Hold me
Cast :
Super Junior Member
(Lee HyukJae)
(Lee DongHae)
and some cast from another group
Pair :
Actually HaeHyuk (YAOI)
Rate :
T
Genre :
Romance
.
.:. Hold Me .:.
.
"Umma eotokhae ?",
"Donghae berhentilah panik dan duduklah dengan nyaman", Bohong jika yang menasehati barusan tidak ikut merasa khawatir. Donghae memang sedari sore hingga waktu sudah menunjukkan lebih dari 5 jam tidak juga istirahat dan bernafas lega. Jika menilik chapter kemarin, tentu reader tahu alasannya bukan.
"Bagaimana mungkin Aku bisa tenang Umma, Astagaa.. anak itu kemana..", Donghae malah berjalan mendekati pintu besar mansionnya dan terus melongokkan kepala keluar, berharap yang ditunggu segera muncul.
"Appa !.. sebenarnya suruhan Appa mencari tidak sih ?.. Kenapa belum ada kabar dari mereka ?", Kini berganti pada Tuan Lee yang duduk di dekat istrinya dengan memberi eratan menenangkan bagi sang istri.
"Donghae, Appa mohon, mereka juga pasti sedang berusaha nak.. Kau pikir Umma dan Appa tidak cukup panik karena ini, Appa mohon tenangkan dirimu..",
"Di luar dingin Appa, kalau tiba-tiba dia kambuh bagaimana ?, Siapa yang akan menolongnya ?", Donghae menggosok benda tersayang di pergelangan tangan kirinya, sedari tadi ia berharap benda itu akan menyengatnya, benar-benar berharap, walaupun sakit setidaknya ia senang.
"Kenapa Hyukkie juga tidak membawa ponselnya.. Apa Dia di sekolah tadi sudah makan ?, Astaga.. ARGHHH…", Donghae berteriak kesal, seberapapun ia mencoba tenang, tapi tidak bisa. Justru sekarang Ia berpikir Eunhyuk adalah manusia yang paling menjengkelkan, merepotkan dan menyebalkan yang membuat Dia berkali-kali lipat takut lebih dari seseorang yang akan dicabut nyawanya.
"Appa, kenapa kita tidak lapor polisi saja ?",
"Tidak bisa nak, ini belum ada sehari Hyukkie menghilang…",
"Tapi Appa, Dia—",
"Appa pastikan Hyukkie masih berada di jarak yang dekat, Ia tidak mungkin keluar dari Seoul, Ia bukan orang yang berani untuk bepergian jauh apalagi sampai meninggalkan Korea",
"Tapi dimana Appa ?".
.
.:. Hold Me .:.
.
~Nex Day~
.
"Pakai syal ungu itu dan jaket yang sudah hyung siapkan !",
"Ndee hyung..",
"Obat yang Kita beli kemarin sudah Kau masukkan ke dalam koper kan ?",
"Iyaa Hyung !",
"Ini passport mu, pegang sendiri, biar Aku yang menyeret kopernya..",
"Aku bis—",
"Sudahlah !, tinggalkan kopernya atau Kau yang kutinggal",
"Arraso..", Nadanya melirih seakan benar-benar takut jika ia ditinggal. Namja yang tadi suka memberi perintah berjalan lebih dulu dengan dua koper sedangkan manis yang lain hanya membawa buku kecil yang beratnya hanya beberapa ons.
'Berarti memang benar, semua orang menganggapku lemah'.
.
.
DUG
.
.
"Mi—mian hyung, jangan marahi Aku atau meninggalkan Aku..", Cicit si manis dengan syal ungu yang terbelit manis di leher yang masih terdapat bercak merah samar. Tidak sengaja, tapi sebenarnya ia tidak merasa bersalah, karena orang yang dipanggil hyung yang berjalan di depannya tiba-tiba berhenti, reflek ia yang sedikit berjarak, menabrak dua koper di depannya. Justru sebenarnya kakinya yang sakit karena tabrakan yang sedikit keras itu.
"Sakit ?", Tanya namja di depannya dengan khawatir. Dan sebagai jawaban buru-buru ia menggeleng.
"Ehm.. itu..",
"Ndee hyung ?",
"Apa Kau yakin Hyukkie-ah ?",
"Heum ?", Sebenarnya sebodoh-bodoh Eunhyuk tentu tahu pertanyaan macam apa yang diajukan Sungmin untuknya.
"Kau yakin akan ikut ke Jepang denganku ?", Eunhyuk mengangguk antusias, tidak ada pilihan untuknya tetap tinggal, karena tidak ada tempat yang mau menampungnya dengan sukarela, begitu pikirnya, selain Sungmin tentunya.
"Ingat !.. di sana tidak ada Donghae yang selalu mau menuruti keinginanmu, tidak ada Heenim Ahjuma yang selalu mau mendengarkan aduanmu dan tidak ada Lee Ahjushi yang selalu melindungimu", Eunhyuk menunduk sendu mendengarkan penuturan Sungmin, Ia membenarkan semua yang dikatakan Sungmin, tidak akan ada lagi mereka yang menyay—, bukan.. bukan kata sayang lagi menurut Eunhyuk, sudah tidak ada lagi orang-orang yang awalnya seperti mereka. Adanya orang-orang yang jujur mengatakan kebenaran dan mengikrarkan ketidaksukaannya dengan Eunhyuk.
"Tapi di sana ada Hyung yang akan menyayangimu… Kau sudah kuanggap sebagai adik kandungku, jadi jangan sungkan meminta tolong apapun pada Hyung",
"Sungmin Hyu~ng..", Eunhyuk meneteskan air matanya dan menghambur ke pelukan Sungmin, Ia bangga mempunyai Sungmin, selain Donghae.
"Dan tenang saja, walaupun tidak semewah keluarga Tan, Uangku tidak akan habis begitu saja untuk kehidupan kita…",
"Hyuu~ng..", Mereka tertawa bersama sebelum memasuki pesawat dan meninggalkan Negara yang hampir 17 tahun membesarkan Eunhyuk.
