.

At Least, There is Still You

.

Author : ZaKhazakaizzz

Title : Dangshinigie "at least there's still you"

Cast : Lee Donghae, Kim Kibum (HaeBum)

Support cast : Kyuhyun, Sungmin (KyuMin)

Ratet : T

Desclimer : all cast is belonging theirself, but this fiction is mine. CumapinjemjudullagunyaSuju M buatjudul FF ini.

Warning : Gander Switch for Kibum andSungmin.

\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

ooo000ooo

.

Chapter 3 : The Grey Day

Author pov

Hari ini adalah ujian seleksi perguruan tinggi, seluruh pendaftar berpencar ke gedung tempat mereka akan tes bersama dengan pendaftar yang lainnya. Semua sudah dipersiapkan, mulai dari pendalaman materi sampai habis-habisan hingga persiapan mental untuk beberapa jam mendatang.

'sedang apa?'

Kibum membaca sebuah pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Ia menghentikan sejenak acara membaca bukunya untuk membalas pesan dari Sungmin.

'tidak ada yang bisa di lakukan di sini. Tempat ini sangat asing untukku. Apa kau sudah siap untuk ujian hari ini?'

'heuuuh... aku sangat gugup, melebihi rasa gugupku jika dibandingkan denganKyuhyun memintaku kencan tiba-tiba. kkkkk'

'anggap saja seperti tes biasa. Bukankah kita sudah sering diberikan tes seperti ini saat sekolah dulu?'

'tapi... yasudah, aku harus sudah siap-siap. Pengawas ruangan sudah datang'

Melihat pesan tersebut, Kibum juga mendengar pintu ruangannya terbuka dan masuklah dua orang lengkap dengan amplop yang ia yakini berisi soal-soal untuk hari ini.

'ku rasa aku juga harus mulai bertempur. Selamat berjuang ^^'

Kibum menutup ponselnya setelah mendapatkan balasan 'selamat berjuang' juga dari Sungmin. Ia mengeluarkan tempat pensilnya, kemudian mecantelkan tasnya di samping meja.

Tangannya terkepal di atas meja, matanya terpejam momfokuskan seluruh energinya untuk terkumpul saat ini juga, menghilangkan sisa-sisa kegugupan yang sempat menghampirinya, dan tentunya menghilangkan bayang-bayang kegagalan yang menghantuinya. Mungkin dengan berdoa, Tuhan akan membantunya nanti, setidaknya membantunya untuk menenangkan hati dan fikirannya agar lebih jernih lagi saat menjawab soal-soal yang diujikan.

.

Dinginnya musim bersalju sudah berlalu sejak dua bulan yang lalu. Tapi, dinginnya masih saja berlanjut di musim semi seperti ini.

Tangan-tangan yang saling bergosokkan untuk mencari kehangatan sangat berirama dengan pemandangan luar yang begitu sejuk. Pepohonan yang sudah mulai melahirkan kembali dedaunan dan juga bunga membuat para burung merasa terpanggil untuk singgah di ranting-ranting pohon yang menyendiri.

Satu cangkir mocca terlihat masih mengepulkan asap hangat ke udara, membuat wanginya mengitari di ujung lubang hidung Kibum yang sejak tadi masih sibuk dengan ponselnya.

"aku sedang di cafe dekat sekolah kita dulu" Kibum membalas pesan pada temannya di sana. Kemudian perhatiannya kembali pada minuman yang sejak tadi belum ia sentuh karena masih panas.

Bibir manis itu mengerucut dan mengeluarkan sedikit udara mengitari sekitar bibir gelas untuk membuat kopinya tidak terlalu panas untuk diminum. Sudut bibirnya terangkat begitu mendapati satu seruputan manis pahit dari cangkir yang tidak terlalu besaritu.

"satu taro hangat ke meja nomer 4 ya" Kibum melirik ke arah kasir, tepat ketika mendengar suara yang ia kenal sedang memesan minuman.

"hey, Kyuhyun!" lambaian tangannya di sambut dengan baik oleh namja yang ia panggil Kyuhyun.

"kau sudah lama di sini?" Kyuhyun mengambil duduk di samping Kibum.

"baru saja"

Beberapa saat setelah minuman yang dipesan Kyuhyun datang, mereka berdua mulai mengobrol hal-hal ringan seperti kehidupan mereka setelah lulus dari sekolah beberapa minggu yang lalu atau mengenai kenangan-kenangan mereka semasa SMA.

"kau masuk universitas mana?" tanya Kyuhyun.

"Chunha. Kau pasti di paran university, iya kan?"

"kau meledekku?"

"ah tidak. Hanya saja setiap saat kau selalu mengatakan ingin masuk universitas itu. Jadi mana mungkin kau berselingkuh dari paran university, kan? Hahaha"

"ish. Menyebalkan" Kyuhyun sedikit bergumam tidak suka karena Kibum masih saja mentertawainya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan paran university, kampus itu sangat bagus. Atau mungkin yang salah adalah dirinya? Ia memang selalu membanggakan universitas itu, dan selalu mengatakan ingin masuk sana.

