My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notif :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 9 Minna~
.
"...Apa katamu, Hinata?"
Naruto Uzumaki akhirnya angkat suara setelah sekian menit bergulat dengan pikirannya sendiri.
Hinata Hyuuga bergerak gelisah. Si gadis menatap Naruto takut-takut. "K-Kubilang, Tolong bantu aku memberikan cokelat ini pada Toneri."
.
Yup! Naruto sudah mengerti sekarang. Meski ia rasakan nyeri di ulu hatinya, Naruto mencoba menyunggingkan seulas senyum.
Cokelat yang Hinata buat memang bukan ditujukan untuk seorang Naruto Uzumaki. Cokelat yang semenit lalu ia harapkan untuknya ternyata adalah milik Toneri Ootsutsuki.
Naruto menguatkan perasaannya. Mencoba menjaga sikap ditengah kerumunan orang yang kini menjadikan dirinya dan Hinata tontonan gratis seenak jidat.
Terkhusus, ia tidak ingin Hinata mengetahui bagaimana hancurnya perasaan Naruto sekarang.
.
Perlahan, Naruto mengangkat pergelangan tangannya. Tangan tan milik si Uzumaki mendarat dengan lembut dikepala Indigo Hinata. Meski agak bergetar, Naruto mencoba menggerakan tangannya pelan diatas kepala Hinata. Mengelusnya lembut.
Bisa Naruto rasakan Hinata mengangkat wajah dan menatap dirinya. Naruto berusaha melebarkan senyumnya. Meski ketara sekali terlihat dipaksakan, Si pirang dengan tanda lahir di masing-masing pipinya itu tetap bersikeras untuk terlihat baik-baik saja didepan gadisnya.
.
"Naruto-kun?"
.
"Hinata.."
Naruto menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, "Cokelat Valentine tidak akan berarti jika tidak diberikan oleh pemiliknya."
Naruto menarik tangannya kembali kesisi tubuhnya. Naruto menampakan cengiran lima jarinya. Cengiran yang terlihat tidak secerah biasanya di manik Hinata.
"Berjuanglah, Hinata..."
Hinata masih belum melepaskan pandangannya dari Naruto. Jangankan mengalihkan pandangan, bergerak saja Hinata tak mampu. Seolah ada yang memaku kakinya dilantai. Melihat senyuman sang saudara ipar membuat hatinya bergemuruh tak nyaman.
.
"...Aku mendukungmu."
.
.
.
"...Apa yang kau lakukan, Dobe?"
Alis Sasuke Uchiha bertaut heran melihat tingkah sahabatnya saat ini. "Apa maksudmu? Kuyakin kau tidak buta, Teme. Aku sedang memakan cokelat yang diberikan para gadis tadi." Sembur Naruto emosi. Kembali ia melahap cokelat yang hampir setengahnya habis. "Ya, aku tahu kau sedang memakan cokelat, Dobe" Timpal Sasuke datar.
Sakura Haruno yang sedari tadi diam hanya menggeleng heran. Kelakuan si Uzumaki pirang sahabatnya ini memang tidak bisa disebut dalam keadaan yang baik-baik saja. Pasalnya, "Kau tidak biasanya memakan cokelat dari sembarangan gadis-maksudku, Kita semua tahu prinsipmu yang hanya mau memakan cokelat dari gadis yang kau sukai saja."
.
Naruto bergeming, Pandangannya menajam. "Aku tidak pernah berprinsip seperti itu." Elaknya.
Sakura memutar bola matanya, "Oh, Kau pasti bercanda."
Naruto menandaskan cokelat yang sedari tadi dimakannya. Ia mengulurkan tangannya kekolong meja demi meraih batangan cokelatnya yang lain. "Ugh, Aku yakin masih banyak cokelat yang tersisa disini." Gerutu Naruto. Sasuke mendengus, "Kau sudah menghabiskan semuanya, Dobe"
.
