Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Halo semuanya terima kasih untuk kalian yang bersedia membaca fic aneh saya, apalagi yan review, jika ada idola kalian yang sifatnya berubah hehehe maaf, bukan berarti saya benci mereka, ini demi kepentingan cerita saja, saya bukan haters siapa-siapa kok, saya suka semua member EXO, WINNER, iKON, BigBang, Beast, Infinite, semua saya suka, hahaha (penggemar gila) maaf jika ada ChanBaek shiper di sini, hehe, saya gak benci ChanBaek kok saya cuma suka ChanKai (apa-apaan ini? Author gila) salah ketik itu biasa, saya author yang kurang teliti harap maklum, terima kasih untuk Guest, pd, nadia, sejin kim, laxyovrds, vipbigbang74, Rnine21, chotaein816, steffifebri, Jonah Kim, ParkJitta, Jiji Park, sejin kimkai, jjong86, dum-baby-lion, Kamong Jjong, Kim Kai Jong terima kasih untuk review kalian Oh ya kadang-kadang Chanyeol panggil Kai, kadang Jongin, tergantung suasana hati dia jadi jangan bingung ya bacanya, untuk perubahan situasi sudah saya kasih jarak kok, mungkin waktu upload di ffn filenya berubah maaf, kalau bacanya gak enak gara-gara itu hehehe….. Selamat membaca. Hadehhh…, (sambutannya kepanjangan ya, maaf) apa ini sambutan? Abaikan.
Previous
"Kau sama sekali tidak suka musikku." Jongin melempar tatapan meminta maaf. "Tidak masalah, tidak mungkin semua orang mendengarkan musikku kan?" Chanyeol tersenyum konyol. Jongin merasa bingung, Chanyeol memang memiliki kepribadian ganda.
"Aku mau sarapan." Ucap Jongin datar, ia berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Memikirkan tentang kepribadian Chanyeol membuat perutanya semakin lapar, selain itu tidak ada manfaatnya memikirkan seorang Park Chanyeol.
Bab Tiga
Jongin sedang menikmati lollipop jeruknya, Kyungsoo duduk di sampingnya terlihat sibuk dengan ponsel, mengabaikan kehadiran Jongin. Jongin bingung mengapa seorang model terkenal seperti Oh Sehun meminta bertemu di kafe kelas menengah dan ramai seperti sekarang.
"Kau yakin tidak masalah?"
"Tidak."
"Kau yakin tidak salah dengar Hyung?"
"Tidak, dia mengirim pesan yang sama sebanyak tiga kali."
"Di sini sangat ramai."
"Hanya di lantai satu, kita di lantai dua, sudah dipesan khusus. Semuanya aman."
Jongin melirik Kyungsoo dengan jengkel. Ia menjulurkan lehernya mencoba melihat apa yang sedang Kyungsoo kerjakan. "Kau berkirim pesan dengan Xiumin hyung?"
"Tidak, aku sedang mengatur jadwalmu serta melihat beberapa tawaran kontrak kerja lain."
"Hmm. Kim Junmyeon atau Suho memintamu untuk menjadi fotografer praweddingnya."
"Apa?!" pekik Jongin, kemudian tertawa hambar. "Aku tidak mau menerima pekerjaan itu."
"Ya, aku tahu kau akan menolak. Tapi bayarannya lebih tinggi daripada kontrak dengan Chanyeol. tertarik?"
"Hyung, harga diriku sudah cukup tergadaikan dengan beralih profesi dari fotografer alam liar menjadi— sekarang ini, aku tidak mau menjadi fotografer prawedding."
"Tidak ada bedanya dengan pemotretan sampul album, dan sampul majalah."
"Aku tidak mau memikirkannya sekarang. Tunggu, siapa? Suho?" Jongin bersandar pada sofa, meluruskan kedua kakinya dan melirik ke luar. Memperhatikan jalanan yang padat, lampu-lampu bersinar terang, gedung-gedung, serta langit malam tanpa bintang.
"Hmmm, kau tertarik?" Kyungsoo berharap Jongin menerima tawaran Suho yang bernilai cukup besar.
"Tidak akan aku terima, sepertinya aku pernah mendengar nama Suho, dia terdengar tidak asing."
"Suho kakak tiri Chanyeol, sekaligus bos SM yang baru."
"Chanyeol itu kaya?"
"Tentu saja dia penyanyi terkenal, dia sudah lama berkarir di industri hiburan dan lagu-lagunya selalu sukses, jangan lupakan pekerjaan sampingan sebagai bintang iklan, dan model juga. Oh jangan lupakan keluarganya pemegang saham terbesar SM."
"Sepertinya kau tahu banyak tentang Chanyeol, Hyung. Jangan-jangan kau menyukai Chanyeol bukannya Xiumin hyung?" goda Jongin.
