Hello, Shooting Star chap 6
Rated M/Mpreg/HunHan
.
.
.
Sehun memakai jas kerjanya sambil merona dan tersenyum-senyum. Hari ini ia lebih memilih bekerja meski kondisinya masih belum memungkinkan. Sehun menatap dirinya, pertama kalinya dalam 6 tahun ia tersenyum. Anak desa itu kembali lagi dalam tubuhnya, ia menatap cermin seakan bertanya, apa kabarmu? Kemana saja kau? Tanpa kau aku hanya oh sehun yang jahat.
Sejak terbangun dari tidur nyenyak pertamanya dalam lima tahun ini, ia yakin, dalam kedipan mata yang pertamanya ketika bangun ia yakin, ia sudah memilih jalan hidup yang ia pikir akan memberikannya kebahagiaan. Ia tidak tau apa cho luhan itu adalah luhan yang selama ini di tunggunya, tapi ia yakin bahwa ia memilih mencintai luhan di bandingkan dengan balas dendam.
Ia menatap lirih kalung ibunya, lalu tersenyum pahit "maaf, eomma"
Ia menarik nafasnya menahan tangis "maafkan anakmu yang nakal ini karena lebih memilihnya dibandingkan eomma"
"Nanti, jika kita dilahirkan lagi dalam kehidupan kedua, jangan mau menjadi ibuku, jangan mau melahirkanku, eomma"
Sehun mengusap air matanya yang tanpa terasa telah jatuh membasahi pipinya. Ia kemudian kembali menatap cermin dan merapikan pakaiannya lalu tersenyum.
.
.
.
Sehun melangkah memasuki gedung perusahaannya. Meski masih sedikit pucat, semburat pada pipinya tetap tampak, sesekali ia tersenyum-senyum membuat para pegawainya menatapnya aneh. Bagaimana tidak, setiap sehun masuk aura perusahaan menjadi sangat berbeda, semua tempat yang dilewatinya tiba-tiba bisa menjadi sunyi. Wajah yang selalu terlihat kaku dan dingin itu kini terlihat merona, ia bahkan membalas sapaan pegawainya dengan ramah, sesuatu yang belum di lakukan sebelumnya.
Tanpa menuju ke ruangannya terlebih dahulu, ia langsung saja menuju ruangan di mana kini luhan berpijak. Ia sempat tersenyum pada chanyeol sekilas, sedangkan chanyeol hanya membungkukan badannya. Ia kemudian mengetuk pintu ruangan luhan.
"Masuk"suara luhan terdengar dari dalam.
Sehun membuka pintu ruangan luhan dan mendapati luhan sibuk dengan berkas-berkas di atas meja.
"Apa aku mengganggu?"tanyanya lembut.
Luhan mendongak dan mendapati sehun tengah tersenyum hangat dan menatapnya penuh cinta. Jantung luhan bergetar, ia mengagumi bagaimana indahnya bibir dan mata itu, ia jatuh dalam pesona sehun untuk beberapa saat dan ia benci perasaan itu.
"Aku tidak sesibuk itu tuan oh, kau tidak menggangguku"ujar luhan sambil tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.
"Silahkan duduk"lanjut luhan.
Sehun tersenyum "tidak, aku tidak lama. Aku hanya ingin mengucapkan selamat datang"kata sehun lembut.
Luhan benci dengan cara sehun memperlakukannya sekarang. Ada apa dengannya? Mengapa ia tidak kasar seperti dulu? Sehun menyesalinya?
Kau terlambat sehun.
Aku tidak menginginkanmu lagi.
"Ahh terima kasih, kau tidak perlu repot-repot"ujar luhan sembari memasukkan tangannya kedalam kantong celananya.
Cantik
"Dan sebagai dari perayaan kerjasama kita kau mau makan malam denganku?"
Luhan menaikkan satu bibirnya "kau tak sedang tertarik padaku kan tn. Oh?"
Sehun terkekeh "bagaimana kalau iya?"
"Heumm, itu akan menjadi sedikit rumit"jawab luhan sambil tertawa kecil.
"Tidak tidak, ini hanya perayaan kerjasama"kekeh sehun.
Luhan tertawa "baiklah, aku setuju"
.
.
.
