Hello, Shooting Star chap 5
Rated M/Mpreg/HunHan
.
.
.
Sehun menyesap segelas teh yang di hidangkan di hadapannya, sesekali matanya melirik ke arah dimana pria mungil bernama cho luhan tadi menghilang.
"Kau tertarik pada putraku, tuan oh?"tuan cho tertawa khas orang tua.
Sehun tersentak, lalu tersenyum getir "t-tidak bukan begitu"
"Karena urusan kita sudah selesai, apa kau mau putraku memberikan tur keliling rumah sederhanaku ini?"
Sehun terdiam sejenak lalu mengangguk sambil menyesap teh krisannya dengan gugup.
"Asisten park, antarkan tuan oh pada luhan"
pria bertubuh tinggi dengan mata yang sedikit bulat terlihat membungkuk hormat ke arah tuan cho. Ia lalu menuntun sehun ke sebuah ruangan. Sehun sampai di depat sebuah pintu kemudian ia memutar kenop pintu kayu berwarna coklat tua itu, ia kemudian melangkah masuk, namun langkahnya terhenti ketika pupil matanya menangkap sesuatu yang sangat luar biasa. Dimana terdapat buku-buku yang disusun rapi dalam lemari yang mengelilingi ruangan itu, tingginya pun menjulang seakan tak ada habisnya.
Sehun melanjutkan langkahnya dengan gugup, menatap luhan yang sepertinya tidak terganggu dengan kedatangannya dan terus fokus pada buku yang di bacanya. Ia menatap wajah cantik itu dengan wajah datar.
Sehun kemudian berdehem mencoba mendapat perhatian luhan. Luhan menoleh dan mendapati wajah tak asing disana kemudian menaikkan satu sudut bibirnya.
"Ahh ada apa tuan oh sehun?"
"A-ah ayahmu memintamu untuk mengajakku berkeliling rumah"
"Ahh baiklah kalau gitu"luhan tersenyum manis, lalu melepas kata mata baca pinknya lalu meletakkannya di atas meja.
"Maaf kalau mengganggu waktumu"ucap sehun datar.
"Tidak apa-apa"jawab luhan singkat.
Ia kemudian menuntun sehun untuk melihat rumah mereka yang desain-nya khas jaman joseon namun terlihat lebih modern. Setelah berkeliling selama 30 menit keduanya berhenti dan duduk di sebuah ayunan di taman belakang rumah.
Mata sehun masih setia menatap setiap lekuk wajah luhan, sedari tadi ia tidak fokus melihat-lihat rumah, matanya terus tertuju pada wajah yang begitu mirip dengan luhan-nya.
"Luhan"panggil sehun pelan.
"Ya?"luhan menatap sehun dengan begitu lekat dan senyum manisnya yang masih tergores indah di wajah manisnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"tanya sehun pelan.
Luhan diam sambil mengernyitkan keningnya.
"Apa kau merasa pernah kenal denganku?"sehun menatap lirih. Entah mengapa ia merasa salah setiap kali ia berharap luhan kembali dan memberikan senyumannya. Ia merasa salah, ia terus membiarkan luhan memasuki hatinya selama ini. Seharusnya ia membalaskan dendam orang tuanya, lalu mengapa ia terus terjatuh dalam pesona luhan.
Setiap ia teringat ibunya, sehun merasa kepalanya baru saja di pukul batu dan membuatnya sadar bahwa luhan adalah pembunuh orang tuanya.
Mata sehun tiba-tiba menjadi kelam, selama lima tahun ini ketika ia merindukan luhan, ia akan menyayat dirinya sendiri agar dirinya tetap sadar untuk membenci luhan dan tidak boleh merindukannya. Ia terus menyayat dirinya hingga tak terhitung lagi berapa bekas sayatan yang sudah tertoreh di tangannya.
Wajah sehun kini berubah menjadi datar. Luhan diam, dan kemudian wajahnya ikut berubah menjadi datar.
"Tidak, aku rasa kita baru saja bertemu hari ini oh sehun-sshi"ujar luhan datar.
Sehun bangkit dari duduknya kemudian berbalik memunggungi luhan "aku sedang sibuk, sebaiknya aku pergi"sehun melangkah cepat meninggalkan luhan yang kini ekspresinya berubah dengan cepat.
Mata luhan kini tidak sehangat di hadapan sehun, ia menatap punggung bidang itu dengan tatapan penuh kebencian yang menguap-nguap.
