Hold me
Cast :
Super Junior Member
(Lee HyukJae)
(Lee DongHae)
and some cast from another group
Pair :
Actually HaeHyuk (YAOI)
Rate :
T
Genre :
Romance
*Sebelum masuk ke cerita, saya ingin menjelaskan beberapa hal. Reader tentu masih ingat kalau ini FF HaeHyuk bukan ?, So, Adanya Kibum jangan terlalu dipikirkan sehingga membuat beberapa reader ingin meninggalkan cerita saya. Sebenarnya tidak masalah, jika memang tidak menyukai cerita saya, jangan dipaksakan untuk membaca.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Hyukkie.. yeoppo.. Ha..ha..ha..",
"Babo !, Kau ini seperti orang gila saj—"
.
GREP
.
Donghae terbangun dan menindih Eunhyuk dengan cepat,
"Wae—waee ?", Eunhyuk sedikit takut melihat seringai Donghae. Donghae juga menatapnya dengan intens.
"Donghae jangan begini, Kau menakutk—"
.
~Chup
.
Sluuurrrp
.
"—kannhh.. mmhhh.. Haeehh… lhepp—phassshh…",
.
.:. Hold Me .:.
.
~Flashback~
.
"Tahu kesalahanmu ?", suara wibawa namja paruh baya terdengar sedikit menakutkan oleh salah satu namja lain yang dituju. Menunduk, hanya itu yang dilakukannya, bukan ia sangat ketakutan, tapi ia tengah memutar otak untuk setiap kata yang akan ia keluarkan. Ia memikirkan praktis yang mungkin membuat namja paruh baya di depannya percaya.
"Jawab Appa !", Masih terdengar menusuk telinga walaupun tidak ada nada tinggi di sana.
"Mian Appa..",
"Donghae, Kau sudah dewasa.. hanya Kau saja tapi bukan Hyukkie, Hyukkie tidak mungkin bertingkah demikian jika tidak ada pengajarnya, Dan tidak ada tuduhan pada yang lain selain padamu",
"Mian Appa.. yang di meja makan tad—"
"Ini bukan etika di meja makan, yang menjadi masalahnya… Sudah berapa kali ?",
"Maaf ?",
"Berapa kali kalian pernah berciuman…. Bibir ?",
"Appa !", Donghae merasa Ayahnya terlalu frontal, Oke ia menyadari satu kesalahannya hari ini. Ia membenarkan tuduhan Appanya sebagai pengajar Hyukkie atas tindakan sekilas yang terjadi di meja makan yang tiba-tiba bibir Hyukkie menempel dengan begitu singkat pada miliknya, terlebih ada kedua orang tuanya di sana.
"Tidak akan ada tamparan dari Appa, hanya saja.. belum saatnya Kau mengajari hal yang demikian pada Hyukkie nak, Dia bukan Kau yang bisa menggunakan sesuatu harus pada tempatnya..",
'Belum saatnya…', Donghae memikirkan dua kata yang keluar dari Hanggeng, Apa itu seperti sebuah restu ?.
"Atau mungkin memang bukan Kau yang tepat untuk mengajarinya". Namun, terusan kalimat ini membuat Donghae enggan mempermasalahkan restu yang sempat ia singgung.
.
~Flashback End~
.
.:. Hold Me .:.
.
"Apa yang Kau katakan pada Donghae ?",
"Aku mengatakan bahwa ialah yang sebenarnya Appanya Minho",
"Siwon, Kau tidak waras !", Tuduh namja yang lebih pendek dari Siwon.
"Sayang Ayolah… Aku hanya bercanda", Siwon membelai pipi putih istrinya.
"Tapi Kau keterlaluan.. Kau tahu sendiri bahwa ia mudah percaya…",
"Dan Aku hanya mengerjainya, Sayang",
"Sungguh Kau gila, masa bodoh dengan kejailanmu… Kau ingat bukan waktu itu Aku bangun dengan siapa ?, Dia pasti berpikir bahwa yang Kau katakan benar",
"Aigoo.. istriku ini.. Kau seperti ingin sekali menekankan bahwa Minho adalah anakku",
"MEMANG BEGITU BODOH !",
"Bummie~.. Kau bisa membangunkan Minho, sungguh..", Siwon menjeda kalimatnya dan menoleh ke samping kirinya, memastikan namja kecilnya tidak terbangun.
"Aku juga tidak tahu bagaimana Kau bisa terbangun dengan pengecut itu.. padahal malamnya Akulah yang membuatmu mendes—",
"CUKUP !, Jangan berbicara kotor Siwon !",
"Ck.. Kau tahu sekali kalau Aku akan melakukannya", Siwon mendekati Kibum dan membawa Kibum dalam pelukannya.
"Kalau memikirkan beberapa tahun lalu.. Aku merasa bersalah telah merebutmu dari Donghae",
"Kau memang bersalah karena itu.. tapi Donghae juga tidak pernah berubah… Dia terus bermain-main dan tak pernah sekalipun melihatku",
"Hei.. Kenapa Kibum ku jadi bernostalgia tentang mantannya begini.. padahal suaminya tengah memeluknya", Siwon mengejek Kibum dengan menambahkan itensitas eratan di pelukannya.