Sakura menatap malang kearah tumpukan bungkus cokelat yang menggunung disamping meja Naruto. Oh, Si Dobe ini bahkan tidak sadar bahwa bungkusan cokelat yang dibuangnya bahkan sudah tidak akan bisa ditampung tempat sampah kelas. Sakura yakin ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya. Kelakuan Naruto seperti ini membuatnya khawatir. Tentu saja karena Naruto adalah sahabatnya. Jelas ia peduli dengan si pirang itu meski kelakuannya kadang membuat Sakura naik pitam.
"Kenapa kau tiba-tiba sangat berselera memakan semua cokelat itu, Naruto?" Tanya Sakura akhirnya. Naruto memandangnya sekilas namun kembali memfokuskan diri pada kegiatannya mencari satu-setidaknya satu- cokelat dikolong mejanya.
"Kudengar cokelat bisa membuat moodmu lebih baik. Tapi sampai sekarang aku masih belum bisa merasakan khasiatnya. Mungkin aku butuh lebih banyak." Jelas Naruto. Alis Sakura bertaut. Ia menelengkan kepalanya menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya penuh tanda tanya karena jawaban dari Naruto yang dirasa keduanya tidak masuk akal.
.
"Apa?"
"Aarrgghh! Tidak ada sama sekali! Teme, Aku minta cokelatmu! Kau 'kan tidak membutuhkan cokelat-cokelat itu karena aku yakin kau hanya akan memakan cokelat buatan Sakura-chan saja!"Naruto mengerang frustasi. Ia menjambak kasar surai pirang keemasannya. Tanda bahwa adik dari Menma Uzumaki ini benar-benar frustasi hingga batas maksimalnya.
Rona kemerahan tipis nampak dipipi Sasuke. Si Uchiha bungsu itu mendengus sebal lantaran sahabat bodohnya ini secara tidak langsung malah membeberkan hal yang seharusnya tidak ia katakan didepan Sakura Haruno. Oh, Andai saja Sakura tidak disini, Sasuke bersumpah akan memenggal kepala sang Uzumaki dan membuangnya ke rawa agar tak ada seorangpun yang bisa menemukannya.
"Ck" Sasuke berdecak sebal. Ia benar-benar tak habis pikir. Naruto benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dan ia harus mengetahui penyebabnya. Sekarang.
.
"Ada sesuatu yang terjadi antara kau dan si anak baru 'kan, Naruto?"
Naruto menghentikan gerakannya. Naruto mematung sesaat. Jika Sasuke memanggil namanya dengan benar, berarti si Uchiha itu memang sedang serius. Naruto tahu itu, sudah lebih dari lima belas tahun ia mengenal sang Uchiha bungsu hingga ia tahu betul seluk beluk dan tingkah laku Sasuke yang bahkan tidak diketahui semua orang.
.
"..."
"Jawab aku, Naruto. Kau dan si anak baru 'kan?"
Naruto mengangkat wajahnya. Alisnya berkerut pertanda ketidaksukaan. Giginya bergemeretuk seiring rahangnya yang makin mengeras. "Namanya Hinata. Hinata Hyuuga. Camkan itu didalam otak jeniusmu, Uchiha."
.
"Wow, wow, Tahan emosimu Naruto. Jangan menyalahkan Sasuke-kun. Kau benar-benar terlihat buruk sekarang. Kalau Sasuke-kun tidak melakukan ini, aku yakin selamanya kau akan tetap bungkam. Bahkan pada kami." Sakura mendorong pundak Naruto pelan. Emosi Naruto memang lebih sulit dikontrol ketimbang Sasuke. Jadi dalam keadaan seperti ini, sudah seharusnya ia menjadi penengah antara sahabatnya-sahabatnya itu.
Naruto menenggelamkan kepalanya dibelahan sikunya. Menghela nafas berat kemudian memiringkan wajahnya lesu.