.
.:. Hold Me .:.
.
Seminggu berlalu dan keadaan Donghae justru semakin memburuk. Ia bukannya sakit sehingga sampai berbaring di ranjang menyebalkan dengan bau khas ruang rawat. Donghae hanya terlalu malas untuk melanjutkan hidupnya. Ia menjadi seorang yang putus asa, bahkan ketika ia besok harus menghadapi ujian akhirnya.
"Donghae.. Umma mohon sayang, berhentilah begini.. siapkan saja untuk ujianmu besok..",
"Kenapa Appa bohong Umma ?, ini sudah seminggu dan mana Hyukkie ?", Donghae bukan seorang namja yang lemah hingga harus meneteskan air mata ketika mengingat dimana kesayangannya berada.
"Dia pasti baik-baik saja..",
"Darimana Umma mendapatkan kepercayaan begitu bahkan dengan pemikiran yang sama gelisahnya denganku..",
"Tapi setidaknya Umma berdoa sayang, Ahjushi dan Ahjuma Kim pasti akan menjaga Hyukkie dengan baik dan melindunginya dari tempat yang lain..",
"Umma !, Apa Umma berpikir Hyukkie sudah meninggal ?", Donghae sedikit tidak terima mendengar penuturan Ummanya.
"Bukan begitu Hae~, Umma hanya berharap—",
"Berharap Dia meninggal ?", Heechul yang mendengar pertanyaan Donghae, meneteskan air matanya. Entah pikiran konyol dari mana sehingga ia berharap hal menyedihkan tersebut.
"Setidaknya itu lebih baik dari pada melihat Dia menangis karena kesakitan atau bahkan mungkin.. Dia sedang berteriak meminta tolong, tapi tak seorangpun datang dan memberik—",
"UMMA !", Donghae berteriak kesal. Ia tahu bukan hanya ia saja yang kehilangan, bahkan mungkin lebih untuk Ummanya. Tapi ia tak habis pikir sedangkal itukah pemikiran Ummanya sehingga mendoakan seseorang yang sudah dianggap adik kehilangan nyawa.
"Aku juga ingin berpikiran demikian, jika itu lebih baik.. Tapi kepercayaanku selalu mengatakan Hyukkie masih menghirup jenis udara yang sama dengan kita.. bahkan ketika berbicara masalah kehilangan nyawa, Aku bersumpah… Aku tak akan membiarkan Tuhan mengambilnya lebih dulu dari Aku..",
"Hiks.. Hae~, maafkan Umma..hikss..", Heechul terisak mendengarkan penuturan dewasa anaknya, bukankah pada awalnya ia lah yang sebenarnya ingin menenangkan Donghae, tapi justru ia yang ditenangkan.
"Jangan menangis Umma.. mulai sekarang mari Kita berpikir bahwa Hyukkie baik-baik saja.. dan Aku tidak akan mengecewakan Umma juga Appa".
.
.:. Hold Me .:.
.
"Kau sudah meminum obatmu ?",
"Sudah",
"Kau menuruti perkataan Junsu, bukan ?",
"Heem.. Dia sama cerewetnya denganmu Hyung, Dia bahkan sering mengancamku..", Adu Eunhyuk, masih sama seperti Eunhyuk yang lalu.
"Kau yang nakal berarti.. Ku dengar Kau sulit dibangunkan ya ?",
"Tidak Hyung, sungguh.. Junsu itu jahat sekali, Kau tahu hyung… Dia tidak mau membelikanku ice cream ketika Aku tidak membawa uang Hyung.. padahal Aku sedang ingin",
"Tunggu !, Kau bilang Apa tadi ?, Ice cream ?.. YA ! KAUU !", Orang di seberang yang sudah dipastikan Sungmin ini berteriak menatap gagang telephonnya sendiri. Besar keinginannya untuk terbang ke Jepang dan memarahi Eunhyuk, tapi itu berlebihan.
"Ehm.. hanya sekali kan tidak apa-apa..",
"Penjualnya tidak apa-apa, tapi Kau… Hyukkie dengar ya, Hyung sedang tidak bersamamu di sana, oleh karena itu Kau harus menjaga tubuhmu dengan baik, Hyung tidak mau Kau kambuh—", Sungmin terus memberikan nasehat yang membosankan karena terus diberikan setiap hari pada Eunhyuk. Bahkan pikiran Eunhyuk sedang berkelana ke tempat lain. Seminggu, rekor yang hebat dicapai Eunhyuk tanpa merengek pada tampan yang dulunya berdampingan kamar dengannya. Sungguh menggunung keinginannya bertanya pada Sungmin tentang namja itu.
"Hyung !",
"Iya ?", Eunhyuk diam agak lama menanggapi pertanyaan Sungmin.
"Kau membutuhkan sesuatu ?, Apa ?, Katakan saja pada Hyung ?",
"Ehm.. bagaimana kabaaar..",
'Bagaimana kabar Donghae ?', buruk jika Eunhyuk menyebutkan nama namja itu, bisa-bisa ia langsung dipulangkan oleh Sungmin.
"Siapa ?", Sungmin cukup penasaran tapi pikirannya tidak sampai pada seorang Lee tampan.
"Ehm.. i—itu.. ee.. D—dd..Kk—kyuhyun.. Kyuhyun ee.. kekasihmu itu..",
"MWO ?, KYUHYUN ?, Ke—kenapa Kau bertanya tentang kabarnya ?", Sungmin sedikit kaget mendengar pertanyaan Eunhyuk, kedangkalan Sungmin memang sebelas-duabelas dengan Eunhyuk, kadang-kadang.
