Hello, Shooting Star chap 8

Rated M/Mpreg/HunHan

.

.

.

Semua terasa menyakitkan.

Sungguh

Kata-kata yang keluar dari mulutnya, begitu menyakitkan.

Didalam tubuhku, di dalam perutku pernah tumbuh sebuah nyawa? Benarkah? Lalu kemanakah dia? Dia mati saat aku menyelamatkan ayahnya. Bagaimana bisa? Nyawa yang bahkan belum memiliki kaki dan tangan itu, bagaimana bisa aku kehilangannya? Masalah ini seharusnya hanya antara keluargaku dan keluarga sehun.

Aku terdiam meringkuk di sudut ruangan. Menatap jauh keluar jendela yang begitu gelap, seakan tertawa melihatku yang kini sedang menangis. Mengapa? Mengapa janin itu harus terlibat?

"Luhan"suara chanyeol terdengar, aku membuang nafas dan menatapnya.

"Kau tidak apa-apa?"ia menatapku lirih, aku merasa mengasihani diriku sendiri, tanpanya aku masih belum bisa berdiri sendiri, tanpanya aku belum bisa menghadapi wajah oh sehun. Aku tau betul chanyeol mencintaiku, sangat. Tapi, walaupun aku mencoba bunuh diri sekalipun, setiap aku menatap mata sehun, aku menyadari bahwa aku masih mencintainya.

Setiap hari. Tapi tak ada ruang maaf bagiku untuknya.

"Lu, aku tau kau membencinya. Tapi, tidakkah ini berlebihan? Lu, bukan dia yang membunuh ibumu"

Kata-kata chanyeol membuatku merasa begitu marah, seakan rasa amarah itu mengendalikanku dan menyembunyikan sisi luhan yang lama dalam-dalam.

"Lalu, ibuku tidak salah. Mengapa? Mengapa ayahnya membunuh ibuku?"

Benar, ayah sehun membunuh ibuku.

Saat usiaku menginjak 6 tahun, pertama kalinya aku melihat ibuku tersenyum begitu tulus sejak ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ibuku di buat tersenyum oleh seseorang, dan orang itu adalah ayah sehun.

Mereka bersama, saling mencintai meski ayah sehun tidak tinggal bersama kami di cina, ayah sehun selalu menyempatkan diri ke rumah kami satu bulan sekali. Aku akui dia sangatlah baik, dan aku menyukainya.

Sampai usiaku menginjak 7 tahun, aku tak sengaja mendengar percakapan ayah sehun di telfon, tentang sesuatu yang membunuh ayahku.

Detik itu juga aku mengerti, dia lah yang telah membunuh ayahku demi bersama ibuku.

Aku takut, begitu takut hingga aku tak menyadari aku mengompol. Aku memberi tahu ibuku, dan detik itu juga senyum manisnya itu luntur dan aku merasa begitu menyesal telah memberitahunya.

Aku terduduk di kamar, ketika ku dengar suara gaduh dari luar ruangan. Mereka tengah berkelahi, hingga tiba-tiba suasana menjadi hening.

Aku menangis dan bergetar, terlalu takut untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku memberanikan diri untuk sekedar mengintip keluar.

Disana, aku melihat percikan darah di seluruh ruangan, kulihat ibuku sudah terkapar di tengah ruangan dan ayah sehun menatap murka padaku dengan wajah bersimbah darah dan tangan yang memegang pisau. Aku bergetar, aku takut.

Sungguh takut, dan setelahnya aku tak ingat apa yang terjadi padaku. Yang aku ingat, hanyalah seorang anak laki-laki yang menatap ke arahku dengan mata onyxnya. Oh sehun.

.

.

.

Chanyeol memelukku, aku diam. Air mataku mengalir begitu saja, dan suara isakan-isakan kecil mengalir begitu saja dari bibirku. Ini menyakitkan, begitu menyakitkan. Seakan seseorang tengah menyuruhku memakan pecahan beling saat ini. Rasanya sesak, aku butuh ruang untuk bernafas, tapi rasa sakit ini tidak memberikanku sedikitpun ruangan untuk bernafas.

