Hold me

Cast :

Super Junior Member

(Lee HyukJae)

(Lee DongHae)

and some cast from another group

Pair :

Actually HaeHyuk (YAOI)

Rate :

T

Genre :

Romance

.


.:. Hold Me .:.


.

"Daddy nugu ?", Tanya Eunhyuk tidak mengerti karena panggilan Minho yang tidak mengarah kepada siapapun di rumah ini.

"Nugu~?", Tuntut Eunhyuk sekali lagi.

"Aish, walaupun kusebutkan siapa Kau juga tidak akan tahu, Kau… tidak bisakah duduk di tempat Ummaku ?", Alih Donghae membungkam cerocosan Eunhyuk.

"Aku bilang tidak mau !", Beruntung karena Eunhyuk masih bersuara datar, tidak dengan lengkingan yang luar biasa merusak telinga.

"Ehm… Hyukkie, Bagaimana jika Kau membersihkan diri dulu, kemudian berganti dengan pakaian yang Kita beli kemarin… Semua orang sudah rapi loo, Ayo Ahjumma antarkan…", Heechul yang berinisiatif menjauhkan Eunhyuk dari Minho tanpa mendengar balasan iya atau anggukan mau dari Eunhyuk langsung menyeret namja manis itu untuk menaiki tangga.

"Kau tidak berpikir Dia mirip seseorang, Hae ?", Tanya Hanggeng memberanikan diri setelah sang istri meninggalkan tempatnya.

"Huh ?", Pertanyaan Hanggeng membuat Donghae tertegun, ia terdiam dari kegiatan mengusap air mata Minho.

"Memang ada orang yang mau dikatakan mirip dengannya, Ha..ha..ha.. Appa ada-ada saja", Canda Donghae sembari menyangkal.

.

Empa puluh lima menit kurang lebih waktu yang diperlukan Eunhyuk untuk bersiap dan menghabiskan sarapannya dengan tenang, walaupun lirik-lirik tajam masih ia berikan sesekali kepada namja kecil yang berada di pangkuan Donghae. Mereka bertiga berjalan menuju mobil Donghae dengan Minho yang masih ada dalam gendongannya. Eunhyuk juga tetap dengan sungutannya, ditambah lagi ketika Donghae membuka pintu sebelah kanan sport mahalnya ini dan meletakkan Minho di kursi depan.

"Aku duduk Dimana ?", Donghae menoleh mendengarkan pertanyaan Eunhyuk.

"Ehm… di belakang Nee ?",

"Shireo !, Aku tidak suka duduk di belakang, Aku mau di depan, suruh saja Dia yang duduk di belakang", Eunhyuk menunjuk Minho dengan telunjuk lentiknya. Donghae mengikuti arah telunjuk Eunhyuk dan menemukan mata Minho yang berkedip menggemaskan.

"Ee—Kau tahu kan kalau Minho tadi baru menangis, Dia kan juga masih kec—",

"Aku tetap tidak mau duduk di belakang",

'Shit !, Tidak adakah hobby lain selain merebutkan kursi ?, Sabar Donghae… Sabar…',

"Geure… geure…", Donghae menjeda ucapannya dan menggendong ulang Minho.

"Duduklah di sini !", Donghae mempersilahkan Eunhyuk untuk duduk di sana dan masih tidak beranjak dari posisi samping pintu, sedikit kecurigaan Eunhyuk muncul.

"KENAP—",

.

.

BRAAK

.

.

"Benarkan, pasti tidak beres…", Omel Eunhyuk tidak suka dengan perlakuan Donghae.

Donghae sudah menutup pintu mobilnya, bahkan protes yang ia duga keluar dari bibir Eunhyuk tidak sempat terucapkan sempurna.

"Nah, duduk di situ dengan tenang Nee ?, Dan Minho, Jangan buat Hyung itu tidak nyaman, Arra ?", Eunhyuk menghentakkan kakinya, sedangkan Minho mengangguk dan menyamankan posisi duduknya di atas paha Eunhyuk.

"Aish… Aku benar-benar tidak suka ini !",

"Berpura-puralah untuk nyaman atau Aku akan menciummu !",

'Itukan…',

Eunhyuk menoleh ke arah Donghae dan mendapatkan kembangan senyum dari sana, sedangkan pribadinya merasa kelu untuk mengomel atau sekedar berdecak, takut jika ancaman tersebut benar-benar dilayangkan.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ada yang ingin Kau laporkan ?",

"Ndee Sajangnim", Jawab namja dengan setelan jas hitam sopan.

"Tidakkah Kau berpikir terlalu lama jika kebenarannya baru terungkap", Sedikit menekan mental namja berpakaian hitam yang sepertinya bertindak sebagai matanya.

"Mianhamnida, Saya tahu ini sangat terlambat…",

"Dari awal Aku juga tidak memaksamu bukan ?, Aku pikir Kau sudah membusuk di tanah… Ini sudah lebih dari lima tahun jika Kau lupa",

"Sekali lagi Saya minta maaf", Tunduk orang ini lebih sopan dari yang pertama.

"Lupakan, Aku bilang juga selidiki dengan serius dan pelan-pelan, Aku tidak ingin mengejutkan siapapun",

"Ndee Sajangnim…",

"Lalu Apa kesimpulannya ?", Tanya namja paruh baya tampan dengan fokus penuh berharap ada berita bagus yang dibawa suruhannya itu.

"Seperti dugaan Anda Lee Sajangnim, Dia adalah Tuan muda Kim…", Senyum tergambar jelas dari bibir Hanggeng begitu hipotesanya benar.

"Kerja yang bagus Joon, jaga anak itu sementara ia belum kembali…",

"Tapi Sajangnim…",

"Katakan !", Hanggeng mengernyit menunggu jawaban dari Joon yang tidak bisa ia tebak baik atau buruknya.