"Iya dia… ee.. jangan cemburu ya hyung, sebenarnya namja seperti Kyuhyun itu tipeku, Aku baru sadar jika Dia seorang juara tetap di sekolah daaan… Dia sepertinya tampan juga", Eunhyuk mengalihkan perhatian Sungmin sebelum ketahuan sebenarnya siapa yang sedang memenuhi otaknya.
"Apa Kau selalu mengatakan semua namja tampan, pintar atau yang manly sekalian sebagai tipemu ?",
"Apa ?",
"Hyukkie.. ini sudah malam dan Hyung rasa cukup, Kau harus beristirahat sehingga tidak merepotkan Junsu untuk membangunkanmu besok, bertemanlah dengan baik di sekolah barumu.. lusa hyung akan menyusul, jaga diri baik-baik.. hyung tutup, saranghae..",
Eunhyuk tidak mengeluarkan suara apapun untuk Sungmin, toh yang di seberang sudah menutup panggilannya.
'Ahjuma.. Ahjushi, sebenarnya kalian mencariku atau tidak ?',
"Walaupun mereka tidak, tapi Aku tetap berdoa supaya Tuhan memberikan kesehatan pada mereka..", Eunhyuk tersenyum miris. Ia menatap seseorang di sebelahnya yang sudah tertidur pulas.
'Biasanya itu tempatnya, tapi sekarang bukan lagi', Eunhyuk menatap seseorang yang disebut Junsu, namja asing sebenarnya tapi entah dari mana kemudahan itu didapat Eunhyuk untuk bisa dekat dengan namja yang juga manis itu.
"Bogoshippo.. Apa Kau merindukanku—
—Siwon hyung ?", Eunhyuk menepuk kepalanya sendiri.
"Kenapa nama Hyung itu yang keluar, atau memang Tuhan tidak mengizinkan Aku untuk menyebut namamu ?", Eunhyuk berbicara sendiri sebelum menarik selimutnya dan mengikuti Junsu ke alam mimpi dengan kecupan pada perak berbandul di lehernya itu.
.
.:. Hold Me .:.
.
Lusa yang dijanjikan oleh Sungmin telah datang, Eunhyuk dan Junsu tidak bersiap menjemput atau melakukan suatu penyambutan untuk Sungmin. Sudah pasti alasannya ada pada Sungmin sendiri yang melarang untuk disambut. Junsu adalah adik sepupu Sungmin yang selama ini tinggal di Jepang, keluarga Sungmin memang banyak yang tinggal di Jepang. Bahkan Rumah yang ditempati oleh Eunhyuk adalah rumah milik keluarga Junsu.
"HYUUUUUNG…", Eunhyuk berlari memeluk Sungmin yang baru keluar dari mobil sport putih tersebut.
"Manja, Kau berlebihan..", Walaupun demikian Sungmin dengan setia menerima pelukan Eunhyuk.
"Kau membawa pesananku kan Hyung ?", Sungmin memutar bola matanya ketika pertanyaan menyebalkan Eunhyuk keluar, bukankah harusnya Eunhyuk menanyakan kabarnya sebelum meminta sesuatu.
"Aigooo.. Masih ingat ternyata", Sungmin membuka kopernya dan menyerahkan benda dengan bulu lembut, sedikit besar, berwarna oranye pada Eunhyuk.
"Omoo… Hyuu~ng gomawo…", Eunhyuk langsung memeluk benda tersebut sayang. Jujur, selain Donghae yang ia butuhkan untuk mendapatkan kenyenyakan adalah benda satu ini.
"Ya..ya..ya, Kau tahu sulit sekali mendapatkan itu dari Donghae", Satu nama yang sukses membuat Eunhyuk menegang. Tangan Eunhyuk reflek menyentuh kalungnya, tanpa ditekan tentunya.
"Aku menyusup ke rumahmu dan mengambil boneka ikan sialan itu… Dan Kau tahu tentu saja Donghae menahanku dan memberiku berbagai macam pertanyaan Kenapa Aku mengambilnya…".
"Hei, Kenapa Kau diam saja, Ayo kita masuk..", Sungmin menarik dengan lembut tangan Eunhyuk, karena percakapan mereka sedari tadi masih berlangsung di depan pintu.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Hyukkie…",
"Iyaa ?", Mereka berdua duduk di halaman belakang rumah yang tak kalah besar dengan milik Sungmin yang ada di Korea, menikmati indahnya sore yang hampir petang di sana.
"Besok Donghae akan berangkat ke London…", Eunhyuk tidak berani menatap Sungmin, ia mengalihkan matanya pada air kolam renang yang tenang.
"Bukannya Kau dulu ingin mencegahnya pergi ya ?", Sungmin nampaknya tidak memahami suasana Eunhyuk yang jujur saja menunjukkan keadaan mengkhawatirkan. Nafas Eunhyuk terdengar sedikit dalam dan berat. Ingatan Eunhyuk kembali pada terakhir kali ia bertemu Donghae. Sesak sungguh yang ia rasakan, ada jeritan yang memenuhi pendengarannya sendiri, pilu tentang siapa Minho yang ia dengar waktu itu. Walaupun Eunhyuk tidak mengerti, mungkin inilah yang sering orang-orang sebut sebagai 'love'.
"Kau.. tidakkah ingin tahu keadaannya ?, Apa Kau sungguh tidak merindukannya ?", Sungmin terus menanyakan tentang Donghae pada Eunhyuk tanpa melihat bagaimana sisi Eunhyuk.
'Jangan menyebut namanya, Tuhan tolong Aku…',
Jantungnya serasa diremas, saluran pernafasannya seperti diputus oleh benda tajam. Jujur, Eunhyuk gemetar ketakutan dengan keringat yang menuruni pelipisnya.
"Donghae… Dia sangat merind—",
"Hiks.. Gheumanhhee..Hhhh…hyung…",
"HYUKKIE KAU—", Sungmin baru menatap Eunhyuk dan jelas lengkingannya barusan menandakan sang obyek tidak dalam keadaan baik.
