My Silky Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )

Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata

Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )

.

[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]

.

Notif :

-Uzumaki Naruto, 17 tahun.

-Hyuuga Hinata, 17 tahun.

-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )

-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )

.


Don't Like Don't Read

~Happy Reading Chapter 5 Minna~


.

Krriinnngggggg~

.

Kumatikan alarm sambil meruntuk kesal. Aku menatap kesekitar kamarku yang berantakan. Kuusap rambut kebanggaanku malas-khas orang bangun tidur. Aku mengerjap pelan guna mengumpulkan kembali nyawaku sepenuhnya. Namaku Naruto Uzumaki. Pemuda biasa yang bersekolah di Konoha high school dengan nilai yang biasa pula. Sekitar dua hari yang lalu aku mulai tinggal di rumah kakakku dan istrinya, Menma Uzumaki dan Hanabi Hyuu-ah.. Marganya sudah berganti, Uhum, Biar kuulangi. Menma Uzumaki dan Hanabi Uzumaki.

.

Aku menguap lebar kemudian melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Kubuka pintu kamar mandi pelan, menghasilkan debaman saat kembali kututup dengan kaki kananku. Kutatap pantulan diriku di cermin. Kantung mataku terlihat jelas disana. Kalau kalian bertanya kenapa, Ya sebab utama adalah semalam aku tidak bisa tidur. Meski sudah mencari posisi yang nyaman, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur.

.

Percakapanku dengan Sakura-chan dan Sasuke-teme kemarin siang terus saja berputar-putar dikepalaku. Dan alhasil aku tidak bisa tidur gara-gara terus mengingatnya.

Aku mengulurkan tanganku untuk meraih sikat gigi orange kesayanganku dan pasta gigi yang tak jauh dari posisiku saat ini.

.

Dengan gerakan malas, aku mengoleskan pasta gigi tersebut diatas sikat yang berfungsi untuk membersikan gigi putih yang selalu kupamerkan. Tatapanku fokus kedepan-menghadap cermin. Pikiranku melayang kesaat dimana aku menceritakan semuanya kepada Sasuke dan Sakura-chan.

.


=Flashback=

.

"Kau..." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Sakura-chan menyilangkan tangan didepan dada seraya mendekat kesamping Sasuke. "Apa?"Sasuke melirik Sakura-chan sekilas. Lalu keduanya mengangguk. Aku mengernyitkan dahi. "Naruto. Sebenarnya apa hubunganmu dengan si murid baru itu?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut Sasuke membuatku tersentak kecil. Murid baru yang mereka maksud itu Hinata 'kan?

"Apa maksud kalian?" Tanyaku balik. Sasuke melangkah semakin mendekatiku. "J-Jangan dekat-dekat Teme! A-Aku bukan Gay-ttebayo!" Sasuke memutar matanya pertanda bosan. "Kau tahu apa maksud kami, Dobe" Ujarnya sinis.

.

"..."

.

"Ini soal Hinata 'kan?" Tanyaku asal. Sakura-chan mengangguk kecil dengan wajah yang masih saja serius. "Aku dan dia tidak ada hubungan apapun 'kok" Jelasku sambil membuang muka. Sakura-chan mendecih, "Kami tahu kau bohong, Baka! Memang kau pikir sudah berapa lama kita bersama?"

Aku mematung. Arrgg! sial! Sahabat-sahabatku ini selalu saja bisa merakasakan adanya bau rahasia dariku. "Kalau kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Hinata, Seharusnya kau tak perlu terlihat cemburu seperti tadi" "Aku tidak cemburu!" Sangkalku cepat. Sakura-chan mendengus sebal. Lalu mundur kebelakang dan mendudukan diri diatas meja yang tak jauh dari posisinya.

.

"Hn. Kalau kau memang tak memiliki hubungan apapun dengan si Hyuuga, Seharusnya kau tak perlu menciumnya seperti pagi tadi, Dobe" Skakmat! Aku diam membisu. Bukannya aku tidak mau membela diri, Hanya saja aku tidak pandai berbohong. Kalaupun berbohong, Aku selalu saja ketahuan oleh si ayam itu.

