"Hinata bisa ikut tinggal bersama kami disini.." Menma membuka suara. Hanabi mengangguk menyetujui keputusan sang suami.

"E-Eh? A-Apa t-tidak apa? A-Aku tidak ingin nantinya k-kehadiranku membuat kalian terganggu." Hinata mengibaskan tangan kanannya seolah menolak. Bukan berarti ia tidak mau tinggal di rumah pengantin baru, Hanya saja, Bayangkan! Ia akan menjadi obat nyamuk diantara kakak dan kakak iparnya.

.

Menma mengusap puncak kepala adik iparnya sekilas. Ia lantas berkata, "Tidak apa-apa.. Rumah ini cukup besar untuk kita bertiga. Lagipula ini rumah baru. Pasti akan sepi kalau hanya diisi oleh aku dan Hanabi."

.

Hanabi mendekat kearah adiknya. Ia menunduk sedikit guna menyejajarkan tubuhnya dan tubuh Hinata. "Hinata.. Aku tak bisa membiarkanmu menyewa apartemen.. Kau tahu 'kan? Tou-sama menyerahkanmu padaku selagi ia di London. Kau adalah tanggung jawabku. Mana mungkin kubiarkan kau begitu saja, Ne, Menma?" Jelas Hanabi. Menma tersenyum mendengar penuturan gadisnya.

"Kakakmu yang cerewet ini benar, Hinata. Selagi Ayah mertua masih ada di London, Kau harus tinggal bersama kami" Hanabi melirik Menma cepat. Ia layangkan tatapan dingin nan angkuh. Dengan gerakan patah-patah. Menma menoleh kearah sang Istri. Sebutir keringat sebesar biji jagung muncul dibelakang kepalanya.

"Ampuni aku, Hana" Cicit sang pemuda. Hanabi mendelik, Ia lalu memilih kembali menatap adiknya yang sedari tadi membisu. Digulirkannya senyum tulus seperti biasanya. "Kau mau 'kan, Hinata?" Tanya si sulung Hyuuga. Hinata mengangkat wajahnya perlahan. Ia balas menatap sang kakak. Lantas ia mengangguk.

.

"I-Iya.. Aku mau" Jawab Hinata sembari tersenyum. Hanabi memeluk adiknya gemas. "Hinata memang adikku yang paling manissss!" Pekiknya senang. Menma tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya. Ia menolehkan kepalanya kearah pintu masuk.

"Jadi... Ada keperluan apa kau disini, Naruto?" Tanya Menma datar. Perlahan, Seonggok kepala kuning muncul dibalik pintu. Dengan cengiran tak berdosa, Naruto -Orang yang dipanggil Menma- Melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah pengantin baru.

"Hehehe.. Jadi ini ya, Rumah pengantin baru Uzumaki. Hee~ Besar juga-ttebayo!" Alih-alih menjawab kakaknya, Naruto malah berbasa-basi riang. Menma berdecih, "Katakan mau apa kau kemari Baka Ototou? Mau mengganggu malam pertamaku ya?" Tebak Menma asal. Naruto memasang wajah kecutnya. "Seburuk itu ya, Aku dipikiranmu, Aniki? Kejamnya~" Naruto terus melangkah mendekati ketiga orang tersebut. Menma mendecak sebal. Kalau sang adik ada disini, Pastilah ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.

"Hai Hinata! Hanabi-neechan" Panggil Naruto riang. Hanabi tersenyum kearah adik iparnya. "Ada apa kau kemari, Naruto?" Tanyanya lembut.

.

Tanpa tendeng alih, Naruto berujar Polos, "Aku akan tinggal disini bersama kalian-ttebayo. Hehehe"

.

.

"..."

.

"..."

.

"HHHEEE?!" Teriakan Menma menjuru hingga kesetiap sudut rumah.

.

.

My Silky Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata

Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )

.

[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]

.

Notification :

-Uzumaki Naruto, 17 tahun.

-Hyuuga Hinata, 17 tahun.

-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )

-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )

.

Don't Like Don't Read

~Happy Reading Chapter 3 Minna~

.