Luhan kini menatap dirinya yang sudah terbalut kemeja putih tanpa dasi dan jas merah disertakan dengan celana merahnya dan sepatu coklat. Ia menata rambut coklat yang kini diwarnainya bercampur pirang, dan memakai dua anting berlambang salib pada kedua telinganya. Berbeda sekali dengan penampilannya sebagai pria polos yang imut dengan kacamata bacanya ketika berada di perpustakaan.
"Ohh luhan-ku manis sekali!"pekik baekhyun sambil memeluk luhan dari belakang.
Dengan agak terkejut luhan segera menjauh dari baekhyun. Luhan menatap baekhyun dengan tatapan minta maafnya.
Baekhyun menggaruk tengkuknya sambil tersenyum "aku lupa kau tidak suka disentuh hehe"ujar baekhyun sambil mengeluarkan cengirannya.
"Kau sepertinya sangat menyukai oh sehun eoh?"goda baekhyun.
Luhan menatap dirinya yang kini berubah sambil menyeringai "tidak juga"balasnya datar.
"Hari ini aku akan pergi tanpa chanyeol, jadi kau ambilah kesempatan bersamanya"ujar luhan sambil mengerling membuat baekhyun merona.
"T-tapi, kau yakin kau akan baik-baik saja luhan?"baekhyun kini menatap luhan khawatir.
Luhan kembali menatap dirinya di cermin, dengan sedikit khawatir. Tidak ada chanyeol maka ia akan sedikit sulit bernafas. Namun, luhan menguatkan dirinya, demi tekadnya menghancurkan sehun. Ia mengeluarkan sebuah kalung bertuliskan 'Luhan' dari kantong celananya kemudian memasang kalung itu pada lehernya.
"Aku akan baik-baik saja, karena disini ada ibuku"ujar luhan sembari mengelus kalung yang sudah melingkar cantik di leher putihnya.
Baekhyun tersenyum lembut "benar, ada ibumu"
Tak lama kemudian luhan keluar dari kamarnya dan mendapati sehun tengah mengobrol dengan ayahnya. Ia tersenyum ke arah sehun dan sehun membalas senyumnya dengan lembut.
"Lain kali kita makan bersama"ajak tua. Cho sambil tertawa.
"Tentu"jawab sehun sambil tersenyum.
"Apa kau bisa memancing?"
"Aku pernah tinggal di pulau, jadi aku cukup pandai dalam memancing"kekeh sehun.
"Benarkah?"tanya tuan cho masih tertawa kecil.
"Kalau begitu, kapan-kapan kita memancing bersama"
"Ahh tentu tuan cho, anda tinggal menghubungi saya saja"jawab sehun, sembari bangkit dan membungkuk lalu mendekati luhan yang masih berdiri menonton obrolan ayahnya dan sehun yang menurutnya tidak penting.
"Semoga malam kalian indah, dan sehun tolong jaga putraku"
Sehun membungkuk hormat "baik tuan cho"
Sehun menatap luhan sambil tersenyum. "Ayo"ajak luhan, namun tatapan mata sehun berhenti pada kalung yang terpasang rapi di leher luhan.
"Ada apa? Ayo"ajak luhan lagi, sehun tersadar dan segera mengangguk. Luhan langsung melangkah terlebih dahulu sedangkan sehun menatapnya dengan tatapan lirih.
Kau disini.
Ia kemudian menyusul luhan dan mereka berangkat ke sebuah restoran berputar di namsan tower. Sebuah restoran mahal dimana banyak para pria melamar pasangan mereka.
Sehun memakan makanannya dengan tenang, sedangkan luhan masih sibuk memandangi pemandangan atas kota seoul.
Sehun memandang luhan penuh cinta "kau menyukai pemandangannya?"tanya sehun kembali membuka pembicaraan, setelah mengobrol cukup panjang sebelum makanan datang tadi.
Luhan menoleh sekilas lalu tersenyum "lampu-lampu itu indah bukan?"tanyanya, sehun membalas dengan mengangguk.
"Tapi tidak seindah di dalamnya"luhan tersenyum pahit.
"Mungkin ada yang sedang menangis dan lelah, ada yang saling membunuh, ada yang sedang menyiksa dan lainnya"ujar luhan kemudian menyeringai melihat perubahan ekspresi dari pantulan kaca yang remang-remang.
