Seorang gadis bersurai kelabu masih mematung ditempatnya. Irisnya yang bak mutiara itu melebar. Seakan belum cukup, rahangnya pun terbuka lebar. Semburat merah jambu yang sering kali menghiasi pipinya kini terlihat makin pekat di wajahnya.
Otaknya masih belum percaya semenit yang lalu sang Saudara ipar masuk begitu saja kedalam kamar mandi pribadinya, tepat saat ia tengah membilas rambut kebiruan miliknya.
.
Kaki jejang sang gadis melangkah kecil kedepan pintu bercorak ungu didepan sana. Ia menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi yang masih sama, cengo.
.
"N-Naruto-niisan.."
.
My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notif :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 6 Minna~
.
.
"O-Ohayou, Nee-san, Nii-san"
.
Dua sejoli yang tengah bersua itu menoleh kearah suara yang dirasa memanggil keduanya. Wanita bersurai cokelat itu tersenyum lembut dan membalas, "Ohayou, Hinata"
Hinata mengulas senyum tulus kemudian beranjak mendekati kakak dan kakak iparnya. Ia meletakan tas ungunya disamping kursi tempat ia duduk. "Ohayou, Hinata. Apa kau tidur nyenyak?" Sapa pemuda beriris lazuardi.
"T-Tidurku nyenyak 'kok" Jawab Hinata pelan.
.
Menyadari ada yang kurang, Hinata menolehkan kepalanya kekanan dan kiri. Sosok'nya' tidak ia temukan disini. Seolah menyadari gelagat Hinata, si pemuda beriris biru itu angkat suara, "Naruto sudah pergi tadi. Katanya mendadak pelatih tim basket memanggilnya"
.
Wajah si gadis merona. Ia menunduk kaku seraya mengangguk tanda mengerti.
"Ah, Hina. Bagaimana hari pertamamu kemarin disekolah?" Hinata menatap wanita bersurai pendek itu lembut, kemudian menjawab, "Hari pertamaku di Konoha High School menyenangkan sekali, Hanabi-neesan."
.
Hanabi meletakan segelas susu dihadapan adik sematawayangnya. "He~ Sudah dapat 'incaran'?" Tanyanya lagi. Kali ini diselingi nada menggoda didalam kalimatnya. "Apa-apaan itu, Hana?! Hinata-chan baru sehari bersekolah disana!" Sergah satu-satunya pemuda disitu, Menma Uzumaki. Hanabi mengerucutkan bibirnya lucu. Ia beranjak duduk disebelah Hinata yang sedari tadi hanya diam menikmati sarapannya. "Hinata-chan 'kan gadis normal! Seorang gadis hidup untuk jatuh cinta! Waktu adalah uang. karena itu, Hinata-chan..." Hanabi menggeser posisi Hinata agar langsung menghadapnya. "...Jatuh Cintalah!" Ujar si sulung Hyuuga penuh keyakinan.
.
"E-eh?"
"Pokoknya tidak ada alasan untuk Hinata-chan menjalin hubungan dimasa SMAnya! Hinata-chan harus belajar agar nanti bisa masuk ke UK" Ujar sang Suami tak mau kalah. Si Istri mendengus sebal, "Kau ini Kolot sekali, Menma! Mirip sekali dengan Tou-samaku"
.
Hinata tertawa renyah mendengar keramaian pagi hari keluarga Uzumaki di depannya. Melihat Sang Kakak bahagia dengan orang dicintainya membuat perasaannya menghangat.
"Ne~ Hinata-chan, belajarlah dengan baik dan raih nilai sebagus mungkin. Dengar, Aku tidak bisa mengandalkan Naruto dalam hal ini, jadi aku harap kau bisa lulus dengan nilai memuaskan dan dengan mudah masuk UK!" cerocos Menma tanpa mengalihkan atensinya dari koran yang sedari tadi dibacanya.
Hinata memiringkan wajahnya penasaran. "K-Kenapa Menma-nii ingin sekali aku masuk UK? A-Adakah alasan tertentu?"
.
Menma memgangkat wajahnya. Menatap gadis lavender dan istrinya bergantian. Seringai mencurigakan terukir diwajah tan sang Uzumaki.
.
"Hee~ Asal kau tahu saja ya, Hinata-chan. UK itu sangat bersejarah untuk keluarga Hyuuga dan Uzumaki. Hampir seluruh anggota keluarga Hyuuga dan Uzumaki meneruskan Kuliahnya disana. UK juga sangat berperan penting di Hidupku. Khususnya -Uhum- Berperan penting terhadap kecintaanku pada Nee-san mu yang seksi itu"
.