"Donghae juga seperti itu" akhirnya Kibum berhenti tertawa saat mendengar Kyuhyun menyebut nama Donghae. Ia melirik tidak suka dengan Kyuhyun yang tiba-tiba mengangkat nama Donghae untuk dibahas.

"ku dengar dia berhasil masuk kyunghee, satu-satunya kampus impiannya sejak SMA"

"ku dengar juga Jessica masuk di kampus itu" Kibum balik menyindir.

"tapi mereka tidak satu jurusan"

"tapi mereka satu kampus"

"kenapa tiba-tiba membahas Jessica?" Kyuhyun mulai tidak suka arah yang Kibum tuju. Ia sama sekali tidak ingin membahas Jessica, ia hanya ingin Kibum kembali pada cintanya, tidak dengan seperti saat ini. Kibum yang tidak lagi peduli dengan namja.

"kau sendiri kenapa membahas Donghae?"

"karena kau masih menyukainya"

"anhi" meskipun Kibum sedikit terkejut mendengar penuturan Kyuhyun. Ia berusaha menjawabnya dengan tegas, dan membuat Kyuhyun yakin kalau ia sudah tidak menyukai Donghae.

"geotjimal. Neon geotjimalrayo"

"tidak. Aku memang sudah tidak menyukainya, Kyuhyun. Berhentilah memaksaku untuk menyatakan kalau aku menyukainya"

"tapi kau memang berbohong. Kau masih menyukainya, kan? Katakan kau menyukainya. Kau tidak boleh seperti ini. Kau harus mendapatkan cintamu lagi, Kibum-ah. Harus"

Kibum tertunduk sedih. Sepertinya Kyuhyun mulai menjadi teman yang baik baginya dengan memahami seperti apa dirinya.

"ne, aku memang masih menyukainya. Tapi yang kau katakan tadi itu mustahil. Aku tidak bisa bersama dengannya" Kibum sedikit meninggikan nada suaranya di akhir kalimat.

Kyuhyun terdiam ketika mendengar jawaban terakhir dari Kibum. Ia tidak dapat menyela lagi, ia juga tidak bisa memaksa Kibum lagi.

Lidahnya terasa kelu dan tangannya tidak bisa bergerak sedikitpun saat mendapat sebuah kertas dari Kibum.

Untuk seseorang yang pernah dan masih singgah di hatiku

-kim Kibum-

Hai. Mungkin ini adalah surat yang pertama kali kau terima dariku. Memang seharusnya seperti itu, karena ini surat pertama yang pernah ku buat. Jadi, maaf jika tulisanku terlalu buruk untuk seorang gadis cantik sepertimu.

Aku tidak sedang membual. Kau sungguh cantik, walau jika ku bandingkan dengan Jessica, tentu harus ku akui dia lebih cantik. Dan mungkin karena ketertarikanku akan kecantikan yang dimiliki oleh wanita, membuatku membohongi hatiku sendiri.

Aku tidak tahu kau pernah merasakan putus atau tidak, tapi aku ingin sedikit bercerita kalau aku pernah menjadi orang yang hampir gila hanya karna putus cinta. Wanita yang membuatku seperti itu adalah Jessica. Dia begitu sempurna untukku, kecantikannya, kecerdasannya, dan juga semua yang dia miliki. Dan, semua itu telah membuatku bodoh. Aku bodoh karena masih menyimpan rasa ingin memiliki dirinya. Jadi, saat dia memintaku untuk kembali, tidak ada hal yang mampu membuatku menolak permintaannya.

Tapi sebenarnya yang terjadi... aku membohongi perasaanku.

Aku memang sepertinya telah tersihir dengan kecantikannya, sampai aku lupa kalau sebenarnya hatiku sudah ku berikan pada wanita lain.

Kau. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu.

Aku tau ini terlambat. Aku memang bodoh. Kau bisa memukuliku saat bertemu aku nanti. Kau boleh melakukan apapun karena aku tahu kau pasti merasa ku lukai. Tidak, aku memang telah melukaimu dengan menjalin hubungan kembali dengannya.

Maaf...

Maafkan aku, Kibum-ah.

Bersamaan dengan pengungkapan perasaanku di surat ini, aku juga inginmemberikan kabar lain. Beberapa bulan lagi kami akan bertunangan.

Aku tau seharusnya aku tidak melakukan ini. Tapi, aku mengirimkan surat ini sebagai tanda pertemanan kita. Aku ingin kita tetap berteman.

Aku tidak ingin kehilangan wanita yang begitu berharga sepertimu.

Setidaknya, jika kita tidak bisa bersama dalam hubungan asmara. Kita tetap bersama dalam jalinan persahabatan.

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan. Aku akan belajar untuk menghargai waktu dan mengambil kesempatan yang datang. Aku tidak akan lagi membuat waktu sia-sia lagi. Aku tidak ingin ini terulang lagi.

Salam cinta

-lee Donghae-

"jadi..." Kyuhyun tidak mampu melanjutkan ucapannya.

