My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notificaton :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 2 Minna~
.
"Kenapa kau diam saja Naruto? Ayo coba kemeja dan jasnya." Tegur seseorang padaku. Aku kembali menatap Setelan jas berwarna putih yang kini ada digenggamanku. Aku mengerucutkan bibir lalu beralih menatap orang disampingku. "Kenapa aku juga harus memakai pakaian ini Nee-chan? Yang akan menikah 'kan kau dan Menma-nii" Aku mencoba protes. Apa yang akan dikatakan teman-temanku kalau mereka melihatku memakai setelan ini?! Aarrgghh, Memalukan!
.
Hanabi-neechan -Orang yang tadi- terkekeh pelan. Ia lantas mengacak rambut Blonde kebanggaanku. "Sudah jangan banyak protes! Kita kemari 'kan mau Feeting baju untuk pernikahanku nanti. Aku sudah mencoba gaunku. Sekarang giliran kau! Jadi, Lekas ganti bajumu dan cobalah! Kau pasti akan terlihat tampan." Katanya sambil tersenyum lebar. Aku mendengus kesal. Lalu melangkah kearah ruang ganti dibelakangku.
.
Srek~
.
Aku membuka gorden ruang ganti. "Bagaimana, Nee-chan?" Tanyaku tak yakin pada Hanabi-nee. Hanabi-nee menoleh kearahku. Ia memekik kegirangan lalu menghampiriku dengan riangnya. Mata Lavendernya syarat akan efek Blink-blink tanda kekaguman.
"Sugoi, Naruto! Kau tampan sekali!" Pujinya. Pipiku merona. Tentu saja aku merasa tersanjung dipuji oleh Calon kakak iparku ini. Aku melangkah keluar dari ruang ganti.
Kuloloskan sebuah cengiran lebar andalanku. Lantas aku menggaruk pipiku yang tidak gatal. "Ahahahaha.. Sungguh? Aku tahu aku memang tampan, Hehehe" Jawabku sambil cengengesan. Hanabi-neechan merapihkan jas putih yang kini tengah kukenakan. Aku diam seraya menyunggingkan senyum lucifer. kalau si Baka Aniki melihat ini pasti ia akan cemburu.
.
"Cocok sekali untukmu, Naruto! Kau jadi terlihat seperti Mempelai pria sungguhan! Hahaha, Kita tinggal tunggu Hinata keluar dengan Gaunnya." Aku melonjak kaget. Irisku melebar tak percaya. Siapa yang tadi ia sebut? Hinata? "Hinata ada disini, Nee-chan?" Tanyaku sesantai mungkin. Hanabi-neechan mengangguk mengiyakan. Senyuman seketika mengembang di wajah tampanku. "Oh.." Responku singkat. Kemudian aku berbalik mengahadap kedepan cermin -Tepatnya membelakangi Hanabi-nee- guna menyembunyikan ekspresi senang yang kini tengah terpatri diwajahku.
.
Seperti apa Hinata kalau ia memakai gaun? Hehe. Pasti akan cantik sekali! Apa ia akan kaget kalau melihat penampilanku yang begini? Ah.. Pokoknya aku harus tampil menawan didepannya.
.
"Hanabi-neesan.." Suara merdu itu meninvasi seluruh indra pendengaranku. Tubuhku menegang meski bukan namaku yang dipanggilnya. Aku kenal suara lembut ini. Walau kami tak pernah bertemu lagi semenjak hari dimana Menma-nii memperkenalkan Hanabi-nee padaku, Otakku sudah secara otomatis men-save segala hal mengenai Hyuuga Hinata. Aku menoleh. Mendapati sosok cantik yang tengah melangkah malu-malu kearahku dan Hanabi-neechan. "Hinata! Sudah kuduga kau cocok sekali memakai Gaun ini! Kau sangat-amat Cantik!" Jerit Hanabi-nee sambil memeluk Hinata. Aku masih diam menatap Hinata. Sepertinya ia belum sadar akan keberadaanku. Hanabi-nee melepaskan pelukannya pada Hinata. Ia lalu menarik Hinata kearahku. "Eh!? N-Naruto-niisan juga ada disini?!" Hinata terlihat kaget. Aku menggulum senyum tulus. Wah~ Aku benar-benar merindukan suaranya yang imut. "Iya, Hehehe. Hanabi-neechan yang memaksaku datang kebutik ini. Padahal aku 'kan sedang sibuk bermain basket." Koarku spontan. Kalau ditilik lagi, Aku jadi seperti sedang mengadu pada Hinata saja. Kudengar Hanabi-neechan berdecak kesal. Ia menjawil pipiku gemas. "Ini 'kan untuk kebaikanmu juga, Naruto. Lagipula Menma yang menyuruhku mengajakmu!" "Wakatta! Wakatta! Lepaskan cubitanmu dipipiku dulu Nee-chan!" Pintaku dengan wajah memelas. Kulihat Hinata tertawa kecil. Aku tersenyum kikuk kearahnya. Hah~ Kalau untuk melihat Hinata tersenyum seperti itu, Dicubit selama apapun aku mau, Hahahaha.
