My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notif :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 7 Minna~
Uzumaki Naruto memandang datar papan tulis didepan sana. Pelajaran Anko-sensei telah dimulai sekitas sejam lalu. Tapi sampai sekarang pemuda dengan manik lazuardi itu sama sekali tidak mengindahkan penjelasan dari Sensei yang terkenal garang itu.
Pikiran sang pemuda melayang entah kemana. Memikirkan suatu hal yang dianggapnya lebih penting ketimbang mendengar penjelasan dari Anko-sensei.
.
'Kau menyukainya, Hinata?'
.
'Ya, Dia cinta pertamaku.'
Sekelebat percakapan beberapa saat lalu terus terngiang diotaknya bagai kaset rusak. Percakapan yang membuatnya muak. Pertanyaan iseng yang seharusnya tak usah ia tanyakan pada gadis favoritenya.
Naruto melirik gadis disampingnya dengan ekor mata. Gurat kekecewaan tergambar jelas diwajah tampan pemuda Uzumaki. Sungguh ia tidak menyangka Hinata akan menjawab pertanyaan isengnya seperti tadi. Prediksinya meleset. Yang ada dalam benaknya saat itu hanyalah Hinata yang pasti menyangkalnya dengan wajah memerah gugup. Dan ia akui, ia kecewa sekarang. Apalagi begitu mendengarnya secara langsung dari bibir peach Hinata. Ditambah ekspresi sendu bercampur ketegasan yang tergurat jelas diwajah Hinata ketika kata 'Cinta pertama' meluncur dengan mulus dari bibirnya.
'Toneri Ootsutsuki. Bajingan.'
Naruto menggemeretukan giginya. Ya, Toneri Ootsutsuki adalah cinta pertama sang bungsu Hyuuga. Pemuda yang satu angkatan lebih tinggi darinya. Pemuda yang awalnya Naruto sendiri tidak tahu ia hidup atau tidak didunia ini. Pemuda yang bahkan ia sendiri tidak menyangka akan menjadi Rival cintanya yang pertama.
Pandangan Naruto berubah kosong. Namun alisnya makin bertaut tidak nyaman menahan emosi yang sewaktu-waktu bisa meledak kalau saja ia tidak mengontrolnya dengan baik.
Sebenarnya apa kelebihan Toneri Ootsutsuki ketimbang dirinya? Seorang Naruto Uzumaki, Pemuda yang diingankan banyak gadis?
Baiklah, Naruto akui Toneri lebih tinggi darinya. 'Kh! Itu karena dia memiliki gen yang berlebihan hingga membuatnya dapat tumbuh setinggi itu'
Selain itu apa lagi? 'Oke, Dia juga jauh lebih pintar dariku'
Naruto berdecih, 'Gah dia juga Ikemen tingkat dewa!'
'Dia juga lebih putih dariku! Apa Hinata lebih suka pemuda dengan kulit sepucat dia? Lalu bagaimana dengaku dan Kuit Tan-ku?! Haruskah aku memutihkan kulitku, Hinata?! Tapi tunggu! Bukankah kulit tan-ku yang eksotis ini sudah menjadi daya tarikku tersediri?! Sulit dipungkiri! Toneri Ootsutsuki memang sempurna dari segi manapun!'
-Sebentar Naruto? Kenapa kau malah memuji kelebihannya?
Begitu sadar, Naruto menggelengkan kepalanya. Menjijikan rasanya kalau pemuda pirang itu mengagungkan keidahan rupa sang Rival cinta.
Baiklah Naruto. Fokuskan pikiranmu kepermasalahan utamanya. Menyingkirkan Toneri bukan perkara mudah. Naruto tahu itu. Salah-salah nantinya Hinata yang berbalik membencinya. Tidak! Memikirkannya saja Naruto tidak berani. Hinata yang membencinya sama halnya dengan merenggut jiwanya sendiri. Bunuh diri namanya!
Naruto menggeram kesal lantas mengepalkan tangannya. Mencengkram pulpen orange yang ia pinjam dari temannya sebulan lalu-Dan lupa ia kembalikan sampai sekarang.
'Lihat saja, Sialan. Kalau aku melihatmu berduaan dengan Hinataku aku akan-'
.
Tep.
"Uzumaki-san? Kau berani melamun didalam pelajaranku?"
"Ahhh! Keparat! Kuhajar saja kau!"
.
Plak!
.
"..."
Hening.
Seolah diseret kembali kedunia nyata. Naruto lantas membuka matanya. Tunggu, Kenapa telapak tanggannya terasa panas. Dan gatal-mungkin. Rasanya seperti ia telah menampar seseorang. Tunggu-
Naruto mengerjapkan matanya polos. Ditolehkannya kepala kesekelilingnya. Semua orang menatapnya kagum bercampur tak percaya. Tak terkecuali Hinata yang berposisi tepat disampingnya. Dan-
-Anko-sensei yang menatap kearah lain dengan bekas telapak tangan dipip- 'Eh?! S-sebentar!'
