Hello, Shooting Star
Rated M/Mpreg/HunHan
Author meminta untuk tidak men-jugde sebelum kalian baca the whole story till the end. Don't like it? Then don't read it. Thanks guys.
.
.
.
Sehun terjaga dari tidurnya, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang membangunkannya. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 03.00 pagi, ia menghela napasnya sejenak lalu melangkah keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk sekedar menyegarkan tenggorokannya yang kering.
Setelah beberapa kali meneguk air minumnya, ia menatap ke arah timur dimana luhan tertidur di ruangan timur paling ujung. Entah mengapa hati sehun seakan menyuruhnya untuk kesana, sehun menghela napasnya sejenak lalu melangkah menuju kamar luhan untuk sekedar melihatnya.
Sehun segera membuka pintu kamar luhan, namun mata elangnya tak mendapati luhan di atas tempat tidur. Dalam hitungan detik mata sehun membulat mendapati luhan terbaring lemah di atas lantai yang begitu dingin. Ia menghampiri luhan agak ragu, lalu menyentuh tubuh luhan pelan.
Panas
Sehun menghela napasnya karena demam luhan semakin naik, ia bersiap untuk kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya, lalu menelpon dokter pribadi mereka. Namun sepasang tangan melingkar di kakinya, membuat sehun yang sudah berdiri menundukkan kepalanya dan mendapati luhan tengah tersenyum lemah dengan bibir pucat pasi ke arahnya.
Entah mengapa hati sehun rasanya teriris melihat senyuman yang menghantarkan rasa sakit itu. Sehun tanpa sadar membalas senyum luhan, dengan lembutnya ia mengangkat tubuh luhan dan membaringkannya di atas tempat tidur lalu menyelimutinya.
Luhan menggenggam tangan sehun lalu menatapnya lirih.
Tetaplah disini, aku mohon. Sehun.
Sehun seakan teriris dan luluh dengan tatapan itu. Ia ikut bergelung dalam selimut luhan dan berbaring di sampingnya. Luhan tersenyum senang, hatinya merasa lega, tenang, sekaligus hangat. Fakta bahwa sehun kini tengah berbaring di sampingnya sungguh membuatnya begitu bahagia. Hingga membuatnya tertidur dengan setitik air mata yang mengaliri pipi dan hidungnya.
Tanpa sadar, sehun menangis melihat pemandangan itu. Ia mengusap wajahnya kasar lalu menatap luhan lembut, matanya kini beralih menatap baju luhan yang tersingkap memperlihatkan perutnya yang penuh bekas luka dan luka yang masih basah. Sehun merasa sesak melihat itu semua, bagaimana seorang manusia bisa memiliki luka sebanyak ini?
Dia sudah mengecap tubuh itu beberapa kali, lalu mengapa ia baru menyadarinya sekarang? Apa mungkin karena rasa marah akan pembunuhan orang tuanya telah membutakannya?
Dan memikirkan tentang itu, sehun menyadari tentang sesuatu. Ia tidak pernah di berikan bukti bahwa luhan adalah pembunuh orang tuanya. Sehun menatap luhan dengan matanya yang sedikit membesar. Jika di ingat-ingat, waktu itu orang tuanya terbunuh, lalu tiba-tiba ia disodorkan 'luhan' yang mereka sebut sebagai pembunuh orang tuanya.
Katakan, kau bukan pembunuh.
Ingin sekali sehun meyakini bahwa luhan bukan seorang pembunuh. Namun bagaimanapun, luhan seorang anjing pembunuh dan ia sudah melihat sendiri bagaimana luhan membuat salah satu bodyguard-nya terkapar penuh darah.
Tapi apakah itu membuat luhan membunuh orang tuanya?
.
.
.
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya membiasanya matanya dengan cahaya matahari yang memasuki korneanya. Luhan terkejut mendapati dirinya yang kini berada di ruangan yang berbeda, di tambah bau obat-obatan yang menyeruak menusuk hidungnya.