.
Hanabi-nee melepaskan cubitannya. Ia lantas medorong Hinata kesampingku. Kini posisiku dan Hinata tengah menghadap kesebuah cermin besar. "Kalian benar-benar mirip pengantin. Hahaha. Yang satu tampan, Yang satu lagi cantik!" Ucap Hanabi-nee girang. Aku memperhatikan sosokku dan Hinata yang terpantul dari cermin.
Hanabi-neechan benar. Aku dan Hinata memang mirip pengantin sungguhan. Senyum tulus terukir diwajah tanku. Kuamati kembali sosokku dan Hinata. Aku menggunakan setelan jas dan kemeja putih rapi. Celana panjang putih yang dipadukan dengan sepatu hitam mengkilat benar-benar membuat penampilanku sempurna. Kutatap lekat sosok Hinata dalam cermin. Gaun putih selutut tanpa lengan itu tampak cocok dengannya. Gaun dengan pita Lavender besar didada, Rambut yang menjuntai halus dari bahu hingga punggung, Sepatu yang senada dengan warna gaunnya, Glove putih sebatas siku, Pita belakang berwarna Lavender, dan rumbai-rumbai yang terletak diujung gaun itu membuatnya benar-benar tampak indah dimataku. Gaun yang manis untuk orang yang manis pula.
.
Mata kami bertemu didalam cermin. Aku tersenyum semanis mungkin. Untuk sesaat wajah Hinata memerah entah karena apa. "Kau cantik sekali, Hinata" Kataku sambil berbisik. Bahu Hinata menegang. Ia menoleh kearahku dengan iris yang melebar. Ah~ Dia manis sekali. "A-Arigatou.. Nii-san.." Hinata menundukan wajahnya, Membuat poni Indigo menghalangi pandanganku ke matanya.
"Ah! Tunggu sebentar! Aku akan mengambil sesuatu" Hanabi-Neechan berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku dan Hinata berdua. Aku memasang wajah kebingungan menatap kepergian Hanabi-neechan. "Hanabi-neechan kenapa sih, Hinata?" Tanyaku pada gadis disampingku. Kulihat ia menggeleng pelan. Untuk sesaat ia menatapku, Namun begitu mata kami bertemu ia langsung memalingkan sikapnya membuatku heran. Aku ini menyeramkan, Atau bagaimana? Kuhela nafas pelan. "Hei, Hinata.." Hinata menoleh kearahku. "..Menurutmu, Bagaimana penampilanku sekarang?" Pertanyaan konyol itu terlontar dari mulut sialanku. Dasar Uzumaki bodoh!
"..."
.
"..."
Untuk sekejap, Ia tetap diam. Aku beranggapan bahwa penampilanku saat ini benar-benar bodoh. Saking bodohnya, Hinata sampai tak bisa berkomentar apapun. Aku ini menyedihkan."N-Naruto-niisan terlihat K-keren" Dengan cepat, Aku memalingkan wajahku padanya saat ia berkomentar demikian. Darahku terasa berdesir naik. Kurasakan wajahku memanas. Hinata memainkan kedua telunjuknya sambil sesekali mencuri pandang kearahku. Aku masih terpaku ditempat. Tak lama, Sebuah kurva tercetak di wajah Tanku. "Hehehe.. A-Arigatou, Hinata" Seruku sambil memberikannya cengiran lima jari andalanku.
.
"Maaf membuat kalian menunggu." Suara Hanabi-neechan mengintrupeksi kegiatan kami. Kulihat ia tengah berlari kecil sambil membawa Bouquet bunga kecil di genggamannya. "Untuk apa Bouquet itu Nee-chan?" Tanyaku heran. Hanabi-neechan mengulas senyum lebar. Ia mengulurkan tangannya...
.
"Untuk ini!"