"fuuuh... ternyata sesakit ini rasanya jika takdir tidak berpihak pada kita" Kibum menoleh ke arah Kyuhyun yang masih menatap tidak percaya terhadap sikapnya yang seolah ini bukan berita yang besar. Maksudnya, pasti setiap orang akan mengekspresikan kekecewaannya kan kalau ternyata orang yang kau cintai malah bertunangan dengan orang lain. Tapi apa ini? Kibum justru terlihat tidak memiliki beban apapun.

"dia akan bertunangan. Jadi, jangan pernah ungkit masa lalu lagi, ya? Biarkan dia bahagia bersama Jessica."

.

Tidak terasa musim baru sudah tiba, hari-hari sudah berlalu begitu jauh dari kehidupan hari ini. Dan tentunya semua yang sudah terjadi sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu diingat lagi.

"hai Kibum"

"hai"

Beberapa kali Kibum menyapa balik temannya yang menyapanya di tengah jalan. Hari ini awal semester baru untuknya kembali berkuliah setelah liburan semester kemarin yang cukup panjang dan melelahkan.

Terkadang ia juga membungkuk hormat pada para dosen yang ia temui, suatu kebiasaan yang sudah mendara daging bagi rakyat sana.

"Kibum-ah~~~"ia terkejut mendengar suara ini. Sepertinya baru kemarin ia menceritakan kegalauannya pada pria tersebut, tapi kenyataan yang berlaku adalah itu kejadian beberapa bulan yang lalu. Mungkin hampir satu tahun.

"kalian sedang apa di sini?"

"temanmu itu ingin melihat festival costplay anime jepang di sini"

Kibum ingat kalau hari ini memang ada festival bagi pada mahasiswa sastra jepang untuk berkostum seperti anime-anime yang ada di kartun jepang. Pantas saja di sepanjang jalan tadi ia sempat melihat seorang gadis yang memakai make up aneh. Rambutnya yang panjang dan putih, memakai gaun putih berbunga, pita besar di atas kepalanya yang berdiri tegak, serta riasan make up yang dibuat semirip mungkin dengan salah satu tokoh anime jepang.

"tapi tokoh kartunnya belum datang, acara baru dimulai nanti siang" keluh Sungmin. Yeoja yang dimaksud tadi oleh Kyuhyun.

"jam kuliahku masuk satu jam lagi, sepertinya masih ada waktu untuk bersama kalian" ucap Kibum.

"bagaimana kalau ke kantin? Aku lapar" usul Kyuhyun. Baiklah, kita tidak bisa mengabaikan perut pria yang sangat suka makan itu.

"um. nawa! Aku akan menunjukkan tempat makanan yang enak di sekitar sini"

Mereka bertiga memilih untuk makan di luar, karena kantin sudah sangat biasa –itu menurut Kibum. Ia bosan dengan makanan yang ada di kantin.

Sebuah restoran cepat saji menjadi pilihan mereka bertiga. Tiga menu makanan dan minuman juga sudah mereka pilih. Setelah menunggu beberapa menit dengan perbincangan yang tidak terlalu menarik, seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Menatanya dengan rapih di atas meja.

"japsuseyo" teriak Kibum bersemangat sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang sendok, kemudian mulai meniupkan bubur ayam yang ia baru saja ia sendokkan.

"itadakimasu" lalu Sungmin menggunakan bahasa jepangnya.

"aku harus menggunakan bahasa apa?" tanya Kyuhyun entah pada siapa, karena kedua gadis yang datang bersamanya itu sudah mulai makan makanan mereka.

"inggris, spanyol, india, arab, melayu. Terserah, yang penting aku kenyang" Kibum tertawa kecil mendengar balasan dari Sungmin yang seolah tidak peduli.

"kau dulu mengejarnya, kenapa sekarang berani bicara begitu?"

"mwoya? Bahkan aku sudah mendapatkannya"

"geundae wae?" tanya Kibum. Sungmin menghentikan gerakan makannya, kemudian mengeluarkan nafasya berat.

"dia menyebalkan" sahutnya dengan pipi kanan yang menggembung karena masih ada makanan di salam mulutnya.

"mw-"

"kau juga menyebalkan" ucapnya lagi memotong Kibum yang akan bertanya lagi.

"eh?"

"stop! Aku ingin fokus makan" Sungmin sudah fokus dengan makanan di depannya. Meninggalkan Kibum yang berwajah bingung serta Kyuhyun yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"pacarmu itu kenapa?" bisik Kibum. Kyuhyun menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu. "mungkin sedang PMS" jawab Kyuhyun.

.

Malam yang dinantikan datang juga. Pesta pertunangan Donghae dan Jessica digelar di sebuah gedung mewah yang diadakan tertutup hanya untuk keluarga dan teman dekat. Suasana hikmat yang terjadi saat proses memakaikan cincin pada pasangan, membuat hati seseorang yang sejak tadi duduk di kursi tamu barisan belakang menjadi lebih kelabu.

