak meyuarakan kebersamaan sang pengemudi dan juga seseorang di belakangnya.

Berlipat kali roda yang berputar terus meninggalkan jejak di sepanjang jalan raya yang dilaluinya. Membawa beban kibum yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung donghae dengan erat. Enggan untuk membiarkan wajahnya terkena air hujan yang begitu dingin.

Donghae melirik sepasang tangan yang tak lepas dari pinggangnya. Pasang tangan ituterus mengait dengan erat. Membuat dirinya menempel dengan erat juga. Entah itu perasaan apa yang muncul, tapi bibirnya tidak berhenti tersenyum. Membawa damai tersendiri di hatinya.

.

Diam-diam kibum tersenyum merona saat melihat sebuah jaket berwarna biru dengan beberapa perpaduan warna putih menggantung di dekat lemarinya. Jaket yang donghae pinjamkan padanya saat mereka pulang bersama malam itu. Saat hujan. Dan saat ciuman itu terjadi.

Semua memori itu kembali terasa, hadir dalam sebuah takdir bernama mimpi. Mimpi yang begitu indah, membuat sang pemimpi menyambut hari dengan penuh senyum. Berharap memori itu akan terukir lagi di hari-hari yang akan ia lalui esok dan seterusnya.

"sepertinya ada yang sedang bahagia" sindir sungmin saat bertemu kibum di depan gerbang sekolah.

Kibum hanya membalasnya dengan senyuman yang sangat manis. Tangannya yang memegang sebuah jaket, semakin ia pegang dengan erat kemudian memeluknya.

"ahhh… apa ini ada hubunganya dengan jaket itu?" kibum mengangguk dengan cepat.

Sungmin hanya menangkap pasti jaket itu milik donghae. Karena memang siapa lagi yang sedang dekat dengan kibum? Tapi, ia juga harus minta kejelasan apa yang sudah donghae lakukan hingga membuat sahabatnya nyaris seperti orang gila. Tersenyum sepanjang jalan menuju sekolah. Bahkan saat berada di koridor juga masih saja tersenyum, padahal tidak ada siapa-siapa di lorong jalan tersebut.

"tidak, kyu. Aku sudah berada di sekolah. Maaf ya aku berangkat lebih dulu. PR ku masih ada yang belum selesai" sungmin membalas sebuah pesan dari kyuhyun.

Memang, akhir-akhir ini kyuhyun sering menjemput sungmin dan mengantarnya pulang. Mungkin lebih tepatnya setelah mereka pulang bersama saat acara chuseok di sekolah beberapa hari yang lalu.

Dan semenjak saat itu pula hubungan keduanya menjadi lebih dekat. Setidaknya sungmin tidak lagi menghindari kyuhyun untuk sekedar berbicara dengannya, atau bahkan dapat dikatakan kalau mereka sudah tidak lagi canggung jika masuk dalam dunia mereka berdua. Seperti sekarang ini, saling berbicara lewat pesan singkat di ponsel masing-masing.

"tidak usah. Aku akan bertanya pada kibum saja" ia kembali membalas pesan kibum yang menawarkan dirinya untuk membantunya mengerjakan tugas tersebut.

Ia masih terus sibuk dengan ponselnya. Membiarkan dirinya tertinggal di belakang kibum yang terlalu antusias untuk sampai ke kelas. Dan tentunya, ia juga tidak terlalu memperhatikan jalan dan kondisi di depannya.

.

Bruk

.

Tanpa di sengaja, sungmin menabrak punggung kibum yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Kedua alisnya berkerut bingung ketika melihat wajah kibum berubah sendu.

"kibum-ah, wae geurae?"

Kibum tidak menjawab. Matanya terus menatap kedepan. Dan perlahan, warna putih di sekitar pupil hitam matanya berubah semakin memerah seperti menahan tangis. Hal tersebut tak urung membuat sungmin semakin kebingungan. Bukankah tadi kibum tersenyum tanpa sebab? Dan sekarang kenapa hampir menangis tanpa sebab? Aneh sekali.

Mereka berdua terus larut dalam fikiran masing-masing. Kibum dengan fikirannya yang terbang melayang kembali mengingat bagaimana tadi donghae dan jessica keluar dari lab, dan sungmin yang tentunya dengan fikirannya mengenai perubahan mood kibum pagi ini, hingga tanpa sadar ada seseorang yang sudah ada di hadapan mereka.

"hai, sedang apa di sini?" tegur orang tersebut.