Luhan menatap sehun sambil tersenyum "ayo buka wine-nya"
.
.
.
"Ahh ya ampun! Baru tiga gelas wine dan kau sudah mabuk? Yang benar saja oh sehun?"kesal luhan. Ia meraba-raba tubuh sehun mencoba menemukan ponsel dan sialannya sehun sama sekali tidak membawa ponselnya.
Luhan mendengus kesal, ia tidak mau mengantar sehun dan kembali ke rumah dimana banyak sekali kenangan buruk yang dapat membuat 'kondisi'nya kambuh, dan terlebih tidak ada chanyeol yang akan menjaganya. Jika dipikir-pikir pun selama ini ia sangat bergantung dengan chanyeol.
Luhan tidak bisa meninggalkan sehun yang sudah tertidur mabuk disana, dan akhirnya ia memutuskan membawa sehun ke sebuah hotel.
Selama perjalan luhan terus menggerutu dan menatap sehun dengan kesal. Ia kemudian merebahkan tubuh sehun ke atas tempat tidur.
"Sial, kenapa anak ini berat sekali"kesal luhan dengan nafas tersengal.
Luhan terdiam menatap wajah damai sehun, dan sekali lagi ia terjatuh dalam pesonanya. Ia kemudian menggeleng keras lalu menggenggam kalungnya "kuatkan aku ibu"
Luhan menghela nafasnya kemudian mulai melangkah keluar, namun langkahnya terhenti ketika tangan sehun yang masih mabuk menggenggam pergelangan tangan luhan. Sehun segera menarik luhan dan membanting tubuh luhan ketempat tidur dan menindihnya.
"Aku menginginkanmu lu"sehun masih benar-benar mabuk.
Luhan berusaha mendorong tubuh sehun, namun kekuatannya melemah, ia mulai berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar hebat "hentikan!"teriaknya, bayangan masa lalu tiba-tiba saja memutar otaknya.
"Hhh..."nafasnya seakan melambat dan ia mulai berteriak histeris sambil menangis.
Sehun seakan tidak perduli dan segera melumat bibir luhan hingga suara teriakan luhan terhenti. Ia menyesap bibir luhan yang semanis madu itu, melumatnya dengan kasar, lalu menelusupi lidahnya dan mulai bermain dengan lidah luhan.
"Mmhh! Mmh!"luhan berusaha mendorong sehun, tapi sehun terlalu kuat, tubuh luhan semakin bergetar, air mata sudah jatuh dari ekor matanya, ia berharap chanyeol ada disana dan mencegah sehun melakukan hal ini.
Tangannya mulai bergerak meraba-raba tubuh luhan, ia membuka celana luhan dengan cepat, lalu mulai memainkan tangannya pada junior luhan yang masih terbungkus celana dalam.
"Nghhh!"desah luhan tertahan, ia sama sekali tidak menikmati ini.
"Lu aku merindukanmu~" sehun segera turun kebawah, luhan mencoba mengambil kesempatan untuk melarikan diri, tapi sehun menahan kakinya dengan kuat. Ia melepas celana dalam luhan sehingga tampaklah hole pink luhan dan juniornya mungilnya. Sehun mengocok junior luhan dan mulai menjilati hole luhan.
"Nghhh"luhan mendesah tertahan, ia mulai mengumpulkan kekuatan dan mendorong sehun dengan sekuat tenaganya, sehun terjatuh dari tempat tidur dan tak lama tertidur dengan tenang setelah sempat memanggil-manggil nama luhan. Dengan cepat ia membenahi pakaiannya dan berlari keluar hotel. Dengan tubuh bergetar dan air mata yang sudah membasahi wajahnya ia merogoh sakunya dan menelpon seseorang sambil terduduk di dekat pintu masuk hotel.
.
.
.
Baekhyun dan chanyeol terlihat menikmati bintang malam sambil duduk di ayunan taman belakang kekediaman keluarga cho. Baekhyun memandangi chanyeol yang sebenarnya dari tadi terlihat khawatir, ia bahkan hanya tersenyum tak ikhlas dalam setiap lelucon yang di buat baekhyun.
"Kau sangat mengkhawatirkan luhan?"tanya baekhyun lembut.