Karena terlalu nyenyak tidur,luhan tak menyadari bahwa dirinya telah di bawa ke rumah sakit setelah semalam dokter pribadi sehun menyarankan agar luhan di rawat lebih intensif di rumah sakit saja. Luhan mengerang seketika kepalanya terasa sakit dan tubuhnya juga terasa sakit dimana-mana, setelah kemarin di pukul seharian dan tidak melawan.
'Grek' suara pintu kamarnya terdengar bergeser, luhan menolehkan kepalanya lemas dan mendapati tatapan tajam sehun yang kini menatap ke arahnya. Luhan tersenyum miris, sehun kembali pada dirinya yang ini, ia tidak akan mendapat tatapan dan senyum lembut seperti semalam lagi.
Tapi ia cukup bersyukur dan bahagia bahwa 'sehun' yang di tunggunya masih ada dalam lubuk hati sehun yang sekarang berdiri di hadapannya dengan tatapan kelam.
Sehun duduk di samping tempat tidur luhan masih menatap luhan tajam. Luhan bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya, merasa agak risih dengan selang yang terpasang di tangan kirinya. Namun, ia memilih menatap sehun dengan lembut meski sehun membalasnya dengan tatapan benci dan jijik.
"Aku- aku ingin menanyakan sesuatu padamu"sehun berujar pelan.
Meski luhan tidak bisa berbicara, ia mengerti semua apa yang di katakan sehun. Ia diam, masih menatap sehun lembut.
Tatapan mata sehun sedikit melembut meski masih ada sisa rasa benci disana. "Kau- apakah kau benar membunuh orang tuaku?"
Luhan terdiam.
"Apakah kau membunuh orang tuaku, seperti kau memperlakukan penjaga kemarin? Apa seperti itu?"mata sehun kembali menunjukkan amarah jika membayangkan ibu kesayangannya di perlakukan sesadis itu oleh luhan.
Setitik air mata turun membasahi pipi tirus luhan, cahaya matahari yang memasuki ruangan itu membuat bulir krystal itu berkilauan. Luhan menatap sehun lirih dengan air mata yang mulai jatuh mengalir dari pelupuknya ketika mendapati sehun menatapnya dengan tatapan -kau monster-nya
Luhan menundukkan kepalanya, ia mencoba menggerakkan lidahnya namun ia tak bisa. Lidahnya terlalu kelu untuk sekedar berbicara, seumur hidupnya ia belum pernah berbicara.
Sehun terdiam melihat luhan, ia bingung dan hatinya mencelos. Mengapa luhan tidak mengatakan sesuatu? Mengapa luhan hanya diam? Sehun sungguh berharap bahwa saat ini luhan dapat berteriak dengan lantang bahwa ia tidak membunuh orang tua sehun. Namun harapan tinggalah harapan. Sehun merasa kecewa dengan luhan yang hanya tertunduk menangis di sana, sehun melangkah keluar dari kamar luhan dengan tangan terkepal, lalu menutup kamar luhan sedikit agak keras.
Ia menatap tajam ke arah sekertaris kim "lakukan sesuatu untukku"ujarnya parau.
Sekertaris kim membenarkan letak kacamatanya "tentu saja, apapun itu tuan"jawab sekertaris kim dengan tenang.
"Kau harus mencari bukti bahwa luhan membunuh orang tuaku, lalu perlihatkan padaku"ucap sehun datar. Namun tak ada jawaban dari sekertaris kim.
"Kenapa kau tidak menjawabku?"
Sekertaris kim mengerjapkan matanya beberapa kali di balik kacamata itu lalu tersenyum manis "baik tuan, saya akan melakukan itu"
Sehun menghela napasnya sejenak lalu beranjak pergi. Luhan kini termenung memandangi pemandangan luar jendela yang memperlihatkan taman rumah sakit yang begitu indah dari atas. Begitu banyak bunga yang tumbuh di musim semi.
Seorang dokter masuk ke ruangannya untuk memeriksa keadaan luhan. "Selamat sore, pemandangan yang sangat indah bukan?"tanya pria mungil bermata bulat itu.