Mengapa? Apa salahku hingga kau hukum aku seperti ini, Tuhan?

"Mengapa semuanya terasa sulit chanyeol-ah? Hiks"aku menatap chanyeol yang juga menangis menatapku penuh rasa sakit.

"Berkatalah tolong jika kau membutuhkan pertolongan, katakanlah marah jika kau marah, katakanlah sakit jika kau sakit, menangislah jika kau ingin menangis. Aku akan membantumu dalam segala cara"

"Tapi, jika kau ingin melakukannya dengan cara seperti ini. Aku mohon jangan menyesal."ia menatapku begitu lirih, dan menyakitkan.

"Sepertinya, aku memanglah seorang monster. Maaf, tapi aku tidak bisa berhenti"

Dia memeluku dengan erat, dan menepuk-nepuk punggungku. Menyalurkan rasa cintanya padaku dan aku merasakan bagaimana ia mencintaiku, tapi aku tidak bisa menerimanya.

"Kau bukan mosnter, dan tidak apa-apa jika kau tidak bisa berhenti. Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja"

Pov end

.

.

.

Luhan keluar dari kamarnya dengan sweater coklat bergaris biru miliknya, kemudian melangkah menuju lift, langkahnya terhenti ketika matanya bertemu dengan mata sehun yang berada dalam lift. Sehun menatap luhan penuh cinta yang begitu lirih dan menyakitkan, luhan memilih tak menganggap sehun ada, dan berdiri di sampingnya dengan santai.

Keduanya diam selama perjalanan menuju lantai bawah. Tidak ada yang berkutik dan itu semakin membuat sehun merasa sesak. Tak lama lift terbuka dan para anggota tim terlihat sudah berkumpul, sehun mengumpulkan kekuatannya kembali lalu tersenyum "baiklah, kalian bebas hari ini, besok kita kembali ke seoul"

Anggota tim terlihat bersorak sorai dan mulai sibuk berdiskusi kemana mereka akan pergi. Semua anggota tim terlihat berseri-seri sambil melangkah keluar hotel.

Sehun menoleh ke sampingnya dan mendapati luhan melangkah pergi melewati pintu samping hotel dan memilih mengikutinya dari belakang. Chanyeol tak sengaja melihat itu dan memilih mengikuti sehun demi berjaga-jaga agar sehun tak menyentuh luhan.

Baekhyun pun ikut memilih mengikuti chanyeol dari belakang, meskipun ia tahu niat chanyeol sebenarnya dan ia merasa sakit untuk itu.

Sehun menatap sebuah mercusuar yang di kenal sebagai mercusuar hirakubozaki yang menjulang tinggi di hadapannya. Mercusuar itu memang terletak tak jauh dari hotel hanya butuh berjalan sedikit dan mereka sampai. Ia menaiki anak tangga satu persatu, hingga sampai di puncak mercusuar dan mendapati luhan tengah berdiri menikmati angin laut yang terasa menyegarkan di tambah pemandangan yang di hidangkan Maha Pencipta dengan begitu indah.

ia berdiri di belakang luhan, menikmati setiap lekuk wajah luhan yang terlihat begitu menikmati angin laut. Ia tersenyum, tak perduli jika luhan akan membunuhnya, ia hanya akan mencintai luhan hari ini, besok dan selamanya. Karena luhan, adalah satu-satunya orang yang ia miliki setelah kedua orang tuanya tiada. Meskipun, kini luhan berdiri di tebing yang berlawanan dari dirinya. Ia tidak peduli, meski tebing itu bejarak ribuan kilometer, ia akan tetap berteriak bahwa ia mencintai luhan meski tenggorokannya harus berdarah sampai luhan mendengar hatinya.

Acara menikmati wajah luhan terganggu oleh suara dering ponselnya. Ia mengambil ponselnya dan mendapati sesuatu yang mampu membuatnya merubah ekspresinya begitu drastis.

