My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notif :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 8 Minna~
.
"Hinata!" Tepukan pelan mendarat dibahu seorang gadis bernama Hinata. Hinata yang sedari tadi tengah membawa tumpukan buku mau tak mau menoleh kebelakang. Iris Bulannya menangkap siluet seorang gadis bersurai permen kapas. Ah, Itu Sakura Haruno. Sahabat dekat Saudara iparnya.
.
"Sakura-san"
.
Sakura Haruno dengan inisiatif mengambil sebagian buku yang tengah dibopong Hinata seorang diri. Hinata terlihat kaget dan tidak enak hati. Tentu saja, ini tugasnya, tak seharusnya ia libatkan Sakura dengan tugas yang sedang diembannya.
"Sakura-san, t-tidak usah repot-repot. A-aku-" "Bukan masalah Hinata. Aku memang ingin membantumu 'kok" Terang Sakura sembari memperlebar senyumannya.
.
Hinata yang pada dasarnya adalah gadis tidak berani membantah perkataan orang lain mau tak mau membiarkan sahabat saudara iparnya itu membantunya membawakan tumpukan buku untuk dibawa keruang guru.
"Ne~ Hinata." Sakura angkat suara. Hinata menoleh dengan senyuman yang masih juga belum lepas dari wajah manisnya, "Ya?"
.
Sakura mengerling jahil kearah Hinata yang disambut dengan kerutan di alis si gadis Indigo. Sakura mengembangkan senyumannya. "Hinata, bagaimana rencanamu untuk besok?" Tanya si gadis Pink misterius.
Hinata semakin mengernyitkan alisnya. Besok? Ada apa dengan Besok?
"Hnn.. A-Ano... Sebenarnya ada apa dengan Besok?
Sakura menggelengkan kepalanya. Sebelumnya ia memang telah menduga Hinata pasti tidak akan tahu menau soal acara esok nanti.
"Kau ini, Hinata. Dasar anak kecil."
Hinata menatap si gadis Haruno dengan wajah berkerut. Memangnya besok ada hal penting yang harus ia ingat? Baiklah. Ia memang berumur paling kecil diantara teman seangkatannya, tapi itu hanya karena ia lahir ditanggal yang mendekati akhir bulan Desember. Dan lagi Sakura ketara sekali menyebutnya. Mungkin bisa diperhalus dengan, ummm, Polos mungkin?
."Memangnya ada a-apa? Sakura-san?" Tanya Hinata penasaran. Hinata memiringkan kepalanya lucu. Membuat poni ratanya bergerak seirama gerakan kepala. Sakura menoleh, "Valentine." Jawabnya singkat. Namun raut keantusiasan masih tercetak jelas diwajahnya yang secerah musim semi.
wajah Hinata bersemu. Ia tentu mengetahui apa itu Valentine. Hei, Sepolos-polosnya seorang Hinata, tentu saja keterlaluan jikalau ia tidak mengetahui event khusus bagi para gadis remaja seusianya itu.
.
Ah, Valentine. Tanpa sadar bulan Februari sudah mulai menjejaki pertengahannya. Sudah satu bulan pasca pernikahan Kakak tersayangnya. Padahal rasanya baru kemarin pernikahan Hanabi Hyuuga dan Menma Uzumaki digelar.
Dan ternyata sudah satu bulan dirinya menjadi saudara ipar dari Naruto Uzumaki.
.
Naruto Uzumaki, ya? Hinata bertemu dengan pemuda Libra itu di bulan Desember. Bertepatan dengan moment dimana kakaknya dan kakak Naruto-Menma Uzumaki- memproklamirkan bahwa keduanya akan melangkah kehubungan yang lebih serius lagi. Pernikahan, tentu saja.
.
"-nata! Hinata~!"
Hinata mengerjap dua kali. Oh, yang benar saja. Kenapa ia malah melamun. Cepat-cepat gadis Lavender itu menoleh kearah gadis disebelahnya. "Gomen, aku melamun"
"Apa yang kau lamunkan, Hinata?" Tanya Sakura penuh selidik. Berusaha mengelak, Iris Hinata bergerak liar menghindari tatapan curiga si gadis bermanik emerald.
.
"Etto..." "Ah, Aku tahu apa yang kau pikirkan!" Sakura memotong perkataan Hinata. Dalam hati Hinata bersyukur. Setidaknya dirinya tak perlu mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Sakura tentang hal apa yang ia lamunkan. Hei, coba pikir apa yang akan terjadi kalau ia menjawab dirinya sedang memikirkan Naruto Uzumaki didepan sahabat pemuda itu sendiri?! Hell No! Bisa-bisa si Pinkie ini salah paham. Dan lagi Hinata yakin Sakura belum mengetahui status aslinya dengan Naruto adalah sebagai Saudara ipar.