Luhan menoleh dan mendapat tatapan hangat dari pria di hadapannya yang kini tengah memeriksa tubuh luhan dengan stetoskopnya sesekali melirik luka-luka dan bekas luka luhan yang tertoreh begitu banyak di tubuh kurusnya.
Pria manis dengan mata bulat di hadapannya tersenyum hangat "namamu xi luhan kan?"
Luhan menatap dokter itu dalam diam, dia adalah orang selain sehun-dulu- yang menatapnya sehangat itu dan membuat hatinya merasa nyaman.
"Aku do kyung soo"ujar kyung soo tersenyum. Ia kembali memeriksa luka-luka di tubuh luhan lalu berdecak kesal "aku tau mereka melatihmu menjadi seorang anjing pembunuh, tapi ini benar-benar melanggar hukum. Manusia semanis kau tidak pantas mendapat luka seperti ini"
Luhan tersenyum manis lalu menatap keluar jendela. Kyung soo tersenyum mengerti akan keinginan luhan "kau ingin ke taman rumah sakit?"tanya kyung soo pelan.
Luhan menoleh dan menatap kyung soo bersemangat "baiklah, aku juga sudah kosong untuk hari ini, aku akan menemanimu"
Luhan tersenyum, kyung soo membantu luhan berdiri dan mengajarkan luhan bagaimana cara membawa tiang penggantung kantong infusnya jika ia ingin keluar atau pergi ke toilet.
Luhan duduk di kursi taman rumah sakit di temani kyung soo di sampingnya. Ia memejamkan matanya sejenak, merasa nyaman ketika angin menyapa wajahnya dan menyejukkan lehernya, serta aroma musim semi yang begitu khas yang memanjakan hidungnya. Di tambah kehadiran seorang teman di sampingnya.
Ia begitu bahagia ketika ia membuka matanya dan mendapati senyum hangat kyungsoo yang membuat hatinya begitu hangat. Rasa bahagia itu cukup untuk membuat setetes air mata mengalir di pipinya.
Kyung soo sedikit terkejut mendapati luhan tiba-tiba saja menangis.
Terima kasih, kyung soo.
Kyung soo merasa mengerti dengan tatapan mata luhan, ia memeluk luhan dengan begitu erat, sekedar memberi kehangatan yang menjalar. Tanpa mereka sadari, sehun menatap mereka sambil menyenderkan tubuhnya di tembok rumah sakit. Menatap kyung soo teman kecilnya yang memeluk luhan, seseorang yang mereka bilang adalah pembunuh orang tuanya.
Tatapan mata sehun begitu lembut daripada sebelumnya, merasa sedih dan teriris melihat luhan yang selama ini terluka begitu banyak. Apakah ia tau bagaimana luhan begitu tersiksa selama ini? Tidak, sehun tidak tau. Ia terlalu bodoh untuk sekedar mengetahui itu.
.
.
.
Luhan masih tersenyum-senyum memandangi kyung soo yang kini mengantarnya keruangannya kembali. Tubuh luhan menegang mendapati tatapan tajam sehun yang kini berdiri di depan ruangannya.
Kyung soo menghela napasnya sejenak lalu menyenggol bahu luhan membuat luhan merasa sedikit terdorong. Luhan menundukkan kepalanya, lalu mengeluarkan tangan kanan yang tersembunyi di balik punggungnya dan menyodorkan bunga lili putih yang tadi ia petik di taman rumah sakit lalu tersenyum manis ke arah sehun.
Sehun merasa terenyuh, namun entah mengapa setiap ia melihat luhan ego dan rasa amarahnya seakan membutakan matanya untuk sekedar melihat tatapan tulus dan senyum manis itu. Ia segera menepis tangan luhan membuat bunga itu terlempar ke lantai.
Luhan mencelos menatap setangkai bunga lili yang kini sedikit hancur di lantai. Ia menatap sehun begitu kecewa, sehun tiba-tiba merasa ingin meminta maaf namun mulutnya terlalu di pengaruhi rasa gengsi. Pikirannya mengatakan bahwa ia tidak boleh meminta maaf pada orang yang telah membunuh orang tuanya, seharusnya luhan lah yang meminta maaf. Air mata kembali jatuh dari pelupuk mata luhan, ia melangkah gontai memasuki ruangannya lalu menutup pintu dengan pelan.