"Untuk itu.. Aku memilihmu",
"Terimakasih sayang.. karena pilihanmu tepat",
"Lalu bagaimana dengan namja manis yang datang dengan Donghae tadi.. Apa ia telah merubah Donghae ?",
"Namja manis itu membuat Donghae akhir-akhir ini menjadi tidak berminat dengan yeoja",
"Apa Kau mengatakan namja itu manis ?",
"Sangat..",
"YA KAU !.. Bagaimana bisa Kau mengatakannya di depan istrimu ?", Siwon tersenyum jahil mendengar nada cemburu Kibum.
"Shhht.. sudahlah, sayang.. ini sudah malam, Ayo kita susul Minho..",
"Jangan lupa untuk menjelaskan pada Donghae secepatnya",
"Itu masalah gampang", kemudian Siwon membawa Kibum mendekat pada ranjang yang tengah anak mereka gunakan sebagai alas.
.
.:. Hold Me .:.
.
~Polarise SHS~
.
Sebenarnya hari ini sama seperti sebelumnya, pagi yang membuat Eunhyuk harus bangun sebelum fajar menampakkan dirinya dan berangkat ke sekolah yang membosankan. Perbedaannya, jika ia biasanya harus berjalan diiringi makhluk tampan yang mampu menghisap perhatian yeoja-yeoja di sekolah, kini ia harus berjalan tanpa tampan tersebut. Menunduk, sama seperti biasa ketika Eunhyuk bertemu dengan orang asing, walaupun kenyataannya mereka yang melewatinya adalah teman satu sekolahannya sendiri.
Mata kecil Eunhyuk menatap siluet teman-teman yang biasa berkumpul dengannya, bukan dari arah yang berlawanan, namun dari lorong samping kanannya. Eunhyuk sudah berani mengangkat kepalanya, bibirnya tertarik bersiap untuk menyambut dengan senyuman manisnya, tangannya pun juga mulai terangkat untuk menyempurnakan sapaan melalui lambaian.
"ANYy—eong !", sumbang, jika ini sebuah nada. Obyek sapaan Eunhyuk adalah Taemin, Krystal dan juga Kai. Taemin yang dibarisan pertama, matanya sengaja ia alihkan seperti takut saat melihat Eunhyuk. Nyali Eunhyuk pun ikut menciut, kenapa Taemin seperti menghindarinya. Ingin menyapa Krystal dan Kai pun juga tidak berani Eunhyuk lakukan. Mereka berdua asyik dengan pembicaraan yang sulit untuk diricuhkan sepertinya. Ketiganya berjalan melewati Eunhyuk tanpa sapaan bersahabat seperti biasanya. Dengan berat hati, Eunhyuk mengikuti mereka bertiga jauh di belakang dengan langkah kecil nan lemah.
Beberapa menit kemudian barulah Eunhyuk memasuki kelasnya, ia melirik bangku Taemin, namja manis itu tengah menenggelamkan kepalanya di bangku, sedangkan Krystal juga Kai masih asyik dengan obrolannya. Eunhyuk berjalan ke bangkunya sendiri dengan sedikit canggung. Entah perasaannya sendiri atau memang yang sebenarnya terjadi…
'Kenapa mereka semua memperhatikanku…',
"Hei.. itu Eunhyuk, Kau tahu Aku jadi sedikit takut dekat dengannya..",
"Aku juga, jangan-jangan Kita sentuh saja, ia langsung berdarah lagi..",
"Benar..benar, Dia sangat lemah ya ternyata..",
"Dan apa kalian tahu.. Dia selalu merepotkan Donghae sunbae..",
"Donghae sunbae jadi terlihat seperti bodyguardnya saja..",
.
TES
.
Begitu kristal bening jatuh dari mata mininya, Eunhyuk mengalihkan pandangan ke jendela di sebelah kirinya. Ia berani bersumpah, ini sakit sekali, menahan tangis semakin membuat dadanya sesak. Satu kata yang ia butuhkan sekarang, hanyalah…
'Donghae…',
Satu tangan Eunhyuk mengusap lelehan air matanya dan satu lagi menggenggam perak yang ada di lehernya, tanpa berniat menekan tombol yang ada di sana.
'Mereka tidak menyukaiku Hae-ah..',
'Aku memang merepotkan..',
Jam pertama hingga ke empat, tanpa diketahui oleh teman-temannya Eunhyuk terus saja meneteskan air mata, ingin ia berlari dari kelasnya, tapi itu tidak mungkin, teman-temannya justru akan berpikir bahwa ia gila dan tambah menjauhinya.
"Krys.. Kai.. Ayo ke kantin..", Ajak Taemin dengan sedikit tidak bersemangat, matanya menatap iba Eunhyuk yang sedari pelajaran berlangsung tidak lepas dari luar jendela. Sungguh, ia berniat mengajak namja manis tersebut, tapi ia begitu takut, takut bahkan hanya dengan menyentuh bisa melukai Eunhyuk lagi, pikir Taemin.
"Geure.. Ayo", dengan reflek yang cepat Kai berdiri dan merangkul bahu Taemin.
"Eiii.. Kalian melupakan Eunhyukkie eoh… Hyukkie ayo kita ke kantin !", Krystal berbalik melihat Eunhyuk yang juga tengah menatapnya sendu.
