Hold me
Cast :
Super Junior Member
(Lee HyukJae)
(Lee DongHae)
and some cast from another group
Pair :
Actually HaeHyuk (YAOI)
Rate :
T
Genre :
Romance
.
.:. Hold Me .:.
.
"Ta—tahu Apa ?", Eunhyuk terbata begitu mendengar dua kata tak wajar dari bibir Donghae. Bolehkah ia sedikit bangga karena mungkin sahabat lawasnya itu tahu jika seorang Hyukjae adalah Eunh—
"Tentu saja Aku tahu, Sungmin Hyung bilang sepupumu jatuh sakit sehingga Kau buru-buru pulang waktu itu…",
"Hah ?", Bayangan Eunhyuk benar-benar terpatahkan oleh alasan konyol yang Donghae ungkapkan.
'Ternyata benar, Apa selama ini Dia tidak memperhatikanku sama sekali, Kenapa tidak peka sekali sih…', Gerutu Eunhyuk dalam hati.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, ehm… Apa sudah sehat ?", Tanya Donghae sedikit canggung mengingat kegilaan yang ia buat beberapa waktu yang lalu.
"Di—Dia baik", Bohong Eunhyuk, bahkan seorang saudara pun tak ia miliki.
"Tapi sepertinya Kau yang kelihatan tidak baik, Kau pucat, mungkinkah Kau sakit ?", Eunhyuk buru-buru menggeleng dan memperlihatkan deretan gigi dengan gummy yang indah melalui senyuman. Menggemaskan sekali menurut Donghae hingga tangannya mendarat di surai blonde Hyukjae.
"Ahh iya, Aku ada tempat yang ingin kutuju denganmu…", Donghae menggandeng tangan Eunhyuk dengan erat, masih terlihat sebagai Donghae yang Eunhyuk kenal.
"Ke—kemana Sajangnim ?", Tanya Eunhyuk takut-takut.
"Ikuti Aku saja",
"Bu—bukankah Kita ada agenda hari ini ?",
"Membolos sekali bukan hal yang buruk, Aku benar-benar ingin pergi ke suatu tempat denganmu Hyuk…", Pipi Eunhyuk bersemu merah, kontras dan terlihat sangat menarik pada kulit porselennya, pandangannya tidak lepas dari tangan miliknya yang digenggam erat oleh Donghae, mereka serasi untuk hal-hal semacam ini.
"Silahkan !", Persilah Donghae sopan pada Eunhyuk pada tumpangan modernnya.
.
.:. Hold Me .:.
.
Suasana tidak bagus sedang menyelimuti ruangan dengan bau khas, entah itu alkohol atau citrus yang sedikit menganggu penciuman. Ketegangan dan guratan khawatir terlihat dari dua orang yang berperan sebagai tamu di sini. Pokok pembicaraan penting dengan salah seorang yang memakai jas putih sebagai lambang atas apa perannya di sini. Yeoja dengan pakaian elegant itu terlihat tidak baik mendengar setiap penjelasan yang keluar dari bibir Dokter Park. Satu lainnya yang terlihat manis dengan kemeja berwarna soft tidak jauh berbeda dengan perasaan was-was yang sama.
"Apa kali ini parah, Dokter ?", Tanya Sungmin.
"Tidak separah bayangan Kalian, hanya saja jika hal yang seperti kemarin terulang sekali lagi, itu bukan pertanda yang baik…",
"Lalu Apa yang harus Kami lakukan, Dokter ?", Heechul menimpali dengan pertanyaan yang tidak sesantai Sungmin.
"Berikan perhatian dan pengawasan lebih, guncangan pasien seperti tempo hari harus dicegah, terutama masalah lelah, pasien sungguh harus dihindarkan dari hal-hal tersebut, apalagi untuk segala hal yang tidak diinginkan pasien, hanya itu", Dokter Park tersenyum meyakinkan pada kliennya.
"Entah Kenapa sebenarnya sedari tadi yang Saya tangkap dari penjelasan Anda cukup mengindikasikan jika Hyukkie memang sedang berada di titik lemahnya",
"Saya sarankan untuk tidak berlebihan, apalagi memperlihatkan kekhawatiran Anda, saat ini memang keadaan saudara Eunhyuk sedikit mengkhawatirkan, mari katakan itu hanya sebagai adaptasi dan mari berpikir bahwa pasien akan tetap baik-baik saja", Heechul menghela nafasnya, Sungmin yang berada di sebelahnya ikut menundukkan wajahnya. Anak manis ini merasa bersalah terkait apa yang menimpa Eunhyuk, seandainya lima tahun yang lalu ia tidak ikut menjadi bodoh dan menyisihkan egonya, pasti hal yang memperparah kondisi Eunhyuk seperti sekarang tidak akan terjadi lagi.
"Kita harus banyak-banyak berdoa, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Nyonya Lee, semuanya pasti ada jalan keluarnya, Dia sudah mampu bertahan lebih dari 10 tahun, Kenapa tidak untuk tahun-tahun berikutnya pula", Dokter Park kembali menyemangati kliennya dengan nada tenang.
.
.:. Hold Me .:.
.
Greb
.
.
Eunhyuk menoleh, menyaksikan jemarinya yang tiba-tiba digenggam oleh Donghae.
"Apa terlalu bagus ?",
"Huh ?", Eunhyuk beralih menatap mata Donghae, wajahnya memerah tiba-tiba, tatapan Donghae benar-benar menghanyutkannya.
"Pemandangan di luar, Kenapa sedari tadi Kau terus menatap ke luar jendela ?",
"Ahh… it—itu…",
"Tanganmu dingin sekali, Apa Kau kedinginan ?", Donghae sedikit meremat jemari Eunhyuk, seakan membantu mengahangatkan.
"Ehm… Annio",
"Tutup jendelanya, Aku tidak mau Kau sakit, nanti akan ada pemandangan yang lebih indah", Perintah Donghae yang sedikit menimbulkan enggan dari Eunhyuk, pasalnya namja manis yang berada di sebelah Donghae ini sangat menyukai angin luar.
"Tutup Hyukkie, sungguh tanganmu dingin sekali", Donghae menepikan mobilnya tiba-tiba karena Eunhyuk tidak juga menurutinya.
"Waeyo ?, Aku suka jika dibuka", Tanya Eunhyuk karena Donghae menatapnya tegas.
"Tidak bisa, Kau akan sakit nanti", Khawatir Donghae karena nada Eunhyuk terdengar mengeyel untuknya.
"Shireo !, Terasa sangat segar jika dibuka seperti ini, Sajangnim",
"Tutup atau Kita hanya berhenti sampai di sini dan pulang", Jemari keduanya masih tertaut, walaupun saling beradu perkataan.
"Ya sudah, Ayo pulang kalau begitu", Tantang Eunhyuk kepada Donghae yang menimbulkan decakan dari Donghae.
"Geure…", Donghae beralih mendekatkan tubuhnya pada Eunhyuk, semakin dekat hingga Eunhyuk menyadari betapa tampannya Donghae dengan jarak seperti ini. Hembusan nafas Donghae dapat Eunhyuk rasakan mengenai wajah cantiknya, hangat dan benar-benar aroma Donghae sekali. Anehnya, Eunhyuk yang pada dasaranya memang menggemaskan, hanya mengedip-ngedipkan matanya, tidak berniat menjauhkan wajahnya.
.
Klek
.
