Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Update cepet (udah disiapin kok sebelumnya) mustahil bisa update cepet (curhat) terimakasih untu review dan kesediaan para pembaca membaca cerita tidak jelas saya, maaf jika kurang memuaskan masih belajar. Harap maklum jika ada kesalahan ejaan, salah ketik, alur terlalu cepat dan sebagainya-dan sebagainya, happy reading…
Previous
"Baiklah, aku akan melihat bagaimana hasil kerjamu apa kau sehebat prestasi yang dituliskan pada halaman internet dan majalah itu." Jongin memilih bungkam dan memperhatikan Chanyeol dengan wajah datar.
"Awas saja jika fotoku nanti jelek, dasar mantan fotografer alam liar."
"Jika fotomu nanti jelek berarti Singa jauh lebih tampan dibandingkan dirimu oh mungkin juga Gorila, Gajah, Badak, atau binatang lainnya."
"Diam!" pekik Chanyeol kesal, keduanya bertatapan dengan tajam.
"Dasar menyebalkan!" pekik keduanya bersamaan.
Bab Dua
"Apa ini?!" pekik Chanyeol dengan amarah tingkat tinggi. Ia melempar kertas tepat di hadapan Jongin yang sibuk membersihkan kameranya.
"Konsep foto untuk albummu, apalagi?" Jongin berusaha tetap tenang dan menampilkan sikap acuh. Dia memang tidak terlalu peduli dengan tempramen Chanyeol.
"Aku tidak suka dengan konsep ini, jangan seenaknya merubah konsepku ya?!"
"Xiumin hyung yang melakukannya, aku pikir dia sudah berbicara denganmu." Jongin belum menghentikan kesibukannya membersihkan lensa kamera.
"Pembohong, aku tahu ini bukan konsep Xiumin hyung. Dia mengatakan jika tempat pemotretan akan dilakukan di reruntuhan gedung, hutan, di gedung tua, menampilkan konsep misterius dan liar." Cahnyeol menjelaskan konsepnya panjang lebar, kali ini sukses membuat Jongin menaruh perhatian penuh kepada laki-laki tinggi nan rupawan tersebut. Sayang, menyebalkan.
"Istana Gyeounghui-gung Palace dibangun pada tahun 1623, dengan hutan lebat di belakangnya. Sedikit permainan cahaya akan membuatmu terkesan misterius dan liar. Konsep yang baik, atau kau merekomendasikan bangunan lain? Reruntuhan gedung? Maksudmu gedung tak terpakai yang sebentar lagi akan dirobohkan? Kau sudah pernah menggunakan konsep itu saat debutmu tiga tahun lalu, berikan sesuatu yang berbeda atau kau mau dilibas pendatang baru?"
Chanyeol menelan ludahnya kasar, selain menyebalkan dan sok, Jongin ternyata orang yang sangat blak-blakan dan banyak bicara. "Xiumun hyung yang membuat konsep ini?"
"Hmm, mungkin menejermu itu lupa saat mengatakan padamu tentang konsep album barumu. Pekerjaannya sangat banyak aku saja sampai kasihan melihatnya. Bantulah dia, jangan terlalu merepotkan."
"Maksudmu?!" pekik Chanyeol kesal.
"Hah..,"desah Jongin. "Kabar kerjasamamu denganku menyebar cepat, apa kau tahu sekarang namaku terpampang di berbagai media."
"Kau pasti bahagia karena namamu terkenal."
Ingin sekali Jongin mencakar wajah Chanyeol, bagaimana ada orang sesombong dia?! "Aku lebih suka bekerja di balik layar, dan sekarang hampir semua orang tahu wajahku, itu menyebalkan. Aku suka kehidupan yang tenang."
"Oh, kau bisa mengundurkan diri dari pekerjaan ini sekarang juga." Tantang Chanyeol.
"Dengan senang hati setelah kau membayar denda pembatalan kontrak, sudah aku katakan padamu kemarin. Xiumin hyung yang menawarkan kerjasama ini, bukan aku atau menejerku yang mengemis."
Di tengah perdebatan pintu ruangan terbuka, Xiumin dan Kyungsoo langsung merasakan adanya ketegangan di antara dua orang yang kini saling melempar tatapan tajam. "Xiumin hyung batalkan kontrak kerja dengan tuan Kim Jongin, aku ingin bekerja dengan Lee Taemin, fotogafer yang pernah bekerjasama dengan kita."