"Sayang, Kau kenapa ?", Sungmin mencoba melepaskan tangan Eunhyuk yang mencengkeram erat dada kirinya dan satu lagi menahan supaya tangan Eunhyuk satunya tidak menjambak rambut kemerahannya sendiri.
"Jangan hyung..hiks.. appo.. hiks… jebbal.. jangan menyebut namanya..",
"Hyukkie lepaskan tanganmu, Kau akan semakin menyakiti tubuhmu sendiri sayang…",
Eunhyuk menggeleng keras, sungguh ia kesakitan, memori bodoh yang memasuki kepalanya membuat kerja organ-organnya melumpuh.
"Hyukkie jebbal ! dengarkan hyung.. lepaskan ini sayang..", Sungmin memaksa Eunhyuk untuk melepas cengkeraman kasar tersebut. Namun tidak berhasil, karena perlawanan Eunhyuk cukup buas. Setidaknya Sungmin menyadari bahwa caranya salah, berarti bukan ini yang biasa Donghae lakukan.
.
.
"Hyung, ingat !, jangan biarkan ia terlalu lama berenang..",
"Okee.. ehm.. itu, kalau missal—missal ia.. ee..",
"Kalau missal ia kambuh, elus punggungnya dengan santai dan katakan 'gwanchana…gwanchana.. ada hyung disini…', lalu peluk Dia dan beri kata-kata menenangkan",
.
.
Sungmin mengingat nasehat Donghae, mungkin sudah satu bulan yang lalu. Ia mencoba merengkuh Eunhyuk yang terus memberontak seraya menggerakkan tangannya untuk menepuk pelan bagian belakang namja manis yang lebih muda darinya itu.
"Gwanchana…gwanchana.. jangan dipikirkan… ada Hyung di sini… tenang okee ?...", mantra yang hebat, karena saat itu juga tangan yang semula dengan brutal menarik rambut dan meremas kasar dada kiri Eunhyuk, jatuh melemas. Mata berkaca-kaca Eunhyuk juga menatap Sungmin dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Pendengarannya seperti menangkap sesuatu yang salah, bibirnya ingin berkomentar atau menyela satu kata…
'Ada Donghae di sini…',
Bukankah harusnya demikian ?.
"Oke, lupakan tentang yang tadi… lebih baik sekarang kita masuk dan Kau perlu meminum obatmu, Hyukkie", Eunhyuk merasa ling-lung, bahkan ia menurut saja ketika dituntun Sungmin untuk memasuki ruangannya.
.
.:. Hold Me .:.
.
~A year later~
.
Waktu setahun yang sangat singkat dijalani Eunhyuk tentang Jepang yang indah, cantik dan penuh impian. Tahun pertamanya sangat sukses, sukses membuat Sungmin belajar bersabar dan sukses membuat Sungmin tidak membanting barang-barang berkaca mahalnya karena kebodohan Eunhyuk. Ia tidak bisa marah jika itu menyangkut Eunhyuk, bisa-bisa hanya sekali ia membentak, namja manis itu langsung pingsan. Dan entah kekuatan dari mana yang bisa membuat telinga Eunhyuk menjadi kebal ketika beberapa kali Sungmin menyebutkan nama Donghae. Beruntung karena Eunhyuk tidak kambuhan, terhitung hanya tiga kali hingga akhir tahun ini. Tapi yang pasti sifat Eunhyuk tidak pernah berubah, ia masih menjadi manja walaupun sudah berganti obyek yang memanjakan, merepotkan, menyebalkan, sok bisa, cengeng, yang terakhir polos juga bodoh. Seperti yang terjadi saat ini….
.
.
Drrrrrt….drrrrt…
.
.
Sungmin membiarkan smartphonenya bergetar, ia terlalu malas karena tengah menyelesaikan tugasnya di depan PC pink nya.
.
.
Drrrrt….drrrrrrt…
.
.
"Aish… Siapa sih ?, menganggu saja… Hyukkie tolong angkat panggilannya..",
Sungmin meneruskan menarikan jari-jarinya pada keyboard dan meminta Eunhyuk yang berbaring di sofa depannya yang juga tengah sibuk dengan tab milik Sungmin untuk mengangkat panggilan di benda canggih lain milik Sungmin. Kenapa semua milik Sungmin ?, Eunhyuk bukannya tak berani meminta, malah ia sering menghabiskan uang Sungmin tanpa sungkan dan permisi, hanya saja dengan lantang Sungmin tidak memperbolehkan Eunhyuk mempunyai alat komunikasi supaya keberadaan Eunhyuk terjamin. Toh, dengan meminjam miliknya masih bisa.
Tangan Eunhyuk meraih benda dengan case menggemaskan di meja sampingnya dengan santai. Ia juga tidak melihat siapa nama yang tertera di panggilan tersebut, malah tanpa beban menggeser icon yang berwarna hijau dan mendekatkan smartphone tersebut ke telinganya.
"HYUNG !",
" Haaaaahhh…", Eunhyuk menghela nafas keras dan seketika itu pula menutup bibirnya. Ia sangat hapal suara siapa yang ada di seberang sana, walaupun sudah hampir setahun. Sungmin menatap keterkejutan Eunhyuk dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Siapa ?", Tanya Sungmin pada Eunhyuk yang masih dengan ekspresi sama.
Eunhyuk buru-buru mendekati Sungmin dan menarik kasar tangan Sungmin, ia meletakkan benda hitam yang masih tersambung panggilan dengan orang di seberang itu pada telapak tangan Sungmin. Seperti mengisyaratkan dengan bibir mungilnya tanpa menimbulkan suara, pola yang Sungmin terima adalah 'Dong—hae'. Dengan ekspresi tidak kalah dari milik Eunhyuk, buru-buru ia menjauhkan smartphone tersebut dan malah menatap Eunhyuk dengan pandangan khawatir.