Donghae membuat jendela mobilnya kembali tertutup, ternyata ini tujuannya.
"Harus menurut kalau tidak mau kucium", Eunhyuk membeku dengan penuturan Donghae, apalagi Donghae masih bertahan dengan posisi menyampingnya dan menghadap Eunhyuk.
"Sa—Sajangnim~", Panggil Eunhyuk tidak nyaman dengan posisi ini.
"Hmm ?", Donghae masih setia memandangi paras pucat nan menggemaskan Eunhyuk.
"Ke—Kenapa menatapku demikian ?",
"Yeoppo", Satu kata yang begitu saja dikeluarkan oleh Donghae entah disadari atau tidak.
"Heuh ?", Alis Eunhyuk berkerut menggemaskan, Ia jadi serius menatap Donghae. Donghae pun menggerakkan tangannya untuk mengelus surai lembut Eunhyuk, keduanya saling menikmati momen yang sedang terjadi, sampai Donghae menjadi orang pertama yang sadar.
"Maaf, mak—maksudku… Ayo Kita lanjutkan perjalanan", Baik Donghae ataupun Eunhyuk sama-sama terlihat canggung setelah benar-benar sadar, Donghae kikuk sendiri, faktanya selama ini dengan yeoja manapun ia terbilang aktif dan terhitung tidak pernah terlihat bodoh seperti sekarang, akan tetapi dengan Eunhyuk menjadi luar biasa aneh.
"Tempat peristirahan ?", Eunhyuk sedikit terkejut ketika Donghae tiba-tiba membelokkan mobilnya ke jalan yang lebih sempit.
"Hmm… Kita akan ke sana, tempat yang setiap hari dikunjungi Umma",
"Se—setiap hari ?", Eunhyuk seperti kesulitan menelan ludahnya, ia sangat kenal tempat siapa yang dikunjungi Umma Donghae. Kagum, tentusaja iya, baru sekali Eunhyuk mengunjungi makam ke dua orangtuanya setelah lima tahun yang lalu, sedangkan Heechul setiap hari.
"Kalau Anda Sajangnim ?", Penasaran Eunhyuk ingin memastikan Donghae yang dahulu selalu enggan megantarkannya kemari, apakah masih sama seperti yang dulu atau tambah parah. Tapi Eunhyuk sedikit mempunyai gambaran kalau Donghae sama sekali tidak pernah kemari. Eunhyuk sedikit mencibir dengan pemikiran-pemikiran konyolnya.
"Kau pikir Siapa yang mengantar Umma kemari ?", Ingin rasanya tersedak, tapi Eunhyuk tidak sedang minum atau makan dibarengi dengan menghirup udara.
"Kenapa terkejut ?, Kecilkan matamu, Kau terlihat lucu dengan mata melebar begitu", Eunhyuk menundukkan kepalanya, rasanya sangat malu sekali pada Donghae dan Heechul.
"Kenapa menunduk begitu ?, Itu… bukan berarti Kau takut dengan makam kan ?",
"Mwoya ?, Apa Aku sepenakut itu ?", Eunhyuk tidak nyaman dengan candaan Donghae, wajahnya masam, walaupun penakut, tentusaja ia tidak takut dengan makam orangtuanya sendiri, tapi entah dengan yang lainnya.
"Ha..Ha..Ha, Kau mudah sekali terpancing, seperti adikku saja",
"Adik ?, Kau punya adik ?", Aneh saja menurut Eunhyuk karena selama ia pernah tinggal dengan keluarga Lee, Donghae hanya seorang tunggal yang sama dengannya.
"Hmm… Kim Eunhyuk, orang yang kami anggap sebagai keluarga, anak manis yang fotonya banyak terpanjang di kamarku lebih dari kamarnya sendiri, yang sangat disayangi Umma lebih dari Aku dan yang selalu kami tunggu kapanpun datangnya", Donghae melanjutkan ceritanya dengan mata yang berbinar sedangkan Eunhyuk terlihat sedikit kesal.
'Tadi kekasih, sekarang adik, nanti ia menganggapku apalagi, Dasar aneh',
"Eih… Kenapa menatapku demikian, Apa ceritaku berlebihan ?", Donghae menyadari pandangan Eunhyuk yang tidak bersahabat kepadanya.
"Ndee, ceritamu membosankan", Jawab Eunhyuk seadanya, kembali pada ia yang out dari perannya sebagai Hyukjae.
"Astaga, kalian sungguh mirip, jujur sekali",
'Bodoh, Kami orang yang sama',
"Tolong keluarkan bunga yang ada di belakang Ndee, Aku ke toilet dulu, tunggu di sini saja, daripada Kau hilang dan tidak tahu arah", Tidak seperti biasanya, karena Donghae membiarkan Eunhyuk turun tanpa membukakan pintu.
"Apa Aku sebodoh itu ?, Kenapa selalu meremehkanku sih ?", Gerutu Eunhyuk begitu Donghae sudah menjauh.
"Masa iya Aku lupa tempat Appa dan Umma", Eunhyuk tidak memperdulikan nasehat Donghae dan berjalan sendirian dengan membawa bucket bunga.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Dimana Hyukkie ?, Bukankah ia nanti harus terapi ?", Tanya seorang tampan berambut ikal pada kekasih manisnya yang sibuk mengunyah sesuatu.
"Dia memaksa untuk masuk hari ini, Aku bisa Apa Kyu kalau ia sudah merengek, yang ada pekerjaanku tidak selesai gara-gara Dia yang terus menempel padaku",
"Mungkin Dia merindukan Donghae", Kyuhyun berujar santai dan tidak memperhatikan ekspresi tidak nyaman Sungmin mendengar satu nama itu.
"Jangan mengada-ngada, selesaikan makanmu !",
"Kau sendiri yang memberitahuku Sayang, Kau… bukannya yang mengatakan padaku kalau keduanya mungkin ada affair, bekas kiss mark, pengakuan kissing, close hug dan mungkin mereka juga pernah melak—",
"MAKAN !",
"Ughh~ Santai Chagi… Ya Tuhan, Kau mengagetkanku, percayalah… Donghae bukan orang yang buruk, ia sudah berubah, bukan seorang brengsek seperti beberapa tahun yang lalu, Dia sangat bertanggungjawab dan sungguh orang yang bisa dipercayai",
"Aku tidak menyalahkan Donghae atas kejadian yang lalu, karena Aku rasa itu juga kesalahanku, hanya saja… Aku masih tidak terima dengan ia yang terkesan memanfaatkan kebodohan Hyukkie, sekali lagi… hanya sekali lagi, ini kesempatan terakhirnya",
"Dia pasti lolos kriteria, ngomong-ngomong ini sudah jam 2, Ayo Kita jemput Hyukkie", Kyuhyun mengajak kekasihnya untuk segera beranjak, namja ini begitu dewasa, pengendali emosi Sungmin yang hebat.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Aku sedang bingung saat ini…", Eunhyuk menoleh, itu tadi suara Donghae, suaranya sedikit bergetar dan parau, bukan ditujukan untuk Eunhyuk karena pandangan Donghae tertuju pada dua gundukan tanah di depannya.
"Maafkan Aku Ahjushi—Ahjumma… Ak—Aku merasa brengsek dan tidak berguna, entahlah… betapa pecundangnya Aku saat ini, biar Tuhan menghukumku berat atas segala kesalahan yang kulakukan", Walaupun suara Donghae terbilang lirih dan berjarak dari tempat Eunhyuk berdiri sekarang, akan tetapi masih bisa Eunhyuk dengar setiap kata yang dikeluarkan Donghae. Bingung, tentusaja iya, inti dari apa yang dikatakan Donghae sama sekali tidak ia tangkap.