Blush~
.
Semburat merah jambu terpatri di pipi Hanabi. Perempatan muncul di pelipisnya. "A-Apa yang kau bicarakan?! Jangan berkata yang tidak-tidak, Menma! H-Habiskan sarapanmu!" Kilah si Sulung Hyuuga. Menjaga sikap agar tetap terlihat santai.
.
"Ha~ Bicaramu mulai terbata lagi, Hana!" Menma tetap gencar menggoda istrinya. Kali ini dengan mata yang menyipit layaknya seekor rubah.
"Kuh~ Pipimu juga merona. Kau tahu? Rona diwajahmu itu membuatku bergairah, sayang"
.
Blush~
.
Kali ini bukan hanya Hanabi, Hinatapun memompa peredaran darahnya ke pipi. Oh, yang benar saja. Haruskah ia dilibatkan dalam keadaan yang membuatnya malu sendiri seperti ini?
"K-Kurasa aku s-sudah terlambat. I-Ittekimasu~" Seiring dengan mulutnya yang berkata demikian, Hinata dengan secepat kilat meraih tas ungunya dan Memacu langkah seribu. Meloloskan diri dari situasi yang dirasa dirinya akan mengganggu pengantin baru Uzumaki.
.
"Hi-Hinata!"
.
Seringai makin melebar diwajah Menma. "Berbeda dengan Naruto. Kupikir Hinata Jauh lebih perhatian. Benarkan, sayang?"
"K-Kau harus bekerja, Menma!"
.
Menma beranjak dari kursinya dan mulai mendekati sang istri yang sudah mulai berstatus siap siaga. Mundur selangkah demi selangkah.
.
"Aku bisa beralasan sakit Hari ini, Hana. Lagipula di kantor sedang tidak ada hal penting yang mesti kutalangi" Menma mulai melonggarkan dasi hitam yang dikenakannya.
"M-Mundur! K-Kubilang mundur!"
.
"Sikap malu-malumu itu malah membuatku semakin terpancing, Hanabi."
.
"J-Jangan macam-macam, Menma! Ini masih pagi!" "Tapi hal seperti ini tidak bisa ditunda! Dan berhentilah mencari alasan, Uzumaki!"
.
Sedetik setelah adanya keiinginan untuk memprotes suaminya, Barulah ia sadari bahwa bibirnya telah dibungkam oleh bibir sang suami.
.
.
Hinata berlari kecil dijalanan yang sepi. Pipinya masih memerah. Bukan! Bukan karena udara bulan Februari yang dingin, Tapi karena hal lain. Tentu, Ini semua karena ulah sang kakak dan pasangannya. Ugh~ Bahkan umurnya baru saja menginjak 17. Dia tentu belum siap untuk bergabung kedalam pembicaraan yang seperti demikian. Hah~ Orang dewasa itu membingungkan.
.
Hinata melirik arlojinya. Pukul Tujuh lima belas.
Pantas masih sepi, keluhnya dalam hati. Pagi ini dua hal memalukan menimpa dirinya. Pertama, pembicaraan dewasa yang sudah tidak selayaknya ia dengar oleh Hanabi dan Menma Uzumaki. Kedua, Kecerobohannya tidak mengunci pintu kamar mandi sehingga dengan polosnya sang saudara ipar masuk tanpa mengetahui keberadaan dirinya yang baru saja selesai mandi. Hinata menutup wajahnya malu.
.
Bisakah keadaan menjadi lebih buruk lagi?
.
Duk~
.
"Hey, perhatikan langkahmu, Nona! Jangan berjalan sambil menunduk begitu."
.
Jawabannya Bisa!
Hinata berjerngit dan lekas membungkuk sopan kearah orang yang tak sengaja ditabraknya. "G-Gomennasai~ S-Saya tidak sengaja."
'Hinata no baka' Runtuk Hinata dalam hati.
.
"H-Hinata?"
Hinata menegakkan tubuhnya. Manik Lavender si gadis bersirobok dengan manik orang didepanya. Keduanya saling membagi tatapan tidak percaya.
Orang ini..
.
Orang yang bediri tepat didepannya ini...
.
"K-Kau..."
.
.
Orang yang sudah sangat lama dikenalnya.
.
"Hinata 'kan? Kau benar Hinata?"
.
.
..Orang yang dahulu selalu berkoar bahwa nantinya ia akan menikahi si bungsu Hyuuga didepan Hiashi Hyuuga sendiri.
.
.
.
"Toneri!"
"Kkkyyaaaaaaaa~ Naruto-senpaiiiiiii!~"
.