Kyung soo menatap sehun yang tertunduk dengan begitu kecewa "kau, sungguh berubah sehun-ah"ujar kyung soo pelan.
Sehun terdiam sejenak "aku tidak berubah"
"Kau berubah, lihat dirimu dikaca pikirkan bagaimana hidupmu dulu dan sekarang"kyung soo menarik napasnya.
"Kau bilang luhan itu mosnter pembunuh kan? Namun, ku pikir kau salah sehun"lanjut kyung soo.
Sehun mendongak dan menatap kyung soo datar. "Disini, tampaknya kau lah yang lebih terlihat seperti seorang monster"
Sehun mencelos.
"Luka-luka baru di tubuhnya itu kau yang melakukannya kan? Tanda-tanda merah di tubuhnya, kau menidurinya kan sehun?"
Sehun terdiam sejenak "hentikan"ujarnya dingin.
Kyung soo menatap sehun lirih "kau menidurinya sambil menyiksanya? Yang benar saja, Oh Sehun?"
"Hentikan!"bentaknya, kyung soo terhenyak. Ini pertama kalinya sehun membentaknya seperti itu.
"A-ah maaf kyungsoo-ah"ujar sehun lirih.
Kyung soo mundur beberapa langkah menjauhi sehun. "Kau... monster, sehun"ucap kyung soo pelan, lalu melangkah meninggalkan sehun yang kini terdiam mencelos dengan kata-kata kyung soo.
Sebulir air bening membasahi pipi sehun lalu jatuh menetes ke lantai. Ia menatap bunga lili putih yang sedikit hancur itu, lalu mengambilnya dan memeluknya erat kemudian isakan-isakan kecil yang di tahannya selama ini lolos dari bibirnya.
Ia merindukan orang tuanya, ia merindukan ibunya. Kini ia tahu siapa pelakunya, luhan adalah pembunuh, tapi mengapa hatinya terus mengatakan bahwa itu tidak benar? Mengapa hatinya terus mengatakan untuk memeluk luhan erat? Mengapa hatinya mengatakan bahwa ia merindukan luhan? Mengapa hal itu terjadi?
Luhan menatap sehun dari kaca kecil di tengah pintu ruangannya lalu mengelusnya pelan. Ia ikut menangis dalam hening, ingin rasanya ia keluar lalu memeluk sehun dengan erat, tapi tidak bisa. Ia takut kalau saja sehun akan sangat membencinya dan kembali menyiksanya. Ia melangkah gontai lalu duduk di atas tempat tidurnya sambil menangis.
Tiba-tiba geretan pintunya terdengar, memperlihatkan sehun yang sepertinya baru saja menyudahi acara menangisnya. Luhan mengusap air matanya dengan cepat, lalu tersenyum manis ke arah sehun, ia senang melihat sehun menggenggam bunga yang tadi ia berikan di tambah sehun yang kini menatapnya lembut. Sehun melangkah cepat ke arah luhan, lalu menarik tengkuknya dan melumat bibir luhan dengan begitu lembut. Tidak ada unsur memaksa dan tidak ada nafsu yang menuntut. Hanya lumatan lembut yang terasa sangat tulus.
Sehun melepaskan pagutan bibir mereka, lalu berbalik dengan cepat dan pergi meninggalkan luhan yang terdiam di ruangannya. Meski terjadi dengan begitu cepat, luhan merasa sangat bahagia dan beruntung hari ini. Ia mendapat teman dan juga perlakuan lembut dari sehun. Tuhan sedang berbaik hati padanya.
.
.
.
"Selamat pagi luhan!"kyung soo menyapa luhan dengan begitu riang, luhan begitu senang dengan kedatangan kyung soo dan membalas senyumannya.
"Ckck bagaimana bisa mereka menyebutmu monster, padahal kau sangat manis seperti ini"gemas kyung soo sembari mencubit pipi luhan pelan.