"Dia, Apa Aku boleh mencintainya ?", Eunhyuk ingin maju namun terhenti dengan pertanyaan aneh Donghae.
"Apa Aku diizinkan ?, sed—sedangkan di ruang kosong lain ada Hyukkie…",
.
DEG
.
'Namaku disebut ?',
"Maafkan Aku, Ak—Aku bahkan sudah menekannya dalam, menghindari perasaan ini pada orang lain, tap—tapi sungguh… Aku yang terlalu lemah sehingga pertahananku runtuh, Bolehkah Aku menjadi egois Ahjumma ?, Berhakkah Aku mencintai orang lain sedangkan dominasi hatiku masih pada Hyukkie, Ajushi ?",
"Donghae-shi ?", Eunhyuk menarik lengan kanan Donghae.
"Eih… Hyuk…", Tangan Eunhyuk yang lain mengarah pada pipi Donghae, mata Eunhyuk entah kenapa memanas melihat Donghae yang meneteskan air mata.
"Donghae Kenapa ?",
'Suara ini…', Terperanjat dengan suara yang barusaja ia dengar.
"Kenapa menangis ?", Eunhyuk mengusap lelehan yang mengalir pada pipi Donghae.
"Ah… it—itu Aku baik-baik saja", Donghae meraih jemari Eunhyuk dan menempelkan pada pipinya.
"Jinja ?", Tanya Eunhyuk menggemaskan dan hanya dijawab anggukan oleh Donghae.
"Ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu", Eunhyuk menatap Donghae dalam seakan tertarik dengan hal yang akan diceritakan Donghae.
"Kim Eunhyuk, Aku sangat mencintainya",
"Dia juga pasti mencintaimu", Eunhyuk sedikit menyela untuk menghibur Donghae atau juga berniat jujur.
"Tapi, perasaanku sangat besar dan… dan… Kau mengerti maksudku bukan ?", Sepertinya salah jika Donghae menujukan pertanyaan itu pada Eunhyuk.
"Hm… tentusaja, maksudmu Kau menjadi Kakak yang sangat sangat perhatian dan menyayanginya, begitu kan ?", Donghae menggaruk kepalanya, sesuai dugaan karena Eunhyuk masih belum paham maksudnya.
"Ehm… maksudku sesuatu yang lebih dari itu, bukan hanya batas kakak dan adik, ehm… seperti… seperti Siwon dan Kibum atau Umma dengan Appa ku", Eunhyuk sangat memperhatikan Donghae, namun sekali lagi harus waspada dengan kebodohannya.
"HAH ?, Maksudmu… sekarang Dia istrimu ?, Sajangnim~ Anda ini bagaimana, bukannya Dia hanya adikmu, lalu sekarang Anda bilang Dia ist—", Eunhyuk meneruskan celotehnya hingga Donghae harus memikirkan cara untuk menghentikan Eunhyuk.
"Seperti Aku padamu sekarang", Eunhyuk berhenti, benar-benar berhenti dengan bibir yang masih terbuka. Matanya melebar, lagi dan lagi ia harus terkejut dengan penuturan Donghae.
"Ak—Aku padamu ?", Eunhyuk terbata, sedangkan Donghae mengalihkan pandangannya, entah canggung atau malu karena ungkapannya.
"Mak—maksudnya ?",
'Sial, mulutku… Apa iya Aku menyatakan perasaan di tempat ini ?', Donghae meraup wajahnya karena malu.
"I—iya maksudku… ya itu…", Donghae menjeda dan menatap Eunhyuk yang kebingungan.
"Saranghae…", Tidak pernah Donghae segugup dan terlihat konyol seperti ini ketika menyatakan cinta. Eunhyuk diam, sangat tiba-tiba dan ia tidak tahu sedari kapan wajahnya merona serta jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Mungkin Kau berpikir Aku aneh, tapi sungguh Aku tidak berbohong, ini begitu tiba-tiba dan—dan… kalian menempati hatiku dengan porsi yang sama, entah Aku yang bodoh atau Kenapa, setiap tingkahmu selalu menggambarkan Eunhyuk, caramu berbicara, apa kesukaan kalian, hal apa yang kalian bisa dan tidak, it—itu semua sama bagiku… Eunhyuk menghilang, ia menghilang bahkan sebelum tahu perasaanku, hari dimana Aku menyadari betapa bodohnya Aku, hari dimana Aku ingin menyatakan perasaanku, tapi di hari itu… Dia pergi. Dan Kau, Kau datang padaku, bertingkah selayaknya Dia yang Aku rindukan, Bagaimana tidak jika sekarang Aku jadi mencintaimu begini ?",
Eunhyuk diam, penjelasan Donghae menyadarkan betapa bodoh ia selama ini, saat itu kenapa ia begitu cepat mengambil keputusan. Donghae tidak ingin membuangnya, Donghae bahkan sangat menyayanginya.
"Aku bingung dengan perasaanku sendiri, kalian terlihat sama… sangat sama hingga tidak ada yang bisa mencegahku memiliki perasaan ini padamu, walaupun batasnya Aku tetap tahu Dia Eunhyuk dan Kau Hyukj—"
.
GREB
.
"Gumanhe…hiks—Donghae geumanhe…", Eunhyuk menghambur ke pelukan Donghae, menghentikan pernyataan yang semakin membuatnya menyesal. Ia tidak tahu harus bertindak seperti apa, ia cukup mengerti dengan apa yang dijelaskan Donghae, hak untuk memberitahu jika ia Eunhyuk pun juga luruh begitu saja.
"Hei… Jangan menangis Sayang, sungguh… maafkan Aku, Aku tahu Aku brengsek, tap—tapi… Bolehkan Ak—",
.
Chup
.
Eunhyuk mengecup pipi Donghae, bahkan tidak langsung melepaskannya.
"Boleh, Ak—Aku berjanji, sampai Kim Eunhyuk kembali, Aku berjanji tidak akan pergi darimu, mungkin Aku bisa menjadi Dia yang sangat Kau rindukan", Donghae melepaskan pelukan Eunhyuk, namun masih memegangi punggung ringkihnya.
"Tidakkah itu semakin membuatku terlihat jahat ?", Eunhyuk menggeleng, ia tersenyum dengan sangat manis.
"So, let me to making you as mine", Donghae menarik Eunhyuk perlahan ke dalam rengkuhannya.
"Make me…", Jawab Eunhyuk sebelum benar-benar berada dalam pelukan Donghae.
"Kau tidak ada jadwal untuk sore nanti kan ?", Donghae bertanya sedikit menuntut Eunhyuk untuk menjawab tidak ada.
'Satu jam lagi kan Aku ada terapi…', Eunhyuk berpikir, karena ia rasa Donghae akan mengajaknya ke suatu tempat.
"Tidak ada kan ?", Ulang Donghae sedangkan Eunhyuk masih terdiam dalam pelukannya.
"Aku ingin mengajakmu ke pantai yang sudah lama sekali tidak ku kunjungi dengan Eunhyukku…",
"Oh… Ak—Aku bisa kok", Kali ini Eunhyuk memutuskan untuk pergi, karena ajakan tempat yang Donghae gambarkan begitu indah dan salah satu yang sangat Eunhyuk inginkan. Sama sekali tidak dihiraukan peringatan Sungmin atau Hanggeng yang sangat ditakutinya.