"Kau tidak apa-apa ?", tanyanya lirih pada Eunhyuk, untuk memastikan si manis tidak kambuh karena hal mengejutkan barusan. Gelengan sebagai pertanda tidak dari Eunhyuk beruntung Sungmin dapatkan. Eunhyuk sekarang bukanlah sepele yang lawas, ia tidak kambuh lagi hanya karena mendengar nama atau suara Donghae. Tubuhnya sendiri mampu menyetting sedemikian rupa, kecuali memang kondisi fisik dan mentalnya sedang lelah.
"YA ! SUNGMIN HYUUNG !",
Sebelum mendekatkan panggilan tersebut ke telinganya, Sungmin sempat mengelus dada dan menghela nafas tanda ia lega akan keadaan Eunhyuk. Sesaat setelah Sungmin menempelkan benda hitam tersebut ke telinganya, Eunhyuk ikut-ikutan menguping dengan mendekatkan telinganya pada Sungmin. Entah ia sedang sangat rindu dengan Donghae atau hanya penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan.
"Wae ?, Ada masalah Apa tiba-tiba menghubungiku ?, Rindu padaku ya ?, Bagaimana Lond—",
"Jelaskan padaku Hyung !", terdengar suara yang berat di telinga Sungmin.
"Apa ?", Sungmin bahkan belum sempat menyelesaikan tanyanya dan Donghae menginterupsi dengan permohonan aneh.
"Jelaskan foto itu !",
"Foto ?, Foto Apa sih ?",
"Omo !", Eunhyuk lah yang justru terkaget tanda ia mengerti apa yang orang seberang pertanyakan pada Sungmin.
"Shht..", Sungmin memberi isyarat diam melalui telunjuk pada curvy nya untuk Eunhyuk yang mungkin saja suaranya bisa di dengar dari seberang. Eunhyuk balas menatap Sungmin dengan panik, ia tahu pasti tentang foto apa yang dimaksud Donghae.
'Aku akan dibunuh Sungmin Hyung…',
"Hyung, Kau masih mendengarku bukan ?",
"Tent—", Perkataan Sungmin terputus begitu Eunhyuk berlari dan memperlihatkan suatu foto dari tab miliknya. Tidak ada yang aneh menurut Sungmin pada awalnya, tapi hampir saja ia menjatuhkan smartphone mahalnya begitu menangkap kesalahan fatal Eunhyuk.
"Ddd—donghae, Hyung benar-benar minta maaf nee.. Hyung sedang sibuk sekarang ini, jad—jadi hubungi lagi besok nee.. Hyung tutup, Anyeo~ng..",
"YA ! HYUNG.. SUNGMIN HYU—",
.
.
—TUUUUT
.
.
"HYUKKIE !",
"Hiks.. mi—mian.. hyung..hikss..",
"Arghhh.. kepalaku… Ya Tuhan, Astagaa… Apa Kau bod—ahh.. annio.. maksudku.. Hyuk, Aku bilang jangan bermain-main dengan medsos ku dan Ya ampuun.. Kau… bisa-bisanya mengupload foto tersebut di IG kuu..",
"Hiks.. mian.. Hyu~ng.. Hyukkie tidak sengaja.. jeomal..hikss..Hyukkie lupa..hiks.. mian Nee ?", Tidak bisa lebih dari ini kemarahan Sungmin ketika Eunhyuk menarik-narik lengannya seperti merajuk.
Tahu apa yang terjadi ?
Kecerobohan Eunhyuk yang tanpa sepengetahuan Sungmin membiarkan manis itu untuk mengupload sebuah foto ketika mereka tengah berbelanja bersama di sebuah distrik ternama di Jepang kemarin sore, terlebih akun itu milik Sungmin dan pantas jika Donghae langsung menghubunginya. Pasti namja tampan yang tadi menghubunginya sempat shock melihat update an terbaru di akun miliknya.
"Hyu~ng.. mian..", Eunhyuk kembali dengan suara merajuknya pada Sungmin.
"Aish.. arraso..arraso, jangan mengulanginya lagi ! atau Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Donghae..",
"Gomawo Hyung…", Eunhyuk tersenyum menggemaskan pada Sungmin.
"Keunde… Apa yang Hyung akan katakan pada orang-orang tentang foto itu ?",
"Late post, gampang kan ?", Sungmin menjawab santai sembari mendudukkan pantatnya di depan PC untuk kembali menyibukkan diri dengan gunungan tugasnya.
"Tapi kalau Donghae tidak percaya..",
"Bukan urusanku kan mau percaya atau tidak",
"Min Hyuuu~ng..",
"Ck.. aish.. tidurlah Hyuk, Kau membuatku mengulur waktu untuk menyelesaikan ini..",
"Tapi berjanji dulu akan mengatakan hal yang masuk akal",
"Aigoo.. iya..iya cerewet, Aku akan mengatakan kalau foto itu sudah 2 tahun lalu ketika kita ke Jepang, Kau puas ?", Eunhyuk menampakkan gusi indahnya ketika tersenyum lebar seperti sekarang.
"Yakso~ ?", Kelingkingnya dihadapkan di depan wajah Sungmin.
"YAKSO !", Sungmin menaut kelingking tersebut dan mengecup kening Eunhyuk sebelum si manis melangkah ke bed.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Baby, bogoshipo.. jeongmal..", Lee muda yang tampan satu ini tampak mengelus foto yang ada di pigura mejanya. Sejujurnya, kalau ditelusuri lebih lanjut, ruangan ini penuh foto seorang yang manis dengan berbagai versi ekspresi. Membuat siapa saja yang melihat akan tersenyum melegakan.
