My Silky Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata

Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )

.

[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]

.

Notif :

-Uzumaki Naruto, 17 tahun.

-Hyuuga Hinata, 17 tahun.

-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )

-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )

.

Don't Like Don't Read

~Happy Reading Chapter 4 Minna~

.


"Pelajaran selesai untuk pertemuan kali ini. PR yang baru saja kuberikan harap dikerjakan sebaik-baiknya. Kalian mengerti?"

.

"Ha'i, Sensei"

.

Aku tersentak. Eh? Pelajarannya sudah selesai?! Yang benar saja! Kenapa jam pelajaran Orochimaru-sensei jadi terasa sesingkat ini?!

Aku menghela nafas pelan. Kemudian kembali menatap gadis disebelahku. Ini semua karena ulahnya. Ulahnya karena membuatku tak bisa mengalihkan pandangan sedetikpun. Dia terlalu indah untuk diabaikan.

.

"Ini salahmu, Hinata" Ucapku pelan. Sebuah senyum kuulas diwajah tampanku. Kulihat Hinata menoleh dengan cepat kearahku. "N-Nii-san m-mengatakan s-sesuatu?" Tanyanya polos. Tangan Hinata masih sibuk membereskan buku-buku yang tergeletak di meja. Aku mendengus sebal, "Hei. Bukankah sudah kubilang, Kalau kita sedang ada di sekolah, Jangan panggil aku dengan sebutan itu" Protesku sambil bertopang dagu. Hinata terlihat panik. Ia lalu meminta maaf sambil membungkuk kecil, "G-Gomen. N-Nii-s-Eh-" Aku terkekeh pelan. Aku menutup mulutku guna meredam tawa yang hampir saja meledak.

.

Aku mengulurkan tanganku. Kubelai sayang puncak kepala Indigo si gadis. "Tak apa Hinata. Nanti juga kau terbiasa. Hehehe. Pokoknya usahakan untuk terus mengingatnya ya, Hime" Kataku sambil tersenyum lebar.

pipi Hinata memerah. Ia menunduk lalu mengangguk kaku.

"Uhum!" Suara deheman itu mengintrupeksi kegiatan kami. Kulirik beberapa orang yang tiba-tiba muncul dibelakang Hinata.

Aku mengerucutkan bibir. "Kh.. Kalian mengganggu saja! Teme, Sakura-chan, Kiba!"

Hinata membalikan tubuhnya. Ia tersenyum kearah teman-temanku. Tanpa memperdulikan perkataanku, Sakura-chan yang merupakan satu-satunya wanita dari ketiga orang itu melangkah lebih dekat kearah saudara iparku yang cantik.

"Hai, Hinata! Namaku Sakura Haruno! Salam kenal!" Tanpa ba-bi-bu Sakura-chan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan kearah Hinata. Kulihat Hinata dengan ragu balas mengulurkan tangannya. Sebuah senyum tipis terukir diwajah gadis berambut indigo disebelahku ini. "H-Ha'i.. Yoroshiku, Haruno-san" Kata Hinata pelan. Sakura-chan melirik pria disebelah kanannya. Kemudian memukul pundak si pria pelan. Kudengar Teme -Pria tersebut- mendengus. Kemudian balas menatap Hinata dengan wajah datarnya. "Sasuke Uchiha" Kata Sasuke singkat. Perempatan muncul dipelipisku. Hah! Aku tidak terima Hinata diperlakukan seperti ini oleh si Teme Sasuke.

.

Kiba dengan riangnya berganti posisi menjadi diantara Sasuke dan Sakura-chan. Ia sedikit memcondongkan tubuhnya kearah Hinata. Apa yang akan dilakukan si Bocah anjing ini?Aku menggeram pelan. "Hai, Hinata-chan! Namaku Inuzuka Kiba. Kau bisa memanggilku Kiba. Tapi Kalau kau mau memanggilku 'Darling'pun tidak masalah. Hahaha" Gah! Apa-apaan itu! Aku menatap Kiba tajam dan sepertinya ia tak peduli dengan tatapan ketidaksukaanku padanya. Aku terperangah saat Kiba mengedipkan sebelah matanya genit kearah Hinata. Berani sekali dia! Dia cari ribut denganku?! Begitu maksudnya?!