Derap langkah menuruni tangga terdengar nyaring. Derap langkah tersebut tak pula mengganggu ketenangan sepasang sejoli dipagi ini.

.

"Ohayou, Menma-nii, Hanabi-neechan!" Sapa Naruto seraya turun dari tangga. Senyuman lebar ia bagikan kepada sang pasangan baru. Menma yang tengah menyesap teh nya menghentikan sejenak kegiatannya, Lalu melirik sang adik. "Ohayou" Jawabnya singkat. Hanabi yang baru saja datang meletakan sarapan paginya di meja. "Ohayou, Naruto.." Balasnya sembari tersenyum cerah.

.

Dengan riangnya, Naruto melangkahkan kakinya ke ruang makan. Ia menggeser kursi dan mengambil posisi duduk diatasnya. "Hai, Pengantin baru. Bagaimana semalam?" Tanya Naruto nakal seraya mencolek ujung bahu si sulung Uzumaki. Rona merah tipis mencuat di pipi tan sang pemuda. Ia sedikit tersedak setelah mendengar pertanyaan konyol dari sang adik, Namun cepat-cepat ia menjaga sikap. Ia berdehem guna menetralisir rasa tak nyaman di kerongkongannya.

.

Ia menatap sang adik sambil menyeringai jahil. "Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana keadaannya, Naruto. Hahahaha.. Saat itu, Hanya Aku dan Tuhan saja yang tahu! Bwahahaha! Harusnya kau tahu saat kakak iparmu itu men-" -DZIGH! Tendangan sang Istri mendarat dikepala pria bersurai hitam legam dan dengan sukses menghentikan ocehannya.

Naruto melonjak. Irisnya melebar kaget. Diraupnya roti yang ada di meja makan. ia memasang wajah tak berdosa. Berpura-pura tak ikut campur dengan sang kakak.

.

Aura hitam pekat menguar dari tubuh Hanabi. Rambut cokelat susunya mencuat kesana kemari. Ia layangkan tatapan setajam mungkin pada kedua pemuda dihadapannya. Tangannya menggenggam pisau dari dapur. "Tahu soal apa, Hah?!" Tanya Hanabi dingin. Naruto bergidik ngeri melihat sang kakak ipar. Ia lantas menggeleng cepat. Cari aman. Itu saja yang diperlukan pagi ini."Menma. Jawab. Aku!" Desis Hanabi penuh penekanan. Menma yang baru saja sadar dari syok otaknya bergegas menatap wajah garang sang Istri. Ia meneguk ludahnya gugup. "H-Hana.. A-Aku 'kan hanya bercanda" Kata Menma. Ia menyunggingkan senyum Hanabi menurunkan kakinya dari kepala sang suami. Ia menancapkan pisau di meja makan dalam. "Kalau begitu cepat makan sarapan kalian!" Perintah Hanabi dengan nada rendah.

.

"Ha'i" Jawab kedua Uzumaki bersamaan.

.

"O-Ohayou Minna~" Suara lembut itu membelai telinga si bungsu Uzumaki. Naruto menoleh cepat. Mendapati sosok gadis-cantik- tengah turun dari tangga. Sang gadis menyunggingkan senyum tipis. Dengan wajah yang sedikit merona Naruto balas tersenyum kearahnya. "O-Ohayou, Hinata."

.

Hinata mengambil posisi duduk disebelah Naruto. Ia menatap pisau yang menancap ke meja tak jauh darinya. "Sepertinya pagi ini menyenangkan, Ne?" Tanya Hinata polos diiringi dengan senyuman. Naruto menatapnya tak percaya. Karna tak ingin melebarkan masalah, Ia mengangguk kaku. Mereka memakan sarapannya dengan tenang (Hening). Hanya ada suara dentingan sendok yang bergesekan dengan piring. Juga detikan jarum jam di sudut ruangan.

.