"Jangan bicara ngelantur, aku selalu mencari tahu setiap detail klien kita. Memangnya kau yang terlalu sibuk main?!" Sindir Kyungsoo, Jongin tidak peduli baginya game adalah hiburan yang tidak akan bisa ia tinggalkan.
Kyungsoo selesai dengan ponselnya ia menoleh menatap Jongin yang sibuk melihat keadaan di luar, Kyungsoo memperhatikan penampilan Jongin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sudah aku katakan jangan memakai pakaian terbuka!" geram Kyungsoo sembari memperhatikan penampilan Jongin yang tadi tak sempat ia teliti. Jongin mengenakan kaos singlet putih dilapisi kemeja berlengan pendek berwarna abu-abu, menampilkan dengan jelas leher jenjang dipadu kulit kecoklatannya.
Jongin menikmati lollipop rasa jeruknya, sebagai media pengalihan supaya dirinya tak terlalu kesal dengan sikap Kyungsoo yang selalu berlebihan. "Ini tidak terbuka." Balas Jongin kesal. "Apa aku perlu memakai mantel musim dingin yang tebal agar terlihat tak terbuka menurut versimu Hyung?"
"Itu lebih baik." balas Kyungsoo datar, Jongin menaikkan sebelah alisnya terkejut.
"Maaf saya terlambat." Jongin sontak menoleh, seorang laki-laki berpostur tinggi, berambut hitam, dan berkulit putih yang kontras dengan kulit eksotisnya, dia mengenakan kacamata hitam. Sepertinya kacamata hitam populer dikalangan orang terkenal, pikir Jongin.
"Tuan Oh Sehun." Kyungsoo langsung berdiri menyambut, sementara Jongin, dia hanya memperbaiki posisi duduknya sambil berusaha untuk melihat wajah Sehun dengan jelas.
Tampan, tentu saja. Sangat tampan, dia memiliki eyes smile. "Oh Sehun." Sehun mengulurkan tangan kanannya.
"Kim Jongin." Jongin menyambut uluran tangan tersebut, sementara mulutnya masih sibuk dengan lollipop membuat Kyungsoo hanya bisa menggeram menahan amarah, melihat sikap tak sopan Jongin.
"Panggil Kai supaya akrab." Ucap Kyungsoo tanpa beban sekalian mengerjai Jongin yang berlaku tak sopan.
"Tidak, panggil Jongin saja." Balas Jongin lalu tersenyum manis.
Sehun hanya tersenyum tipis kemudian dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Jongin dan Kyungsoo. "Kau sudah membaca kontrak kerjanya kan?"
"Ya, sedikit mengejutkan bukankah pemotretan majalah seharusnya memakai fotografer majalah yang mengontrak Anda?"
"Aku memilih fotograferku secara pribadi."
"Hmm." Balas Jongin datar. "Aku masih terikat kontrak sampai tiga minggu ke depan, apa tidak masalah?"
"Tidak."
"Pemotretan akan dilakukan di London."
"London? Itu jauh sekali. Baiklah, sekalian jalan-jalan." Jongin berusaha tersenyum meski di otaknya mulai memikirkan berapa banyak biaya yang akan ia butuhkan selama di London.
"Aku tanggung semua biayamu selama di London, itu tertulis di kontrak kerja, kau tidak membacanya?"
Jongin tersenyum canggung. "Maaf, aku sangat sibuk…,"
"Sibuk bermain game." Bisik Kyungsoo yang jelas terdengar oleh Sehun. Sehun tertawa pelan, sementara Jongin melempar lirikan tajam yang Kyungsoo abaikan.
"Jangan menjelek-jelekkan aku di depan klien," bisik Jongin. Kyungsoo sama sekali tak peduli ia justru menyedot orange juicenya. Tanpa sadar Jongin mengerucutkan bibirnya, sikap yang hanya akan ia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya.
Perhatian Jongin tertuju kembali pada Sehun. "Kontrak kerja sudah disepakati lalu—kenapa Anda meminta bertemu?"
"Kau benar Jongin, aku tertarik padamu."
Kedua mata Jongin membulat sempurna. terkejut. Dari informasi yang Kyungsoo katakan bukankah Oh Sehun lebih muda darinya, dan dia memanggil tanpa imbuhan HYUNG?! Lalu dengan terang-terangan mengatakan tertarik. "Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda."
"Kau tidak punya kekasih kan Kim Jongin? Aku juga tidak, dan terus terang saja aku menyukaimu sejak lama."
Jongin melirik Kyungsoo yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya. "Ah, mana mungkin Anda menyukai saya, Anda kan model terkenal dan saya bukan apa-apa." Jongin berusaha merendah agar dirinya segera keluar dari situasi canggung seperti sekarang.