.
...Dan meletakan Bouquet tersebut dilengan Hinata. Hinata masih terlihat bingung menatap Nee-channya.
"Kkyyaaa! Kalian seperti Miniaturku dan Menma!" Hanabi-nee memekik kecil. Aku dan Hinata Swetdrop. Aku menggeleng pelan. Mencoba untuk bersikap cool. "Hinata, Ayo gandeng Naruto!" Apa pula permintaannya ini?! Hanabi-neechan mau mempermaikanku ya?! Bukannya aku tidak senang. Aku tentu senang. Hanya saja sepertinya Hinata terlihat enggan.
"E-Eh?! K-Kenapa H-Harus begitu, Nee-san?!" Wajah Hinata terlihat memerah. Aku tidak tahu apa sebabnya. "Ayolah~ Aku mau mem-Foto kalian berdua! Kalian 'kan akan jadi 'Miniatur pengantin' dipernikahanku nanti" Pinta Hanabi-nee sambil mengatupkan lengannya didepan dada. Ia mengeluarkan Kamera dari balik tubuhnya.
.
Aku membuang nafas perlahan. "Hanya karena kami ini 'Miniatur pengantin' kalian, Tidak berarti Nee-chan bisa menyuruh kami ini itu." Kataku cuek. Hanabi-neechan mengembungkan pipinya.
"Ayolah.. Kumohonn~" Hinata melirikku dengan wajah kebingungan. Aku mendelikan bahu seolah berkata 'Jangan tanya aku'. Hinata menggulum senyum tipis. Cantik. Senyuman yang membuatku ingin tersenyum juga."Baiklah~" Ujar Hinata pasrah. Aku menoleh menatap Hinata dengan pandangan serupa 'Kau serius'. Hinata hanya mengangguk kecil. Aku tersenyum tipis. Well, Bagaimanapun aku tak akan membiarkan kesempatan ini menghilang begitu saja.
.
Hinata mengaitkan lengan kanannya dengan canggung kebelahan siku-ku. Aku menyambut gandengan si gadis dengan menggenggam erat telapak tangannya. Oh~ Tuhan.. Kalau seandainya kami berada di depan altar, Mungkin akan lebih baik lagi.
Bahu kami bersentuhan. Memberikan sedikit 'sengatan' listrik kedalam tubuhku."Ayo! Hinata! Naruto! Senyum~" Intruksi Hanabi-neechan. Aku menatap Hinata sejenak. Jantungku berdetak tak karuan. Kupu-kupu seolah menari memenuhi perutku. Hinata balik menatapku, Kemudian ia tersenyum tulus. Aku diam. Ini adalah kali pertama Hinata menunjukan senyumnya HANYA padaku. Membuatku tak bisa menahan sebuah lengkungan tercetak diwajahku yang -ku yakin- tampan.
.
Klik~ "Yak, sudah!" Ucap Hanabi-neechan senang. Hinata buru-buru melepaskan gandengannya dilenganku. Aku mengernyit heran. Gadis ini kenapa sih? Aku tidak semenyeramkan itu, bukan?Aku mendesah kesal, "Sudah ya. Aku harus segera pergi. Aku sibuk." Hinata menatapku dengan wajah polosnya. Hanabi-neechan mengangguk.
"Maaf sudah merepotkanmu, Ne~ Ototou. Hehehe! Ganti bajumu dulu ya, Kalau kau tidak menganti bajumu, Bisa-bisa kau disukai banyak gadis." Aku memanyunkan bibirku. Apa maksudnya sih perkataan Hanabi-neechan tadi? "Maksud Nee-chan apa, Huh? Nee-chan cemburu ya kalau banyak gadis yang menyukaiku?" Aku memasang wajah rubahku. Menyeringai kecil sembari menyipitkan Iris Shappire -nee sedikit tersentak. Lalu ia menggelengkan kepala. "Kau ini memang benar-benar seperti Menma. Ckckck, Sudahlah~ Pergi sana!" Hanabi-nee mengibas-ngibaskan tangannya seolah menyuruhku pergi dari hadapannya.
"Aku di usir nih?"
.
"Iya, Sana cepat pergi, Naruto!"
.
"Hinata~ Nee-chanmu kejam sekali.." "E-Eh?"
.
"Jangan bersikap manja pada Imotouku, Naruto! Dia bukan Pacarmu!"
.
"Kalau begitu akan ku jadikan dia pacarku.."
.
"NARUTO!"
