We proudly present:
A Collab Fic between Nuju Jomblo and Eternal Dream Chowz
[Fool Love, Fool Poison © Ethernal Jomblo]
Naruto © Masashi Kishimoto
Kami tak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini.
Warning: Alternative Universe, Typo(s), Out of Character, etc.
Rate : K+, Semi T
Genre: Romance, Humor, Fantasy
Pair: Sasuke U. x Hinata H.
.
.
Fool Love, Fool Poison
.
.
Hinata masih membeku di tempat. Lidahnya terasa kelu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Mau merebut gelas? Cairannya saja sudah habis tanpa sisa. Menyuruh Sasuke memuntahkannya? Oo, itu jelas cari masalah namanya.
Hinata masih membeku. Apa yang harus dikatakannya? Tangan Sasuke bergerak menuju pundak Hinata. Hinata berjengit, tanpa komando, kaki Hinata malah berbalik dan melarikan tubuhnya dari tempat itu.
"Tidaakkk!" pekik Hinata sambil melarikan diri. Sasuke hanya memandang Hinata dengan tatapan bingung. Tangannya yang terulur ia tarik kembali. Apa sih yang membuat Hinata histeris begitu?
'Tidak! Tidak!' Hinata masih saja memekik dalam hati. Duh, kelihatannya ia tak akan berani pergi ke sekolah kalau begini jadinya. Bagaimana obat itu akan bekerja nantinya? Hiiy … membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Bayangan-bayangan imajiner memenuhi otak polosnya. Seram! Bayangan itu bahkan terasa lebih seram dari film horror yang pernah ditontonnya. Hinata menghentikan taksi dan menaikinya. Pulang adalah pilihan yang tepat sekarang. Pulang!
Di lapangan futsal, Sasuke masih saja merasa bingung akan sikap Hinata.
"Hei, Sasuke! Waktu istirahat sudah habis!" suara cempreng Naruto terdengar. Sasuke melangkahkan kakinya dan mengabaikan kejadian tadi.
Gelas limun itu ia letakkan begitu saja. Di samping gelas limun itu muncul sesosok bayangan, "Ah, kasihan. Salah sasaran ya? Tetapi kau akan mendapat kejutan yang lebih spesial, Hinata-sama." Sosok itu memudar mengikuti hembusan angin. Berubah menjadi serbuk-serbuk keperakan yang bercahaya.
.
.
Fool Love, Fool Poison
.
.
Sudah pukul sembilan malam, batin Hinata. Sejak tadi ia belum berkomunikasi dengan Naruto seputar pertandingan hari ini. Padahal biasanya, Hinata akan memulai percakapan dengan pesan-pesan singkat berupa kata-kata motivasi. Biasanya Naruto pun belum tertidur pada jam seperti ini. Tetapi Hinata masih saja takut untuk menghubungi sang pujaan hati.
Hinata menggigit ujung jarinya dengan frustasi. Dosa apa yang diperbuatnya sampai-sampai nasibnya berakhir begitu naas? Hinata menatap sedih pada sebuah foto yang dia pajang di atas meja belajarnya.
"Naruto-kun, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya ambigu.
Hinata memeluk foto itu lalu menarik selimutnya. Lelap dengan bayangan sang pria blonde. Hal itu mungkin akan menjadi solusi terbaik baginya sekarang. Setidaknya mampu menjadi obat penenang baginya.
Di tempat lain, di sebuah kamar bernuansa gelap, Sasuke tertidur dengan perasaan tak nyaman. Tubuhnya terasa panas. Sejak pulang dari pertandingan tadi, Sasuke merasa tidak enak badan. Keringat membasahi tubuhnya, memang saat pertandingan tadi mereka sempat terguyur hujan di menit-menit terakhir. Tapi Sasuke tidak menyangka efeknya akan muncul malam ini.
Sasuke menelan beberapa pil penurun demam yang diberikan ibunya. Meneguk segelas air dan tertidur.
Sosok bayangan muncul lagi, "Ah, efeknya mulai bekerja ya?" sosok itu berputar-putar mengitari kamar bernuansa gelap itu. Matanya yang bersinar dalam gelap menemukan sesuatu.
"Akh, jangan-jangan manusia ini …! Kelihatannya hal ini akan berjalan makin rumit." Senyum manis hadir di wajah mungil sosok itu. Jendela kamar terbuka sedikit. Angin yang masuk lagi-lagi membuat sosok itu memudar menjadi serpihan bubuk keperakan.
.
.
Fool Love, Fool Poison
.
.