"Tapi Apa perasaanku saja, keningmu terasa panas, Sayang…", Eunhyuk buru-buru menjauhkan kepalanya dari dada Donghae.
"Tid—tidak, Aku baik-baik saja kok, Ayo Kita pergi sekarang…", Mencoba mengalihkan Donghae, Eunhyuk menarik Donghae untuk menjauhi tempat ini dan segera memasuki mobil.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Joon-shi permisi, Apa Anda melihat Hyukjae ?", Tanya Kyuhyun sopan pada namja yang diketahui sebagai bawahan Donghae.
"Hyukjae ?, Ah… Tuan muda Kim ?",
"Iya, maksudku Eunhyuk, Apa Anda melihatnya ?", Kyuhyun sendirian, ia tidak bersama Sungmin karena kekasihnya itu juga tengah mencari Eunhyuk di tempat lain.
"Ehm… Saya rasa ia sedang bersama Tuan muda Lee",
"Syukurlah, Aku pikir menghilang lagi", Kyuhyun sempat menghela nafas bahagia,
"Tapi… Kami juga sedang mencari keduanya, sejak tadi pagi keduanya meninggalkan perusahaan dan Saya sudah berkali-kali menghubungi Tuan muda Lee, namun tidak bisa", Joon menjelaskan dengan wajah khawatir begitu juga dengan Kyuhyun yang barusaja terlihat tenang.
"Mereka meninggalkan meeting dan yang Saya lebih khawatirkan, bukannya Tuan muda Kim setelah ini harus menjalani terapi ?",
"Ndee, Aish… Donghae Hyung Kenapa merepotkan sekali sih, Dia membawa anak orang kemana ?, Aku khawatir kalau Eunhyuk kambuh lagi, kondisinya belum begitu pulih dan Donghae Hyung main membawanya saja", Kyuhyun meninggalkan Joon dan mulai mencari Sungmin untuk mengadukan dengan Bahasa santai supaya tidak membuat kekasihnya naik darah.
"Kau menemukannya ?", Tanya Sungmin yang terlihat mengusap keringat di dahinya.
Kyuhyun menggeleng.
"Di—dia…",
"Keluar dengan Donghae kan ?", Tanya Sungmin cepat dan membuat kerutan di dahi Kyuhyun, bagaimana mungkin kekasihnya itu bisa tahu.
"Jangan menyembunyikan sesuatu, cepat cari cara untuk bisa menghubungi keduanya, Eunhyuk benar-benar gawat jika absent di terapi pertamanya", Sungmin berujar tak sabar.
"Jangan berlebihan, pasti Donghae Hyung tahu apa yang harus dilakukan, Bagaimanapun jug—",
"APA KAU LUPA ?, Mana mungkin orang bodoh seperti Donghae tahu ?, Dia bahkan membiarkan Eunhyuk pingsan dan memarahi anak itu",
"Sayang~ Tenanglah… Sungguh jangan berlebihan, Kita pasti menemukannya, Donghae Hyung bukan orang yang ceroboh, Dia yang lebih mengenal Hyukkie lama",
"Mengenal ?, Kau bercanda… Saat semua keluarganya tahu jika Hyukjae adalah Eunhyuk, Apa Dia tahu ?, Dia tidak lebih dari orang yang hanya tinggal bersama Hyukkie, Dan Aku bersumpah akan mencabut kesempatan untuknya jika terjadi apa-apa pada Hyukkie".
.
.:. Hold Me .:.
.
"Hei, jangan berlari, sepatumu akan bas—"
.
.
BYUUUUS
.
.
"Yaaah~ basah… Donghae~",
"Benarkan ?, Aku baru memberitahu jangan berlarian begitu", Eunhyuk terdiam di tempatnya, tidak beranjak dan malah memperhatikan kakinya yang terendam air. Ia begitu semangat sedari tadi menyisiri tepian pantai hingga tertarik untuk mendekati ombak yang datang.
"Eotokhae~", Ujarnya lirih.
"Tunggu di sana !", Donghae terlihat melepas sepatunya dan menggulung bagian bawah celananya ke atas.
.
GREB
.
"Lihat, sekarang Kau basahkan ?, Harusnnya Kau bisa mengira-ngira Hyuk", Eunhyuk diam dan memperhatikan Donghae yang terlihat serius mengangkat tubuhnya.
"Jangan bermain-main di air, itu hanya akan membuatmu flu, perhatikan saja pemandangannya", Nasehat Donghae begitu menurunkan Eunhyuk dan mendudukkannya di kap mobil.
"Donghae mau Apa ?", Eunhyuk mendapati Donghae yang berjongkok di depannya dan bertanya.
"Melepas sepatumu, kakimu akan semakin dingin jika memakai sepatu basah begini…", Donghae melepas dengan cepat.
"Lalu Aku pak—", Eunhyuk menghentikan tanyanya begitu Donghae memasangkan sepatu miliknya yang Donghae lepas tadi.
"Kebesaran ya ?, anggap tidak masalah, daripada kakimu dingin", Donghae tersenyum mendapati karyanya pada Eunhyuk.
"Lalu Donghae pakai Apa ?", Tanya Eunhyuk sembari berdiri dari duduknya.
"Aku tidak usah memakai, Hyukkie saja yang memakainya…",
"Hm… Oke, lagi pula Aku memang tidak kuat dingin, Ayo Kita kembali Hae", Benar-benar Eunhyuk yang jarang peka dengan keadaan orang lain, ia membiarkan begitu saja Donghae yang berjalan tanpa alas kaki, toh ia juga malas mengalah.
"Kau ingin langsung pulang ?, Tidak ingin mengabadikan moment dulu ?",
"Oh iya, tentusaja… tapi Aku meninggalkan smartphone ku di kantor",
"Sebentar…", Donghae mengeluarkan miliknya dan sedikit terkejut karena jumlah panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang menanyakan dimana ia berada. Merasa tidak penting dengan pesan dan panggilang tersebut, Donghae langsung mengeluarkan tanpa membaca detail.
"Ayo senyum…", Donghae mengarahkan tangannya ke atas dengan kamera yang di On kan terlebih dahulu.
.
Chup—Ckrek…
.
"Ya~ !", Terlambat untuk Eunhyuk protes karena foto dengan bibir Donghae yang menempel di pipinya sudah terambil, apalagi wajahnya tengah tersenyum, semakin menunjukkan betapa manisnya mereka.
"Jangan marah, Kau kan kekasihku sekarang, gantian Kau yang menciumku…", Eunhyuk mengerutkan dahinya tanda tak setuju, apalagi Donghae sudah mengangkat tangannya.
"Shireo !",
"Mwoya, Kau mau berekspresi cemberut begitu, ahh…tidak masalah, manis juga kok, hana… dul—ss",
.
Chup/Ckrek
.
"Manisnya~", Eunhyuk entah dengan terpaksa atau tidak saat mengecup pipi Donghae barusan. Wajahnya terlihat memerah walaupun sedang mengerucutkan bibir. Tidak lama kemudian, Eunhyuk berlari memasuki mobil, mungkin karena malu dengan tindakan tiba-tibanya.
"DONGHAE CEPAT !, Hari sudah mulai gelap, Kita pasti sampai Seoul malam hari", Lengkingan Eunhyuk menyadarkan Donghae dan membuatnya dengan cepat memasuki mobil.