.
Hm? Kau yakin dia tidak tahu Hinata?
.
"Kau sedang memikirkan siapa orang yang akan kau berikan cokelat 'kan?" Sakura menyipitkan matanya jahil. Tumpukan buku ditangannya seolah bukanlah sebuah masalah. Gadis ini masih bisa bercanda dengan tumpukan buku yang ia bopong dikedua tangannya yang mungil. Sungguh gadis yang kuat.
.
Hinata merona. Ia memilih memalingkan wajahnya ketimbang menjawab pertanyaan jahil Sakura. Ayolah, seorang Hinata tidak mungkin seberani itu menyebutkan secara gamblang siapa yang ia berikan cokelat Valentine. Tidak, itu sangat-tidak-Hyuuga-sekali.
.
Sakura merajuk, "Aaa~ Hinata.. Ayo beri tahu aku siapa orang yang beruntung itu. Aku janji tak akan memberi tahukannya pada siapapun."
.'Justru karena itu aku tidak mau cerita.'Balas Hinata dalam hati. Setahunya, Sakura ini teman dekat Ino-sahabatnya yang lain-. Sedikit banyak sifat ratu gosip Ino tertular kepada Sakura. Oke, itu hanya asumsi Hinata. Tapi siapa tahu?
Sakura terus saja merengek. Ia menyenggol Hinata dengan sikunya pelan. Seolah meminta atensi lebih si gadis Lavender..
"Hinataaa~~~ Siapa orangnya~~?"
.
Hinata sesegera mungkin ingin keluar dari situasi seperti ini. Ia terlihat menoleh kesegala arah demi melarikan diri dari pertanyaan Sakura yang menjebaknya.
Namun sedetik kemudian, iris Lavender miliknya terpaku pada sebuah objek, seseorang lebih tepatnya. Menatap lekat sosok yang sedang mendrible bola basket dilapang Konoha High School yang begitu luas. Sosok mempesona dengan buliran keringat yang tampak berkilauan dimanik sewarna bulan milik Hinata. Tanpa sadar, bibir peachnya menggumamkan sebuah nama,
.
.
"Naruto-kun."
.
.
.
.
.
.
.
"HAHH?! APA KAU BILANG?!"
.
"Berisik kau, Dobe" Protes Sasuke. Gurat kekesalan terukir jelas diwajah si bungsu Uchiha. Namun tentu saja sang Uchiha masih menjaga sikap ke-Uchiha-annya yang khas.
Sakura menurunkan tangannya yang tadi ia pakai untuk menutup telinga akibat teriakan Naruto yang menggelegar ditelinganya. "Kecilkan suaramu, Baka!" Sakura menjitak keras kepala Naruto yang dipenuhi oleh surai Blonde yang lebat. Naruto mengaduh, ia mengusap pelan kepalanya yang kini dipermanis dengan sebuah benjolan hasil karya Sakura sahabatnya.
.
"G-Gomen. Tapi, apa yang tadi kau katakan, Sakura-chan?" Tanya Naruto, kali ini dengan volume suara yang pelan. Takut jika nanti ia mendapatkan benjolan kedua disisi lain kepala kuningnya.
Sakura menyesap jus Strawberry kalengnya. Setelah beberapa tegukan, ia menatap Naruto bosan. Kesal karena sahabatnya yang satu ini tidak cukup kalau diberitahu sekali saja.
Menyilangkan kedua tangan didepan dada, "Kubilang, Hinata berniat memberikanmu cokelat Valentine."
.
"APA?!" Respon Naruto tak percaya. Suaranya kembali meninggi. Sasuke berdecih, "Cukup! Ini sudah 'apa' yang kedua kali, dobe."
.
Naruto menatap lantai dibawah sana tak percaya. Semburat merah tipis terlukis dimasing-masing pipi tan si bungsu Uzumaki.
"T-Tapi... Bagaimana bisa?"
Sakura menghela napasnya panjang, "Kalau kau bertanya padaku kau salah besar. Tentu saja aku tidak tahu kenapa Hinata mau memberikan cokelat Valentine kepada orang macam dirimu. Kau tidak pantas untuknya." Naruto mengerucutkan bibir seksinya lantas menoleh kearah si Pink gusar.
.