"Nyonya sudah tahu akan hal ini, kemarin ia datang ke kantor dan membawa anak itu pergi",

"Tidak masalah, setidaknya Dia tidak akan terkejut jika Aku menarik Eunhyuk kembali, Donghae tahu ?", Tanya namja yang sering dipanggil Tuan ini.

"Tidak Sajangnim, Tuan muda tidak tahu sama sekali",

"Lamban, Kenapa Aku mempunyai anak yang bodoh sepertinya", Hanggeng menggeleng-gelengkan kepalanya dan menimbulkan senyum samar di bibir Joon.

Inti yang kita mulai tahu, Hanggeng sudah menyewa, lebih tepatnya mempekerjakan Joon dari awal. Orang kepercayaannya itu berkerja secara diam-diam dan sama sekali tidak diketahui oleh istri dan anaknya. Perintahnya begitu bersih dan rapi, ia tidak ingin istri dan anaknya semakin khawatir dan menunggu jawaban tak pasti ketika tahu bahwa sebenarnya ia telah lama menyelediki dimana manis, anak dari mediang sahabat terbaiknya. Jepang, ia begitu tahu dari awal tujuan dimana Eunhyuk lari dibawa oleh Lee Sungmin yang saat itu sama-sama remaja dan tidak tahu apa-apa. Begitu mudah bagi Direktur LJC ini untuk tahu hal kecil seperti daftar pernerbangan lengkap dengan nama orang yang dicari lima tahun yang lalu. Tapi yang ia lakukan hanya diam dan menutupi dengan baik, asalkan obyek yang ia mata-matai dalam keadaan baik. Karena tujuan sebenarnya ia menyewa Joon bukan untuk menanyakan keberadaan, ia ingin tahu alasan Eunhyuk meninggalkan kediamannya saat itu.

.


.:. Hold Me .:.


.

Donghae dan orang yang ia kenal sebagai Hyukjae keluar dari lift dan berjalan santai menuju ruangan mereka. Donghae fokus melihat jalannya dan sibuk menjawab sapaan orang-orang yang membungkuk sopan kepadanya, Eunhyuk di belakangnya hanya mengikuti saja, ia fokus menjawab message yang jumlahnya berpuluh-puluh dari orang yang saat ini sangat mengkhawatirkannya, Lee Sungmin.

"Hari ini tanggal berapa ?", Tanya Donghae yang sebenarnya ingin mengalihkan fokus Hyukjae pada canggihnya.

"25", Jawab Eunhyuk singkat dan masih sibuk menggerakkan jarinya.

"Dua puluh lima… ehm—", Donghae terlihat mengingat tentang angka tersebut.

"Ehm… Apa Aku ada meeting, presentasi atau semacamnya ?", Tanya Donghae sedikit khawatir. Matanya melirik Eunhyuk yang menggeleng, bukan itu bukan gelengan jika tidak ada, akan tetapi lebih kepada gelengan tidak tahu.

"Kau sudah mencetak jadwalku kan Hyukjae ?", Tanya Donghae ulang yang tidak juga merubah fokus Eunhyuk. Dan sekali lagi hanya gelengan yang ia dapatkan.

"Oh Tuhanku~", Donghae berbalik dan berlari meninggalkan Eunhyuk yang tiba-tiba menyudahi pergerakannya.

"Heuh ?", Eunhyuk bingung lebih tepatnya terlihat sangat bodoh karena tidak juga paham maksud Donghae, terlebih ia hanya mengikuti Donghae sebisanya di belakang. Donghae terlihat menemui bawahannya yang lain, Eunhyuk hanya menangkap itu sebagai Donghae yang tergesa-gesa dan hanya mengintip dari balik pintu, sedikitnya ia mulai sadar jika ekspresi Donghae tidak sehangat saat tampan itu membukakan pintu mobil untuknya.

"Joon-shi, Apa hari ini Aku ada pertemuan penting ?",

"Presentasi lebih tepatnya", Joon memberikan selembar kertas yang berisikan tabel-tabel aneh. Donghae meremat sisi kertas tersebut dengan geram dan pandangan kesal.

"Apa ada masalah ?, Apa Hyukjae tidak memberitahumu ?, kemarin Aku sudah memberikan jadwalmu padanya",

'Itu yang mana ?',

Detak jantung Eunhyuk berubah cepat sembari menguping pembicaraan Donghae dengan Joon. Ia benar-benar tidak tahu kertas mana yang dimaksudkan Joon, kertas yang diberikan padanya terlalu banyak dan malas sekali untuk ia baca, bahkan letak dimana kertas-kertas itupun sudah dilupakannya.

"Ahh… tidak, Dia memberitahuku kok…", Jawaban Donghae membuat Eunhyuk membelalak.

"Ehm, Aku mempersiapkannya dahulu kalau begitu, Thanks Joon", Donghae masih sempat tersenyum, padahal ia juga tengah gugup.

"Sama-sama Sajangnim, datanglah sebelum jam 10",

'Sial, ini bahkan sudah setengah 10', Donghae tetap tersenyum menanggapi dan keluar ruangan ini dengan wajah kusut.

"Sajangnim~", Eunhyuk menghalangi langkah Donghae dengan wajah yang ia tundukkan.

"Hei, Aku sedang terburu-buru, Sungguh… saat ini jangan menggangguku !", Nada Donghae terdengar tidak bersahabat sama sekali. Eunhyuk tahu itu semua adalah kesalahannya.

"Maaf…", Lirih yang begitu rapuh terdengar di telinga siapapun.

"Bukan waktunya lagi Hyukjae, sungguh Aku sedang buru-buru sekarang, Kau bisakah segera menyingkir ?", Sentak Donghae berada di puncak.

"Ak—aku… benar-benar minta maaf", Ulang Eunhyuk lebih panjang, matanya berkaca-kaca tanpa Donghae tahu.

"Itu tidak berguna Hyukjae, Sumpah jangan halangi jalanku !", Donghae mencoba mendorong bahu kecil Eunhyuk ke samping.