"Heum ?", Eunhyuk tidak terlalu mendengarkan perkataan Krystal, hanya namanya saja yang masuk ke pendengarannya.
"Kau begitu lemas hari ini… Kita bertiga akan ke kantin, Ayo ikut dengan kami..",
"Ak—aku..", Eunhyuk bingung apa ia harus menerima atau menolak ajakan tersebut, namun sebelum ia sempat menentukan pilihan, sebuah suara menyahut dan diikuti oleh suara yang berbeda.
"Hei Krys.. Kau masih berani mengajaknya ?",
"Iya, Kalian bertiga lupa apa yang terjadi dengannya kemarin..",
"Bisa-bisa hanya kalian ajak berbicara saja, dia akan mimisan lagi..",
"Taemin, Apa Kau berniat mengajaknya juga ?, Kau mau dituduh mencelakakan orang lagi, cih..",
"Benar, Aku kasihan denganmu sebenarnya, bukan pada namja penyakitan itu".
.
TES
.
Lagi peluh air mata Eunhyuk keluar, ketiga orang di depannya tentu melihatnya. Keterlaluan sekali menyebut Eunhyuk seorang penyakitan.
"Kka—kalian..hiks.. dulu—hikss..duluan saja.. Ak—aku..hiks.. membawa bekal kok",
Bohong, ia tidak pernah membawa benda yang isinya mengenyangkan itu dan bohong jika ia sekarang tidak lapar, hanya seperempat sandwich yang ia gigit tadi pagi.
"Annia, Hyu—", Ketiganya dengan Taemin mendekat ke arah Eunhyuk, siapa yang tega melihat temannya dihina dan menangis seperti Eunhyuk. Tangan Eunhyuk menjulur ke depan, seperti meminta ketiganya untuk berhenti.
"Nan gwanchana.. pergilah !",
"Tapi..",
"Jeongmal.. Kalian lapar bukan ?", Eunhyuk tersenyum di akhir, walaupun air matanya masih sempat meleleh.
"Arraso.. Kami segera kembali", Krystal menarik Kai dan Taemin, ia berpikir mungkin Eunhyuk memang ingin sendiri.
.
.
"JANGAN BERANI MENGGANGGU DAN MENGHINA HYUKKIE HYUNG LAGI !, KALAU KALIAN MELAKUKANNYA…",
Taemin yang melakukannya, sebelum ia sempat meninggalkan pintu. Ia menjeda ultimatumnya, ia tidak mungkin mengatakan 'Kalian akan berhadapan denganku..', karena ia hanya berbeda satu angka dari Eunhyuk.
"Eee.. KALAU KALIAN BERANI MELAKUKANNYA, ddo—DONGHAE HYUNG… KALIAN AKAN BERHADAPAN DENGANNYA !".
Masuk akal karena memang Donghae alasan yang tepat untuk membuat gertakan pada teman-teman kelasnya. Taemin juga masih sempat membubuhi senyuman dan lambaian manis pada Eunhyuk sebelum pergi.
.
.:. Hold Me .:.
.
Drrrt...Drrrrt
.
.
Benda canggihnya bergetar tepat di samping kepalanya. Mau tidak mau, tidur panjangnya terusik, seperti terbangun pada pagi hari biasanya yang pertama kali dicari adalah Smartphone nya, biasanya untuk mematikan alarm. Tapi sepertinya ada tujuan lain dari getar handphone tersebut, panggilang masuk mungkin.
"Ahh.. Kepalaku..", tangan kirinya terbawa untuk menyentuh kepalanya dan mengaduh berat sedangkan yang kanan mencari mana yang harus ia geser pada screen smartphonenya.
"Yeoboseyo..", Suara khas orang bangun tidur.
"Donghae, Kau tidak ke sekolah ?",
"Brengsek !, Kau yang membuatku tidak bisa berangkat… Auuh.. kepalaku..", Suara di seberang terdengar terkekeh merendahkan.
"Kau yang menerima tawaran ku minum, pe-nge-cut !",
"Katakan Apa maumu !, Kau hanya membuang waktuku",
"Temui Aku di parkiran belakang jam 4 nanti",
"Untuk Apa ?",
"Datang saja !, Kau mau bibir adikmu sebagai taruhan ?",
"BRENGSEK !". Mata Donghae membelalak sempurna, Eunhyuk selalu sukses membuat ia mengganti kepribadian menjadi bad, walaupun terkadang juga good boy, tapi hanya sedikit.
"Aish.. sudah jam 10… percuma juga Aku bangun sekarang…", Donghae memperbaiki selimut yang tidak sepenuhnya menutupi tubuh tanpa atasannya dan kembali berbaring, sedikitpun ia tidak bertanya dimana atasanya atau siapa yang melepasnya. Khawatir akan orang tuanya yang tiba-tiba datang pun juga tidak.
.
.:. Hold Me .:.
.
Ancaman Taemin berefek juga untuk teman sekelasnya, tidak ada yang berkomentar menjengkelkan seputar Eunhyuk lagi, tapi bukan berarti mereka bersikap manis pada Eunhyuk, sedikitpun mereka tidak memberikan perhatian pada namja manis itu. Dan Eunhyuk berakhir di ruang kesehatan, bukan karena ia jatuh pingsan atau sakit lagi. Melainkan paksaan menyebalkan dari Sungmin.
