Hold me

Cast :

Super Junior Member

(Lee HyukJae)

(Lee DongHae)

and some cast from another group

Pair :

Actually HaeHyuk (YAOI)

Rate :

T

Genre :

Romance

.


.:. Hold Me .:.


.

"Sungmin Hyung ?",

"Hhhhh… Dd—Donghae ?", Gagap Sungmin setelah tahu siapa yang menyapanya dengan lirih.

"Ap—apa yang Kau lakukan di sini ?", Tambah Sungmin menekan takut melihat namja manis di sebelahnya yang ikut gemetar.

"Apa itu kejutan untukku ?", Tanya Donghae sembari menyeringai.

"Ap—apa maksudmu ?", Gugup Sungmin berlebihan, karena mungkin Donghae tahu.

"Kalian…", Jawab Donghae seadanya.

"Ka—Kau salah paham Hae…",

"JELASKAN PADAKU !",

.

.

TRIIING

.

.

~Huuuhh…

"Hae Hyung, Kenapa Kau begitu cepat sih ? ", Interupsi suara yang barusaja keluar dari lift dan ikut menimbrung dalam panasnya suasana ketiga makhluk yang bersitegang. Tanpa disadari ternyata Sungmin menghela nafas melihat namjanya datang,

'Angel ku…',

Kembali Donghae menatap Eunhyuk dan Sungmin bergantian,

"Ahh… Hyung… ee—Kau tahu Eunh—ah anni, maksudku Hyukjae bukan ?, Kenalkan.. ehm, Dia ini sepupuku Hyung… He..he..", Kyuhyun sedikitnya tahu tentang kekhawatiran apa yang terjadi di depan pintu apartementnya ini.

'Aku sebenarnya Kenapa sih, sampai emosi seperti ini…',

"Sepupu ?", Tanya Donghae menyelidiki.

"Nde Hae, ehm… Karena Hyukjae adalah sepupu Kyuhyun… jadi, Dia sepupuku juga bukan ?",

"Ah… benar Hyung…", Jawab Donghae sedikit kikuk karena memang ia merasa aneh sendiri, tidak tahu alasan kenapa ia begitu emosi melihat Sungmin berpelukan dengan namja yang ia ketahui sebagai asistennya.

"Jangan bilang Kau menganggapku selingkuh dengan bocah ini ?", Alih Sungmin mencoba mencairkan suasana lebih.

"Ha..ha..ha, mungkin Hyung…", Donghae terdengar tertawa meremehkan,

'Selingkuhan ?, yang benar saja… Bukannya kalian tadi menangis seperti anak kecil dan lagi, Sungmin Hyung ?, Hyukjae ?, Jadi apa nantinya…',

"Ehm… ngomong-ngomong, Kenapa Kau tadi meninggalkanku di lobby hyung ?", Tanya Kyuhyun pada Donghae yang sebenarnya memang sempat ia sapa ketika di lobby tadi, Kyuhyun tentu saja sedikit kaget melihat Eunhyuk, obyek yang membuat kekasihnya resah berjalan dengan Donghae. Matanya memberi isyarat Eunhyuk untuk lolos dan memerangkap Donghae dengan obrolan, tapi tak berlangsung lama.

"Ah iya, ini… tas mu, sayang…",

"Sa—sayang ?", Sungmin melirik Kyuhyun yang ada di samping Donghae, sedikit merasa risih mendengar panggilan Donghae atas Eunhyuk.

"Kamsahamnida, Sajangnim…", Eunhyuk berujar lirih sembari membagi kedua tangannya bekerja tidak sejalan, salah satu mengusap lelehan air di pipinya dan satu lagi menerima tasnya yang dibawakan Donghae, sebenarnya ini juga kebiasaannya dahulu.

.


.:. Hold Me .:.


.

Hari kedua yang tidak jauh berbeda dengan kemarin, pemandangan menggelikan satu jam yang lalu, juga teriakan yang membuat namja manis yang terduduk di samping kemudi ini kesal sendiri ketika mengingatnya. Masih sama permasalahannya, manis yang sulit dibangunkan, membuat manis yang lain berkoar-koar. Salah namja yang mempoutkan bibir ini sendiri sepertinya, kebiasaan lama yang memang tidak ada perubahan hingga usianya di awal 20-an. Bahkan, ia masih sempat memarahi orang yang dianggap hyung yang kini tengah mengemudikan tumpangan mewah ini dengan alasan matanya masih lengket dan sempat berteriak 'Kau memusnahkan mimpiku Hyung'.

"Kenapa dengan wajahmu ?, Kau masih marah pada Hyung ?",

"Menurut Hyung ?", Terbukti jika blonde manis ini tidak dalam mood yang baik.

"Menurutmu salah Hyung ?, Demi Tuhan, Kau yang sulit dibangunkan, Hyukkie…", Sungmin mencoba menjelaskan, berharap moody dongsaengnya ini cepat beralih.

"Tapi Aku bahkan tidak sempat sarapan Hyu~ng…",

"Kau mau terlambat ?, Kau bisa membelinya di kantor nanti…",

"Tapikan—",

"Kita sudah sampai… Cepat turunlah !, Donghae pasti sudah menunggumu di dalam…", Eunhyuk merasa Sungmin benar-benar menyebalkan saat ini, nadanya bahkan terdengar seperti usiran.

"Geure…geure…",

.

.

BRAAAK

.

