Hello, Shooting Star chap 7
Rated M/M preg/Hunhan
.
.
.
"Okinawa?" Sehun menaruh kopinya ke atas meja lalu menatap sekertaris kim.
"Ya, saya dengar mereka setuju dengan okinawa, jadi mulai lusa para tim akan berangkat ke okinawa untuk melihat lokasi. Apakah anda akan ikut?"
Sehun terdiam sejenak "apa luhan ikut?"
Wajah sekertaris kim berubah seketika berubah dalam beberapa detik "ya, dia ikut"
"Baiklah, aku juga ikut. Persiapkan semuanya"
Sekertaris kim mebungkuk hormat lalu keluar dari ruangan sehun. Sehun menghela nafasnya datar, ia dengar hari ini luhan sudah kembali masuk kerja, dan ia berencana menemuinya siang nanti. Sehun masih terdiam dan bergelung dalam pikirannya ketika tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo"Jawab sehun.
"Kami sudah menemukan sebuah informasi, dan juga kami mendapatkan seseorang yg sepertinya tau semuanya"
"siapa?"tanyanya datar.
"Tuan jang"
Sehun terdiam, pikirannya kembali ke masa lalu. Tuan jang adalah ketua pelayan sekaligus sekertaris paling setia ayahnya dulu, ia lah yang mempersiapkan semuanya ketika sehun di kirim menjauh dari rumah.
"Baiklah aku akan segera kesana"sehun mematikan ponselnya, sebenarnya sejak ia hampir mati karena menyayat tangannya, ia sudah diam-diam menyelidiki latar belakang sekertaris kim yang cukup misterius.
Sehun keluar dari ruangannya "aku mau ke suatu tempat"ujarnya datar.
"Apa perlu saya ikut?"tanya sekertaris kim
"Tidak perlu"jawabnya, ia melangkah cepat meninggalkan sekertaris kim. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di lobi, matanya terpaku pada seseorang yang beberapa hari ini tak ia lihat.
Seseorang yang begitu indah baginya, Luhan. Sehun tersenyum gugup ketika luhan melangkah ke arahnya dengan wajah datar.
"Lu-"suara sehun terpotong, ia terdiam dan mencelos.
Dengan santainya luhan melangkah melewati sehun, tanpa menatapnya seakan menganggap sehun tak ada. Mata sehun memanas, tangan yang tadi mencoba meraih luhan turun pelahan. Hatinya terasa sangat sakit dan sesak. Mengapa? Mengapa ia harus merasa seperti ini?
Sehun menarik nafas dengan tenang, lalu melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
.
.
.
"Lu, hari ini asisten tampanmu itu tidak masuk?"tanya baekhyun sambil membawakan beberapa berkas untuk luhan tanda tangani.
Luhan menatap baekhyun sambil tersenyum lembut "dia sakit, jadi tidak masuk kerja untuk sementara"
Mata baekhyun membesar "di-dia sakit?"
Luhan terkekeh "memangnya kenapa?"
Baekhyun menatap luhan lesu, teringat bagaimana chanyeol memeluk dan menatap luhan malam itu "tidak apa-apa"jawabnya pelan.
Luhan bangkit dari duduknya lalu memeluk baekhyun "pergilah dan rawat dia"ucap luhan.
Baekhyun terbelalak "e-eh?"
"Aku tau kau mengkhawatirkannya, aku akan berikan alamat apartemennya padamu"
"Kau yakin lu?"tanya baekhyun tersenyum lembut sambil membelai rambut luhan sayang.
Luhan terkekeh lalu mengangguk.
"Bukan, bukan maksudku. Hari ini chanyeol tidak ada, kalau aku pergi siapa yg akan menjagamu? Kau tau kan, kau baru saja 'sembuh' aku tidak mau si oh sehun sialan itu melukaimu lagi"
Luhan menatap baekhyun datar sejenak.
"A-ah kau tidak mau membicarakan tentangnya ya? Maafkan aku"
Luhan tersenyum dan menggeleng "pergilah, aku akan baik-baik saja. Jika dia melakukan sesuatu padaku, aku yakin kau dan chanyeol akan membunuhnya untukku"ujar luhan sambil terkekeh pelan.
"Baiklah, terima kasih lulu. Aku menyayangimu"
"Aku juga menyayangimu baekkie"
.