Chanyeol tersenyum tipis "sedikit"
"Ahh harusnya tadi kusuruh dia membawamu saja, aku disini seperti orang bodoh mencoba mendapat perhatian dari orang yang kusukai"ujar baekhyun santai.
Mata chanyeol sedikit membulat, ia menatap baekhyun sedikit bingung. Baekhyun tersenyum "ya, aku menyukaimu"ucapnya santai sambil terkekeh.
Chanyeol hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. "Eyy, jangan sampai seperti itu, anggap saja aku temanmu"ujar baekhyun.
Tak lama kemudian ponsel chanyeol berdering keras, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menemukan nama luhan tertera di layar ponselnya. Ia segera mengangkatnya.
"Yobo-"
"Ch-chanyeol hiks, ce-cepat kesini a-aku takut hiks"suara parau luhan terdengar dari sebrang sana, seakan otomatis chanyeol segera bangkit dari duduknya.
"Kau dimana?"
"..."
"Baik aku akan segera kesana"
Baekhyun menatap chanyeol khawatir "ada apa dengan luhan?"
"Sepertinya dia kambuh"ujar chanyeol datar "kau disini saja, aku akan menjemputnya"lanjutnya.
"Aku ikut!"teriak baekhyun terlihat panik.
Setelah sempat menolak akhirnya chanyeol memperbolehkan baekhyun untuk ikut.
Luhan masih terduduk dengan tubuh yang bergetar hebat sambil menutupi telinganya dengan kedua tangannya, air mata terus jatuh dari matanya, bayangan bayangan masa lalu terus memutari kepalanya seperti roll film.
"Tuan!"teriak chanyeol.
chanyeol berlari dengan cepat dan Ia segera memeluk luhan menenangkannya "tidak apa-apa, aku disini"
"Ch-chanyeol"panggil luhan ketakutan.
Baekhyun terdiam melihat bagaimana chanyeol memeluk luhan, bagaimana chanyeol menatap luhan, dan bagaimana kini chanyeol menangis karena keadaan luhan. Tanpa sadar air mata baekhyun ikut turun, ia baru beberapa minggu menyukai chanyeol tapi mengapa rasanya sakit sekali? Mengapa rasanya sesak sekali?
Tak lama luhan pingsan, chanyeol segera menggendong luhan yang sudah sangat terlihat kacau, karena goncangan mentalnya kembali. Dengan cepat baekhyun mengusap air matanya dan segera berlari membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, tubuh luhan segera di rebahkan di dalam mobil, baekhyun segera memeluk luhan sambil menangis "luhan tetap bersamaku ya?"
.
.
.
Luhan terbangun dari tidurnya dan menyadari kini ia sedang di rawat di rumahnya. Ia mencabut infusnya, dan bangkit dari tidurnya meski rasa pening masih menyerang kepalanya. Ia melangkah menuju cermin besarnya yang terletak di sudut ruangan kamarnya.
Ia menatap pantulan tubuhnya dari bawah hingga atas, matanya memerah dan terasa panas, seakan ada yang mendidih disana. Air mata mulai mengaliri pipinya. "Hiks hiks"isaknya, ia mulai meremas rambutnya dan berteriak histeris ketika ingatan ingatan saat sehun menyentuh tubuhnya merasuki otaknya. Ia mengambil guci yang terletak di atas meja dan melemparnya kesembarang arah sambil berteriak histeris dengan nafas yang tersengal.
Tubuhnya melemas dan meringsut lalu terbaring di lantai yang terasa dingin itu. Rasanya sesak dan tersiksa, mengapa semua orang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak pantas dia dapatkan? air mata jatuh terus dari pelupuk matanya dan mengaliri hidungnya. Ia melepas kalung yang terpasang rapi di lehernya, lalu menatapnya dengan lirih sambil terisak kecil.
"Hiks, eomma..."
Tak lama chanyeol masuk ke dalam ruangannya setelah mendengar suara pecahan tadi.
"Tuan!"pekik chanyeol khawatir.
Luhan bangkit dan mulai melangkah ke tempat tidurnya "aku tidak apa-apa, hanya saja aku sedikit haus"ujarnya datar sambil mengusap air matanya.
Chanyeol menatap lirih luhan "baiklah, aku akan mengambil minum untukmu"
"Heum" angguk luhan.
