My Silky Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )
Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata
Rate : T++ Semi-M ( For this Chapter )
.
[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]
.
Notif :
-Uzumaki Naruto, 17 tahun.
-Hyuuga Hinata, 17 tahun.
-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )
-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )
.
Don't Like Don't Read
~Happy Reading Chapter 11 Minna~
.
Namaku Hinata Hyuuga. Aku adalah anak kedua setelah kakakku, Hanabi Hyuuga. Hari ini adalah hari ulang tahunku ke 16. Tou-sama mengadakan pesta perayaan untukku. Ini bukan pesta kejutan tentu saja. Karena akupun kurang suka dengan yang namanya kejutan.
"Hinataaa~"
Hanabi-neesan memelukku tiba-tiba. Ia menggesekan pipinya manja kepipiku. "A-Ada apa, Nee-san?"
Hanabi-neesan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sekilas dan kembali memelukku. Ada apa dengan Anegoku ini? Meskipun aku sempat berpikiran untuk melepas paksa pelukannya, Namun, kuurungkan niatku itu. Hanabi-neesan sepertinya terlihat senang sekali, Aku jadi tidak tega mengganggu kesenangannya.
"Ne, Hinata?" Aku tersenyum kecil, "Ya?"
Hanabi-neesan melepaskan pelukannya. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya yang memerah. Membuat surai kecoklatan pendeknya bergerak seirama dengan gerakan kepalanya. Ia kembali menatapku, senyuman masih belum lepas dari wajah Nee-san.
Ah, melihat senyuman Hanabi-neesan membuatku teringat dengan senyuman Okaa-sama. Senyuman yang sama, ramah dan lembut. Meski harus kuakui wajah Hanabi-neesan justru lebih condog mirip dengan Tou-sama.
Kakakku mendekatkan wajahnya kearah telingaku. Kemudian berbisik, "Hey, Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang! Seseorang yang spesial!"
Aku terperanjat senang. Kemudian mengangguk antusias. Hanabi-neesan menarikku cepat. Aku sedikit mengangkat rok gaun Lavenderku agar tak kesulitan mengikuti langkah Hanabi-neesan. Sesekali aku berusa tersenyum sopan kepada beberapa tamu pesta yang menyapaku. Bagaimanapun aku harus menghormati para tamu yang sudah bersedia datang kepestaku. Selain itu, Tou-sama sudah mewanti-wanti agar aku menjaga sikapku didepan banyak orang. Dan tentu saja aku menurut. Sebagai seorang Hyuuga, sudah sepantasnya aku menjaga etikaku yang sudah susah payah Tou-samaku ajarkan.
Hanabi-neesan berhenti melangkah. Aku menoleh kekanan dan kekiri. Sekarang kami sudah berada di teras depan kediaman Hyuuga. Sebenarnya aku sendiri heran kenapa kakakku membawaku kemari. Namun, begitu aku memiringkan wajah kesamping kiri Hanabi-neesan, Aku mendapati-
"Selamat malam."
-seorang pemuda dewasa dengan setelan jas rapi tengah berdiri didepan gerbang masuk. Reflek aku bersembunyi dibelakang punggung Hanabi-neesan. Kami-sama, Sifat burukku kembali muncul. Sifat pemaluku yang terlalu berlebihan ini sudah berusaha kuhilangkan. Tou-sama bilang sifat burukku itu tidak cocok dengan sifat seorang wanita Hyuuga yang seharusnya. Yang anggun. Yang menjunjung tinggi nama Hyuuga. Yang percaya diri dan tak kenal takut. Aku udah berusaha keras untuk merubah sifatku yang begitu. Tapi sepertinya, hingga sekarangpun sifat pemaluku masih juga belum hilang.
"Hinata. Jangan begitu. Kemarilah, jangan seperti anak kecil begini." Hanabi-neesan menarik tubuhku kesisinya. Kulihat pemuda tinggi didepan kami terkekeh geli. Aku menundukan wajahku yang kuyakin sudah memerah. Kuremas jemariku untuk menghilangkan kegugupan. Dan kuyakin usahaku sia-sia karena beberapa detik kemudian tawa dari pemuda dewasa didepanku itu meledak.
"Hahahaha, Kau benar Hanabi, Imoutoumu ini lucu sekali. Hahaha."