"Kenapa tiba-tiba begini Chanyeol? Lee Taemin sedang ada pekerjaan lain, kemampuan Jongin sama dengan Taemin, bahkan Taemin sendiri yang merekomendasikan Jongin. Ada beberapa review dari majalah fotografi jika kemampuan Jongin satu tingkat di atas Taemin. Kau mau menggantinya dengan siapa?"
"Siapapun asal bukan bocah hitam menyebalkan ini." Geram Chanyeol.
Jongin mengerutkan dahi, dua tambahan hal buruk tentang Chanyeol. ternyata dia tidak professional dan kekanakan. Jongin menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. "Hyung, bisakah kalian keluar sebentar, aku ingin menyelesaikan sesuatu dengan Park Chanyeol hyung."
Xiumin dan Kyungsoo jelas-jelas melempar tatapan panik. Kyungsoo yang mengenal Jongin sejak lama, tahu jika Jongin bukan tipe anak laki-laki manis penurut seperti anjing Cihuahua, Jongin itu mirip Serigala liar, kuat, dan berbahaya. "Tidak akan terjadi apa-apa." Balas Jongin menenangkan Xiumin dan Kyungsoo.
Meski ragu kedua menejer berbadan mungil tersebut akhirnya setuju untuk keluar ruangan. Sambil berharap tak akan ada pertumpahan darah hari ini. "Kenapa kau membenciku Park Chanyeol?"
"Apa aku harus menyukaimu? Kau sendiri yang bersikap menyebalkan melempar kepalaku dengan cincin dan mengataiku."
"Maaf, bukannya kau dulu yang melempar cincin, kau tidak melihat ini?" Jongin menunjuk plester cokelat yang tertempel di dahi kanannya. "Aku hanya menuntut hal yang sederhana, permintaan maafmu. Tapi kau justru berkata dengan sombongnya ambil saja, kau boleh menjualnya sebagai ganti rugi. Kau selalu memandang orang dengan rendah."
"Itu memang aku."
Jongin memijit batang hidungnya. "Aku tidak ingin bekerja dengamu jika sikapmu tetap menyebalkan, baiklah aku pergi, aku batalkan kontrakku, tenang saja aku tidak akan menuntut ganti rugi."
"Aku bisa membayar ganti rugi pembatalan kontrakmu, berapa jumlahnya?" Chanyeol melempar tatapan angkuh.
"Apa aku tampak menyedihkan? Aku tidak butuh belas kasihanmu. Semoga kau mendapat fotografer yang lebih baik, dan satu lagi bisakah kau mencari sekolah kepribadian? Kepribadianmu sangat buruk, aku yakin penggemarmu akan terkejut dengan sikapmu yang sebenarnya."
"Apa kau salah satunya?"
Jongin mengepalkan kedua telapak tangannya, Chanyeol benar-benar manusia berkepala batu. "Tidak, aku suka EMINEM. Terima kasih sudah bertanya. Maaf jika sikapku kurang mengenakan."
"Kau mengaku salah?"
Jongin mengabaikan pertanyaan Chanyeol, ia sandang ranselnya dan memilih pergi. Sungguh, Park Chanyeol sangat menjengkelkan. "Hyung?!" Jongin melihat Xiumin dan Kyungsoo yang rupanya berdiri di depan pintu.
"Kami sangat cemas," balas Kyungsoo kemudian tersenyum polos.
"Oh, kontrak kerja dibatalkan, Kyungsoo hyung yang urus ya, aku ada urusan lain. Sampai nanti malam."
"Apa?!" pekik Kyungsoo dan Xiumin bersamaan, Kyungsoo berlari menyusul Jongin sementara Xiumin merangsek masuk ruangan.
"Apa maksud pembatalan kontrak?!" pekik Xiumin marah bercampur gemas, Chanyeol duduk di sofa, menaikkan kedua kakinya ke atas meja kopi, dia sibuk dengan permainan di dalam ponsel pintarnya.
"Aku tidak suka dengan Kim Jongin, Hyung cari fotografer yang lain."
"Tidak ada yang lebih baik dari Kim Jongin, hilangkan sikap egois dan keras kepalamu itu, bersikaplah professional, ada banyak orang yang bekerja di belakangmu Chanyeol, jangan seenaknya."
"Aku tidak suka, ya tidak suka."
"Akan aku laporkan pada Suho."
"Tidak!" pekik Chanyeol, ponselnya terlupakan begitu saja. "Jangan Suho, aku tidak mau mendapat hukuman menyebalkan, Suho itu pengadu. Jika orang tuaku tahu aku bisa disuruh berhenti bernyanyi dan dimasukkan ke bangku kuliah." Chanyeol menerawang jauh, membayangkan kehidupan bangku kuliah yang mengerikan dan kejam.