"Ehem! Naruto.. Mulai hari ini Hinata akan akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu. Aku dan Hanabi pikir sekolahnya yang dulu jauh sekali dengan tempat tinggal kita sekarang. Jadi, Kami memindahkan Hinata kesekolahmu -yang bisa dibilang, Cukup dekat dari sini." Menma angkat suara. Naruto menatap kakaknya sumringah. Matanya membulat tak percaya. "Yang benar?!"

Sesaat Menma terperangah melihat reaksi yang adiknya berikan. Kemudian ia mengangguk. "Memangnya kau tidak sadar Naruto? Hinata 'kan sudah pakai seragam sekolahmu sekarang." Tanya Menma ragu.

.

Naruto mengerjap. Ia menoleh kearah saudara iparnya. Saat itulah Naruto sadar. Yang sedari tadi diperhatikannya hanyalah wajah ayu si gadis. Ia sampai tak sadar dengan seragam yang kini Hinata gunakan.

Cengiran itu muncul kembali. "Hee~ Aku baru sadar. Hehehe. Hinata cocok sekali menggunakan seragam Konoha high School." Kata Naruto seraya mengunyah sarapannya. Hinata tersenyum kecil. Dengan masih menunduk ia menimpali, "A-Arigatou, N-Niisan"

.

Naruto menatap jam dinding disudut ruangan. Ia lantas berdiri dan menyambar ranselnya. "Kita harus berangkat sekarang, Hinata. Bisa gawat kalau hari ini kita terlambat" Naruto mengambilkan ransel ungu Hinata. Ia meletakannya dipangkuan sang gadis.

"Apa tidak buru-buru? Ini masih pukul tujuh tiga puluh, loh" Hanabi mengeryitkan dahinya. Naruto mengambil satu roti dari meja. Dikunyahnya perlahan. "Tidak. Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran Orochimaru-sensei. Beliau sering kali masuk sebelum bel pertama dibunyikan. Hah~ Guru sialan itu menyusahkan sekali." Naruto menimpali. Menma mengangguk tanda mengerti. Hinata bangkit dari posisinya dan segera menempatkan ransel dipunggungnya.

.

"M-Menma-niisan l-libur kah?" Tanya Hinata polos. Menma menoleh kearah Hinata, Lalu dengan gerakan pelan, Ia menggeleng. "Tidak. Aku bahkan tidak dibolehkan mengambil cuti untuk bulan madu. Hahh~" Dihelanya nafas berat. Hanabi mendekati suaminya dan menepuk puncak kepala si pemuda. "Itu 'kan karena kau baru masuk Menma. Lagipula, Sebulan lagi kau dapat cuti" Tutur Hanabi. Menma mengerucutkan bibirnya kesal. Ia lantas menatap Hanabi bosan. "Kau ini bagaimana sih? Memangnya kau pikir aku bisa tahan kalau harus menunggu sebulan lagi?! Aku sudah tidak sabar untuk melakuka-"-DUAK! BRAK! KRAK!

Pukulan telak dari Hanabi berhasil menghentikan perkataan Menma. Samar, Namun sang gadis -maksudku wanita- berambut cokelat susu itu merona. Menma jatuh terkapar dilantai. Hanabi membalikan badan menatap kedua adiknya yang kini tengah mematung."Nah~ Kalian jadi pergi sekolah 'kan?" Tanya Hanabi sambil tersenyum manis. Naruto berjengit kaget. Ia menampilkan senyuman gugupnya. Lalu memgangguk cepat.

.

"I-Iya.. Kami berangkat dulu, Nee-chan. Ittekimasu.." Naruto menarik lengan Hinata dan membawanya dengan cepat keluar rumah.

.

"Itterasai~" Balas Hanabi nyaring. Ia menoleh kebawah. Menatap seonggok Mayat dilantai. "Kau juga harus pergi 'kan? Hoy!"

.

=Normal POV : END=

.


=Naruto's POV : ON=

.

Aku dan Hinata awalnya berjalan beriringan. Namun kali ini, Aku melanbatkan irama langkahku sehingga kini aku berada di belakangnya. Bukan apa-apa. Hanya saja, Aku ingin menilik penampilan Hinata pagi ini dengan lebih jelas.

