Hello, Shooting Star chap 2
Rated M/HunHan
.
.
.
Langit mulai tampak bercahaya, matahari menelisik masuk melalui jendela kamar. Seorang pria bertubuh mungil menggeliat tak nyaman karena silaunya cahaya matahari. Mata rusanya mengerjap imut, ia terbangun dari tidurnya, namun rasa pening tiba-tiba menerjang kepalanya, belum lagi bagian bawahnya terasa sakit dan badannya pun tak kalah sakit.
Ia tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Walaupun tuannya dulu sering memukulnya tiap kali ia melawan, tapi ia merasa tuannya itu sangat baik. Ia tersenyum kecil mengingat kebersamaannya bersama tuannya, namun matanya kosong menatap jauh keluar jendela. Ada rasa bersalah yang bergemuruh dalam dadanya, rasa sesak yang memaksa keluar.
Suara perutnya yang lapar memecahkan lamunannya, ia mengelus perutnya dan memukul-mukulnya pelan. Suara pintu ruangannya berderit pelan menampakkan seorang pria berbalut jas hitam yang sedikit gemuk membawakan nampan berisi makanan.
Luhan menggeram ria, sambil mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibirnya.
Pria itu menarik satu sudut bibirnya dan menaruh nampan itu di nakas samping tempat tidur luhan. "Pantas saja tuan sehun mau menidurimu, tubuhmu indah"ujar pria tersebut sambil sesekali melirik dada luhan yang tidak tertutupi selimut.
Tanpa aba-aba luhan langsung memakan makanan itu langsung dengan mulut layaknya anjing, membuat makanan tadi sedikit tumpah di jas lelaki yang sepertinya salah satu bodyguard di rumah sehun.
Lelaki gendut itu menggeram "anjing sialan" ia lalu mengambil sesuatu yang tergantung di celananya, lalu menempelkannya pada tubuh luhan, membuat sang empunya tubuh tiba-tiba saja kejang-kejang tersetrum. Ya, ia baru saja di setrum dengan alat penyetrum binatang.
Luhan menatap nyalang ke arah pria gendut itu karena menurutnya pria itu baru saja mengganggu acara makannya. Ia mengambil garpu di atas nampan, dan mulai melangkah mendekati pria gendut itu. Pria itu bergetar takut, ia lupa bahwa luhan adalah seorang anjing pembunuh, oh dan jangan lupa bahwa sekarang luhan sedang tidak di rantai. Lelaki itu mulai melangkah mundur, air mukanya berubah ketakutan.
'Chap chap chap'
Dalam beberapa detik lelaki itu sudah terkapar penuh darah di lantai, luhan masih merasa geram ia lalu memukul mukul kepala pria itu sekuat tenaga. Pria itu sudah lemas tak berdaya, luhan lalu tersenyum dan memakan makannya yang jatuh di lantai. Seorang maid masuk bermaksud mengantar baju ganti untuk luhan, matanya membulat tak percaya melihat ruangan itu penuh darah bercecer dimana-mana.
"Aaaaa!"ia berteriak begitu nyaring, membuat luhan kembali menggeram karena merasa terganggu lagi. Ia kemudian mengambil garpu yang tergeletak tak jauh darinya.
Namun, belum sempat ia menusukkan garpu itu, para bodyguard datang dan langsung saja menghambur menahan luhan. Sehun melenggang masuk ingin tahun apa yang terjadi, detik berikutnya matanya membulat dan tubuhnya sedikit bergetar.
Mata luhan melembut melihat sehun, ia mencelos mendapati sehun menatapnya takut dan jijik. Rasanya sangat sesak, dan air mata kini menetes jatuh di atas lantai coklat itu.
Sehun menatap luhan datar "rantai dia, dan pakaikan dia baju"ujar sehun datar, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Luhan menatap punggung sehun yang kini menghilang di balik pintu. Sungguh ia tak bermaksud membunuh siapapun, hanya saja insting liarnya keluar tanpa bisa di tahan. Ia telah di latih seperti ini, dan ia terbiasa seperti ini.
Tapi, hari ini melihat sehun menatapnya takut dan bagaimana bergetarnya bahu sehun tadi. Ia tiba-tiba merasa sesak dan bersalah sambil menatap tubuh pria gendut yang masih tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.
Ini pertama kalinya ia menatap korbannya setelah melukainya.