"Hinata.." Naruto angkat bicara. Suaranya parau dengan nada rendah yang sangat-bukan-Naruto-sekali.
Sakura dan Sasuke masih menunggu. Memberikan waktu pada Naruto untuk mengatakan masalah yang sedang membebani dirinya. Bagaimanapun peranan seorang sahabat adalah membantu sahabatnya yang tengah dirundung masalah atau kesedihan, bukan? Seorang sahabat adalah bagaimana cara mereka membagi beban yang tengah dipikul seorang diri pada orang lain. Mempercayakan semuanya untuk kebahagiaan bersama.
.
"..Hinata memberikan cokelat Valentinenya pada Ootsutsuki." Jelas Naruto dengan nada rendah. Sakura mengernyit, "Toneri-senpai maksudmu?"
Naruto mengangguk mengiyakan. Sakura mendesah frustasi. Dirinya juga jadi merasa bersalah kepada Naruto sahabatnya. Tentu saja, karena dialah yang memberitahukan Naruto bahwa Hinata akan memberikannya cokelat. Jadi bagaimanapun, Sakura merasa ikut bertanggung jawab atas patahnya hati Naruto kali ini. Salahnya tidak mengorek informasi lebih lanjut pada Hinata.
.
Sasuke hanya diam. Ia mengerti Naruto butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi melihat Naruto yang seperti ini malah membuatnya kesal sendiri. Sasuke sudah memutuskan untuk sedikit turun tangan kali ini. Ya, Selain ia kesal melihat Naruto yang terlihat lembek begini, ia juga tidak suka melihat Sakura mencemaskan Naruto daripada dirinya. Well, meskipun ia tahu tidak ada apa-apa diantara sahabat pirangnya dan Sakura, ia tetap tidak suka.
.
Set~
Naruto mengankat wajahnya. Hal pertama yang ia lihat adalah Sasuke yang menyerahkan sebatang cokelat kearahnya. Naruto bungkam. Masih menatap Sasuke dengan pandangan datar.
"Ambilah." Perintah Sasuke agak kaku. Sasuke berusaha mati-matian menjaga sikap ke-Uchiha-annya. Naruto mengulurkan tangannya meraih cokelat ditangan Sasuke. Ia menegakan tubuhnya, Namun, pandangan iris lazuardi itu masih fokus kearah cokelat yang kini berada ditangannya.
"Kau terlihat menggelikan ketika kau ragu, Dobe" Cibir Sasuke dengan nada mengejek.
"..."
.
"Asal kau tahu, Pria itu tidak pernah ragu dalam situasi apapun."
Sakura memilih diam. Karena ia cukup yakin, ini adalah percakapan antar pria. Tak selayaknya ia masuk kedalamnya. Gadis gulali ini tahu jelas. Inilah cara Sasuke membangkitkan semangat Naruto yang baru saja jatuh.
Naruto memakan cokelat yang diberikan Sasuke sembari menyenderkan dirinya ke jendela. Naruto menghela nafas.
.
Sasuke benar, ia menggelikan.
Naruto melemparkan sisa cokelatnya ketempat sampah terdekat. Ia memutar tubuh dan membuka jendela. Membiarkan angin sepoi menerpa wajah tampannya. Naruto kembali mengela nafas. Kali ini lebih berat.
Naruto menyilangkan tangannya diatas jendela, kemudian menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala.
.
"Jadi, begini yang namanya Sakit hati?" gumamnya lirih. Naruto menghela nafas-lagi-.
Oh, Naruto merasa dirinya kali ini bukan dirinya yang biasanya. Ini salah Hinata. Gadis penyebab kegalauan yang ia alami beberapa bulan kebelakang.
Kalau saja ia tidak menyukai adik dari kakak iparnya itu, keadaannya pasti tidak akan serumit ini.
.
.
"A-ano.."