.

Hm~ Apa yang harus kukatakan ya? Dia manis seperti biasanya. Rambutnya yang -meskipun tidak dihujam sinar matahari- berkilau ia gerai seperti biasa. Ia menggunakan seragam KHS -Konoha high School- yang dibalut dengan mantel ungu lavender tebal. Dan menggunakan kaos kaki hitam panjang selutut untuk menutupi kaki panjangnya. Aku tersenyum miring. Meskipun ditutupi, Tetap saja semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Sebab, Rok kotak-kotak KHS memang terbilang cukup pendek. Ukurannya 10 cm diatas lutut. Fufufu. Ini suatu keberuntungan untuk kaum adam bukan? Berterima kasihlah pada Jiraiya-sensei yang merancang seluruh seragam untuk para siswi.

.

Hinata masih berjalan dengan anggunnya didepanku. Saudara iparku yang cantik ini pasti akan populer dikalangan pria.

Saat itu juga aku melonjak kaget. Eh?! Benar juga! Gawat! Aku harus memikirkan cara yang ampuh untuk menjauhkan Hinata dari bandit-bandit sialan itu!

.

"Hoy! Lihat cewek yang ada didepan. Astaga. Cantik sekali."

.

Aku menangkap bisikan sekerumunan lelaki tukang gosip tepat dibelakangku. Meski samar-samar. Namun aku bisa dengan jelas mendengarnya.

.

"Mana? Mana? Yang rambutnya Indigo-keunguan itu? Eh? Iya loh.. Cantik sekali. Hey! Dia sepertinya murid baru! Akan kuincar dia ah!"

.

Twich. Pertigaan muncul dipelipisku.

.

"Woy! Jangan ambil start duluan! 'kan aku yang melihatnya pertama! Jadi kalian mundur saja!"

.

Twich. Perempatan muncul! Gah! Tak akan kubiarkan mereka bertindak semaunya!

.

Masih dengan wajah santai, Aku mengambil langkah lebar-lebar. Kemudian menyejajarkan langkahku dengan Hinata.

.

Grep~ Kulingkarkan lenganku di tengkuknya. Merangkulnya mesra. Hinata melonjak kaget. Ia lantas cepat-cepat menoleh kearahku dengan wajah yang memerah. "N-Nii-san?" Cicitnya malu-malu.

Bisa kudengar jeritan kaget dari kerumunan tukang gosip yang ada dibelakang. Aku menyeringai. Lantas mendekatkan diri ke telinga saudara iparku ini. "Hey.. Hinata.." Panggilku tepat ditelinganya. "Y-Ya?" Hinata memainkan telunjuknya pertanda gugup. Wajahnya kian memerah. "Dengar.. Kalau kita sedang berada disekolah, Jangan panggil aku 'Nii-san'. Kau mengerti?" Bisikku diselingi senyuman. Wajah Hinata benar-benar sudah memerah. Meski begitu, Ia masih saja terlihat manis. Ia menatapku bingung. "K-Kenapa?" Tanyanya pelan. Aku menggeleng. Lalu menjawab, "Kau tidak usah tahu apa alasannya. Kau mengerti 'kan Hinata?" Hinata memgangguk patuh. Ia menunduk malu. Untuk seterusnya ia hanya pasrah kurangkul hingga tiba disekolah.

.


.

"Benar tidak mau kuantar?"

.

Hinata mengangguk. "Iya. A-Aku t-tidak mau merepotkan Nii-eh-" Hinata melirik takut kearahku. Aku mengehela nafas. Tanganku terangkat, Lalu membelai poni Hinata yang begitu lembut di lenganku. "Naruto. Panggil saja aku begitu kalau kita sedang di depan umum." Kataku sembari nyengir.

.

Hinata memainkan kedua telunjuknya-lagi-. "N-N-Naruto-kun?" Aku tersenyum sumringah mendengarnya menyebut namaku dengan begitu manis. Kucubit pelan pipi gembul saudara iparku ini. "Anak pintar~"

.