.

Jiitt

.

Cih, Tatapan tajam Sakura-chan dan Sasuke benar-benar membuatku tak bisa berkelit. "Gaahh! Aku menyerah! Jangan tatap aku dengan pandangan begitu! Teme! Sakura-chan!" Aku mengacak rambutku gusar, Lalu menghela nafas. Sasuke dan Sakura yang saling berbagi tatapan. Lalu keduanya menoleh kearahku dengan seringai diwajah masing-masing. "Kalau begitu, kami minta penjelasan, Naruto."

Aku kembali menghela nafas gusar. Padahal rencananya aku ingin menutup rapat-rapat perihal hubungan iparku dengan Hinata. Ugh, Apa boleh buat-ttebayo!

.

"Kami menunggu, Naruto" Ujar Sakura-chan sambil menghentak-hentakan kecil kakinya. Aku mendengus sebal, "Hinata.. Dan aku.. Sebenarnya.. Umm.. Kami ini bersaudara" Jelasku cuek.

Sasuke menatapku heran. "Hah?"

.

Aku memutar bola mataku bosan. "Kalian tahu 'kan Menma-niichan menikah dua hari yang lalu?" Tanyaku tidak jelas. Sakura-chan mengangguk. "Iya, Tapi apa hubungannya-" "Gadis yang Menma-nii nikahi itu... Adalah kakak Hinata." Potongku cepat.

.

"..."

.

"..."

Aku menatap gadis pink dan si Teme bergantian. Kulihat Sakura-chan tengah menutup mulutnya dengan sebelah tangan seraya menatapku tak percaya. Dan Sasuke, Dia hanya menatapku datar dan angkuh seperti biasanya. "Sudah jelas? Aku malas lama-lama membahas soal ini." Kataku suara dengus meremehkan Sasuke dengan telingaku. Aku menatap si Uchiha bungsu itu heran.

.

"..Dan kau mencintai Hinata, Iya 'kan?" Irisku membulat. "A-Aku? Tidak! Aku hanya sedikit tertarik." Kilahku lantas memalingkan wajah. Aku mengusap tengkukku gugup. Entah kenapa, Namun kali ini aku merasa sedikit takut menatap langsung Wajah kedua sahabatku ini. "Jangan bohong kau, Dobe" Teme kembali bersuara. Huh! Sejak kapan orang ini jadi OOC?

"Aku tidak! Maksudku wajar bukan kalau aku protektif terhadap saudara perempuanku?!" Semprotku langsung didepan wajah sang Uchiha. "Tingkah lakumu selalu mengatakan hal yang sebenarnya, Naruto. Dan aku tahu kau sedang bohong sekarang!" Sakura-chan kini juga turut memojokanku. Aku mencoba untuk tetap bersikap santai, Walau sebenarnya otakku sudah berakrobat mencari ide untuk keluar dari situasi seperti ini. "aku tidak menyukai apalagi mencintai saudara iparku sendiri!" Tegasku. Aku menatap Uchiha dan gadis pink didepanku serius.

Sedikit mengerucutkan bibir, Aku lantas mulai membalikan badan, "Kalian ini sudah mulai melantur. Hah~ Lebih baik aku pergi saja" Aku melipatkan tangan dibelakang kepala. Yosh! Akhirnya aku bisa keluar juga dari kondisi ini! Batinku semangat.

.

"Kiba bilang ia menyukai Hinata." Perkataan itu langsung membuat langkahku terhenti. Suara langkah mendekat kearahku. "Kau tahu Kiba itu orang yang sulit jatuh cinta layaknya dirimu, Naruto." Aroma Spring menguar ketika ia melewatiku dan menghadapku langsung dari depan.

.