"Hyukkie.. ayolah ceritakan pada Hyung.. Kenapa matamu jadi menggembung begini.. Kau jadi jelek kan.. Apa ada yang menjahilimu ?.. ayolah katakan pada Hyung..",
"Tidak ada kok.. Aku tidak apa-apa, Sungmin hyung saja yang berlebihan",
"Oke.. banyak sekali pertanyaanku padamu..",
"Tentang ?",
"Ehm.. pertama Kenapa Donghae tidak masuk ?.. padahal seminggu lagi sudah ujian akhir dan Ya ampun.. apa-apaan style mu di hari yang panas ini dengan syal bodoh itu… Kau tidak kepanasan ?", Sungmin dengan sengaja dan tanpa berpikir ulang menarik syal ungu yang digunakan Eunhyuk.
"Jangan Hyung !", Eunhyuk ikut mencegah syal tersebut terlepas dari leher bersihnya.
"Mwo ?, Wae ?",
"Eee.. it—ituu.. tidak apa-apa sih.. ehm.. Aku hanya ingin memakainya saja",
"Bohong !.. Coba lepas kalau tidak apa-apa", Sungmin memerintah dengan penuh selidik.
"Shireo !", Bibir Eunhyuk ikut mengerucut.
"Lepas dan katakan pada Hyung !", Sungmin mendesak Eunhyuk dengan tatapan tajamnya.
"It—itu.. ehm.. Donghae menggigitku dda—dan..", Eunhyuk menjeda ucapannya sembari menarik syal yang menutupi ehm.. ralat jika tadi adalah leher bersih, ini sepertinya masih bersih, hanya saja terdapat kemerahan aneh yang mengganggu mata.
"Astagaa..", Sungmin menutup bibirnya setelah melebarkannya.
"Dan ini tidak bisa hilang.. padahal waktu mandi Aku sudah menggosoknya sampai mau berdarah dan tetap tidak mau pergi tandanya.. Hyung, menurutmu Apa Aku perlu pergi ke Dokter kulit.. Kalau tetap begini leher ku jadi tidak cantik", Eunhyuk mengadu panjang lebar dan demi setiap kata yang dikeluarkan Eunhyuk sukses menumbuhkan keinginan Sungmin untuk membunuh Donghae.
"Sungmin Hyung !.. jangan diam saja..",
"Ahh.. anak itu kenapa mengajarimu tidak benar sih..", Besar keinginan Sungmin untuk menjelaskan pada Eunhyuk apa yang sebenarnya terjadi, tapi Sungmin berpikir dua kali terkait kebodohan entah kepolosan Eunhyuk.
"Apa Hyung ?",
"Ehm.. biarkan saja, nanti juga akan hilang sendiri.. Dan Hyuk, Kenapa Donghae tidak masuk ?, Dia kemana ?",
"Aku sudah membangunkannya tadi pagi, tapi dia tidak bangun-bangun.. bibi Jang menyuruhku untuk membiarkannya dan berangkat duluan, dari semalam Donghae juga aneh.. kata bibi Jang, Donghae sedang mabuk, tapi Aku tidak mengerti maksudnya dan tingkah Donghae aneh sekali Hyung, Dia menciumiku terus disin—",
"Cukup.. cukup !", Telinga Sungmin bertambah merah, hampir saja telunjuk Eunhyuk jatuh ke bibir mungilnya sendiri namun interupsi cukup dari Sungmin membuat ia berhenti seketika.
"Mulai sekarang Kau harus berhati-hati dengannya.. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Aku akan mengawasi kalian setelah Aku pergi nanti",
"Heuh ?, Hyung mau kemana ?",
"Besok Aku harus ke Jepang, Aku akan melanjutkan kuliah di sana, jadi.. ada yang harus Aku urus dulu dalam beberapa hari..",
"Yahh.. Aku pikir Hyung hanya berbelanja di sana..", Eunhyuk kecewa mendengar penjelasan Sungmin.
"Oh.. iya, Donghae bilang Dia akan melanjutkan ke London.. Benar begitu ?",
"Hah ?",
"Kau tidak tahu ya ?.. Ehm.. Aku pikir dia hanya akan di Seoul saja menjaga Tuan putrinya, ternyata Dia ak—",
"Tidak boleh !, nanti kalau Donghae pergi Aku dengan Siapa Hyung ?", Mata Eunhyuk hari ini mudah sekali berkaca-kaca, Sungmin menepuk kepalanya sendiri merutuki kebodohan yang ia lakukan. Malas sekali kalau harus menghentikan tangis Eunhyuk.
"Hiks.. Hyuu~ng",
"Aigoo.. itu tadi masih belum benar Hyukkie.. jangan menangis Oke..".
.
.:. Hold Me .:.
.
"Tu—tuan dan Nyonya sudah tiba..",
"Heem.. Kami tidak jadi kembali sore nanti, karena yahh.. Aku khawatir pada Hyukkie..", Heechul menjawab sembari meletakkan tas mahalnya di sofa ruang keluarga. Hanggeng bergegas menuju ruang kerjanya, sepertinya ada beberapa hal yang harus diurus olehnya.
"Apa anak-anak diantar Pak Kim ?, Motor dan mobil Donghae ada di garasi kalau tidak salah..",
"Ehm.. Nyo—nyonya sebenarnya…", bibi Jang menghela nafasnya sebelum mengungkapkan apa yang dimaksudkan.