"Hiks—maaf Sajangnim… hiks—Ak—Aku…",

"Astaga…", Donghae menghela nafas ketika makhluk di depannya mendongak, terlihat sangat buruk dengan air mata yang menetes dan di mata sebelah yang masih menggantung.

"Apapun Hyukjae, jangan membuatku muak dengan tangisanmu Oke…", Donghae benar-benar sedang terburu, walaupun ibanya menuntutnya untuk tinggal dan menenangkan manis dihadapannya, tapi ia memang harus segera beranjak.

"Hiks… Sajangnim", Tangan Eunhyuk mencengkeram pergelangan Donghae kuat. Benar-benar ingin didengarkan dan tidak mengerti situasi Donghae saat ini.

"KIM HYUKJAE !, Tolong, Aku sedang buru-buru, mengertilah !",

"Hiks… Ak—aku bisa bertanggungjawab—hiks…", Eunhyuk memohon pada Donghae yang baru saja melakukan hal yang paling tidak disukainya, membentak.

"Please !, hentikan tangisanmu, Aku risih dengan itu…", Eunhyuk membungkam bibirnya dengan mengatupkan bilah atas bawah dengan erat, menahan isakan supaya tidak keluar dengan bergetar, sungguh menggemaskan.

"Kau tahu salahmu kan ?", Eunhyuk mengangguk menanggapi pertanyaan Donghae, air matanya sungguh masih terus menetes.

"Apa Aku bahkan harus menjelaskan segala tugasmu yang tidak seberapa itu ?, Apa Aku yang seharusnya mengingatkanmu ?", Eunhyuk menggeleng, jujur… Eunhyuk terlihat menggemaskan daripada menyedihkan kali ini.

"Lalu Kenapa Kau sekarang menangis ?, Menurutmu itu benar ?", Kembali Eunhyuk menggeleng.

"Kalau tidak benar Kenapa Kau lakukan ?", Donghae tetaplah ia yang tidak tega dan ia yang selalu menjadi tisu seperti ini, ia menggunakan tangannya untuk menyeka air mata yang keterlaluan dari asistennya ini.

"Sudah, Jangan membuatku terlihat menjadi penjahat dan menurutlah kali ini, bersiaplah ke hall dan bantu menyapa tamu di sana, Oke ?", Eunhyuk menggeleng dan menimbulkan decakan singkat dari Donghae, apalagi pikirnya.

"Aku bisa Sajangnim… Aku bisa mengambil bahan presentasi kemarin", Sanggupnya meyakinkan Donghae yang memutar bola mata malas, seakan tidak yakin dengan yang dikatakan manis itu.

"Sungguh Sajangnim, hitung ini sebagai tanggungjawabku, Aku mohon…", Tangannya mengerat pada jemari Donghae dan menunjukkan tatapan anak anjing.

"Hyukjae please, ini bukan waktunya untuk bercanda…",

"Aku berjanji bisa Sajangnim, Aku sanggup membawa bahan presentasi tersebut, Aku mohon…", Donghae diam menyaksikan Eunhyuk dengan permohonan menggemaskannya, adai ini bukan waktu penting untuk mengkhawatirkan benda sekelas berkas, pasti ia tidak sekasar ini pada Hyukjae.

"Sajangnim~ Ndee ?", Lagi-lagi tatapan ini yang diberikan Eunhyuk pada Donghae.

"Baiklah, temui Pak Kim di bawah dan minta ia mengantarmu, laptopku Aku taruh di meja kamar, Kau hanya punya waktu 20 menit, Arra ?", Donghae mengalah juga, Eunhyuk mengangguk dan tersenyum sebelum berlari menekan tombol lift. Sebenarnya Donghae tidak yakin dengan keputusannya, tapi entahlah, buktinya ia juga mengizinkan anak itu yang pergi.

.


.:. Hold Me .:.


.

Demi apapun, jika tahu hari ini termasuk hari penting dalam jadwalnya, Donghae tidak akan begitu saja meninggalkan laptopnya. Donghae orang yang tertata dan tidak ceroboh sama sekali. Ruangan tempatnya duduk dengan resah kini sudah hampir penuh dengan tetinggi perusahaan Ayahnya. Dua puluh menit yang ia berikan kepada Eunhyuk sudah hampir habis, akan tetapi manis itu tidak kunjung datang. Harapannya benar-benar tinggi dari detik-detik terakhir yang ia berikan pada asisten manis tersebut. Matanya beberapa kali menatap pintu masuk dengan tidak nyaman, setiap kali ada yang datang pasti ia perhatikan dengan seksama bentukan sepatunya, karena ia merasa tidak sopan jika memandangi langsung setiap wajah yang belum tentu milik Eunhyuk, merasa tidak sopan menurutnya. Jelasnya apapun yang dipakai Eunhyuk tidak mungkin phantophel mengkilap seperti miliknya dan hampir seluruh orang yang ada di perusahaan ini. Sekalipun itu mencolok pasti dibubuhi dengan neon yang benar-benar tidak pantas dipakai Donghae.

"Oh Tuhan, Aku bisa gila", Habis sudah riwayatnya melihat Appanya dan beberapa kolega datang menduduki kursi depan di hall ini, pintu pun juga sudah ditutup sebagai tanda presentasinya akan dimulai. Bahkan, Hanggeng menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman seakan mengungkapkan 'lakukan yang terbaik'.

Moderator pun fasih menyambut dan menyebutkan tamu-tamu penting yang hadir. Eksekusi untuk Donghae sudah fatal, namanya sudah dipanggil dan mengharuskannya berjalan ke depan tanpa membawa apa-apa, ia sudah pasrah karena Hyukjae tidak juga datang.

"Anyeonghaseyo… Lee Donghae imnida, Saya dari bagian pemasaran Lee Jours Company, sebelumnya Saya ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan pada presentasi Saya kali ini, sebenarnya pula…", Donghae menjeda kalimatnya dan menimbulkan sedikit kegaduhan dari undangan karena belum-belum sudah mendengar permintaan maaf di awal.