.
.
.
Sehun terlihat lesu sudah tiga hari luhan tidak masuk, dan sehun tau jelas apa penyebabnya. Sejak pagi hari terbangun di lantai sebuah kamar hotel, sehun memang tidak mengingatnya, namun ia mulai mengingatnya ketika mereka mengatakan luhan tidak bisa masuk kerja untuk beberapa saat.
Ia melakukan hal bodoh lagi, sehun menyiksanya lagi. Sehun tak bermaksud, hanya saja alkohol mempengaruhi hasratnya untuk mengiginkan luhan dan mengecapi tubuh itu terus menerus. Dan kini sehun hanya bisa terduduk lemas di ruangannya sesekali memijat kepalanya yang terasa pening.
Ia menatap ponselnya ingin meminta maaf, tapi ia merasa luhan akan membencinya, ia takut luhan akan membencinya, ia sangat takut. Sehun memejamkan matanya sejenak sekedar menenangkan otot-ototnya yang menegang. Tiba-tiba suara ponselnya yang cukup keras mengejutkannya.
Ia mengangkatnya dengan cukup cepat berharap itu adalah luhan.
"Ahh tuan cho"jawab sehun ramah.
"Memancing? Hari ini?"tanya sehun.
"Ya tentu saja, baiklah"ia kemudian menutup ponselnya dan berharap luhan akan ikut memancing nantinya.
Setelah bekerja cukup lama, sehun segera bersiap-siap dengan jaketnya dan peralatan memancingnya. Sekertaris kim sempat bertanya apa dia harus ikut atau tidak, tapi sehun hanya menjawab bahwa dia tidak ikut dengan nada dingin.
Sehun langsung berangkat dari rumahnya ke tempat yang dikirim tuan cho lewat gps, dan butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai tempat tujuan.
"Tuan cho!"panggil sehun sambil tersenyum lalu menghampiri tuan cho yang sudah mulai memancing.
"Sehun-ah, lihat aku sudah dapat banyak"pamer tuan cho sembari menunjukkan ember biru yang sudah di penuhi beberapa ikan, sedangkan disampingnya chanyeol tengah berdiri tegak dengan setia.
"Eyy, tuan cho curang! Harusnya anda menunggu saya"ujar sehun berpura-pura kesal sedangkan tuan cho hanya tertawa khas orang tua. Sehun sempat tersenyum pada chanyeol, namun chanyeol hanya menatapnya seakan ia sangat membenci sehun, tapi chanyeol tetap membungkukan kepalanya demi menjaga sikap.
Sehun merasa tidak nyaman dengan tatapan chanyeol dan ia segera mulai memancing.
"Woahh, aku baru sadar sungai ini sangat indah!"puji sehun.
"Tentu saja, ini sudah menjadi tempat favoritku"sahut tuan cho.
"Benarkah?"
"Iya, disini juga aku menemukan luhan"ujar tuan cho santai.
Sehun merasa dia baru saja tersedak.
"Sajang-nim"panggil chanyeol
"Tak apa chanyeol, sehun orang baik jadi aku bisa menceritakannya"
Sehun diam dalam hening.
"Dulu aku menemukannya di tepian sungai sini, kondisinya sangat mengenaskan, luka dimana-mana dan tubuhnya sangat kurus. Waktu itu kukira dia sudah mati, dan dengan keajaiban dia masih bernafas"tuan cho mulai bercerita.
"Awalnya dia kubawa ke rumah sakit biasa, ternyata dia tidak hanya terluka di tubuhnya, dia terluka secara batin dan mental juga. Ia tidak bisa bicara, wajahnya pucat dan matanya kosong dia seperti mayat hidup"
"Dia sering berteriak histeris, bahkan ia pernah membunuh satu lalat dan tiba-tiba ia terlihat begitu terkejut dan berteriak histeris bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Ia juga tidak suka jika seseorang menyentuhnya"
"Dokter bilang itu adalah trauma, mungkin saat dulu ia pernah melihat pembunuhan secara langsung di depan matanya, ia mungkin juga pernah di perkosa"
Sehun merasa tertohok, ingin rasanya ia menangis. Luhan sungguh mengalami fase seperti itu? Luhan sungguh tersiksa seperti itu? Sehun merasa sesak, luhan seperti itu karenanya. Ia bahkan tidak tau bahwa dia pantas di sebut manusia atau tidak.