Kini kami sedang berada di depan ruang guru. Sebagai murid baru, Hinata harus melapor terlebih dahulu sebelum dapat mengikuti pelajaran. Oh, Tenang saja. Menma-niisudah melakukan banyak upaya agar Hinata bisa sekelas denganku. Hm~ Kupikir untuk kali ini aku harus berterima kasih pada Anikiku yang seperti landak itu.

.

"Kalau begitu aku duluan ya!" Kataku semangat. Hinata mengangguk. Lalu melanbaikan tangannya. Kubalas ia dengan cengiran andalanku.

Baru saja beberapa langkah, Aku berbalik. Ah! Aku melupakan sesuatu!

Dapat kulihat Hinata yang menatapku bingung. "A-Apa A-ada yang ke-ketinggalan, Naruto-kun?" Alis Hinata bertaut lucu. "Iya ada yang ketinggalan" Balasku seraya mempersempit jatak antara aku dan Hinata.

.

"A-Apa yang tertinggal?"

.

Aku tak langsung menjawab. Aku menoleh kekanan. Lalu ke kiri. Begitu seterusnya. Keadaan koridor pagi ini terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Kemungkinan besar itu karena ada aku dan Hinata. Tentu saja bukan? Bukan kah sudah kukatakan kalau aku ini termasuk orang yang 'diincar' oleh para gadis. Jadi kalian tidak usah heran. Hm~ Sepertinya kedekatanku dan Hinata memang mengundang perhatian banyak orang. Terbukti dari banyaknya mata yang kini tengah memperhatikan segala pergerakanku dan Hinata.

Sekilas aku tersenyum.

.

Cup

.

Aku mengecup pipi Hinata yang lembut. Riuh pekikan banyak orang mulai menggerilya di dalam idra pendengaranku. Mau bagaimana lagi? Ini untuk mencegah pria lain mendekati saudara iparku yang cantik. Alasan lain? Ummm... Entahlah.. Aku hanya ingin mencium Hinata saja.

.

Kurasakan bahu Hinata menegang. Wajahnya kembali merona merah. Irisnya membulat tak percaya. Aku melepaskan ciumanku dipipinya. Kupertemukan dahiku dengan miliknya. "Hey.." Panggilku sambil tersenyum nakal.

.

"..."

.

Hinata tak menjawab. Ia terlihat seperti kehilangan rohnya. Aku terkekeh pelan. "N-Naruto-kun?" Bisiknya pelan. Aku tersenyum kecil. "Hm?" Aku balas bergumam.

.

"T-Tadi itu a-a-apa?" Tanya Hinata gagap. Ia mengalihkan pandangannya dari wajahku meskipun dahi kami bertemu. Ia terlihat gugup. Irisnya bergerak liar. Menatap orang-orang yang tengah melongo menatap kami berdua dengan takut. Kuraih dagunya agar ia balas menatapku.

"Bukan apa-apa. Memangnya tidak boleh, hm? Aku 'kan Nii-sanmu" Bisikku tepat diwajahnya. "T-Tapi o-orang-orang me-melihat. K-kupikir-" "Jangan pedulikan mereka, Hinata." Aku memotong perkataannya.

.

Seakan ingat sesuatu, Hinata mendorong bahuku pelan. Aku mengernyitkan dahi. Dia kenapa sih? Hinata menangkupkan tangannya didepan dada.

"G-Gomenne, N-Naruto-kun, Tapi bukankah sebelumnya kau bilang a-ada pelajaran Orochimaru-sensei pa-pagi ini?" Seru Hinata dengan nada gugup. Aku menepuk jidatku keras. Kenapa aku baru ingat! Hah! Ini semua karena ulah Hinata. Ini ulahnya karena membuatku ingin terus-terusan dekat dengannya.

.

"Ah~ Kau benar! Kalau begitu, Sampai jumpa dikelas, sweetie~" Kataku sambil mengerling nakal. Hinata terperanjat. Kupacu langkah seribu. Sebelum keadaan koridor depan ruang guru ini semakin ribut, Sebaiknya aku pergi.

.


.