"Jadi apa yang akan kau lakukan untuk menghindari petaka bangku kuliah Park Chanyeol?"
"Apapun…," gumam Chanyeol lesu.
"Meminta maaf kepada Jongin dan melanjutkan kontrak kerja." Chanyeol pura-pura tuli. "Park Chanyeol?!" peringat Xiumin.
"Baiklah, akan aku lakukan!" pekik Chanyeol kesal, ia berdiri berusaha mengintimidasi Xiumin dengan tinggi badannya, tentu saja Xiumin tidak pernah merasa terancam dengan hal itu. "Haah," desah Chanyeol. "Ayo pergi ke rumah Kim Jongin." Xiumin menggangguk pelan.
"Apa kau sudah memikirkannya masak-masak akan memutuskan kontrak kerja dengan imbalan besar seperti ini Jongin?"
"Chanyeol sendiri yang membuat keputusan." Pandangan Jongin lekat pada layar televisi yang menampilkan grafik game kesukaannya.
"Baiklah jika itu keputusanmu, akan aku urus besok, bagaimana dengan tawaran kerja dengan Oh Sehun?"
"Siapa Oh Sehun?"
"Jongin! Dia model paling terkenal sekarang, update informasimu tentang dunia hiburan jangan main game terus!" pekik Kyungsoo jengkel. Jongin mendengus tanpa ada maksud untuk mengakhiri permainannya.
Ting…. Tong….., suara bel pintu berbunyi nyaring, tanpa diperintahpun Kyungsoo tahu bahwa membuka pintu adalah tugasnya. Jongin sedang sangat sibuk, dan berharap Jongin membuka pintu sama saja memvonis mati si tamu. Bisa-bisa Jongin akan membukakan pintu besok pagi, setelah bangun tidur dan game tidak tertulis dalam daftar kegiatan pertama pagi harinya.
Kyungsoo menyeret kedua kakinya menuju pintu, mulutnya sibuk mengunyah apel. Kedua mata Kyungsoo membulat sempurna saat pintu terbuka dan memperlihatkan dua tamu tak diundangnya. "Halo Kyungsoo, apa Jongin ada?" Xiumin bertanya dan tersenyum manis.
"A—ada, silakan masuk." Kyungsoo gugup, ia menggeser tubuhnya ke samping memberi ruang untuk Xiumin dan Chanyeol masuk. Kyungsoo menutup pintu kembali, ia cepat-cepat berlari menghampiri Xiumin dan Chanyeol. "Jongin sedang main di ruang keluarga."
"Chanyeol." gumam Xiumin. "Apa ini?!" Xiumin melihat tangan kanan Chanyeol yang kini menggandeng tangan kirinya.
"Temani aku," bisik Chanyeol.
"Pergi sendiri, tanggung jawabmu yang sudah memutus kontrak seenaknya."
"Hyung….," rengek Chanyeol.
Xiumin menarik lepas tangannya dari genggaman tangan Chanyeol, ia lipat kedua tangannya di depan dada sembari melempar tatapan tajam untuk Chanyeol. "Lakukan sendiri." Ucap Xiumin dingin.
Chanyeol menggaruk belakang kepalanya, meminta maaf kepada Jongin adalah pilihan sulit tapi lebih mengerikan jika harus bersinggungan dengan bangku kuliah. Maka disinilah Chanyeol, berdiri di belakang sofa Jongin, mengamati Jongin yang sibuk bermain game, seperti orang tidak penting.
Melangkahkan kedua kakinya ragu-ragu, mendekati Jongin. Ia duduk di samping Jongin dan si mantan fotografer alam itu bahkan tak menyadari kehadirannya. "Aku kalah!" pekikan Jongin berhasil mengagetkan Chanyeol. "Ini semua gara-gara kau Kyung….,"
"Hai Kim Jongin." Chanyeol menampilkan senyuman konyolnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku ingin meminta maaf."
Chanyeol menarik mundur tubuhnya menjauhi Jongin, saat anak laki-laki berkulit kecoklatan itu meletakkan telapak tangan kanannya pada dahi Chanyeol. "Kau tidak sedang demam kan?"
"Tentu saja tidak!" geram Chanyeol setelah mengetahui maksud Jongin, ia hempaskan tangan Jongin yang tadinya mendarat tanpa dosa di dahinya.
"Kalau tidak demam, aneh sekali kau datang dan meminta maaf padaku. Apa kau tahu saat manusia berubah drastis dalam waktu sekejap biasanya mereka akan mati."
"Dariman kau tahu itu?! Jangan mengada-ada!" pekik Chanyeol, raut wajahnya menampilkan ekspresi ketakutan yang terlihat konyol dimata Jongin.