Wajah kibum memerah seketika mengetahui jarak yang cukup dekat dengan orang tersebut. Belum lagi ia juga melihat goretan senyum di wajah manis pria tersebut. Kalau boleh, kibum ingin pingsan saat ini juga. Kakinya begitu sulit untuk ia gerakkan.

"a-ah,, tidak.. tidak apa-apa" kibum menyela dengan cepat.

Rasa lumpuh kakinya kembali menjalar, membuatnya teringat akan jaket yang ia pegang sejak tadi.

Semua rasa yang sempat menusuk hatinya seakan musnah seketika saat donghae beralih berada di dekatnya, menatapnya dan tersenyum tulus padanya. Semuanya begitu cepat terjadi, hingga ia tak menyadari apapun dan tidak merasakan yang lain selain keberadaan rasa yang membuatnya nyaris seperti orang gila.

"aku ingin mengembalikan jaketmu yang kemarin kau pinjamkan" donghae menerima jaket yang diulurkan oleh kibum, ia memegangnya erat dan menghidup aroma yang menguar dari jaket tersebut. "heummmm... wangi kibum ^^" ujarnya.

Sadarkah donghae? Kau membuat gadis manis di hadapanmu semakin tidak sanggup melakukan apapun, bahkan bergerak pun sudah tidak bisa. Kibum menanggapinya dengan tersenyum kaku, terlihat sekali kalau ia sedang menahan rasa yang sedang ia rasakan mati-matian.

"k-kau berlebihan"

"kau sudah sarapan?"

"ne?" pabo! Sudah jelas tadi donghae menanyakannya mengenai sarapan, ia malah bertanya balik. Apa nervousnya itu juga berpengaruh pada pendengarannya?

"sarapan. Kau sudah sarapan?"

"b-belum. Eomma dan appa belum pulang"

"kalau begitu, ayo kita sarapan bersama"

"hah?" dengan cepat, donghae menarik tangan kibum untuk ikut bersamanya ke kantin. Mengingat ia sendiri juga belum sarapan, jadi bisa ada temannya pagi ini.

Sungmin membiarkan kibum untuk menikmati waktunya bersama donghae, meskipun ia juga sedikit sebal karena sejak tadi merasa diabaikan dan merasa kalau keberadaannya tidak dianggap. Menyebalkan sekali.

Karena itulah, ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda (read : smsan dengan kyuhyun)

.

Minggu-minggu ini sudah sedikit terlepas dari kejamnya jam pelajaran matematika untuk murid kelas akhir, karena selain mereka juga sedikit senggang dari jadwal matematika yang dipadatkan, mereka juga mendapatkan tambahan yang lebih padat, yaitu proses penyelesaian pelajaran produktif. Betapa akan menjadi hari yang lebih 'menyenangkan' bukan?

"kau ingin ke ruang Shin Seonsaengnim juga?" sapa kyuhyun dengan suara beratnya yang khas di telinga kibum.

"ne, kau ingin ke sana?"

"tentu saja! Laporan ini begitu menganggu mataku" ia melirik tumpukan laporan yang dimaksud adalah milik teman satu kelompoknya.

Kepala Jurusan memang membagi menjadi beberapa kelompok agar pekerjaan mereka lebih teratur saat dikumpulkan nanti ketika ujian praktek produktif tiba.

Kibum yang mendapat teman untuk pergi bersama, merasa sedikit lebih senang. Terlebih lagi itu kyuhyun, teman yang cukup dekat dengannya.

Mereka terus berbincang bersama untuk mengisi kekosongan waktu diantara keduanya. Walau memang sebenarnya tidak ada hal penting dari semua pembicaraan mereka, tapi setidaknya seperti itu lebih baik.

Kyuhyun sesekali terkikik karena berhasil menggoda kibum dengan berulang kali mencoba membahas mengenai teman sekelasnya, lee donghae. Ia dapat melihat rona merah khas orang yang tersipu menghiasi pipi halus kibum. Aish, sungguh menyenangkan bisa menggodanya.

"hahahakau tahu? Setiap saat dia selalu menanyakan dirimu, kibum-ah" dan lagi, kibum hanya menunduk malu mengetahuinya dari kyuhyun.

"kau berbohong" meski berkata seperti itu, namun kibum tetap berharap yang dikatakan kyuhyun benar.

"itu be-"

'Astaga apa yang sedang mereka lakukan?' kyuhyun menghentikan langkahnya tiba-tiba.