Naruto berusaha menganalisa keadaan yang terjadi dengan otaknya yang pas-pasan. Begitu mendapatkan hasil dari pengamatannya, Sepersekian detik wajah tampan dengan tanda lahir serupa kumis kucing itu memucat.
.
"Go-Gommenasai.."
Wanita yang berprofesi sebagai guru Kimia itupun dengan gerak patah-patah menatap si bungsu Uzumaki dengan senyum manis yang nampak sangah di mata anak-anak muridnya.
Anko-sensei mengambil nafas guna menenangkan pikirannya sebelum-
.
"MATI KAU, NARUTO UZUMAKIIII!"
.
.
Bocah pirang bermarga Uzumaki itu melenggang dengan lemas setelah keluar dari ruang guru. Dirinya baru saja mendapat ceramah, wejangan, pepatah dan lain sebagainya dari Kakashi Hatake. Sang wali kelas.
Salahnya sih yang telah lancang-sebenarnya tidak sengaja- menampar pipi salah satu guru Killer semacam Anko-sensei.
"Keparat kau, Toneri. Ini semua salahmu!" Gerutunya tak jelas. Hey, Naruto. Kenapa kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri?
Naruto memandang sekitarnya. Sudah ramai. Benar juga, Ia lupa kalau ini waktunya istirahat. Bagusah, dengan begini ia tidak perlu bertemu dengan nenek sihir ular itu.
.
Iris Naruto melebar ketika visualnya menangkap personifikasi gadis cantik bersurai Indigo.
Ah, itu Hinatanya.
Seketika itu juga, Naruto yang pada awalnya terlihat seperti jombi melangkah dengan penuh semangat. Seolah hidup kembali. Kakinya yang panjang melangkah lebar-lebar demi mendekat kearah gadisnya. Pujaannya.
Manik sebiru ocean miliknya semakin bercahaya ketika Hinata-gadisnya- mendongkak. Seolah sadar akan kehadiran sang pujaan hati. 'Apa ini artinya aku dan Hinata punya ikatan batin yang kuat?' Pertanyaan gamblang yang langsung Naruto amini dalam hati. Hinata tersenyum. Iris serupa bulan itu makin berkilauan saat menatapnya.
Hinata mempercepat langkahnya. Memacu langkah kedepan. Dengan raut wajah memuja yang masih belum hilang dari wajahnya. Naruto makin mengembangkan senyumnya. Diangkatnya tangan kanan sebelum-
.
"Hina-" "Tonerii~"
-Hinata melewatinya.
Ulangi, melewati seorang Naruto Uzumaki!
.
Naruto membatu. Pikirannya seolah hilang untuk sesaat. 'Siapa tadi yang dipanggil Hinata?! To-ne-ri?!' Batin sang pemuda kesal. Ditambah penekanan kata di bagian akhir membuatnya semakin tersulut emosi.
Si brengsek itu. Dia dengan mudahnya membuat Hinata menganggapnya tidak ada. Layaknya patung.
"Ah, Hinata. Sedang apa kau disini?"
'Akhirnya dia muncul!'
Suara itu mau tak mau membuat Naruto membalikan tubuhnya dengan percikan api yang masih menguar dari tubuhnya. Mata sewarna shappire itu memicing garang. Ditatapnya Hinata dan Toneri yang tengah berbincang ringan.
'Sialan! Toneri Ootsutsuki bahkan bisa membuat Hinata tertawa selepas itu.'
Naruto melangkah penuh hentakan kerah Hinata dan teman masa kecilnya. Naruto gerah. Ia muak dengan pemuda yang sudah dengan seenaknya mengambil perhatian Hinata tanpa seiizinnya.
Dengan cepat Naruto berdiri diantara Toneri dan Hinata. Menunduk sesaat lantas mendongkak demi menatap kakak kelasnya dengan mata yang ia picingkan. Sebagai tanda bahwa sang Uzumaki tidak menyukai kehadiran Toneri Oootsutsuki.
Hinata menatap pemuda Blonde yang sudah ia anggap sebagai Nii-sannya itu heran. Kenapa tiba-tiba Naruto berdiri didepan Toneri seolah menantangnya bertarung?
"Naruto-kun?" Ujar Hinata bingung.
Toneri Ootsutsuki balas menatap sang Uzumaki. Namun berbeda dengan Naruto, Pria dengan surai Silver itu menatap adik kelasnya dengan wajah heran.
"Ada apa?" Toneri angkat suara. Ia dapat merasakan aura yang tidak mengenakan menguar di sekitar pemuda pirang didepannya.