"Sebenarnya Saya tidak siap deng—",

.

.

BRAAAK

.

.

'Hyukjae ?',

Satu nama yang Donghae masih harapkan ketika pintu terbuka dengan sedikit kasar.

"Maaf Saya terlambat Sajangnim—hossh…",

"Joon—shi ?", Donghae terkejut dengan kedatangan namja ini, bawahannya selain Hyukjae membawakan tasnya dengan penampilan yang berantakan, seperti barusaja mendapatkan sesuatu yang tidak mengenakkan.

"Kenapa Kau yang datang, Mana Hyu—",

"Sajangnim, cepat mulai presentasi Anda, ini laptop Anda… Semuanya sudah menunggu", Joon terlihat mencegah pertanyaan Donghae untuk mengalihkan supaya nama Hyukjae tidak terlontar.

"Ah Geure…", Mau Donghae walaupun sebenarnya ia ingin bertanya lebih terkait dimana asistennya berada saat ini. Sedikit kekhawatirannya muncul, terlebih Joon terlihat menghampiri Ayahnya dengan buru-buru setelah meletakkan laptopnya di meja dekat LCD.

"Sajangnim, bisakah Anda meninggalkan pertemuan ini ?",

"Apa ?", Hanggeng membalas bisikan Joon dengan keras, ia hanya terlalu terkejut dengan permintaan spy handalnya ini.

"Tuan muda Kim sedang kritis…", Satu kalimat yang membuat Hanggeng langsung berdiri dan menatap Donghae penuh arti. Tidak lama untuk membuat kaki yang sebenarnya lemas mendengar kabar yang dibawakan Joon untuk keluar dari hall besar ini. Donghae di depan mencoba tidak peduli dan fokus dengan tujuan serta tugasnya yang harus dipenuhi.

"Maaf atas keributan yang Saya lakukan, Saya akan memulai presentasi lagi, Jadi terkait proyek—", Donghae melanjutkan hal yang sempat ia tunda dan hampir ia batalkan diawal.

.

.

"Apa yang sebenarnya terjadi ?, Kritis bagaimana yang Kau maksud ?", Hanggeng merengganggkan dasinya dan memberi pertanyaan ganda pada Joon.

"Mobil Tuan Muda mengalami kecelakaan kecil, tapi Tuan muda mendadak histeris dan banyak darah yang keluar dari hidungnya, Sajangnim", Jelas Joon sembari membukakan pintu mobil Hanggeng.

"Astaga~ Dia pasti kambuh… Lalu Dimana ia sekarang ?, Heenim tidak tahukan ?",

"Maafkan Saya Sajangnim, Pak Kim lebih dulu menelfon Nyonya", Hanggeng menghela nafasnya, jelas tidak sesuai dengan kehendaknya, pasti istrinya juga setengah mati mengkhawatirkan keadaan orang yang dimaksud.

.


.:. Hold Me .:.


.

"UMMAAA… TIDAKK… TIDAAAK… HYUKKIE MAU UMMAAAA… HIKS—APPAA… HYUKKIE MAU MEREKAA—HIKS…",

Teriakan Eunhyuk memenuhi lorong Rumah Sakit besar tempat ia sering dirawat dahulu, tubuhnya memberontak walaupun sudah dipegangi oleh beberapa perawat. Keadaannya miris sekali, bahkan cairan yang menetes di hidungnya belum sempat dibersihkan, bagaimana mau membersihkan jika pribadinya memberontak dengan brutal begini.

"JANGAN—HIKSS… JANGAN MENYENT—TTUHHKU—HIKSS… PERGI—HIKS… PERGIII !",

"Sayang tenang—hiks… tenanglah, di sini ada Umma…", Heechul yang membawa Eunhyuk kemari ikut terisak melihat betapa menyedihkannya keadaan namja dengan kerah kemeja yang dipenuhi bercak kemerahan.

"Hikss—Umma, Hyukkie mau Umma…", Suaranya melemah, ia terlalu lelah untuk berteriak ulang, darah yang ia keluarkan juga tidak sedikit.

"Iyaa Sayang, Umma di sini… Tenang Oke…", Heechul melembutkan suaranya akan tetapi di depannya, Eunhyuk masih memberontak dan menggelengkan kepalanya.

"Bukan—hiks… Bukan Umma Hyukkie—hiks…", Heechul tidak merasa tersinggung dengan hal itu, ia masih setia mengikuti ketika Perawat tersebut memasukkan Eunhyuk dalam ruang isolasi.

"Maaf Heechul-shi, Kami akan memberikan injeksi untuk membuat pasien tenang, Apakah anda mengizinkan ?", Tanya salah satu pada Heechul sopan. Heechul menatap Eunhyuk iba, kepala Eunhyuk terus menggeleng dan mengucapkan kata jangan beberapa kali, ia sangat tahu jika blonde manis yang ia besarkan itu tidak suka dengan hal-hal berbau jarum apalagi sampai membuat kulitnya perih.

"Hyukkie tidak mau—hiks… itu sakkhithh—hiks… Hyukkie tidak mau Ahjumma—hiks…",

"Apa tidak ada cara lain ?", Tanya Heechul memohon.

"Kami belum mengkonsultasikannya dengan Dokter, jika pasien masih memberontak akan mengganggu dalam proses pemeriksaan nantinya…", Jelas Perawat tersebut dengan santun.

"Lalu apa yang harus dilakukan ?, Putraku tidak bisa dengan injeksi, traumanya justru akan semakin buruk setelah ia bangun nanti… Bisakah Kalian lakukan cara lain ?", Tanya Heechul merasa bisa menangani Eunhyuk yang bahkan sekarang sudah merasakan sesak dan sakit kepala seperti saat ia kambuh biasanya.