Ingat
Aku ingat jelas semuanya
"Asisten park"
"Ya tuan?"
"Aku ingin bicara dengan ayah"
.
.
.
"Kau ingin melakukan proyek kerjasama itu?"tanya tuan cho dengan sedikit mengernyit.
Luhan menyesap tehnya yang masih mengepul dengan anggun lalu mengangguk tegas.
"Kau yakin luhan? Ayah masih mengkhawatirkan kesehatanmu"
Luhan tersenyum lembut ke arah tuan cho lalu menggeleng pelan "aku sudah tidak apa-apa ayah"
Tuan cho menghela nafasnya dan tampak berpikir sejenak. Ia tau anaknya itu sangatlah pintar, tapi ia belum pernah sama sekali masuk bisnis dan ini terlalu cepat untuk langsung menghadapi sebuah proyek besar ditambah kesehatan anaknya yg masih agak lemah itu.
"Ayah"panggil luhan lembut sembari menggenggam tangan ayahnya erat, mencoba memberi keyakinan.
Tuan cho menghela nafas "baiklah luhan"
Luhan menaikkan satu sudut bibirnya "terima kasih ayah"
"Kalau begitu kau akan bekerja beberapa bulan di perusahaan oh ditemani anggota tim dari perusahaan kita"
"Baik ayah, aku akan melakukan yang terbaik"
.
.
.
Sehun terduduk di sebuah ruangan dimana dulu luhan tinggal, sesekali terdengar helaan nafas putus asanya. Tangannya menggenggam kalung ibunya dengan erat, sesekali mengelus lembut tempat tidur dimana luhan tidur dulu.
Pikiran sehun masih belum jernih, disisi lain sehun membenci luhan, tapi disisi lainnya lagi ia berharap luhan kembali. Ia ingin luhan kembali ke sisinya, menatapnya lembut dan tersenyum dengan manis.
Ia ingat bagaimana sosok rusa manis itu tersenyum meski air mata telah membasahi wajahnya ketika ia meniduri dan menyiksanya. Ia ingat bagaimana tersiratnya rasa sakit dalam wajah itu, ia tau luhan kesakitan tapi saat itu ia begitu tidak peduli dan terus memaksa dan menyiksa luhan.
Dan sekarang ia hanya berusaha tidak peduli. Tapi hatinya terus mengatakan bahwa ia peduli dan rasanya sangat sakit. Tidak memiliki luhan disisinya begitu menyakitkan dan ia sangat merindukannya. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya, ia menatap kalung ibunya yang ketika malam itu berada di tangan luhan.
"Eomma, bagaimana? Aku mohon tolong aku"ia berkata lirih ketika air mata terus mengalir.
Ia menaruh kalung itu di atas nakas di samping tempat tidur, lalu mengambil sebuah pisau lipat yang selalu tersedia di kantongnya. Ia melangkah gontai ke arah kamar mandi dengan wajah datar dan penuh dengan air mata.
Dalam hitungan detik, ia menyayat tangannya tanpa ragu. Ia terus menyayat tangannya sambil terisak, ia sungguh lelah dengan semua kebimbangannya. Sekarang seseorang yang mirip dengan luhan, melangkah masuk ke kehidupannya. Apa ia harus mencintainya? Dan melanjutkan balas dendamnya?
Sehun berhenti menyayat tangannya, dan isakannya pun ikut berhenti. Suasana kamar mandi hening, hanya suara detakan jam yang menjadi irama penghantar. Sehun menatap tangannya, belum pernah terpikir baginya untuk menyayat nadinya.
Ia terus menatap nadinya dengan air mata yang masih tak berhenti. Detik berikutnya ia sudah menyayat nadinya, ia berteriak kesakitan namun kesakitan itu masih bukan apa-apa dengan rasa sakit yang ia alami selama ini. Bagaimana lelah pikirannya, bagaima lelah hatinya, bagaimana lelah tubuhnya. Setiap malam sehun mabuk, ketika ia tidak mabuk sama sekali ia tidak tertidur, dan ketika ia rindu, ia akan menyayat tangannya demi menghilangkan rasa sakit yang menyayat hatinya.
Waktu terasa melambat dalam seketika, suara dentangan jam dan pisau yang terlepas dari genggaman sehun ikut melambat. Tubuh tingginya meringsut jatuh ke lantai, tangannya sudah bercucuran darah, dan lantai sudah berlumuran darah.