"Aku berharap, Kau baik-baik saja di tempatmu sekarang… Kau tahu sayang, ini.. Aku lulus menjadi sarjana terbaik di sini… Kalau Kau ada di sini pasti ucapan selamat, pelukan bahkan ciuman akan Aku dapatkan..",
Bukan menjadi gila hanya karena berbicara dengan benda mati, tapi memang beginilah Donghae selama ini, berkeluh kesah pada foto manis Eunhyuk. Hampir lima tahun, entah seperti apa rupa Eunhyuk sekarang, tapi yang jelas Donghae sangat merindukan makhluk manis jenis itu. Lusa ia akan kembali ke Korea, ia telah sukses menimba ilmu di London dengan prestasi yang membuat pemilik Tan's Company itu bangga. Besar harapan Donghae untuk mencari dan menemukan Eunhyuk sepulang ia dari London.
"Saranghae baby Eunhyukkie…".
.
.:. Hold Me .:.
.
"Nado—hi..hi..hi..",
Sungmin berkacak pinggang melihat pemandangan di dalam kamar yang sudah ditinggalkannya 30 menit yang lalu untuk mandi. Pemandangan di depannya masih sama, seperti ia bangun tadi pagi. Seseorang dengan piyama kuning masih meringkuk di atas bed dengan nyaman. Bahkan telinga Sungmin sempat mendengar kikikan dan gumaman aneh dari bibir namja manis yang masih belum bangun itu.
"Kenapa waktu 5 tahun tidak juga merubahnya… Oh Tuhan, Apa jangan-jangan memang Engkau tidak mengizinkan Dia menjadi namja yang mandiri..", Sungmin berguman sembari mendekati bednya dan Eunhyuk.
"Hyukkie wake up !... Hyukkie~", Sungmin bukan orang jahat yang langsung berteriak atau membentak pada awalnya.
"Hi..hi..hi.. Ndee.. saranghae Hae-ah..",
"Ck.. Aigoo.. gyeowo, bagaimana mungkin Aku tega mengusik mimpimu..", Tangan Sungmin mengusap sayang kening Eunhyuk, kemudian matanya menatap jam digital yang ada di meja putih samping bed, ia benar-benar tidak tega untuk membentak Eunhyuk walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 7.
"Sayang, Irrona.. Kau masuk jam berapa ?", Sungmin berbisik lembut pada telinga kiri Eunhyuk.
"Ughh…", Wajah Eunhyuk terlihat tidak terima saat mendengar suara lain, selain yang ada di mimpinya, matanya masih tertutup.
"Ayo bangun Hyukkie~", Sungmin mendudukkan Eunhyuk walaupun si obyek masih enggan membuka mata.
"Hnn ?",
"Ini jam 7, ayolah buka matamu...",
"Hyung Kau menganggu..", Ucap Eunhyuk malas saat ia membuka mata.
"Aku tahu, Oke Aku minta maaf karena mengusik mimpimu, tapi bukannya Kau harus kuliah ?",
"Sudah tidak ada lagi.. Ah.. jinja, Kenapa Kau membangunkanku sih..", Eunhyuk memelas bahkan raut wajahnya menunjukkan ingin menangis.
"Maksudmu ?",
"Hanya ada tugas akhir yang menunggu untuk kuselesaikan..",
"Oh Kau sudah sampai tahap itu… Jadi, Apa tugasmu ?",
"Masa percobaan…",
"Percobaan ?", Sungmin bertanya penasaran dengan jawaban setengah-setengah Eunhyuk, maklum karena Eunhyuk masih mengantuk.
"Hnn.. seperti Hyung dulu..",
"Mwo ?",
"Menjadi assistant kalau tidak salah..",
"Tidak kuizinkan !", Kantuk Eunhyuk serasa melebur, ia membelalak ketika Sungmin berujar cepat.
"Lalu Hyung mau Aku tidak lulus begitu ?",
"Ya tapi, astaga… Kenapa Kau dulu memilih jurusan ini sih… Ahh…",
"Hyung Aku akan baik-baik saja…",
"Tidak mungkin, Kau pikir mudah menjadi assistant ?, Hyuuuk..",
"Hanya 2 bulan Hyung, please jangan berlebihan",
"Itu pekerjaan melelahkan, lebih baik Kau izin kepada dosenmu dan mengatakan bahwa Kau—",
"Aku penyakitan ?, tidak mampu ?, lemah ?", Eunhyuk menyahut cepat.
"Bukan begitu maksud Hyung, sayang.. Kau tahu send—",
"Hiks..", Lagi dan sungguh melelahkan bagi Sungmin sebagai pendengar aktif akan isakan Eunhyuk.
"Ak—Aku hanya.. tidak mau..hiks.. dianggap seperti itu lagi Hyung..hikss..", Eunhyuk menepuk-nepuk dadanya. Sungmin yang melihat itu nampaknya tahu jika keadaan Eunhyuk mulai menurun lagi, pasti sangat sesak yang dirasakan Eunhyuk dan yang jelas ia tidak mau Eunhyuk kambuh lagi. Apalagi dengan raut Eunhyuk yang sempurna membuat siapa saja merasa iba, tapi aneh yang tidak ditangkap Sungmin adalah mata Eunhyuk yang sama sekali tidak mengeluarkan air.
"Baik..baiklah, Okee.. Aku mengizinkanmu asal Kau bisa menjaga tubuhmu dengan baik", Sungmin bergerak untuk merengkuh Eunhyuk. Namun, siapa disangka jika Eunhyuk tengah tersenyum tanpa suara di balik rengkuhan Sungmin.
'Yeah !, berhasil.. ternyata mudah sekali merayu Hyung ini..',
"Dimana tempatnya ?",
"Huh ?", Eunhyuk melepaskan pelukan Sungmin.
"Changkaman !, Aku ambil keterangannya dulu", Eunhyuk menuruni bednya dan mengambil secarik kertas rapi dari tas kulit biru tuanya.
"South Kore—Oh my God, Hyuu~ng", Eunhyuk yang memang baru membaca lampiran tersebut merasa kaget sebelum meneruskan sampai akhir.