"Kalau tidak percaya ya sudah, tapi kebanyakan perubahan drastis dalam waktu singkat itu pertanda kematian."
"Aku tidak mau mendengar kalimat konyolmu."
"Terserah." Balas Jongin kemudian mengendikan bahunya acuh.
Chanyeol melihat Jongin yang bersiap dengan stik gamenya. "Tunggu!" pekik Chanyeol menghentikan kegiatan Jongin. Jongin melempar tatapan kesal. "Aku ingin kita bekerjasama."
"Aku yakin kepalamu terbentur keras bukan sekedar demam biasa."
"Berhenti mengatakan kalimat konyol, Kai!" pekik Chanyeol.
"Ya! Siapa yang memperbolehkanmu memanggil Kai?!"
"Supaya kita lebih akrab." Chanyeol menjawab santai.
"Jangan sok akrab, aku tidak mau bekerjasama denganmu lagi. Kalimatmu sangat kasar tadi, aku kesal."
Chanyeol melempar tatapan tidak percaya, bayangan bangku kuliah menari di benaknya dengan cara yang sangat menyeramkan, persis vonis mati. "Tidak!" pekik Chanyeol. "Kita harus bekerjasama lagi!" Chanyeol memegang kedua tangan Jongin secara tiba-tiba."
"Apa-apaan ini?!" Jongin berteriak karena kesal bercampur terkejut. "Lepas!"
"Tidak akan, sebelum kau setuju." Chanyeol bersikeras.
Jongin mempertimbangkan, jika menolak, Kyungsoo akan menghantuinya sembari memaki-maki tentang betapa bodohnya menolak kontrak bernilai besar. Kyungsoo yang sedang memaki lebih berisik dibanding jam beker ayam jantannya. "Baiklah…," jawab Jongin setengah hati.
"Terima kasih Kai! Aku mencintaimu!" pekik Chanyeol bahagia, dengan spontan Chanyeol memeluk Jongin dengan erat.
"Lepaskan!" pekik Jongin, ia dorong tubuh Chanyeol menjauh. Chanyeol tersenyum lebar dengan wajah konyol khasnya. "Jangan memanggilku Kai, jangan bertingkah seolah-olah kita teman baik."
"Tidak mau, aku akan tetap memanggilmu Kai." Chanyeol yang keras kepala akan tetap mendapatkan semua keinginannya.
"Kim Jong-in. Nama yang mudah Kim Jongin. JONGIN." Chanyeol tersenyum melihat wajah lucu Jongin yang mencoba mengajari bagaimana memanggil dan melafalkan namanya dengan tepat.
"Kai." Balas Chanyeol datar.
"Namaku lebih mudah dibandingkan namamu, Chan-Yeol." Gerutu Jongin, menyerah berdebat dengan Chanyeol.
"Baiklah, aku pergi dulu. Semuanya beres." Chanyeol memainkan kedua alisnya menggoda Jongin. Sekarang Jongin mulai berpikir mungkin Chanyeol itu memiliki kepribadian ganda. "Kita mulai bekerja besok, tempatnya menyusul, ada perubahan begitu yang Xiumin hyung katakan." Jongin hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tercengang. Chanyeol melambaikan tangannya selama beberapa detik sebelum melenggang pergi.
"Pasti ada sesuatu kenapa dia berubah drastis? Gumam Jongin. Ia berdiri dari tempat duduknya, dan berlari mencari Kyungsoo karena penasaran. Sayang, ia kalah cepat Chanyeol dan Xiumin sudah pergi dan kini Kyungsoo tengah berkutat dengan peralatan dapur.
Jongin duduk di atas konter dapur, memperhatikan Kyungsoo yang tengah mencuci buah tomat. "Hyung, kenapa tiba-tiba Chanyeol datang meminta maaf, meminta bekerjasama lagi, dia juga memutuskan untuk memanggilku Kai?"
"Bukankah itu bagus." Balas Kyungsoo tanpa sedikitpun menatap Jongin, dia memilih fokus pada kegiatannya memotong daging buah tomat.
"Aku rasa tidak—mungkin dia terpaksa."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Chanyeol tidak akan mudah berubah, dia orang yang berpendirian kuat."
"Kau memperhatikannya?"
"Dari semua berita tentang Chanyeol."
"Yang mana?"
"Salah satunya dengan Baekhyun, mereka menjalin hubungan cukup lama padahal jarang bertemu tapi Chanyeol setia."