.

"Awwh… Kau semakin imut kalau merajuk begitu", Sungmin bergidik ngeri, merasa khawatir pada mobilnya yang barusan Eunhyuk banting pintunya.

"Kau menyebalkan Hyung !", Eunhyuk menghentakkan kakinya sebelum menjauhi mobil Sungmin.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Kapan Kau akan meeting dengan Klien Hae ?",

"Kemungkinan nanti malam Appa…",

"Malam ?, Berarti Kau tidak akan makan malam di rumah ?", Tanya sang Ibu sedikit tidak suka jika anggota keluarganya melewatkan rutinitas makan bersama.

"Sayang sekali tidak Umma dan Aku rasa klien yang satu ini sangat suka minum, mengingat yah—club lah yang ak—",

"CLUB ?, Lalu bagaimana dengan makan malammu ?",

"Ehm… Tidak usah berlebihan Umma, Aku akan menyempatkan makan malam dengan Hyukjae nanti…",

"Dia juga akan ikut ?", Tanya yeoja ini tambah antusias, bukan mengarah pada senang akan tetapi lebih ke khawatir.

"Hm… tentu saja, Dia kan asistenku…",

"Andwae !, Jangan Hae…", Donghae menatap Ibunya aneh.

"Waeyo ?, Itu kan har—",

.

.

"Anyeong haseyo…", Nampaknya aktor kita telah merubah mood jeleknya, terbukti dari senyum cerah yang membuat 3 orang di meja makan spontan membalas dengan tarikan bibir yang tak kalah indah.

"Ahh… Kau sudah datang…", Donghae menarik kursi yang ada di sebelahnya dan mempersilahkan Eunhyuk untuk duduk.

"Kamsahamnida…",

"Kau sudah sarapan sayang ?", Reflek Eunhyuk yang memang tidak bisa berbohong atas pertanyaan hangat Heechul.

'Aduh kepalaku… Kenapa tidak bisa ku kontrol sih, tapi sebenarnya Aku memang lapar', Ronta Eunhyuk dalam hati atas gelengan kepalanya, mungkin sedikit memalukan. Eunhyuk kemudian melirik orang di sebelahnya yang ternyata juga tengah menatapnya, teduh yang membuat ia tersenyum sebagai tanggapan.

"Ini minum saja susu vanilla ku…", Donghae kemudian menyodorkan gelas besar yang penuh dengan cairan putih pada Eunhyuk. Akan tetapi Eunhyuk justru menjauhkan tubuhnya dan sedikit menarik hidungnya ke atas, mengisyaratkan tidak suka dengan minuman tersebut.

"Waeyo ?", Donghae bertanya bingung, sementara Eunhyuk tidak tahu juga bagaimana Bahasa yang pantas untuk menolak.

"Ah.. Umma lupa, persediaan susu stroberi kita memang sudah tidak ada…", Tanpa sadar Heechul mengucapkan kalimat yang menimbulkan pandangan aneh dari tiga lainnya.

Merasa tidak senang dengan pandangan suami juga anaknya terlebih yang berstatuskan asisten manis tersebut, Heechul buru-buru menjelaskan sesuatu.

"Maksud Umma begini, mungkin Nak Hyukjae memang tidak menyukai vanilla milk dan—ehm… Umma hanya menebak jika… yah.. Dia suka stroberi",

"Waahh… Ahjumma, etokhae arra ?",

Ada yang salah ?

.

.

Puk

.

.

"Maaf, maksud saya Salmonim", Mengerti akan panggilan yang ia layangkan salah, tangan pucatnya cepat menepuk bibir mungil miliknya.

"Ahh.. tidak masalah, panggil saja Ummaku dengan Ahjuma, Aku rasa itu nyaman… Benarkan Umma ?", Mendengar pertanyaan dari Donghae, Heechul hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Baiklah, biar bibi Jang buatkan teh untukmu kalau begitu…", Putus Heechul singkat karena tidak ingin melihat orang-orang penting di sana terlambat ke kantor.

.


.:. Hold Me .:.


.

Sesuai dengan yang disepakati sebelumnya antara atasan dan asisten ini, kini mereka tengah berada dalam satu tumpangan. Suasana kaku masih jelas terlihat diantara keduanya, terlebih Eunhyuk. Aneh sebenarnya jika Eunhyuk harus menahan untuk tidak mengeluarkan suara seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Sedangkan Donghae, wajar jika ia diam dengan alasan fokus pada jalanan, ia cukup tahu melihat perawakan Eunhyuk, namja manis itu bukanlah tipe-tipe orang yang bisa membawakan mobil, maka dari itu tanpa ia harus bertanya memastikan pada sang obyek bisa atau tidak dalam mengemudi, ia memutuskan sendiri untuk memegang kendali.

"Jadi ternyata Kau sepupunya Kyuhyun ya ?", Cakap Donghae mengawali.

"Ndee…", Ingin Eunhyuk berbicara banyak, tapi yang keluar hanya kata iya.