Dengan cepat, kibum merasa bahwa tubuhnya seperti ada yang memutarnya hingga kini ia berdiri dengan berbalik arah dari tujuannya. Siapa pelakunya? Ternyata itu kyuhyun.

"eh? Ada apa?" kibum tidak mengerti kenapa tiba-tiba kyuhyun memutar balik tubuhnya.

Dan di saat kibum yang merasa penasaran dengan sikap aneh kyuhyun, namja tersebut kembali bersikap lebih aneh dengan menahan kepala kibum yang tadi ingin menoleh ke belakang. Kyuhyun menahan wajah itu dengan tangan kanannya yang memegang pipi kiri kibum.

"kyu. Kau ini kenapa? Memangnya ada apa di belakang?" kibum tahu, pasti ada yang tidak beres. Raut wajah kyuhyun bukanlah seperti orang aneh. Ia sadar itu. Air wajahnya menggambarkan kekhawatiran.

"tidak. Kau harus menurut padaku. Kita lebih baik kembali ke kelas saja. Berkas-berkas ini kita berikan nanti saja sebelum jam pulang sekolah"

Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. Sebenarnya agak mencurigakan juga, ini memang benar-benar terasa ganjal bagi kibum. Kyuhyun terus berada sangat dekat di samping kirinya.

Belum berapa langkah, kyuhyun sempat menoleh untuk kembali memastikan bahwa yang dilihatnya benar-benar donghae. Bukan namja lain. Minta dihajar rupanya pria itu.

Air mata itu menetes. Kibum yang mencuri lihat tahu kenapa kyuhyun memintanya berbalik. Rasanya sungguh sakit ketika menyaksikan orang yang kau cintai harus berciuman dengan wanita lain. Ini benar-benar menusuk.

Rasanya bingung sekali harus berbuat apa. Semua organ tubuhnya mendadak lemas. Kakinya dirasa tak sanggup lagi berjalan. Dan tangannya…

BRAK….

Semua berkas laporan yang sejak tadi di bawa oleh kibum, berhamburan mencium betapa dinginnya lantai koridor sekolah. Bahkan, sepertinya lantai itu kini juga telah menghisap tubuh kibum untuk tergeletak juga.

"kibum-ah" kyuhyun memanggilnya dengan suara yang parau.

Katakan! Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa? Kenapa aku harus mengalaminya lagi?

"kibum-ah, gwaenchanna?"

"um. Ayo kita ke kelas" kyuhyun mengangguk. Membantu membawakan berkas-berkas milik kibum, juga membantu kibum untuk berdiri.

Tanpa peduli lagi dengan apa yang dilihatnya barusan, kibum mencoba untuk lebih tegar walaupun tidak dapat dipungkiri, ban=yangan donghae yang sedang berciuman dengan jessica masih mengelilingi kepalanya. Kenapa sulit sekali untuk hilang?

.

Titik-titik hujan belum lama ini bergantikan dengan benda putih yang mencair kala menyapa alasnya. Tetesan indah yang dingin. Satu butir kecil bola salju jatuh di dalam telapak kibum yang hari ini sedang tidak tertutupi sarung tangan. Ia menggenggamnya ragu. Tidak peduli sedingin apa salju tersebut. Tapi ia ingin mencobanya. Mencoba menggenggamnya yang toh pasti akan lenyap juga.

Salju membuatnya senang. Sudut bibirnya tidak bisa untuk tidak tertarik. Senandung riang terus mengiringi kakinya yang tidak berhenti berloncat-loncat seperti anak kecil yang baru saja dapat mainan.

Namun, kesenangannya terhenti saat bertemu dengan sosok pria yang selama beberapa hari ini dihindarinya. Dengan ragu, ia memutar balik langkahnya untuk kembali menghindari pria tersebut. Tapi, belum sempat kakinya melangkah lebih jauh, tangannya dihentikan oleh seseorang.

"apa yang terjadi? Kenapa kau menghindariku?" kibum menutup matanya untuk tidak luluh dengan suara pria tersebut.

Kibum menghembuskan nafasnya berat, meyakinkan dirinya kalau ia akan baik-baik saja. Berbalik untuk menatap wajah itu dengan dekat lagi dengan penuh senyum percaya diri.

"anhi. Aku tidak pernah menghindar. Mungkin perasaanmu saja" jawabnya sedikit riang. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaan sakit yang tiba-tiba saja menusuk hatinya saat sekilas bayangan donghae dan jessica berciuman di samping ruang laboratorium kembali hadir.