Aku tersenyum kikuk. Siapa kira-kira pemuda ini? Sepertinya ia dekat sekali dengan Kakakku. Pemuda didepanku ini berperawakan tinggi. Tingginya mungkin sekitar 180 cm atau lebih. Rambut Spikenya berwarna hitam legam dengan anak rambut yang membingkai wajahnya. Dan, juga goresan kasar seperti kumis kucing dimasing-masing pipinya. Pemuda ini juga memiliki iris Blue Ocean yang dalam. Aku sempat terpesona dengan maniknya kalau saja aku tidak cepat-cepat mengalihkan pandanganku.
Hanabi-neesan bergerak mendekati pemuda itu. Pemuda asing itupun menyambut Hanabi-neesan dengan rangkulan mesra dipinggang Kakakku. "Hinata, perkenalkan. Dia adalah Menma Uzumaki. Kekasihku." Jelas Nee-san dengan wajah berseri-seri.
"Ehh?!"
Kekasih Hanabi-neesan tersenyum lebar, Lantas menyambung perkataan Hanabi-neesan, "Yoroshiku, Hinata. Dan Selamat Ulang tahun."
Dan begitulah, Di Ulang tahunku yang ke 16, Aku bertemu dengan seorang Menma Uzumaki.
.
.
Setahun kemudian, Di awal bulan Desember. Menma-niisan mengajakku untuk bertemu dengan adiknya. Ia bilang kalau adiknya berusia sama denganku. Tapi, yang kudengar, Adik Menma-niisan adalah laki-laki. Karena itulah Menma-niisan sangat bersemangat memperkenalkanku dengan Otoutounya.
Aku dengan senang hati bersedia bertemu dengan Adik dari Menma-niisan. Karena Menma-niisan sudah kuanggap sebagai Kakakku sendiri, Aku tak kuasa menolah permintaannya. Lagipula, Hanabi-neesan akan menyusul kami begitu urusannya dengan para tertua Hyuuga selesai.
Aku mengedarkan pandanganku begitu kami memasuki Restoran Teuchi. Banyak orang disana. Meski diluar salju sudah menumpuk, kupikir itu tidak berpengaruh kepada para pelanggan di restoran ini. Jadi, aku berspekulasi bahwa restoran ini sepertinya cukup digemari.
Menma-niisan melangkah sambil menggandeng lenganku. Aku masih mengekor dibelakannya. Masih menolak untuk berjalan bersisian dengannya. Aku menangkap sosok dengan surai menyala tengah bersungut-sungut menatap Handphonennya kesal.
Kulirik Menma-niisan yang tengah menyeringai licik. Ah, Diakah adik Menma-niisan? Lalu–
Duak! "Itte!"
Menma-niisan memukul punggung pemuda dengan surai mencolok itu keras. Heh? Begitukah cara Menma-niisan dan Ototounya bertegur sapa?
"Yo! Baka Ototou!" B-Baka, Katanya?
Adik Menma-niisan berbalik dengan tampang yang ketara kesal. Perempatan tercipta dipelipis pemuda itu. "Menma-nii sakit tau! Kau pikir aku ini a-" Baiklah, Sepertinya akan lebih baik kalau aku saja yang menghentikan pertengkaran ini. "K-Konnichiwa"
Pemuda yang berstatus sebagai adik Menma-niisan itupun langsung diam. Cengo menatapku seolah aku ini adalah makhluk asing dari planet lain. Kuputuskan untuk membalas tatapannya dengan senyum kecil yang biasa kuberikan pada semua orang. Kemudian membungkuk sopan. Membuat suraiku jatuh kala aku membungkuk.
"Hoy! Ototou! Kau kenapa? Hoy!" Menma-niisan melambaikan tangannya didepan wajah adiknya. Adik Menma-niisan mengerjap dua kali sebelum kembali memasang wajah dongkol, "Tidak ada! Kau lama sekali, Baka Aniki!"
.
Hanabi-neesan sudah datang. Kupikir ia bisa lebih cepat dari ini. Apa urusan pentingnya dan tertua Hyuuga sudah selesai?
Kini, Kami berempat –Aku, Hanabi-neesan, Menma-niisan, dan Naruto-san, nama adik Menma-niisan– duduk dengan tenang. Sedari tadi aku hanya diam. Bukannya bermaksud apa-apa, Namun kurasa aku tidak punya hak bicara. Kadang aku hanya tersenyum atau tertawa kecil jika mereka melakukan hal konyol yang tidak melibatkanku.
"Oh.. Sebenarnya ada hal yang Err.. Penting yang ingin kami beritahu pada kalian." Menma-niisan kembali angkat suara. Kuprediksi topik bahasan kali ini cukup serius. Terbukti dari air muka Menma-niisan yang langsung berubah.