"Hiks—Sakiithh… Sakiithh—hiks… Hyukkie Appo—hiks…", Eunhyuk mulai menjambaki kepalanya ketika pening mulai datang, nafasnya juga mulai terganggu, ia benar-benar dalam keadaan yang buruk. Tangan Eunhyuk bergerak semaunya, Perawat tidak lagi memeganginya, kesempatan untuk menepuki kasar dadanya semakin luang.

"Aku mohon jangan menginjeksinya, Putraku hanya memberontak oleh orang asing, bisakah kalian memanggilkan Dokter segera… Aku mohon…",

"Baik nyonya, tapi sesuai prosedur Rumah Sakit Kami, untuk tidak mengganggu pasien yang lain, Kami perlu mengikat tangan putra Anda…",

"MWO ?",

"Maafkan Kami Nyonya, itu memang sudah prosedur…",

"Hah… Demi Tuhan, Aku membayar mahal kelas ini dan dengan seenak hati kalian memperlakukan putraku seperti binatang ?",

"Sungguh maafkan Kami Nyonya…", Para perawat membungkuk bersamaan, Heechul sangat tahu jika ia juga tidak bisa seenaknya, tapi dengan mengikat Eunhyuk tidakkah itu terdengar sangat tidak manusiawi. Heechul terlalu fokus berunding dengan Perawat ini hingga tidak memperhatikan kondisi Eunhyuk yang mulai melemah, walaupun rintihan sakit masih terdengar.

.

BRUG

.

"Astaga pasien…", Satu dari 4 perawat itu buru-buru menangkap tubuh Eunhyuk yang hampir terjatuh dari bed.

"Hyu—Hyukkie !, Hyukkie, bangun Sayang… Hiks—Hyukkie !", Heechul memeluk tubuh ringkih Eunhyuk yang sudah tidak sadarkan diri, semua yang ada di dalam ruang VVIP ini panik.

"Cepat panggil Dokter Park !", Koor salah satu yang ditangkap cepat dengan Perawat lain untuk memencet salah satu tombol di atas bed.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Presentasi yang mengesankan Donghae-shi…", Puji beberapa orang yang mengakui betapa hebat anak dari direkturnya. Donghae hanya tersenyum dan tidak merasa hebat seperti yang orang-orang katakan padanya. Ia terlalu sibuk mencari keberadaan asistennya yang tiba-tiba menghilang. Penampilan Donghae tidak sesempurna ketika masih di hall tadi. Hyukjae yang ia cari benar-benar tidak ada di gedung ini. Hampir satu jam ia menghubungi ponsel Hyukjae dan bolak-balik ke ruangannya, tapi tidak juga menunjukkan kemunculan Hyukjae. Lelah karena hal itu, membuat kakinya melangkah ke cafetaria dan langsung menuju stand kopi.

"Donghae Oppa~", Donghae menoleh sehabis membayar kopinya.

"Ehm…", Donghae menggeram sembari mengingat-ingat yeoja yang memanggilnya barusan.

"Jihyun, Aku hoobae di SHS dulu…",

"Ahh… Jihyun, Yap… Maaf Aku ingat dengan wajahmu tapi sedikit lupa dengan nama", Bercanda sekali jika Donghae mengatakan demikian, tidak ada bagian yang mengindikasikan Donghae mengingat yeoja tersebut, sekedar berperilaku sopan atau,

'Lumayan, cukup menarik juga',

"Gwanchana… Oppa terlihat tampan dengan setelan itu…", Puji yeoja yang mengenal Donghae ini dengan senyum yang merekah.

"Memang Aku pernah terlihat jelek ?, Aku kan pangeran sekolah… Ngomong-ngomong Kau lebih terlihat cantik dan segar Jihyun",

"Oppa bisa saja", Donghae tetaplah ia yang bisa membuat yeoja tersipu walaupun beberapa tahun terakhir ini ia sudah berhenti bermain perasaan.

"Ah, mari duduk Jihyun, kebetulan Aku sedang kosong…", Ajak Donghae sopan dan menarikkan kursi untuk Jihyun duduki.

"Terimakasih Oppa",

"Bukan masalah…", Donghae kembali memperlihatkan senyum tampannya.

"Oppa masih berhubungan dengan Tiffany ?",

"Hah ?, Tiffany yang mana ?", Tanya Donghae benar-benar lupa dengan siapa nama yang disebutkan Jihyun. Sebenarnya dengan Jihyun pun ia sama sekali tidak mengenal, akan tetapi sangat disayangkan jika ia menganggurkan mangsa yang dengan senang hati ingin dimakan.

"Ck… Dasar Oppa ini, Tiffany kekasih Oppa, salah satu anak komite sekolah",

"Maaf Jihyun, Aku benar-benar lupa mana anaknya, yang jelas Aku sekarang memang free…", Donghae memberikan kerlingan dan membuat Jihyun tambah merona. Sebelumnya Donghae tidak pernah seperti ini, London menjadikannya lupa dengan semua keburukan yang ia buat selama masa sekolahnya. Akan tetapi, bukan fortuna lagi jika ia tidak memanfaatkan kesempatan emas seperti ini.

'Bermain-main sedikt tidak masalah kan ?', Pikirnya sebelum mengobrol terlalu jauh dengan Jihyun.

.


.:. Hold Me .:.


.

Dua hari sudah Eunhyuk absent dari pekerjaannya, jika digabungkan dengan absent-absentnya yang lalu mungkin hampir dua minggu ia mangkir. Bukan ciri pekerja yang baik, terlebih ia hanya seorang yang magang, justru itu semakin menunjukkan betapa tidak berbakatnya ia dalam bidang yang dimaksud. Baru pagi ini Eunhyuk kembali sadar setelah lelapnya yang kemarin. Anak ini masih tiduran dengan kepala bed yang ditinggikan, bersandar dengan nyaman di sini.

"Katakan pada Umma !, Hyukkie ingin makan apa ?", Eunhyuk tidak menjawab, ia tidak berani pula mengangkat kepala. Ada sosok lain di sebelah Heechul yang membuatnya takut dan enggan untuk mengangkatnya.