"Apa maksudmu dengan 'kau tidak percaya pada Playboy seperti Kiba dan tidak rela kalau Hinata ia jadikan korbannya yang kesekian kali'" Sakura-chan menatapku tajam. Iris Emerald itu seolah mampu melaser apa saja yang ia lihat. Otakku memutar ulang perkataanku yang beberapa menit lalu kutunjukan pada Kiba. "Kau jelas tahu Kiba bukan playboy seperti yang kau bilang." Aku tahu Sakura-chan! Tentu saja. Kiba adalah laki-laki yang baik dan selalu serius jika itu soal perempuan. Aku tahu jelas pancaran apa yang Kiba tunjukan pada Hinata saat pertama kali mereka bertemu. Aku tahu-ttebayo.

.

"Kau tidak usah berkilah, Naruto. Yang paling mengerti hatimu justru kau sendiri. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Seharusnya kau yang paling tahu"

.

Aku diam. Kurasakan Teme yang sedari tadi berada dibelakangku melangkah mendekatiku. "Kau mencintainya." "Aku tidak!" Aku masih saja berkelit.

.

Suka. Cukup suka! Aku tidak mau perasaan ini berkembang menjadi cinta! Aku tidak mau! Aku tahu jelas apa hal apa yang akan kudapat kalau perasaan ini semakin berkembang. Aku tidak mau menanggung resiko yang menyakitkan. Kalau aku terus memupuk perasaanku pada Hinata, semuanya akan berakhir dengan kepedihan. Untukku, Maupun untuk Hinata.

.

"Naruto! Jangan menipu dan mengelabui dirimu sendiri. mereka yg tidak bisa menerima diri, Merekalah yang sebenarnya yang akan menyesal!" Sakura-chan menaikan suaranya satu oktav. Aku mengenal Sakura-chan dari dulu, dan aku tahu benar sifatnya yang seperti ini. Ia sedang kesal sekarang-amat mungkin. Karena Sakura-chan memamg paling benci dengan kepalsuan atau kebohongan. Apalagi kalau itu menyangkut soal perasaan lelaki terhadap perempuan yang disukainya.

.

"kalau masih saja berkelit, Kau akan kalah dari Kiba" Aku menoleh cepat kearah Teme. Kualamatkan tatapan dinginku padanya -Yang ia balas dengan dengusan senang.

"..."

.

Aku bingung bagaimana harus menjawab. Aku membuang muka. "Aku..."

.

Sakura-chan memukul bahuku kasar. Aku meringis dan mencoba protes, Namun tatapan tajam yang Sakura-chan berikan padaku membuat bibirku secara otomatis terkunci.

"Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintainya!" Perintah Sakura-chan tegas. Irisku terbelalak lebar. Kobaran api keseriusan terpancar jelas di iris Emeraldnya.

.

"Katakan, Naruto." Perintah Teme.

.

Tep

Tangan kanan Sakura-chan mendarat dibahuku. Kulihat ia tengah menatapku serius. Seolah mengatakan 'jangan bantah perkataanku'.

"Naruto. Aku tahu kau sulit sekali memahami apa itu cinta. Tapi cobalah untuk merasakan dan meresapi arti keberadaan Hinata bagimu." Iris emeraldnya mengunci shappireku. Aku diam namun lama kelamaan aku semakin memperkuat kepalan tanganku.Kulirik Sasuke yang ada disebelahnya tengah mengangguk pelan.

.

Sakura menurunkan tangannya dari bahuku. "ketika kau jatuh cinta, Kau tidak akan bisa memperlakukan orang yang kau sukai selayaknya kerabat atau temanmu lagi, Ingat itu Naruto"

.

Aku mereguk air liurku sendiri.

.

Kemudian menarik nafas panjang.

.

"...Aku mencintainya..." Aku menunduk pasrah. Tatapanku terkunci dilantai dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

"..Aku mencintainya.."

.

"..."

.

"Aku mencintai saudara iparku, Hinata."

.

=Flashback OFF=


.

"Uaaahhhh!" Aku menjambak kasar surai keemasanku. Kutatap diriku dicermin. Pipiku dihiasi semburat tipis dimasing-masing sisinya. "Sekarang aku harus seperti apa padamu, Hinata?" Tanyaku entah pada siapa.