"Apa kau melihat perkiraan cuaca hari ini ?",
"Kenapa ?", Donghae menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan pelan.
"Aku pikir akan hujan, langitnya gelap sekali…",
"Ehm… Apa Kau tak—",
"Aku tidak takut, hanya saja… pasti orang-orang sedang mencariku sekarang, Aku belum menghubungi mereka",
"Aku akan menjelaskan pada mereka nanti, aish… sepertinya hujan benar-benar turun", Dugaan Eunhyuk tepat, jalanan ini malah terlihat semakin menyeramkan ketika hujan begini, tidak ada kendaraan lain yang melintasi tempat ini. Eunhyuk yang mengatakan tidak takut, tapi tetap saja jika suasananya se sepi ini walaupun dengan Donghae, juga merasa takut barang sedikit.
"Jangan dilihat jalanannya jika menakutkan, lihat wajah tampanku saja", Canda Donghae membuat Eunhyuk bereaksi.
"Dasar gombal !", Tangannya tergerak menggelitik perut Donghae.
"Hei Sayang ha..ha..ha, ini geli… sungguh, ha..ha..ha, hentikan Baby…",
"Rasakan !", Eunhyuk masih sibuk dengan kegiatannya, di sisi lain orang professional seperti Donghae, tahu cara yang aman untuk mengendalikan tawa dan fokus menyetirnya. Akan tetapi hal yang tak terduga tiba-tiba datang,
"Lho, Kenapa mobilnnya berhenti Hae ?", Donghae juga terlihat kebingungan dan tidak bisa menjawab pertanyaan Eunhyuk.
"Entahlah, bahan bakarnya masih cukup kok untuk kita kembali sampai rumah", Donghae melepas seat belt nya.
"Mau Kemana ?", Tanya Eunhyuk khawatir karena Donghae terlihat akan keluar, apalagi di luar sedang hujan deras.
"Aku harus mengecek mesinnya, mungkin ada masalah di sana…",
"Di luar hujan Donghae, Kau bisa sakit nanti…", Jemari Eunhyuk memegangi lengan Donghae, tidak mengizinkan namjanya untuk keluar.
"Tidak apa-apa Sayang, kita harus segera pulang bukan ?, tenanglah, Aku tidak gampang sakit hanya karena hujan kok…", Yakin Donghae membuat pegangan Eunhyuk pada tangannya terlepas.
"Tunggu di sini dan jangan keluar, Aku akan segera kembali", Donghae melepas kemejanya dan hanya mengenakan kaos dalam berwarna hitam tanpa lengan.
Eunhyuk gusar mengingat sudah lebih dari sepuluh menit Donghae keluar dan belum kembali.
"Apa Aku menyusulnya saja ?, Siapa tahu Donghae butuh bantuan…", Eunhyuk berpikir dangkal ketika keputusan bodohnya itu ia ambil, ia tidak akan kuat dengan udara luar yang sangat dingin, apalagi demamnya belum turun. Bukannya malah membantu, tetapi ia tengah mempersiapkan diri untuk merepotkan Donghae sepertinya.
.
.
BRAAAK/GYUUUR
.
.
"Ahh… Dingin~", Suara Eunhyuk tidak dapat di dengar Donghae, tapi Donghae jelas dapat melihat jika kekasihnya tengah berdiri di sampingnya dan terlihat menggigil.
"HYUKKIE ?, KENAPA KELUAR ?",
"Ak—Aku… khawatir, Kau kehujanan begini Hae…",
"Ya Tuhan~ Kau bisa sakit Hyuk…", Donghae menutup kap mobilnya cepat dan segera menarik tangan Eunhyuk untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Apasih yang Kau pikirkan sebenarnya ?", Marah Donghae begitu keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Aku bilang Aku khawatir", Eunhyuk tidak mau kalah dengan nada Donghae yang terdengar marah.
"Justru Kau yang membuatku khawatir, Kau bisa sakit Hyukkie, lihat bajumu, sekarang basah semua kan…",
"Jangan memarahiku…",
"Aku begini karena Kau salah, Kau hanya harus mendengarkan perintahku !", Eunhyuk menunduk, matanya memanas, Donghae terdengar berlebihan untuknya, harusnya tidak perlu sekasar itu.
"Hiks—mian…", Satu isakan yang membuat Donghae ingin membatingkan kepalanya pada jendela. Baru sehari dan ia sudah membuat kekasihnya menangis, sama sekali belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Uljima… mianhe, Ak—aku tidak bermaksud memarahimu… ini, ganti bajumu dengan ini, Kau bisa sakit jika terus memakai kemeja basahmu", Donghae memberikan kemejanya setelah mengusap air mata Eunhyuk.
"Cepat pakai dahulu, Sayang", Eunhyuk menerima kemeja biru tersebut dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya sendiri, tanpa meminta Donghae untuk mengalihkan wajahnya, benar-benar anak yang polos, akan tetapi memang dasarnya Donghae yang gentle dan tidak mesum, ia segera mengalihkan pandangannya ke samping.
"Mobilnya bagaimana ?", Tanya Eunhyuk setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia menoleh pada Donghae dan cukup kaget.
"Mesinnya terlalu panas dan kita harus menunggu satu atau dua jam untuk bisa lanjut perjalanan lagi", Donghae menjelaskan santai pada Eunhyuk yang masih terdiam memandanginya, tetapi Donghae sedikitnya tahu maksud pandangan bingung Eunhyuk.
"Ahh… in—ini, jangan berpikir tidak-tidak, kaosku basah dan yahh… Aku rasa akan lebih hangat untukku melepasnya", Eunhyuk mengangguk, padahal sama sekali tidak terlintas di kepalanya masalah 'tidak-tidak' seperti yang disebutkan Donghae, justru ia terpana dengan bidang milik Donghae dan kotak-kotak di perut Donghae, ia kagum karena tidak memilikinya, begitu maksud pandangan Eunhyuk.
"Kau tidak kedinginan ?",
"Hanya sedikit…", Jawab Donghae sembari tersenyum.
"Sini… Hyukkie peluk",
.
DEG
.
Eunhyuk merentangkan tangannya, menawarkan sesuatu yang membuat jantung Donghae tidak nyaman, apalagi anak manis ini tengah tersenyum santai.
"Ayo sini…", Ulang Eunhyuk yang membuat Donghae mendekat, harusnya Donghae yang menawarkan bukan namja manis yang terlihat menggemaskan dengan kemeja kebesaran itu.
.
Chup
.
Greb
.
"Kau manis Sayang, harusnya Aku yang memelukmu begini", Donghae memberikan kecupan di bibir Eunhyuk singkat sebelum memeluk anak manis ini.
"Donghae~",
"Hnn ?", Eunhyuk mendongak, melepaskan pelukannya, memperhatikan wajah tampan Donghae yang sangat menawan. Entah polosnya sedang berada dimana yang jelas tiba-tiba jemarinya menarik wajah Donghae dan mendaratkan bibir pouty nya pada tipis milik Donghae. Eunhyuk memejamkan matanya, Donghae sama, inisiatifnya semakin bertambah begitu Eunhyuk hanya menempelkan bibir manisnya, hingga membuat Donghae bertindak lebih. Tangan Donghae memegangi pinggang Eunhyuk, semakin mendekatkan tubuh mereka, tangan Eunhyuk mengalung indah di tengkuk Donghae. Donghae yang pertama kali mengawali hisapan, lumatan lebih, gigitan dan pertarungan lidah yang santai. Ia tidak terburu-buru dan menikmati setiap tindakan yang ia ciptakan.