Kebisingan itu membuat Naruto mau tak mau menutup Telinganya kuat-kuat. Teriakan para penggemarnya pagi ini kedengaran lebih bersemangat ketimbang hari biasanya.
Lee yang baru saja meletakan bola basket ke tempatnya beranjak mendekati sang Ace. "Pagi-pagi Fans mu sudah bersemangat saja Naruto-kun! Mereka benar-benar mengerahkan semangat masa mudanya!"
Pemuda jabrik yang dipanggil Naruto itupun mendengus, "Terkadang bagiku mereka terlampau berisik."
.
"Hahaha. Seharusnya kau bersyukur, Kuning!" "Hei!"
.
Pemuda dengan tiga goresan kembar di masing-masing dipipinya itupun menghela nafas berat. Helaan yang kesekian kalinya dipagi ini. Ia menegadah ke langit. Matahari masih juga bersembunyi dibalik awan salju yang tebal. Ia berandai, alangkah lebih baik kalau sang surya datang pagi ini dan mengahangatkan dirinya.
.
Oh, Matahari. Yang benar saja ia harus menunggu sampai akhir Februari nanti?!
.
'Lama-lama, Aku jadi merindukan matahari-ttebayo'
.
Secara otomatis, kata 'Matahari' membuat otaknya menggambarkan sebuah sosok.
Tubuh Pemuda bersurai kuning itupun menegang. 'Oh, Tuhan. Aku jadi teringat kejadian tadi pagi-ttebayo'
Seketika, Rona merah menjalari wajah hingga kupingnya. Ingatannya kembali kesaat dimana ia disuguhi pemandangan yang membuatnya hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
.
Hinata. Hyuuga Hinata. Adik ipar dari kakaknya sendiri -Menma Uzumaki. Ia meruntuki dirinya. Kalau saja ia tidak lancang dan terlebih dahulu mengetuk pintu saat itu, mungkin ia tak harus menghadapi perasaan kalut seperti ini. Yah, salahkan dirinya yang tak pernah memakai tata krama yang diajarkan kedua orang tuanya. Naruto tahu dirinya ceroboh. Tapi kenapa ia sampai bisa terlihat bodoh seperti tadi pagi didepan orang yang disukainya.
.
Suka? Ya. Naruto menyukai -Tepatnya mencintai- saudara iparnya yang manis itu. Naruto sendiri bingung sejak kapan tepatnya perasaan seperti itu tumbuh subur dihatinya. Seingatnya, ia memang telah tertarik pada si gadis Lavender sejak awal mereka bertemu.
.
Love at first sight, eh?
Klasik namun itulah yang sebenarnya. 'Kenapa hidupku jadi mirip drama begini-ttebayo?!' Naruto mengangkat tangan kanannya menutupi bibir dan pipi kirinya. Wajahnya memanas. Tubuhnya-pun demikian. Padahal beberapa menit lalu udara dingin begitu menusuk tulang. Ah~ beginikah efek Hinata baginya?
.
DUAK!
.
.
"Ittaaiiii! Kau ini apa-apan Lee!?" Naruto memaki Lee dengan wajahnya yang masih memerah. Diraihnya bola yang tadi dilemparkan Lee yang dengan tepat mengenai Kepala kuningnya. "Naruto-kun! Dengar dulu!"
.
"Tidak ada alasan bagimu, Lee! Terima Super-Rasen-Ball-kun ini! Hea-" "Naruto-kun! Hyuuga-san!"
.
Mendadak tubuhnya berhenti. Mendengar nama 'Hyuuga' membuat tubuhnya otomatis membatu.
"Hinata?"
Lee menunjuk kearah depan. Kearah gerbang utama Konoha high School. "Dia bersama seorang pemuda!" Jelas Lee antusias.
"Apa?" Balas Naruto tak percaya. Alisnya menekuk turun. "Sialan, Jangan-jangan Kiba!?" Gerutunya sambil cepat-cepat membalikan badan. Ah, Tidak. Pandangannya terhalangi oleh Fangirlsnya yang berteriak histeris kala ia berbalik sembari mengibaskan rambutnya reflek.
.
"Tch, Mereka menghalangi pandanganku!" Naruto menggeram. Siapa lelaki sialan yang berani mencuri Hinata-nya? Ah, Tak ada pilihan lain. Mau tak mau Naruto harus menerobos kerumunan Fangirlsnya. Baru saja ia melangkah, Rock Lee menahan pergelangan tangannya.