.
.
Sehun melangkah masuk ke dalam sebuah gedung tua yang sepertinya sudah lama di tinggalkan. Terlihat beberapa anak buah yang tampak membungkuk hormat pada sehun, lalu di tengah-tengah ruangan terlihat seorang pria di usia 40-annya terduduk lemah dengan tangan di ikat.
Sehun menatap salah satu anak buahnya yang nampaknya adalah seorang ketua "ahh dia tadi berusaha kabur, apa perlu saya lepaskan ikatannya?"
Sehun menghela nafasnya "tidak perlu"jawabnya datar, ia melangkah mendekati tuan jang lalu memaksa tuan jang untuk mendongakkan kepalanya.
"Ahh tuan sehun, kau masih kenal aku? Woah, kau tumbuh dengan baik"ujar tuan jang berbasa basi.
Sehun diam, lalu duduk di hadapan tuan jang dengan kursi yang di sediakan anak buahnya.
"Ceritakan semua yang kau tau"
"A-aku tidak tau apa-apa"jawab tuan jang tampak ketakutan.
Sehun menatap tuan jang sedikit murka, membuat tuan jang sedikit menundukkan kepala "jika aku memberitahu kalian, mereka akan membunuhku"
Sehun menaikkan satu alisnya "mereka?"
Tuan jang diam tak menjawab. Sehun menarik nafasnya dengan tenang "aku akan melindungimu dari mereka, aku akan mengirimmu keluar negeri setelah ini, memberikan rumah dan uang yang cukup untuk kau tinggal sampai kau mati"ujar sehun datar.
Tuan jang menatap sehun nanar "aku harap kau benar-benar melakukannya"
Sehun diam tak menjawab.
Tuan jang mulai menangis "apa kau tau betapa sulitnya hidupku selama ini? Si kim sialan itu, ini semua karenanya!"
"Dia yang membunuh orang tuamu! Lalu mencuci otak anak pembunuh itu! Menyiksanya, dan sering kali melecehkannya. Jika aku tidak ada disana mungkin dia sudah di perkosa oleh si kim itu"
Sehun merasa tertohok"mengapa? Mengapa orang tuaku? Mengapa luhan?"tanyanya berdesis.
"Kau tau persis kan ayahmu sudah membunuh banyak orang dengan anjing pembunuhnya itu? Dia membunuh orang demi uang, saham, perusahaan, kekayaan, dan kekuasaan. Dan orang tua si kim itu salah satunya. Orang tuanya di jebak dalam sebuah sengketa saham, mereka jatuh bangkrut dan miskin. Ayahnya masuk penjara, dan ibunya meninggal karena sakit. Lalu setelah itu ayahnya meninggal menggantung diri dalam penjara"tuan jang bercerita masih sambil menangis.
"Dia menginginkan pembalasan, dia masuk sebagai sekertaris yang kompeten. Posisiku tergeser dan aku hanyalah menjadi seorang pelayan. Malam itu, di depan mataku sendiri dia membunuh kedua orang tuamu dengan sadis. Luhan, anak itu juga menangis. Mereka mengancam akan membunuhku jika aku tidak bisa mengunci mulutku, jadi kuputuskan untuk diam"
Sehun terdiam, setitik air mata mengaliri pipinya.
"Sejak orang tuamu meninggal, si kim itu mengambil alih posisi sebagai tuan luhan. Anak itu bukannya takut dengan kim, kau tau kan anak itu menunggumu pulang sejak kau memberinya coklat waktu itu?"
Coklat? Sehun terdiam, kepalanya berputar kembali ke masa lalu. Sehun membelalak, kenangan masa lalunya yang hilang karena trauma, kembali. Ia melihat bayang-bayang luhan kecil, bagaimana kumalnya ia waktu itu, bagaimana senyumnya ketika ia makan coklat waktu itu, dan bagaimana ia sendiri berjanji akan kembali pada luhan.