Pagi hari telah menyambut wilayah Jepang, tak luput dari kediaman Hyuuga yang telah sibuk sejak pagi hari. Hanabi yang berteriak kesal karena hampir telat, Neji dan Hiashi yang tengah menyeruput kopi. Hikari dan Hinata yang sedang membuat sarapan bersama. Hinata masih terlihat cemas, sesekali ia tak berkonsentrasi dan nyaris mengiris jarinya sendiri. Sampai-sampai Hikari menyuruh Hinata untuk duduk di ruang makan dan tidak usah membantu.
"Kau kenapa Hinata?" suara Neji menyentakkan Hinata dari bayangan kelam yang menghampirinya.
"D-douita, Neji-nii."
"Oh." Neji tak bertanya banya, biarlah sang adik yang akan bercerita nantinya.
Hikari membawa hidangan sarapan ke ruang makan, omelet dan beberapa sosis gurita menghiasi piring di meja makan. Hinata kehilangan selera makannya, ia benar-benar tak mau bersekolah hari ini. Apa daya? Ia terlalu takut untuk berbohong pada sang ibu. Nantinya ia hanya merepotkan sang ibu kalau ia berbohong.
Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Ia tak boleh lari dari permasalahan!
Skip time
Yah, tekadnya begitu sih. Tapi lihatlah, Hinata berdiri kaku di depan gerbang sekolahnya. Tangannya memegang erat pada pegangan tasnya. Sudah lima menit ia berdiri dan ia masih saja merasa gugup untuk memasuki gerbang sekolahnya.
"Yo, Hinata!" Sakura menepuk punggung Hinata dari belakang. Hinata tersentak lalu memandang Sakura dengan perasaan lega.
"Ohayou, Sakura-chan."
"Ohayou Hinata. Ayo masuk!" ajak Sakura sambil mengacungkan tangannya ke atas. Hinata menatap tangan Sakura yang terjunjung tinggi. Sebuah surat? Ya, jelas-jelas Sakura menggenggam sebuah surat.
"Itu surat apa, Sakura-chan?"
"Ah? Ini? Si Sasuke tidak datang, dia demam tuh. Ibunya datang ke rumahku dan menyuruhku mengantarkan ini." Ucap Sakura santai. Hinata tersenyum pahit, apa ini efek dari ramuan sialan itu? Oh tidak! Jangan-jangan Hinata membeli racun? Semoga saja Sasuke tidak mati gegara hal itu.
.
.
Fool Love, Fool Poison
.
.
"Berdiri."
"Beri hormat."
"Ohayou, sensei!"
Seluruh siswa di kelas 2B di Konoha Gakuen tampak antusias menatap Kakashi yang akan mengajar pagi ini. Entah kenapa, hari ini sang guru tukang telat itu tidak terlambat dan hadir tepat waktu. Sesuatu yang perlu diabadikan dalam buku memorial!
"Baiklah, buka buku kalian halaman 172. Sebelumnya adakah yang tidak hadir?" tanya Kakashi sambil menilik sebuah bangku yang kosong.
"Sasukesakit, sensei!" ucap Naruto sambil tersenyum lebar. Bukannya menkhawatirkan temannya, dia malah tersenyum.
"Souka. Ayo, kembali pada pelajaran." Dengan tampang malas, Kakashi mulai menulis di papan tulis.
Setelah pelajaran Kakashi berakhir, Sakura, Ino, Tenten dan yang lainnya berkumpul di meja Naruto. Tiba-tiba Sakura menyodok perut Naruto dengan sikunya.
"Ittai, Sakura!"
"Siapa suruh kau malah tersenyum saat temanmu sakit!"
"Habis …,"
"Aku tidak mau dengar! Pergilah menjenguk Sasuke nanti!"
"Kenapa harus aku? Kau sajalah Sakura." Naruto tersenyum lima jari yang dihadiahi Sakura dengan bogem mentah.
"Aku ada latihan tenis tahu! Tenten ada latihan karate, Ino harus mengurus kouhai-nya di klub ikebana. Sisanya tinggal kau dan Hinata. Sudah, pergi sajalah, dasar!" perintah Sakura dengan senyum memaksa dan kepala tangan berada di depan wajah Naruto. Naruto menelan ludahnya susah payah.
"B-baiklah!"
"Baguslah. Hei, Hinata, kau senggang kan?" tanya Sakura pada Hinata yang sejak tadi mtidak menyimak percakapan mereka dan malah membahas soal-soal Fisika yang baru diajarkan.
"A-apa?"
"Kau senggang tidak?"
"I-iya, kenapa?"