"Setia bukan berarti berpendirian kuat, buktinya kau, hubunganmu dengan Kris cukup lama tapi bukan berarti kau setia kan?" Kali ini Kyungsoo menatap Jongin sambil mengacungkan pisau tajamnya menunjuk Jongin, membuat Jongin menggeser tubuhnya menjauh menghindri bahaya. "Itu karena kau tidak peduli."
"Singkirkan pisaumu Hyung, itu mengerikan. Chanyeol dia—terlalu berusaha untuk membahagikan Baekhyun, aku rasa."
"Kau bersimpati padanya?"
"Tidak, aku kasihan, mungkin sedikit."
Kyungsoo tidak menjawab, suara mesin pencacah terdengar cukup keras di dalam apartemen kosong Jongin. Hanya beberapa detik kemudian deru mesinpun berhenti, Kyungsoo menuang jus tomat ke dalam gelas panjang. "Jus tomat."
"Terima kasih banyak Kyungsoo hyung."
Kyungsoo sendiri mengambil jus siap saji di dalam lemari pendingin, jus anggur kemudian ia duduk di sebelah Jongin dengan segelas jus anggur di tangannya.
" Menginap di sini?"
"Terserah."
"Menginaplah, kita berangkat pagi, besok."
"Kau setuju menerima kerjasama lagi?"
"Hmmm."
"Kalau begitu aku harus menghubungi Oh Sehun dan mengatakan padanya kau punya kontrak kerja sampai satu setengah bulan ke depan."
"Ya." Balas Jongin datar, keduanya menatap meja makan yang tampak kosong tanpa ada sesuatu yang bisa dimakan.
"Itu keputusan yang tepat. Aku pikir suasana hatimu yang buruk itu karena Baekhyun."
"Jangan menyebutkan nama Baekhyun keras-keras Hyung. Hanya kau yang mengetahui perihal hubungan kami."
"Hmm." Xiumin menyeruput kopi hitamnya dengan nikmat. Setelah kunjungannya ke rumah Kim Jongin, Xiumin mampir ke apartemen Chanyeol, mungkin malam ini dia juga berniat untuk menginap. "Bahkan Suho tidak tahu?" Chanyeol menggeleng pelan.
"Lalu—kelanjutan hubungan kalian?"
Chanyeol mendesah tak bertenaga, ia letakkan kaleng jus lecinya ke atas konter dapur. Ia tidak terlalu suka dengan kopi pahit seperti Xiumin. Selain itu kopi juga akan membuatnya terjaga, hal yang sangat tidak disarankan mengingat jadwalnya akan padat mulai besok. "Kami putus."
"Kapan?" Xiumin menanggapi dengan tenang, itulah yang Chanyeol sukai dari Xiumin. Dia bahkan lebih dewasa dibandingkan kakaknya, Suho.
"Kemarin malam, di taman."
"Jadi alasanmu pergi tanpa sopir dan membuat Suho uring-uringan untuk menemui Baekhyun?"
"Begitulah."
"Sayang sekali, semoga kau mendapat pengganti yang lebih baik dari Baekhyun."
"Terima kasih Hyung." Chanyeol tersenyum miring, ia tenggak isi jus leci terakhir di dalam kaleng.
"Gosok gigimu dan tidur." Chanyeol tertawa mendengar nasihat Xiumin. Tentu saja dirinya akan menggosok gigi, dia tidak akan membiarkan gigi indahnya, berlubang.
"Aku ngantuk Hyung." Jongin duduk sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Kyungsoo, posisi yang sebenarnya tidak terlalu nyaman.
"Makanya! Jangan main terus!" Kyungsoo menempeleng kepala Jongin. Jongin tidak peduli, keduanya duduk di sofa menunggu kedatangan Xiumin dan Chanyeol. "Kenapa mereka lama?"
"Mungkin Chanyeol tidur, ayolah kita pulang dan kembali nanti siang." Kyungsoo mengabaikan kalimat tidak penting Jongin.
"Maaf menunggu lama!" pekik Xiumin yang tiba-tiba masuk, Kyungsoo langsung berdiri dan membungkukkan badannya, dia lupa jika Jongin tengah bersandar pada pundaknya. Jongin hampir terjungkal, beruntung hal memalukan tersebut tak terlaksana, sekarang dirinya menjadi saksi bagaimana Kyungsoo tergila-gila pada sosok pemuda berpipi gembil, Kim Minseok atau Xiumin.
Jongin mengerucutkan bibirnya, kesal diacuhkan. "Jongin kita berangkat sekarang."
"Berangkat sekarang? Kemana?" tanya Jongin berubah linglung secara tiba-tiba.