"KO—KOREA ?, SOUTH KOREA ?", Sungmin tak kalah heboh menanggapi keterkejutan Eunhyuk. Dan sebagai jawaban Eunhyuk tidak mengeluarkan suara melainkan anggukan.
"Itu lebih baik, setidaknya Kau tidak dibuang di German atau Spanyol.. Untungnya lagi Aku sudah kembai ke Korea minggu depan..",
"Ahh.. Kalau begitu Aku bersyukur ?",
"Tentu saja iya, Kau memang mau tinggal di sana sendirian kalau tidak kuikuti.. Ehm.. tunggu, apa nama perusahaannya ?",
"LJC ?.. Iyaa, LJC hyung..",
"LJC ?, Perusahaan apa itu ?, Kepanjangannya apa ?", Sungmin bertanya antara ia pernah mendengar nama itu atau lupa atau sama sekali memang belum pernah mendengar.
"LJC.. Lee Jours Company.. ehm.. seperti tidak asing ya Hyung ?", Sungmin mengangguk mengiyakan, ia seperti masih berpikir lanjut seakan memang ia familiar dengan nama itu.
"Lee Jours ya ?.. Lee's..Lee's.. Lee ? LEE ? LEEEEE ?"
.
"OH MY GOD !",
.
Sungmin dan Eunhyuk berteriak bersama seakan baru menyadari dengan sangat baik perusahaan yang tadi disebutkan.
"Habis Aku… Hyung, Eotokhae ?", Eunhyuk bertanya heboh kepada Sungmin.
"Molla.. Hyung tidak tahu…",
"Ahh.. Eotokhae Hyung ?, Eotokhae ?.. Apa Aku bilang tidak saja ?, Apa Aku berhenti saja ?",
"Kau ingin tidak lulus ?", Giliran Sungmin mengembalikan pertanyaan Eunhyuk tadi.
"Lalu Aku harus bagaimana ?.. Hyung, Tolong Akuuuu…",
"Ganti namamu ?",
"Mwo ?", Eunhyuk menatap Sungmin tidak percaya.
"Kim Eun—Kim Eunja ?",
"Please Hyung, itu nama yeoja",
"Kim Eunji ?",
"HYUUUNG !".
"Ahhh.. Hyukkie.. Kapan Kau berhenti membuat masalah… Aish..",
"Jebbal tolong Hyukkie, Hyung",
"Memangnya Kau mau meminta tolong kepada siapa lagi selain Aku, anak manja ?",
"So ?",
"Aku bisa menyembunyikan berkasmu, asal Kau menuruti saranku dengan baik",
"Apapun lah Hyung, Aku ingin 2 bulan cepat berlalu dan terbebas dengan rapi..".
Yakin rapi ?
.
.:. Hold Me .:.
.
Hari yang indah mengawali senin yang menyenangkan bagi semua orang. Ada yang masih bergumul mesra dengan selimut, memenuhi tempat-tempat olahraga bermaksud mengayunkan kaki berulang untuk memutari lapangan, di meja makan terburu memakan sandwichnya karena takut terlambat ke sekolah, atau bahkan yang sudah berada di kantor untuk bekerja, menunjukkan keprofessionalannya di depan pimpinan yang sudah memberi ultimatum point untuk yang tidak on time. Seperti hari ini, LJC yang telah sedikit kita kenal sebagai perusahaan besar diantara yang lainnya di Korea Selatan, menunjukkan eksistensi berupa karyawan maupun pimpinan yang kompak untuk datang dan memenuhi Hall room, mungkin akan ada acara berkelas atau mungkin mencengangkan bagi karyawan. Karena tidak lucu selagi mereka sibuk mendengarkan pembicara di depan intinya malah mereka akan dimutasi.
"Lee Donghae..",
Pembicara di depan menjeda perkataannya sejenak, ia memakai setelan rapi yang mengagumkan di usia yang mulai memasuki 50 an.
"Tentu Kalian semua tahu siapa Dia.. Dia putra saya yang telah menghabiskan London untuk gelar sarjananya, mungkin sebagian dari kalian tahu apa maksud Kami mengumpulkan kalian di sini— "
Panjang yang diuraikan seorang pimpinan sekaligus pemilik LJC masih berlanjut hingga 30 menit kemudian. Beruntung karena semuanya bekerja sama dengan baik untuk mendengar pembicara berwibawa mereka. Lee Donghae yang tidak kalah menawan mampu menyesap perhatian publik yang sudah dipastikan pintar-pintar yang berada di hall tersebut. Ia sangat rapi dan terlihat tampan dengan setelan resmi namun terlihat tidak berlebihan. Waktu kini berlangsung untuk mempersilahkan ia berkenalan dengan sendirinya.
"Saya Lee Donghae yang akan memegang kendali atas manager pemasaran, menggantikan manager Kang yang naik jabatan sebagai manager koordinasi, untuk itu mohon bantuannya mengingat saya seorang pendatang dengan pengalaman yang nol..",
"Manager pemasaran ?",
"Iya tidak salah apa ?",
"Aku pikir telingaku yang salah dengar..",
"Aku pikir Dia yang akan menggantikan Presdir kita…",
"Aku pikir juga demikian… Kenapa Dia malah memegang kendali bagian itu, bukankah itu sedikit melelahkan ?",
"Entahlah, yang tahu alasannya juga para pimpinan sendiri..",
Banyak pertanyaan serta komentar atas bagian mana yang akan dikendalikan oleh Donghae. Dan memang benar, jika yang tahu alasan posisi tersebut hanyalah para pimpinan. Jelasnya baik Donghae atau Hanggeng bukanlah penjilat yang sok berkuasa, toh Donghae memang benar-benar masih pemula.
"Sejujurnya, bukan hanya perkenalan melelahkan anak saya saja yang ingin saya sampaikan pada pertemuan ini… Tentu kalian masih ingat dengan kegiatan rutin kita setiap tahunnya, karena perusahaan kita bekerja sama dengan beberapa Universitas yang ada di luar negeri, tentu ada pekerja magang yang akan tinggal 2 bulan di perusahaan kita, tapi mereka tidak mungkin berkenalan satu persatu bukan ?".