.
"H-He?! Aku 'Kan hanya bercanda, Nee-chan! Jangan sampai mengangkat bangku begitu dong!"
.
.
14 Januari
.
Tidak seperti hari biasanya. Hari ini salju tak turun. Langit seperti ikut berbahagia atas hari mengecek penampilanku lagi. Kususuri sosok diriku di dalam cermin. Jas, Cek! Kemeja, Cek! Celana sudah licin, Cek! Sepatu yang mengkilat, Cek! Rambut yang rapi, Umm.. Akan lebih baik kalau tetap seperti ini tersenyum senang dengan penampilanku saat ini. Ku acak helai Blondeku asal. Yosh! Kau sangat mempesona sekali, Pria tampan. Hehehe.
.
"Naruto? Kau sudah selesai?" Aku menolehkan kepala. Kudapati sosok Kaa-chanku dipintu masuk. Aku tersenyum lebar kearahnya kemudian mengangguk mantap. Kaa-chan melangkah kearahku tanpa melepaskan senyumannya.
"Kau tampan sekali, Naru-chan" Kata Kaa-chan seraya menepuk pelan pundakku yang dibalut jas putih. Aku menatap wanita beriris Ungu disampingku. Dan ia balas menatapku. "Tidak kusangka, Kedua anak lelakiku telah tumbuh hingga seperti ini.." Kaa-chan menyentuh pipiku. Matanya terlihat berkaca-kaca. "Ayolah, Kaa-chan. Yang menikah 'kan Menma-niichan, Bukan aku." Keluhku. Aku mengulurkan tanganku guna menangkup wajah wanita yang kupanggil ibu. Kuusap pelan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.
.
"Aku tau. Hanya saja, Kaa-chanmu ini tidak menyangka kalian tumbuh secepat ini.. Dan sebentar lagi.. Salah satu dari kalian akan meninggalkanku.." Gumaman Kaa-chan itu membuat hatiku pilu. Aku meraih bahunya. Memeluk wanita yang sudah melahirkanku. "Aku 'kan masih ada, Kaa-chan.. Aku tidak akan meninggalkan Kaa-chan." Aku menenangkannya. Kutepuk pelan punggung Kaa-chan. Apa hal ini selalu terjadi kalau seorang anak akan menikah? Hah~ Kenapa Kaa-chan jadi dramatis begini? Kaa-chan menegadahkan wajahnya. Ia menatapku dalam. "Tapi suatu saat kau juga akan menikah bukan, Naru-chan?" Tanyanya parau.
Aku menghela nafas. "Tentu saja, Kaa-chan. Tapi aku tidak akan meninggalkan Kaa-chan kok. Kaa-chan 'kan wanita yang paling kusayangi di dunia ini.. Hehe.. Jangan memasang wajah begini dong." Aku mencubit pipi Kaa-chan sambil tersenyum jenaka.
.
"Ittai~ Naru-chan~" "Hari ini 'kan hari bahagia Nii-chan. Tidak seharusnya Kaa-chan sedih begini.." Kataku lembut. Kaa-chan menatapku sejenak. Lalu tersenyum kemudian. Ia kembali memelukku. Begitupun sebaliknya.
.
Tok Tok.
"A-Ano.. S-Sumimasen.." Suara lembut mengalun ditelingaku. Kutatap daun pintu. Sosok gadis bergaun putih tengah diam sambil menggenggam ganggang pintu masuk."Hinata!" Panggilku spontan. Ku lepaskan pelukanku pada Kaa-chan. Kaa-chan ikut berbalik menatap Hinata."A-Apa aku mengganggu?" Tanya Hinata pelan. Kaa-chan menggeleng. Ia lantas berjalan mendekat kearah si gadis dengan surai Indigo. "Tidak.. Ada apa, Hinata-chan?" Kaa-chan mempersilahkan Hinata memasuki ruangan yang tadi tengah kugunakan sebagai ruangan untuk menyiapkan penampilan.
.
Hinata tersenyum kearahku dan Kaa-chan. "Acaranya sudah akan dimulai.. Menma-Niisan memyuruhku untuk memanggil kalian ke aula utama." Jelasnya sopan. Kaa-chan mengangguk. "Baiklah~ Kalau begitu Kaa-chan duluan ya, Naruto, Hinata.." Kaa-chan berpamitan padaku dan Hinata lalu berlalu pergi meninggalkan kami berdua.
.