Ia kembali menatap pintu dengan tatapan nanar, mengangkat tangannya yang masih di pegangi bodyguard dan terlihat berusaha menggapai pintu itu.
Aku bukan monter sehun.
Sehun maafkan aku.
.
.
.
Luhan kini terduduk di lantai ruangannya yang terasa dingin, tubuhnya kini di balut kaos putih dan celana pendek selutu yang begitu pas di tubuh mungilnya, walaupun kaos itu sangat tipis, setidaknya menjaganya agar tetap hangat. Tangannya dan kakinya kini sudah di rantai.
Pikirannya kini kembali melayang dimana ia melihat sehun yang menatapnya takut. Ia sungguh tidak bermaksud menakuti sehun. Rasa sesak yang bergemuruh kini menghinggapi dadanya kembali, ia terbaring lemah di lantai, menatap banyangannya di lantai yang terlihat samar. Air mata kembali jatuh dari pelupuknya, melewati hidung mungilnya dan jatuh menetes di lantai.
Mengapa semua Menjadi terasa salah?
pintu ruangannya kembali terbuka, menampakkan seorang pria tinggi kurus yang selama ini menghinggapi pikirannya.
Luhan tersenyum lembut mendapati sehun berdiri disana dengan tatapan kosongnya.
Sehun mendekati luhan, luhan bangkit dari tidurnya dan masih setia tersenyum. Luhan meringis kaget merasakan rasa sakit yang menyeruak karena sehun kini menjambak rambutnya dan memaksa menatapnya.
"Selain jalang ternyata kau juga monster heh?"
Sehun menatap rendah luhan "jadi kau merasa bahagia setelah membunuh kedua orang tuaku?"
Setitik air mata turun melalui ekor mata luhan, ia tersenyum lembut ke arah sehun membuat sehun merasa geram. Ia merasa luhan benar-benar bahagia di atas penderitaan orang tuanya.
'Plak' sehun menampar luhan begitu kuat.
Luhan terdiam, sehun kembali menamparnya berkali-kali membuat pipi tirus itu kini bengkak dan memerah. Sehun mencengkram leher luhan dan menghempaskan kepala luhan ke dinding, lalu melumat bibirnya ganas dan tangannya masih mencekik luhan. Meskipun merasa sulit bernafas, luhan tetap berusaha melayani sehun dengan baik, ia pikir dengan melakukan apa yang di minta sehun, sehun tidak akan menatapnya rendah lagi, ia yakin sehun akan kembali menatapnya seperti yang ia lakukan 12 tahun lalu.
Menatapnya seakan-akan luhan adalah orang paling istimewa.
Dalam lumatan itu, luhan tersenyum. Sehun masih melumatnya, sesekali menyesap bibir luhan, tangannya mulai meraba-raba tubuh luhan.
Sehun menelusupkan lidahnya dan mulai mengajak lidah luhan bermain, ia menjilat langit-langit mulut luhan dan mengemut lidah luhan, saling bertukar saliva, dan ia bersumpah saliva luhan adalah hal paling manis yang pernah ia rasakan.
"Mmhh"luhan mulai menikmati permainan lidah sehun, dan membiarkan sehun mengeksplor seluruh bagian mulutnya jika itu membuat sehun senang.
Tangannya tak ia biarkan menganggur, jarinya kini mulai mencubit nipple luhan. "Nghh"luhan mendesah tertahan merasakan tangan sehun bermain-main dengan nipplenya di tambah mulut sehun yang masih setia membungkam bibirnya.
Sehun merasa mulai jenuh, ia lalu mengecap leher luhan, menghisap-hisapnya seakan leher luhan adalah permen yang manisnya tiada habis.
"Ahhh nghh"
Sehun sesekali menggigit leher luhan lalu menyesapnya, menciptakan karya cinta yang begitu merah di leher luhan yang begitu putih.
sehun kini memasukkan kepalanya ke dalam baju luhan.
"Akhhh" luhan meringis merasakan gigi sehun sudah menggigit nipplenya, ia merasakan sesuatu mengalir di tubuhnya.
Darah, itu adalah darah. Sehun tak peduli ia sudah menggigiti tubuh luhan hingga berdarah, ia hanya ingin menyiksa 'monster' di depannya sembari menyetubuhinya
"Ahhh nghh" luhan tak hentinya mendesah, ia tak bisa menghentikan suara-suara yang menurutnya aneh terlontar dari mulutnya. Rasa nyeri yang menyerang tubuhnya seakan hilang tergantikan rasa nikmat oleh sentuhan sehun dan bibirnya yang terasa lembut itu.