"Nah sekarang kita akan tes darah, karena demam-mu naik turun. Jadi aku takut jika kau terinfeksi sesuatu. Kyung soo mengeluarkan sebuat lancet dan menusukkan ke jari tengah luhan, membuat luhan terkejut dan mencakar punggung tangan kyung soo sedikit.
Luhan terkejut dengan perbuatannya sendiri, ia menunduk merasa bersalah pada kyung soo. Kyung soo tersenyum meski merasa sedikit sakit karena kini punggung tangannya sedikit berdarah. Ia menaikkan dagu luhan, memaksa luhan untuk menatapnya.
"Tidak apa-apa luhan, ini hanya luka kecil"kyung soo tersenyum hangat, namun luhan masih merasa sangat bersalah.
Kyung soo mencubit pipi luhan gemas "aku bilang tidak apa-apa"kyung soo maaih setia tersenyum dan luhan kini ikut membalas dengan senyum tipisnya karena bagaimana pun ia tetap merasa bersalah.
Kyung soo tertawa kecil "siang nanti sehun bilang akan kesini"ujar kyung soo lembut, dan bersiap pergi.
Luhan menatapnya berbinar "jangan terlalu senang seperti itu, istirahatlah luhan"ujar kyung soo lembut, lalu pergi meninggalkan luhan di ruangannya.
Pria mungil itu menatap keluar jendela sambil tersenyum senang menunggu kedatangan sehun.
.
.
.
Sehun turun dari mobilnya di temani sekertaris kim lalu melangkah menuju pintu masuk rumah sakit. Tak jauh dari mereka, luhan baru saja berhasil memetik bunga lili lagi di sudut rumah sakit untuk di berikan pada sehun. Ia memandangi bunga lili itu dan tak sengaja melihat sehun yang tengah menuju pintu masuk rumah sakit.
Ia tersenyum senang melihat sosok yang tumbuh begitu tampan itu. Detik berikutnya, senyumnya luntur ketika melihat seseorang dengan topi hitam dan masker tengah menuju ke arah sehun sambil memegang sebilah pisau.
Luhan berlari ke arah sehun, ia berusaha memanggil sehun, tapi tetap saja lidahnya kelu. Ia berlari dengan begitu cepat hingga sehun menyadari keberadaan luhan yang kini berlari ke arahnya dengan ekspresi sedikit mengerikan.
Tubuh sehun tiba-tiba membeku, tubuhnya bergetar, bayangan bodyguard yang terkapar di rumahnya dengan penuh darah terlewat di kepalanya. ia merasa luhan akan menyerangnya. Ia memejamkan matanya karena ketakutan, namun yang ia rasakan bukan sesuatu yang perih. Ia merasakan tubuhnya berputar dan juga ada rasa hangat yang menjalari tubuhnya.
ia membuka matanya dan mendapati sekertaris kim yang terlihat terkejut berdiri tak jauh dari dirinya, lalu beralih menatap orang yang kini tengah memeluknya dengan erat. Itu luhan yang memutar posisinya dan memeluknya dengan begitu erat. Ada apa? Mengapa luhan melakukan ini? Mengapa begitu tiba-tiba?
Sehun mendorong tubuh luhan dan kembali menatap luhan tajam.
Wajah luhan tiba-tiba saja berubah menjadi pucat pasi, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum. Ia memberikan setangkai bunga lili yang tadi baru di petiknya, lalu menyodorkannya pada sehun sambil menatapnya lirih.
Ia bersyukur bahwa kali ini sehun tidak menolaknya, sehun menerimanya dengan sangat baik. Luhan tersenyum senang, lalu ia merasakan tubuhnya lemas dan pandangannnya gelap.
"Luhan! Luhan!"teriak sehun, ia menarik tubuh luhan dan mendekapnya. Hanya dalam beberapa detik, sehun menelan ludahnya dengan mata membulat. Ia tercengang mendapati darah sudah mengalir di bagian belakang luhan.
Punggung bidang sehun semakin bergetar.
Apakah ia tadi memelukku untuk menyelamatkanku dari sesuatu?
"Luhan!"
TBC
Makasih udah suka dan review ff-ku, I will update my story as fast as possible, guys! So thanks!