Kutatap Hinata yang ada dihadapanku. Ia cantik sekali. Ia menggunakan Gaun yang sama seperti saat dibutik waktu itu. Surainya ia ikat setengahnya dan membiarkan yang lainnya terurai begitu saja melewati bahunya yang mulus. Ia juga menggunakan Make up. Walau tipis, tapi tetap saja itu tak lepas dari pengamatanku. Harus kuakui, Dia berkali-lipat lebih cantik daripada biasanya. He~ Kalau ia bersanding denganku, pasti akan cocok bukan?
.
"N-Naruto-niisan k-kenapa m-m-melihatku b-b-begitu?" Suara gagap Hinata sukses membuatku kembali dari alam bawah sadar. Lantas aku menatapnya lekat. alis Hinata bertaut lucu pertanda ia kebingungan. Aku tak menjawab pertanyaannya. Kugulirkan senyuman lebar. "Kau cantik, Hinata" Bisikku ditelinganya."E-Eh?"
.
Kulihat wajahnya yang merona. Hah~ Dia imut sekali sih, Aku jadi gemas ingin memeluknya. Aku terkekeh saat melihatnya bergerak gelisah, Gugup. Kutarik lengannya pelan. Mengandengnya keluar ruangan. "Ayo, Kita harus bergegas bukan, Hinata?" Aku mengerling genit. Ia membuang muka. Lantas balik bertanya, "T-Tapi t-tidak usah bergandengan s-seperti i-ini, N-Niisan... A-Aku 'kan sudah dewasa." Hinata menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. Aku meneguk ludah saat pemandangan leher dan bahu Hinata terekspos dihadapanku.
Yatuhan.. Bahu dan lehernya kelihatan lezat...
Plak~ Aku menampar pipi kiriku. Lalu menggeleng cepat. A-Apa yang baru saja kupikirkan sih?! Ah! Pikiranku mulai kacau!
.
"N-Niisan?" Aku menoleh kearah Hinata. "Hehe.. Aku tidak mau kau tersesat, Cantik" Candaku riang. Hinata kembali merona. Hehehe~ Aku suka sekali saat ia merona karena kugoda. Dia benar-benar sangat manis.
.
Uh~ Menma-nii, Hanabi-neechan! Bolehkah aku dan Hinata saja yang menggantikan kalian sebagai pengantinnya hari ini?! Aku benar-benar bisa hilang kendali kalau terus bersama gadis ini!?
.
.
Menma-nii tersenyum senang kala ia mendapati sang pengantin perempuan menghampirinya perlahan dari ujung altar. Lantunan piano terdengar memenuhi aula. Hanabi-nee terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang menjuntai panjang. Dibalik kerudung transparannya, Kulihat Hanabi-neechan tengah tersenyum tulus. Mereka terlihat bahagia dihari pernikahannya.
.
"Apakah kau, Uzumaki Menma bersedia menerima, Wanita ini, Hyuuga Hanabi, Sebagai Istrimu?"
.
Menma-nii mengangguk mantap. "Aku bersedia."
.
Sang pendeta beralih menata Hanabi-neechan. "Apakah kau, Hyuuga Hanabi bersedia memerima pria ini, Uzumaki Menma, Sebagai suamimu?" Hanabi-nee tersenyum malu. Ia menatap Menma-nii sebentar. Lalu mengalihkan kembali pandangannya pada sang Pendeta. "Aku bersedia" Jawabnya yakin.
.
Sang pendeta tersenyum tanpa mengurangi ketulusan yang terukir dalam senyumnya. Si pendeta menyerahkan sepasang cincin pada Menma-nii dan Hanabi-nee. Kedua mempelai saling bertukar cincin. "Dengan ini kunyatakan kalian sebagai sepasang suami istri." Sang Pendeta membenarkan letak kacamatanya. Ia menutup kitab ditangannya. "Silahkan cium pengantinmu"
Dalam keadaan begini, Entah kenapa aku yang berdebar. Bukan berarti aku tak pernah melihat orang yang berciuman. Hanya saja, Wajah Menma-niichan dan Hanabi-neechan begitu mirip denganku dan emm... Seseorang.
Aku jadi membayangkan hal yang macam-macam. Gyyahh! Pikiranku kacau! Kulirik Hinata yang ada disebelahku. Dia tersenyum bahagia. Ia sedikit menitikan air mata. Aku memberanikan diri mengulurkan tangan dan meraih jemarinya. Ia tersentak kecil lalu menoleh kearahku dengan cepat. Aku menautkan jemariku padanya. Ku kembangkan senyum lembut pada Hinata.