Setelah percakapan dengan Sakura-chan dan Teme siang itu, Aku mengajak Hinata pulang bersama. Awalnya semua berlalu seperti biasanya. Aku menggoda Hinata, dan Dia menunduk menahan malu. Namun ketika ia berterima kasih padaku dengan diiringi senyuman yang -Arg! Boleh kubilang, senyuman seorang bidadari?

.

Yah! Intinya senyuman yang semacam itulah!

Beberapa detik aku terpaku menatap Hinata dan entah sejak kapan keadaan tiba-tiba saja kembali canggung. Entah kenapa tak ada satu katapun bisa kukeluarkan. Disaat yang bersamaan, ucapan Sakura-chan soal perasaanku pada Hinata kembali memenuhi kepalaku. Dan hal itu membuatku bingung bagaimana harus bersikap! Yang bisa kulakukan sore itu hanya diam dan melangkah perlahan disamping Hinata.

.

Hingga saat ini, aku masih juga belum bisa berbicara pada si cantik beriris bak bulan itu.

Dan aku muak dengan diriku yang seperti ini! Pengecut! Naruto Uzumaki, sejak kapan kau belajar bersikap seperti?! Aaarrgghh! Bisa-bisa si bocah anjing Kiba benar-benar akan merebut Hinata dari sisiku.

.

Uh! Memikirkan kemungkinan yang seperti itu membuatku muak!

.

Aku membasuh wajahku dengan air. Kuhela nafas panjang seraya mengusap wajahku kasar. Baiklah, mungkin mandi bisa menjernihkan pikiranku lagi.

.

=Naruto's POV : OFF=

.


.

Sinar matahari melewati sela-sela jendela rumah pengantin baru Uzumaki. Rumah dengan interior simple namun modern ini cukup luas dengan sebuah halaman besar yang banyak dipenuhi oleh berbagai macam tanaman hias.

.

Menma Uzumaki. Pemuda berzodiak Libra yang baru saja berhasil meminang seorang Hanabi Hyuuga menjadi salah satu bagian keluarganya. Setelah melewati berbagai macam penolakan dari sang ayah mertua yang kini menetap di London a.k.a Hiashi Hyuuga, Alkhirnya si sulung Uzumaki ini berhasil mendapatkan restu yang -menurutnya- berhak ia dapatkan sejak dulu.

.

Pemuda itu menyesap kopi yang tersaji didepannya. Sesekali ia tersenyum tipis kala matanya menangkap sosok sang istri yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya, Ototounya, dan adik iparnya.

.

"Hei, Hanabi." Panggilnya pada sang istri. Hanabi melirik sekilas sang suami, namun kembali mengalihkan atensinya pada kegiatan yang sedari tadi tengah digelutinya. "Hn?" Balas Hanabi sembari bergumam. Menma mengerucutkan bibirnya kesal. "Hey. Kau lebih memilih melanjutkan acara memasakmu ketimbang menjawab sapaanku, sayang?"

Hanabi mendelikan bahunya santai. Kemudian tangan si gadis terulur meraih roti tawar dan mulai mengolesinya dengan selai cokelat.

.

"kuh, Uzumaki! Aku ini suamimu, loh. Tidak sopan bersikap dingin seperti itu pada suamimu sendiri!" Menma beranjak dari kursinya. Lalu dengan sigap berdiri tepat dibelakang wanita yang beberapa hari lalu telah resmi menjadi istrinya.

Seringai terbit diwajah Menma. Niatannya untuk bermesraan dengan sang istri pagi ini sepertinya akan terealisasikan dengan baik.

.

Toh, tanda-tanda kedatangan Naruto dan Hinata saja belum terlihat. Batinnya senang.

Diulurkannya perlahan tangan tan miliknya ke pinggang Hanabi yang ramping. Namun-

.

"OHAYOU-TTEBAYO!"

.

-Suara cempreng nan indah itu telah berhasil membuatnya dengan cepat kembali menarik tangan itu kembali ke masing-masing sisi tubuhnya.

Menma menatap si 'pengganggu' dengan tatapan membunuh. "Ingatkan aku untuk memberimu pelajaran, Baka Ototou" Ujarnya sinis seraya kembali ke kursinya..