"Kyuhyun itu hoobaeku di SHS, tapi kami memang sangat akrab atau malah bisa ku katakan kami itu bersahabat",

'Bersahabat ?, Kau bahkan pernah memukulnya sampai diskors, bodoh',

"Ahh… Jinjayo ?", Hanya itu tanggapan yang berani Eunhyuk keluarkan. Suasana kembali kaku, Donghae fokus pada kemudinya sedangkan Eunhyuk yang merasa bosan, mulai memainkan game di smartphone nya. Sepupuh menit berlalu, Eunhyuk bahkan tidak sadar jika mesin mobil mewah ini telah mati dan sempurna terpakir di basement. Donghae yang merasa tidak ada pergerakan dari Eunhyuk, berinisiatif menoleh dan tersenyum begitu tahu apa yang sebenarnya blonde manis itu kerjakan. Ia turun terlebih dahulu tanpa mengusik Eunhyuk yang benar-benar santai dengan permainannya.

.

.

Klek

.

.

Bahkan setelah Donghae membuka pintu samping Eunhyuk, manis ini tidak juga bereaksi. Pemandangan yang justru Donghae terima adalah wajah gelisah asistennya yang terus fokus pada permainan tersebut.

"Kau bisa bermain tidak sih ?, nyawamu kenapa hanya tinggal 1 begitu ?", Donghae mencoba menyadarkan blonde ini dengan teguran berbau candaan.

"Changkan Hae~, Jangan mengejekku !", Benar-benar di luar dugaan.

.

.

DEG

.

.

"Hae ?", Donghae melebarkan matanya, mungkin telinganya salah menangkap panggilan barusan.

"Apa permainan itu begitu mengasy—",

"Aissh !, Game Over… Ahhh… I hate this", Donghae semakin melebarkan matanya begitu manis yang dirasa belum sadar itu memotong ucapannya. Wajah sebal Donghae tangkap dari kekalahan asistennya, begitu menggemaskan menurutnya.

'Andai ini benar-benar Kau sayang…',

"Ahh… Aku sungguh tidak menyukai ini, Harusnya Aku menangkan tadi ?", Eunhyuk bertanya santai pada Donghae yang tengah terdiam memandanginya. Bahkan kakinya sekarang bergerak turun dan membuat Donghae bergeser untuk memberi ruang Eunhyuk keluar.

"Ah.. tunggu saja nanti, Aku benar-benar akan mempertahankan nyawaku !", Eunhyuk menyodorkan sesuatu pada Donghae tanpa sadar.

"Tolong Hae !, ini berat", tas berwarna hitam dengan bandul menggemaskan itu begitu saja Eunhyuk berikan pada Donghae dan entah kenapa karena suasana ini begitu dikenal Donghae dengan entengnya tas itu ia terima. Dulu, beberapa tahun yang lalu, memang ia selalu membawakan tas sahabatnya. Eunhyuk berjalan santai mendahului Donghae yang walaupun bingung akan tingkah Eunhyuk menutup pintu mobil dengan pelan.

.

.

Kaki Eunhyuk terus melangkah lebih dahulu dari Donghae yang berjalan santai di belakangnya, bukankah posisi ini sedikit salah. Siapa yang harus membawakan tas siapa eoh. Donghae maklum karena asistennya itu masih kesal dengan game yang tadi, atau mungkin memang dasar ia adalah orang yang baik.

"Hei kalian baru sampai ?",

.

Tap

.

Interupsi barusan membuat Eunhyuk mengangkat wajahnya dan seperti dugaannya namja paruh baya, Direktur utama dari perusahaan dan juga orang yang sangat ia kenal.

"Apa Donghae membuatmu kesal ?, Kenapa berjalan terlebih dahulu ?",

.

.

Doeng !

.

.

Eunhyuk buru-buru menutup bibirnya yang melongo, ia ingat kesalahan besar yang ia lakukan selama beberapa menit terakhir.

"Astaga !", Eunhyuk berbalik cepat dan mendekati Donghae dengan wajah ketakutan yang luar biasa imut. Bahkan Han Ahjushi yang barusaja menyapanya sama sekali tak ia tanggapi sehingga menimbulkan kernyitan dahi dari namja paruh baya, ayah atasannya ini.

"Waeyo ?, Ada apa dengan ekspresimu ?", Donghae bertanya santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi, walaupun sebenarnya ia tahu jika namja manis di depannya ini sudah tersadar dan mencoba menunjukkan penyesalan.

"Tidak enak dengan pegawai lainnya kan kalau kita terlambat ?", Melihat Eunhyuk yang sama sekali belum bergerak dengan ekspresi menggemaskan tersebut, Donghae berisiatif menuntun Eunhyuk dan melewati ayahnya dengan senyum tampannya.

"Bodoh !", Sebal Eunhyuk pada dirinya sendiri, ia bahkan belum sempat meminta tasnya yang dibawakan Donghae.

"Kau mengucapkan sesuatu ?", Tanya Donghae begitu memasuki lift yang walaupun ia sebenarnya juga mendengar dengan jelas gumaman blonde di sampingnya.

"Sa—sajangnim…",

"Iya ?",

"Ee—itu… Ak—Aku—",

"Kau tidak enak badan ?",

"Ehm.. bukan, maksudku—", Eunhyuk menjeda ucapannya dan menghela nafas banyak.

"Mianhe…",

"Ha..ha..ha, Kau sudah sadar ternyata, tidak masalah… Aku pernah menghadapi mood seseorang yang lebih parah karena kalah bermain game", Donghae sedikit menekan tiga kata terakhir dalam kalimatnya.

"Jeongmal mianhe…", Cicit Eunhyuk takut, ia menangkap jika atasannya ini sedikit menyudutkannya, padahal tidak sama sekali.