"Kuso! Lepaskan aku! Kau mau berkomplot dengan Kib-" "Hyuuga-san bukan bersama Kiba, Naruto-kun!" Lee memotong perkataannya. "Hah? Sainganku hanya Kiba seorang, Lee. Mana mungkin ada yang berani merebut kesukaanku selain bocah anjing itu?!" Kilah Naruto tak percaya.
"Cih, aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang tengah Bocah itu lakukan dengan Hinata-ku. Minggir kau!" Naruto menepis kasar tangan pemuda penyuka warna hijau didepannya.
.
"Hyuuga-san bersama Toneri-senpai, Naruto-kun!"
.
=Naruto's POV : On=
.
Toneri Ootsutsuki. Dari rumor yang menyebar, kudengar ia seniorku. Ya hanya itu saja yang kutahu selain ia pintar, tinggi, dan gaya bicaranya yang menarik. Itulah yang kupikirkan pada awalnya. Ia sama membosankannya dengan Sasuke-teme yang sering kali bergulat dengan soal-soal olimpiade. Ugh, Seperti itukah kehidupan? Terdengar seperti Neraka bagiku.
.
Kupikir ia kalah populer denganku. Hehe. Meskipun kurasa Pria tinggi bersurai Silver itu juga tidak terlalu peduli dengan hal itu. Kudengar-lagi- Ia tak pernah mencari masalah pada juniornya, khususnya padaku.
Gah! Yang benar saja. Justru sekarang ia sedang cari masalah denganku. Dan, Hei! Jangan anggap sepele masalahnya! Justru karena ini menyangkut gadisku Hinata, aku tidak akan tinggal diam! Berani sekali ia jalan dengan gadis miliku! Cih, Diam-diam ternyata ia bajingan sama seperti yang lain!
.
Lihat saja kau, Toneri! Kau yang menyiramkan bensin pada kobaran api. Dan sekarang, Rasakan panasnya!
.
.
"Kenapa t-terus me-memandangiku, Naruto-kun?" Tanyanya menyerupai bisikan.
Aku tak bisa menahan senyumanku, tentu saja. Gadis didepanku ini kelewat lucu hingga apapun ekspresi yang dikeluarkannya terlihat begitu menggemaskan dimataku.
.
Kusisipkan anak rambut Hinata kebelakang telinga tanpa melunturkan senyumanku. Dan tentu saja membuat rona merah diwajah Hinata semakin mendominasi wajah manisnya. "Apa kau merasa terganggu?" Tanyaku balik. Hinata dengan cepat menggeleng. Irisnya bergerak liar seperti tengah mencari alasan.
"B-Bukan begitu.." Cicitnya sembari menundukan wajah.
.
Oh, Kami-sama! Kenapa dia begitu manis?! Aku bahkan tak bisa mengontrol perubahan ekspresi seperti apa yang harus kupakai selanjutnya.
Aku menghentikan gerakanku di kepala Hinata. Tunggu! Bukan ini yang seharusnya kulakukan-ttebayo!
Oke, Naruto Uzumaki yang tampan! Fokuslah pada tujuan awalmu.
.
Kutarik kembali tanganku ketempatnya masing-masing. Hinata masih menunduk. Menolak memperlihatkan wajahnya padaku -seperti biasanya-. "Na~ Hinata?" Aku angkat suara. Kubuat nada bicaraku seserius mungkin.
"Ne?"
Aku menggaruk tengkukku untuk mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhku. "Begini... Umm.. Kejadian tadi pagi... Aku M-minta maaf.." Hinata melonjak kecil. Sepertinya ia cepat mengerti apa yang kumaksud dengan 'Kejadian tadi pagi'.
.
"..."
.
Tak ada respon. Aku ikut menundukan wajah. Mengunci tatapan pada Uwabakiku. Jemariku bertaut dengan tidak nyamannya. Ayolah, Hinata! Jangan buat aku gelisah begini.
Pikiran-pikiran buruk mulai melesak didalam otakku. Oh tidak, Bagaimana kalau dia menganggapku ini pria mesum yang tidak sopan? Atau yang paling buruk, Bagaimana kalau ia membenciku? Aarrrgg... Pikiranku kalut.
.
"Hinata?" Kupanggil namanya lagi. Hinata tak bergeming. Ia tetap menunduk sambil memaikan telunjuknya. Aku memberanikan diri untuk sedikit mengeleminasi jarak diantara kami, "Hinata? Kau marah ya?"
Dengan cepat Hinata menoleh kearahku. "Ti-Tidak. Bukan b-begitu. Aku tidak marah. A-Aku hanya malu." Cicitnya pelan. "Ha? Malu?" kataku bego.