"A-Apa itu?" Tanyaku akhirnya.
Pasangan kekasih itupun bertukar pandang. Mengalihkan pandangan keduanya kearahku dan Naruto-san bergantian.
"Sebenarnya... Kami..." Menma-niisan menggantung perkataannya. Kenapa Hanabi-neesan merona begitu? Dan lagi, kenapa Menma-niisan jadi terlihat gugup?
.
"... Kami akan menikah.."
-kemudian, pekikan tak percaya Naruto-san pun menyusul.
.
.
Tanggal 14 Januari. Pada hari inilah Menma-niisan akan menikahi Kakakku. Persiapan sudah diselesaikan dari awal-awal bulan Desember lalu. Lamaran, Feeting baju, dan hal lainnya yang penting untuk pernikahan kedua mempelai telah dilakukan se-sempurna mungkin.
Namun sayangnya, Tou-sama tidak bisa datang dalam hari besar kakakku ini. Beliau sedang ada kepentingan diluar negeri dan diwajibkan datang. Jadi dengan berat hati, beliau pergi dan berjanji akan membelikan oleh-oleh untuk pengantin baru begitu Tou-sama pulang.
"Apakah kau, Uzumaki Menma bersedia menerima, Wanita ini, Hyuuga Hanabi, Sebagai Istrimu?"
Menma-niisan tersenyum, lantas menjawab tegas, "Aku bersedia."
Pertanyaan serupa pendeta ajukan kepada Hanabi-neesan. Dan dibalas dengan jawaban yang sama dengan Menma-niisan. Akhirnya Hanabi-neesan telah menemukan kebahagiaannya. Aku sempat menitikan air mata, namun genggaman Naruto-niisan di telapak tanganku membuat perasaanku menjadi lebih baik. Kubalas genggaman Naruto-niisan dan menggulum senyum tulus. Pipiku entah kenapa merona. Aku sudah biasa merona karena malu, namun rasanya kali ini berbeda. Dan aku tidak tahu kenapa. Senyuman Naruto-niisan justru malah membuat jantungku berdegup keras.
.
.
Mulai hari ini, Aku bersekolah di Konoha high School. Sekolah yang sama dengan Naruto-niisan. Hubunganku dan Naruto-niisan semakin baik. Dia begitu menyayangiku dan begitupun sebaliknya–meskipun aku sendiri kadang heran dengan cara Naruto-niisan menyampaikan perasaan sayangnya padaku.
"Dengar.. Kalau kita sedang berada disekolah, Jangan panggil aku 'Nii-san'. Kau mengerti?"
Sebenarnya aku bingung dengan permintaan Naruto-niisan. Maksudku, kenapa dia tidak mau kupanggil 'Nii-san'? Apa dia merasa tua gara-gara kupanggil begitu? Dan lagi, ia tidak memberi tahukanku alasan kenapa aku tidak boleh memanggilnya 'Nii-san'. Mou~ Jadi aku harus bagaimana?
"Naruto. Panggil saja aku begitu kalau kita sedang di depan umum." Begitu katanya. Ia bahkan menambahkan senyuman lebarnya diakhir. Dan –aku tidak mau bohong dalam hal ini, Tapi jujur saja, senyumannya yang cemerlang kadang membuatku linglung dan membuat darahku berdesir naik.
Baiklah, kuputuskan untuk memanggilnya...
"N-N-Naruto-kun?"
Naruto-niisan tersenyum sumringah. Ia mencubit pipiku yang merona. Membuatnya makin merona–kalau memang mungkin bisa. "Anak pintar~"
Naruto-kun melirik arlojinya. Ia menatapku dengan senyuman yang belum lepas dari wajahnya. "Kalau begitu aku duluan ya!"
Aku mengangguk. Lalu melambai. Namun selang beberapa langkah, kudapati Naruto-kun berbalik dan kembali berjalan kearahku dengan tergesa, "A-Apa A-ada yang ke-ketinggalan, Naruto-kun?" Naruto-kun mengiyakan. Dan sekonyong-konyong-
Cup
Naruto-kun mencium pipiku. Membuat orang-orang yang berlalu-lalang terpekik nyaring melihatnya.
.
.
Ino Yamanaka. Gadis yang kini kudapatkan sebagai teman pertamaku di Konoha high School. Ia mengajakku bicara setelah pelajaran Orochimaru-sensei selesai. Ino adalah gadis manis dengan surai Blonde pudar. Manik aquamarinenya juga indah. Kepribadian Ino-pun bertolak belakang dengaku. Ia cenderung supel dan banyak bicara. Ia suka sekali menggodaku soal Naruto-kun. Tapi tak masalah, aku suka kepribadiannya yang ceria.