Naruto terkesiap. Samar-samar ia mendengar suara gadis yang baru saja berkeliaran di otaknya. Oh, demi tuhan. Naruto merasa sudah hampir gila karena tiba-tiba mendengar suara manis nan lembut itu.
.
"Ada apa kau memanggilku kesini, Hinata?"
Baiklah, kali ini Naruto yakin, ini bukan halusinasinya semata. Bagaimana bisa suara si brengsek Ootsutsuki tiba-tiba terdengar dan membalas omongan Hinata.
Naruto menolehkan wajahnya ke kanan-dan ke kiri. Ia memajukan tubuhnya demi melihat keluar jendela.
Manik Naruto melebar. Ia menangkap siluet gadisnya dan si Ootsutsuki bajingan dibalik pohon dekat jendela dimana dirinya berada.
Ugh, pemandangan memuakan macam apa ini?! Umpat Naruto dalam hati.
.
Naruto memutuskan untuk tetap diam diposisinya. Ia ingin mendengar –atau lebih tepat disebut menguping- kelanjutan percakapan Hinata dan Toneri. Baiklah Naruto Uzumaki, pasang telingamu baik-baik!
.
Hinata menguatkan gengamannya pada bungkusan cokelat ditangannya, "A-ano.."
Toneri Ootsutsuki maju selangkah guna lebih dekat dengan Hinata Hyuuga. "Ada apa kau memanggilku kemari, Hinata?" Tanyanya sesopan mungkin.
Hinata dengan tingkahnya yang malu-malu mengulurkan bungkusan cokelat kehadapan pemuda tinggi dengan surai Silver itu.
Toneri melonjak kecil. Ia memang sudah menebak Hinata memanggilnya kemari untuk memberikannya cokelat Valentine. Tapi ternyata dalam keadaan yang sesungguhnya seperti ini membuat jantungnya berdetak tak karuan. Sulit bagi Toneri untuk tidak merona kalau saja ia tidak menggunakan semua kontrol pada dirinya.
.
Hening sejenak.
"I-Ini untukku, Hinata?" Tanya Toneri menyakinkan. Meski suaranya agak bergetar, Toneri berusaha menjaga nada suaranya sesantai mungkin. Hinata mengangguk kecil.
Toneri terkekeh. Ternyata Hinata masih belum berubah seperti dulu. Tetap manis dan menggemaskan. Gadis didepannya tetaplah Hinata yang sedari dulu disukainya.
.
Dengan mantap, Toneri bergerak mendekati Hinata. Ia menggenggam pergelangan tangan Hinata lembut. Membuat si empunya terperangah kaget lalu dengan cepat menatap pemuda tinggi yang kini berada sangat dekat dengannya. Wajah si gadis Hyuuga sudah memerah total. Bibirnya kelu. Ia bahkan tak sadar kalau ia belum berkedip hingga 1 menit lamanya.
"Hinata, Arigatou. Aku sangat senang." Seru Toneri dengan nada serendah mungkin. Nyaris menyerupai bisikan.
Lengan Toneri yang lain melingkari pinggang ramping Hinata. agar si gadis dengan surai Indigo itu lebih dekat dengannya.
Hinata tak bergerak. Lebih tepatnya ia tak mampu. Tubuhnya seolah lumpuh. Ia merasa dirinya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Begitu tangan Toneri–yang tadi digunakan si pemuda untuk menggenggam pergelangan tangannya- bergerak mengangkat dagunya secara perlahan, Saat itulah Hinata baru mengerti apa yang Toneri inginkan.
Hinata mengerti. Sangat mengerti. Hingga Toneri menempelkan bibirnya di bibir Hinata dengan lembut, tanpa sadar, Hinata memejamkan matanya.
.
.
DUAK!
.
.