Sehun menarik celana luhan dan memasukkan 3 jari sekaligus dalam hole luhan.
"Akhhhh"luhan merasakan nyeri menyeruak di bagian bawahnya, tadi pagi nyeri itu belum hilang dan sekarang harus di tambah lagi. Air mata kembali membasahi wajahnya, ia tak bisa melakukan apapun karena tangan dan kakinya di rantai, di tambah orang yang saat ini di hadapannya adalah orang yang entah mengapa selalu membuat hatinya tenang dan merasa hangat.
"Ahhh ahhh nghhahhah"luhan kembali mendesah tak karuan, rasa sakit tadi kini menjadi rasa nikmat yang luar biasa nikmat, Merasakan jemari sehun berputar-putar secara brutal di dalam tubuhnya.
Sehun menatap lapar ke arah lubang pink yang di mainkannya dengan jari, sesuatu di bawah sana sudah sangat keras dan tak sabar ingin memasukinya, di tambah sedari tadi juniornya sudah bergesekan dengan paha luhan.
"Ahhh"luhan mendesah lega merasakan jari sehun keluar dari lubangnya.
Sehun bersmirk ria "bersiaplah anjing jalang"ujarnya pelan, sehun melepas celananya memperlihatkan juniornya yang sudah berdiri tegak dan mengeras, ia lalu memasukkan juniornya sekali hentak.
"Akhhhhhh"luhan menahan tangisnya, holenya terasa amat sangat sakit.
Sehun sama sekali tidak berniat bermain lembut meskipun wajah luhan sudah terlihat lelah, dan air mata yang terlihat sudah mengering menghiasi wajah 'monster' di depannya.
"Ahhh"sehun mengerang nikmat saat di rasakannya lubang luhan memijat-mijat bagian bawah dirinya.
Ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dan menggenjotnya dengan brutal.
"Ahh ahh ahh ahhh"rasa nikmat kembali menyeruak di bagian bawahnya, membuat luhan menggila dan terus mendesah.
Sehun tak kalah menggila, lubang luhan benar-benar terasa nikmat baginya. "Ahh ahh sialan kau sangat sempit, jalang. Ini nikmat"ia terus meracau merasakan hole luhan yang mengapit juniornya dengan sangat ketat.
Sehun semakin brutal menggenjot hole luhan, membuat luhan semakin kewalahan namun masih merasa sangat nikmat "ahh ahh nggahhh" luhan merasakan bagian bawahnya mulai berkedut, di tambah junior sehun yang terasa semakin membesar di dalam tubuhnya.
"Ahh ahh ini akan sangat nikmat!"sehun berteriak nikmat.
"Ahhh, ahhh ahhh!"luhan berteriak setelah mencapai puncaknya.
Dan dalam satu kali tumbukan, sehun ikut merasakan orgasmenya. Sperma sehun masuk kedalam lubang luhan dengan sangat sempurna,membuat tubuh bagian bawahnya merasa hangat meskipun terasa sangat sakit.
Luhan menatap nanar ke arah sehun, sehun menarik juniornya kasar membuat luhan sedikit meringis. Luhan yang sudah lemas mengangkat tangannya yang di rantai ke atas, berusaha menggapai sehun yang sudah berdiri.
Sehun sibuk memasang celananya dan tak memperdulikan luhan.
'Bruk' tiba-tiba saja luhan menarik kaki sehun dengan sisa tenaganya, membuat sang empunya kaki terjengkang dan membenturkan kepalanya ke lantai.
Sehun meringis merasakan pening dan sakit yang menyerang kepalanya. Sehun menatap nyalang ke arah luhan yang kini menutupi bahunya, meskipun sedikit heran ia masih tak memperdulikan itu. Ia melangkah mendekati luhan, lalu memukul kepala luhan dengan tinjunya berkali-kali.
"Jalang sialan! Siapa kau berani menyerangku hah?!"
'Plak' sehun menampar luhan keras, lalu menendang perut luhan yang masih belum sembuh dari pukulan sebelumnya bertambah sakit.
Luhan meringis, dan kembali menangis.
"Cuih"sehun meludah padanya, lalu meninggalkan luhan yang sudah terkapar di atas lantai.
Dengan air mata yang sudah merembes di pipinya, ia menatap punggung sehun yang mulai menjauh dengan tatapan nanar, lalu tersenyum kecil dan terlihat merasa lega.