"Nah! Kita 'kan sudah berteman! Maka beritahu aku, Apa yang terjadi diantara kalian berdua!? Kalian punya hubungan yang -Uhum, Spesial 'kan?" Pertanyaan berantai meluncur tanpa hambatan dari mulut Ino. Aku sudah berusaha membantah–mengingat Naruto-kun melarangku mengatakan status saudara iparku dengannya pada halayak publik. Namun Ino dengan lihainya mampu mengorek kebohonganku.
Dan terpaksa, "Dia adalah Saudara iparku."
.
.
Pukul Tujuh lima belas. Aku berlari menuju sekolah dengan wajah yang masih merona. Bagaimana tidak? Menma-niisan dan Hanabi-neesan malah membicarakan hal yang bisa dibilang tidak senonoh didepanku tadi.
Dan lagi, Ugh. Naruto-kun...
Aku menutupi pipiku yang sudah merona total. Aku bahkan sampai bisa merasakan panas hingga ke kupingku.
Ah, baiklah. Karena kecerobohanku tidak mengunci pintu kamar, Naruto-kun masuk ke dalam kamar mandiku ketika aku baru saja selesai membersihkan diri. Kyyaaa~ Yang benar saja. Hal ini adalah hal yang paling memalukan yang pernah kualami. Bolehkah aku mengubur diriku sendiri ditumpukan salju? Kami-sama, Kurasa aku sudah tidak lagi pantas menjadi pengantin.
Duk~
.
"Hey, perhatikan langkahmu, Nona! Jangan berjalan sambil menunduk begitu."
Ah, Aku menubruk seseorang. Aku meruntuki diriku sendiri. Hinata, Tou-sama akan marah bila beliau mengetahui anaknya melamun ketika sedang berjalan. Mana etikaku sebagai seorang Hyuuga? Huh~
Dengan cepat, aku membungkuk sopan, Lalu meminta maaf dengan mata yang kupejamkan rapat, "G-Gomennasai~ S-Saya tidak sengaja."
"H-Hinata?"
Tunggu dulu! Suara ini 'kan...
Aku lekas menegakan tubuhku. Irisku melebar. Pipiku merona. Rahangku tidak bisa kugerakkan. Orang ini 'kan..
"Hinata 'kan? Kau benar Hinata?"
Wajahku masih saja cengo. Pemuda tampan didepanku ini adalah-
"Toneri!"
-Cinta pertamaku. Toneri Ootsutsuki.
.
.
Jantungku berdebar keras ketika berjalan bersisian dengan Toneri. Pemuda ini sebenarnya adalah teman masa kecilku. Dia lahir satu tahun lebih awal dariku. Sejak dulu, aku selalu menyukainya. Dan kuyakin dia sama sepertiku. Ia bahkan pernah mengatakan dengan lantang bahwa suatu saat dia akan menikahiku di depan Tou-sama sendiri.
Bagaimana aku tidak bahagia? Toneri adalah pemuda yang selalu dipandang baik oleh keluarga Hyuuga. Kudengar keluarga Ootstsuki juga berhubungan sangat baik dengan keluarga Hyuuga. Tinggi dan beretika. Terpelajar dan juga tampan. Jadi kalaupun aku mempunyai hubungan dengan Toneri, sepertinya Tou-sama tidak akan melarangnya.
Bisa kugambarkan perasaanku sekarang. Aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku. Akupun tidak mau berbohong soal perasaanku pada Toneri.
"Kau menyukainya, Hinata?"
-dan aku ingin seluruh dunia mengetahui fakta bahwa kepada Toneri Ootsutsuki-lah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.
"Ya, Dia cinta pertamaku"
.
.
Valentine day. Terima kasih kepada Sakura-san yang telah mengingatkanku. Aku tak punya banyak waktu. Sebisa mungkin aku harus menyelesaikan cokelatku hari ini juga.
Ctek~
"Eh?"
Aku menoleh. "Hinata?"
Ah, Naruto-kun ternyata. Benar juga, hari ini adalah jadwalnya Latihan basket pagi. Naruto-kun pasti berusaha keras. Tidak heran dia memiliki banyak fangirls. Harus kuakui, kalau aku tidak bertemu Toneri beberapa pekan lalu, aku pasti sudah menjatuhkan hatiku pada Naruto-kun. Hihi.