.
.:. Hold Me .:.
.
Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Tuan Lee sudah dapat ditebak bagaimana suasana tidak baik tercipta. Pasangan suami-istri ini begitu terkejut ketika mendapat kabar dari Sungmin bahwa Eunhyuk menghilang, terlebih dengan Donghae. Bukan berarti mereka tidak mempercayai anak tampannya, hanya karena Donghae yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa tentang Eunhyuk, ini bisa menjadi sesuatu yang fatal ketika dibiarkan. Heechul yang berperan sensitif begitu terganggu dan mendadak menangis hebat, ia tahu dan masih ingat dengan nasehat Dokter yang ia dan Sungmin datangi. Hanggeng yang sedari tadi menghubungi Donghae pun juga percuma, tidak mendapatkan balasan satu pun. Rasanya Ia benar-benar ingin menghabisi anaknya sehabis ini, topik kemarahan dan jenis makian telah ia siapkan untuk Donghae.
.
TRIIING—TRIIING
.
Heechul buru-buru berlari dan mengangkat gagang telephone tersebut.
"Iya Hallo ?",
"Ajumma—hiks… Hyuk—Hyukkie hiks…",
"Ap—Apa ?, Sungmin, katakan yang jelas ?",
"Hyukkie—hiks… Dia tidak ada Ahjumma—hiks… ",
"Apa maksudmu ?, Tidak ada bagaimana ?", Heechul menjadi tidak sabar dan panik.
"Di—Dia hiks… ada—ada mobil—hiks… yang menabraknya dan—dan hiks… sekarang Dia hilang—hiks… Ak—Aku tidak menemukannya—hiks… Ahjumma",
"Ya Tuhan~ Ka—Kau tidak bercanda ?", Heechul mengelus dadanya, kakinya melemas dengan berita yang disampaikan oleh orang di seberang. Gagang telephone itu pun jatuh dengan sedikit keras mengayun ke lantai. Bukankah anak kandungnya sedang bersama Eunhyuk, jadi yang dimaksudkan Sungmin…
'Donghae…', Air mata Heechul menetes memikirkan buruk yang sedang terjadi.
"UMMA AKU PULANG !", Heechul menoleh, ia tidak sedang bermimpi dengan suara anaknya itu kan. Donghae pun berjalan dengan wajah sumringah memasuki rumahnya tanpa atasan tentu saja, ia terlalu bahagia malam ini, atau sudah bisa dikatakan pagi hari, karena jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Umma ?", Donghae memelankan nadanya, melihat bahu bergetar orang yang saat ini sedang menatapnya dengan mata melebar, seperti terkejut.
"Umma gwanchana ?", Tanyanya sekali lagi begitu mendapati gagang telephone yang menggantung.
"Umma~", Donghae menyentuh bahu ibunya.
"Kau… Apa yang telah Kau lakukan, Hae ?", Heechul menatap Donghae penuh Tanya, suaranya bergetar dan air mata yang menggantung membuat Donghae curiga jika ada hal aneh yang sedang terjadi.
"Aku ?, Maaf kalau Aku pulang sangat terlambat Umma, hari ini sangat indah, Aku menyatakan sesuatu yang membuatku bangga dan lega, Aku mengajak Hyukjae ke tempat yang beruntungnya ia suka, akan tetapi ada sedikit insiden yang membuat Kami kehujanan dan—",
.
.
PLAAAK
.
.
"KAU DARIMANA SAJA ?", Heechul menamparnya keras.
"U—umma… Apa yang ter—",
"Kau bodoh hiks—Donghae… Kau bodoh ! hiks…", Isakan dan air mata Heechul keluar juga, pertahanannya runtuh, tidak ia pedulikan sama sekali binar kebahagiaan dan cerita Donghae.
"Umma Waeyo ?", Donghae jelas saja bingung, bahkan terakhir kali Heechul menamparnya adalah lima tahun yang lalu dan sekarang terjadi lagi tanpa ia tahu apa sebabnya.
"Kau membuat nyawa seseorang terancam dan sekarang bertanya Kenapa—hiks… Demi Tuhan—hiks… Kalau sampai ia tidak ditemukan—hiks… Kau !, hiks—Jangan harap Umma akan memaafkanmu",
"Ap—apa maksud Umma ?, Nyawa Siapa ?, Kesalahan apa yang Aku lakukan ?", Heechul berlari ke ruangannya dan sang suami, ia sama sekali tidak berniat memberitahu anak bodohnya itu apa yang sedang terjadi.
"UMMA !", Panggil Donghae yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Heechul.
"Sudah puas ?", Donghae mendongak dan menemukan Appanya berdiri dengan wajah yang menakutkan. Ia diam, tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan sang Ayah.
"SUDAH PUAS DENGAN BERMAINMU ?, JAWAB APPA !",
"Heh… Semua orang bertingkah aneh dan tidak ada yang kutahu maksudnya sedikitpun", Donghae berdecih dan membuat Hanggeng semakin emosi. Hanggeng yang walaupun belum tahu pesan Sungmin begitu melihat Donghae langsung muncul geram. Ia berjalan mendekat, mempersiapkan kepalan tangannya dan memandang lurus wajah Donghae.
.
.
BUG
.
.
"Aw… APPA ! Ugh… WAE GEURE ?", Donghae berteriak menahan sakit.
"Kau tidak sadarkah sebenarnya apa yang telah Kau lakukan ?",
"Apa yang salah ?, Aku tidak tahu apapun dan tiba-tiba mendapatkan tamparan dan pukulan…",
"APAPUN YANG KAU LAKUKAN HARI INI… Itu kesalahanmu",
"APA ?, Aku tidak merasa bersalah dengan itu semua, Aku pergi dengan Hyukjae, kami tertawa bersama dan bahagia, Apa yang salah dengan itu ?", Donghae tidak terima dan ikut terpancing.
"KAU !", Hanggeng menunjuk Donghae tepat di depan wajahnya.
"Kau tidak tahukah siapa Hyukjae sebenarnya ?, Kau kenapa sedemikian bodohnya hingga tidak mengenali sebenarnya Siapa Dia",
"Memangnya Siapa Dia ?, Landasan Apa yang membuatku harus tahu Siapa Dia sebenarnya ?",
.
.
PLAAK
.
.
"APPA STOP !, Katakan yang sebenarnya dan cukup menamparku",
"Dia Eunhyuk, bodoh !... Dia Hyukkie Kita !", Hanggeng menekan setiap kata yang ia ucapkan.
"Ha…ha…ha, Appa bercanda", Donghae memang tertawa, tidak begitu tulus karena kepalanya menggeleng keras, ia ingin tidak percaya, akan tetapi jika semarah ini, orang yang di depannya ini tidak mungkin berbohong.
.
BUG
.
"Kau benar-benar bodoh !", Hanggeng berbalik dan tidak melihat ekpresi kesakitan Donghae begitu sekali lagi ia layangkan pukulan ke wajah anaknya ini. Donghae, jangan ditanya betapa ia menyedihkan dengan duduk di lantai tanpa berniat menyeka darah yang mulai keluar.
"Itu pasti bohong, itu tidak mungkin… tidak mungkin…".