"Cih. Menjijikan!" Desisku sebal. Pandangan Kiba yang sedari tadi terus terpaku pada Hinata akhirnya mengalihkan pandangannya kearahku. "Kau ini kenapa, Naruto?" Tanya Kiba sambil mengernyitkan alisnya. Aku mendelik kearah pemuda pencinta anjing itu. "Kurang jelas? Yang menjijikan itu tentu kau, Kiba" Jawabku sinis. Kulihat Teme memutar matanya pertanda bosan.

.

"Oy Hentikan, Dobe!" Aku membuang muka. Kh! Si Teme sudah mengerti rupanya. Aku bangkit dari kursiku. Tanganku bergerak meraih kerah belakang Kiba. Menyeretnya dan mencoba memberikan jarak antara dirinya dan Hinata. Runtukan demi runtukan dikeluarkan Kiba. Namun, Sama sekali tak kuhiraukan. "Kita ke kantin! Ayo temani aku, Kiba!" Ajakku tiba-tiba.

"Ha?" Mulut Kiba menganga dengan alis yang makin berkerut. "Kenapa kau mengajakku, Oy! Naruto! Aku 'kan sedang-Oy!" Tanpa tendeng alih, Aku segera menyeretnya keluar dari kelas menuju kantin. Sasuke dengan santainya mengikutiku. Dengan ekor mataku, Kulihat Sakura-chan membungkuk tanda pamit kearah Hinata.

Sang gadis bersurai Indigo itu mengangguk seraya tersenyum ragu. Kami-sama. Aku bahkan lupa berpamitan dengan si Cantik itu. Hah~ Gomenne, Hinata. Melihat tingkah Kiba padamu benar-benar membuatku muak.

.

=Naruto's POV = OFF=

.


.

Pandangan si gadis Indigo belum juga lepas dari arah pintu masuk kelas. Pintu yang beberapa saat lalu dilewati oleh sang saudara ipar dan kawan-kawannya. Ia bertopang dagu diatas meja. Menatap keluar jendela, Tepatnya menatap langit yang masih saja tak menampakan mentari.

Hinata nampak bosan. Sebenarnya ia ingin ikut dengan Naruto dan temannya ke kantin. Namun, Ia tetaplah seorang Hinata. Hinata yang pemalu yang bahkah sering kali berbicara gagap. Tentu tak mudah baginya memulai Convertation dengan teman-temannya yang lain (Selain Naruto).

.

"Hai" Sapaan itu membuat sang gadis Lavender berjengit kaget. Ia menoleh kearah si pemanggil. "H-H-Hallo.." Jawabnya sembari tersenyum malu. Hinata kini tengah memandang sosok gadis bersurai pirang dengan rambut bergaya Pony Tail. Hinata melirik sekilas NameTag yang tersampir di dada sebelah kanan sang gadis. Ino yamanaka... Gumam Hinata dalam hati.

"Konnichiwa, Hinata! Hehe, Namaku Ino Yamanaka, Yoroshiku!" Ino Mengintroduksikan dirinya. Ia mengulurkan tangan kedepan wajah Hinata. Hinata tersenyum kecil, Lantas menyambut uluran tangan si gadis blonde. "Y-Y-Yoroshiku, I-Ino-san" Ucap Hinata pelan. Ino menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap Hinata dengan senyum yang masih juga belum lepas dari wajah putihnya. "Jangan panggil dengan 'san' begitu Hinata. Mulai sekarang 'kan kita teman!" Hinata mengangguk senang menanggapi.

.

Obrolan keduanya makin melebar. Terima kasih kepada Ino yang sedari tadi tidak kehabisan topik. Hinata hanya bisa menjadi pendengar, Karena memang pada dasarnya Hinata terlampau malu untuk menyela ataupun memberikan jawaban pada Ino.

"Ne, Ne, Aku lihat loh, Hinata" Ino menyipitkan matanya jahil. Ekspresi menggoda kini terpatri diwajah sang gadis Blonde. "N-N-Nani?" Jawab Hinata gugup.

Ino mempersempit jarak antara dirinya dan Hinata. Ia meletakan telapak tangannya disebelah bibir, Posisi berbisik. "Yang tadi pagi loh. Eheheh kau jangan pura-pura tidak tahu, Hinata" Ino berbisik ditelinga Hinata. Hinata mengerjap pelan. Semburat merah belum juga lepas dari wajah ayunya. "P-Pagi tadi?" Hinata memutar ingatannya. Tadi pagi? Setahunya, Hal 'spesial' yang ia alami tadi pagi 'kan hanya...

.

.

.