Kibum berdiri bersama Kyuhyun dan Sungmin setelah acara inti selesai, mereka menghampiri Donghae dan Jessica untuk memberikan selamat atas lancarnya proses lamaran tadi.

"selamat ya, Donghae, Jessica. Semoga sampai acara pernikahan kalian dilancarkan" ucap Sungmin, menjabat tangan Donghae dan Jessica. Kyuhyun juga ikut bersalaman dan memberikan pelukan pada Donghae.

Tawa Donghae bersama Kyuhyun terhenti saat melihat sosok yeoja dengan gaun hitam selutut yang sejak tadi berdiri di belakang Kyuhyun. "Kibum-ah?"

Kibum menutup matanya yang menunduk dan menghela nafasnya sejenak. Ia sedang mentralisir perasaannya. Ia tidak boleh bertindak marah, kesal ataupun cemburu. Ia sedang meyakinkan dirinya kalau Donghae sudah ada yang memiliki, jadi ia tidak boleh mempunyai perasaan ini.

"Kibum" suara Sungmin menegur Kibum. Ia khawatir kalau Kibum masih belum siap menerima kenyataan ini.

Dengan satu gerakan, Kibum menatap Donghae dan Jessica bergantian, wajahnya sudah ia buat seceria mungkin dengan senyum palsunya. "ah, selamat ya Donghae-ssi, Jessica-ssi. Aku merasa terhormat atas undangan kalian. Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan" ucap Kibum dengan terus tersenyum.

Donghae menatap tidak percaya pada gadis di hadapannya ini. Kenapa Kibum seolah-olah tidak sedang kenapa-kenapa? Apakah ia benar tidak memiliki perasaan apapun lagi padaku? –batin Donghae.

"iya, terima kasih sudah hadir" balas Jessica dengan pelukan yang ramah.

Kibum mengalihkan pandangannya pada Donghae. Ia tersenyum melihat pria tinggi itu, wajahnya masih sama seperti saat ia mulai menganal pria tersebut.

Dihampirinya Donghae, dan memeluknya sebagai ucapan selamat. Donghae yang sudah tersadar, akhirnya membalas pelukan Kibum dengan lebih erat, bahkan ia juga sedikit menundukkan kepalanya agar Kibum lebih dalam lagi tenggelam dalam pelukan Donghae.

Mereka berdua masih berpelukan. Donghae dan Kibum. Tiga orang di sana tertegun melihat adegan ini. Bukan karena mereka yang berpelukan. Tapi, sepertinya ada sebuah aura yang menguar dari pelukan itu, seolah ada isyarat tersembunyi yang tidak mampu terungkapkan.

"Kibum-ah mianhae" bisik Donghae. Kibum membalasnya dengan anggukan kecil, meskipun kedua tangannya yang berada di belakang punggung Donghae mengepal dengan erat. Ia sedang mencoba agar air matanya tidak mengalir di depan dua orang yang sedang bahagia ini.

"h-hey! Kami ingin makan, apa kalian ingin ikut bergabung?" Kyuhyun memberi kode pada Kibum agar melepaskan pelukannya pada Donghae, karena sepertinya Jessica mulai berfikir yang tidak-tidak. Mereka berdua melepaskan pelukan itu dengan perlahan.

"boleh, biar kami tunjukkan pada kalian makanan apa saja yang paling enak" ucap Jessica. Ia menatap ke arah Donghae yang juga balas menatapnya.

"a-aku harus pulang. Maaf tidak bisa berlama-lama di sini" Kibum sedikit membungkuk sebagai tanda maafnya. "sampai jumpa"

Sebenarnya ada keinginan Donghae mengejar Kibum untuk mengantarnya pulang, tapi genggaman seseorang di tangannya membuatnya tersadar bahwa ada hati lain yang akan terluka jika ia tetap memaksakan kehendaknya.

"ayo kita makan" ajak Donghae pada Jessica. Mereka berdua saling melempar senyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa

Kibum berjalan dengan menyeret kakinya. Ia berjalan tidak menentu arah. Ia belum ingin pulang, masih ingin menghirup udara malam.

Fikirannya kembali melayang pada beberapa jam lalu saat Donghae dan Jessica saling bertukar cincin pada jari tangan mereka. Perasaan sesakpun langsung menyelimuti hatinya.

Ia sedikit menepuk-nepuk dadanya, berharap agar bisa kembali bernafas dengan normal. "ukh. Kenapa masihterasa sesak?" gerutunya. ia sendiri juga kesal pada perasaannya yang belum sepenuhnya rela melepaskan Donghae.

Kibum terjatuh lemas di pinggir jalanan yang beraspal, ia tidak peduli jika ada orang lain yang melihatnya. Perasaan sakitnya terasa semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, ia tidak mampu lagi menahan semua kekecewaannya pada Donghae. Ia benci, marah dan kesal pada Donghae, tapi lain dari itu, ia masih mencintai Donghae, ia belum bisa menerima kenyataan kalau Donghae akan hidup bersama wanita lain, tentu bukan dirinya.