"Kim junhyong itu mengatakan pada luhan bahwa jika ia tidak menurut padanya, dia akan membunuhmu. Kau lah kuncinya sehun. Kau tidak tau kalau rumahmu yang ada di pulau sudah di pasangi bom di berbagai tempat, dan bisa saja meladak dalam 1 kali tekan tombol. Karena itu si luhan anak itu merelakan dirinya menjadi budak untuk kim itu"
"Sedangkan aku hanya dapat melarikan diri dan mengatakan pada kim kalau aku akan membungkam mulutku"
Sehun masih terdiam, kepalanya berputar-putar. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia bangkit dari duduknya, lalu melangkah menjauh dari tuan jang dan keluar dari gedung tua itu. Ia terduduk lemas di depan setir mobilnya, memegangi dadanya yang terasa sesak.
Mengapa? Mengapa ia baru tau kebenarannya sekarang? Mengapa dia sangat percaya dengan kim ketika pertama kalinya mereka membawa luhan? Sehun meninju setir dengan murka, kemudian dengan cepat melajukan mobilnya membelah udara kota seoul menuju kantornya.
Sesampainya di kantor, ia melesat dengan cepat menuju ruangan luhan. Air mata masih setia menemaninya.
'Brak'
Luhan terkejut ketika mendapati sehun yang berantakan dengan mata memerah tengah berdiri di ambang pintu. Ia masih sedikit trauma dengan sehun sejak kejadian malam itu, tubuhnya sedikit bergetar namun ia berusaha menangkan dirinya "a-ada apa tuan oh?"
Sehun melangkah masuk ke dalam ruangan luhan, kemudian berlutut sambil menangis.
"Tuan oh?"luhan merasa bingung dengan apa yang terjadi pada sehun.
Sehun hanya diam sambil menangis terisak, dan kemudian bersujud ke arah luhan.
Luhan membelalak kaget, ia terdiam tak bergeming di tempat duduknya, mencoba untuk tak mendekati sehun, karena perasaan takutnya.
Perasaan sehun bercampur aduk saat ini, ia begitu sangat sangat menyesal atas perbuatan bodohnya pada luhan. Ia merasa sangat kotor dan menjijikan, bayangan-bayangan bagaimana senangnya ia memperkosa luhan dulu begitu menyesakkan baginya. Tidak ada ruang untuk bernafas baginya saat ini, semuanya terasa begitunya menyakitkan.
Ia mencintai, ia mencintai luhan lebih dari apapun. Dan bagaimana pun, jika suatu hari nanti luhan ingat akan semua perbuatannya, ia bersedia mendapatkan hukuman yang pantas baginya. Ia pantas akan amarah luhan, ia pantas mendapatkannya. Dia hanyalah seonggok daging bernafas yang merasa dirinya sampah saat ini.
'Bruk'
"Sehun! Sehun! Sadarlah! Sehun!"
"Lu..."
.
.
.
Baekhyun melangkah memasukin ruangan apartemen chanyeol, setelah tadi luhan memberikannya alamat chanyeol dan bahkan password apartementnya. Ia menemukan chanyeol tengah tertidur pulas dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang berkeringat begitu banyak. Baekhyun menaruh tangannya di kening chanyeol dan merasakan panas yang menjalar ke tangannya.
Baekhyun terbelalak merasakan betapa panasnya chanyeol. Ia bergegas mengambil es, air, handuk kecil serta baskom kecil untuk mengompres chanyeol. Ia memeras handuk kecil yang telah di rendamnya tadi, kemudian meletakannya di kening chanyeol.
Baekhyun tersenyum lembut memandangi wajah damai chanyeol yang tertidur pulas.
"Lu... luhan"igau chanyeol pelan.
Setetes air mata jatuh ketika ia mendengar nama luhan dari mulut chanyeol. Ini pertama kalinya ia merasakan hatinya begitu sakit. Ini pertama kalinya ia menyukai orang setulus hati. Selama ini ia pacaran hanya agar dia tidak kesepian, toh dia tidak punya keluarga dan orang tua lagi. Tapi kali ini bukan karena rasa kesepian, ia benar-benar menyukai chanyeol. Ia menyukai bagaimana chanyeol tersenyum dan membuat hatinya berdebar.
Belum sebulan mereka saling mengenal, namun chanyeol mampu membuat baekhyun jatuh dalam sekejap mata. Hanya dalam 3 detik, baekhyun jatuh dalam pesona chanyeol.
.
.
.
Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya, dan rasa pening langsung saja menggerayangi kepalanya. Ia meringis pelan, kemudian menyentuh keningnya dan mendapati sebuah handuk kecil yang masih basah. Bau harum makanan langsung saja menusuk hidung chanyeol dan terdengar kegaduhan dari dapurnya. Chanyeol mengernyit, setaunya hanya luhan saja yang tau password apartementnya.
Tapi selama ia sakit, luhan tidak pernah menjenguknya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi, ia sudah tertidur sejak kemarin jadi ia tidak tau sudah berapa belas jam ia tertidur. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur dan mendapati siluet seseorang bertubuh mungil dengan apron hitam yang terbalut rapi di tubuhnya.
"B-baekhyun?"ujar chanyeol pelan.
Baekhyun menoleh sekilas, disana chanyeol dapat melihat bagaimana berantakannya baekhyun. Lingkaran hitam di sekeliling matanya, rambut yg tak beraturan, serta matanya yang membengkak.
"Ahh, kau sudah bangun? Duduklah, buburnya sebentar lagi siap"ujar baekhyun sambil mengaduk-ngaduk buburnya.
Chanyeol menurut dan duduk di meja makan, tak lama baekhyun datang dengan semangkuk bubur dan menghidangkannya di hadapan chanyeol.
"Kau, bagaimana bisa disini?"tanya chanyeol yang mulai mengambil sendok.
Baekhyun ikut duduk dan mulai makan "kemarin luhan menyuruhku datang"
Chanyeol diam menatap baekhyun. "Ohh baiklah selain dia yang menyuruhku, aku juga ingin merawatmu karena aku menyukaimu"ucap baekhyun santai.
Chanyeol terdiam merasa bersalah "baekhyun ak-"
"Kau tau? Semalaman kau menyebut nama luhan, aku jadi tidak bisa tidur selain berisik hal itu juga membuatku patah hati"ujar baekhyun sambil terus melahap makanannya.
Chanyeol makin merasa bersalah "maaf"
Baekhyun terkekeh "santai saja denganku, walaupun rasanya sakit aku akan tetap tenang. Lagi pula memang sulit menolak pesona seorang cho luhan. Kau berjanjilah untuk selalu melindungi luhan"
Chanyeol mengangguk pelan sambil memakan bubur buatan baekhyun.
"Tapi aku belum menyerah padamu. Akan kubuat kau jatuh cinta padaku kkk"kekeh baekhyun, sedangkan chanyeol hanya menatap baekhyun canggung.
.
.
.
Luhan menatap sehun yang tertidur pulas dengan wajah pucat pasi. Setelah menangis di ruangan luhan, ia pingsan karena demam tinggi. Dokter mengatakan padanya bahwa sehun mengalami shock berat, dan luhan masih bertanya-tanya pada dirinya karena apa?
Sehun sedari tadi terus menyebut namanya dan meminta maaf. Luhan menggigiti kukunya, dan tiba-tiba sehun mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tersadar dari tidur panjangnya, memandang luhan dalam pandangannya yang masih sedikit kabur.
"L-luhan?"panggil sehun parau.
Luhan terdiam menatap sehun "kau... sudah sadar?"tanya luhan pelan.
Sehun bangkit dari tidurnya dan mengangguk pelan. Ia menatap luhan yang sepertinya masih tak berani menatap matanya.
"Lu aku-"
"Karena kau sudah sadar, aku rasa aku sudah bisa pergi"ujar luhan cepat lalu bangkit dari duduknya.
"Lu dengarkan aku"dengan cepat sehun menarik pergelangan tangan luhan, sehingga tubuh luhan terpaksa menghadap tubuh sehun dengan wajah yang saling menghadap cukup dekat.
Bayangan-bayangan dimana sehun menyentuhnya kembali merusak akal sehatnya. Ia mulai berkeringat, dan sedikit bergetar. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh sehun dan berbalik memunggungi sehun. Ia mengatur nafasnya yang menderu, mencoba menenangkan dirinya.
"Lu, aku tak bermaksud, maafkan aku"
Luhan berbalik menghadap sehun lalu tersenyum formal "minta maaf untuk apa? Aku rasa tidak ada yang salah di antara kita"
Sehun menghela nafas "aku tau trauma jad-"sehun terdiam, luhan ikut terdiam dan menatap sehun yang sepertinya sedang berpikir.