Blush~

Wajah Hinata kontan memerah. Ah~ Sekarang ia ingat jelas kejadian mana yang Ino maksudkan. Hinata meletakan tangannya menutupi mulut dan pipi. "I-Itu..." Ino makin memperlebar senyumannya tatkala melihat ekspresi yang dimunculkan Hinata. "Nah! Kita 'kan sudah berteman! Maka beritahu aku, Apa yang terjadi diantara kalian berdua!? Kalian punya hubungan yang -Uhum, Spesial 'kan?" Pertanyaan berantai meluncur tanpa hambatan dari Ino. Nada bicaranya ketara sekali tidak ingin dibantah. Hinata menggeleng cepat. Gurat kepanikan tercetak jelas diwajah sang gadis bermarga Hyuuga. "B-Bukan, I-Ino.. S-Sungguh!" Hinata coba menyangkal.

.

"Jangan bohong Hinata!"

.

"A-Aku tidak b-berbohong, Ino"

.

"Kalau begitu akan kutanyakan langsung pada Naruto perihal hubungan kalian!"

.

"I-Ino!"

.


.

=Naruto's POV : ON=

.

"Oy! Jadi kau menyeretku kemari hanya untuk menemanimu makan ramen?! Demi tuhan Naruto! Lebih baik aku kembali ke kelas dan kembali melanjutkan 'serangan'ku pada Hinata-chan."

.

Aku mendelik. "Jangan macam-macam, Kiba!" Desisku Sarkatis.

"Apa hakmu melarangku, Kuning?!" Balas si bocah anjing. Perempatan muncul di pelipisku. Aku mengenggam sumpit ramenku lebih keras.

Mana mungkin kukatakan kalau Hinata adalah saudara iparku, Tidak! Tidak! Tak ada yang boleh tahu soal ini.

"Kau, Aku tidak percaya pada Playboy sepertimu, Kiba! Aku tidak rela kalau murid baru seperti Hinata kau jadikan korbanmu yang kesekian kalinya."

.

"Apa maksudmu, Rubah tengik!"

.

Sakura mendorong bahuku pelan. "Hentikan! Kiba! Naruto!" Aku mengerucutkan bibir seraya menyilangkan tangan didepan dada. "Kh! Seharusnya kau tidak usah menengahi perdebatan kami, Sakura-chan!"

Sakura mengrhela nafas berat, Ia menepuk jidatnya pelan. "Kalian berdua kekanak-kanakan!"

.

"Heh?! Yang kekanak-kanakan 'kan dia, Sakura!" Kiba menunjuk hidungku dengan tampang menyebalkan. Aku memberikan tatapan sesinis mungkin saat kedua matanya bertemu dengan manik lazuardiku. Aku dan si bocah anjing saling melemparkan kilatan-kilatan listrik pertanda ketidaksukaan dengan tatapan yang menajam.

"Ck! Hentikan, Duo Dobe!" Cih! Kenapa manusia dingin ini juga ikut-ikutan?! Aku meninju kepalan tanganku sendiri, Lalu melangkah kearah Sasuke dengan kilatan emosi yang masih terpampang jelas diwajahku. "Kau mau ikut campur, Teme?!"

.

Bletak! "Ittai!" Aku meringis kesakitan lalu membalikan tubuh, Pandanganku terfokus pada sosok Sakura-chan dengan surainya yang melayang-layang, Tak lupa aura mencekam kini menguar dari balik tubuhnya. "Kalau kau berani menyakiti Sasuke-kun, Kau akan berhadapan denganku, Naruto" Aku meneguk salivaku sendiri. Nada bicara Sakura-chan dingin sekali. Ditambah kali ini wajah si gadis spring itu sangat menyeramkan.

.

"Hah! Sudahlah! Aku ingin kembali ke kelas! Aku malas dengan kalian!" Kiba melengos pergi. Aku memutar tubuh dan berencana mengenjarnya. Namun, Ketika Sasuke menarik keras tanganku, Kuurungkan niatan itu. Well, Dari ekspresi yang si Teme berikan, Aku tahu kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakannya denganku.

.

Aku menggerutu kecil, "Ck, Ada apa lagi, Teme?" Tanyaku ogah-ogahan. Sasuke melepaskan tanganku, Lalu beranjak dari tempat duduk yang sedaritadi di tempatinya.

.

"Kau..." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Sakura-chan menyilangkan tangan didepan dada seraya mendekat kesamping Sasuke.

"Apa?"