Naruto memilih mengabaikan perkataan anikinya yang bahkan ia sendiri tak mengerti apa maksudnya. Ia lebih memilih melangkah riang ke arah kursi yang selalu ia duduki setiap harinya.

.

Naruto mencolek tangan Kakak iparnya seraya mengerling nakal, "Ohayou, seksi"

"Ohayou, Naruto." Hanabi membalas sapaan Naruto dengan tawa kecil yang samar-samar terdengar.

.

BUAK!

.

"Itteeeee!" Sepatu hitam itu jatuh begitu saja dilantai setelah dengan mulus mendarat diwajah Naruto.

"Jangan menggoda istriku seperti itu Naruto!" Peringat Menma kasar.

Naruto menggeram sebal. "Aku 'kan hanya bercanda! Lagipula Hanabi-neechan tidak keberatan kok!" Cibirnya. Perempatan muncul dipelipis si sulung Uzumaki. "Kau..."

.

"Yare, yare! Kalian ini seperti anak kecil saja. Hentikan itu." Hanabi melerai keduanya. Ia cukup malas terlibat dalam 'acara keluarga' Naruto dan Menma. Hanabi meletakan roti isi diatas meja, lalu beralih melirik jam dinding. "Hinata belum turun juga ya.."

.

DEG!

.

Nama itu membuat tubuh Naruto menegak seketika. Tubuhnya kaku dan lidahnya kelu. 'Sial, kenapa harus nama itu?!' batinnya meratap pilu.

"Hmm.. Benar juga. Padahal sarapannya sudah siap." Respon Menma. Pandangannya beralih kearah Naruto yang tiba-tiba membisu.

.

"Naruto. Bisa kau panggilkan Hinata di kamarnya?"

.

DEG! 'Kuso' Naruto mengumpat dalam hati. Kenapa Menma menyuruhnya segala?! Kenapa ia tidak meminta tolong Hanabi saja? Naruto diam sejenak. Hanabi mengeryitkan alisnya. Merasa heran dengan sikap Naruto yang berbeda dari biasanya. Dalam keadaan normal, seharusnya Narutolah yang paling bersemangat jika itu menyangkut Hinata. Terlihat sekali Naruto sangat 'menyayangi' adik barunya. Setidaknya itulah yang Hanabi pikirkan.

.

"Naruto?" Panggil Hanabi tak yakin. Naruto berjengit kala mendengar panggilan dari kakak iparnya. Naruto mengembangkan senyum lima jarinya yang biasa. Berpura-pura sebisa mungkin menutupi kegugupannya. "Hehehe. Maaf aku melamun tadi. Oh? Eh? Panggilkan Hinata ya? Baiklah" Menma merasa ada yang aneh dari cara adiknya berbicara tadi. Kenapa ia merasa gaya bicara Naruto jadi sedikit belepotan ya?

.

Naruto menjauh dari pasangan sejoli tersebut. Menaiki tangga, Menuju ke kamar Hinata

.

.

"Dasar aneh" Seru Menma lantas mengangkat bahunya singkat.

.

.

=Naruto's POV :ON=

.

Tap, tap, tap

.

Seiring langkahku yang makin dekat dengan kamar Hinata, Semakin berdebarlah jatung sialanku. Ugh. Mengetahui perasaanku pada Hinata yang sebenarnya membuatku selalu mati kutu jika berada diseputar lingkungan adik cantikku itu.

.

Tanganku mulai berkeringat. Sesekali aku menghela nafas berat. Apa yang akan kulakukan nantinya jika sudah berhadapan langsung dengan Hinata?!

Arghh! Aku benar-benar tidak kuat dengan pesona Hinata! Sialan, kalau begini terus mana mungkin aku bisa mendekati Hinata!

Aku mengangkat wajah tak yakin. Yosh! Uzumaki Naruto. Tari nafasmu dalam-dalam dan rilekslah! Kau tidak boleh terlihat seperti orang mesum jika sudah berhadapan dengan gadismu!

.

Dan disinilah aku. Berdiri tepat didepan pintu dengan papan nama Hinata Hyuuga disana. Aku menelan air liurku gugup. Aku mencoba mengatur nafasku senormal mungkin.