"Trauma, aku sendiri mengalami trauma karena kenangan masa kecilku. Aku tidak ingat sedikitpun dari memori kenangan masa kecilku, yang ku ingat hanyalah satu kenangan burukku ketika ayahku membuangku"racau sehun.
Luhan terdiam dan ikut memikirkan semua kata-kata sehun.
"Jika kau trauma, dan takut di sentuh karena dengan begitu kau akan ingat kenangan burukmu berarti... kau...ingat aku?"
Luhan terdiam, semua perkataan sehun benar "siapa yang mengatakan aku trauma? Aku merasa tidak pernah mengatakan hal itu oh sehun-sshi"
"Ayahmu, ayahmu yang mengatakannya"ujar sehun sambil menatap luhan penuh harap.
"Aku tidak takut di sentuh, aku hanya benci melakukan skinship"ujar luhan cepat. "Aku pergi"lanjutnya lalu dengan cepat melenggang pergi dari hadapan sehun.
Sehun menghela nafasnya "ya, mungkin begitu."
.
.
.
1 week later
"Okinawa! Akhirnya! Okinawa!"teriak baekhyun kegirangan sambil menghirup-hirup udara segar di okinawa.
Luhan terkekeh "kau bersikap berlebihan baek"
"Sudah lama kita tidak jalan-jalan bersama,lu"baekhyun tersenyum sambil merangkul luhan. "Kau tidak takut sekarang aku melakukan skinship padamu?"tanya baekhyun.
Luhan menggeleng "sepertinya aku mulai sembuh berangsur-angsur, jika skinship ringan seperti ini aku tidak takut lagi, tidak seperti dulu"
"Kalau begitu aku bisa memelukmu sepuasku!"teriak baekhyun sambil memeluk luhan gemas.
tiba-tiba sehun menghampiri luhan "Hai luhan, sebentar lagi mobilnya datang. Biar aku bawakan kopermu"
Luhan mendongak dan menatap sehun yang lebih tinggi darinya di bawa sinar terik matahari. Ia kembali teringat dimana ketika ia kecil, seorang anak laki-laki datang dari balik pintu dimana dulu kandangnya di sembunyikan.
"Lu? Luhan?"panggil sehun.
"Biar aku saja"ujar chanyeol yang tiba-tiba muncul dari belakang. Luhan menoleh ke arah chanyeol sekilas, dan langsung saja memberikan kopernya pada sehun ketika chanyeol baru akan merebutnya dari tangan luhan.
"Kau, bawakan saja tas baekhyun"kata luhan sambil tersenyum tipis.
"Eh? Aku? Aku bisa melakukannya sendiri, tak apa"ujar baekhyun sambil tersenyum kaku, tapi chanyeol tetap menurut dan merampas tas baekhyun lalu menatap sehun begitu tajam.
Tak lama dua mobil untuk dua tim datang, dan mereka berangkat menuju hotel. Tak begitu lama sampai mereka sudah berada di hotel. Sehun melakukan reservasi untuk kedua tim, sedangkan semua anggota tim memilih duduk di ruang tunggu.
"Woah, luhan. Aku ingin ke sana!"teriak baekhyun antusias sambil menunjuk-nunjuk ke arah pantai.
"Setelah bekerja, kita kesana!"teriak luhan tak kalah antusias karena baginya ini pertama kalinya ia melihat pantai.
Sehun datang sambil membawa beberapa kunci "baiklah semua. Satu kamar akan di tempati oleh dua orang. Jadi carilah teman sekamarmu"ujarnya menjelaskan.
"Luhan! Aku denganmu!"teriak baekhyun sambil mengerling.
Luhan terlihat berpikir sejenak "aku denganmu"ujarnya sambil menatap sehun lantas chanyeol dan baekhyun terbelalak.
"Luhan!"teriak baekhyun dan chanyeol bersamaan.
Luhan tak menghiraukan kedua orang yang saat ini tengah mengkhawatirkannya. Sehun pun terlihat agak terkejut "ba-baiklah, kamar kita ada di lantai 5 nomor 343"ujar sehun sedikit gugup.
Luhan melangkah cepat menuju lift, dan sehun mengekorinya dari belakang. Namun langkahnya terhenti merasakan seseorang tengah menarik bahunya.
"Kau-"ujar chanyeol sambil menatap sehun tajam.