Sasuke melirik Sakura-chan sekilas. Lalu keduanya mengangguk. Aku mengernyitkan dahi. "Naruto. Sebenarnya apa hubunganmu dengan si murid baru itu?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut Sasuke membuatku tersentak kecil. Murid baru yang mereka maksud itu Hinata 'kan?

.

"Apa maksud kalian?" Tanyaku balik. Sasuke melangkah semakin mendekatiku. "J-Jangan dekat-dekat Teme! A-Aku bukan Gay-ttebayo!" Sasuke memutar matanya pertanda bosan. "Kau tahu apa maksud kami, Dobe" Ujarnya sinis.

.

"..."

.

"Ini soal Hinata 'kan?" Tanyaku asal. Sakura-chan mengangguk kecil dengan wajah yang masih saja serius. "Aku dan dia tidak ada hubungan apapun 'kok" Jelasku sambil membuang muka. Sakura-chan mendecih, "Kami tahu kau bohong, Baka! Memang kau pikir sudah berapa lama kita bersama?"

Aku mematung. Arrgg! Sahabat-sahabatku ini selalu saja bisa merakasakan adanya bau rahasia dariku. "Kalau kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Hinata, Seharusnya kau tak perlu terlihat cemburu seperti tadi" "Aku tidak cemburu!" Sangkalku cepat. Sakura-chan mendengus sebal. Lalu mundur kebelakang dan mendudukan diri diatas meja yang tak jauh dari posisinya.

.

"Hn. Kalau kau memang tak memiliki hubungan apapun dengan si Hyuuga, Seharusnya kau tak perlu menciumnya seperti pagi tadi, Dobe"

Skakmat! Aku diam membisu. Bukannya aku tidak mau membela diri, Hanya saja aku tidak pandai berbohong. Kalaupun berbohong, Aku selalu saja ketahuan oleh si ayam itu.

.

Jiitt

.

Cih, Tatapan tajam Sakura-chan dan Sasuke benar-benar membuatku tak bisa berkelit. "Gaahh! Aku menyerah! Jangan tatap aku dengan pandangan begitu! Teme! Sakura-chan!" Aku mengacak rambutku gusar, Lalu menghela nafas Sasuke dan Sakura yang saling berbagi tatapan. Lalu keduanya menoleh kearahku dengan seringai diwajah masing-masing. "Kalau begitu, kami minta penjelasan, Naruto."

Aku kembali menghela nafas gusar. Padahal rencananya aku ingin menutup rapat-rapat perihal hubungan iparku dengan Hinata. Ugh, Apa boleh buat-ttebayo!

.


.

"Hee?! Saudara ipar kau bilang?!" Hinata hampir terjengkang dari bangkunya. Ia lekas berdiri dan membekap mulut Ino dengan telapak tangannya.

.

"I-Ino! Sudah k-kubilang jangan k-keras-keras. N-Naruto-kun melarangku menceritakan hal ini kepada o-orang lain" Pinta Hinata pelan. Rona merah dipipinya makin menjadi, Mendominasi warna kulitnya yang semula berwarna putih pucat.

Ino mengangguk. Lalu segera melepaskan diri dari si gadis beriris Lavender. Gadis Barbie itu menatap Hinata tak percaya. "Kau serius Hinata?" Hinata mengangguk demi menjawab pertanyaan menyenderkan punggungnya ketembok, "Sulit dipercaya. Kupikir kalian menjalin hubungan yang spesial" Kata Ino seraya menggaruk pipinya.

Hinata menggeleng. Ia meletakan dagunya diatas tangan kanannya. "D-Dari awal memang tidak ada hal spesial diantara kami, I-Ino."

.

Ino menatap Hinata lekat. Hinata memiringkan wajahnya kala mendapati manik Aqua didepannya tengah menjadikannya objek pandangan utama. "Lalu bagaimana dengan Kiba?" Tanya Ino tersentak kecil, "K-Kiba? M-Maksudmu Inuzuka-kun?" Tanya Hinata balik. Ino tersenyum riang. Lalu mengangguk antusias. "Kulihat tadi ia begitu tertarik padamu. Bagaimana tanggapanmu, Hinata?"

.

Blush~

.

"A-Aku tidak t-tahu! A-Aku bahkan belum tiga puluh menit mengenalnya. K-Kupikir.. A-Ano.." Hinata bergerak gelisah. Irisnya bergerak liar, Pertanda gugup. Tak lupa kedua jari telunjuk kini tengah bermain didepan dadanya.