"Kau fotografer terkenal, aku mengagumimu sejak lama saat kau masih aktif sebagai fotografer alam liar, sejujurnya aku sedikit kecewa kau beralih pada bidang fotografi yang lain."
"Maaf Oh Sehun jika Anda tidak ingin membicarakan pekerjaan, saya permisi." Jongin berdiri dari kursinya, pembicaraan tak jelas seperti ini hanya membuatnya semakin pusing.
"Tunggu!" Sehun menggenggam tangan kanan Jongin menahannya.
"Tolong lepaskan tangan Anda, Tuan." Jongin berusaha untuk tetap bersikap sopan meski sekarang dirinya sangat kesal. Sehun tersenyum tipis. Ia mengambil lollipop dari mulut Jongin kemudian memasukkan ke dalam mulutnya sendiri, membuat Jongin dan Kyungsoo terkejut sampai-sampai keduanya menahan napas.
"Terimakasih sudah menerima kontrak kerja denganku, Kim Jongin." Bisik Sehun menggoda, Jongin menarik tangan kanannya dari genggaman Sehun, ia langsung keluar tanpa berpamitan. Kyungsoo berdiri dengan cepat membungkukkan badannya agar terlihat sopan, kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari menyusul Jongin.
"Apa-apaan itu?!" pekik Jongin penuh amarah, sementara Kyungsoo berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi menyetir.
"Sudah aku katakan jangan memakai pakaian terbuka."
"Apa hubungannya?!" pekik Jongin jengkel.
"Tentu saja ada, buktinya Sehun tergoda."
"Dia gila, batalkan kontraknya Hyung. Aku tidak peduli batalkan saja."
"Kita akan didenda dengan jumlah yang sangat besar Jongin."
"Apa Hyung mau aku dilecehkan setiap kali kami bertemu?!" Jongin masih berteriak-teriak berisik, membuat telinga Kyungsoo berdenging.
"Terima saja cintanya, kau tidak akan dilecehkan. kau sudah jomblo. Sehun adalah sosok yang sempurna, kau tidak akan rugi, aku jamin."
"Cih!" dengus Jongin. "Kenapa kau membuat urusan rumit ini seolah-olah sangat sederhana."
"Memang sederhana, Sehun menyukaimu itu saja. Kalian berdua sedang sendiri kenapa tidak menjalin hubungan, sederhana kan?"
"Terserah!" Jongin yang semakin marah memilih mengakhiri percakapan.
"Kris memutuskanmu, cari kekasih yang paling tidak ketampanannya sepadan dengan Kris." Namun, tidak untuk Kyungsoo dia masih ingin melanjutkan percakapan. Jongin membuang muka, tidak ingin memperhatikan Kyungsoo dan omongan tak pentingnya.
Kyungsoo menurunkan Jongin di depan gedung apartemennya, dia langsung pergi karena harus mengerjakan hal lain. Jongin membenahi ransel yang tersandang di pundaknya. Kedua matanya langsung menangkap sosok menyebalkan yang kini berdiri di dekat tiang lampu penerang taman apartemen. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau tinggal di sini? Apartemenku jauh lebih bagus." Jongin melempar tatapan curiga.
"Kau memata-mataiku ya?"
"Tidak juga, aku hanya mencari tahu."
"Sama saja."
"Tidak, Kim Jongin, aku menyuruh bawahanku."
"Bawahan, bukannya kau model?"
Sehun hanya tersenyum, Jongin melihat kantong plastik dengan nama salah satu hypermarket tercetak pada permukaannya. "Ini untukmu." Meski enggan, Jongin menerima kantong plastik itu karena paksaan Sehun. Ia intip isi di dalam kantong plastik.
"Lollipop?" Sehun tersenyum menunjukkan eyes smilenya yang berpadu sempurna dengan wajahnya yang sangat mempesona.
"Ya lollipop dengan rasa kesukaanmu, baiklah aku pergi dulu Kim Jongin selamat malam."
Pandangan Jongin mengikuti arah kepergian Sehun, dia berjalan menuju sedan mewah yang terparkir di pinggir jalan. "Panggil aku Hyung! Aku lebih tua darimu!" pekik Jongin memastikan Sehun mendengarnya. Sehun memasuki mobilnya, mengacuhkan Jongin. "Orang aneh," gumam Jongin.
Jendela mobil terbuka memperlihatkan wajah Sehun. "Aku tidak akan
pernah memanggilmu Hyung!" pekik Sehun, mobilpun melaju bersamaan dengan jendela mobil yang bergerak naik.