"Uzumaki-san, kenapa kau terlambat di pelajaranku, hm?" Pertanyaan bernada dingin itu mencelos dari bibir Orochimaru-sensei. Aku meneguk ludah. Lalu menatap liar keberbagai arah guna mencari alasan.

.

"Uzumaki!" Panggilnya lagi. Aku berjengit. Lalu menatap Manusia pucat didepanku. "A-Ano.. I-Ini 'kan belum bel masuk, sensei." Aku coba membela diri. Orochimaru-senseimenjulurkan lidah panjangnya. Wajahku seketika memucat. H-Harusnya tadi aku bawa pisau untuk memotong lidah panjang Orochimaru-sensei.

"Itu bukan alasan, Tuan Uzumaki. Katakan alasanmu yang sebenarnya!" Aku mengaruk kepala belakangku yang tidak gatal.

.

"Um.. Tadi aku dari ruang guru." Kataku se-santai mungkin. Tentu aku tidak boleh kelihatan gugup didepan guru Killer semacam Orochimaru-sensei. Kalau aku gugup, Kebohonganku akan terbongkar!

.

Orochimaru-sensei tampak termakan kebohonganku. Ia lantas mengangguk. Sekilas membenarkan letak kacamatanya. "Baiklah kalau begitu. Silahkan duduk, Uzumaki-san"

Aku menghela nafas perlahan. Kulangkahkan kaki ke mejaku yang berada di pojok belakang kelas. Sasuke -teman sebangkuku- terlihat menyeringai kecil. Kujulurkan lidah untuk mengejeknya.

.

"Pagimu bagus, Dobe" Sasuke tersenyum meremehkan. Aku memdengus sebal. "Ya! Ya! Ya! Pagiku memang bagus! Haha! Kau puas?!" Balasku dingin.

.

Srek~ Baru saja Orochimaru-sensei akan meneruskan pelajaran, Pintu kelas terbuka. Menampilkan sosok Nenek Tsunade -sang kepala sekolah-disana. Wanita -hasil kamuflase- muda ini menatap Orochimaru-sensei sejenak. "Maaf mengganggu waktu mengajarmu, Orochimaru-sensei" Katanya tegas. Orochimaru-sensei menggeleng. Lalu mundur selangkah guna mempersilahkan Nenek Tsunade berbicara.

.

Nenek yang terlihat muda itupun melangkah yakin. Lalu berbalik menatap para murid yang ada di kelasku. "Ada pengumuman untuk kalian!" Serunya langsung tanpa basa-basi. Aku menopangkan kepalaku di lengan kanan. Ah~ Ini pasti soal Hinataku.

.

"Kalian akan mendapat teman baru." Nenek Tsunade berujar lantang. Benar 'kan dugaanku. Kepala sekolah yang telah berumur setengah abad itupun menatap Pintu masuk. Lalu mengibaskan langannya. "Hyuuga. Silahkan masuk."

.

Dan inilah sosok yang kutunggu-tunggu. Si cantik berhati mulia. Hinataku akhirnya benar-benar sekelas dengan pangeran tampan ini. Hehehe.

.

"Wow!" Teman-teman lelakiku (Kecuali Sasuke) berdecak kagum. Kuberikan Deathglare pada seluruh temanku dikelas ini. Tidak! Mereka tidak pantas memberikan tatapan memuja yang menjijikan seperti itu pada Hinata, Saudara iparku yang paling cantik!

.

Hinata tersenyum canggung. "H-Hajimimmashite~ Watashi wa namae wa Hyuuga Hinata-desu. Minna-san, Yoroshiku onegaisimasu" Hinata membungkuk sopan. Mata kami bertemu. Aku tersenyum manis kearahnya. Pipi Hinata bersemu, Lalu membalas senyumanku.

.

"Hyuuga-san silahkan duduk dikursi yang kosong" Kata Orochimaru-sensei. Aku menatap kesekeliling kelas. Bangku yang kosong hanya ada di sebelah si Bocah anjing Kiba! Gawat! Tak akan kubiarkan Hinata duduk dengan orang seperti itu! Teme! Maafkan aku!