"Hei… Aku bilang tidak masalah bukan ?", Eunhyuk malah menunduk takut melihat Donghae yang saat ini tengah menatapnya.

"Tas ku…", Eunhyuk menengadahkan tangannya untuk menerima barang hitam yang Donghae bawa.

"Kau bilang ini berat, Aku tidak masalah membantu membawakan…",

"Mian Sajangnim—hiks…", Satu isakan lolos dari bibir Eunhyuk, ia benar-benar malu saat ini pada Donghae, beruntung lift ini kosong.

"Oh God !, Ka—Kau menangis ?", Satu tangan Donghae mengangkat wajah Eunhyuk dengan santun, takut jika ringkih di depannya semakin terisak.

"Mian Sajangnim… Ak—Aku—hiks.. bodoh—hiks..", Dan benar, Eunhyuk tambah terisak dengan air mata yang terjatuh bergantian dari ke dua matanya.

"Hei.. stop dear, kau tidak salah apa-apa sayang…", Donghae mengusap air mata Eunhyuk dengan tenang, di sisi lain ia merasakan hal yang tidak bisa secara gamblang untuk dijelaskan.

'Kenapa Aku merasa tidak asing dengan ini ?'.

"Mian—hiks…", Donghae menyisihkan beberapa anak rambut yang menghalangi mata Eunhyuk.

"Hei sudah !, Aku tidak memarahimu… berhenti menangis, Oke ?, Orang-orang akan berpikir Aku melakukan sesuatu yang tidak-tidak nanti…", Terus Donghae sembari mengelus pipi Chubby asistennya.

"Tapi—hiks…",

"Sudah..sudah…", Donghae membawa manis ini dalam pelukannya, benar-benar bukan sesuatu yang asing. Dulu, ada seseorang yang sama seperti ini juga dan entah kenapa keduanya begitu menyelami posisi ini, hangat dan seperti sesuatu yang sudah lama dirindukan.

.

.

TRIIING

.

.

Pintu Lift terbuka di lantai tujuan keduanya, 23, akan tetapi baik Donghae maupun Eunhyuk belum melepaskan pelukan masing-masing, Eunhyuk masih sedikit terisak di dada Donghae.

"Lee Sajang—nim ?", Kepala Donghae terangkat begitu mendengar seseorang memanggil namanya dengan ragu.

"Ahh… Hei, Kita sudah sampai…", Bisik Donghae pada Eunhyuk yang entah sejak kapan mengalungkan lengan di tengkuknya. Eunhyuk menjauhkan tubuh kecilnya dan sekaligus orang yang tadi memanggil Donghae dapat melihat sisa lelehan air matanya. Tanpa menunggu waktu lama, Donghae membawa Eunhyuk keluar dari lift dan menyempatkan membungkukkan badan sebagai salam pada orang yang memanggilnya tadi, ditambah tangannya menaut mesra jemari Eunhyuk.

"I—itu tadi Hyukjae-shi ?", Tanya namja ini pada rekan yeoja di sampingnya.

"Iya dan Aku yakin Kau juga melihat kalau ia tengah menangis…",

"Noona, Apa Kau berpikiran sama denganku ?",

"Aku pikir benar-benar sama, Joon-ah…", Jawab sang yeoja yang mengelus perut membuncitnya.

"So ?",

"Maybe, mereka ada affair…".

.


.:. Hold Me .:.


.

"Hyung, Kau ingin kuberitahu sesuatu tidak ?",

"Kyu please, Kita sedang di kantor… Jangan begini !", Sungmin mencoba melepaskan rengkuhan Kyuhyun karena ia cukup waras dengan dimana posisi mereka saat ini.

"Huh… Hyung, Kita bahkan akan menikah, tapi Kau tetap saja malu-malu… Biasanya juga agresif kalau di ranj—",

"TUTUP MULUTMU, MESUM !", Marah Sungmin mendengar Kyuhyun yang mulai gila.

"Arra..arra",

"Apa yang ingin Kau beritahu sebenarnya ?", Penasaran Sungmin.

"Cara Eunhyuk yang selalu ceroboh begitu kupikir akan membuat tanda yang jelas untuk Donghae Hyung…",

"Maksudmu ?", Sungmin mengernyitkan dahinya.

"Tadi pagi Aku mengunjungi LJC, Kau tahu hyung… yah—Aku mengerti kalau Eunhyuk itu manja, tapi masa iya sekarang ia bertingkah tidak selayaknya asisten Hae Hyung",

"Apa yang ia lakukan memang ?",

"Aku melihat Donghae hyung membukakan pintu untuknya dan yang lebih parah, ia menyerahkan tasnya untuk dibawa Hae Hyung…",

"Mwo ?, Oh Gosh, anak ituuu…", Sungmin mengacak rambut rapinya dan segera menyambar smartphone di meja kerjanya.

"No !", Kyuhyun mencegah tangan kekasihnya untuk menyalakan benda canggih tersebut.

"Jangan sekarang Hyung, Mereka ada rapat dan hell… Aku yakin, Adikmu itu tidak merubah mode ponselnya",

"Ahh… Kenapa Dia bodoh sekali sih Kyu~, Ya Tuhaan…".