"Iya ?",
Bibi Jang membisikkan sesuatu pada nyonya nya dan mereka berdua meninggalkan sofa menuju ke kamar utama sang nyonya.
"Apa yang ingin bibi katakan ?",
.
.
BRUG
.
.
Heechul menatap asisten rumah tangganya dengan pandangan khawatir sekaligus tak percaya, wanita setengah baya itu bersimpuh dihadapannya dengan lelehan air mata secara mendadak.
"Hiks.. maafkan saya nyonya.. hikss.. saya benar-benar bersalah.. hiks..",
"Bi.. Apa maksudmu.. jangan begini..",
"Saya rela nyonya pecat..hikss.. setelah ini.. hiks..",
"Bi.. sungguh Aku tidak tahu maksudmu… berdirilah dan jelaskan padaku dengan benar..", Heechul membantu wanita ini untuk berdiri dan membawanya duduk di sofa dekat pintu.
"Tenanglah dan mulai jelaskan..", Bibi Jang mengusap air mata dan mengatur nafasnya dengan benar.
"Semalam Tuan muda Lee pulang dengan keadaan mabuk..", Heechul menghela nafas berat, pertama kali ia mendengar Donghae mabuk.
"Lanjutkan !"
"Saya membawakan air untuk Tuan muda.. pintu tidak tertutup sepenuhnya dan.. yang saya lihat—",
"Apa ?",
"Mereka berciuman nyonya—hiks..",
"Si—siapa maksudmu ?",
"hiks.. Tuan Donghae dan Tuan Eunhyuk.. hiks.. Nyonya..",
"Lalu ?", Heechul tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi, bukan tanpa masalah karena mata kepalanya memastikan langsung dua kali. Apalagi kini orang lain yang menyaksikan hal tabu tersebut. Walaupun rahangnya sudah mengeras, tapi ia tetap menuntut lanjutan.
"Saya memang bodoh nyonya..hikss.. maafkan saya.. sungguh.. hikss.. saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, ta—tapi—hiks.. saya memilih menutup pintu tersebut—hikss… dan setelahnya saya tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Tuan muda..".
Bibi Jang lah yang semalam menangis di depan pintu, ia sungguh merasa bersalah, ia memang tidak tahu apa yang terjadi setelahnya pada kedua majikan mudanya. Ia tidak mempunyai keberanian untuk menegur karena ia cukup tahu diri. Tapi ia juga tidak bisa menutupi kebohongan terkait tindakan mengecewakan Donghae dan Eunhyuk pada Heechul.
"Dan Nyonya..",
"Katakan saja Bi..",
"Say—saya takut jika Tuan besar tahu kalau Tuan Dongh—",
.
.
CKLEK
.
.
Pintu kamar mandi yang ada di sudut ruangan ternyata ada yang mengisi sedari tadi. Salah jika mereka mengira Hanggeng masih berada di ruang kerjanya sehingga mereka bebas mengeluhkan tentang apa yang terjadi dengan Donghae dan Eunhyuk semalam. Hanggeng keluar dengan garis wajah yang sedikit menakutkan.
"Lanjutkan ceritamu Bibi Jang !.. Donghae kenapa ?",
"Tu—tuan..hikss..",
"Jujurlah !", nadanya menuntut dan tidak bisa ditolak.
"Maafkan saya hikss.. Tuan.. hiks.. Sungguh saya pantas dihukum.. hikss..",
"KATAKAN YANG SEBENARNYA !", Pertama kali Tuan Lee berteriak marah pada Bibi Jang.
"Tu—tuan Donghae..hikss.. ada di kamarnya..",
"Jadi Dia tidak—", Heechul menggelengkan kepalanya seakan tahu apa yang terjadi setelah ini. Dengan langkah besar yang tidak sabar, Hanggeng keluar menuju kamar siapa yang sudah bisa kita tebak langsung.
"YEOBO !.. YEOBO !", Heechul mengikuti sang suami yang sudah sangat murka.
.
.
BRAAK
.
.
Salah satu indra Hanggeng tidak mungkin asing dengan aroma ini. Sungguh kenal dengan pasti, hingga indra yang lainnya menangkap gelas air yang masih terisi penuh di nakas.
"Yeobo jangan !",
.
.
PYAACH
.
.
Isi airnya telah habis karena tertumpah sepenuhnya pada selimut Donghae.
"AISH.. SIAL…Arghh..", Terusik, jelas saja, basah yang membuatnya tidak nyaman mengusik tidur kedua kalinya, pantas jika ia mengumpat. Begitu selimutnya tersingkir dan Donghae membuka mata dengan sempurna.
"App—appa..", Donghae takut tanpa ragu, ini murni kesalahannya, pilihan konyol hanya karena murka dikatai pengecut.
"MERASA BERSALAH ?".
Jam masih menunjukkan pukul 11 siang, entah ajakan menyeleweng dari Sungmin mana lagi yang membuat Eunhyuk menghubungi Pak Kim untuk menjemputnya walaupun belum waktunya untuk pulang. Dengan sedikit berlari kecil ia memasuki rumah besarnya dan segera menuju ke lantai 2.
"APA KAU TULI ?",
.