Suara sesegukan mulai keluar dari mulutnya. Sudah merasakan sakit, pasti akan terasa lebih sesak jika terus menahannya. Kibum meluapkan semuanya dengan air mata yang membanjiri wajah putihnya.

Tiba-tiba ada sebuah uluran tangan di hadapan Kibum. Manik mata Kibum menelusuri siapa pemilik tangan ini. "kenapa kau duduk di sini? Kalau ada hewan yang masuk ke dalam rokmu, bagaimana?" tanya pemilik tangan itu.

Karena merasa tidak enak, akhirnya Kibum menerima uluran tangan itu untuk berdiri. "terima kasih" ucap Kibum."Siwon... sunbae" lanjutnya dengan sedikit canggung.

Ini menjadi kali pertama Kibum berbicara dengan Siwon –salah seorang seniornya saat SMA dulu. Mungkin akan terasa biasa saja kalau tidak ada memori khusus yang pernah terjadi pada Kibum.

Nyatanya, pria bernama lengkap choi Siwon ini pernah menorehkan kenangan indah sekaligus pahit bagi seorang kim Kibum. Hingga rasanya begitu aneh dan canggung saat hanya berdua seperti ini. Menyusuri jalanan yang sepi di tengah malam.

"tadi kau kenapa? Kau sedang ada masalah?" tanya Siwon.

Kibum menjawabnya dengan gelengan kepala, ia enggan untuk menceritakan mengenai kekecewaannya pada Donghae.

"dulu ada seseorang yang pernah mengatakan padaku kalau berbagi itu sangat menyenangkan, entah itu kabar suka maupun duka yang dibagikan. Karena selain membuat hati lega, dengan berbagi juga akan membuat sebuah hubungan menjadi lebih dekat"

Kibum tersentak mendengarnya. Itu adalah ucapannya beberapa tahun yang lalu.

Tepatnya saat ia masih berada di tingkat pertama sekolah SMA. Ia mengatakan hal yang demikian pada seseorang.

Di adalah Siwon. Seseorang yang pernah menjadi orang yang sangat berarti dalam hidup Kibum. Sebenarnya aneh jika mengatakan Kibum jatuh hati pada seniornya itu pada pandangan pertama saat hari pertama perkenalan sekolah. Tapi memang itu yang terjadi.

Kibum mengagumi seorang choi Siwon. Pria bertubuh atletis dan sempurna itu semakin menjadikannya sempurna dengan posisinya yang tinggi di osis sekolah meskipun bukan menjadi ketua, tapi itu cukup membanggakan. Selain itu ia juga menjadi ketua organisasi kerohanian, pria tersebut begitu taat pada agama.

Pesona Siwon tidak bisa dielak oleh Kibum. Hingga suatu hari Kibum memberanikan diri untuk mengucapkan selamat ulang tahun di hari kelahiran Siwon melalui sebuah pesan singkat. Dan siapa sangka itu menjadi awal yang baik bagi hubungannya dengan Siwon, meskipun ia harus menyembunyikan identitasnya, tapi itu tidak masalah. Karena Kibum sendiri tidak siap jika Siwon mengetahui siapa dirinya. Ia malu.

"baiklah, kalau tidak mau cerita juga tidak masalah. Lagi pula aku bukan siapa-siapa. Hehehe maaf jika ucapanku tadi terkesan memaksamu untuk cerita" ucap Siwon kemudian setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kibum.

"maaf aku tidak bisa menceritakanya padamu, sunbae"

"tidak apa-apa. Ayo ku antar pulang"

.

Kasur yang empuk menjadi peristirahatan yang paling nyaman saat ini bagi seorang kim Kibum. Padahal ia hanya mengunjungi acara pertungannya Donghae, tapi rasanya selelah ini. Lelah dalam hal perasaan dan juga hati. Rasanya lelah untuk selalu mencintai seorang Donghae yang nyatanya malah bahagia bersama wanita lain.

"baiklah, Kibumie~~ lupakan Donghae! Kau pasti bisa! Semangaaaaat" teriaknya menyemangati dirinya sendiri.

Ia baru saja selesai mandi, dan saat mengecek ponselnya ternyata ada 3 panggilan tidak terjawab dari Siwon. Kedua alisnya sempat mengerut tidak mengerti kenapa Siwon menelfonnya sampai tiga kali seperti ini.

Baru saja ingin menelfon balik, ponselnya sudah kembali berbunyi. "yeoboseyo, sunbae?" sapa Kibum.

"eo? Tersambung, ya?" gumam orang di seberang sana. Nadanya terdengar seperti orang yang bodoh menanyakan sudah tersambung telfonnya.

"ne, maaf tadi aku sedang mandi. Ada perlu apa sunbae menelfonku malam-malam begini?" tanya Kibum.

"aneh, aku sendiri juga tidak mengerti kenapa harus menelfonmu" gumam orang itu. "maaf sudah mengganggumu, Kibum-ah. Selamat malam"

Kibum mengerenyit bingung. "Siwon sunbae sedang kenapa?" ia bergumam. Tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Dari...