"Aku tidak akan melakukan apapun"jawab sehun tegas sembari membalas tatapan chanyeol dengan tatapan-aku berjanji-nya.
.
.
.
Setelah pergi ke lokasi dimana proyek akan di bangun, para team kembali ke hotel dan makan malam bersama, kecuali luhan. Ia memilih keluar hotel dan pergi menyusuri tepi pantai yang letaknya tak begitu jauh dari hotel.
Malam itu bintang tidak terlalu banyak, hanya satu atau tiga saja yang dapat di lihat. Udara rasanya begitu dingin dan menusuk kulit, luhan merapatkan jaketnya sambil memandangi ombak-ombak kecil yang terpecah dan menjadi buih lalu kembali ke pantai. Suara riak ombak seakan menjadi irama pengisi kekosongan. Perasaannya bercampur aduk sekarang ini, ia tidak bisa berpikir jernih.
"Mengapa tidak ikut makan?"suara yang tak asing lagi siapa pemiliknya tiba-tiba memecah keheningan.
"Aku sedang tidak ingin makan"ujar luhan sambil memandang sehun kosong.
Sehun tersenyum sambil memandang jauh ke arah pantai "apakah kau pernah berpikir, apa yang ada di ujung sana?"
"Hmm, aku rasa semua orang pernah"jawab luhan.
"Dulu aku pernah bertemu seorang anak laki-laki. Penampilannya begitu kumal dan aromanya pun rasanya merusak hidung"ujar sehun sambil terkekeh pelan.
Luhan merasa yang baru saja sehun ceritakan adakah dirinya, ia menatap sehun yang masih memandangi pantai.
"Tapi walaupun begitu, matanya begitu indah. Mata rusa yang seakan ada beribu bintang dalam mata itu. Aku menyukai mata itu, mata rusanya"sehun menoleh, dan pandangan mereka bertemu, keduanya terdiam sambil memandangi mata satu sama lain.
"Dan, aku jatuh dalam pesona mata itu. Hanya dalam tiga detik saja. Aku harap aku bisa bertemu lagi dengannya, tapi ayahku membuangku ke sebuah pulau terpencil"
"Dan karena itu, aku melupakan semuanya. Aku melupakan mata seindah itu, dan aku begitu menyesal. Karena ingatanku tentang mata itu baru kembali sekarang"lanjut sehun.
Untuk beberapa saat, luhan kembali jatuh dalam pesona sehun. Jatuh dan terus jatuh, bahkan hampir menangis. Ia menarik nafasnya dan memilih mengalihkan pandangannya "udara semakin dingin, bagaimana kalau kembali ke kamar dan menikmati segelas champagne?"
Sehun tersenyum lembut lalu mengangguk setuju.
.
.
.
Luhan memberikan segelas champagne pada sehun lalu sehun bersulang dan meneguk champagne itu dalam sekali teguk.
"Sepertinya asistenmu itu khawatir kalau kita sekamar"ujar sehun sambil kembali meminum champagne yang di tuangkan oleh luhan.
"Ya, dia sangat khawatir"ujar luhan sambil memandangi pemandangan luar jendela dan memutar-mutar gelas champagne-nya.
"Mengapa?"tanya sehun sambil kembali meneguk champagnenya, dan tiba-tiba ia merasa ruangan menjadi begitu panas. "Euh, mengapa tiba-tiba menjadi panas?"racaunya pelan.
"Karena aku memang punya trauma oh sehun"
"M-maksudmu?"sehun merasa semakin panas dan segera memandang ke arah bagian bawahnya yang mulai menegak.
"Tebakanmu benar oh sehun"luhan duduk di sofa dengan nyaman "aku trauma, aku ingat bagaimana kau memperkosaku, bagaimana senangnya wajahmu saat kau memasukkan penismu ke dalamku"setitik air mata jatuh dari ekor mata luhan ketika mengingatnya.
Begitunya menyakitkan.
Sehun merasa seakan kepalanya baru saja di pukul dengan batu bata "k-kau ingat?"tanya sehun bergetar.
Luhan memiringkan kepalanya sambil menyeringai. Sehun kembali memandang ke arah bawahnya yang sudah terasa mengeras dan suhu tubuhnya naik drastis.
"A-apa yang kau masukkan dalam minumanku?"