"Bagaimana kalau Gateaux Chocolat? Aku sih suka itu. Hahaha"
Aku memasang pose berpikir. Gateaux Chocolat sepertinya tidak buruk juga.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, Hinata. hari ini ada jadwal basket pagi."
Aku ikut menatap jam dinding. Lantas berkata, "A-Apa tidak terlalu pagi? Sudah sarapan?" Naruto-kun menepuk jidatnya. Ia mengambil beberapa potong roti dan mengambil apron yang tergantung tidak jauh darinya. "Aku senang kau ingatkan, Hinata."
Sret~
Naruto-kun merendahkan tubuhnya. Dan memasangkan apronnya kesekeliling tubuhku. Posisi yang sama seperti memeluk seseorang. Ya Tuhan, Aku bahkan belum pernah memeluk siapapun selain Tou-sama. Tubuhku kaku. Wajahku panas. Aku bahkan bisa mencium harum tubuhnya.
Deg!
Debaran ini datang lagi. Tubuhku selalu aneh kalau berdekatan dengan Naruto-kun. Apalagi ketika kulitku dan kulit tan miliknya bersentuhan. Ini aneh. Berbeda dengan saat aku berdekatan dengan Toneri. Jika dengan Naruto-kun, tubuhku selalu mengkhianatiku.
Naruto-kun berdiri tegak didepanku. Iris ocean yang kusukai itu menatapku lekat. Aku tersihir oleh senyuman yang selalu kudambakan dalam sekian detik.
Cup~
Begitu sadar, Naruto-kun mengecup punggung telapak tanganku. Aku terperangah. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu katapun dari bibirku. "Ittekimasu, Hinata."
Setelah itu, yang bisa ditangkap otakku hanya punggung Naruto-kun yang perlahan menghilang dibalik pintu.
.
.
Aku menghela nafas frustasi. Aku sudah meminta bantuan Naruto-kun untuk memberikan cokelatku pada Toneri. Tapi, dengan halus, Naruto-kun menolaknya.
"Cokelat Valentine tidak akan berarti jika tidak diberikan oleh pemiliknya." Begitu katanya.
"..."
"Berjuanglah, Hinata..." Hatiku bergemuruh. Naruto-kun tersenyum. Kali ini berbeda. Ini bukanlah senyuman Naruto-kun yang biasanya. Melihat senyuman Naruto-kun kali ini malah membuat hatiku sakit tak ketara. Dadaku sesak. Entah karena apa.
"...Aku mendukungmu."
.
.
Akhirnya aku berhasil memberikan cokelatku pada Toneri. Aku bahkan tidak bisa menahan senyumanku. Saking senangnya, aku ingin berteriak andai saja aku tidak sadar kalau aku ini seorang Hyuuga.
"Hinata, Arigatou. Aku sangat senang."
Aku tersenyum kearahnya. Kurasakan lengan Toneri melingkar di pinggangku. Wajahnya mendekat kearahku. Aku paham apa yang ia inginkan. Aku tak menolak. Aku tahu ini yang aku inginkan. Aku mengepalkan tanganku. Sekelebat bayangan seseorang melintas diotakku secara tiba-tiba.
Wajahnya, Matanya, juga senyuman yang selalu kudambakan. Tidak! Yang sekarang ada didepanku ini adalah Toneri. Orang yang sejak dulu kucintai. Aku tak mungkin membayangkan pria lain ketika orang yang kucintai akan menciumku. Aku meyakinkan diriku berkali-kali. Inilah yang aku inginkan. Tonerilah yang aku mau.
Aku menutup mataku ketika bibir Toneri menempel dibibirku.
.
'Naruto-kun'
.
DUAK!
Aku terjatuh kebelakang. Tubuhku seolah didorong oleh tubuh seseorang yang lebih besar. Aku meringis sakit. Kemudian terbelalak ketika irisku menangkap visual Naruto-kun yang terlihat berbeda dari biasanya. Menakutkan dan terlihat liar.
"N-Naruto-kun?!"
.
.
Naruto-kun! Aku berteriak memanggil namanya. Dia bahkan tak memperdulikan tangisanku. Ia masih menghajar Toneri dengan membabi buta. Pandangannya gelap dan menajam. Bunyi benturan nyaring terdengar kala pukulan Naruto-kun mengenai sasarannya. Pukulan saudara iparku seakan tak ada hentinya. Ia terlihat marah, tidak terima, dan kecewa.