"Hei Sayang, jangan menunduk demikian, Apa Aku terlihat seperti hantu ?", Suara tegas yang memanggilnya penuh kasihpun terdengar.

"Hyukkie… Apa Kau marah pada Umma gara-gara ini, Sayang ?", Eunhyuk masih belum mau menjawab atau bergerak dari diamnya.

"Hyukkie~ Apa Ahjushi perlu keluar sehingga Kau mau bicara ?", Barulah interupsi ini membuat Eunhyuk mendongak dan merasa tidak enak dengan pertanyaan orang yang ternyata Hanggeng itu.

"Mi—mian Ahjushi", Bibir Eunhyuk bergetar dan meloloskan seruan maaf.

"Apa Kau melakukan kesalahan ?, Tidak kan ?", Hanggeng mendekati bed Eunhyuk dan mengelus surai halus Eunhyuk sayang.

"Mian, Hyu—hyukkie… salah Ahjushi",

"Ck… Sudahlah, lupakan !, dan jangan mencoba menjelaskan apapun", Suara tegas Hanggeng begitu menakutkan di telinganya, Eunhyuk memang sangat patuh pada paruh baya ini.

"Kau tidak boleh memikirkan apapun Nak, setelah pulih, Kau harus fokus menjalani terapi lagi …", Heechul menyenggol siku Hanggeng, tidak ingin sang suami mengatakan hal tersebut, karena Heechul begitu tahu bagaimana reaksi Eunhyuk dengan kata 'terapi'.

"Tapi Ahjus—",

"Tidak ada tapi atau Donghae akan tahu", Jelas pilihan ini yang membuat Eunhyuk mau tidak mau harus menyetujui pilihan pertama.

"Itu sakit Ahjumma~", Eunhyuk mencoba bernegosiasi dengan rengekannya.

"Tidak akan sakit, itu akan mempercepat pulihmu, Sayang…", Heechul mencium kening Eunhyuk sebentar, entah kenapa ia begitu menyayangi Eunhyuk, tidak merasa dilebihkan dari Donghae, hanya saja ia menyayangi keduanya dengan cara yang berbeda.

"Anyeonghaseyo~", Pintu terbuka dengan salam seorang yang membuat pandangan ketiga orang ini mengarah pada suara tersebut.

"Oh, Siwon…", Senyum terkembang dari bibir Heechul dan Hanggeng begitu tahu siapa yang masuk.

.

DEG

.

"Eh Minho… ada Kibum juga…", Dagu Eunhyuk serasa jatuh mendengar sapaan hangat Heechul pada tamu-tamu yang memasuki ruang inapnya.

"Ndee Ahjumma, Ahjushi… Kami datang", Siwon mendekat dengan Minho dan Kibum yang berjalan di belakangnya.

"Hyukkie, Kau masih ingat Siwon kan… Dulu Kau bilang Kau menyuk—",

"Aku tidak suka anak itu !", Suara Heechul terpotong oleh Eunhyuk yang buru-buru menunjuk Minho. Sangat mengesalkan baginya bertemu dengan anak kecil itu, walaupun lebih sesak lagi saat bertemu ibunya.

"Eih…", Siwon dan Kibum saling melempar pandangan 'kenapa'.

"Ahh… it—itu, ada kejadian sedikit tidak menyenangkan di rumah kemarin…", Jelas Heechul yang hanya diangguki oleh orang tua anak tampan itu.

"Hyukkie, Kau masih ingat Hyung ?", Siwon tersenyum tampan membuat Eunhyuk juga tersenyum, bahkan blonde ini sedikit merona, mengingat betapa ia mengagumi sosok di depannya dulu.

"Ndee~",

"Kau juga masih mengingatku kan, Hyukkie ?", Suara Kibum membuat Eunhyuk menoleh, ekspresinya berubah, datar dan tidak suka, bibirnya mengerucut memperhatikan wajah Kibum.

'Dia tidak lebih manis dariku !',

"Annio !, Hyukkie tidak ingat", Jawabnya singkat dan segera menoleh ke arah Siwon.

"Gomawo sudah menjenguk Hyukkie…",

"Ndee, Aku tahu dari Sungmin jika Kau di sini… Sudah lama ya Kita tidak bertemu…", Minho yang merasa diabaikan menarik-narik tangan Ayahnya.

"Daddy~", Eunhyuk melebarkan matanya mendengar panggilan Minho kepada Siwon.

'Apa semua orang harus ia anggap sebagai ayahnya…', Sebal Eunhyuk di batin.

"Yes handsome ?",

"Gendong~", Mohon Minho pada Siwon.

"Minho jangan mengganggu Daddy dengan Hyukkie Hyung", Nasehat Kibum.

"Shireo… Minno mau duduk di atas Mom…",

"Baiklah… Ughhh… jagoan Daddy tambah berat…", Siwon mengangkat anaknya dan mendudukkan di pinggiran bed Eunhyuk. Sedangkan Eunhyuk diam, mencoba mencerna kata per kata yang dikeluarkan 3 orang di depannya.

"Daddy ?", Tanya Eunhyuk memastikan kepada Siwon.

"Ha..ha..ha, Kau benar-benar lupa ya, Minho… Dia putraku, dulu Kau dengan Donghae pernah hadir di ulang tahunnya, Mian kalau Aku bohong selama ini, sebenarnya Aku dan Kibum sudah lama menikah, sejak Aku beranjak grade 2 di SHS… Dan saat itu Aku hanya ingin mengerjai Donghae saja, ehm… itu, Kau berkenan memaafkan Hyung kan ?", Tanya Siwon berharap Eunhyuk berbaik hati kepadanya.

'Minho… Anak Siwon, Lalu… Donghae ?',

"Dong—Donghae ?", Eunhyuk menyebutkan nama Donghae, akan tetapi tidak ada yang mengerti apa maksud anak ini.