"Ohh aku rasa kau tau obat apa yang bisa membuat penismu bangun seperti itu oh sehun?"
Tak lama chanyeol masuk ke kamar dengan beberapa anak buah mereka.
Sehun terkejut sambil memandang luhan tak percaya.
"Ikat dia"ujar luhan sambil menyilangkan kakinya dan bersandar pada sofa.
Para anak buah segera menarik sehun yang meronta dan mengikat tangan berserta kakinya di sisi tempat tidur.
"Luhan! Apa yang ingin kau lakukan? Pembalasan dendam?!"teriak sehun meronta.
Luhan mengangguk santai. Tak lama seorang gadis dengan payudara besar dan pakaian terbuka masuk ke kamar tersebut, pintu segera di kunci rapat.
"Lu, kau bisa menghukumku tapi bukan cara seperti ini"ujar sehun masih meronta.
"Mulailah"ujar luhan mempersilahkan gadis itu untuk memainkan sehun sepuas hatinya. Gadis itu mulai menarik celana sehun menampakkan juniornya yang sudah tegak berdiri dan mengeras.
"Ahh, tuan photographer, tolong dapatkan foto yang terbaik"ujar luhan, salah seorang anak buah terlihat membungkuk hormat dan mulai mengeluarkan sebuah kamera.
"Luhan! Aku mohon!"ronta sehun "ahhh"erangnya ketika tangan gadis itu mulai meremas penisnya.
"Ahhh ahhhh"desah sehun, gadis itu mulai menjilati dan mengulum junior sehun, lalu memainkan lidahnya dengan lihai.
"Tuan photographer, mohon tali pengikatnya untuk tidak terlihat di foto"perintah luhan lagi sambil menyeringai lebar "bagaimana oh sehun?"
Gadis tadi mulai membuka bajunya menampakkan dua gumpalan kenyal besar yang tampak sudah di pakai puluhan kali, ia menaruh penis sehun di belahan dadanya, dan mulai memainkan penis sehun dengan payudaranya.
"Ahhh nghh aku mohonhh luhan!"teriak sehun meronta.
Gadis itu terus menggesekkan penis sehun dengan payudaranya, dan menjilati kepala junior yang menjulang dari belahan dadanya.
"Ahhh! Ahh!"sehun melepaskan cairannya tepat di wajah gadis tersebut.
"Ohh yeah! Dapatkan yang itu tuan lee!"teriak luhan terlihat senang. Chanyeol menatap luhan dari kejauhan, luhannya yang sekarang sungguh berbeda dengan luhan yang biasa. Sungguh mengerikan bagaimana seseorang bisa berganti kepribadian secepat itu.
Gadis tadi mulai menjauh dan memasang kembali pakaiannya. Luhan menyeringai dan mulai mendekat ke arah sehun. "Bagaimana sehun?"
Sehun menatap lirih ke arah luhan dan memilih diam. Luhan menyeringai lalu mulai melangkah menjauhi sehun.
"kau..."
Langkah luhan terhenti ketika suara sehun mulai terdengar, ia membalikkan tubuhnya dan menatap sehun yang terlihat lemas.
"Kau...apa kau pernah tau bahwa kita pernah punya calon bayi?"ujar sehun parau, setitik air mata mengalir dari ekor mata sehun.
Luhan terbelalak kaget "tidak mungkin"
"ingat ketika kau menyelamatkanku dari seseorang yang hampir menusukku? lu, waktu itu kau tengah mengandung"
Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata luhan.
"Mengandung?"
Tbc.
Oke, maaf buat keterlambatan post! Karena satu minggu author pulkam, satu minggunya lagi author ngejar tugas dan satu minggunya lagi author ada ukk(total 3 minggu) Jadi baru sempat sekarang. Selanjutnya bakal fast update kok. Dan maaf kalau chap kali ini kurang nge-feel.
Nahh karena sering ada pertanyaan "kenapa luhan balas dendam? Bukannya luhan masih cinta sama sehun?"
Author bakal jawab nih, luhan emang masih cinta banget sama sehun, dan dia emang balas dendam karena perlakuan sehun dulu, tapi itu bukan alasan utama luhan balas dendam. Acara balas dendamnya ini bersangkutan dengan kematian ibu kandungnya:)
The story about luhan's mother will be revealed soon!