"Biarkah mereka menikmati waktu yang sia-sia selama ini Hyung…",

"Tapi itu berbahaya bagi Eunhyuk",

"Setidaknya biarkan, mereka sendiri yang bisa mengendalikannya…",

"Tapi Aku hanya khawatir jika Donghae tahu dan tiba-tiba… Eunhyuk selesai…",

"Kita tidak patut untuk berbaur, selebihnya urusan mereka, Hyung".

.


.:. Hold Me .:.


.

"Apa Kau sudah izin pada Kyuhyun dan Sungmin Hyung ?",

"Hmm… Aku baru menghubunginya",

"Masih ada waktu 2 jam lagi, Aku pikir Kita harus dinner sekarang… Kau ingin makan apa ?",

"Ehm…", 5 detik berlalu, akan tetapi Eunhyuk masih bertahan dengan pikirannya.

.

Tuk

.

"Aw…", Eunhyuk mendelik merasa panas pada keningnya yang baru Donghae sentil.

"Apa Kau selalu berpikir lambat ?",

"Mwoya ?", Eunhyuk semakin berani mengingat ejekan Donghae barusan.

"Ha..ha..ha, Lihat !.. Lihat ! ekspresimu menggelikan Hyukkie… sama seperti tadi pagi ketika Kau meminta maaf",

"YA~ !", Eunhyuk sedikit merajuk tak terima, tanpa sadar juga Donghae memanggilnya Hyukkie dan entah kenapa suasana dalam mobil ini menghangat tak seperti tadi pagi.

"Sungguh !, Kau sering merajuk seperti ini ya ?", Donghae masih menahan pingkalannya melihat ekspresi Eunhyuk yang benar-benar menggemaskan juga menggelikan menurutnya.

"Sajangnim !", Nada Eunhyuk sedikit meninggi.

"Ah.. Oke..Oke, Kau ingin makan apa, sayang ?", Donghae kembali fokus pada jalanan di depannya.

"Yang di sana, sebelah kanan jalan samping butik itu saja…", Tunjuk Eunhyuk akhirnya.

"Kau juga menyukai makanan itu ternyata",

"Wae ?", Eunhyuk bertanya penasaran dengan pernyataan Donghae.

"Kekasihku dulu sangat menyukainya, Kami sering ke sana setiap pulang sekolah…",

'Bogoshippo Eunhyukkie…', Terus Donghae dalam hati.

'Begitu indahnyakah masamu dengan Kibum Hyung Hae, bahkan Kau mengabaikanku yang sahabatmu kalau Aku juga menyukai makanan itu',

"Ayo turun Princess…", Eunhyuk tersadar jika Donghae sudah membukakan pintu untuknya, lagi.

.

.

Binar kebahagiaan dan rona menggemaskan terpancar dari sisi Eunhyuk, ia terlihat benar-benar manis jika tersenyum begitu indah seperti saat ini. Betapa wajahnya terlihat malu-malu ketika Donghae, orang yang beberapa saat lalu mengusap sisa makanan di sudut bibirnya. Selagi Donghae undur ke wash room, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tabung dengan tutup berwarna putih yang isinya butiran-butiran kuning dengan bau memuakkan.

"Uhh, sumpah baunya… Tapi akan lebih berbahaya jika Aku tidak meminumnya…", Eunhyuk sudah memasukkan obat itu ke dalam mulut kecilnya, di sisi lain Donghae sudah sampai pada tempatnya dan menatap Eunhyuk heran. Eunhyuk melirik Donghae santai, karena ia sudah menyiapkan alasan itu bukan obat aneh, hanya vitamin.

"Appa !",

.

.

~Uhuuk

.

.

Eunhyuk mengeluarkan air juga obat yang belum sempurna ditelannya. Ia masih terbatuk dengan tangan yang menepuki dadanya sendiri, bayangkan betapa sakitnya orang tersedak. Terlebih yang membuatnya begini hanya suara anak kecil yang belum tahu siapa gerangan, tapi yang jelas anak itu sedang memeluk kaki Donghae sekarang.

"Hyuk, Kau tidak apa-apa ?", Tanya Donghae melihat asistennya kesakitan, ia sedikit tidak memperdulikan panggilan untuknya barusan.

"Appa~…", Rajuk ulang anak kecil ini menarik-narik celana Donghae merasa tidak diperhatikan, Eunhyuk pun mengajak matanya untuk berkompromi menyaksikan obyek yang membuatnya begini.

"Sebentar Minho, Hyung itu kesakit—",

.

.

PRAAAK

.

.

"HYUKJAE !".

Tabung kecil yang sedari tadi Eunhyuk genggam jatuh bercecer dengan isinya di lantai restaurant tersebut. Tubuhnya melemas dengan mata yang tiba-tiba memanas sedemikian karena cukup atau bahkan sangat mengenal nama yang diucapkan Donghae barusan.

'Appa ?... Minho ?',

"Mianhe bummie.. jeongmal mianhe.. Ak—aku tidak tahu kalau seb—sebenarnya Minho itu adalah anakku..".

'Minho anak Donghae ?',

.

Tes

.

Air mata yang sedari tadi ditahan pun jatuh jua, nafas Eunhyuk menjadi pendek dan cepat.

'Jangan kambuhkan Aku sekarang Tuhan…', Mohon Eunhyuk merasa tubuhnya drop.

"Hyuk, Kau kenapa ?, Ada yang sakit ?", Donghae menggendong Minho dan berdiri menghampiri Eunhyuk.