Jongin berlari memasuki gedung apartemen, dia melihat tong sampah di dekat meja resepsionis, cepat-cepat ia masukkan kantong plastik berisi lollipop pemberian Sehun ke dalamnya. Ia tidak ingin mengambil resiko menikmati lollipop yang mungkin sudah dicampuri sesuatu oleh Sehun, siapa tahu. Bersikap waspada itu baik.
"Chanyeol lihat ini!" pekik Xiumin histeris, Chanyeol dengan malas menyeret kedua kakinya mendekati Xiumin. Dia sangat mengantuk sekarang. "Lihat penonton teaser-mu mencapai satu juta orang dalam waktu tiga hari, kau mencetak rekor, bocah tengik!" pekik Xiumin, dan panggilan bocah tengik membuat Chanyeol mengerutkan dahinya.
"Hanya ini yang ingin Hyung bicarakan? Kalau begitu aku tidur saja."
"Tunggu! Ya! Park Chanyeol! Dasar! Bisa tidak dia bersikap sedikit lebih antusias pada prestasinya sendiri, aneh." Xiumin teringat sesuatu yang pasti akan membuat Chanyeol bahagia. "Tunggu Chanyeol! Baekhyun setuju untuk datang pada acara peluncuran albummu."
Kalimat itu sempat menghentikan kedua langkah Chanyeol, namun dia kembali berjalan dan bersikap acuh. Tak ingin menaruh harapannya terlalu tinggi. "Kau tidak tertarik?!"
Chanyeol berbalik. "Hyung yakin dia datang untukku?"
Xiumin mengendikkan bahu. "Tapi seminggu yang lalu dia mengakui hubungan kalian secara publik."
"Apa gunanya mengakui sebuah hubungan yang telah berakhir, dia itu aneh."
"Mungkin dia ingin menjalin cinta denganmu, apa kau akan menerimanya kembali?"
"Hanya jika alasannya masuk akal."
"Kau masih mencintainya?" Chanyeol menatap wajah Xiumin selama beberapa detik lebih lama, namun ia langsung berbalik dan pergi tanpa menjawab pertanyaan Xiumin. Xiumin tertawa pelan melihat tingkah malu-malu Chanyeol.
Padang rumput yang luas, sengatan sinar matahari, suara-suara alam liar yang khas. Jongin melihat kelompok singa betina dengan anak-anak mereka. Anak-anak singa bersembunyi di balik tingginya rerumputan sementara induk mereka bersiap berburu. Jongin berbaring di balik batu berukuran sedang, mencoba mencari tempat terbaik untuk mengambil gambar. Jantungnya berpacu cepat, adrenalin terpompa ke dalam darah, kedua tangannya dengan kokoh menyangga kamera, bidikan akan segera dilaksanakan….."Kim Jongin!"
"Astaga!" Jongin langsung duduk di atas tempat tidur, keringat muncul dengan cepat, jantungnya serasa meledak, napasnya tersengal.
"Kau bangun siang lagi, kita ada acara penting, dua puluh menit untuk semua persiapanmu aku tunggu diluar, cepat angkat bokong malasmu, atau air es dari kulkas akan menyapa pagi sialmu!" Jongin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mencoba berpikir kenapa anak-anak singa tiba-tiba berubah menjadi Kyungsoo.
"Kyungsoo hyung?" Jongin bertanya dengan tidak yakin.
"Ini aku! Siapa lagi?! Cepat waktu kita tidak banyak!" pekik Kyungsoo berapi-api.
"Baiklah Hyung." Dengan malas Jongin menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur yang nyaman. Ia berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. "Hyungbisa keluar, dua puluh menit tidak akan bertambah."
"Aku tunggu di luar!" ucap Kyungsoo tegas.
Lima menit untuk total waktu mandi dan lima menit untuk menyiapkan diri, Jongin menatap pantulan bayangannya di dalam cermin. Lumayan pantas. Jongin menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, ia keluar dari kamar, hari ini dia tidak membawa ransel kameranya yang berat. Pundaknya bisa beristirahat hari ini.
Kyungsoo langsung berlari menghampiri Jongin dengan tergesa. "Buka mulutmu!" Jongin menurut, dan Kyungsoo langsung mendorong setangkup roti tawar selai cokelat ke dalam mulut Jongin. "Pegang ini." Kyungsoo menyodorkan sekotak jus rasa apel kepada Jongin. "Kita pergi sekarang!" Kyungsoo menggandeng tangan kanan Jongin dan menyeretnya keluar apartemen. Jongin hanya bisa menurut karena otaknya belum bisa memproses apa yang terjadi sesungguhnya.