"Itu bukan jawaban yang aku harapkan, Sakura-chan!"
.
Sakura mengedikan bahunya tak peduli. Lengan si gadis menuntun mulut kaleng jus Strawberry kebibirnya. Meneguk liquid tersebut beberapa kali. Mengusir dahaga yang sempat bersarang di tenggorokannya.
"Ya, selanjutnya terserah kau, Naruto." Sakura kembali angkat suara. Senyuman seindah musim semi bertengger diwajah ayunya.
.
Sakura menatap Sasuke sesaat-tanpa melepas senyumnya. Mengerling sekilas yang direspon oleh dengusan dengan semburat merah dipipi Sasuke. Fokus Sakura kembali ia alihkan pada sahabat Kuningnya.
"Apapun keputusan yang kau ambil, kami akan selalu mendukungmu, Naruto."
Naruto tersenyum penuh arti. Berita yang baru saja disampaikan Sakura padanya seolah memberinya secercah harapan. Masa bodoh soal Toneri Ootsutsuki! Toh, Hinata sendiri tidak berniat memberikan cokelat Valentine pada si tinggi kurus itu, dan justru malah berniat memberikan cokelat special itu padanya! Pesona Naruto Uzumaki memang tidak bisa ditolak siapapun!
.
"Arigatou, Sakura-chan! Aku akan pegi dulu kalau begitu! Semoga kalian juga berhasil, Sasuke! Sakura-chan! Jaa~" Sasuke dan Sakura melongo menatap punggung sahabat bodoh pirang keduanya yang semakin mengecil dipandangan mata.
.
'Cih, Apa-apaan si Dobe itu." Gerutu Sasuke pelan. Takut kalau-kalau Sakura mendengar gerutuannya. Sakura masih diam, ia berusaha menahan semburat merah yang kian menjalar di masing-masing pipinya. Jelas ia mengetahui maksud perkataan Naruto yang barusan.
.
.
'Sialan kau Naruto! Shannaro!'
.
.
14 Februari~
.
Pagi kembali menyapa bumi Konoha. Salju diluar sana masih juga belum mencair. Udara dingin begitu menusuk tulang. Matahari masih enggan menyentuh daerah Konoha yang kini dingin berlapis salju. Ujung bulan Februari masih jauh, sepertinya penduduk Konoha city harus bersabar sedikit lagi untuk menantikan musim semi.
.
Namun, dinginnya pagi ini tak berpengaruh bagi pemuda bernama Naruto Uzumaki. Lihat saja, sekarang baru jam 6 pagi dan pemuda itu sudah siap dengan baju seragam dan tas yang ia gantungkan disebelah tangannya. Alih-alih berlindung dibawal selimut dari hawa dingin, pemuda pirang ini justru dengan semangat melangkah keruang makan.
Bukannya ia kelewat rajin dan tidak ingin bermalas-malasan didalam selimut tebal seperti yang kini kakaknya Menma lakukan. Hanya saja kalau bukan gara-gara jadwal latihan basket pagi ini, ia tidak akan pernah sudi menggerakan tubuhnya dari selimut orange kesayangannya.
Huh, enak sekali Anikinya saat ini. Si Uzumaki sulung itu sedang menikmati cuti hari pertamanya. Cuti? Ya, Cuti pengantin baru. Rencanya Menma Uzumaki dan sang istri, Hanabi Hyuuga akan berbulan madu dalam waktu dekat ini.'Pasti saat ini Aniki bodoh itu masih tiduran dibawah selimut tebal sambil memeluk Hanabi-neechan. Uaaaa~ Enaknya!' Batin Naruto sirik.
.
Naruto sampai di ruang makan. Bermaksud mengambil beberapa potong roti untuk mengganjal perut. Namun langkahnya terhenti ketika iris oceannya menangkap sosok gadis dengan rambut panjang dan gaun putih. Pemikiran aneh mulai timbul dikepala kuningnya.
.
Jangan bilang pencuri! Atau jangan-jangan... Hantu?!
.
Naruto berusaha mendekati sosok tersebut. Bagaimanapun dimana harga dirinya sebagaiseorang laki-laki kalau hal begini saja ia takut. Oo~ Tidak! Naruto Uzumaki adalah Ace basket kebanggaan Konoha high School! Kalau hal begini saja ia tak berani, bisa-bisa reputasinya hancur Tan itu terulur kearah tombol lampu yang tak jauh dari posisinya.
.
Ctek~
.
"Eh?"