.

Tok! Tok! Aku mengetuk daun pintu kamar Hinata pelan. "Hinata? Kau didalam?" Panggilku.

Aku memasang tampang heran. Kenapa tak ada jawab dari dalam ya?

Kuketuk lagi pintu itu lebih keras. "Hinata? Hinata? Kau didalam?" Aku mencoba membuka pintu itu. Dan...

.

Cklek~ Voila! Irisku terbelalak kala mendapati pintu kamar gadis cantik itu tidak terkunci. Aroma Lavender menyeruak memenuhi indra penciumanku. Membuatku sedikit bergairah dan arg! Haruskah kukatakan itu pada kalian?!

.

Kubuka pintu kamar Hinata lebih lebar. Aroma ini benar-benar membuatku menahan nafas dalam sekejap. Takut-takut aku langsung menyerang pemilik aroma ini. ugh! Tidak! Buang pemikiranmu itu, Naruto!

Kututup pintu kamar tanpa menimbulkan debaman. Kuedarkan pandanganku keseluruh pelosok kamar Hinata. Aku tersenyum tipis, ternyata benar warna favorite Hinata memang Lavender. Terlihat jelas dari warna yang sama mendominasi keseluruhan kamarnya.

.

Tunggu. Hampir saja aku lupa maksud kedatanganku kesini. Lagipula sejak kapan aku bersikap tidak sopan dengan melihat-lihat kamar seorang gadis tanpa izin dari si empunya?

Tidak! Tidak! Sekarang aku harus mencari Hinata dulu. Rasanya aneh ia menghilang dikamarnya sendiri. Atau jangan-jangan ia diculik? Aku menggeleng cepat kemudian menampar pipiku keras. 'Jangan berpikiran yang aneh-aneh-ttebayo!'

.

Aku mengedarkan pandanganku ke sisi kanan ruangan. Kulihat ada sebuah pintu bercorak polkadot ungu disana. 'Mungkin Hinata ada disana.'

.

Dan tanpa pikir panjang. Aku membuka pintu itu cepat tanpa tahu pintu itu menuju ke-

"Hinata?! Kau disin-"

.

"..."

.

Shappire dan Lavender bertubrukan.

.

"..."

.

BLUSH~

.

BRUAK!

Dengan cepat, Aku membanting kasar pintu yang tak berdosa itu.

Aku terdiam, mulutku menganga, cengo. Melihat pemandangan yang tersaji di depanku tadi; Hinata yang setengah telanjang tengah membilas surai Indigonya dengan begitu menggoda. Tubuh moleknya hanya dibalut sehelai handuk yang panjangnya hanya sebatas dada dan pahanya yang-demi apapun itu, terlihat sangat menggiurkan. Rambut panjang dan butiran-butiran air yang membasahi tubuhnya telihat sangat menggoda di iris lazuardiku.

Aku lalu menutup wajahku sendiri yang tengah merona.

.

"G-Gomennasai, Hinata. A-Aku tidak tahu kau baru selesai mandi."

.

=To be contineud=

.


A/N : Wuuaahhh! Kegajeannya makin menjadi (wOAO)w Semoga kalian semua tidak kecewa ya T^T Habis Bieber sempat galau gegara Memory Handphone ke reset X''O terus, terus, Semua ff koleksi Bieber ludes semuaaaaa... Uaaaahhhh Bieber Syok! T^T *Putar lagu sakitnya tuh disini* #jangan dangdutan woy#plak

Oh ya, Apa alurnya kecepetan? Aduhh -_- Maaf ya kalau kalian merasa begitu _ Apa banyak yang Typo? Masih banyak kekurangannya ya pasti -_-

Ah, Hinata cantik banget ya di Cover opening theme The Last Movie? ^_^ Excited banget deh sama Movie itu =w=/apaan

.

Bieber mengucapkan Hontouni Arigatou bagi kalian yang telah sudi meReview, MemFollow/Favorite fict abal Bieber ini T.T

.

Akhir kata,

Mind To Review?