"Stop—hiks… hossh~", Nafasnya seperti semakin habis. Ia tidak mungkin meraup obatnya yang sudah terjatuh kemudian meminumnya.

"Hikss—Jangan mendekat ! hhh…", Tangannya semakin menepuki dadanya dengan keras, berharap nafasnya normal kembali, di satu sisi ia mencari-cari benda yang ada di lehernya, kepercayaan yang selalu datang untuknya, tapi tidak ada… Ia sudah melepas benda itu dan dirasa sangat sia-sia karena orang yang ia butuhkan ada di depannya.

"Jangan membuatku takut, jelaskan apa yang Kau rasakan !", Donghae berubah panik melihat Eunhyuk yang menangis dan kesakitan.

.

.

"Ada apa Hae ?", Donghae juga Eunhyuk sama-sama mengangkat kepala menatap pemilik suara barusan.

"Mommy~", Minho turun dari gendongan Donghae dan berpindah di gendongan Ibunya, Kibum. Donghae tidak menghiraukan panggilan Kibum dan segera memegang kedua bahu Eunhyuk.

"Jangan membuatku khawatir please, Kau kenapa ?", Donghae menggoncangkan bahu ringkih tersebut. Khawatirnya jelas terlihat dari pancaran mata yang tak pernah berbohong itu.

.

SEET

.

Eunhyuk mendorong tubuh Donghae dengan sisa tenaga yang ada, tangannya dengan cepat mengambil selempang mahal yang ada di kursinya. Masa bodoh dengan tubuhnya sendiri yang harus kehilangan nafas atau bahkan mati, ia hanya ingin segera meninggalkan tempat ini. Responnya begitu buruk untuk memori yang sebenarnya salah tersebut.

"KAU MAU KEMANA ?", Teriak Donghae tidak nyaman melihat Eunhyuk yang mencoba melarikan diri. Dan Eunhyuk tidak bisa berkata-kata, hanya dengan langkah kecil yang tidak beraturan.

.

GREB

.

"Jebbal !, Jelaskan padaku Kau kenapa ?", Donghae memeluk Eunhyuk dari belakang, menahan pergerakan dan rontaan yang keluar dari asistennya.

"Hiks—Lepashh..", Nada Eunhyuk terdengar lirih dengan rontaan yang tak seberapa.

"Kau akan kemana ?",

"Ak—akhh..Aku mau pulang—hiks… tolong lepaskan !",

"Berhentilah, tolong jelaskan sesuatu padaku !, Kenapa tiba-tiba seperti ini ?", Eunhyuk malah tambah meronta, salah pahamnya terlalu besar dan ia tidak bisa mengendalikan dengan baik.

"HYUK ! BERHENTI KUBILANG !", Ulang Donghae membentaknya dan sungguh mantra yang ajaib, anak manis ini berhenti.

"Jebbal—hiks.. Ak—aku harus pulang…", Tangan Donghae terlepas dari tubuhnya dan ia berbalik menatap mata Donghae dengan sendu.

"Baik !, Pulanglah !", Donghae kemudian berbalik, sama sekali tak menghiraukannya lagi.

'Inilah alasanku untuk tidak kembali… Sakit sekali kalau mengingatnya, memang seharusnya Aku menjauh darimu kan….',

"Minho, pulang dengan Appa Nee ?",

"Yey!, Let's go captain", Seru Minho senang, Eunhyuk berjalan menjauh dan mencoba untuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.

"Iya sayang ?",

"Hiks—hyung… jemput Aku",

.

Tuuutt—

.


.:. Hold Me .:.


.

"Chagi, tenanglah !, Ku mohon !",

"Kau gila ?, Kau menyuruhku tenang saat Eunhyuk kambuh…",

"Please !, Kita di Rumah Sakit Hyung, setidaknya jangan membuat keributan dan membuat pasien lain tidak nyaman !",

"Haruskah Aku berpura-pura nyaman melihat betapa menyedihkannya Eunhyuk pingsan di jalanan beberapa saat lalu, Kau bahkan melihatnya sendiri Kyu…",

"Jebbal Hyung !, Aku juga khawatir, tapi setidaknya jangan begini...".

"Hikss—Demi Tuhan, Aku akan membunuh Donghae !", Ancam Sungmin tidak senang karena Eunhyuk pasti kambuh karena orang itu.

"Jangan gegabah Hyung…",

"Aku akan mendatanginya dan mencabik wajah bangsatnya sekarang juga", Sungmin bersiap untuk meninggalkan tempatnya sekarang.

"Please !, Kau sendiri yang tidak ingin Donghae tahu atau Eunhyuk akan berakhir, Kumohon.. jangan membuat suasana semakin sulit…",

"Kau tidak lihat mobilnya yang meninggalkan parkiran ? dengan Eunhyuk yang sudah jatuh di aspal, Kau tidak ingat darah yang keluar dari kepala Eunhyuk ?, Apa Kau lupa dengan itu semua ?", Koar Sungmin yang memang dibenarkan Kyuhyun.

"Itu karena Donghae Hyung tidak tahu…",

"Maka dari itu Aku akan memberit—",

.

.

"Sungmin-shi ?", Sungmin menoleh mendengar panggilan sosok berjas putih dengan hands coon penuh darah yang ia tahu adalah Dokter yang baru keluar dari ruang operasi tersebut.