Jongin duduk di kursi penumpang, Kyungsoo memasangkan sabuk pengaman, mobil mulai bergerak, wajah Kyungsoo sangat serius, Jongin mengunyah roti tawar sarapannya. Benar-benar mirip film komedi. "Pakai Tisu!" pekik Kyungsoo, saat dilihatnya Jongin yang hendak membersihkan remah roti di tangannya dengan cara mengusapkannya ke atas permukaan celana yang ia kenakan. Jongin mengangguk patuh, ia tarik beberapa lembar tisu dari dalam kotak di atas dashboard.
Lima menit kemudian keadaan di dalam mobil yang damai, berakhir. "Kita sampai!" pekik Kyungsoo gembira seolah-olah beban dunia telah terangkat dari pundaknya. Kyungsoo melompat turun dari mobil dan menyeret Jongin. Jongin memperhatikan gedung SM, yang menjulang tinggi di hadapannya, menakjubkan, tapi Chanyeol kan penyanyi terkenal kenapa peluncuran album barunya tidak dilakukan di tempat yang lebih istimewa. Begitu pikir Jongin.
"Hyung! Aku bukan anjing peliharaanmu!" protes Jongin, namun Kyungsoo tak bergeming dia terus menyeret Jongin masuk. Kyungsoo bahkan membawa Jongin masuk ke dalam lift yang sebenarnya sudah penuh, mereka harus menyempil, Kyungsoo terlalu bernapsu, pikir Jongin.
Lift terbuka Kyungsoo masih menyeret Jongin, di depan pintu kayu kembar yang terbuka, dua orang berjas rapi menyambut kedatangan keduanya, Kyungsoo menunjukkan undangan, keduanya dipersilakan dengan ramah. Jongin memperhatikan ruangan megah yang digunakan sebagai tempat peluncuran album baru Chanyeol. "Hyung kenapa Chanyeol tidak menyewa tempat lain?" bisik Jongin.
"Bukan urusanmu." Balas Kyungsoo ketus sembari menyikut rusuk kanan Jongin pelan. Bagi Kyungsoo yang terpenting ada Xiumin. "Ini acara resmi Jongin!" gerutu Kyungsoo.
Jongin memutar kedua bola matanya, jengah. "Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa pakaianmu serampangan seperti itu?! aku sudah mengatakan untuk memakai jas, Kim Jongin!" Kyungsoo semakin naik darah.
"Aku sudah memakai jas Hyung, warnanya juga hitam, ini jas resmi." Balas Jongin santai, tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"Jas harusnya dipadukan dengan kemeja, bukannya kaos oblong dan lihat itu, celanamu bahkan tak sampai menutupi mata kaki, jangan katakan kau tidak memakai kaos kaki?!"
"Tidak." Jongin menjawab tanpa dosa, rasanya Kyungsoo ingin sekali menarik rambut cokelat Jongin yang bahkan tak disisir rapi. "Hyung tenanglah, ini acara resmi peluncuran album Chanyeol, bukan acara resmi kenegaraan, tidak akan ada masalah." Jongin tersenyum lebar.
Kyungsoo melonggarkan dasi yang melingkari lehernya, rasanya dadanya sesak menahan amarah. "Awas saja jika kita diusir," peringat Kyungsoo kali ini dengan nada pelan.
"Jika diusir tinggal pergi saja, beres kan? Lagipula aku juga tidak tahu lagu-lagu Chanyeol, aku pasti bosan di sana." Jongin langsung menutup mulutnya melihat tatapan membunuh Kyungsoo.
"Jika kita diusir itu semua kesalahanmu."
"Hyung ingin bertemu dengan Xiumin hyung ya? Makanya berdandan seperti pendamping pria….," Jongin menelan kasar ludahnya, tatapan Kyungsoo sama sekali tak bersahabat. "Tenang saja, jika diusir aku saja yang keluar. Hyung boleh tetap tinggal kok." Jongin berusaha tersenyum ramah, namun ekspresi wajah Kyungsoo sama sekali tak berubah. Kyungsoo yang marah sangat sulit diajak berdamai.
Meski tak terlalu peduli dengan dunia hiburan namun melihat begitu banyak orang terkenal berkumpul dalam satu ruangan tetap saja mampu membuat seorang Kim Jongin terpukau. "Apa kau ingat beberapa dari mereka pernah menjadi klienmu?"
"Samar-samar," balas Jongin santai.
"Ayo kita temui Chanyeol dan Ximuin hyung." Ajak Kyungsoo.
"Nanti saja saat peluncuran album dilakukan." Tolak Jongin.
"Kau berniat melakukan sesuatu?"
"Hanya berkeliling," balas Jongin santai. Jongin berjalan melintasi meja panjang dengan berbagai hidangan dan jenis minuman tersaji di atasnya, ia menimbang-nimbang mana yang lebih dulu akan ia nikmati.
"Kim Jongin!" suara ceria itu berbanding terbalik dengan ekspresi malas yang Jongin tunjukkan. "Kau hadir?"