"Lokasi pemotretan." Kyungsoo membungkuk dengan cepat, meraih ransel berisi kamera Jongin dan membawanya keluar mengekor Xiumin. Jongin melompat berdiri dari tempat duduknya, Kyungsoo pergi terlalu cepat padahal dirinya masih berjuang untuk memperoleh kesadaran seratus persen.
Ketiganya berjalan menuju tempat parkir, Xiumin menuju salah satu van putih. Jongin menggaruk pelan tengkuknya, sangat mengantuk, kedua matanya terasa berat. "Kyungsoo hyung…," sebenarnya Jongin ingin bertanya berapa lama perjalanan mereka, namun Kyungsoo terlalu terburu-buru mengikuti Xiumin.
Jongin yang bisa tertidur kapan saja tiba-tiba langsung sadar, melihat Chanyeol yang duduk di kursi penumpang belakang. "Kalian!" pekik Xiumin dan Kyungsoo bersamaan. "Kalian memakai kemeja yang sama!" kemudian ledakan tawa Xiumin dan Kyungsoo terdengar menjengkelkan.
Dengan bersungut-sungut Jongin menaiki van, dan dengan sengaja ia diharuskan duduk bersebelahan dengan Chanyeol. Kemeja yang Jongin kenakan berwarna biru muda, sedangkan Chanyeol mengenakan kemeja biru muda dengan kerah berwarna biru tua, mengenai merk, tentu saja Chanyeol mengenakan pakaian dari merk terkenal, sedangkan Jongin membeli kemejanya di toko baju biasa, tanpa merk.
"Apa kau tahu jika lokasi pemotretan berubah? Demi menghemat waktu. Aku harap kau menghasilkan foto yang luar biasa di lokasi biasa." Chanyeol dengan kacamata hitamnya tampak sangat angkuh.
"Aku usahakan sebaik mungkin. Di mana tempat pemotretannya?"
"Yeouido Park."
"Oh, di hutannya?"
"Hmmm."
"Tempat yang indah, siapa yang memilih lokasi?"
"Xiumin hyung."
"Aku rasa menejermu itu sangat jenius."
"Hmmm, tapi dia tidak cukup jenius dalam fashion, buktinya kita memakai pakaian yang hampir sama."
"Kita sudah berbaikan jangan mencoba bertengkar lagi." Peringat Jongin. Chanyeol hanya menampakkan cengiran konyolnya menanggapi ucapan Jongin.
Di sepanjang perjalanan Jongin sangat menikmatinya, jalanan di Seoul sangat lengang, jam tangan dari kulit sintetis berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangan kanannya masih menunjukkan pukul lima pagi. Kabut tampak tebal, suasana ini sedikit mengingatkannya pada suasana alam liar.
"Kenapa kau beralih profesi?" pertanyaan dari Chanyeol dengan suara berat khasnya mengakhiri acara nostalgia Jongin.
"Aku?!" spontan Jongin menoleh, menatap Chanyeol yang kini telah melepas kacamata hitamnya.
"Tentu saja kau, siapa lagi yang duduk di sampingku selain kau."
"Ayah dan ibuku yang memintaku berhenti."
"Kau menurut begitu saja?"
"Awalnya tidak, tapi melihat ibuku menangis—aku luluh."
"Ternyata hatimu lembut juga, tak sesuai dengan penampilanmu."
"Memang ada yang salah dengan penampilanku?!" pekik Jongin kesal, bukankah Chanyeol yang datang untuk meminta maaf?! Tapi dia kembali bersikap menyebalkan, Jongin menyipitkan kedua mata indahnya. "Kau datang meminta maaf karena disuruh seseorang kan? Atau pembatalan kontrak akan membuatmu mendapat masalah? Jujur saja, Park Chan-Yeol."
"Tidak ada hal semacam itu." jawab Chanyeol tegas, ia kenakan kembali kacamata hitamnya dan memandang lurus ke depan mengabaikan keberadaan Jongin. Dia tidak ingin Jongin melihat motifnya terlalu jelas.
"Aku justru semakin curiga…," gumam Jongin, sebelum memutuskan untuk kembali memperhatikan jalanan berkabut di pagi buta, dibanding memandangi manusia berkacamata hitam yang sombong di sampingnya.
Niat pertama Jongin adalah tidur disepanjang perjalanan, namun niatan itu tak terlaksana karena jalanan yang berkabut justru membangkitkan kenangan di masa lalu, saat dirinya berpacu dengan adrenalin untuk mengambil gambar terbaik, dimana setiap detiknya merupakan permainan judi dengan maut.