"U—uisa… Bagaimana keadaan adik saya ?",

"Bisa Anda ikut ke ruangan saya ?", Sungmin mengangguk dan berjalan mengikuti Dokter dengan tangan yang bertaut pada milik Kyuhyun.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Sudah setengah 7, mana Hyukjae ?", Tanya sang Ibu pada tampan yang sedari kemarin malam tidak mengeluarkan suara.

"Entahlah..", Donghae menjawab dengan malas, ia fokus dengan makanan yang ada di piringnya. Ia entah merasa bersalah atau kesal dengan namja manis yang kemarin meninggalkannya.

"Bagaimana meetingmu semalam ?", Giliran sang ayah yang berbaur.

"Buruk !", Singkat lagi yang membuat kedua orang tuanya saling menukar pandangan.

"Kau tidak berhasil mendapatkan kerjasama ?", Bukannya sang ayah meremehkan, bahkan ini adalah proyek kecil dan jelasnya Hanggeng percaya jika anaknya mampu.

"Aku bahkan tidak menghadirinya",

"Mwo ?", Hanggeng semakin penasaran dengan anaknya ini.

"Ada permasalahan semalam yang membuatku kacau dan sangat kesal",

"Dengan siapa ?",

"Sepupu Sungmin…", Jawab Donghae seakan enggan menyebutkan nama asli manis yang membuatnya menjadi brengsek semalaman.

"Huh ?",

"Kau bertengkar dengan Hyukjae ?", Donghae mendongak mendengar pertanyaan sang ibu.

"Umma… Bagaimana Umma tahu ?", Donghae yang sekarang penasaran dengan Ummanya.

"Ha..ha..ha, Umma rasa tebakan Umma selalu tepat akhir-akhir ini", Bukan jawaban yang memuaskan bagi yang bertanya.

"Kenapa kalian bisa bertengkar ?", Tanya Hanggeng.

"Dia membuatku kesal dan membuatku bingung tiba-tiba, padahal Aku ingin mengenalkan Minho padanya, tap—",

"Ada Minho ?",

"Nde, Aku bertemu Kibum semalam, tapi Hyukjae tiba-tiba tersedak dan entahlah seperti shock begitu, yang membuatku tambah kesal dia menangis dan meminta pulang, ya akhirnya Aku suruh Dia pulang",

"KAU !", Hanggeng maupun Heechul meneriaki Donghae yang kini kembali dengan wajah menyesal dan bersalah.

"Kau tidak mengantarnya atau memanggilkan taxi ?", Heechul bertanya khawatir.

"Tidak, Ah… Aku merasa sangat bersalah sekarang…", Donghae menghela nafas dan menghentikan makannya.

"Kau merasa namja ?", Nada Hanggeng terdengar tidak bersahabat.

"Mian Appa, Aku tidak bisa mengendalikan emosiku semalam, begitu Aku keluar Dia sudah tidak ada",

"Dan Kau masih bisa membuat alasan ?", Kembali Hanggeng bertanya, namun Donghae hanya diam.

"Lalu Dia pulang dengan siapa dan bagaimana Hae ?",

"Kenapa sih Umma terlalu khawatir dengannya ?, paling juga Sungmin Hyung",

"Bagaimana kalau Dia kebingungan ?, Bagaimana kalau Dia tersesat dan tidak tahu jalan ke rumahnya ?, lalu Bagaimana kalau ia kambuh dan pingsan di jalan ?",

"Umma pikir Dia Hyukkie ?, Hyukkie bisa cemburu jika Umma mengkhawatirkan orang lain begini…", Donghae meminum sisa airnya dan berdiri dari kursinya.

"Aku pikir anak menjengkelkan itu tidak akan datang, jadi… Aku berangkat saja sekarang…", Ia pun meninggalkan Appa juga Ummanya dalam kekhawatiran masing-masing.

.


.:. Hold Me .:.


.

Bunyi detik jam yang terdengar jelas di keheningan ruangan ini menyapa pagi seorang namja manis dengan selimut biru khas tempat rawatnya. Menyedihkan dengan balutan perban di kelapanya, kabel-kabel yang sulit dijelaskan bergelantungan dari sisi kanan dan kirinya. Entah di sana selang infus, selang nebulizers dan peralatan ECG maupun EEG yang akan mudah dicerna orang medis tapi sedikit sulit untuk orang awam. Bulu lentik matanya sedikit bergerak-gerak, jari-jari kurusnya pun ikut kemudian, awalnya hanya kecil, kemudian sering dan kontraksinya bertambah.

"Hhh…", Helaan nafas mengawali kesadarannya, tangan pucat itu tergerak membuka penutup hidung serta bibirnya, matanya perlahan-lahan pun terbuka. Bergerak-gerak ke segala arah untuk mengenali sebenarnya ini tempat apa.

"Rumah Sakit ?", Helanya lirih dan cepat ketika tangannya menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.

"Aww…", Matanya tertutup cepat, ia membenci peralatan-peralatan yang ditancapkan di tubuh kurusnya ini. Terlebih hal yang paling ia benci, sendirian, tidak ada siapapun di sana.

"Sungmin Hyung—hiks…", Anak ini semakin memegangi kepalanya menahan sakit, terakhir yang ia ingat usiran Donghae untuknya dan ia sudah mencoba beberapa kali, ia tidak bisa merecall ingatan setelahnya.

"Hyung dimana—hiks… ?", Pikiran buruk menyerangnya, ia bukan dewasa yang selalu memikirkan hal posistif dalam keadaan sekarang.