Heechul yang tengah tersedu di dalam kamar begitu Hanggeng datang langsung memberitahu apa yang sudah dikatakan Sungmin. Ia bahkan memohon pada suaminya itu untuk segera mencari Eunhyuk, ia begitu khawatir dengan kata kecelakaan dan hilang yang Sungmin maksudkan. Eunhyuk tetaplah ia yang bingung dan sulit menghafal jalan, seberapapun dekat dengan kediamannya, apalagi dengan kondisi kecelakaan tersebut. Malam itu menjadi malam yang benar-benar hancur untuk keluarga Lee ini. Hanggeng terus menenangkan Heechul yang meronta untuk segera mencari dimana anak manis yang hilang tersebut.
"Kau… Bukankah Kau pergi dengan Hyukkie ?", Heechul yang keluar dari ruangannya menemukan Donghae yang tidak lebih baik dari keadaannya. Ibu yang begitu menyayangi anaknya ini tidak tega untuk membentak karena Donghae terlihat sangat buruk.
"Heh… Jadi, Dia benar-benar Hyukkie ?, Kenapa tidak ada yang memberitahuku Umma ?", Donghae bertanya parau, air matanya begitu saja meluncur.
"Hiks—it…itu tidak penting Hae… Cepat beritahu Umma bukannya Kau bersamanya ?",
"Ndee… orang yang sedari pagi bersamaku adalah Eunhyukkie",
"Kau membawanya Kemana—hiks ?… Kau antarkan Dia kemana—hiks ?… Katakan pada Umma jika ia baik-baik saja", Heechul duduk di lantai menyamai anaknya. Donghae pun mulai bercerita bagaimana kekasihnya itu meminta ia untuk cepat-cepat pulang mengingat hari yang sudah hampir pagi. Ditambah permintaan lain untuk menghentikan mobil yang dilajukan di depan apotik yang ada di seberang jalan apartemen. Donghae begitu saja menurut ketika Eunhyuk memintanya pulang, alasannya dapat diterima Donghae karena saat itu ia tidak sedang memakai atasan, tidak mungkin ia keluar mobil dengan udara dingin dan langsung menembus tubuh shirtless nya. Heechul menghela nafasnya begitu anak tampan yang sekarang terlihat buruk ini menyelesaikan ceritanya. Tidak ada nada semangat lagi ketika cerita ini dimulai sampai diakhiri.
"Dia kecelakaan, Nak… Dan sekarang… hilang…", Heechul tidak tega saat mengucapkan kalimat ini, matanya memanas melihat mata sedih Donghae.
"Oh bagus… terimakasih atas tambahan kejutannya Umma, Aku merasa kalian benar-benar bercanda", Donghae merespon dengan tawanya, namun air matanya juga luruh.
"Maafkan Umma—hiks… tapi ini sungguh-sungguh…",
"Apa maksudnya kecelakaan ?, Apa maksudnya hilang ?, Aku meninggalkannya dalam keadaan baik dan Dia tersenyum, Jangan membuatku semakin terlihat bodoh !", Donghae berdiri dan sekali lagi, tidak mungkin Ummanya berbohong dengan tangisan pilu tersebut.
"Sayang, biarkan Aku keluar sekarang dengan orang-orangku dan mencari informasi, Kau tunggu di rumah dan istirahat saja", Suara Hanggeng membuat ibu dan anak ini menoleh.
"Tapi Hannie—",
"Aku ikut, Appa !", Donghae menginterupsi sedangkan Hanggeng menatap anaknya dengan tatapan kosong, lama merespon.
"Pakai bajumu dan susul Appa, sementara Appa akan melapor ke kepolisian".
.
.:. Hold Me .:.
.
Di lorong suatu Rumah Sakit terlihat seorang namja yang tidak bisa diam, sudah beberapa jam ia terlihat tak tenang seperti sekarang ini. Tangannya ia kepal sembari memanjatkan doa-doa selamat, ekspresinya menunjukkan takut dan khawatir. Dari segi wajah Namja tampan nan tinggi ini adalah seorang asing yang minim pengetahuan tentang Korea, memang ia bukan warga negara asli.
"Mr. Nickhun…",
"Yes, I am", Nickhun berbalik, ia menatap Dokter yang tengah melepas pelindung kepala dari luar ruang Operasi. Ekspresi orang berjasa ini tidak melukiskan berita baik.
"We have to say sorry, this surgary….", Kepala Dokter ini menggeleng untuk menggambarkan kata setelahnya. Nickhun yang tahu maksud Dokter itu langsung merasa lemas. Ia menoleh ketika derit bed didorong dari ruangan namja yang ia tabrak semula. Tiba-tiba ia berlari dan menggenggam tangan dingin namja yang telah memucat tersebut. Ia bukannya takut akan hukuman, hanya saja ini sudah menyangkut nyawa orang. Batinnya bersedih, sangat sakit mungkin untuk keluarga orang yang diam-diam ia tangisi. Nickhun memang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan di depannya terlihat seseorang yang kesulitan menyeberang, namun sulit saat itu untuk Nickhun menghentikan mobilnya mendadak karena banyak juga kendaraan yang berlalu lalang, hingga tabrakan terjadi. Ia yang panik dan sudah beberapa kali meminta pertolongan tidak juga ada yang mendekat, hingga ia begitu saja mengangkat namja manis yang terlihat mengeluarkan darah dari hidung dan telinga ini ke dalam mobilnya.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Sudah tiga hari, Kepalaku rasanya mau pecah…", Donghae terlihat tidak baik, rambutnya acak-acakan dan entah kapan terakhir kali ia mandi.
"Hyung, Kenapa Kita tidak memeriksa di seluruh Rumah Sakit data orang kecelakaan yang bernama Eunhyuk atau Hyukjae ?", Kyuhyun bertanya, ia juga tidak jauh berbeda dengan Donghae, mata orang tidak tidur dan kebingungan.
"Kau mulai bodoh Kyuhyun, bagaimana bisa jika seluruh identitasnya ada di sini dan lagi Kenapa di belakang apartemen sebesar ini tidak ada CCTV, Kau bisa memilihkan tempat tinggal atau tidak sih…", Donghae berganti memarahi Kyuhyun, tempat kecelakaan berlangsung menurut beberapa saksi memang ada di belakang gedung apartemen, sampai tiga hari ini belum juga ada berita yang datang dari kepolisian atau ada orang yang melapor menemukan Eunhyuk.
"Yang Aku khawatirkan bagaimana jika orang yang menemukannya bukan orang yang baik, Dan Kau Donghae jelas-jelas ini salahmu, Kenapa Kau tidak menemaninya dan mengantarnya sampai dalam, Kau takut kumarahi ?", Sungmin kembali meledak, sepat sekali baginya menatap namja yang terlihat usang itu.
"Kenapa semua orang menyalahkanku, Aku saat itu tidak memakai atasan, Hyung…",
"Kau kemanakan bajumu, Hyung ?, Apa yang sudah kalian lakukan saat itu…", Kyuhyun mendapat glare mematikan dari Donghae. Donghae yang sedari tadi terus dipojokkan benar-benar merasa dirinya seorang penjahat, hingga ia meninggalkan ruangan ini.
.
Drrrrt—drrrtt…
.
"Yeoboseyo !",
"."
"Yes, I am Lee Donghae",
"."
"WHAT ?",
.
PRAAAK
.
Meluncur dengan sangat baik dan retak di beberapa bagian. Genggaman smartphone nya mungkin kurang kuat atau berita yang baru ia dengar terlalu kuat.