.
DEG
.
.
Eunhyuk berhenti melangkah, wibawa yang tak asing di telinganya, bahkan ketika marah. Eunhyuk melirik kamar yang pintunya sedikit terbuka, tepat sebelum memasuki miliknya sendiri.
"KENAPA TIDAK MENDENGARKAN APPA DARI KEMARIN ?, KAU MELUPAKANNYA ?",
Eunhyuk memasang mata dan telinganya mengikuti alur peranan yang ada di kamar Donghae ini dari celah yang masih tersisa di pintu.
.
PLAAK
.
Eunhyuk menutup mulutnya, bukan pertama kali melihat Donghae di tampar bahkan dipukul, tapi taraf tidak teganya masih sama.
"Kau apakan Dia semalam ?", Donghae diam dan menunduk.
"Apa Aku pernah mengajarimu menjadi anak yang kurang ajar ?",
"Hyukkie itu lemah Hae.. Dan Kau tahu benar hal itu..",
.
Tes
.
Lagi dan terus untuk hari ini, Eunhyuk meneteskan air matanya.
"Dia selalu membuat repot..",
Telinga Eunhyuk seakan penuh oleh kata yang sama,
'Apa Aku sungguh begitu..',
"Keinginannya selalu memaksa untuk dituruti..", pemikiran Eunhyuk merapalkan isi negatif dari setiap kalimat Hanggeng. Ia menutup mulutnya untuk menahan isakan.
"Dia mudah sekali menangis, merengek, manja… dan Kau tahu benar akan penyakitnya..".
Cukup, benar-benar cukup Eunhyuk untuk mendengarkan hal ini. Semua orang berpikiran sama tentangnya, lemah, merepotkan, merengek, manja dang cengeng. Ia tidak lagi mendengarkan perkataan Hanggeng karena sibuk menjauhkan diri dan menuruni tangga dengan tangan yang masih mencegah isakan. Tidak ada orang yang mencegahnya pergi bahkan saat keluar dari gerbang utama, karena kebetulan tidak ada seorangpun yang menangkap kepergiannya.
.
.
"Tapi bukan berarti Kau bisa memanfaatkan kebodohan atau entahlah dengan yang kalian sebut polos..",
"Yeobo sudahlah… Biarkan dia membersihkan diri dulu", tenang Heechul mendamaikan.
"Heenim.. Kumohon jangan terus membela anak ini, Tidakkah Kau merasa bersalah pada mediang Kim Youngwon dan istrinya karena ulah anak kita ?", Hanggeng meraup wajahnya frustasi.
"Tapi tidak begini caranya..", Hanggeng tidak memperdulikan kalimat Heechul dan kembali menatap Donghae.
"Aku tidak pernah mengajarimu menjadi pengecut, Aku juga tidak pernah melarangmu atas Hyukkie.. Kalau Kau serius.. Kami mohon dapatkan ia dengan cara namja", Tutup Hanggeng yang membuat Heechul lega, tapi berkebalikan dengan Donghae yang membelalak. Restu yang sempat ia singgung tempo hari, ternyata tidak menunjukkan kadaluarsanya. Tapi masihkah itu berlaku ketika yang sempat ditangkap Eunhyuk hanya sepersekiannya.
.
.:. Hold Me .:.
.
TING..TONG
.
TING.. TONG
.
Lebih dari ini, bel terus ditekan dengan tidak sabarnya, membuat si pemilik rumah ikut terbirit-birit menuju pintu.
.
Cklek
.
"Hyuu~ng—hiks..", namja yang terlihat masih memakai seragam di depan pemilik rumah sangat jauh dari kata baik. Si pemilik rumah belum menunjukkan respon apapun melihat namja manis di depannya dalam keadaan buruk begini. Kemeja yang tidak sepenuhnya masuk, keringat yang pemilik rumah tahu sangat tidak disukai namja manis di depannya dan tubuh bergetar entah karena takut atau karena sedang kambuh.
.
BRUG
.
"ASTAGA.. HYUKKIE..", Refleknya hampir terlambat saat Eunhyuk yang dalam keadaan tidak baik ini memejamkan mata dan jatuh yang hampir menyentuh lantai.
"Ya Tuhaan, Apa yang sebenarnya terjadi padamu, sayang", Sungmin memerintahkan maid untuk membantunya membawa Eunhyuk yang pingsan ke kamarnya.
Lama menunggu entah dua atau tiga jam untuk Eunhyuk bangun dan mendapatkan introgasi membosankan dari Sungmin.
"Jadi Kau kabur kemari ?.. Tidak ada yang tahu ?", Sungmin menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Eunhyuk mengangguk lemah.
"Kau berlari kemari ?", kembali Eunhyuk mengangguk.
"Kau mau kambuh ya ?, Kau tahu kan bahwa Ka—",
"Arraso.. Aku penyakitan—hiks.. Aku lemah, merepotkan—hiks.. manja, cengeng—hiks.. dan bodoh.. semua—semua..hiks.. semua orang mengatakan hal itu, teman-teman, Ahjushi—hiks.. bahkan Donghae juga setiap hari.. Apa Sungmin Hyung juga—hiks.. akan mengatakannya ?.. Apa Hyung tidak menginginkan aku juga ?",
"Jadi Kau kabur karena itu ?.. Kau salah paham sayang.. maksud kami tidak seperti itu..",
"Tapi mereka tidak menginginkanku Hyung.. Apa Hyung juga ingin mengusirku—hiks.. Aku tidak tahu harus kemana lagi.. hiks.. appo hyung.. jeongmal..", Eunhyuk menyentuh dadanya dan mengaduh. Entah kenapa Sungmin juga ikut meneteskan air matanya.