Ino terkikik kecil. Ia menepuk pundak Hinata pelan, "Hehe! Tidak usah dipikirkan. Aku hanya mencoba menggodamu, Hinata." "I-Ino!"

Ino beranjak dari bangku yang sedaritadi di dudukinya. "Sebentar lagi jam istirahat selesai. Sebaiknya aku kembali ke bangkuku." Katanya dibarengi oleh desahan kecewa. Hinata menatap kesekelilingnya. Benar kata Ino. Lihat saja, Sekarang para murid mulai berangsur-angsur memasuki kelasnya masing-masing."Bye, Bye, Hinata! Nanti kita ngobrol lagi ya!" Ino melambaikan tangannya sambil menjulurkan lidah kecil. Hinata tersenyum kecil yang disusul dengan anggukan semagat.

.

"Un."

.


.

"Hinata, ayo pulang!"

.

Hinata melonjak kecil. Ia menatapku sebentar lalu melempar pandang kearah teman-teman sekelas yang kini tengah menjadikan kami sebagai pusat atensi sesuka hati mereka.

"Hinata, kau mendengarku, bukan?" Tanyaku lagi. Kali ini aku lebih mendekat kearahnya dan menyipitkan mataku seperti rubah. Pipi Hinata seketika itu juga memerah. Aku tidak brgitu mengerti kenapa pipinya bisa memerah seperti itu, Tapi mungkin aku akan menyimpulkan kalau Hinata sedang kedinginan dan harus segera pulang kerumah.

"H-hai', N-Naruto-kun" Hinata beranjak dari bangkunya, lalu berlari kecil kearahku..

"Kalian mencurigakan, Naruto! Hyuuga!" Ceketukan itu membuatku menoleh kesumber suara. Ah! Lee ternyata. Aku mengangkat bahu, Lalu berucap jahil, "Heh! Kau cemburu, Alis tebal?"

.

"Oy! Naruto aku ingin ikut kalian pulang!" Kali ini Kibalah yang mengintrupsi pembicaraan kami. Aku sedikit meliriknya, kemudian memyeringai tipis. "Tidak! Nanti anjingmu Akamaru kesepian, Baka Inu!" "Nani?!"

Aku mendorong pundak Hinata pelan. Dengan seringai jahil, Aku memasang pose victory dibelakang punggungku. Hahaha! Tentu saja untuk meledek si bocah anjing itu.

.

"Hoy! Dobe! Aku yang mengincarnya duluan! Naruto!"

.

Lengkingan suara Kiba terdengar meski kami kini sudah melewati koridor. Kami-sama, Si Kiba itu seperti perempuan saja-ttebayo!

"A-Ano... A-Apa Inuzuka-san tidak apa-apa?" Aku menoleh kearah gadis cantik disebelahku. Sedikit menundukan wajah karena memang tinggi Hinata tak lebih dari pelipisku.

Aku mengerucutkan bibir. "Jangan pedulikan bocah anjing itu, Hinata! Cukup pedulikan aku saja-ttebayo! Hehe" Candaku riang. Pipi Hinata merona, Telingaku juga menangkap pekikan halus yang Hinata loloskan. Si gadis bersurai indigo ini medikit menutupi wajahnya dengan tas yang sedari tadi ia jinjing. Manis sekali~

.

"Yosh! Yosh! Cepat ganti Uwabaki-mu itu Hinata! Udara akan semakin dingin kalau kita terus saja berdiri di sini"

.

Hinata mengangguk lalu meletakan Uwabakinya di Getabako dengan papan nama 'Hinata Hyuuga' disana.

"Maaf s-sudah menunggu lama." Kata Hinata seraya memakai sepatunya. Aku tersenyum lebar lalu mengacak poni saudara iparku ini gemas. "Daijoubu yo! Kalau begitu. Ayo pulang! Hanabi-neesan pasti sudah menyiapkan makan malam dirumah!"

.

"U-Un!"

.


.

"Ne, Bagaimana hari pertamamu, Hinata?"

.

Hah! Akhirnya aku dapat membuat topik pembicaraan juga. Karena dari semenjak kami melewati gerbang sekolah, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku maupun Hinata. Oke! Aku tidak akan menyalahkan Hinata karena ini. Dia memang pendiam, jadi wajar saja kalau sedari tadi ia hanya diam dan menunduk. Nah! Masalahnya aku bukanlah tipikal manusia yang suka berada didalam keheningan atau kecanggungan atau apalah itu!