Dengan gerakan kaku, Ia membalas genggamanku. Pipiku merona samar. Aku tersenyum makin lebar. Kutatap lagi sepasang pengantin didepan altar.
Menma-nii menyikap kerudung transparan Hanabi-neechan. Senyum bahagia masih saja terpatri diwajah keduanya. Ketika bibir keduanya bertaut, Riuh tepuk tangan mendominasi.
.
"Hinata.."
Ia menoleh. Kemudian menyinggungkan senyum tipis. "Ada apa, Naruto-niisan?" Aku diam sejenak. Kemudian menatap sekerumunan orang yang silih berebut mendekat kearah sepasang pengantin baru. "Kau tidak ikut acara lempar bunga? Lihat! Semua orang sudah bersiap-siap" Ujarku seraya menunjuk kerumunan orang dekat altar. Ia menggeleng pelan. "Aku malas berdesak-desakan.. Lagipula aku tidak yakin bisa mendapatkan Bouquet pengantinnya, Aku 'kan tidak cukup tinggi" Jawabnya. Aku terkekeh mendengar jawaban gadis ini. Aku meraih tangan Hinata lalu menariknya pergi."N-Naruto-niisan, K-Kau akan membawaku kemana?" Hinata kelihatan sulit memgimbangi langkahku. Lantas aku berhenti dan membalikan badan. Menatapnya sambil tersenyum.
.
"Aku ingin kau ikut acara lempar Bouquet pengantin. Hehehe.. Siapa tahu kau dapat dan akan segera menikah, Hehehe" Aku mengacak rambut halus Hinata. Ia mengembungkan pipi. "A-Aku 'kan masih tujuh belas, N-Niisan.." Cicit Hinata sambil memdorongku pelan.
"Hehehehe" Aku mengangkat tanganku dan memposisikannya di belakang kepala. "Baiklah.. Kita disini saja, Siapa tahu Bouquetnya bisa sampai kemari," Kataku cengengesan. Hinata menunduk dengan pipi yang memerah. Kemudian mengangguk singkat.
.
"K-Kalau Nii-san mau ikut a-acaranya, S-silahkan s-saja. A-Aku b-b-bisa s-sendirian kok" Aku melirik Hinata. "Aku mana mungkin meninggalkanmu, Hinata." Perlahan, Kuturunkan tanganku dari belakang kepala dan..
.
Pluk~ Tepat sebelum tanganku benar-benar kembali kesisi tubuh masing-masing, Sebuah Bouquet mendarat dengan manisnya di telapak tanganku.
.
"..."
.
"..."
.
"..."
Aku masih termenung. Pupilku bergulir menatap Hinata. Hinata dengan kepolosannya menatap Bouquet dan wajahku bergantian. Aku masih membisu. Kutatap heran Bouquet ditanganku.
.
Sorakan dan Riuh tepuk tangan membuatku tersadar. Aku mendongkakan wajah lalu memamerkan cengiran lebarku seperti biasanya.
Kulihat Menma-nii melongo. Hanabi-neechan terkekeh pelan. Sedetik kemudian keduamya tertawa geli. Kaa-chan dan Tou-chan menatapku tak percaya. Mereka kenapa sih, Ini 'kan hanya sebuah bunga. Ekspresi mereka berlebihan.
.
Aku menunjukan pose victory. Lalu beralih menatap Hinata dengan senyuman yang masih belum luntur dari wajahku. Aku menyerahkan Bouquet tersebutkegenggaman Hinata. Ia menatapku kaget. Pupilnya melebar tak percaya. "N-Niisan?!"
.
"Untukmu, Hinata." Tuturku pelan. Aku mengusap pelan poni Hinata gemas. Semua mata menatap kami. Hey! Aku tak salah bukan? Aku hanya menunjukan kasih sayang yang kumiliki pada adikku ini. Mereka saja yang berlebihan.
.
"A-Arigatou, N-Niisan~" Suara Hinata teredam. Bouquet itu menutupi sebagian wajah manisnya. "Iya, Sama-sama" Responku sembari menganguk.
.
"Hey, Naruto!" Hardik Kaa-chan. "Ada apa, Kaa-chan?" Tanyaku sambil bergidik. Kaa-chan menyikut perutku pelan.