"Menikmatinya?"suara luhan terdengar sinis, sehun menatap luhan penuh kecewa dan lirih namun masih penuh cinta.

"Lu..."panggil sehun lirih.

Luhan tersenyum sinis "berita itu mencapai daftar nomor 1 pencarian, kau bangga oh sehun?"

Sehun melirik ponselnya yang berisi sebuah artikel tentang dirinya melakukan sex ketika bekerja dengan menyewa seorang pelacur dari jepang. Dan foto yang di ambil luhan semalam sangat terlihat jelas terpampang disana dengan penuh sensor.

Sehun menghela nafasnya lalu menaruh ponselnya kembali ke sakunya, lalu tersenyum getir "lakukanlah apa yang kau mau, aku tidak apa-apa, aku akan tetap mencintaimu meskipun kau berada di jalan yang berbeda denganku. Aku mencintaimu"

Chanyeol terduduk di atas anak tangga mendengar percakapan luhan dan sehun, air matanya mengaliri pipi tirusnya menyadari bahwa mungkin ia memang tidak akan pernah memiliki luhan. Chanyeol terkejut ketika mendapati sebuah tangan terulur memberikan sebuah sapu tangan. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah baekhyun tengah tersenyum begitu manis mengesampingkan semua rasa sakitnya meski ia tau bahwa chanyeol akan tetap mencintai luhan.

"Baek..."

"Hapuslah dengan sapu tangan ini, kita berada dalam posisi yang sama chanyeol-ah, kita berada dalam kapal yang sama. Kau mencintai luhan, tapi ia sama sekali tidak melihatmu, aku mencintaimu tapi kau sama sekali tak melihatku"

"Baek..."

Air mata baekhyun akhirnya jatuh meluapkan semua perasaannya.

"Aku... tidak bisakah aku menjadi seseorang dalam hatimu? Kau... tidak bisakah kau membuka hatimu untukku?"

Chanyeol terdiam menatap baekhyun. Baekhyun mengusap wajahnya dengan cepat lalu tersenyum dan menghapus air mata chanyeol dengan sapu tangannya, lalu menaruh sapu tangan itu di atas telapak tangan chanyeol.

"Tentu saja tidak bisa ya?"ujarnya, kemudian berbalik memunggungi chanyeol dan mulai menuruni tangga.

"Baekhyun-ah"panggil chanyeol, ia berdiri dan menatap baekhyun.

"Maukah... kau menunggu? Aku... akan mencoba membuka hatiku, jadi... bisakah kau menungguku? Sampai, tugasku pada luhan sudah selesai. Aku berjanji akan datang padamu sampai saat itu."

Baekhyun terdiam, air mata jatuh dari pelupuk matanya. Di atas sana, air mata sehun juga jatuh secara bersamaan sambil menatap luhan dan tersenyum. Baekhyun berbalik menatap chanyeol dan tersenyum.

"Aku akan menunggumu sampai kau membuka hatimu untukku"ucap baekhyun bersamaan dengan sehun di atas sana.

Disaat yang bersamaan air mata chanyeol dan luhan ikut jatuh.

.

.

.

Semua orang terlihat berbisik-bisik sejak sehun melangkah masuk ke dalam gedung, ia menghela nafas sejenak. Ia telah di tunggu para direktur menyangkut masalah foto vulgar dirinya yang kini tengah beredar.

Ia melangkah cepat menuju ruang rapat, ia mengerti, ia pantas mendapatkan semua ini. Tak perduli jika orang-orang saat ini berbisik di belakangnya ataupun mereka berteriak di depan wajahnya. Ia akan tetap berdiri menerima setiap pukulan yang di berikan luhan dan terus mengatakan 'aku mencintaimu' tanpa rasa lelah.

Wajahnya datar ketika semua direktur yang kini tengah menatapnya marah dah jijik, dan satu di antara mereka adalah luhan. Sehun mengambil tempat duduknya dan merasa siap untuk di tampar dengan hasil rapat kali ini.