Gah! Aku jadi merasa bukan diriku kalau aku berada disekitar Hinata. Ditambah perkataan Teme dan Sakura-chan siang tadi. Jadi.. Uh!

"H-hari ini menyenangkan. A-aku sudah punya teman baru s-sekarang.." Aku tersenyum mendengar penuturan Hinata. Syukurlah kalau dia sudah bisa beradaptasi dengan sekolah barunya. Aku membungkukan badanku sedikit guna menatap wajah Hinata lebih jelas. "Heee... Siapa teman barumu itu Hinata? Apa aku juga mengenalnya?" Tanyaku lagi. Aku bersukur! Ternyata alur pembicaraan yang kubuat mampu meruntuhkan dinding kecanggungan yang tadi sempat mendominasi.

Telingaku menangkap tawa kecil dari Hinata. Kepala yang penuh dengan surai Indigo itu mengangguk. "I-Iya. N-Namanya I-Ino Yamanaka" Jawabnya sambil tersenyum lembut.

Aku kembali menampilkan senyum lima jariku. "Oh! Ternyata Ino! Tentu saja aku kenal si ratu gosip itu!" Ucapku lantang sembari meletakan kedua lenganku dibelakang kepala. "R-Ratu gosip?"

.

Aku mengangguk pasti. Hinata tertawa kecil. Ia lantas kembali memfokuskan pandangan kedepan sana.

"T-Tapi Naruto-kun.." Aku menoleh cepat kearahnya. Ah~ Dia belum selesai berbicara sepertinya. "Ya?"

.

Hinata menunduk, kemudian mulai memainkan telunjuknya gugup. "A-Aku khawatir kalau aku t-tidak bisa berteman baik dengan yang lainnya. A-aku khawatir teman-teman Ino merasa tidak nyaman kalau aku bersama dengan Ino"

.

Aku terdiam mendengarkan gadis disebelahku. Sedikit banyak, Tentulah aku merasa terkejut, juga-umm.. Senang? Hey! Tentu saja. Saat ini aku berada didalam keadaan dimana seorang gadis tengah bercerita soal hal yang sedang mengganjal dipikirannya. Apalagi gadis ini adalah seorang Hinata Hyuuga. Mahapuan yang amat sangat cantik paras dan budi pekertinya.

.

"Hinata..." Aku mengangkat tanganku dan mengacak pelan kepala si gadis Indigo ini. "...Jangan biarkan kekhawatiran seperti itu menghambat langkahmu untuk berteman, atau kau tidak akan pernah menemukan siapapun diujung sana.." Ujarku spontan. Tak lupa kutambahkan senyum paling tampanku diakhir kalimat.

Hinata menegadahkan wajahnya menatapku. Nila bertemu Lavender. Ini adalah kali pertama ia berani menatap mataku secara langsung. Ia tidak mengalihkan pandangannya seperti biasa, Ia tidak menunduk, Ia tidak membuang muka atau semacamnya.

.

Yang sekarang ia lakukan adalah tersenyum lembut seraya berkata, "Arigatou, Naruto-niisan."

.

=To be Contineud=

.

Glossary :

Uwabaki= Sepatu untuk didalam sekolah.

Getabako= Loker tempat menyimpan Uwabaki itu sendiri.

.

A/N : Aloha Minna-san T.T)7 Sudah lama banget gak update ini ff -_- Maaf ya Bieber gak bisa nepatin janji buat selalu update tiap minggunya -.- Bieber bener-bener sibuk sama real -_- Seriusan kok gak bohong ( .w.)v Salahkan guru disekolah Bieber ngasih tugas segunung mulu X(/apaan

Bieber Ucapkan Arigatou sebesar-besarnya bagi yang telah me-review/Fav/Follow maupun yang menunggu updatnya fic abal ini XD

Chapter kali ini garing ya? Kependekan pula ya? T.T Gomenne~ Bieber sadar kok -_- di chapter ini Bieber memang rada bingung(?)

Tapi, meskipun makin abal bin ancur semoga minna-san sekalian tidak bosan-ttebayo~ ( T.T)

Untuk kedepannya Bieber gak janji akan update cepet -.- Gomen Soalnya UTS lagi menghadang(?) ×_× #jangan curcol#

Oh ya, Naruto mau tamat 'kan? Jujur ya Bieber seneng sekaligus terpukul T.T) Tapi.. Tapi... Semoga NaruHina canon ya! Ah, salah. NaruHina PASTI canon! #udah woy#

.

Akhir kata,

=Mind To Review?=