"Tentu saja aku fotografer album ini. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini Oh Sehun?"
"Aku berada di agensi yang sama dengan Chanyeol."
"Hmm." Balas Jongin datar. siapa yang mengatakan Oh Sehun itu dingin? Dia itu menyebalkan dan cerewet, banyak orang terkenal yang ternyata sangat berbeda dari yang mereka tunjukkan di depan kamera.
"Kau tidak berniat untuk beralih profesi menjadi model?" Jongin hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, bingung. "Wajahmu cukup menarik pasti cocok menjadi model."
Model, berpose di depan kamera, memakai make up, berlenggak-lenggok di catwalk? Oh, tidak, Jongin bahkan sudah bergidik membayangkannya. "Tidak, terima kasih."
Jongin berjalan menghindari Sehun menuju meja panjang untuk mengambil minuman. Ia memilih soda berwarna cokelat keruh, "Kau suka soda?"
"Hmm." Jawab Jongin seadanya berharap Sehun akan bosan dan meninggalkannya sendiri.
"Aku suka rasa stroberi." Jongin menatap Sehun mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau tidak terlihat seperti orang yang menyukai soda." Sehun tertawa pelan mendengar komentar Jongin.
"Kau juga terlihat sama, bahkan aku lebih berotot darimu." Kalimat Sehun mengingatkan Jongin akan nama panggilan dari Kyungsoo saat dia sedang kesal, 'papan penggilasan'.
"Dulu aku berotot." Jongin membela diri yang hanya ditanggapi oleh senyuman miring dari Sehun.
"Jongin kemari!" panggilan Kyungsoo membawa kelegaan tersendiri bagi Jongin, cepat-cepat ia letakkan gelas sodanya ke atas meja dan berlari menghampiri Kyungsoo tanpa berpamitan pada Sehun.
"Acaranya dimulai?"
"Hmm." Kyungsoo menarik tangan kanan Jongin menuju sebuah ruangan khusus yang dipersiapkan untuk para staf yang bekerja dalam pembuatan album.
Kyungsoo adalah menejer berbakat, menurut Jongin, dia langsung merangseng masuk dan beramah tamah sedangkan Jongin justru kebingungan harus melakukan apa, dia tidak memiliki kenalan sama sekali.
"Kau duduk di sampingku nanti." Jongin terkejut mendengar suara berat yang memerintahnya tanpa basa-basi.
"Kau." Balas Jongin malas, setelah melihat penampakan Chanyeol.
"Apa kau menerima tawaran Suho hyung?"
"Foto prawedding itu?"
"Hmm."
"Tidak, aku sudah menerima tawaran kerja lain. Selain itu aku belum punya pengalaman."
"Bilang saja harga dirimu terluka." Jongin menatap tajam Chanyeol, dia benci saat orang asing mampu membaca pikirannya semudah buku yang terbuka.
"Bukan urusanmu." Chanyeol hanya tersenyum sekilas mendengar kalimat itu.
"Aku melihatmu berbicara dengan Oh Sehun, apa dia orang yang akan bekerjasama denganmu?"
"Kenapa tiba-tiba kau tertarik?"
"Aku tidak tertarik denganmu, aku tertarik dengan Oh Sehun."
"Kau menyukainya?"
"Sebaliknya, ayo. Aku rasa acaranya dimulai." Chanyeol berbalik memunggungi Jongin, Jongin hanya menatap punggung tegap Chanyeol mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia katakan.
"Sebaliknya? Berarti dia benci dengan Oh Sehun," gumam Jongin. "Industri hiburan itu mengerikan."
"Kim Jongin!" Lengkingan suara Kyungsoo membuyarkan pemikiran Jongin mengenai kejamnya dunia hiburan, ia lantas berlari menghampiri Kyungsoo yang sudah terlihat tidak sabar.
"Chanyeol membenci Sehun?"
"Jangan ikut campur urusan orang lain." Peringat Kyungsoo.
"Aku hanya penasaran."
"Jauhi masalah." Balas Kyungsoo tegas.
"Hyung—jika mereka saling benci kenapa Sehun datang ke acara ini?"
"Apa kau tidak pernah mendengar pepatah, keep your enemy close'?"
"Itu berlaku?" Kyungsoo hanya mengendikkan bahu kemudian mendorong punggung Jongin, agar ia bergegas menaiki panggung yang telah disediakan. "Sekarang lihat semua jas yang mereka pakai, kau mirip gelandangan." Bisik Kyungsoo yang tentu saja diabaikan oleh Jongin.