"Donghae ?, Donghae seperti orang gila memikirkan dimana Kau pergi selama ini…", Jawab Siwon bercanda yang tidak membuat Eunhyuk kunjung tertawa, wajah Eunhyuk begitu serius mendalami pikirannya.

"Hyukkie-ah, kudengar Kau bekerja dengan Donghae ya, Aku rasa itu tidak cocok denganmu, Bagaimana jika Kau bekerja bersama Hyung saja, Kau suka mendesain bukan ?", Kibum yang sedari tadi dicueki oleh Eunhyuk tidak tersinggung sama sekali, namja ini begitu santai dan sangat dewasa, berbeda sekali dengan Eunhyuk. Justru Kibum melakukan sedikit basa-basi, akan tetapi masih tidak mendapatkan jawaban pula.

"Hyukkie… Hyukkie, Kibum menanyaimu, Sayang…",

"Do—Donghae, bukankah Dia…", Eunhyuk kembali bersuara dan membuat semua orang bingung, Heechul maju untuk mengelus surai Eunhyuk, mencoba membuat Eunhyuk rileks.

"Hei… Kenapa dengan Donghae ?", Tanya Heechul pelan.

"Di—dia bukankah Ayahnya Minho, Ahjumma ?", Pertanyaan Eunhyuk membuat paruh baya yang tadinya sibuk dengan koran di sofa menjadi tertarik memandang ekspresi terkejut Eunhyuk.

"Ahh… itu, tentu saja bukan, Minho terbiasa dititipkan di rumah, jadi yahh… panggilan itu begitu saja Minho berikan pada Donghae, sayang sekali Kau selama ini tidak di rumah, rumah akan semakin ramai jika Kau ada, Sayang…",

'Jadi selama ini…',

Menyesal ?,

Bukan itu tentu saja, Eunhyuk terbilang hebat jika bisa menyesal. Kalau merasa bodoh, pasti ia sedang merasakan hal itu, salah pahamnya terlalu berlebihan. Entah spekulasi dari mana yang membuat ia dahulu terburu-buru memutuskan pergi tanpa menanyai Donghae. Sungmin pun yang berperan sebagai wali sejak lima tahun terakhir sebenarnya tak begitu jelas dengan tujuan Eunhyuk keluar dari rumah. Pengetahuannya sekedar Eunhyuk yang merasa dicampakkan dan dibuang, bodohnya pula ia percaya dengan orang yang juga bodoh.

"Aku mau bertemu Donghae, Ahjumma",

"Apa ?".

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ya !, Hyuk… Ayo Kita kembali pulang saja, sungguh Hyung tidak tega, Kau belum begitu pulih…", Sungmin yang mengantarkan Eunhyuk ke kantor mengungkapkan kekhawatirannya dengan hati-hati.

"Aku kuat Hyung, Aku sudah membawa obatku juga", Jawab Eunhyuk sambil mengangkat tas nya.

"Baiklah, tapi Kau tidak boleh absent untuk terapi nanti, Hyung akan menjemputmu tepat jam 3",

"Siap Hyung… Hyukkie masuk Nee ?", Eunhyuk mengecup pipi Sungmin lalu turun dari mobil berwarna hijau tua ini dan melangkah memasuki salah satu pencakar langit yang megah. Baru kemarin ia keluar dari Rumah Sakit, akan tetapi sudah merengek meminta izin untuk kembali bekerja. Wajahnya bahkan masih pucat, walaupun sedikit lemas tapi ia ingin sekali masuk bekerja, bukan karena ia menjadi rajin. Tentu Kita paham alasan apa yang membuat Eunhyuk dengan semangat melakukan rutinitas ini, apalagi selain Donghae. Ia tersenyum bangga dengan tangan yang tak berhenti memegangi lehernya, perak berbandul yang menggantung indah di bagian tersebut sukses membuatnya merona. Akan tetapi tangannya melepas kaitan pada kalung tersebut, tersenyum sebelum memasukkan itu ke dalam saku tas nya. Perlahan-lahan, pilihannya untuk memberitahu Donghae jika ini adalah dirinya.

Ia sampai…

.

Cklek

.

"Sajangnim~", Buru-buru Eunhyuk berlari dan menubruk tubuh Donghae yang tengah berdiri membelakanginya.

"Omo !", Tubuh Donghae sedikit terdorong ke depan, ia tidak siap menerima back hug tiba-tiba.

"Hah ?, Siapa Dia ?",

"Geure, Kau mengenalnya Donghae ?",

Eunhyuk melepaskan dengan segera tangan yang awalnya mengerat pada tubuh Donghae, tubuhnya tiba-tiba menegang, ia salah, ia pikir hanya ada Donghae di ruangan ini. Donghae berbalik menghadapnya,

"Hyu—Hyukjae…", Kaget Donghae melihat asistennya lah yang memebuat dua orang penting dalam ruangannya terkejut. Eunhyuk tidak berani menatap Donghae, pastilah ia kena marah karena hal ini, sungguh ia tidak tahu kalau ada orang lain yang mungkin berkepentingan di ruangan ini.

"Ah… Mianhe", Donghae kembali berbalik dan meminta maaf pada tamunya karena ketidaknyamanan barusan.

"Gwanchana… Seleramu sangat Oke Donghae-shi",

"Benar… ternyata Kau sudah memiliki kekasih ya, padahal Aku berniat memperkenalkanmu kepada putriku", Sama sekali bukan reaksi yang diinginkan Eunhyuk maupun Donghae, keduanya sama-sama terlihat kikuk, apalagi Eunhyuk yang mencengkeram kain kemeja Donghae dari belakang, rasanya malu sekali, ia bahkan terlihat jelas bersembunyi di balik Donghae.