Toneri tersungkur beberapa meter kebelakang. Hinata terjatuh, nyaris menubruk pohon yang berposisi tepat dibelakangnya. Hinata meringis, diusapnya sikunya yang memerah akibat berbenturan dengan tanah ketika ia jatuh tadi. Detik selanjutnya, Hinata menegadah. Dan ia hanya bisa melongo kaget mendapati sosok yang tengah berdiri dengan nafas terengah dan keringat yang bercucuran dipelipisnya. Seseorang yang ia kenal baik sebagai,
.
"N-Naruto-kun?!"
.
.
"N-Naruto-kun?!"
Naruto Uzumaki melirik Hinata melewati ekor matanya, Iris samudranya memicing garang. Membuat si gadis bergidik ngeri.
Naruto kembali memfokuskan pandangannya kearah pemuda yang tersengkur dengan pandangan yang semakin menajam emosi. "Maaf mengganggu kegiatannya, Tuan Ootsutsuki." Ujar Naruto seolah tersenyum licik.
.
Toneri Ootsutsuki berusaha berdiri sembari menyeka darah yang mengalir disudut bibirnya. Menatap balik Naruto dengan pandangan yang sama. "Aku berusaha menjaga sikapku sebagai Senpai yang baik meski kadang kau selalu mencari masalah denganku. Tapi kali ini aku sudah muak denganmu, Uzumaki." Balas Toneri dengan nafas menderu.
.
"Kh, Aku bahkan tidak sudi menganggapmu Senpaiku, Ootsutsuki." Cibir Naruto sarkatis.
"Keparat!"
Sekonyong-konyong kepalan Toneri mendarat dipipi Naruto. Membuat Naruto nyaris menghantam Hinata andai saja ia tak menjaga keseimbangannya. Naruto berlari kemudian melesatkan tendangan lurus keperut Toneri.
Toneri mencengkram kerah kemeja Naruto dan membalas si Uzumaki bungsu dengan jontosan yang tak kalah kuat dari pukulannya yang pertama.
Naruto melemparkan tinjunya telak kewajah Senpainya dengan kekuatan penuh. Tak peduli dengan teriakan Hinata yang menangis seraya memintanya berhenti.
.
DUAK!
Tendangan Toneri mendarat dengan mulus ditulang kering Naruto. Tak sampai disitu, Toneri dengan membabi buta melesatkan tonjokannya keperut si pemuda pirang hingga darah kental keluar dari mulutnya. "BERHENTILAH MEMBUAT INI TERLIHAT SEPERTI CINTA SEGITIGA!" Bentak Toneri didepan wajah Naruto.
Sepersekian detik Naruto menjontos rahang Toneri. Disusul dengan Hook kanan yang tak kalah keras dari serangannya yang sebelumnya.
"KAU LAH YANG MEMBUATNYA TERLIHAT SEPERTI ITU, KEPARAT!"
.
BUAK!
.
Naruto melayangkan tinju lurus yang tak bisa diantisipasi Toneri. Kepalan Naruto menghantam hidung Toneri dengan telak. Toneri jatuh berdebum ditanah. Naruto yang seakan lupa diri mencengkram kemeja Toneri. Iris ocean itu diselimuti oleh kabut amarah. Taka ada yang bisa menghentikannya. "Jangan pernah menyentuh Hinata." Ancam Naruto dingin.
Naruto mengangkat kepalannya. Serangan terakhir yang akan membuat Toneri Oootsutsuki jera mendekati gadisnya. Hinatanya.
.
"NARUTO-KUN SUDAH CUKUP!" Pekikan nyaring Hinata menghentikan gerakannya. Naruto menoleh kearah Hinata yang masih terduduk dibawah pohon dengan air mata yang membanjiri pipinya. Hinata menyeka air matanya kasar. Meskipun ia tahu tindakannya itu tidak berguna karena air matanya terus mengucur deras dari pelupuknya.
.
Hinata masih terisak. Bahunya bergetar hebat. Naruto yang melihatnyapun jadi tidak tega. Ia melepaskan cengkramannya di kemeja Senpainya.
.