Buliran air mata terus keluar dari pelupukku.
'Berjuanglah, Hinata...' Padahal ia sendiri yang mengatakannya.
'...Aku mendukungmu.' Mendukung, katanya? Apanya yang mendukung kalau begini caranya? Ini bukan Naruto-kun! Aku tidak mengenal Naruto-kun yang seperti ini.
"NARUTO-KUN SUDAH CUKUP!" Kali ini aku berteriak lebih keras. Nafasku tersenggal. Air mata masih membanjiiri pipiku.
Naruto-kun menghentikan pergerakannya. Ia menghempaskan Toneri begitu saja ditanah. Ia memandangku. Tatapan manik ocean itu kembali seperti semula. "Hinata.."
"Aku benci.." Bisikku lirih. Aku memeluk tubuhku sendiri. Mengangkat wajah dan menatap Naruto-kun kesal, "..AKU BENCI NARUTO-KUN YANG SEPERTI INI!"
.
.
"Hinata, Sungguh, Naruto benar-benar meciummu? Maksudku, kalian berciuman?!" Ino bertanya dengan nada mendramatisir. Wajahku memerah. Menutup wajahku dengan telapak tangan. "K-Kau tak perlu mengatakannya sejelas i-itu, I-Ino."
Benar, Naruto-kun menciumku. Aku tidak berhalusinasi. Saat itu, bibir kami saling bertaut. Dan aku tahu itu nyata. Aku bahkan masih ingat bagaimana nafasnya yang mengenai wajahku. Bibirnya yang mengecup bibirku singkat. Pelukan erat ketika ia mendekapku. Aroma citrus yang menguar dari tubuhnya. Bertubrukan dengan aroma Lavenderku.
Aku bahkan belum bisa melupakannya. Setiap detiknya seolah tercetak dengan permanen didalam otakku.
"Lalu bagaimana dengan Naruto?" Ino bertanya lagi.
"Dia jadi pendiam begitu–" " –Tidak. Maksudku, bagaimana dengan perasaanmu pada Naruto sekarang ini, Hinata? Ayolah, kau bahkan tidak pernah terlihat sesedih ini, Hime."
Aku mengerjap, "Maksudmu?" Ino mendengus bosan. "Kau itu terlalu naif. Cobalah untuk lebih terbuka pada dirimu sendiri. Sudah jelas Naruto menyukaimu."
"!"
Blush~
Aku berusaha menutupi rona merahku. "A-Apa M-maksudmu I-Ino?" Tukasku.
Ino balik menatapku. Ekspresi wajahnya berubas serius. Ino menatapku tajam, kemudian berkata, "Tidakkah kau sadar? Naruto menyukaimu, Hinata."
Aku menatap Ino tanpa sedikitpun berani mengeluarkan suara ataupun sekedar bantahan. Ingin rasanya aku membantah perkataan Ino. Tapi itu tidak mungkin. Yang kucintai itu Toneri. Tidak mungkin aku mencintai saudara iparku sendiri. Tidak. Akan ada banyak maslah setelahnya. Aku harus membantahnya.
"A-Aku.." Ino tersenyum kecil, "Hinata, kau tahu. Cinta itu seperti membuktikan langit itu biru dan samudra itu luas, sulit untuk menjelaskan namun memiliki arti yang dalam."
Semilir angin menerpa wajahku. Menerbangkan helaian indigo bersamaan dengan daun gugur yang jatuh terbawa angin. "Tapi aku mencintai Toneri, Ino" Pada helaan yang panjang sebelum mengakhiri perkataan, hatiku berteriak mengatakan bahwa kepada pemuda pirang itulah aku jatuh hati.
"kau tidak bisa berbohong, Hinata. semua terlihat jelas dimatamu." Kata Ino sembari tersenyum. Ia berdiri dan menautkan tangannya kebelakang tubuh. "Satu pesanku Hinata, Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Be what you can be."
.
.
=Normal POV: ON=
.
Tak terasa mentari mulai melelapkan senja. Malam, rindu ini menemani Naruto dan Hinata disunyi malam. Pemuda itu masih memangut bibir sang gadis dengan rakus. Menyalurkan kerinduannnya yang sekian lama ia tahan.
"Aku merindukanmu, Hinata. Ya, rindu, Dan sekelebat ingatan tentangmu. Aku mencintaimu seikhlas doaku, Hinata." Bisik Naruto disela ciumanya. Pelukan Naruto pada tubuh gadisnya makin erat. Membuat gadis bermarga Hyuuga itu sedikit terengah dalam kukungan pemuda itu. Hinata menangis, ia akhirnya bisa jujur pada perasaannya sendiri. Dan Naruto juga merasakan hal yang sama. Ia bersyukur karenanya.