Sehun mulai kehilangan kesadarannya, air mata masih setia menemaninya. Ia bahagia, rasanya ia bahagia dengan apa yang sekarang di lakukannya. Ia memilih bersama tuhan untuk sekarang, dan dia terlalu lelah melewati semuanya. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini, dia tidak punya sandaran ketika dia lelah.
Ketika ia bersiap menutup matanya, suara derap langkah kaki terdengar menembus gendang telinganya. Ia berharap orang itu tidak melihatnya dan hanya membiarkannya mati, namun harapannya itu hanyalah harapan.
Sekertaris kim tampak terkejut melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Namun dengan cepat ekspresinya berubah, ia menaikkan satu sudut bibirnya lalu menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
Sehun yang mulai hilang kesadaran merasa aneh. Apa sekertaris kim baru saja tersenyum dan meninggalkannya? Apa tadi itu benar sekertaris kim?
Dengan cepat ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Sehun-ah ada apa?"
"Kai"panggil sehun parau.
"Apa yang terjadi denganmu?"pekik kai
Sehun tertawa kecil "aku baru saja bunuh diri?"
"Apa?! Jangan bercanda sehun-ah"terdengar tawa kai di seberang sana.
"Aku serius, tapi aku berubah pikiran. Sekarang cepat panggilkan ambulan sebelum aku mati"jawab sehun santai seakan nyawa adalah hal sepele bagi sehun.
"Kau gila!"kai berteriak kesal lalu dengan cepat mematikan hubungan ponsel mereka dan menelpon ambulans.
Sehun tersenyum kecil dan tak lama kesadarannya mulai habis.
.
.
.
"Kudengar hari ini presdir mereka tidak bisa hadir"salah satu anggota tim bernama baekhyun terlihat berbisik-bisik.
Luhan yang awalnya tidak tertarik dengan gosipan baekhyun dan xiumin tiba-tiba tertarik. Langkahnya terhenti, lalu ia menatap baekhyun "benarkah?"
Baekhyun tersenyum kemudian merangkul luhan "kudengar presdir mereka mencoba bunuh diri kemarin"
Luhan terhenyak, mengapa sehun mencoba bunuh diri? Anak yang terlihat kuat itu mencoba bunuh diri?
"Apa sebaiknya kita menjenguknya nanti sepulang kerja?"usul xiumin.
Luhan menatap xiumin "mungkin sebaiknya begitu" luhan kemudian melanjutkan langkahnya memasuki gedung perusahaan oh yang di sambut ramah oleh para karyawan dari perusahaan tersebut. Luhan langsung saja menuju ruangan yang sudah di siapkan untuknya.
Ruangan dengan pemandangan yang cukup bagus itu membuat luhan merasa nyaman. Ia kemudian mencoba fokus pada pekerjaannya sesekali menyesap kopi yang di buatkan oleh asisten park. Setelah meminta izin pada ayahnya agar asisten park ikut dengannya, akhirnya ayahnya setuju dan asisten park akan menjadi sekertaris sekaligus asistennya selama ia bekerja di perusahaan oh. Lagipula hanya asisten park yang tau betul bagaimana kondisi kesehatannya, jadi ia merasa cukup nyaman.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. "Masuk"ujar luhan, matanya masih setia membaca berkas-berkas projek mereka.
"Tuan cho"suara yang tak terdengar asing dan cukup membuat luhan bergetar itu menembus gendang telinganya.
Luhan mendongak dan mendapati pria berkaca mata yang sangat ia kenal berdiri di dekat pintu sambil tersenyum.
Luhan mengontrol rasa takutnya, ia masih trauma dan bayang-bayang pria di hadapannya terus menguap di dalam otaknya. Ia meletakkan gelas kopinya dengan gugup, lalu balas tersenyum "sekertaris kim, ada apa?"
"Karena tuan oh sedang sakit, jadi aku menggantikannya untuk mengucapkan selamat datang tuan"
Luhan menaikkan satu sudut bibirnya "ahh terima kasih"
"Apa kau butuh sesuatu tuan?"
"Tidak"jawab luhan singkat, kemudian duduk dan kembali membaca berkas-berkasnya sembari menyeruput kopinya.
"Baiklah, kalau begitu-"
Luhan memotong perkataan sekertaris kim "kau masih berencana membunuhnya?"
Sekertaris kim yang bersiap keluar terdiam "maksudmu tuan?"