"Siwon sunbae?" Kibum membuka isi pesan tersebut.

Dari : Siwon sunbae

Selamat tidur ^^

Apakah aku boleh memanggilmu dengan sebutan 'adikku'?

Kibum seketika membeku setelah membaca pesan tersebut. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.

Dulu ia memang pernah sempat dekat dengan Siwon, tapi hanya sebatas di dalam pesan singkat. Karena sebenarnya, Siwon tidak pernah mengetahui dirinya. Ia juga tidak pernah mengenalkan diri secara langsung di hadapan Siwon bahwa dirinyalah yang selama ini menjadi pengagum rahasia yang selalu menemaninya bercerita di dalam pesan singkat.

Siwon yang begitu terkenal membuat Kibum ragu untuk berharap memiliki hubungan yang lebih. Menerima balasan atas setiap pesannya saja sudah membuatnya berbunga-bunga.

Dan sekarang. Kalau membaca dari pesannya Siwon tadi, Kibum mulai memiliki firasat buruk kalau Siwon sudah mengetahui siapa dirinya. Karena, dulu saat mereka masih berhubungan baik, Siwon selalu memanggilnya dengan sebutan 'nae dongsaeng' atau 'adikku'.

Dan Kibum yang terlalu takut dan ragu untuk membalas pesan Siwon, akhirnya memilih ntuk mengabaikan pesan tersebut.

Dulu ia tidak seperti ini. Hampir setiap malam ia selalu menantikan ada pesan masuk dari Siwon, atau kalau Siwon tidak mengiriminya pesan maka ia yang akan mengirim pesan pada pria tersebut.

Saat Siwon tidak masuk sekolah, saat Kibum tidak melihat Siwon di tempat ibadah, depan ruang osis dan perputakaan, bahkan setiap Siwon selalu memiliki nilai buruk yang terpajang di depan mading, Kibum akan langsung mengirim pesan pada Siwon. Dan semua itu berakhir dengan berbagi cerita antarkeduanya. Kibum selalu antusias saat mendapat pesan dari Siwon, tapi kemudian jika ia bertemu langsung di sekolah, Kibum akan menunduk sambil menggigit bibirnya. Tubuhnya selalu lemas ketika bertemu dengan Siwon, itulah sebabnya pada saat Kibum bertemu Siwon, ia akan memilih berlari atau berpegangan pada dinding.

.

Setelah pertunangan Donghae dan Jessica beberapa hari yang lalu, kini Kibum mulai merasa lebih baik. Hatinya perlahan mulai mengubur perasaannya untuk Donghae, karena memang tidak seharusnya ia memiliki perasaan itu. Donghae akan menjadi suami Jessica, jadi ia tidak boleh mencintai Donghae lagi. Tidak boleh.

Panas matahari yang cukup menyengat mengiringi kaki lemas Kibum dari halte. Ia baru saja pulang dari kampus.

Biasanya ia akan pulang pukul 9 malam, tapi hari ini berbeda, karena ia hanya memiliki 2 mata kuliah, jadi ia bisa pulang lebih siang. Meskipun senang bisa pulang siang hari, tapi ada hal buruk juga karena harus berjalan cukup jauh dari halte menuju rumahnya, sementara itu matahari enggan untuk menyembunyikan sinarnya. Andai saja ada temannya yang mengendarai motor atau mobil yang tidak engaja bertemu, pasti ia tidak akan menolak jika ditawari tumpangan gratis.

"haus sekali" gumamnya.

Tenggorokannya terasa kering. Sementara air minum yang tadi ia beli sudah habis.

Kibum membeli sebuah minuman kaleng dulu, kemudian lanjut perjalanan pulangnya. Sedikit bersenandung sambil mendengarkan musik dari earphone-nya membuatnya merasa lebih baik, ditambah dengan minuman dingin. Yah, meskipun udara masih terasa panas, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada harus seperti tadi. Dan ia juga masih berharap kalau ada orang yang ia kenal yang menawarinya tumpangan.

Tiiiiiin

Sebuah klakson motor menginterupsinya. Kibum mengerut bingung. Sebelumnya ia melihat motor itu melewatinya, kemudian si pengendara memutar balik dan sekarang membunyikan klakson padanya.

"hey, Kibum-ah!" ia merasa namanya dipanggil.

"si-Siwon sunbae?" ucapnya setelah meliaht si pengendara motor itu membuka helmnya.

"ayo ku antar pulang!" sebenarnya ini hal yang Kibum nantikan. Seseorang yang menawarinya tumpangan. Tapi kenapa harus Siwon?

Bukan apa-apa, ia hanya takut jatuh cinta lagi pada Siwon, dan tersakiti lagi. Ia tidak ingin jatuh di lubang yang sama. "ayo, cepat naik! Kenapa melamun seperti itu?"

"a-ah, ne" itu yang hanya dapat dikatakan oleh Kibum.

Untuk yang pertama kalinya, ia diantar pulang oleh Siwon –sunbae yang dulu pernah menyinggahi hatinya.