Karena meskipun pendiam dan terlihat tabah, Hinata tak percaya dengan 'cinta tak harus memiliki'. Yang benar saja, bagaimana mungkin kita mencintai seseorang yang tidak kita miliki? Konyol.
Sekelebat perkataan Ino kembali terngiang diotaknya.
'Cinta itu seperti membuktikan langit itu biru dan samudra itu luas, sulit untuk menjelaskan namun memiliki arti yang dalam.'
Ino benar. Ia mencintai Naruto. Dan ia ingin pemuda itu tahu.
Hinata melepas ciumannya. Naruto sempat menolak, namun ia paham, gadis ini butuh oksigen untuk kembali melanjutkan. "Naruto-kun.."
Air mata Hinata masih juga belum berhenti. Naruto mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Namun, hal itu malah membuat tangis Hinata makin pecah. Ia terlalu senang. Ia bahagia. Perasaannya pada Naruto berbalas. Kebahagiaan apalagi yang pantas diterimanya?
"S-Sekian banyak yang ingin kukatakan tak terkatakan, Sekian banyak yang ingin kuadukan diambil alih oleh air mataku."
Naruto bungkam. Perasaannya membuncah. Dengan cepat, Uzumaki bungsu itu mencium gadisnya lagi dengan menggebu. Membiarkan Hinata mengetahui perasaan melalui ciuman itu. Karena Naruto sendiripun bingung bagaimana caranya mengekspresikan perasaan senangnya saat ini. Jadi, ia memilih untuk melakukan apa yang ia pikirkan ketimbang mengatakannya.
Hinata meremas kaos yang Naruto kenakan. Ia menutup mata-nya rapat-rapat. Tubuhnya panas. Keringat rasanya sudah bercucuran menuruni pelipisnya.
'Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.'
'Be what you can be.'
Hinata menginginkan Naruto. Sebagaimana Naruto menginginkan dirinya.
Hinata berjinjit. Ia membalas ciuman pemuda itu dengan gerakan sepelan mungkin. Namun, tentu saja Naruto menyadarinya. Ciumannya dibalas, terlebih Hinata sedikit membuka mulutnya. Ia senang, tentu saja.
Tapi, ini bukanlah saat yang tepat untuk senang. Dengan cepat, Naruto mengikut sertakan lidahnya. Melesakan lidahnya kedalam rongga mulut Hinata. Mengabsen gigi gadis itu satu persatu. Bertukar saliva dan membiarkan miliknya bergulat dengan milik Hinata.
Pangutan Naruto beralih. Dengan mata yang setengah terpejam, Naruto mengecup mesra kening Hinata yang ditutupi poni. Detik kemudian, kecupan-kecupan lainnya menyusul. Di kedua pipinya. Kedua matanya. Hidungnya. Dan kembali ke bibirnya.
Hinata merasa dirinya sudah benar-benar tenggelam dalam pesona Naruto Uzumaki. Air mata entah sejak kapan berhenti membasahi pipinya. Dunianya seolah runtuh. Hinata tak kuasa menahan euforianya. Gadis itu melingkarkan lengannya kesekeliling leher Naruto. Berusaha mengimbangi ciuman si pemuda blonde. Berkerja sama memperdalam ciuman keduanya.
Naruto semakin merendahkan tubuhnya. Ia mengecup leher gadisnya dengan penuh penghayatan. Membuat gadisnya mengerang lemah.
Naruto mendesah ditengkuk gadis itu. Ia menghujani leher Hinata dengan ciuman dan jilatan yang lembut. Sementara tangan tan itu mulai bergerak kebawah punggung sang gadis. Hinata merintih sembari meremas kaos Naruto lebih erat.
Cahaya yang menyusup kedasar jiwa dimana Naruto berkaca tentang keniscayaan kasih gadis itu. Tersesatlah Naruto dilingkar matanya. Cinta gadis itu bagai labirin yang tak pernah ingin Naruto temui jalan keluarnya.
Hinata. Semula malam Naruto ganjil tanpanya. Tapi sekarang kunjung digenapkan oleh kehadirannya. Malam sudah larut, dan Naruto mulai dipecundangi nafsunya akan Hinata.