"Kau mau menemani Naruto ke ru—"
"I-iya, aku mau!" Hinata berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya memerah karena antusias.
"Baiklah! Sudah diputuskan, yang menjenguk Sasuke adalah Naruto dan Hinata!" ucap Sakura dengan suara nyaring.
Hinata terbelalak seketika, matanya membola dan mulutnya menganga dengan tidak elit. Apa?! Apa katanya tadi? Menjenguk Sasuke? Uchiha Sasuke?
OH TIDAK!
.
.
Fool Love, Fool Poison
.
.
Hinata bersembunyi takut-takut di belakang punggung Naruto. Ia takut. Jangan-jangan pemuda itu sakit gara-gara ramuan aneh yang tanpa sengaja diminum Sasuke. Pintu rumah diketuk tiga kali. Hinata mengintip takut-takut dari sela-sela tubuh Naruto.
"Kau kenapa Hinata?"
Hinata terlonjak dan hanya menggeleng pelan. Naruto menatapnya heran.
"Ah, Naruto? Mau menjenguk baka otouto?"
Naruto menyengir, "Hai, Itachi-nii! Kami perwakilan kelas menjenguk Sasuke. kenapa dia bisa sakit sih?"
Itachi mengangkat bahu, "Entah. Biasanya dia jarang sakit."
Di belakang sana, Hinata memucat. Oh, siap-siap saja dilaporkan ke kantor polisis karena tuduhan kasus keracunan. Itachi menatap Hinata.
"Itu siapa Naruto?"
Naruto melirik Hinata, "Ini Hinata, Itachi-nii. Teman sekelas kami."
Itachi tersenyum. Hinata mengangguk perlahan dengan senyum kikuk, "Hyuuga Hinata desu. Yoroshiku onegaishimasu."
"Aku Itachi, kakak Uchiha Sasuke. Silakan masuk."
Naruto dan Hinata masuk ke dalam rumah. Melepas sepatu dan mengganti sandal rumah lalu mengikuti langkah Itachi. Hinata menggigit bibir, mempersiapkan mental baja untuk melihat hasil ramuan itu pada korbannya. Apakah benar-benar berefek? Hinatapanas dingin membayangkannya.
Naruto terkejut saat Hinata menabrak punggungnya. "Kenapa Hinata?"
"M-maaf, aku melamun."
Itachi tersenyum tipis, "Masuk saja, Naruto. Aku akan bawakan minuman dari bawah."
"Maaf merepotkan," ucap Hinata saat Naruto sudah seenaknya menyerbu masuk ke kamar minimalis itu.
"Tidak apa-apa."
Apa hanya bayangan Hinata saja atau memang senyum Itachi … agak aneh?
…
"Yo, Teme!"
Hinata memperhatikan sosok Sasuke yang menutupi wajahnya dengan kedua lengan dan terbaring di kasurnya.
"Dobe? Berisik." Pemuda itu mengintip dari sela-sela lengannya. "Siapa yang datang bersamamu?"
"Oh, aku datang dengan Hinata. Yang lain sibuk semua." Naruto dengan santai mendudukkan dirinya di atas kursi duduk yang ia ambil sembarangan, hapal benar karena sering datang ke rumah Sasuke.
"Hinata?"
Jujur saja, leher Hinata meremang seketika.
"Iya, Hinata."
"Hn."
Hinata lega dan bingung di saat bersamaan. Lega karena Sasuke kelihatannya tidak mendapat efek apapun dan juga bingung karena ternyata ramuan yang dibelinya itu bohongan. Peri penipu!
"Hoi, Teme. Ini catatan hari ini dan PR. Aku letakkan di mejamu."
"Hn."
"S-sasuke-san baik-baik saja?" Hinata bertanya takut-takut. Pemuda itu menurunkan lengannya, Hinata terlonjak dan menggeser duduknya ke belakang. Sasuke menatapnya intens.
"Biasa saja."
Naruto tertawa keras-keras, "Hei, Sasuke, tidak usah sok keren."
"Urusai. Aku mau tidur."
Hinata tersenyum kikuk. Jelas-jelas tidak bisa masuk di pembicaraan akrab Naruto dan Sasuke. Terdengar suara Itachi di lantai bawah.
"Naruto, bisa bantu aku membawa minuman ke atas?"
Naruto kembali berteriak, "Sebentar, Itachi-nii!"
"B-biar aku saja." Hinata baru saja akan berdiri kalau Naruto tidak menghalanginya.
"Sudah, aku saja Hinata. Duduk dan tunggu di sini, oke? Lagipula dia ketiduran kok, tidak akan berbahaya," jelas Naruto sambil tertawa renyah.