Iris Naruto terbelalak lebar. "Hinata?" Gumamnya tak sadar. Hinata menatap pemuda yang berjarak beberapa meter didepannya kaget, "Naruto-kun?"
Naruto tersenyum lebar. Ia melangkah mendekati saudara iparnya yang masih menggunakan gaun tidurnya. Harus ia akui, Hinata yang menggunakan gaun tidur terlihat seksi dimatanya. Yatuhan Naruto, ini masih pagi!
"Kau sedang apa pagi-pagi seperti ini di dapur?" Naruto akhirnya angkat suara ketika jarak diantara dirinya dan Hinata hanya sekitar satu meter.
.
Hinata memutar tubuhnya, kemudian kembali menekuni pekerjaan yang sedari tadi ia kerjakan. "unn, aku sedang membuat cokelat." Jawab Hinata pelan. Ketara pelan, Mungkin ia malu mengatakannya pada Naruto.
Naruto mengeryit, "Cokelat?"
"Ya. A-aku sedang berlatih membuat cokelat, T-tapi aku bingung sebaiknya cokelat seperti apa yang harus k-kubuat." Terang Hinata panjang lebar.
.
Seakan baru sadar, Naruto menyeringai lebar. Ia baru saja ingat informasi yang ia dapat dari Sakura kemarin. Benar, bagaimana bisa dia lupa kalau Hinata akan memberinya cokelat?! Bukankah yang begini sering terjadi di drama-drama picisan yang selalu ditonton Kaa-channya-Kushina Uzumaki?
Ya, hal begini sudah wajar. Si gadis pura-pura meminta pendapat-atau lebih tepatnya bertanya- pada si pemuda tentang cokelat yang tepat untuk Valentine. Secara tidak langsung si gadis bertanya 'cokelat seperti apa yang kau sukai?' pada si pemuda, bukan?
.
Sepertinya Hinata mencoba menggunakan cara yang sama kepadanya. Naruto bisa bersalto sekarang juga saking senangnya.
.
Naruto mencoba memasang pose berpikir andalannya. "Bagaimana kalau Gateaux Chocolat? Aku sih suka itu. Hahaha" Hinata menatap Naruto yang tengah cengengesan serius.
"Gateaux Chocolat?"
Naruto memutar kepalanya kesamping. Menatap jam diding yang ada diruang makan tersebut. Mendengus singkat kemudian kembali menatap Hinata. "Kalau begitu aku berangkat dulu, Hinata. hari ini ada jadwal basket pagi."
Hinata ikut menatap jam dinding. Lantas berkata, "A-Apa tidak terlalu pagi? Sudah sarapan?" tanya Hinata cemas.
Naruto menepuk jidatnya. Hell yeah! Bagaimana ia bisa lupa! Awalnya ia kemari untuk mengambil roti sebagai sarapannya 'kan?
Naruto tersenyum kikuk seraya mengaruk belakang kepalanya. Ia melangkah kesisi dapur sebelah barat. Mengambil beberapa roti tawar yang masih terbungkus plastik di meja makan.
.
"Aku senang kau ingatkan, Hinata." Seru Naruto sembari tersenyum lima jari. Ia kembali melangkah kearah Hinata. Tangannya meraih apron kuning yang tergantung dibangku meja makan.
Berdiri tepat didepan gadis yang lebih pendek darinya, dan membuat si gadis mendongkak. "Kau harus memakai apron ketika kau memasak, Hinata" "Ah, A-aku-"
Perkataan si bungsu Hyuuga terpotong kala ia merasakan lengan Naruto bergerak mengalungkan ikatan apron ke lehernya. Naruto kemudian merendahkan tubuhnya, menyelipkan kedua tangan tannya kebelakan tubuh Hinata demi mengikat tali apronnya yang lain. Hinata terpaku. Oh, Tuhan. Bukankah ini yang dinamakan berpelukan? Terlebih, saat ini Hinata hanya bisa menahan napasnya karena dengan tidak sengaja, tengkuk seksi si pemuda menguarkan aroma khasnya dan membuat Napas Hinata memberat.
.
Naruto menegakan tubuhnya ketika ia selesai mengikat tali apron Hinata. Manik Shappirenya menangkap Hinata yang kini tengah membatu dengan wajah yang memerah total. Si Uzumaki tersenyum mencurigakan sebelum-
.
Cup~
.
-Mengecup punggung telapak tangan saudara iparnya. Naruto menyunggingkan senyuman beracunnya. Kemudian- menegakan tubuh seraya berseru pelan, "Ittekimasu, Hinata."
.