Hari itu adalah awal mula dari semuanya. Kibum kembali menjalin hubungan yang baik dengan Siwon. Hubungan yang seandainya saja jika ini terjadi pada beberapa tahun yang lalu, saat ia mencintai dan mengidolakan sosok pria tampan bertubuh tegap tersebut, pasti Kibum tidak akan membuang kesempatan ini untuk melakukan sesuatu agar ia semakin dekat dengan Siwon.

Siwon dan Kibum kini tengah berada di sebuah taman yang cukup luas dengan masing-masing memegang satu cup ice cream yang baru saja mereka beli. Awalnya Siwon mengajak Kibum ke sebuah cafe, tapi gadis yang baru memotong rambutnya menjadi beberapa senti di bawah bahu itu menolak ajakan tersebut.

Kibum adalah tipe yang begitu menyukai kesunyian, bukannya ia membenci keramaian, hanya saja rasanya seperti ada yang memaksa seluruh organnya untuk keluar melalui mulut saat berada di tengah keramaian. Mungkin setelah merasakan cintanya hancur, Kibum yang lebih suka menyendiri untuk memikirkan membuang perasaan tersebut menjadi berlebihan. Terbukti dengan ia yang kini menyukai kesunyian.

"Kibum-ah" panggil Siwon.

Ada desiran lembut yang melintasi rambutnya yang terurai saat ia menoleh, Kibum merasakan sensasi berbeda dari panggilan Siwon tersebut.

"sejak kapan...?"

Gadis tersebut menautkan kedua alisnya.

"sejak kapan kau mengaggumiku?"

Ternyata ini yang akan dibahas oleh Siwon.

Malu rasanya jika harus mengungkapkan secara langsung mengenai perasaanmu pada pria yang pernah singgah di hatimu. Kibum sedikit menimbang-nimbang antara harus menahan malu karena menceritakannya, atau menahan malu tidak menceritakannya padahal ia sudah tertangkap basah pernah menjadi pengagum rahasia sosok pria tampan di sampingnya ini.

"a-aku..."

Glup

Rasa grogi yang mendominasi membuat efek buruk terhadap kegugupan yang Kibum alami saat ini. Oh, bisa kah dewa waktu segera mempercepat waktu agar Kibum tidak memberikan jawaban memalukan?

"kau...?" Siwon sepertinya sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari Kibum.

"ma-maaf jika tindakanku dulu mengganggumu" gumam Kibum.

"jadi benar? Padahal aku hanya menebak"

"mwo?" kedua mata yang membulat tidak dapat teralakkan dari reaksi Kibum yang mendengar ucapan Siwon barusan. Ini berarti bahwa Siwon memang tidak mengetahuinya. Dan Kibum secara tidak langsung yang memberikan pengakuan tersebut.

Arggghhhh choi siwooooon.

Tidak ada yang dapat Kibum lakukan saat ini selain tertunduk malu. Memorinya kembali berputar ke masa ketika ia mencoba mengakrabkan diri dengan Siwon, dan yang lebih memalukannya lagi adalah ia mengaku sebagai penggemar rahasia. Betapa beruntungnya dia karena Siwon juga tidak mencari tahu lebih mengenai 'pengagum rahasia'nya itu.

"pantas saja. Saat aku melihatmu sepertinya banyak hal yang tidak asing. Aku merasa pernah memiliki waktu yang cukup banyak untuk ku habiskan bersamamu"gumam pria tersebut. Mata Kibum melirik ke arah Siwon, ia masih menundukkan wajahnya.

Benar, Siwon hanya menebak. Dan ia ingin memastikan dugaannya dengan berpura-pura kalau ia sudah mengetahuinya.

"aku senang jika itu benar. Kibum-ah"

.

Deru mesin motor menggema di depan pintu gerbang kediaman kim Kibum. Si pemilik nama keluar dengan penampilan yang tidak begitu menyolok namun tetap pas di tubuhnya.

Dress pink berkerah berbahan lembut menutupi tangan hingga lututnya, membuat angin yang menerpanya membuatnya semakin terlihat indah dengan kilauan jepitan berbahan besi yang bertengger di atas rambutnya yang hitam panjang sebagai penghias. Kaki jenjangnya yang berbalut flatshoes dadu melangkah dengan cepat menuju pintu gerbang, ah! Tepatnya berjalan menghampir seorang pria yang berdiri di dekat sebuah motor.

Senyum manis saling mereka lemparkan sebagai penyambutan hari ini.

"hari ini kita akan ke mana?, oppa" tanya Kibum.

"ke mana saja. Aku ingin menghabiskan waktu seharian ini bersamamu"

"bagaimana jika lotte world dulu? Aku ingin mencoba beberapa permainan di sana"

"oke, pegangan yang kencang" ucapnya.

Sedikit terdengar bunyi raungan si motor yang baru saja dinyalakan oleh sang pemilik, siap membawa dua sejoli yang sudah duduk nyaman di atasnya.