Nyut~ Kaa-chan menjewer telingaku. "I-Ittai, Kaa-chan.. A-Apa salahku?!" Aku mengaduh kesal. Kaa-chan mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Kau Baka, Naruto." Cercanya. Aku mengernyitkan alis. Apa maksudnya memgataiku begitu?! Apa salahku?
"Maksud Kaa-chan apa sih?" Tanyaku -Lagi-."Kenapa kau memberikan Bouquet itu pada Hinata-chan, Hah?!" Kaa-chan balik bertanya. Aku memanyunkan bibirku. "Aku 'kan laki-laki, Kaa-chan. Aku tidak butuh bunga! Jadi aku berikan saja pada Hinata. Apa salahnya?" Jelasku sambil menyilangkan tangan di depan dada.
.
"Kau tak tahu apa arti 'Mendapatkan Bouquet pengantin', Naruto?" Tanya Kaa-chan lagi. Kini ia menatapku pasrah. Aku memasang wajah dongkol. "Memangnya aku sebodoh itu, Kaa-chan?! Aku tahu kok! Makanya, Biarkan Hinata saja yang menikah duluan.." Cecarku malas. Aku melirik Hinata dari ekor mata. Ia hanya diam sambil menunduk. Wajahnya yang merona sedikit tersembunyi dibalik Bouquet.
.
Kaa-chan menepuk jidatnya. "Sesukamu lah, Naruto.." Katanya sembari menghela nafas.
.
=Naruto's POV = End=
.
=Normal POV = ON=
.
Dari singgasananya, pasangan pengantin baru itu menatap kekonyolan Ibu dan Anak, Antara Kushina dan Naruto. Menma menggeleng wajar. Kemudian beralih menatap pengantinnya. "Naruto itu bodoh sekali ya tuhan.." Gumamnya pelan.
Sang gadis menatap prianya dengan sedikit terkekeh. Ia menepuk bahu sang suami. "Jangan begitu, Menma. Dia adikmu loh.."
.
"Tapi tetap saja, Hana. Masa dia tak tahu kalau 'memberikan Bouquet pengantin pada seorang gadis' sama saja berarti ia akan menikahi gadis tersebut. Dan kau lihat bukan?! Gadis yang kumaksud itu Hinata! Adikmu! Hah~ Aku tak habis pikir" Koar Menma tak sabaran. Ingin rasanya ia menjitak kepala kuning sang adik. Namun tentu ia harus menjaga sikap. Ia adalah raja di hari ini. Bagaimana mungkin ia bersikap yang tidak sewajarnya.
Hanabi tertawa kecil. Ia mengaitkan Jarinya kesela jemari sang Pria. "Itu 'kan cuma mitos Menma. Belum tentu juga 'kan Naruto akan menikahi Hinata nantinya. Walaupun mungkin itu bisa saja terjadi. Hihihi" Jawab Hanabi. Menma menatap Hanabi tak percaya, Ia lantas menggeser duduknya lebih dekat pada sang wanita. "Kenapa kau bisa sesantai itu menanggapinya, Istriku? Bisa jadi hal buruk kalau sampai Naruto benar-benar menyukai adikmu." Seru Menma. Pandangannya tak lepas dari wajah sang gadis beriris Lavender.
.
Hanabi balas menatap Menma. Ia tersenyum ceria, lalu menjulurkan lidah seolah mengejek. "Hehehe. Aku bercanda. Mana mungkin 'kan Naruto menyimpan perasaan seperti itu pada Hinata. Sebodoh-bodohnya adikmu,Tak mungkin ia melakukan itu. Ia tentu memikirkan perasaan kita selaku kakaknya. Ia juga tentu memikirkan perasaan kedua belah pihak keluarga yang akan terluka jikalau benar ia akan menikahi gadis yang berasal dari marga yang sama dengan kakak iparnya. Ia tidak akan mengecewakanmu, Menma. Tenang saja"
Menma terpana untuk sesaat. Sedetik kemudian, Raut manja terukir di wajah dengan tiga goresan di masing-masing pipinya itu. "Naa~ Hana. Kau seperti lebih mengerti Ototouku dibandingakan diriku ini. Kau jahat~ Jangan-jangan yang sebenarnya ingin kau nikahi itu bukan aku, Melainkan adikku? Kejamnya~" Menma merengek manja. Ia mendekatkan iris Shappirenya pada sang istri. Hanabi menatap datar sang suami. Tangannya naik. Dan..