"Bagaimana anda bisa melakukan hal seperti itu?!"teriak salah satu direktur.

"Apa anda tau? Harga saham kita turun drastis karena berita menjijikan seperti itu!"

"Dan itu sedikit membuat pengaruh pada perusahaan kami, tuan oh"luhan angkat bicara sambil menyeringai, sehun menatap luhan lirih sambil tersenyum tipis "joseunghamida"ujarnya pelan.

Luhan masih menyeringai sambil menyilangkan kakinya. "Jika anda ingin bertahan di perusahaan, anda harus bertanggung jawab"ujar salah satu direktur.

"Bertanggung jawab seperti apa? Mengadakan konferensi pers, meminta maaf lalu membungkuk 90 derajat?"luhan tersenyum tipis.

"Kurasa itu tidak akan mempengaruhi apapun. Aku sudah berbicara pada ayahku, bahwa kami sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan ini ingin mencabut gelar CEO anda"

"Tapi, tuan oh juga memegang saham disini! Bagaimana bisa kita mengeluarkannya?!"salah satu direktur yang terlihat mendukung sehun angkat bicara.

Luhan tersenyum lalu melemparkan berkas yang cukup tebal ke tengah meja, matanya menatap ke arah sehun dengan tajam "baca lalu katakan apakah ia masih pantas menjadi seorang ceo?"

Para direktur terlihat membaca berkas yang di berikan luhan yang berisi catatan dana yang di gelapkan oleh ayahnya dan disana di katakan juga sehun menggelapkan dana. Dan juga berkas-berkas kematian orang-orang yang di bunuh ayah sehun beserta buktinya, dan catatan saham yang di miliki orang-orang tersebut yang kemudian di rampas oleh ayah sehun.

Semua direktur tampak terkejut dan menatap sehun ngeri.

"Ini adalah ayahnya yang telah meninggal, berarti tuan oh sehun tidak ada sangkut pautnya!"direktur yang tampak mendukung sehun angkat bicara lagi.

Semua berkas itu memang asli, terkecuali tentang sehun yang menggelapkan dana. Semua di lakukan oleh luhan dan chanyeol, mereka melakukannya dengan sangat rapi dan tak berjejak sedikit pun demi menjebak sehun dalam penggelapan dana.

"Lalu, bagaimana dengan tuan oh sehun menggelapkan dana?"tanya luhan sinis, para direktur menatap sehun meminta penjelasan.

Sehun tersenyum miris, ia menatap luhan lirih namun penuh cinta. Ia berdiri tegak dengan matanya yang sedikit berair "benar, aku... melakukannya"ujar sehun penuh keberanian.

Wajah luhan berubah hanya dalam beberapa detik saja. Ia menatap sehun sedikit terkejut dan seakan bertanya "mengapa? Mengapa kau melakukannya?"

"Kalian tidak perlu memanggil polisi, aku... akan menyerahkan diri"sehun membalikkan tubuhnya perlahan, setitik air mata mengaliri pipinya kemudian dengan cepat ia melangkah keluar dari ruangan rapat yang mulai gaduh.

Luhan masih tak percaya pada apa yang terjadi, semuanya tak berjalan seperti apa yang di pikirkannya. Sehun benar-benar menepati kata-katanya di mercusuar ketika mereka masih di okinawa.

Ia berbalik, memunggungi para direktur yang masih terlihat gaduh dan sebulir kristal tampak jatuh dari pelupuk matanya.

Mengapa? Semua ini dialah yang melakukannya, lalu mengapa terasa sesak dan sakit. Chanyeol menatap luhan lirih, ia menarik luhan dalam dekapannya dan membawanya pergi dari ruang rapat.

"Luhan"panggil sehun yang ternyata masih berada di luar menunggu luhan.

Luhan menatap sehun datar, dan chanyeol tampak menjauhkan diri dari luhan.