Hinata kemudian menautkan jemarinya diatas meja. Sekilas kulihat ia menghela nafas, " ..J-Justru akulah yang s-seharusnya minta maaf"
.
Alisku mengeryit. Kali ini aku tak mengerti apa maksudnya. Disini sudah jelas aku yang salah. Tapi kenapa dia juga merasa sama bersalahnya denganku?
.
"Apa maksudmu-ttebayo? Kau tidak salah, Hinata." Hinata dengan cepat menggeleng. "Ti-Tidak. Ini juga salahku." Katanya bersikeras. Aku menghela nafas kemudian tersenyum kecil. "Ini salah kita berdua. Nah, Adil bukan?"
Aku memamerkan cengiran andalanku. Hinata hanya diam tanpa melepaskan pandangannya kearahku. Entahlah, Kenapa dia seperti orang yang terpana begitu? Atau itu perasaanku saja? Ah, sudahlah. Diamnya Hinata kuanggap sebagai jawaban 'iya' darinya.
.
Ah, gawat. Aku hampir lupa tujuanku yang lainnya. "Oh ya, Hinata."
Hinata terkesiap. Ia mengerjapkan matanya lucu. "Hm?"
Aku membuang wajah. Mengalihkan pandangan keluar jendela. Menatap kemana saja asal bukan kearah adikku yang manis itu.
.
"...Kudengar... Tadi pagi kau berangkat bersama Toneri Ootsutsuki 'kan?" Tanyaku langsung. Ck, Tidak usah basa-basi. Aku sudah tanggung penasaran perihal hubungan Hinata dengan si rambut silver yang bagai Lucifer itu.
"E-Eh? Toneri? A-ano.." Pipinya bersemu. Tsk, Aku benci rona merah itu muncul kalau bukan aku pelakunya.
.
"katakan Hinata. Apa hubunganmu dengannya!" Todongku tak sabaran. Ggrrr... Aku sudah mulai gregetan.
.
"A-Ano... Dia itu... Teman masa kecilku yang berharga, Naruto-kun" Jelas Hinata sembari tersenyum.
Aku mengucap syukur dalam hati. Syukurlah meraka hanya teman. Tentu, 'Hanya' teman. Jangan harap aku akan membiarkan hubungan yang 'lebih' dari sekedar teman.
.
Aku sempat lega. Ya, 'sempat'. Sebelum pertanyaan iseng dariku menghancurkan kelegaanku hingga berkeping-keping.
.
"Kau menyukainya, Hinata?"
.
Untuk sesaat, pandangan Hinata berubah sendu. "Ya, Dia cinta pertamaku"
.
.
=To Be Contineud=
A/N : NH CANOONNNN! ADUHH INI TELAT BANGET! \( QWQ)/ RENCANA AWAL BIEBER MAU UPDATE FF BUAT RAYAIN CANONNYA NH! TAPI BERHUBUNG MALES, GAK JADI DEH '-'/capsjebol
Ini Fict makin gaje demi apaaa?! (wQwQ)w Rencanya cuma mau 10 chapter, tapi mustahil deh kayanya -_- nyahahahaa.
Oiya XD Bieber tiba-tiba berminat munculin Toneri-kyyuunnn~~~(?) Bieber kira sekarang Kiba nggak cocok jadi orang ketiganya NH -_- toh, Secara Official, Toneri-kyun merupakan orang ketiga diantara NaruHina -3-b
Bieber bakalan balas review seorang yang manis :3
Dear eN eS-san, Hellooooowwwwww... NaruHina itu Pair pertama yang Bieber ship lohh OwO dari masih bocah ingusan sampai sekarang aku ship dan dukung merekaa XD gimana nggak seneng begitu tahu mereka canonn?! NHL Mustahil kalau ada yang nggak seneng XD Ya, kalau kamu bilang endingnya jelek, ya bikin sono komik sendiri XD Nyahaha -_- pls ya, serial Naruto bukan hanya tentang couple! bukan! Kalau gara-gara NaruSaku kamu nggak canon kamu jadi balik benci apalagi sampai ngatain 'jelek' rasanya kamu nggak tahu diri ._. paham? Serial Naruto itu SHONEN :3 Bukan SHOUJO! titik ^ ^
Fiuh, agak emosi juga sih Naruto dikatain begitu :(
Ah, Tentu nggak lupa dong buat yang sudah sudi MeReview/fav/Follow ff abal ini (TwT)/ Hontoni Arigatou! Nggak nyangka ff ini masih di notice XD
Sekian ocehan dari Bieber :3 Takutnya pada kabor gegara kepanjangan :p nyehehehe~
Akhir kata,
Mind to Review?