"Apa Hyung juga meninggalkanku ?", Tanyanya menatap ke segala arah, berharap hyung yang dimaksud tidur atau berada di salah satu sudut ruangan, tapi nihil.

"Hiks—Ak—aku bagaimana ?", Ia menatap seluruh peralatan medis ini seperti seorang anti.

.

.

ZRAAAK… SRRTT… SRRAAKK

.

.

"Hiks… Appo…", Tangisnya pecah melihat darah yang mengucur dari pergelangan tangan kirinya, kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi kembali, Eunhyuk yang membenci suasana ini memberontak dengan melepaskan peralatan medis tersebut. Sakit tidak dipedulikannya, menurutnya orang-orang yang disayanginyalah yang mengajarkannya demikian. Andaikan Sungmin tetap tinggal pagi ini, negatif yang membuat Eunhyuk rusak tidak akan datang.

"Hiks… Umma… Aku ingin Umma—hiks…".

.


.:. Hold Me .:.


.

Buket bunga yang indah dengan isian lili putih cantik dan juga harum, yeoja ini melangkah dengan membawa benda tersebut. Bukan menghadiri pesta atau pertemuan mewah, ini bahkan sangat dekat dengan kata menyedihkan dan tangisan, di sini, di pemakaman. Setiap tiga hari sekali atau mungkin tak terhitung jumlah kapan, yeoja ini selalu meyempatkan diri untuk kemari. Terlebih lima tahun lalu, ketika insiden yang tidak diinginkan terjadi.

'Aku selalu merindukan kalian berdua, maafkan Aku… Teuki… Kangin, Aku berjanji akan membawa anak kalian kembali…',

Jalannya semakin dekat pada gundukan tanah yang membentuk setengah bola padat, di sini terasa sangat menyejukkan. Kaki yeoja ini terus berjalan sebelum menemukan keanehan hingga ia berhenti dan mengelus dada.

"Hiks… Umma… bogoshippo—hiks…",

Ia mendengar, bukan hanya mendengar… yeoja dengan buket ini bahkan melihat dan dapat menebak dengan benar siapa orang dengan pakaian khas Rumah Sakit yang menangis dan tengah memeluk makam orang yang dikenalnya, walaupun dibelakangi.

"Appo—hiks… Tangan Hyukkie—hiks.. perih Umma…",

Heechul, yeoja ini semakin mendekati obyek di depannya, blonde yang hanya terlihat dari belakang.

"Hyu—Hyukkie…", Panggilnya dan langsung dihadiahi tolehan.

"Haaahh…", Eunhyuk, blonde ini menutup bibirnya, ia buru-buru berdiri dan mengusap air matanya, perjuangannya tidak boleh berakhir di sini.

"Sa—salmonim…", Ia berantakan, lengan bajunya bahkan berubah merah dengan cairan pekat yang menyala.

"Sayang, Kau berdarah…", Heechul mendekati namja manis di depannya, tapi Eunhyuk malah mundur dan

.

BRUG

.

Terjatuh,

Kakinya lemas, ia mungkin terlalu lemah karena banyak darah yang keluar dari lukanya. Kepalanya menggeleng takut, Dia masih berusaha menggeser tubuhnya ke belakang. Tapi jelas Heechul yang sehat bisa mengendalikannya.

"Jebbal Hyukkie… Tanganmu berdarah Nak, Kau kesakitan…", Eunhyuk tetap tidak mau mendengarkan, egoisnya terlalu tinggi untuk dijatuhkan.

"Umma arra !", Sentak Heechul melihat Eunhyuk yang begitu menyebalkan.

"An—anda tidak tahu—hiks…",

"Berhenti memanggilku seperti orang asing Kim Eunhyuk !", Eunhyuk menundukkan wajahnya, lututnya tertekuk untuk menyangga kepala.

"Aku akan menelfon Donghae dan memintanya menjemput kita di sini !".

.

.


~TBC~


.

.

Hold Me chap 12 Update

Maaf lama, yang penting update kan ? dan maaf juga kalau nggak sesuai yang reader kehendaki.

Saya balas satu persatu kok review nya bagi yang ada akun ffn dan buat yang belum ada akun ffn Thank you so much, here I reply J

Thanks : Agriester Jewel, 4454, liaya13, aiyuu kie, Polarise437, Guest, ahahyuk, Rezy.K, mizukhy yank eny, hyona, ahra, kim hyunra, Wonhaesung Love. All, ini chapter 12 udah lanjuuuut J.

Lee Haerieun (Eonni Thank you udah nunggu, ini update kok chap 12 nya, lumutan nunggu pasti ?).

Ren (Thanks, kamu salah satu reviewer setianya hold me, ini udah lanjut say)

Mankhey (Thanks karena udah review dari awal sampai chap 11, Hyukkie pasti kembali kok, tapi nggak sekarang ya… kalo skrg ceritanya end dong).

Lee Hyungseo (Thanks kritikannya, saya akan berusaha lebih baik ke depan dan ini sudah saya lanjuuuut).

Yang nggak saya sebutin berarti udah dibales, check inboxnya.

Jangan lupa review lagi buat chap 12, I promise… kalau kalian semua yang review d chap 11 review lagi d chap ini, minggu depan… update chap 13.

Bagi yang belum tahu FF baru saya OS Don't Leave Me RnR juga ya ;)

Thanks :*