"Hinata.." Panggil Naruto. Gadis itu semakin menundukan kepalanya. Tangisnya tak bisa berhenti. "Aku benci.." Ucap Hinata dengan suara bergetar.
Naruto melebarkan matanya ketika Hinata mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang memancarkan kekesalannya atas tindakan Naruto.
.
"..AKU BENCI NARUTO-KUN YANG SEPERTI INI!"
.
.
Naruto berjalan lunglai dijalanan Konoha city yang padat. Ini sudah jam pulang sekolah, dan Naruto memutuskan untuk pulang lebih dulu dibandingkan teman-temannya. Luka lebam yang menghiasi sebagian besar wajahnya membuat Naruto merasakan nyeri ketika angin bulan Februari menerpa wajahnya.
Selama perjalanan pulang, Naruto selalu menundukan wajahnya. Tentu saja agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang disebabkan luka yang ia dapatkan dari perkelahiannya dengan Toner–Ugh! Naruto malas mengingat kejadian tadi. Membuat moodnya yang sudah dibawah semakin merosot turun. Terlebih setelah perkelahian itu membuat Hinata tak mau dekat atau-setidaknya- mengobrol dengannya.
.
Setelah beberapa menit, Akhirnya tiba juga dia di kediaman pengantin baru Uzumaki. Ya, Rumah kakaknya Menma Uzumaki dan Hanabi Uzumaki. Huh, setelah ini, Naruto pasti akan kena omelan dari kakaknya Menma begitu dia melihat luka-luka diwajahnya.
Persetan dengan amukan Menma. Sebelum ini, Amukan Tsunade-sensei–Kepala sekolah Konoha High School- sudah ia telan bulat-bulat.
.
Baru selangkah Naruto menjejakan kakinya di teras, telinganya sudah disambut oleh teriakan Hanabi yang sepertinya sedang emosi.
"Apa katamu?!"
Naruto menyembunyikan dirinya dipintu. Berusaha mengetahui apa yang terjadi diantara kakak dan kakak iparnya. Tunggu, sejak kapan kau jadi sering menguping pembicaraan orang lain, Naruto?
"Oh, Hanabi. Tenanglah. Pekerjaanku ini tidak bisa diundur lagi" kali ini suara Menma yang membalas perkataan istrinya. Meminta pengertian.
"Aku tidak peduli. Semuanya sudah siap dan dengan seenak jidat kau mau membatalkan bulan madu kita hanya untuk pekerjaanmu yang tidak bisa kau tunda?!"
Naruto menautkan alisnya. Bukankah kakaknya sedang cuti?
.
"Kumohon mengertilah, Hana. Aku benar-benar–" "–Baiklah aku mengerti! Setelah ini ceraikan saja aku dan menikahlah dengan pekerjaanmu"
Naruto membayangkan bagaimana keadaan Anikinya sekarang. Dia yang mendengar pertengkarannya saja sudah gemetaran. Oh, benar kata Shikamaru, Wanita yang sedang marah adalah hal yang merepotkan.
.
Singg~
Tunggu, kenapa keadaan mendadak senyap seperti ini? Naruto yang merasa adanya kejanggalan lantas menelengkan kepalanya demi mengintip apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Manik Naruto melebar. Ia melihat dengan jelas saat ini Menma dan Hanabi tengah bercium–Ugh. Cepat-cepat Naruto kembali keposisinya semula. Dengan wajah yang memerah, Naruto mengumpat dalam hati. Kenapa mereka berdua harus melakukannya sekarang?! Ini kan jamnya anak sekolah pulang. Yang benar saja, kalau Hinata yang datang dan melihat hal ini bagaimana?!
.
"Tsk. Baka Aniki." Naruto menutupi wajahnya dengan tangan kanan. Ia masih terbayang. Ah, jangan berpikiran Naruto belum pernah melihat adegan ciuman. Bukan! Sebelum ini ia bahkan melihat gadisnya–Hinata- berciman dengan Toneri keparat. Tapi, umm... Pemuda Uzumaki itu belum pernah melihat ciuman yang sepanas itu. Dirinya masih terlampau belum siap melihat ciuman yang dilakukan kakaknya tadi.