Ada kursi yang tersedia di panggung dengan meja panjang yang dipenuhi oleh berbagai macam jenis bunga. Kursi tersebut diduduki secara berurutan dari kanan, pemenggang saham terbesar SM Kim Junmyeon, produser sekaligus sutradara album Chanyeol terbaru entah siapa namanya, menejer Chanyeol Kim Minseok, Chanyeol, dan Jongin tentu saja.
Xiumin berdiri dari kursinya untuk memulai acara sekaligus memberi sambutan kepada semua tamu yang hadir. Jongin mulai merasa bosan, untung saja sebelum berangkat ke sini dia sempat membawa lollipop. Di kejauhan dilihatnya Oh Sehun yang tersenyum, Jongin tidak peduli, lollipop lebih penting dibanding Sehun.
"Kami memiliki firasat baik bahwa album keempat Chanyeol akan sukses seperti album-album sebelumnya, tentu saja semua pihak berharap album ini akan jauh lebih baik." gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh ruangan setelah Xiumin menyelesaikan kalimatnya.
Jongin melihat Oh Sehun juga ikut bertepuk tangan dan tersenyum, sungguh semua penuh dengan kepura-puraan. Kemudian Xiumin masih melanjutkan sambutannya dengan respon positif teaser yang diluncurkan, dan antusiasme para fans. Chanyeol juga menyumbang beberapa kalimat berupa lelucon-lelucon, dan reff dari salah satu lagu di dalam albumnya.
Layar yang di letakkan di belakang, kanan dan kiri panggung menampilkan kover album teranyar Chanyeol. Tidak ada komentar, jujur Jongin sedikit peduli dengan komentar orang lain kali ini. Dia berpikir untuk meluangkan waktu dan terbang ke Afrika, memotret Singa di padang rumput, tak peduli dengan penilaian orang lain.
"Bagaimana menurut hadirin sekalian?" suara Xiumin memecah keheningan. Namun, tak ada seorangpun yang bergeming. Jongin menelan ludahnya dengan kasar, ia yakin setelah ini akan banyak media yang menghujatnya. Bekerja dengan Chanyeol adalah hal buruk, seharusnya dia menuruti kata hatinya.
PLOK, PLOK, suara tepuk tangan tunggal memecah keheningan. Jongin mengangkat wajahnya dan melihat Oh Sehun yang bertepuk tangan untuknya. "Itu bukan kover album, itu sebuah seni." Ucap salah seorang undangan. Selang beberapa detik setelah kalimat itu diselesaikan gemuruh tepuk tangan membahana, Jongin tetap memasang wajah datar, berusaha keras untuk tak terpengaruh dengan segala pujian itu.
Pujian adalah hal yang melenakan sekaligus menghancurkan. Jongin menghancurkan lollipop di dalam mulutnya, ia tarik stick putih yang kini telah berubah tak berguna, keluar dari mulutnya, ia lempar ke sembarang arah. "Ayo berdiri." Perintah Chanyeol.
"Sudah selesai?"
"Hmm."
"Syukurlah aku hampir mati bosan."
Semua orang berpikir setelah membungkukkan badan acara selesai, namun rupanya Suho memiliki rencana lain. Ia meminta microphone dari Xiumin. "Maaf menyita waktu hadirin sekalian, saya hanya ingin menyampaikan berita gembira tentang pernikahan saya. Rencananya akan digelar sekitar satu bulan lagi jika tidak ada masalah di dua tempat Korea dan Hawaii."
Ruangan langsung berisik dengan berbagai pertanyaan seperti siapa orang yang beruntung mendapatkan Suho, kapan Suho menjalin cinta dengan seseorang, dan sebagainya.
"Byun Baekhyun adalah orang yang telah mengikat hati saya, terima kasih banyak."
Jongin tidak terlalu peduli dengan dunia hiburan, namun semua orang di negeri ini tahu bahwa Baekhyun menjalin hubungan spesial dengan Chanyeol, dia sendiri yang mengakuinya belum lama ini. Dan sekarang—dia akan menikahi orang lain. Jongin melirik Chanyeol dari ekor matanya, tubuh Chanyeol menegang pandangannya tajam lurus ke depan. Jongin mengikuti arah pandangan Chanyeol, Byun Baekhyun, dia berdiri di barisan depan.
Ekspresi wajah Baekhyun tak terbaca, bukankah ini pengkhianatan? Pikir Jongin, tidak mungkin memutuskan untuk menikahi orang lain hanya dalam waktu singkat, seminggu setelah pengakuan publik. Baekhyun membuat pernyataan resmi mengenai jalinan asmaranya dengan Chanyeol dan bagaimana asmara itu kandas, itu berarti hubungan Suho dan Baekhyun bahkan belum genap satu bulan jika keduanya tidak main belakang.