"It—itu bohong kan ?", Donghae tidak tahu bertanya kepada siapa. Dugaan yang baru saja terlintas memang benar adanya dan hebatnya langsung membuat tubuhnya lemas.
"Hyukkie, tidak mungkin, itu tidak mungkin kan ?", Suara orang dengan Bahasa asing yang barusaja memberinya informasi barusan, tidak benar bukan.
"Kenapa Hae ?", Sungmin yang pertama kali bereaksi melihat Donghae yang tiba-tiba lemas.
.
.:. Hold Me .:.
.
Nickhun terlihat gusar, namja yang menabrak sekaligus yang membawa Eunhyuk ini tidak tenang ketika menjabat tangan satu persatu keluarga korban. Selain ada yang menatapnya tajam, lebih tepatnya ia adalah Donghae, ia juga merasa sangat bersalah dan menyesal. Heechul yang saat ini menangis tiba-tiba memeluk Nickhun dengan erat, setidaknya dengan keadaan menyedihkan seperti sekarang ini, Eunhyuk sempat tertolong oleh orang sebaik Nickhun.
"Sorry… really sorry, but I found this one…", Nickhun menunjukkan sesuatu tepat setelah Heechul melepaskan pelukannya. Semua orang sangat tahu begitu sesuatu yang ditunjukkan Nickhun menjuntai.
"Here, I found name ehm… Donghae Lee with phone number", Donghae yang tahu namanya disebutkan langsung tertarik untuk memperhatikan Nickhun, sebelumnya ia sangat enggan, apalagi emosinya mengatakan untuk menghabisi orang di depannya ini, tapi terus saja Ummanya mencegah dan malah berterimakasih. Donghae merebut kalung milik Eunhyuk yang Nickhun pegang. Ia terkejut karena di balik tombol terukir namanya dengan nomor telephone, lengkap dengan alamat rumahnya.
"Apa Sungmin Hyung yang mengukirkan ini ?", Donghae menoleh pada Sungmin dan juga Kyuhyun, jawabannya adalah gelengan dari keduanya.
"I'm sorry so late to call you…", Donghae mengangguk, ia terharu sekali, jika tidak seorang pun yang melakukan ini berarti inisiatif Eunhyuk sendiri, entah sejak kapan ukiran tersebut ada yang jelas ini membuktikan Eunhyuk tahu tempat kembali.
"Tuan, pasien sudah sadar…", Semua orang menoleh menanggapi perkataan perawat. Donghae langsung berlari bergegas diikuti Heechul dan yang lainnya, termasuk Nickhun. Begitu masuk, Donghae tersenyum saat Eunhyuk menatap ia intens, ia tahu kekasih yang sedang berbaring lemah di sana juga pasti merindukannya. Donghae mendekat dan tidak mampu berkata-kata, Puji Tuhan sekali melihat Eunhyuk mampu membuka mata seperti ini.
"Hyukkie…", Suara lirih Heechul membuat namja manis yang pucat itu beralih menatap yeoja elegan ini. Senyum Eunhyuk begitu saja tercetak, seperti buncahan kerinduan di sana, berbeda sekali reaksinya saat melihat Donghae.
"Umma~", Heechul tersenyum mendengar pertama kalinya Eunhyuk memanggilnya sebagai seorang Ibu. Donghae berhenti di tempat, ada yang aneh ketika Eunhyuk menatapnya dibandingkan dengan tatapan Eunhyuk kepada Heechul. Eunhyuk terlihat seperti tidak mengenalnya.
"Donghae…", Benar, Ada yang salah di sini. Donghae masih berdiri di tempatnya, tidak mencoba mendekat. Panggilan barusan, bukan untuk dirinya, seketika Nickhun yang ada di urutan belakang masuk, panggilan dari Eunhyuk tersebut langsung keluar. Heechul yang melihat bagaimana Eunhyuk yang memanggil Nickhun dengan Donghae juga terkejut.
"Umma, Donghae tambah tampan ya ?, tapi… Siapa Dia ?", Eunhyuk tepat menunjuk kepada Donghae. Tapi sayang, pandangan keduanya terputus begitu Donghae langsung meninggalkan ruang rawat Eunhyuk.
.
.:. Hold Me .:.
.
"Maaf Tuan, inilah yang Saya katakan sebelumnya untuk menunggu hingga pasien sadar, ia akan random sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, ini berkaitan pula dengan trauma yang dialami pasien",
"Tapi Dok, Kenapa Dia sama sekali tidak mengingatku, Aku yang bahkan selalu ada untuknya", Donghae terlihat sangat tidak terima, dari awal ia mendatangi Dokter ini, nada bicaranya sangat tidak sopan.
"Maafkan Kami, Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkata lain untuk mampu membuat saudara Eunhyuk bertahan", Dokter ini membungkuk sopan sebelum meninggalkan Donghae. Donghae yang frustasi menjambak rambutnya dengan kasar.
"Astagaaa… Aku benar-benar akan gila, Oh Tuhan, Kenapa cobaanmu seperti ini sih…",
"Kau tidak bersyukur Hyukkie hidup ?", Heechul yang barusaja datang salah paham dengan perkataan Donghae.
"Bukan begitu Umma, Ak—Aku yang kekasihnya, tapi sama sekali tidak mengenaliku",
"Ehm… Tapi ia terlihat cocok dengan namja yang tadi… lagi pula juga lumayan tampan kok",
"UMMA !", Donghae meneriaki Ibunya, marah karena harusnya ia yang dibela dan dicarikan solusi.
"Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati dan keadaan, tapi yang jelas ia selalu membuat ending yang tepat, kalau tidak sekarang mungkin saja besok, ketertarikan tidak disadari dalam sekejab mata, yang tulus itu butuh proses untuk mengenal lebih dan karena itu Aku yakin Hyukkie cukup tahu tempat kembali kepada Siapa, cukup mulai dari awal lagi, tampanku", Heechul tersenyum menepuk punggung anaknya, ia meninggalkan Donghae yang tengah meresapi kalimat menenangkannya.
Dan ada satu diantara banyak yang akan sangat terang di matamu,
Magnetnya spesial dan tidak mampu membuatmu untuk sekedar mengedipkan mata,
Nama, Aku tidak perlu mendengarkanmu memanggilku dengan benar sebagai kesan pertama, terserah dengan sebutanmu,
Orang yang seperti itu sangat langka, tapi bersyukurlah karena benar-benar ada,
Dan Akulah misalnya…
Angka yang menunjukkan lamanya waktumu kembali padaku, bukan masalah yang bisa membunuhku,
Hanya saja, Aku dan benar-benar hanya Aku yang akan mengembalikanmu,
Pribadiku, kunciku untuk membuatku mengenali bahwa Pangeran tampan ini adalah Lee DongHae mu, My princess.
.
.
~END~
.
.
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mau menunggu dan membaca FF Hold Me sampai akhir. Buat yang udah review, follow atau favorite big thanks banget, akhirnya chapter ini sudah sampai chater terakhir. Kalau masih ada typo mohon dimaklumi aja.
Saya harap, walaupun ini chapter terakhir tapi masih ada yang mau review.
Saya juga punya FF baru berjudul Blood Never Lies, HaeHyuk juga, RnR ya.
Untk kelanjutan FF monster in me atau juga do me tunggu aja, yang jelas sudah saya selesaikan semua tinggal menunggu update bergilir saja.
Thanks :*