'Kenapa bocah pirang ini menatapku sinis begitu?' Tanya Toneri dalam hati.
.
Naruto menggeram. Ia merentangan lengan kanannya. Menghalangi Hinata agar sang gadis tidak terlalu dekat dengan si pemuda Silver. "Jangan dekati Hinata." Todong Naruto sarkatis. Toneri mengernyitkan alisnya. Dialihkannya pandang kearah sekitar. Banyak siswa-siswi yang menatap ketiganya penasaran.
Baiklah, sebagai kakak kelas yang baik, tentu Toneri harus mencairkan suasana yang seperti ini bukan?
"Tenanglah. Aku ini teman Hinata. Kau tidak perlu khawatir Naruto." PaparToneri kalem. Naruto berdecak sebal. 'Kh, Orang ini tahu namaku ternyata. Sudah kuduga kepopuleranku jauh diatasnya' Batin Naruto sombong.
Hinata menyentuh pundak Naruto pelan. "N-Naruto-kun, Apa yang dikatakan Toneri benar." Tambah Hinata sembari tersenyum manis. Sekilas, Naruto menangkap kekecewaan Hinata pada senyumnya ketika membenarkan penyataan Toneri perihal hubungannya dengan si gadis hanya teman. Naruto mendengus, ditariknya Hinata pergi dari sana. Meninggalkan Toneri sendiri.
.
Sore harinya~
.
Tadi Hinata dengan antusias meminta izin padanya untuk pulang lebih dulu. Saat ditanya apa alasannya, si gadis dengan manik seindah bulan itu menjawab, "Toneri mengajakku pulang bersama."
.
"Sial! Sial! Siaaall!"
Kiba Inuzuka menatap sahabat pirangnya bingung. Sedaritadi, si kuning Ace basket itu terus-terusan meruntuk tidak jelas.
Saat ini, latihan klub Basket tengah berlangsung. Namun bukannya berlatih, sang Ace sendiri justru malah menepi ke sisi lapang dan diam layaknya orang idiot. Aneh rasanya melihat si pembuat onar tiba-tiba malas berlatih-mengingat soal latihan dialah yang paling semangat.
Kiba menghela nafas. Kalau si kuning itu terus seperti ini, Nasib klub basket bisa dalam bahaya. Terpaksa kali ini ia harus ikut turun tangan.
Melangkah kesisi lapang sambil terus men-Dribble bolanya. Beberapa meter jarak tersisa antara dirinya dan sang sahabat Blonde yang kini tengah menulis-nulis tanah dibawahnya dengan wajah murung.
Kiba semakin mendekat. Naruto masih juga belum menyadari kehadirannya. Ia masih sibuk mecoret-coret tanah dengan telunjuknya. 'Ck, Seperti anak kecil' komentar Kiba geli.
Keingintahuan yang besar membuat Kiba memicingkan mata demi membaca sebaris tulisan Naruto ditanah.
'Hinata'.
Kiba melebarkan irisnya. Hinata yang 'itu'? Jadi yang membuat Naruto begini hanya karena si anak baru itu?
Kiba menatap datar Naruto. Tangannya bergerak memposisikan diri untuk melempar bola basket ditangannya.
Srak!
Naruto tersentak kaget begitu tiba-tiba sebuah bola basket menghantam tanah didepannya. Menghancurkan subuah nama yang iseng ia tulis. Beruntung bola itu tak mengenai wajah tampannya. Kalau saja kena, tamatlah riwayat si pelaku.
"Kau kenapa, Dobe?" Tanya Kiba asal. Naruto menegadahkan wajahnya malas. Menatap sahabatnya yang berbau anjing itu cuek.
"Tidak apa-apa." Balas si Uzumaki singkat. Kiba duduk disamping sahabatnya. Lantas disambut dengan Naruto yang bergeser duduk menjauhinya. Perempatan muncul pada pelipis Kiba. 'Yang benar saja. Kau pikir aku ini kuman, Naruto?! Ck, dasar bocah.'
"Kau ini sebenarnya kenapa Naruto? Kau seperti orang yang baru saja patah hati, kau tahu?" Kiba mengambil botol minumnya di tas, kemudian meminumnya cepat.
"..."
Tak ada jawaban.
Kiba menghela nafasnya. "...Hinata itu cantik, bukan?" Naruto menoleh cepat mendengar gumaman sahabat anjingnya yang tidak nyambung. Alisnya melengkung kebawah, tanda ia tidak suka Hinatanya dipuji seperti itu. Well, walaupun perkataan Kiba benar adanya.
Kiba tertawa sekilas, kemudian berujar, "Aku suka dia." Iris lazuardi Naruto memicing galak. Diraihnya kerah baju Kiba kasar. "Kau mau mengajakku bertengkar, hah?!" Bentak Naruto emosi.