BRUMMM BRUMM BRUMM

BRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUMMMMMMMMMMM

"YAK! CHOI SIWON PABO! BERAPA KALI KU BILANG JANGAN MENGEBUUUUUUT" teriakan Kibum menggema mengalahkan suara motor karena Siwon menjalankannya dengan tiba-tiba kencang.

.

Hai, kim Kibum kembali lagi

Rasanya baru pagi kemarin aku merasakan jatuh cinta, siangnya patah hati kemudian sorenya jatuh cinta lagi. Dan sekarang, malam ini, aku dihadapi suasana yang membingungkan.

Orang yang dulu pernah singgah di hatiku dan pernah melukai hatiku juga, hadir dengan sejuta harapan untuk menghapus luka yang baru saja ku terima dari cinta yang lain.

Cinta lamaku, choi Siwon.

Dan luka baru dari cinta yang lain, lee Donghae.

Haruskah aku kembali pada cinta lamaku?

Bukan hal yang mudah untuk menentukannya, karena Siwon juga pernah memberi luka di hatiku meski tidak sesakit yang Donghae goreskan.

Masih ingat dalam bayangan ketika ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan gadis lain, dan hilang kontak denganku. Melupakan aku dan membuang aku.

Ku kira begitu.

Tapi nyatanya ia tidak membuangku, tepatnya ia hanya menyisihkan aku dari kehidupannya saat itu. Dan hari ini Siwon kembali membawa aku ke dalam dunianya lagi.

Aku terhanyut.

Tapi aku juga masih memiliki keraguan.

Di sisi lain, aku tidak ingin hidupku hanya berputar pada satu nama, lee Donghae.

Aku...

Menerima tawarannya untuk membiarkannya membuka hatiku.

Dan akupun berjanji untuk tidak menutup hatiku. Mencoba untuk peka dengan kehadirannya.

Meski begitu, setidaknya di hatiku masih ada dirimu, lee Donghae.

Kibum menutup buku berwarna pink tersebut dan menaruhnya di laci meja nakas. Kedua tangannya terangkat dengan mulutnya yang sedikit menguap.

Sedikit membenarkan selimut dan mulai masuk ke alam mimpi.

Terima kasih masa lalu~

.

~omake~

Kibum pov

"kita ingin ke mana lagi kyu?"

"ish.. sudah ku bilang, panggil aku 'oppa'!"

"hey! aku lebih tua darimu, kenapa aku harus memanggilmu oppa? Harusnya kau yang memanggilku noona"

"umur kita tidak terlalu jauh, ming. Menurutku jika di sebuah hubungan, si pria dipanggil oppa, akan terdengar lebih romantis"

"kalau begitu cari saja wanita yang lebih muda!"

Permasalahan kembali muncul...

"hey! Ming, kau mau ke mana? Hey! Berhenti di sana! Aku ingin bicara"

"h-hey! Kenapa tiba-tiba kau menunjukkan wajah seperti itu?" lanjutnya

"romantis tidak? Aku berpura-pura agar kau kesal dan ternyata kau kesal sungguhan, lalu aku pergi meninggalkanmu karena marah, tapi aku tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arahmu, kemudian tersenyum manis seperti ini-" bibir mungil itu kembali bergerak dengan rangkaian kata yang sangat banyak.

"um. Lumayan romantis" ini hanya jawaban, tidak berniat untuk menjeda ucapannya.

"-oppa"

"yang ini lebih romantis. Palli! Panggil aku oppa lagi"

"seberapa banyak?"

"lebih banyak lagi"

"oppa oppa oppa oppa oppa oppa oppa-"

Cup

"gomawo"

Dan pertengkaran itu kembali berakhir dengan kecupan dan kata cinta, menyambut ribuan kisah yang kembali akan menghampiri mereka.

Kami selalu melihatnya. Yap, aku dan Siwon oppa terbiasa melihat Kyuhyun dan Sungmin yang terkadang bertengkar dan endingnya pasti selalu seperti itu.

Kini hanya tersisa wajah kami yang bertatapan dan saling melempar senyum. Ku harap dengan tautan jari kami ini, dapat membawa hidup kami melangkah semakin dekat dengan kebahagiaan.

"kau ingin ku cium seperti Sungmin?"

"nikahi aku dulu, baru boleh menciumku"

"okeey. Sekarang ayo ke rumahmu! Aku tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuamu"

"ahahahaha... oppa! Yak oppa turunkan akuuuuuuu"

Dan kamipun memulai semuanya dengan memberi tanda cinta seperti Sungmin dan Kyuhyun.

.

END

.

.

Annyeong,,,

Akhirnya si Za, kembali menyelesaikan ending dari ffnya ini. Disini cerita hanya milik Za, aku hanya mempostnya.

Banyak sekali viewer namun no commentar? Ayolah hargai sedikit karya ini, Jadi kalau bisa kalian tulis di kotak riviewnya, no silent rider. Kami butuh kritik n saran yang membangun.

Gomawo.

Jika di tunggu kritik dan sarannya di kotak review ya.

Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.

RnR...