"Bukan begitu Hyukkie, tidak ada yang tidak menginginkanmu sayang.. Kau hanya salah paham, sungguh..",
"Aku rindu Appa—hiks.. dan Umma—hiks.. Kenapa mereka lama sekali menjemputku—hiks..",
"HYUKKIE !", Sungmin mengguncang bahu Eunhyuk begitu aduan menyedihkan keluar dari bibir Eunhyuk.
"Kembalilah ke rumahmu.. Oke, jangan berbicara aneh-aneh.. Aku akan mengantarmu",
"Shireo !.. hiks.. Hyung, itu buk—bukan rumahku.. hiks.. Aku tidak mau pulang kemana-mana.. Aku mau menunggu Appa dan Umma menjemp—",
"Stop Hyuk !.. Jangan mengatakan hal konyol, Kau boleh tinggal di sini, tapi hubungi dan temui Donghae dulu..",
"Jeongmal ?", Eunhyuk tersenyum penuh harap di sela tangisannya dan ia melihat Sungmin mengangguk, buru-buru ia bangun dan menghambur ke pelukan Sungmin.
"Gomawo Hyung… hiks.. gomawo".
.
.:. Hold Me .:.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, waktu yang dijanjikan Donghae dan Siwon untuk bertemu. Tidak mudah bagi Donghae untuk kabur dari kungkungan Appanya yang terus menasehatinya, namun ia juga tidak bisa mengabaikan janji dengan rival sekalipun. Di sisi lain dari mobil sport berwarna hijau tua terlihat namja manis yang masih memakai seragam seperti sebelumnya, namun lebih rapi berjalan sembari memainkan smartphone pinjaman dari Sungmin.
"Donghae melihat pesanku atau tidak ya..", Eunhyuk terus berjalan menuju parkiran belakang setelah turun dari mobil Sungmin. Si pemilik mengatakan akan menunggu di mobil saja.
.
"Awas saja kalau si Choi Brengsek itu melupakan janjinya, aish.. Aku lupa membawa smartphone juga..", Donghae menggerutu, padahal baru 3 menit ia sampai di sini.
.
"Ehh.. itu Donghae.. syukurlah, ternyata ia datang..", Eunhyuk berbinar begitu menangkap pawakan Donghae di depannya walaupun masih agak jauh.
"Ternyata Dia mau menungguku.. Aku pikir Dia sudah tidak sayang lagi padaku..", Kepercayaan diri Eunhyuk semakin bertambah begitu jarak ia dan Donghae hanya beberapa meter dan ditutupi oleh tumbuhan yang sedikit tinggi.
.
"Donghae..", bukan panggilan dari Eunhyuk, karena Eunhyuk juga ikut berhenti melangkah begitu melihat dan mendengar panggilan dari orang barusan.
"Ki—Kibum...", Kibum tersenyum melihat Donghae yang tidak biasa dengan kehadirannya.
"Sudah menunggu lama ya ?", tanya Kibum sopan.
.
GREB
.
Eunhyuk melemas seketika, entah dorongan dari mana, saat ini ia ingin sekali menangis, lagi.
'Donghae Kenapa memeluknya ?.. jadi Dia datang bukan untukku ?'.
.
"Donghae Wae ?", Kibum ingin menyentakkan eratan Donghae, namun tidak bisa.
"Mianhe bummie.. jeongmal mianhe.. Ak—aku tidak tahu kalau seb—sebenarnya Minho itu adalah anakku..".
Eunhyuk yang dari jauh masih sempat mendengarkan ucapan Donghae barusan, tubuhnya hampir bersatu dengan tanah jika ia tidak berpegangan. Air matanya tidak bisa ditahan lagi, akuan Donghae membuat satu tangannya mencengkeram dadanya kemudian menutup telinga seakan tidak ingin melanjutkan mendengar pengakuan dari Donghae berikutnya. Ia berbalik, berjalan dengan sedikit cepat dan memastikan bahwa kedua orang di sana tidak melihatnya.
Begitu sampai di depan mobil Sungmin ia langsung membuka pintu dan memasukinya. Ia tidak bersuara, malah meringkuk dan tubuhnya bergetar ketika duduk di dekat kursi kemudi Sungmin.
"Hyu—hyukkie wae ?.. kau diapakan oleh Donghae ?", Sungmin mengguncag bahu Eunhyuk yang terlihat ketakutan. Eunhyuk hanya menggeleng dan meneteskan air mata.
"Jawab Hyung, Hyukkie !.. jangan diam saja.. Kau kenapa bisa begini ?.. Kenapa menangis lagi ?", Eunhyuk masih tidak mau bersuara, kadua kaki yang ia tekuk malah digunakan untuk menyembunyikan kepalanya.
"Geure.. Aku yang akan menghampiri Donghae dan membuat perhitungan dengannya", Sungmin melepas sabuk pengamannya dan bersiap turun dari mobil. Tangan pucat Eunhyuk tiba-tiba tergerak mencegah Sungmin, ia menggeleng.