"tidak. Kau memang menghindariku akhir-akhir ini"

"benarkah? Kapan, ya?" kibum mengerutkan alisnya mencoba mengingat-ingat, dan hal itu membuat donghae semakin kesal karena merasa dipermainkan oleh yeoja di hadapannya ini.

"pertama, bukankah kita sering bertemu di kantin? Bahkan kita juga sering satu meja, tapi sekarang kau lebih sering membawa bekal daripada makan di kantin bersamaku. Kedua, saat rapat ketua tim untuk tugas jurusan, kenapa kau pindah tempat duduk saat aku ingin duduk di sebelahmu?. Dan yang ketiga, kau selalu memutar arah jalan saat ingin berpapasan denganku, seperti yang tadi kau lakukan" donghae menjelaskannya, berharap agar kibum menyelesaikan permainan pura-pura tidak tahunya mengenai hal ini. Ia yakin, kibum pasti sengaja menghindarinya.

'Bagaimana ia menyadarinya?' batin kibum. Ia semakin bingung harus menjawab pertanyaan donghae dengan jawaban seperti apa.

"ah.. itu hanya kebetulan. Kau tidak usah berlebihan, donghae-ssi. Aku sama sekali tidak menghindarimu" lagi-lagi kibum mengelaknya. "ada yang lain? Aku sedang ada urusan, jadi aku pergi dulu ya"

Kau membuka luka itu lagi, donghae...

Kibum berbalik dan kembali berjalan pelan, tangan kanannya menggenggam bulu-bulu halus jaket di sekitar dadanya. Seperti menahan sesuatu. Ia pergi, kembali menjauh untuk menghindari dari donghae. Namun sebenarnya, perasaannya sungguh dekat dengan namja tersebut.

"kau tidak bisa membohongiku. Katakan apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Apa aku berbuat kesalahan sampai kau terus menghindar dariku?" teriakan donghae masih dapat ia dengar.

Kibum berjalan dengan sangat cepat, berharap ia akan segera menjauh dari donghae. Matanya menahan air di pelupuk mata yang sudah menggenang, membuat pandangannya sedikit kabur. Terlebih lagi kabut-kabut di jalanan yang membuat penglihatannya juga semakin menipis.

.

BRUK

.

Hiks... kenapa harus terjatuh? Kenapa ini harus terjadi lagi?

Hatinya merancau tidak jelas. Tubuhnya terjatuh akibat menabrak seseorang, dan ia juga tidak segera bangun. Malah tangannya mencoba menggapai salju-salju putih yang terlihat menggumpal di atas trotoar jalan yang sedikit mencair.

"kibum-ah" panggil orang tersebut.

Kenapa aku mengalaminya lagi? Tidak! Yang benar adalah, kenapa aku harus memiliki perasaan ini? Seandainya...

"hey! Kau kenapa? Ayo bangun!" orang yang ditabrak kibum tadi berjongkok, mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan kibum yang masih betah duduk di trotoar.

Andwae... bahkan suaranya sudah memenuhi pendengaranku

"kibum-ah" merasa tidak sanggup lebih lama lagi melihatnya, iapun merengkuh tubuh kibum ke dalam pelukannya.

Biarkan. Biarkanlah saja orang-orang yang lalu-lalang memandangi mereka berdua yang berpelukan di tengah salju ini dengan duduk di trotoar. Mereka tidak peduli.

"d-donghae" akhirnya kibum mengeluarkan suara. Meski hanya nama seseorang.

"ne, aku di sini. Ayo kita pergi! Di sini dingin sekali, kau bisa sakit jika terlalu lama seperti ini"

Kedai kopi di pinggir jalan menjadi pilihan donghae untuk menghangatkan tubuhnya dan juga kibum. Tempat ini baru buka, jadi belum terlalu ramai dengan para pembeli.

Ia melepaskan sarung tangannya, kemudian tangan-tangannya membersihkan helaian rambut kibum dari beberapa salju yang sempat menetes di sana.

"rambutmu akan mudah rapuh jika terkena salju. Lain kali pakailah topi atau pakailah jaket yang ada penutup kepalanya" beberapa petuah donghae sampaikan pada kibum yang masih diam saja sejak tadi.