Luhan menyeringai "lucu sekali, dulu kau bertindak seakan-akan kau tuanku, dan sekarang kau memanggilku tuan?"
Ekspresi sekertaris kim berubah dalam hitungan detik.
"Ohh lihat, tuanku yang manis ini terlihat takut"luhan beranjak dari duduknya, dan mulai melangkah mendekati sekertaris kim.
"K-kau? L-luhan?!"pekik sekertaris kim.
Tanpa aba-aba luhan segera mendorong sekertaris kim ke dinding. Luhan menatap sekerstaris kim tanpa ada rasa takut sedikitpun, tidak seperti dulu lagi. "Kau tau? Aku bisa saja membunuhmu sekarang. Tapi, sayangnya aku bukan pembunuh lagi. Aku bukan anjing lagi"luhan masih menyeringai.
Ia kemudian menatap tajam ke arah sekertaris kim yang terdiam dan memucat "berani kau menyentuh sehun, aku akan langsung membunuhmu"
Luhan mulai menjauhi sekertaris kim yang mulai merasa bisa bernafas "karena sehun adalah mainanku saat ini. Bukankah aku ini anjing baginya? Kalau begitu, akan ku buat dia sebagai bola yang akan ku kunyah hingga hancur" ia menyerengai membuat sekertaris kim bergidik ngeri.
"Kalian semua yang menyiksa dan menghancurkanku, akan ku remukkan dan kuhancurkan dengan perlahan"
.
.
.
Sementara didalam masih ada sekertaris kim, asisten park duduk sembari menyusun jadwal luhan dan berkas-berkas yang harus di tanda tangani. Seorang pria mungil melangkah mendekatinya sembari membawa satu map biru di tangannya.
"Hey, apa ada luhan di dalam? Ahh maksudku tuan cho"
Asisten park mendongak dan menatap pria mungil di hadapannya. Pria mungil itu terdiam menatap mata indah yang membuatnya terpesona dalam tiga detik itu, asisten park tersenyum dan bahkan senyumannya itu mampu membuat jantungnya berdetak dengan kencang, pria mungil itu menelan ludahnya.
"Iya, dia ada di dalam tapi sekertaris tuan oh masih ada di dalam"jawab asisten park dengan suara beratnya yang rasanya langsung saja menghangatkan hatinya.
Tak lama kemudian sekertaris kim keluar dengan wajah pucat, tapi pria mungil itu merasa tak terganggu dan terus menatap asisten park dengan mata berkaca-kaca, membuat asisten park sedikit merasa risih.
"T-tuan, anda sepertinya sudah boleh masuk"ujar asisten park mencoba sopan.
Baekhyun tersentak lalu tersenyum manis "t-tidak, kau tidak boleh memanggilku tuan. Kita bisa menjadi teman kan? Kau bisa memanggilku baekhyun, siapa namamu?"ujar baekhyun sembari mengulurkan tangannya.
Asisten park tersenyum kaku "a-aku park chanyeol"jawabnya
baekhyun berdehem "kalau begitu aku menemui tuan cho terlebih dahulu"ujarnya kemudian dengan cepat melesat ke dalam ruangan luhan.
"Luhan!"teriak baekhyun membuat sang empunya nama berjengit dan tersedak kopi.
"Baekkie! Kau mau membuatku jantungan?"teriak luhan sembari menatap baekhyun kesal.
Baekhyun nyengir lalu menaruh berkas yang dibawanya di hadapan luhan.
"Lulu!"
Luhan mengernyit, ia sudah tidak familiar lagi dengan tingkah baekhyun, sahabat dekatnya selama 4 tahun ini. Ketika baekhyun sedang jatuh cinta ia akan menjadi overeaktif. Sahabat luhan yang satu itu memang sering sekali berganti-ganti pacar dan sering sekali di campakkan oleh pacar-pacarnya.
Luhan terkekeh lalu menopang dagunya dengan tangannya "jadi, kali ini siapa lagi baek?"
Baekhyun tersenyum "sekertarismu lu!"teriak baekhyun terlalu senang.
"Maksudmu park chanyeol? Ya ampun anak ini. Sekarang kau mengincar sekertarisku?"tanya luhan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa suruh sekertarismu tampan sekali? Bukan salahku!"kesal baekhyun kemudian ia tersenyum kembali "sebaiknya aku pergi untuk menyusun rencana"
Luhan memutar bola matanya "baek, jangan bilang rencana itu lagi"
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura polos byun baekhyun, kau membuat mereka mabuk, lalu pagi harinya mereka menemukan diri mereka sudah telanjang denganmu di atas tempat tidur, kemudian kau akan menangis dengan aktingmu yang sangat buruk itu, dan membuat mereka menjadi pacarmu ckckck"luhan berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sudah hapal dengan kelakukan temannya.