Van berhenti di dermaga, lokasi pemotretan ada di pulau Yeouido untuk mencapai pulau tersebut digunakan kapal feri untuk menyeberangi sungai Han. Van akan memasuki lambung kapal dan para penumpang harus turun, termasuk Chanyeol dan Jongin.
"Feri ini dipesan khusus?"
"Tentu saja." Balas Chanyeol dengan angkuhnya.
Di atas feri kabut pagi hari terlihat semakin jelas, Jongin menyesal memakai kemeja tipis karena sekarang suhunya lumayan dingin. "Kabutnya tebal sekali, di sini dingin."
Jongin melirik Chanyeol yang tiba-tiba muncul dan kini berdiri di sampingnya, bersandar pada pagar pembatas. Chanyeol mengenakan jaket berwarna cokelat, terlihat nyaman dan hangat. Dan sangat jelas tengah mengejek kemalangan Jongin. Jongin memilih masuk ke dalam ruangan tempat duduk feri yang hangat dibanding berdiri di dek dan menikmati ejekan Chanyeol.
"Ini, aku pinjamkan." Chanyeol menyodorkan jaket baseballnya yang berwarna biru tua dan hitam pada kedua lengannya. Jongin menatap bingung. "Mau tidak?"
"Tidak, terima kasih."
"Cih! Sombong!" gerutu Chanyeol.
Sungguh, dia merindukan saat-saat di alam liar. Saat adernalinnya mengalir deras, dan setiap foto yang ia ambil tidak ada campur tangan manusia, tidak dibuat-buat, semuanya menampilkan keanggunan sekaligus keganasan alam secara bersamaan. Van berhenti di depan gerbang taman Yeouido, sudah ada cukup banyak staf di sana, kawasan akan steril hingga pukul 9 pagi.
"Ayo turun, apa kau belum pernah datang ke tempat ini?" Chanyeol bertanya dengan nada mengejek. Kyungsoo sudah mengekori Xiumin, membuat Jongin hanya bisa menatap maklum. Kyungsoo sedang dimabuk cinta.
"Aku penasaran konsep seperti apa yang disiapkan Xiumin." Jongin melirik Chanyeol dari ekor matanya. "Kenapa? Xiumin tidak mendengarku, dia tidak akan keberatan aku memanggilnya hanya dengan nama."
"Aku tidak peduli." Balas Jongin datar, ia benahi ransel yang tersampir di pundaknya, ia berlari mengahampiri Kyungsoo yang kini sudah berdiri di depan salah satu pohon Sakura tua ia tengah sibuk mengambil gambar.
"Chanyeol! Apa yang kau lakukan?! Cepat ke sini!" Teriakkan Xiumin yang melengking membuat Chanyeol mau tak mau melangkah pergi, padahal dia masih sangat malas dan mengantuk. Langit musim panas bahkan belum dihiasi oleh bintang panas yang menerangi bumi sejak awal pembentukan, dan dirinya sudah berada di taman dengan pepohonan tua yang sama sekali tidak menarik hatinya.
Pemotretan dilakukan di dua tempat yaitu di hutan tradisional Korea yang ada di Yeouido dan jalan Yunjunro dimana terdapat pohon Sakura berusia kira-kira 40-60 tahun disepanjang 6 km jalan tanah setapak.
Chanyeol mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia meneliti semua persiapan yang terlihat sempurna, Jongin sudah bersiap dengan kamera serta tripodnya di dekat hutan ditemani Kyungsoo, Chanyeol berdiri di depan cermin mengamati penampilannya. "Kenapa aku memakai pakaian modern?"
"Konsepnya seperti itu." balas Xiumin sembari memerintahkan beberapa staf untuk mematangkan persiapan.
"Tapi Hyung, ada kira-kira dua puluhan orang dengan pakaian polisi tradisional ala zaman kerajaan Juseo, ini—janggal."
"Jongin akan menjelaskan padamu setelah semua selesai."
"Ini konsep Kai?!" Chanyeol berteriak tak terima, konsep albumnya dihancurkan Jongin.
"Semuanya sempurna Chanyeol, jangan membuat ulah, dan ayo pergi sebelum matahari bersinar terang dan semua kabut itu menghilang."
"Hyung!" Chanyeol mencoba protes namun Xiumin tampak tak peduli dan memilih keluar tenda meninggalkannya. "Awas kau Kim Jongin, jika semuanya berantakan," geram Chanyeol kemudian berbalik dan keluar dari tenda.