Sehun tersenyum tipis "kudengar jika aku menyerahkan diri sekarang, aku hanya akan di penjara 5 tahun dan jika aku berlaku baik dalam penjara mereka akan memotong masa hukumanku"ujarnya sambil tersenyum getir.

Luhan masih menatap sehun datar yang matanya yang kosong "kenapa?kau... melakukannya?"tanyanya pelan nyaris berbisik.

Sehun tersenyum "karena memang harusnya begini"sehun mulai melangkah masuk kedalam lift di hadapan mereka. Luhan menatap sehun yang mulai menekan tombol menuju lantai dasar.

Sehun masih tersenyum "sampai jumpa lagi nanti, luhan. Aku... mencintaimu"ujar sehun pelan sambil tersenyum miris, air matanya jatuh seiring dengan pintu lift yang tertutup.

Tepat saat pintu lift tertutup, luhan tampak menitikkan air matanya. Entah mengapa ia merasa sakit mendengar kata terakhir sehun. Ia tiba-tiba merasa sesak, dengan cepat ia melangkah ke arah lift dan menekan tombol lif berkali-kali.

Namun semuanya sudah terlambat, tangannya melemas. Semua terasa melambat, namun air mata jatuh begitu deras.

.

.

.

3 years 6 month later

Luhan melangkah keluar dari gedung perusahaan sehun yang kini sudah di ambil alih olehnya. Sejak sehun di tangkap dan mendapat hukuman 5 tahun penjara, ayahnya sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan menunjuknya sebagai ceo dan para direktur menyetujui keputusan tersebut.

Dan sekertaris kim? Kini hanya menjadi gelandangan, luhan menggunakan kekuasaan ayahnya untuk memblokade semua perusahaan agar tak menerimanya sebagai karyawan, bahkan office boy sekalipun.

Chanyeol tampak sudah menunggu di luar dan terlihat kedinginan. Salju turun begitu lebat di luar.

"Apa aku masih ada jadwal?"tanya luhan datar.

"Tidak, tapi aku ingin memberitahumu sesuatu"

Langkah luhan tampak berhenti, ia menatap chanyeol kosong dengan wajah datarnya. Sejak berpisah dari lift dengan sehun, wajah itulah yang selalu di tunjukkan luhan.

"Apa?"

"1 minggu yang lalu tampaknya oh sehun sudah keluar dari penjara"

Luhan mengerutkan keningnya.

"Tampaknya karena ia berlaku baik di penjara, ia di bebaskan lebih cepat"

Luhan memilih tak menjawab, ia menghela nafasnya "hari ini christmas, pergilah. Aku tau baekhyun sedang menunggumu"

Chanyeol tersenyum "terima kasih luhan"ucap chanyeol tanpa menggunakan bahasa formalnya. Sejak sehun di tangkap, chanyeol mulai belajar melupakan perasaannya pada luhan yang menyiksanya cukup lama, dan mulai belajar mencintai baekhyun dan menerimanya.

Meski masih tersisa rasa untuk luhan, baekhyun meminta chanyeol untuk melakukannya pelan-pelan dan mengatakan ia akan tetap menunggu.

.

.

.

chanyeol membuka pintu apartemennya dan mendapati suara gaduh dari dapurnya dan aroma harum makanan yang memenuhi ruang apartemennya. Ia tau jelas itu baekhyun, baekhyun sering sekali pergi ke apartemennya, bahkan chanyeol tidak menggunakan ulang tahun luhan lagi sebagai password untuk membuka pintu, ia mengubahnya menjadi ulang tahun baekhyun.

Saat baekhyun mengetahui hal itu, percayalah wajahnya memerah dan berseri-seri sampai sekitar dua minggu.

"Channie? Kau sudah pulang?"teriak baekhyun dari dapur.

"Tidak perlu berteriak"

Baekhyun menoleh dan mendapati chanyeol tengah tersenyum lebar sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding.

"Menyebalkan, kau membuatku kaget!"teriak baekhyun kesal, chanyeol sangat menyukai bagaimana cerewetnya seorang byun baekhyun pada dirinya.