Beberapa adik kelas dan senior klub basket menatap kedua pemuda dengan surai yang berbeda itu cengo. Tak mengerti apa yang terjadi.
"Cih, Sudah kuduga kau seperti ini gara-gara Hinata." Ucap Kiba santai. Ia menepis lengan tan Naruto yang mencengkram dikerah bajunya. Naruto mendengus sebal kemudian membuang mukanya kearah lain.
'Sialan. Bisa-bisanya aku terpancing oleh si bocah anjing ini.'
Kiba mengulurkan tangannya mengambil bola basket yang tak jauh dari posisinya sekarang. Memainkan bola itu ditangannya. Memutarnya ditelunjuk layaknya seorang pro.
Kiba menatap bola yang berputar ditelunjuknya. Enggan menatap Naruto, "Aku tidak peduli apa yang terjadi diantara kau dan Hinata, Dobe. Tapi dari wajahmu, aku sudah bisa menebak apa yang kau rasakan terhadapnya."
Naruto mengerucutkan bibirnya. Jitakan manis ia berikan ke kepala si bocah Inuzuka yang alhasil disusul oleh ringisan Kiba. "Kenapa kau tiba-tiba jadi sok tahu begini, heh?" Sindir Naruto riskan.
Kiba mendegus sebal. Ia usap pelan kepalanya yang terasa nyeri akibat ulah si Blonde bodoh.
"Ck, Niatku baik tahu! Sialan!"
"Hahahaha! Gomenne-ttebayo"
.
Kiba berdiri, masih enggan menatap Naruto. Ia memilih menatap hamparan langit luas yang kini tengah memadukan warna ungu dan jingga dengan indahnya.
"Kau menginginkannya, Naruto?" Pertanyaan mendadak dari Kiba membuat Naruto tersentak. Ia menunduk sesaat, menatap sisa-sisa goresan tangannya disana.
"Ya." Lirih. Kiba dapat menangkap nada lirih itu pada jawaban Naruto.
.
"Naruto, Jika kau menginginkan sesuatu, Posisikan dirimu untuk menerima itu. Karena ia tidak akan datang kalau kau sendiri tidak siap menerimanya." Seiring dengan terucapkan perkataan itu, Kiba melangkah pergi. Menjauh dari Naruto yang masih terpaku di tempat.
"Kiba.."
Perkatan Kiba barusan seolah menyadarkan dirinya.
Naruto sadar sekarang. Mentalnya lemah. Seharusnya ia sudah siap dengan masalah sepele seperti ini. Ia terlalu syok dengan pernyataan langsung dari Hinata menyangkut perasaan spesial si gadis terhadap Toneri.
Mencintai itu memberi dengan ikhlas tanpa paksaan 'kan? Seharusnya ia lebih sensitif soal ini. Lagipula Hinata dan Toneri belum memiliki hubungan spesial, bukan?
Cengiran pertamanya di hari inipun akhirnya muncul. Kiba tenyata ada dibelakangnya. Kenyataan itu membuatnya sumringah. Saingannya hanya si jangkung Toneri Ootsutsuki. Semangat khas Naruto Uzumaki kembali muncul dalam dirinya.
.
"Yosh! Saatnya berlatih! Kalian kelas 1! Jangan diam saja! Sebetar lagi akan ada pertandingan-ttebayo!"
.
"Bukankah dia yang sedari tadi diam?"
"Naruto-senpai emosinya mudah jungkir balik. Labil sekali."
=To Be Contineud=
A/N: Hollaaaaa! \( ^w^)/ Makin gaje ini cerita tulungggg TTwTT Aaaaa... maaf kalau Bieber bikin kalian semua kecewaa -_- Jujur Bieber juga kecewa, tapi ya, Bieber bikin ini Cuma sehari TwT tepatnya pagi tadi XD entah kenapa pengen cepet langsung ke Konflik XD FYI aja nih, mulai chapter depan, udah masuk ke konflik utama XD Toneri juga bakalan muncul lebih banyak XD jadi deg-degan nih kalau menyangkut Toneri-kyun(?) XD #plak#
Gomenne kalau semisal tambah gaje :'3 Bieber coba perbaiki deh. Dan, dan, saat Bieber bikin ini, ada pengumuman THE LAST NARUTO THE MOVIE TAYANG TANGGAL 8 APRIL 2015 DI INDONESIAAAAAAAAAAAA! KKKYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~(?) X/D #dibuang#
Anyway, Arigatou buat yang udah sudi Follow/Fav/Review ff Bieber ini ( TwT)7 Hontouni Arigatou *sembah*/dibanting
Udah ah, capek ngetik -.-/whut/ Kritik, saran dan pertanyaan Bieber terima dengan senag hati loh. Jadi jangan sungkan ya! '3')b
Akhir kata,
Mind to Review?