Sebenarnya ia sangat penasaran. Kenapa sikap kibum berubah belakangan ini, terlebih lagi hari ini. Tadi setelah ia bilang ada 'urusan', donghae mengira kalau kibum benar-benar ada urusan, nyataya tidak. Berjalanpun sepertinya ia dalam keadaan fikiran yang kosong. Terbukti dari berapa lama ia terus terduduk di trotoar tadi karena menabrak dirinya.

Bagaimana lagi menanyakannya pada kibum? Apa ia benar-benar melakukan kesalahan pada kibum?

"kau ini sebenarnya kenapa? Ceritalah jika ada masalah! Aku selalu ada untukmu"

Kibum meraih tangan donghae yang masih mengeringkan rambut-rambut di pucuk kepala kibum. "berhenti hae" gumamnya. Donghae senang, karena kibum kembali memanggilnya bukan dengan sapaan yang terlalu sopan seperti memberikan embel-embel –ssi saat memanggil namanya. Seperti tadi.

"berhenti memberi harapan padaku" nada kibum terdengar sendu. Bagaimanapun juga, rasanya agak sulit mengungkapkan rasa patah hati pada orang yang kita cintai. Seperti mencoba menusukkan jarum yang tajam pada kulit sendiri.

"maksudmu?"

"a-anhi... lupakan" donghae memang tidak peka. Kibum sebisa mungkin kembali bersikap seperti biasa. bodoh! Apa yang aku katakan tadi?.

"a-aku pulang duluan, ya! Annyeong" merasa terlalu malu, kibum berniat untuk pergi lebih dulu. Ia tidak mungkin menjelaskan pada donghae kalau ia bersikap aneh selama ini karena ia menyukainya, hal tersebut terdengar seperti pengungkapan cinta. kalau doonghae menyukainya juga sih tidak terlalu jadi masalah, tapi kalau tidak? Dan, lagi pula sekarangkan donghae sudah bersama...

"aku dan jessica-" donghae mencoba buka suara. Ia sendir juga ragu untuk bercerita mengenai hubungannya dengan jessica pada yeoja di depannya saat ini.

Jessica. Ia tidak mau dianggap merusak hubungan antara doghae dan jessica.

Kibum berhenti sejenak. Ia memutar kembali tubuhnya dan pemandangan yang tersaji adalah donghae yang masih duduk di kursinya dengan sedikt menunduk.

"aku kembali dengannya. Maafkan jika ini yang menjadikan hubungan kita menjadi sedikit renggang. Entah kenapa, aku menyesali keputusanku untuk kembali dengannya"

Kibum melihat sebuah keteduhan di balik sorot mata kecil donghae. Apa ini sebuah ungkapan kejujuran? Kalau memang ia juga secara sadar memutuskan untuk kembali merajut kisah bersama mantan kekasihnya, kenapa sekarang ia menyesalinya?.

Kibum kembali mendekati donghae, ia meraih kedua tangan donghae, membuat donghae mengadahkan kepalanya agar dapat melihat wajah kibum dengan jelas.

"kita tetap teman, jadi kau jangan khawatir. Jangan menyesali keputusanmu ini, setidaknya jangan sakiti perasaannya dengan mengetahui kalau kau menyesal kembali padanya"

"aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" lanjutnya.

Kali ini kibum benar-benar meninggalkan donghae di kedai kopi tersebut. Rasanya memang sakit melepaskan orang yang kau sayangi bahagia bersama dengan orang lain, tapi... inilah hidup. Menjalani terus arah yang sudah dipilih, meski penyesalan terus menghantui. Karena, jalan untuk kembali hampir tidak ada. Jalan kembali begitu samar.

Sedangkan cinta. Semua orang beruntung karena telah memiliki perasaan mencintai orang lain, namun, tidak semua orang yang beruntung tersebut dapat lebih beruntung mendapatkan cintanya. –cinta yang tidak selamanya harus saling memiliki.

Naneun gwaenchana, niga haengbokhan damyeon nan.

.

TBC

.

Balasan...

Pipit : iya ini sudah di post maaf menunggu lama. Ku harap kau masih berkenan. J

.

Annyeong,,,

Akhirnya si Za, kembali menyelesaikan chapter 2 nya. Sebenarnya sih sudah seminggu yang lalu dia mengirimnya ke emailku, namun Min baru bisa mempost sekarang. Disini cerita hanya milik Za, aku hanya mempostnya. Jadi kalau bisa kalian tulis di kotak riviewnya, no silent rider.

Gomawo.

Jika di tunggu kritik dan sarannya di kotak review ya.

Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.

RnR...