.
.
.
"Jalang sialan"sehun menggerutu pada dirinya sendiri sambil mencoba menetralkan rasa pening yang masih menyerang kepalanya.
"Luhan? Namamu luhan? Manis sekali"
Tiba-tiba suara itu melintasi kepalanya membuat kepalanya semakin pusing. Ia kembali menuruni tangga menuju dapur, bermaksud mengambil segelas air putih untuk menenangkan dirinya.
Namun langkahnya terhenti ketika seluruh bodyguard kini berbondong-bondong berlari ke arah dirinya dan menatapnya dengan tatapan khawatir.
Sehun mengernyit, lalu menaikkan satu alisnya menatap sang kepala keamanan "ada apa?"tanya sehun.
"Kau tidak apa-apa tuan?"tanya kepala Song.
"Apa? Aku hanya merasa pusing, ada apa?"sehun mulai kebingungan.
Kepala song menghela nafasnya lega "syukurlah tuan, tadi ada penyerangan dengan sniper. Kami masih menyelidiki siapa mereka"ujar kepala song.
"Apa? Tapi mengapa aku tidak mendengarnya?"tanya sehun merasa aneh.
"Mereka menembak ruangan timur, dan anda tadi berada disana, jadi kami merasa khawatir. Tapi sepertinya anda baik-baik saja"
Sehun mulai memutar pikirannya dalam-dalam, dan tiba-tiba saja hatinya terasa terenyuh.
"Luhan"
.
.
.
Flashback
Luhan menatap sehun yang masih sibuk memasang celana dengan tatapan khawatir. Ia mencoba memaggil sehun, namun lidahnya terasa sangat kelu karena ia tidak pernah bicara sebelumnya.
Luhan mulai merasa frustasi, titik merah itu kini mulai berpindah ke kepala sehun, namun sehun masih tak menyadari itu. Dengan sisa tenaganya, la menarik rantainya berusaha menggapai kaki sehun, membuat pergelangan tangannya memerah.
'Bruk' luhan berhasil menggapai kaki sehun, sehun juga sepertinya tidak mendengar suara sniper yang menembus kaca karena suara benturan kepalanya yang cukup keras.
Luhan meringis merasakan bagian bahunya yang perih terkena peluru sniper. Luhan menatap lega sehun yang kini menatapnya nyalang.
'Buk buk buk' meskipun sedikit kaget, tapi luhan menerima pukulan sehun dengan pasrah, karena ia terlalu lemas dan kehabisan tenanga dan juga setidaknya ia sudah bisa mati dengan tenang setelah memastikan bahwa sehun baik-baik saja.
Ia terbaring lemas di lantai, menatap kepergian sehun dengan tatapan lega. Bajunya yang masih tersingkap kini telah basah oleh darah. Luhan menatap darah yang mulai mengaliri lantai dengan tatapan bahagia, ia merasa sangat bahagia karena bisa menyelamatkan sehun dengan nyawanya.
Ia bahagia bahwa sehun baik-baik saja, ini pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan perasaan yang mengibar-ngibarkan hatinya. Air matanya kembali mengalir, jatuh menetes di lantai dan bercampur dengan darah yang kini menggenangi lantai.
"S-sa..."luhan mencoba sekuat tenaga untuk menggerakkan lidahnya.
"Rang..."
"S-sa.. rang"
Cinta sehun
Luhan tersenyum malu, dan perlahan kehilangan kesadarannya.
Flashback OFF
.
.
.
Sehun berlari menyadari kebodohannya, jadi karena itulah luhan menutup bahunya. Sebenarnya ia memang sempat mendengar suara serpihan kaca, namun saat itu ia terlalu emosi dan tak mengindahkan suara itu, ia malah memukuli luhan yang menyelamatkan nyawa.
Entah mengapa, kini sehun merasa bahwa dirinyalah seorang monster. Sejak kapan? Sejak kapan Oh sehun yang tipikal anak desa yang hangat dan ceria kini menjadi seorang monster? Sehun pusing memikirkannya, ia berlari diikuti para bodyguard di belakangnya.
'Brak' ia membuka pintu kamar luhan, matanya membulat dalam hitungan detik, melihat luhan yang sudah di genangi darah terkapar di atas lantai yang begitu dingin. Sehun menghampiri tubuh luhan, memeriksa denyut nadinya yang mulai melemah.