"Ah, Anda bisa saja Tuan Park… Maafkan Saya, tapi kekasih Saya sedikit pemalu orangnya, Saya izin keluar dahulu dan memanggil sekertaris Saya kemari",

'Maksudnya ?, Kekasih ?, Siapa ?', Eunhyuk mencoba memikirkan kalimat yang diutarakan Donghae.

"Silahkan, Aku sangat menghargai urusan percintaan anak muda", Jawab orang seusia Hanggeng itu santai.

Donghae pun kembali menatap Eunhyuk yang hanya mengedipkan mata lucu sebelum menarik tangan blonde dengan kemeja oranye ini keluar dari ruangannya.

"Ayo…",

"Ke—kemana ?", Donghae tidak menjawab, ia hanya membawa Eunhyuk ke tempat yang dinilainya sedikit sepi. Mata Donghae menatap pintu yang ia tidak baca apa keterangan jenis ruangannya, ia hanya membuka dan menyeret Eunhyuk masuk.

.

GREB

.

'Bodoh !', Satu kata untuk Donghae yang sudah memeluknya seperti ini. Eunhyuk bukannya tidak suka dipeluk seerat ini, bahkan pipinya memanas sampai ke telinga.

"Kau kemana saja ?", Donghae tidak sadar dimana ia membawa dan memeluk Eunhyuk saat ini, beberapa mata bahkan memperhatikan kegiatannya.

"Jawab Aku !, Kau kemana saja ?, Aku mengkhawatirkanmu Hyuk, Bisakah Kau memberiku kabar jika ingin pergi atau melakukan sesuatu ?", Eunhyuk tidak menjawab, pipinya bertambah memerah, menahan malu yang bertubi-tubi, orang-orang diam dan menahan nafas mereka melihat keintiman yang hanya disadari oleh Eunhyuk. Jelas-jelas ia membawa Eunhyuk di ruangan staff bagian pemasaran, bahkan sebelum sempat Eunhyuk menjauhkan tubuhnya.

.

Chup

.

"Jangan pergi dengan cara itu lagi, Kau membuatku bertambah gila setiap harinya…",

"Fieeeew….fieeeewww…",

.

PROK…PROK…PROK

.

Eunhyuk jangan ditanya lagi bagaimana warna wajahnya, persetan dengan apa yang dilakukan Donghae, ia terlalu peduli dengan reaksi yang dihadiahi oleh beberapa staff di sini. Siulan dan tepuk tangan riuh diberikan untuk keberanian Donghae yang mengecup bibir Eunhyuk dihadapan mereka yang sebenarnya sedang merapatkan sesuatu.

"Sajangnim, Kau yang terbaik, Itu tadi sangat keren…",

"Pernyataan cintamu sungguh cool, Sajangnim…",

"Waahh… ternyata bernar dugaanku, orangnya sungguh Kim Hyukjae", Sahut yang lain meriah membuat Donghae yang baru menyadari dimana tempatnya sekarang tersenyum sembari menggaruk tengkuknya.

"Hiks… Kau menyebalkan Donghae… Bodoh !", Eunhyuk tidak menangis sungguhan, rengekan atas rasa malunya ia berikan pada Donghae, ia bahkan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Donghae, rasanya benar-benar memalukan sekali.

"Ups… Kenapa Kau tidak bilang jika Aku salah tempat Hyuk ?",

'Hanya itu tanggapannya ?, Kau gila Donghae… Kau gila',

"Hei… Angkat wajahmu, Sayang…",

"Sa—Sayang ?", Eunhyuk mendongak menatap Dongahe, bukankah yang dihadapannya belum tahu jika ia adalah…

"Naega Arra…".

.

.


~TBC~


.

.

Next chap bonus !

.

PLAAK

.

"KAU DARIMANA SAJA ?",

"U—umma… Apa yang ter—",

"Kau bodoh hiks—Donghae… Kau bodoh ! hiks…",

"Umma Waeyo ?",

"Kau membuat nyawa seseorang terancam dan sekarang bertanya Kenapa—hiks… Demi Tuhan—hiks… Kalau sampai ia tidak bisa sadar—hiks… Kau !, hiks—Jangan harap Umma akan memaafkanmu".

.

Drrrttt—drrtt…

"Yeoboseyo !",

"."

"Yes, I am Lee Donghae",

"."

"WHAT ?",

.

PRAAAK

.

Meluncur dengan sangat baik dan retak di beberapa bagian. Air matanya jatuh, genggaman smartphone nya mungkin kurang kuat atau berita yang baru ia dengar terlalu kuat.

.

"Hiks—Hyukkie, tidak mungkin, itu tidak mungkin kan ?"

.

"Maafkan Kami, Kami sudah mengusahakan yang terbaik, akan tetapi Tuhan berkata lain".

.

Next chap End ya ?

Kalau missal nggk happy end gimana ?

Beri saya masukan, sebelum Saya menulis sesuai kehendak dan malah mengecewakan kalian.

Biar ganti juga dengan cerita lain gitu, masa nggak bosen Hold Me terus.

Thanks to : haeric, Polarise437, pumpkinsparkyumin, HAEHYUK IS REAL, fitrong, peachpetals, gaem, Hyemi Han, xiuxian13, PurpleLittleCho, dewinyonyakang, Guest, Agriester Jewel, ahahyuk, lee ahra, cho w lee 794, reiasia95, el, Lee917, mizukhy yank eny, Susan Susanty, haeveunka, hyona, Wonhaesung Love, readeraja, Dhany, ceetra, Lee Haerieun, Yenie Cho94, choco137, NicKyun, YhaJewel, siti sisun, TyaWuryWK, rani gaem 1, Anik0405, Haehyuk546, Dochi risma, VampireDPS, dekdes, jewELF, ericomizaki13, Rigletz, Rinhyuk, abilhikmah, wildapolaris, danactebh, zz, BekiCoy0411, isroie106, Rezy K, kakimulusheenim, RisaSano, nyoman sulandri, ratu kyuhae, she3nn0.

RnR juga buat Monster in Me chap 7.

Don't forget to review.

Thanks :*