"Dahulu saat orang menyentuhnya, ia akan menangis dan berteriak bahkan sampai melukai orang yang menyentuhnya dan setelah melukainya ia tambah histeris, sungguh dia adalah manusia paling malang yang pernah kutemui"
Sehun terdiam menahan tangis.
"Satu-satunya orang yang berani menyentuhnya setiap hari adalah asisten park, asisten setia kami. Dulu tidak ada yg mau menyentuh luhan, bahkan dokter sendiri pun takut pada luhan"
Sehun menatap chanyeol yang masih berdiri tegak sambil menundukan kepala.
"Setiap kali ia menyentuh luhan, ia selalu di tusuk garpu di bagian tangannya oleh luhan, maka dari itu banyak sekali bekas-bekas luka di tangan asisten park"cerita tuan cho sambil tersenyum bangga menatap chanyeol.
"Tapi berkatnya, luhan sekarang cukup normal. Setidaknya ia sudah bisa disentuh sedikit, jika kau memeluknya dan bahkan lebih dari itu, luhan akan mulai berkeringat dan bergetar"
Sehun merasa pasokan oksigen mulai menipis, dadanya begitu sesak. Luhan trauma dan malam itu apa yang baru saja di lakukannya? Ia hampir saja memperkosanya.
"Satu-satunya orang yang bisa memeluk luhan hanya asisten park, karena itu asisten park kini menjadi asisten pribadi luhan juga, dan luhan juga sepertinya terlihat nyaman dengan keberadaan asisten park di sampingnya"
Sehun diam melirik chanyeol yang masih tertunduk sekilas. "Luhan benar-benar pria yang kuat"jawab sehun lesu, sedangkan tuan cho hanya tersenyum bangga.
.
.
.
"Asisten park cepat ambilkan pemanggang"perintah tuan cho dan chanyeol segera berlari ke dalam villa milik keluarga cho yang terletak tak jauh dari sungai dimana mereka memancing tadi.
"Malam ini kita pesta ikan"kata tuan cho sambil tertawa.
"Kepala Lee"panggil tuan cho "tolong ambil beberapa peralatan dapur"
"Ahh tidak apa-apa tuan cho, biar aku saja yang ambilkan"ucap sehun sambil tersenyum.
Ia kemudian berlari menuju dapur dan menemukan chanyeol tengah mengangkat pemanggang. Sehun mengambil beberapa peralatan sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana kabar luhan? Dia baik saja?"tanyanya dengan nada sinis.
Chanyeol meletakkan kembali pemanggang itu dan mulai mengepalkan tangannya "dia tidak baik"jawabnya dingin.
Sehun menoleh dan menyeringai mendapati chanyeol sudah mengepalkan tangannya. Sehun menganggukan kepalanya "sayang sekali malam itu permainannya hanya setengah, tapi itu cukup nikmat"
Sudah cukup. Chanyeol mulai kehilangan kesabarannya. Ia benci melihat bagaimana mulut kotor sehun berani menyebut nama luhan setelah apa yang dia lakukan dan apa efeknya bagi luhan. Ia tau semuanya, ia tau masa lalu luhan yang tidak sehun ketahui, dan ia tau bagaimana sehun menyiksa luhan ketika ia masih seekor anjing pembunuh, ia tau rencana balas dendam luhan, meski ia tau itu salah, ia tetap mengikuti luhan dan terakhir, ia sungguh membenci sehun.
Chanyeol menarik kerah baju sehun dan menatapnya nyalang "berani kau menyentuhnya, aku tidak akan segan untuk membunuhmu tuan oh yang terhormat"ujar chanyeol dengan nada menusuk. Sedangkan sehun hanya diam dengan wajah datar sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
Chanyeol mulai beranjak dan kembali mengangkat pemanggang lalu melangkah meninggalkan sehun. Namun langkahnya terhenti ketika sehun mulai mengeluarkan suara.
"Kau menyukainya?"tanya sehun terdengar sinis.
Chanyeol meletakkan pemanggang "tidak"jawabnya singkat.
"Benarkah?"
Chanyeol menoleh dan menatap sehun tajam "aku mencintainya..."
TBC.