.
.:. Hold Me .:.
.
"Astaga Kau manis sekali sayang…",
"Hyu~ng, demi apa.. Ini aneh..", Eunhyuk merengek tidak terima atas perlakuan Sungmin.
"Sudah jangan berkomentar, Kau tahu jika sudah terlambat bukan…",
"Gara-gara Hyung yang menyeretku ke salon..",
"Kau yang terlambat bangun tadi… Sudahlah, cepat pakai kacamata ini…",
"Hyung, Aku akan terlihat cupu…",
"Kau manis percayalah… Cepat Hyukkie…", Sungmin terus heboh, padahal Eunhyuk yang seharusnya demikian. Hari pertama bekerja yang buruk menurutnya, pasti ia terlambat, karena baru tadi malam ia sampai di Seoul. Melelahkan dan yang jelas hampir tubuhnya kambuh, tapi ia tidak berlebihan dan bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
"Apa iya Aku harus masuk sekarang ?", Gamang Eunhyuk.
"Please… kau juga membuatku terlambat datang ke perusahaanku sendiri padahal ada rapat penting dan sekarang Kau bingung masuk atau tidak.."
"Mian…",
"Cepat masuk ke dalam, Aku yakin Donghae maupun Lee Ahjushi tidak mudah mengenalimu..",
"Tapi Hyung..",
"Okee, tutup lagi pintu mobilnya dan Aku akan mengantarmu ke bandara..",
"Annio ! Okee Aku masuk..", Eunhyuk segera memakai kacamatanya dan keluar dari mobil Sungmin. Ia yakin sudah sangat terlambat dari jam yang seharusnya dijadwalkan. Beberapa kali ia menengok ke mobil Sungmin seperti bertanya 'Haruskah Aku ?', tapi tentu tidak ada jawaban. Dan kini ia benar-bnar masuk ke gedung yang mungkin terakhir dimasukinya ketika ia masih Junior High School.
'Ingat ruangannya di lantai 11, kalau ada apa-apa hubungi hyung… Jangan lupa meminum obatmu jam makan siang nanti',
Dengan percaya diri Eunhyuk berjalan memasuki lift dan menekan tombol yang dituju. Bohong jika ia tidak gugup sebenarnya, sejauh ini belum ada yang mengenalinya, berarti perubahan surai merah menjadi blondenya sukses menyembunyikan siapa ia sebenarnya, toh selama ini orang-orang perusahaan tidak mengenalnya.
.
.
TRIING
.
.
Pintu lift terbuka dan tepat di depannya ada sebuah pintu yang menjadi tempat tujuan permintamaafan terlebih dahulu karena terlambat dan tempat yang membuatnya harus dipaksa nyaman 2 bulan ke depan.
.
.
CKLEK
.
.
Dari dalam fokus orang-orang beralih ke pintu berwarna coklat kokoh yang tampaknya handlenya tengah turun ke bawah, menandakan jika ada yang membuka dari luar.
.
.
TAP
.
TAP
.
.
"Eee… anyeong haseyo… ehm… maaf saya terlambat…",
.
'Manis…',
Salah satu personil tampan yang tengah berdiri mungkin sedikit berkenalan ulang dengan beberapa pekerja menatap takjub sosok yang baru saja membuka pintu.
"Ehm.. say—saya Kim Hyukjae, eee… Assistant magang dari Jepang…", Semua mata tertuju pada Eunhyuk yang mengenalkan diri sebagai Kim Hyukjae. Entah takjub akan penampilan Eunhyuk yang tergolong santai namun mewah atau karena bingung tentang siapa sosok Eunhyuk.
"Ki—Kim.. Hyuk—Jae ?", Tampan yang menjadi pusat meyakinkan pendengarannya pada blonde manis dengan kacamata yang menduduki hidung sempurna Eunhyuk.
.
DEG
.
"Ddd—Dongh…", Eunhyuk berucap samar, ketika orang yang membuat tubuhnya bergetar berjalan mendekat ke arahnya.
.
.
PLUK
.
.
'Tuhan please, jangan ketahuan sekarang..',
Eunhyuk berdoa diantara keterkejutannya merasakan tangan lain yang menyentuh benda di lehernya. Ia belum siap untuk ketahuan sekarang.
'Bodoh.. Kenapa Aku memakai kalung ini… Sungmin Hyung, eothokae ?, Dia akan tahu..'.
.
~TBC~
.
Chap 10 is coming, chapter ini sengaja saya cepatkan, namun bertahap biar nggak berkesan kecepetan. Saya juga nggak ingin meng END kan ff yang ini kok, perjalanannya masih panjang.
Dan yang jelas saya nggak akan merubah sifat Eunhyuk, karena itu memang sudah saya pikirkan sejak awal tentang karakter Eunhyuk.
Guys, sorry lama update nya… terimakasih yang udah review di chap 9..
Thanks to : Enjieee, NicKyun, VampireDPS, meyidhae, she3nn0, HHSHelviJjang, peachpetals , mankhey, HAEHYUK IS REAL, Polarise437, ren, Guest, ahahyuk, Agriester Jewel, hilallia, Wonhaesung Love, haeveunka, sitisisun, Anik0405, kakimulusheenim, Nakamichan, haehyuk86, dekdes, Lee Haerieun, ChoYenie94, reiasia95, isroie106, abilhikmah, Haehyuk546, wildapolaris, danactebh , chankachank, choi seul bee, babyhyukee, lee ikan, RisaSano.
Kunjungi FF saya yang Hot mama juga Monster in Me..
Jangan Lupa review
Oh iya, kalau review temen-temen buat chapter ini cepat dan banyak, minggu depan saya update chapter 4 monster in me deh..
Thanks !