Baekhyun tersenyum lalu kembali memulai acara masaknya, namun tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan yang cukup kekar melingkar di pinggang mungilnya.

Ia membatu, ia menahan nafasnya setengah mati. Ini pertama kalinya seorang park chanyeol bersikap seperti itu padanya. Jantungnya berdetak kencang dan merasa takut jika chanyeol bisa saja mendengarnya.

Chanyeol mulai menciumi tengkuk baekhyun membuat baekhyun bergidik geli, ini benar-benar pertama kalinya chanyeol membuat skinship padanya terlebih dahulu. Biasanya baekhyun lah yang memulai skinship.

"Aku mencintaimu" blushh, tiba-tiba rasanya angin yang entah dari mana asalnya begitu hangat menerpa wajah baekhyun membuat pipinya memanas dan memerah.

Baekhyun mematikan kompor, bersiap kalau-kalau mereka akan bercinta setelah ini.

Setitik air mata jatuh menuruni pipinya, ia berbalik menatap chanyeol.

Chanyeol begitu terkejut mendapati baekhyun tengah menangis "kau.. baik-baik saja?"

"Hiks"isak baekhyun sambil menggeleng.

"Apa ada yang sakit? Bagian mana?"tanya chanyeol khawatir.

Baekhyun mulai memukuli dada chanyeol pelan "hiks park chanyeol bodoh, tentu saja aku tidak baik-baik saja"

"Bertahun-tahun aku menunggumu mengatakan itu, terkadang aku merasa harus menyerah, namun setiap melihatmu aku mengerti bahwa aku harus bertahan. Dan hari ini... kau baru saja mengatakannya, aku... aku sangat bahagia chanyeol-ah"ucap baekhyun di sela isak tangisnya.

Chanyeol tersenyum ia menangkup pipi baekhyun dan menatapnya "terima kasih sudah menungguku, aku.. mencintaimu"ucapnya begitu lembut, kemudian dengan cepat ia menyambar bibir baekhyun, melumatnya dengan lembut dan mulai menyesapinya.

Ia menarik pinggang baekhyun agar lebih dekat dengannya, baekhyun mulai mengalungkan tangannya pada chanyeol dan mulai mengecapi bibir chanyeol.

Dan kemudian mereka bercinta sepanjang malam.

.

.

.

Luhan tampak mampir di sebuah cafe tak jauh dari perusahaannya. Ia sudah menjadi langganan tetap disana karena suasana cafe yang cukup cozy di tambah kopinya yang sangat pas bagi lidah luhan.

Ia memasuki cafe tersebut dan tampak melangkah menuju kasir sambil melamun. Ia masih memikirkan perkataan chanyeol tadi. Tidak bisa di pungkiri ia merindukan sehun. Bagaimana kabarnya? Bagaimana keadaannya sekarang, dia sedang apa sekarang? Dia bekerja sebagai apa sekarang?

"Americano"ujar luhan begitu lemah dan Tampak tak bersemangat.

"Kau sepertinya bertambah tinggi"

Luhan masih melamun dan tak mengindahkan perkataan si kasir "cepatlah, americano-ku"ujar luhan.

"Kau bertambah manis"

Luhan tersadar dari lamunannya, dan tampak menyadari siapa barusan yang di dengarnya.

"Dan juga terlalu cantik untuk seorang pria"

Luhan mendongak dan mendapati sehun dengan seragam pelayan cafe berdiri di balik meja kasir.

Luhan begitu terkejut, ia menatap sehun yang tampak tersenyum dengan manis dengan mata berkaca-kaca.

"Lama tidak bertemu. Aku merindukanmu, luhan"

Tbc

Alright ini tambah absurd:'v mungkin masih ada sekitar 2 atau 3 chap lagi

Buat ff how to feel, author lagi menunggu inspirasi buat datang, jadi tolong bersabar yah, pasti di lanjutin kok:)