.
"Tadaima."
Naruto dengan cepat mengangkat wajahnya. Ah, Hinata sudah pulang. Gawat. Ia tak boleh membiarkan Hinata masuk dan melihat adegan yang seharusnya tidak dilihat anak sepolos Hinata.
Secepat kilat, Naruto menarik Hinata kedalam pelukannya. Si gadis sempat terpekik kaget namun sepersekian detik kemudian Naruto membuangkam mulutnya dengan tangan kiri. "Sstt.. Jangan berisik, Hinata." Bisik Naruto ditelinga Hinata.
.
Hinata terkesiap. Hinata berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Naruto melingkarkan tangan kanannya diseputar pinggang Hinata, dan bibirya dibungkam oleh tangan kiri Naruto.
Gadis Hyuuga itu melepas paksa tangan Naruto. "A-apa yang sedang kau lakukan?!" Tanya Hinata takut. Ia tentu masih sedikit trauma pada saudara iparnya ini semenjak perkelahian Toneri dan Naruto tadi.
"Berhentilah bertanya! Aku yakin kau akan menyesali keputusanmu jika kau memilih untuk mengetahui apa yang sedang terjadi." Jawab Naruto tanpa melihat Hinata. pandangannya masih fokus kearah jendela. Berusaha mengintip–lagi.
.
"A-Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi." Balas Hinata. perempatan muncul dipelipis Naruto. Oh, Ayolah. Sejak kapan Hinata jadi susah diaur begini?!
Naruto menatap Hinata cepat. "Terserah kau! Kalau begitu lihatlah! Semoga kau tidak menyesal." Naruto membimbing Hinata lebih dekat kearahnya. Memudahkan Hinata melihat hal apa yang ada dibalik jendela.
.
Hinata memicingkan matanya. Semenit kemudian...
BLUSH~
Hinata merona. Seluruh kulit diwajahnya berubah diselimuti oleh rona merah seindah senja.
Melihatnya, Naruto terkekeh geli. Kemudian memfokuskan pandangannya kepada Hinata. Barulah ia sadari posisinya dengan Hinata. Ia bahkan bisa mendengar degup jantung Hinata–atau jantungnya?
Hinata cantik. Batin Naruto. Ditelusirinya rupa Hinata dengan manik Lazuardi milik Naruto.
Poninya. Matanya. Hidungnya. Pipinya. Dan berakhir pada Bibi-DEG!
.
Bibir itu yang beberapa saat lalu bertaut dengan bibir Toneri. Bibir yang seharusnya adalah miliknya seorang. Milik Naruto Uzumaki. Tak akan ia biarkan Toneri merasakan bibir itu lagi.
.
Pandangan Naruto mulai berkabut. Akalnya kembali kalah oleh nalurinya sebagai seorang laki-laki. Dan tanpa ia sadari, dngan gerakan perlahan..
..Naruto mencium Hinata.
.
=To be Contineud=
A/N: Ini udah Bieber perpanjang wordnya XD wkwkwk Chapter kali ini lebih cepet Updatenya atau sama aja? #krik# Ya, berhubung Bieber hati Bieber lagi remuk(?) Bieber jadi berselera buat nulis :') Oh, berhubung ada yang minta Hinata POV, rencana awalnya Bieber kasih waktu fic ini berubah jadi Rating M(?)
Terima kasih untuk Review/Fav/Follow nya ^^ Maaf kalau chapter ini agak amburadul. Maklum aja ya, Bieber selesain chapter ini seharian dengan hati yg remuk total(?)
Btw, apa Cuma Bieber yg ngerasa si Naruto jadi kaya Yandere gitu? -_-
Akhir kata,
Mind to Review?