"Cepat! Panggil dokter!"teriak sehun, dan kepala song bergegas memberi arahan pada anak buahnya.
Sehun menatap lirih wajah luhan yang terlihat sangat pucat, dan tanpa ia sadari setitik bulir air menetes di pipinya. Sehun mengusap pipinya kasar "apa ini? Sialan aku tidak akan menangis hanya karena jalang sepertinya"
"Urus dia sampai dokternya datang"ujar sehun datar.
"Dan jangan lupa, kau harus menemukan pelakunya. Jika tidak, kalian semua aku bunuh"lanjutnya kemudian melangkah pergi.
Ia melangkah menuju dapur, lalu meneguk segelas air putih hingga habis. Semua kejadian yang tiba-tiba ini membuat tenggorokannya kering dan kepalanya terasa pening.
Sehun menatap kesal pada bayangan dirinya yang terlihat samar di kulkas "mengapa kau menyelamatkanku?"gumam sehun.
"Jadi aku berhutang nyawa padamu, begitu? Lalu melepaskanmu karena merasa bersalah?"gumamnya lagi.
"Sial! Kau tidak akan pernah lepas dariku berengsek!"teriak sehun lalu meninju kulkas dengan keras, tak perduli dengan rasa berdenyut yang kini menyerang tangannya.
Kepala song menghampiri sehun yang masih terlihat marah. "Ada apa?"tanya sehun datar.
"Luhan sepertinya kehilanga banyak darah, karena tidak ada pendonor darah dan stok darah, dokter menyarankan ia di rawat di rumah sakit.
Sehun menatap dingin kepala song "apa golongan darahnya?"
Kepala song menundukkan kepalanya "O tuan"ujarnya pelan, karena itu berarti sama dengan golongan darah sehun.
Sehun menghela nafasnya "kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena ia seorang pembunuh, aku akan mendonorkan darah"ujar sehun.
"A-ah tidak perlu tuan, aku akan mencari anak buah kita yang bergolongan darah sama"
Sehun berdehem "biar aku saja" sehun kembali ke ruangan luhan dan memberikan darahnya pada luhan, hitung-hitung membayar hutang budi luhan.
.
.
.
Luhan tersadar dari pingsannya dan mendapati bulan kembali bersinar. Meski merasa kepalanya terasa sangat berat dan bahunya terasa sangat sakit, ia tersenyum dan memandangi cahaya bulan dan bintang yang menurutnya sangat indah.
Luhan masih bergelung dalam pikirannya tanpa menyadari seseorang memasuki ruangannya. Luhan merasakan seseorang kini melangkah mendekatinya, ia mengalihkan pandangannya sedikit malas. Beberapa detik berikutnya matanya membulat, melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan kaca matanya yang khas menatap nyalang ke arah luhan.
"Hai luhan, rindu aku?"
Luhan menatap ngeri ke arah pria di hadapannya, bulu kuduknya merinding dan rasa sakit yang menyerang tubuhnya tiba-tiba saja menghilang.
"Berani sekali kau menghalangiku membunuh sehun hah?"ucap pria itu terdengar begitu dingin dan menusuk.
Tubuh luhan bergetar, kepalanya terus menggeleng-geleng. Pria di hadapannya tiba-tiba saja menyetrum luhan dengan alat penyetrum binatang secara terus menerus, membuat luhan langsung saja kejang-kejang dan merasakan sakit yang teramat sangat.
Luhan bisa saja membunuhnya, namun tuan tetaplah tuan. Anjing selalu takut pada tuannya, sama halnya dengan luhan.
Otak luhan sudah di reset untuk takut pada tuannya. Dan ia benar-benar tidak bisa melawan pada tuannya.
Pria di hadapannya menarik rambut luhan yang sudah terkapar lemah dan menatapnya tajam "jika kau masih berani menghalangiku, aku bisa melakukan lebih dari ini luhan yang manis"
Pria itu kembali menyetrum luhan beberapa kali, seakan itu adalah hobinya yang sangat ia nikmati. Luhan hanya bisa terkapar lemah dan terus memikirkan keselamatan sehun.
Hari ini ia bisa menyelamatkan sehun, tapi bagaimana saat sehun di luar? Bagaimana saat hari lain? Luhan begitu takut bahwa sewaktu-waktu sehun bisa saja kehilangan nyawanya.
Ia takut sewaktu-waktu ia tak dapat melihat sehun lagi selamanya.
Ia takut.
Tbc