"Kau bertindak seolah-olah kau sudah pernah melakukan sex, tapi kau belum pernah kan? Kau hanya membuat mereka mabuk dan tertidur lalu menelanjangi mereka ya kan?"lanjut luhan.
Wajah baekhyun seketika merona, ia mengerucutkan bibirnya merasa malu "b-bukan urusanmu! Aku s-sudah pernah melakukannya! Ughh"kesal baekhyun kemudian berlari keluar ruangan sedangkan luhan hanya tertawa.
.
.
.
Seluruh tim dari perusahaan cho termasuk chanyeol memutuskan untuk mengunjungi presdir oh, hanya sekedar menjaga kesopanan mereka. Xiumin berangkat dengan suho, jongdae dan baekhyun, sedangkan chanyeol sebagai asisten harus menemani luhan. Namun demi menolong sahabatnya itu luhan merubah posisinya.
Ia merangkul chanyeol yang cukup tinggi itu "aku akan berangkat dengan xiumin, chanyeol kau dengan baekhyun"
Chanyeol membulatkan matanya "t-tapi ayahmu bilang aku harus-"
"Pokoknya kau dengan baekhyun"tegas luhan sambil mengerling ke arah baekhyun.
Setelah perdebatan yang cukup panjang antar chanyeol dan luhan, akhirnya chanyeol setuju untuk pergi bersama baekhyun. setelah beberapa menit dalam perjalananan akhirnha Semuanya sampai dengan selamat. Luhan dan chanyeol masuk terlebih dahulu, karena hanya beberapa orang yang di perbolehkan masuk.
"Chanyeol-ah kau tunggu di luar"
"Baik tuan"
Wajah luhan berubah datar, dan matanya berubah kosong. Ia melangkah masuk ke ruangan sehun yang cukup gelap, karena hanya ada sedikit penerangan dari luar. Suara derap langkah kaki luhan, membangunkan sehun.
Pria itu terlihat berantakan, wajahnya pucat, matanya merah, rambut-rambut mulai tumbuh di sekitar dagunya, kantung matanya terlihat begitu besar.
"L-luhan?"panggil sehun pelan.
"Ahh tuan oh, apa aku membangunkanmu?"tanya luhan lembut sambil tersenyum.
Sehun bangkit dari tidurnya "tidak apa-apa"jawabnya singkat
"Kau merasa baikan, tuan oh?"luhan duduk di kursi samping tempat tidur sehun.
"Aku baik-baik saja"jawabnya parau.
"Berbaringlah tuan oh"
Sehun menurut dan kembali berbaring, dia menatap luhan yang masih setia tersenyum. Ia merasa tenang dalam sekejap. suasana begitu hening dalam beberapa saat, dan tak lama suara sehun memecahkan keheningan "Menurutmu, kau akan memilih cinta atau benci ketika orang yang kau cintai telah merenggut sesuatu yang berharga darimu?"tanya sehun sambil menatap luhan rindu.
luhan terdiam sejenak, mengerti kemana arah bicara sehun."Aku tidak tau tentang itu, tuan oh. Tapi aku rasa sebelum memilih, kau harus melihat sekelilingmu dan bertanya apakah orang itu benar merenggutnya atau tidak?"jawab luhan santai penuh nada sarkastik.
Sehun terdiam, suasana yang gelap itu mulai terasa hening. Dengan kehadiran luhan disana, hatinya merasa sangat tenang, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun ia bisa tertidur tanpa bantuan alkohol dan obat. Ia bisa tertidur dengan damai.
Luhan menyeringai pelan, ia membenahi letak selimut sehun, lalu menatap pria yang sedang tertidur dengan nyenyak itu.
"Tidurlah oh sehun, tidurlah selama kau bisa"ujar luhan pelan.
"Setelah ini kita akan lihat kau masih bisa tertidur seperti itu atau tidak"
Luhan mendekatkan bibirnya dengan telinga sehun "karena setelah ini, aku akan menghancurkanmu"
TBC
Tiba-tiba pengen ada chanbaek couple untuk jadi penengah dan sedikit komedi, biar gak sedih-sedih amat/?