Para prajurit berpakaian tradisional berjajar di sepanjang jalan tanah setapak. Kabut alami ditambah dry ice, para prajurit itu membawa panji-panji serta senjata berupa tombak. Chanyeol berjalan mendekati Jongin yang terlihat sibuk dengan kameranya. "Ini konsepmu?" Chanyeol berusaha keras untuk tidak membentak Jongin.
"Bukan, ini konsep albummu aku hanya menyempurnakannya."
"Kau!" geram Chanyeol. Jongin menegakkan tubuhnya, menatap Chanyeol tajam.
"Bisakah kau diam dan mulai bekerja, tuan Park Chanyeol yang terhormat?" sindir Jongin.
"Jika pekerjaanmu tidak memuaskan…,"
"Chanyeol!" lengkingan suara Xiumin memotong kalimat Chanyeol, Jongin tersenyum miring, mengejek, Chanyeol mendengus untuk yang terakhir kalinya sebelum berjalan menghampiri Xiumin.
"Berdiri di tengah para prajurit!" pekik Jongin memerintah Chanyel, dirinya harus professional maka dari itu Chanyeol menurut. "Pakai penutup kepala jaketmu!" Chanyeol kembali menurut. "Bagus, tambahkan dry ice buat lebih banyak kabut!" Jongin memberi perintah kepada staf.
Perhatian Jongin tertuju pada Chanyeol. "Chanyeol berikan ekspresi saat kau benci, sangat marah, dan menyembunyikan sesuatu!"
"Bagaimana caranya?! Aku bukan model?!"
"Park Chanyeol aku tahu kau berbohong soal permintaan maaf itu!" pekik Jongin, Chanyeol langsung menatap tajam Jongin, sungguh dia adalah fotografer paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Selama ini semua orang yang bekerjasama dengannya selalu bersikap ramah dan sopan.
Pemotretan selesai lebih cepat dari perkiraan, semua staf yang terlibat kembali ke tenda yang telah dibangun sebelumnya untuk beristirahat. Chanyeol berlari menghampiri Jongin yang tengah sibuk mengemasi kameranya. "Cepat sekali, aku ragu." Ucap Chanyeol meremehakan. Jongin diam tak membalas, dia masih sibuk dengan ransel tempat menyimpan kameranya.
"Pasti hasilnya buruk."
"Biarkan aku membereskan peralatan pribadiku, setelah ini kita lihat hasilnya di tenda dengan semua orang."
"Percaya diri sekali, semoga kepercayaan dirimu itu tidak mengecewakanmu nantinya."
Hebat, namun Chanyeol tidak akan mengatakannya terang-terangan, semua orang yang melihat hasil foto Jongin bertepuk tangan. Jongin mampu menangkap ekspresi Chanyeol dengan sempurna, prajurit di zaman Joseon berpadu dengan Chanyeol yang mengenakan pakaian modern, mampu menunjukkan kemisteriusan, hutan dengan pepohonan tinggi menjulang menampilkan keliaran yang sempurna.
"Kita bisa melakukan pemotretan ulang jika kurang sempurna."
Bibir Xiumin tanpa sadar terbuka, ini luar biasa, sangat menakjubkan. Bagaimana mungkin Jongin berkata kurang sempurna? Xiumin menggeleng cepat. "Ini hebat!" pekik Xiumin heboh. "Dengan begini peluncuran album bisa dipercepat!" Xiumin berdiri dari kursi plastiknya dengan tergesa.
"Dia pasti menghubungi Suho." Gerutu Chanyeol.
"Bagaimana menurutmu?" Jongin bertanya pada Chanyeol yang tadi duduk di sebelah Xiumin.
Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik, kedua tangannya ia lipat di depan dada dengan gaya angkuh. "Lumayan," gumamnya singkat. Kedua matanya menatap layar laptop Jongin, tidak mempercayai bagaimana sosoknya bisa berubah sangat drastis. "Jangan lupa untuk menghadiri peluncuran albumku, itu disebutkan dalam kontrak kerja."
"Hmmm, kapan?"
"Jika semuanya lancar aku rasa dua minggu lagi, satu minggu lagi akan diedarkan satu single sebagai perkenalan sekaligus teaser."
"Ya." Balas Jongin datar.
"Kau sama sekali tidak suka musikku." Jongin melempar tatapan meminta maaf. "Tidak masalah, tidak mungkin semua orang mendengarkan musikku kan?" Chanyeol tersenyum konyol. Jongin merasa bingung, Chanyeol memang memiliki kepribadian ganda.
"Aku mau sarapan." Ucap Jongin datar, ia berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Memikirkan tentang kepribadian Chanyeol membuat perutanya semakin lapar, selain itu tidak ada manfaatnya memikirkan seorang Park Chanyeol.
TBC