Hinata mengangguk pelan. Pintu ditutup rapat di belakang sana. Kelihatannya memang Sasuke tertidur. Napasnya teratur dan matanya tertutup rapat. Hinata menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"M-maaf ya Sasuke-san. Aku t-tidak sengaja membuatmu minum ramuan itu sampai kau jadi sakit seperti ini. Aku minta maaf. Kalau kau tidak sembuh-sembuh, aku akan pertimbangkan untuk melaporkan diri ke kantor polisi karena membuatmu keracunan. H-hontouni gomenasai."
Hinata menghela napas lega setelah aksi memohon maafnya selesai.
"Apa?"
H-hah? Suara siapa itu? Hinata memandang sekelilingnya dengan bingung. Matanya membola dan pandangannya tertumbuk pada Uchiha Sasuke. Pemuda itu membuka matanya. Hinata meneguk paksa ludahnya.
What. The. Hell.
"Apa yang kau katakan tadi, Hinata?"
Eh? EHH?!
"K-kau tidak tertidur?"—dan sejak kapan pemuda itu memanggilnya dengan nama kecil?
"Omong kosong apa yang kau katakan tadi?" Sasuke bangun dari tidurnya dengan rambut diacak pelan. Mata hitamnya menyorot wajah Hinata yang pucat.
"A-apa?"
"Kenapa kau bingung seperti itu, Hinata?" Sasuke mendekati Hinata yeng memeluk tubuhnya penuh perlindungan dan menggeser tubuh gadis itu sampai menabrak pintu lemari di belakang sana.
"S-sasuke-san, jangan mendekatiku."
Pemuda itu mendelik. "Memangnya kenapa?"
"K-kita hanya teman sekelas."
Pemuda itu mengernyitkan dahi. Tangannya memegang dagu gadis itu.
"Hanya? Dasar pelupa."
Hinata bisa merasakan kepalanya berputar-putar. K-kenapa efek ramuannya baru terlihat sekarang?
"J-jangan menyentuhku. M-maafkan aku membuatmu minum ramuan itu jadi tolong jangan dekati aku!"
Sasuke tetap menyudutkan gadis itu.
"Aku tidak mengerti kenapa sejak tadi kau tetap mengatakan hal-hal aneh, Hinata."
Astaga, kenapa Itachi dan Naruto lama sekali kembali ke atas?!
"T-tunggu dulu!" Hinata mendorong dada Sasuke agar menjauh.
"Hm, kenapa? Bukannya ini sudah biasa?"—biasa kepalamu, Sasuke, bicara saja satu bulan sekali!
"T-tunggu. Memangnya aku siapa bagi Sasuke-san?"
Pemuda itu menatapnya tajam. Ia menyentil dahi Hinata dengan lembut.
"Berapa kali harus kukatakan untuk tidak memakai suffix, Hinata? Aku tidak suka."
Tidak pernah. Hinata tidak pernah tahu. Sumpah! Efek ramuan itu mengerikan.
"S-sasuke?" Hinata mengucapkannya dengan nada bertanya. Raut wajahnya berubah pias.
"Bagus. Apa yang kau tanyakan tadi? Kau siapa bagiku?"
Hinata mengangguk takut-takut.
"Jangan bilang kau lupa, Hinata. Ini tidak lucu."
A-apanya yang tidak lucu, coba?!
"Bisa-bisanya kau lupa—"
Lupa apa sebenarnya?!
"—kalau aku pacarmu?"
Hah? Apa?
Hinata menutup mulutnya karena terkejut, "A-apa?" kali ini bertanya serius.
Brakk!
Pintu menjeblak terbuka. Naruto dan Itachi masuk ke dalam.
"Kami kembali!"
"Hei, Otou—apa yang kau lakukan?!" teriak Itachi kaget.
Keduanya terbelalak. Sasuke menyudutkan Hinata di pojok kamar. Wajah gadis itu memerah dan Sasuke menatap mereka dengan tatapan inosen.
"HUWAA!"
Total; ada tiga orang yang menjerit pada saat itu.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Bisa tebak siapa yang kali ini menulis? XD Maaf ini udah diabaikan sedemikian lama. Baru punya waktu melanjutkan setelah melihat draft yang teronggok di dalam file. Sudah ada setahun kah? T_T Semoga terhibur dengan chapter kali ini. Dukungan dan apresiasi pembaca kami terima dengan sangat senang. Komentar, saran dan kritik sangat dibutuhkan. :)
.
Mind
To
RnR
?
.
Sign,
Ether-chan and Nuju Jomblo