Bletak! Sebuah jitakan manis ia hadiahkan pada pria yang se-jam lalu telah resmi menjadi suaminya. Ia membalikan badan memunggungi sang pria. Dikerucutkan bibirnya lucu. Menma mengaduh kesakitan awalnya. Namun tak lama, Setelah melihat Pengantinnya yang terlihat kesal, Ekspresi wajahnya berubah khawatir. "H-Hana-chan~ Ayolah.. Aku 'kan hanya bercanda." Rujuk Menma disertai Puppy eyesnya. Hanabi yang masing enggan menatap sang suami memilih untuk mengabaikan si pemuda.
.
Menma semakin was-was. Jangan sampai Hanabi marah! Kalau sampai ia marah, Bagaimana nasibku nanti malam?! Si sulung Uzumaki membatin.
.
"Hana~" Ia masih merajuk. Sang gadis masih dengan keras kepalanya belum juga merespon si suami. "Hana~ Jangan marah begitu dong.. Aku minta maaf, Hey.." Menma membalikan tubuh istrinya lembut. Ditatapnya wajah sang istri yang masih memalingkan wajah. Ia meraih dagu mungil Hanabi. Berusaha membuat sang gadis balas menatapnya. Dan, Berhasil! Shappire yang teduh bertemu dengan Lavender yang menawan.
.
Menma menggulum senyum tipis. "Hey, Maafkan aku ya?" Bisiknya lembut. Hanabi masih memgembungkan pipinya. "Aku marah! Kau menyebalkan! Guyonanmu tak lucu!" Gerutu Hanabi. Menma meraih tengkuk Hanabi. didekatkannya wajahnya kearah sang gadis. "Karena itu, Aku minta maaf. Maafkan aku ya?" Sedetik kemudian, Bibir keduanya bertaut. Mengabaikan adrenalin yang meningkat karena ulah mereka. Melupakan fakta bahwa mereka kini adalah sorotan utama atensi banyak orang. Menma tak peduli. Ia hanya ingin memperlihatkan kebahagiaannya lebih dari sekedar tatapan yang ia bagi.
Samar, Ia dapat merasakan Hanabi balas menciumnya. Tautan jari Hanabi di jemarinya menguat. Dinginnya udara tergantikan oleh perasaan hangat yang meyeruak kedalam tubuh keduanya. Menma melepaskan tautan bibirnya. Ia terseyum kearah sang istri. Rona merah samar tercetak dipipi keduanya. "Hanabi" Panggil Menma lebut.
Hanabi yang masih terpaku ditempat balas bergumam, "Hm?"
.
"Aku mencintaimu.." Bisik sang pemuda ditelinga Hanabi. Rona merah itu menjalar hingga ke telinganya. Hanabi mengangguk kaku. Didengarnya tawa kecil dari bibir sang suami. Hanabi mengernyitkan dahinya.
.
"Kenapa tertawa?"
.
Menma menggeleng. Didekatkannya lagi wajahnya ketelinga si Gadis. "Persiapkan dirimu untuk nanti. Aku tak akan segan-segan padamu nanti malam" Dan seringai nakalpun terbit di wajah si sulung Uzumaki.
.
=To be Contineud=
.
A/N : Fiuh~ Akhirnya Chapter ini bisa Update juga X( Maaf atas segala keterlambatannya D'X Laptop Bieber membangke(?) beberapa saat.
Terus kepotong mudik lebaran )X Mana tempat mudik Bieber sinyalnya SOS lagi #JanCurcol
Oke, Sebagai gantinya, Bieber akan Update kilat! )9 Ditambah epilog untuk 'I am Ugly' Sedang Bieber buat :D tapi masing rampung sih #plak
Um.. Soal yang 'dapat bunga kasih ke-cewe' bener nggak sih? -_- Aduh.. Jangan diambil pusing ya! Itu Cuma ide konyol yang terlintas di Otak Bieber -_-
.
Terima kasih sebesar-besarnya bagi yang sudah me-review, Follow, dan Favorite ^^ Apresiasi kalianlah yang mendorong Bieber untuk jadi lebih baik lagi
Yosh! Yosh! Bieber beneran minta maaf loh! X( Sekali lagi Gomenne~
Bagaimana Chapter 2 ini? Memang sih MenmaHana terlihat dominan. Tapi ini tuntutan draf Untuk porsi NaruHina akan bertambah di chapter-chapter kedepan! Jadi jangan bosan-bosan mampir ke Fic Bieber ya! Hohoho :3
Akhir kata,
Mind to review?