Meninggalkan Hinata yang terbelalak tak percaya dengan wajah merah menyerupai tomat.
.
.
.
.
"Kami mohon terimalah cokelat kami!"
Gerombolan gadis disana memblokade jalan Naruto. Si pemuda baru saja selesai dengan latihan paginya, langsung dihadapkan dengan segerombolan Fangirlsnya yang segunung.
Naruto menghela napas, 'Aku sempat lupa kalau hari ini Valentine'
.
Naruto menggaruk belakang kepala jambriknya. Ia tersenyum ramah seraya menyeka keringat dengan handuk yang sengaja ia gantungkan dilehernya. Sepertinya udara dingin tidak berhasil membekukan keringat seksi seorang Naruto Uzumaki.
Naruto menjulurkan tangannya. Ia mengambil beberapa bungkus cokelat dari tangan salah satu penggemarnya.
"Arigatou-dattebayo."
.
Pekikan girang Fangirlsnya adalah hal terakhir yang mendominasi idra pendengarannya. Bagaimanapun sebagai seorang pria, Naruto tentu bahagia bisa mendapatkan cokelat valentine sebanyak ini-yang sebenarnya jumlah cokelat yang ia peroleh tahun ini sepertinya terlihat lebih banyak dari tahun sebelumnya.
.
Detik selanjutnya, iris Naruto bersirobok dengan manik Lavender kesukaannya. Itu Hinatanya! Ia berdiri di persimpangan koridor sambil membawa sebuah bungkusan ditangannya. hinata terlihat bersembunyi dibalik dinding, namun tentu saja itu tak masalah bagi Naruto. Si pemuda bersurai pirang sudah terlanjur mengetahui niatan saudara iparnya itu.
Naruto berjalan mantap kearah Hinata. tidak memperdulikan teguran ataupun tatapan heran dari Fangirls yang baru saja memberinya cokelat.
Persetan dengan keadaan sekitar! Hell yeah! Pemuda Uzumaki itu sudah tidak sabar mendapatkan cokelat spesial dari orang yang benar-benar ia harapkan akan memberinya cokelat.
.
Berdiri tepat didepan Hinata. hinata masih belum bergerak sedikitpun dari tempatnya. Gadis cantik itu lebih memilih menundukan kepala seraya meremas pelan bungkusan cokelat ditangannya.
.
"Hinata?" Naruto buka suara. Hinata tidak bergeming. Naruto terkekeh lantas mengangkat tangannya yang tidak dipenuhi oleh bungkusan cokelat untuk meraih dagu Hinata.
Diangkatnya perlahan. Kini, manik samudranya bersitatap dengan manik seindah bulan milik si gadis. Mau tak mau, seulas senyuman tercipta diwajah Naruto.
.
"A-Ano..."
.
Naruto butuh semua kendali ditubuhnya untuk tidak tertawa dan memeluk Hinata bersamaan saat ini. Menatap Hinata yang malu-malu kucing seperti ini benar-benar membuatnya tak tahan.
.
"Hmm?"
.
.
Hinata menatap Naruto langsung. Wajahnya sudah memerah total. "A-Aku s-sudah membuat Gateaux Chocolatnya. A-aku ingin.."
Naruto memandang Hinata tak percaya. Hinata benar-benar membuatkannya Gateaux chocolat?! Padahal tadi pagi ia hanya iseng mengusulkan. Dan lagi, Naruto jelas tahu betapa sulitnya membuat Gateaux chocolat. Kaa-channya saja sampai sekarang masih menelan pil pahit kegagalan berulang kali. Kami-sama, Hinata benar-benar luar biasa.
.
"Kau ingin apa, Hinata?"
.
Hinata mengulurkan bungkus cokelatnya dengan tangan bergetar kehadapan Naruto. Senyum Naruto makin mengembang-
.
.
.
"...A-Aku ingin kau..."
.
.
.
"...M-membantuku memberikan c-cokelat ini pada Toneri."
.
-Sebelum perkataan Hinata yang selanjutnya membuat angan Naruto hancur berkeping-keping.
=To be contineu=
A/N: Lama update? Iya, Bieber ngaku ff ini lelet updatenya. Tapi sebelum complain ini itu biar Bieber jelasin dulu ( T_T)/ Sebenernya Bieber lupa kata sandi acc ini. Terus sandinya Bieber tulis dibuku imtaq. Nah, bukunya dikumpulin dan baru sekarang dibagiin karena gurunya gak pernah masuk kelas. Harap dimengerti ya :')
Akhir kata,
Mind to Review?