"Pengkhianat," Jongin bisa mendengar kalimat Chanyeol dengan jelas. Suara gemuruh tepuk tangan kembali bergema, Jongin menoleh ia lihat wajah Chanyeol dengan rahang mengeras menahan amarah, sementara di sisi lain Suho tengah tersenyum lebar. Jongin mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun, dia masih menampilkan ekspresi datarnya. Sebelum semua orang sempat untuk pergi, para wartawan merangsek maju dan mulai memberondong pertanyaan. Dalam posisi berdiri, Jongin melirik Chanyeol bertanya-tanya bagaimana dia menghadapi situasi sulit ini.
"Chanyeol apa Anda sudah mengetahui rencana pernikahan Baekhyun dan Suho?"
Jongin tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba merasa gugup, mungkin karena di dalam kepalanya kini tengah memutar berbagai skenario terburuk. Seperti Chanyeol yang marah, merebut dan membanting kamera, berteriak, menyumpah-serapah, memukul Suho dan menampar Baekhyun di depan semua undangan, menyebut mereka pengkhianat dan sebagainya, pasti akan mirip film action.
"Ya, saya sudah tahu saya sangat senang dan berakhirnya hubungan saya dengan Baekhyun sama sekali bukan karena pernikahan ini." Mengejutkan, Chanyeol menjawab dengan tenang, dia bahkan tersenyum lebar. "Selain itu saya juga akan menikahi orang lain, dia merebut hati saya dalam waktu yang sangat singat. Saya pikir cinta pada pandangan pertama itu mustahil, ternyata hal itu benar adanya."
Jongin masih mengedarkan pandangannya meneliti setiap ekspresi wajah dari para tamu undangan, saat Chanyeol merangkul bahunya, membuat tubuh keduanya bersentuhan dan mengatakan kepada semua orang bahwa mereka akan menikah dua minggu lagi.
Sehun menajamkan pandangannya, ia jatuhkan gelas soda yang berada di genggaman tangan kirinya. "Sehun!" pekik Chen sang menejer.
"Brengsek!" Sehun langsung berbalik dan berjalan meninggalkan tempat, hari ini dia belajar bahwa ada satu atau dua keinginan yang tak terwujud.
"Sehun! Sehun!" pekik Chen mencoba mengejar Sehun.
"Apa yang kau katakan dasar bodoh?!" pekik Xiumin di ruang tamu apartemen Chanyeol. "Apa kau tidak bisa lebih pintar dalam bertindak?!"
Chanyeol menatap Jongin, tak peduli dengan teriakkan Xiumin yang melengking dan memekakan telinga. "Maaf," bisiknya pelan.
"Sebaiknya kau pikirkan jalan keluar dari masalah ini, Park Chanyeol." terlihat jelas amarah dari setiap kata yang Jongin ucapkan meski kalimatnya ia ucapkan dengan nada datar tanpa penekanan sama sekali.
"Menikahlah denganku Kim Jongin."
"Kau pikir ini permainan? Apa yang terlintas di kepalamu?"
Chanyeol menundukkan kepalanya. "Aku dikhianati, aku hanya ingin menunjukkan bahwa Baekhyun sama sekali tak menghancurkan aku, aku butuh bantuanmu, aku mohon Jongin."
"Kau memohon padaku?!" pekik Jongin, sungguh telinganya tak ingin mempercayai seorang Park Chanyeol memohon bantuannya.
"Ya." Balas Chanyeol singkat sembari mengangkat wajahnya menatap Jongin.
"Kau menangis?" Chanyeol tak menjawab.
"Bantu aku, aku mohon kemurahan hatimu, pernikahan ini hanya status dan aku janji saat kau menemukan orang yang kau cintai, aku akan menceraikanmu tanpa perdebatan."
"Kau membuat pernikahan seperti kontrak kerja." Balas Jongin sarkas. Chanyeol tak membuka bibirnya untuk menjawab, Jongin memandangi puncak kepala Chanyeol yang tertunduk, ia tampak menyedihkan, sangat menyedihkan. Jongin menoleh ke arah Kyungsoo dia hanya mengendikkan kedua bahunya, Xiumin menatapnya dengan tatapan kosong.
Jongin menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap sekilas ke arah langit-langit apartemen Chanyeol yang diukir indah. "Baiklah, aku akan membantumu." Jongin berharap maksud baiknya tidak membawa bencana di kemudian hari. "Satu tahun, jika aku tidak menemukan seseorang yang aku cintai aku ingin pernikahan kita berakhir dalam satu tahun."
"Terima kasih," gumam Chanyeol tanpa mengangkat kepalanya.
Jongin mendesah pelan sebelum berdiri dari sofanya. "Sebaiknya kau tenangkan dirimu, kabari aku jika kau sudah membuat rencana matang, sampai jumpa Park Chanyeol." TBC