.

DUAK!

.

BRUK!

.

"Itte.. Apa masalahmu, Oy! dobe?!" Teme terduduk dilantai begitu kutendang ia dari kursinya. Ia menatapku nyalang. Aku memasang wajah menyesal. Kudengar ia berdecih sebal. Masih dengan menatapku garang, Ia berdiri.

.

"Sasuke-kun? Ada apa?" Tanya Orochimaru-sensei tiba-tiba. Teme menatap datar si guru ular. Ia menepuk celananya pelan. "Ie." Balasnya singkat. Ia berjalan kearah bangku Kiba. Kiba terlihat kaget dan sepertinya bocah anjing itu tengah menggerutu karena Sasuke duduk disebelahnya.

Sudah kuduga! Sasuke pasti mengerti maksudku! Ah.. Sahabatku itu memang yang terbaik!

Kembali kutatap Hinata yang masih berdiri di depan kelas sana. Aku mengangkat alisku lalu tersenyum nakal. Hinata tertawa kecil. Ia lantas berjalan menuju bangku milikku.

Hinata duduk dengan anggunnya disebelahku. "N-Nii-san, Y-Yoroshiku.."

Aku mengerucutkan bibir kesal. "Bukan 'Nii-san' Hinata. Kau lupa ya?" Aku menelengkan kepala. Hinata tersentak lalu segera meralat perkataannya. "-Maksudku, Naruto-kun..."

.

Aku tersenyum senang. Nah! Itu lebih baik! Hehehehe

.

.

"Baiklah.. Kita lanjutkan lagi pelajarannya."

.

Hinata buru-buru menghadap kedepan. Namun tidak denganku. Aku masih menangkupkan kepalaku ditangan seraya menatap saudara ipar disebelahku ini lekat. Kuulas senyum tulus. Hinata itu indah. Tak berperi.

Kalau Hinata ada disampingku sih, Belajar selamanyapun aku tidak peduli. Hehehe

.

=TBC=

.

A/N : Hai hai! Ini nih janji Bieber tempo hari .w.)b Maaf kalau mengecewakan Minna-san semua, Maaf juga kalau kependekan . Bieber ucapkan banyak banyak banyak banyak banyak banyak Terima kasih pada Minna-san semua yang sudah sudi me-review, Mem-Follow, Ataupun Mem-Favoritekan Fict abal Bieber ini ( ㅠ.ㅠ) Hontoni arigatou~

.

Oh.. Ada beberapa pertanyaan nih yang mau Bieber jawab \( 'v')/

Pertanyaan dari : Hyuuzumaki Shadowink NH'L : Kenapa harus Hanabi? Bukan Shion? Kenapa ya? *pose mikir*/plak/ Karena kalau boleh jujur, Hanabi lebih mirip Hinata ketimbang Shion (menurut Bieber loh) Sebelum membuat fic ini, Bieber memang sempat kepikiran untuk menjadikan Shion sebagai sosok kakak dari Hinata. Tapi setelah dipikir-pikir, Bieber mau melestarikan(?) Hyuuga forgetten seperti Hanabi -_- Kasian soalnya terlupakan di AniManga ( v . v )

Pertanyaan dari Me yuki Hina : Hubungan seperti iniBoleh menikah kok ^_^ Tapi hubungan seperti ini jarang. Tidak banyak pula. Menurut surfei ( cie surfei #plak ) yang Bieber dapat. Mayoritas keduabelah pihak keluarga selalu menentang hubungan seperti ini :D

Pertanyaan dari blackschool : Happy ending? hmm.. Kitalihat nanti XD #digiling# Kamu mau Happy atau Sad ending? XD

Arigatou untuk Ijel-san yang telah mengkoreksi kesalahan di chapter sebelumnya X) Membantu banget loh! :D

.

Ayo! Ayo! Ada yang mau bertanya lagi? :3 Bieber siap jawab kapan aja kok :D Tanya yang banyakpun no prob kok #plak#

Akhir kata,

.

.

Mind to Review?