"Jangan hyung—hiks.,. bawa Aku hyung..hiks.. bawa Aku pergi—hiks.. dan ikut denganmu.. Jebbal—hikss..", Eunhyuk memohon dengan wajah yang benar-benar menyedihkan, ia tidak biasa ditolak. Sungmin berani bersumpah, ia tidak sanggup menolak permintaan Eunhyuk.
"Tidak bisa sayang, semua orang akan menkhawatirkanmu..",
"Jebbal—hiks.. hyung.. Hyukkie—hiks.. tidak mau disini—hikss.. Jebbal", Eunhyuk meremas telapak tangan Sungmin.
"Mereka sudah tidak menginginkan Hyukkie—hiks.. Jeb—bbhal hyung—hiks.. Bawa Hyukkie dengan hyung..",
Sungmin menghela nafas panjang sebelum memutuskan menyanggupi.
"Baiklah, Aku akan menguruskan tiket untukmu besok, tapi berhentilah menangis atau Aku akan memulangkanmu", pilihan yang tidak ringan untuk Sungmin, dengan penuh sayang ia mengusap bekas air mata di wajah Eunhyuk.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Kau salah paham, Donghae.. Appa dari anakku tetaplah Siwon..", barulah Donghae melepaskan eratannya pada Kibum.
"Kau pasti kaget kenapa yang kemari bukan Siwon…", Donghae mengangguk patuh.
"Lihat itu !", Kibum menunjuk sisi kanannya dan terdapat lapangan basket out door, tapi bukan itu yang dimaksudkan, melainkan 2 obyek yang tengah bermain dengan antusias kegembiraan.
"Kau salah paham dengan perkataan Siwon kemarin.. Dia hanya ingin mempermainkanmu.. sebenarnya Aku juga tidak tahu bagaimana pagi itu bisa Kau yang berada di sampingku, tapi Aku berani bersumpah atas nama Tuhanku… Minho adalah anak Siwon",
"Aa—ahh.. jadi Aku hanya dikerjai saja..", Donghae menertawai dirinya sendiri.
"Hmm.. begitulah, Oh iya… Kau tidak mengajak kekasihmu ?",
"Kekasih ?",
"Iya.. namja manis itu, Eunhyuk kan ?",
"Ahh.. iya Hyukkie.. Aku baru berniat menjemputnya sekalian setelah ini..", Donghae memang berniat menjemput Eunhyuk setelah menyelesaikan janjinya.
"Lo.. bukannya sekolah sudah selesai dari jam 3 tadi",
"Oh.. benarkah.. berarti ia sudah dijemput Pak Kim..", sebenarnya Donghae agak ragu tentang ini jika tidak memastikan sendiri di rumah apakah Eunhyuk sudah sampai atau belum.
"Ehm.. sepertinya Kau mengkhawatirkannya.. Kenapa tidak pulang saja ?", Kibum masih terdengar ramah. Donghae sebenarnya canggung berbicara dengan Kibum, terlebih ia telah salah sangka terhadap status kepemilikan Minho.
"Ahh.. benar, Aku harus memastikan sendiri.. Ehm.. Ak—aku kembali dulu, Kibum… salam untuk Siwon dan Minho", tanpa mendengar jawaban Kibum, Donghae segera menuju motornya.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Umma, Apa Hyukkie sudah sampai ?", Donghae berlari ke dalam rumah.
"Sampai bagaimana ?.. Kau kan yang menjemputnya..",
"Tapi sekolah sudah kosong..", Donghae semakin panik, terlebih pertanyaan Heechul menyiratkan namja manis itu belum berada di rumah. Donghae berbalik lagi dan mencari Pak Kim yang menyiram tanaman di kebun samping.
"Pak Kim, Apa anda tadi menjemput Hyukkie ?",
"Ah.. Tuan muda.. iya Tuan, saya yang menjemputnya sedari jam 11 tadi..",
"MWO ?", Donghae malah semakin terkaget mendengar jawaban supirnya ini. Dengan kecepatan maksimal Donghae berlari ke lantai dua sambil berharap bahwa yang dicarinya ada di ruangannya.
"HYUKKIE !", Pintu kamar pemilik yang terbuka membuat Donghae langsung masuk, sayangnya di sini juga tidak terlihat si pemilik kamar. Kembali ia turun dalam keadaan panik luar biasa.
"Umma.. Hyukkie tidak ada…",
"APA ?".
.
.
~TBC~
.
.
Chap 9 is up !
Guys sorry banget kalau chapter ini mengecewakan, tapi ini memang sudah saya rancang sebelumnya.
Thanks to : Tina KwonLee, mankhey, ren, Polarise437, RisaSano, Guest, ahahyuk, meyidhae, Anik0405, peachpetals, Wonhaesung Love, hyona, Guest, NameKeysha, Haehyuk546, , Nakamichan, reiasia95, HHSHelviJjang, she3nn0 , danactebh, ChoYenie94, siti sisun, abilhikmah, HAEHYUK IS REAL, Hein-Zhouhee1015 , babyhyukee, isroie106, dekdes.
Jangan lupa review setelah membaca Oke ;-)
Thanks :*