Hinata memeluk Naruto lebih erat. Rintihannya sengaja ia tahan. Pemuda itu bergairah. Hinata dengan jelas bisa merasakannya. Karena ia pun sama bergairahnya. Tubuh Hinata bergetar kala sebelah tangan Naruto mulai membuka kancing piyama-nya satu persatu.
Naruto berusaha menenangkan gadisnya dengan sebuah ciuman panjang yang memabukan. Naruto menginginkan Hinata lebih dari sekedar yang bisa ia katakan. Hinata membuatnya gila. Dan ia menyukai bagaimana cara gadis itu membuatnya gila, bahkan tanpa Hinata sadari. Getaran arus listrik Naruto rasakan ketika kulitnya menyentuh kulit perut Hinata yang telanjang. Membuat tubuhnya menggelinjang penuh gairah.
Naruto melepaskan ciuman panjangnya. Saliva menghubungkan bibir keduanya. Dengan mata setengah terbuka, Naruto dapat melihat dengan jelas wajah cantik Hinata yang sudah memerah dan manik Lavender yang diliputi kabut nafsu.
Naruto Uzumaki telah berhasil melepaskan seluruh kancing piyama gadisnya. Ia melepaskan piyama Hinata Hyuuga dengan mulus. Hinata membuang mukanyanya malu. Naruto tersenyum, mengangkat dagu gadisnya. Menempelkan bibirnya ke bibir pink Hinata. Menggoda dan mengulum lidah gadisnya tanpa henti.
Naruto mendekat tubuh Hinata lebih erat. Mendorong pelan tubuh Hinata mendekat kearah tempat tidur King size miliknya.
Hinata dan Naruto menjatuhkan dirinya di tempat tidur dengan bibir yang masih belum terpisah. Naruto mengamit lengan gadis dibawahnya, saling mencengkram. Hinata terengah begitu Naruto melepaskan bibirnya. Menatap iris ocean pemuda yang berbaring diatas tubuhnya dalam.
"Hinata.." Panggil Naruto diselingi napas yang menderu.
Naruto mencintai gadis ini. Ia tak mau lagi menjadi pecundang. Harus ia katakan pada gadis ini betapa ia mencintainya. Namun itu ternyata lebih sulit dari apa yang ia rencanakan. Oh, Butuh khusus merangkai kata-kata untuk bicara, Maka ia katakan, "Hinata... Aku mencintaimu, sama besarnya –ah tidak, bahkan lebih dari cintamu untukku. Karena itu... Aku ingin menjadi raja yang duduk disinggasana kerajaan hatimu. Jadi dan hanya jika kebahagiaanmu adalah cinta.. maka izinkan aku turut dalam kebahagiaanmu itu."
Hinata terpaku. Tubuhnya yang setengah telanjang membatu. Ia ingin menangis, kebahagiaan mengguyur tubuhnya. Dengan wajah memerah, Hinata menyunggingkan senyuman termanisnya.
"Dengan senang hati, Tuan raja."
Dan mulai saat itu, semua hal yang berubah menjadi lebih berubah dalam hal cinta. Sunyinya malam dan pekatnya kegelapan menjadi saksi akan dimulainya cinta keduanya. Cinta seorang Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuga.
=To Be Contineud=
A/N: Berkat kalian semua, Bieber Update Kilattt! XD Fiuh, *Peres keringat*(?) Susah juga bikin Fic kaya gini. Ini pertama kalinya Bieber bikin fic rating kaya gini -_- Maaf kalau banyak cacat dimana-mana atau garing (TT^TT) Bieber gak sanggup lanjutin kalau sampai adegan *uhuk* #Dibanting
Gimana? Flashback versi Hinata-nya Bieber potong habis-habisan. Bieber udah panjangin word nya loh ;) Jadi, jangan ada kecewa :(
Ratingnya bener kan? Semi M atau T++? Atau udah masuk M? XD Uohohoho, gimanapun, segini aja Bieber udah banting otak XD(?) Maaf kalau mengecewakan
Arigatou Reviewnya, Bukan Bieber gak mau balas review kalian ( TT^TT)/ Cuma, kayanya kepanjangan-_-
Bieber juga gak pernah ngedit fic yg mau publish -_- Jadi mohon bantuannya mencarikan typo yang bertebaran ya! ^^
Arigatou untuk yang sudah Review/Follw/Fav fic ini ( TTwTT)7 #Ojigi
Oh iyaaa, Karena bulan puasa sudah datang, Bieber sekeluarga ucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan! Mohon maaf lahir batin! ^^
Akhir kata,
Mind to Review?
