Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)

Warning: BL

Rated: T-M

Boomiee92

Update kilat karena akses internet gratis hahaha tebar bunga, gratisan dimana-mana asik broooo…. Ditemani Big Cola (iklan hehehe) Happy reading…..

Previous

Jongin menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap sekilas ke arah langit-langit apartemen Chanyeol yang diukir indah. "Baiklah, aku akan membantumu." Jongin berharap maksud baiknya tidak membawa bencana di kemudian hari. "Satu tahun, jika aku tidak menemukan seseorang yang aku cintai aku ingin pernikahan kita berakhir dalam satu tahun."

"Terima kasih," gumam Chanyeol tanpa mengangkat kepalanya.

Jongin mendesah pelan sebelum berdiri dari sofanya. "Sebaiknya kau tenangkan dirimu, kabari aku jika kau sudah membuat rencana matang, sampai jumpa Park Chanyeol."

Bab Empat

Jongin memandangi cangkir berisi kopi hitam yang masih mengepul, diletakkan di atas meja ruang tamu kediaman Oh Sehun. Ia tidak tahu jika Sehun adalah penggemar kopi, Kyungsoo juga tak membahasnya. Ia dan Kyungsoo datang pagi-pagi untuk membicarakan kontrak kerja dengan Sehun, dengan pernikahan yang akan berlangsung, otomatis kontrak kerja tidak akan terlaksana sesuai jadwal.

"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Oh Sehun. Anda bisa mencari fotografer lain, dan kami bersedia membayar denda, jika Anda menuntut." Kyungsoo sedikit menundukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf.

"Tidak masalah, pemotretan ini sebenarnya untuk musim gugur. Aku turut bahagia dengan kabar gembira dari Jongin. Maaf tempo hari aku menggodamu, aku sama sekali tidak tahu kalau kau sudah menjalin hubungan serius dengan Park Chanyeol.

"Tidak apa-apa." Balas Jongin datar namun tetap terdengar sopan.

"Tapi tidak masalah kan jika aku tetap menyukaimu—maksudku hanya sebagai penggemar?" Jongin menatap wajah Sehun yang tampan sekaligus terkesan dingin, mengingatkannya pada mantan kekasih yang sudah berani berselingkuh.

"Tidak masalah." Balasnya, Jongin benar-benar ingin mengakhiri pertemuan ini, entah mengapa terasa sangat canggung.

Sehun tersenyum sekilas, ia mengangkat cangkir dan menikmati kopinya dengan gaya elegan sembari menyilangkan kaki. Jongin berusaha mengurangi kecanggungan dengan meneliti setiap sudut rumah Oh Sehun.

"Aku penasaran."

"Oh!" Jongin terkejut, karena tak ada suara denting cangkir dan tiba-tiba Sehun kembali berbicara.

"Aku penasaran kapan kau dan Chanyeol bertemu, kapan kalian mulai menjalin hubungan serius, rasanya tiba-tiba sekali jika baru tiga minggu yang lalu hubungan Chanyeol dan mantan kekasihnya berakhir." Hembusan napas Sehun terdengar cukup jelas. "Aku ingin tahu tips jatuh cinta pada pandangan pertama, terdengar sangat romantis dan klasik." Sehun tersenyum lebar, sebuah senyum yang bagi Jongin terlihat penuh dengan misteri.

Kepala Jongin kini benar-benar kusut, bahkan kedua telinganya bisa mendengar suara dengung ribuan kepakan sayap lebah. Kalimat Sehun terlalu rumit, terlalu detail, dan dirinya sama sekali tak memiliki amunisi untuk membalas. "Itu…"

"Itu masalah pribadi maaf Tuan Oh Sehun, jika Jongin dan Chanyeol sudah siap, Anda akan mendengarnya lewat berita. Anda tahu sendiri bagaimana desas-desus cepat tersebar." Kyungsoo memotong kalimat ragu-ragu Jongin, menyelamatkannya.

Jongin bisa sedikit bernapas lega, Kyungsoo selalu bisa diandalkan meski seringkali ia menyebalkan. "Aku ingin mendengarnya langsung dari Jongin." Sehun bersikeras.

Jongin menelan ludah kasar, ia melirik ke arah Kyungsoo namun ekspresi wajah menejer sekaligus sahabatnya itu terbaca jelas, dia sedang bingung sama seperti dirinya. "Saya akan membicarakannya lain kali," Jongin tersenyum berharap Sehun menyerah.

"Baiklah—aku tunggu." Sehun menyerah tapi tetap saja dia menuntut, Jongin merutuki nasib buruknya di dalam hati, kenapa dia bisa bertemu dua orang yang menyebalkan di saat bersamaan?

"Jika semua selesai kami akan berpamitan."

"Kenapa tergesa-gesa? Kau tidak menunggu waktu makan siang?" pertanyaan dan tatapan dari Sehun itu jelas-jelas ditujukan untuk Jongin.

"Maaf, saya harus menemui Chanyeol untuk membicarakan sesuatu." Memakai Chanyeol sebagai alasan sangat konyol, Jongin merasa harga dirinya jatuh dengan kecepatan tinggi. Biasanya dia bisa keluar dari masalah dengan kemampuannya sendiri.

"Aku bisa mengantarmu, kau bisa sampai lebih cepat dengan mobilku." Sehun menawarkan diri, benar-benar membawa Jongin pada situasi tak terduga.

"Tidak, terima kasih, kami bisa naik bus." Jongin membungkukkan badannya kemudian cepat-cepat ia menarik tangan kanan Kyungsoo.

Tanpa terduga Sehun berdiri dan menghadang keduanya. "Kalian tidak akan aku izinkan keluar jika Jongin melarangku mengantar."

Jongin mengepalkan kedua telapak tangannya, jengkel. Tapi memukul wajah Sehun hanya akan membawa masalah. Jongin kembali melirik Kyungsoo dari ekor matanya, Kyungsoo terdiam dengan kedua mata bulat lebarnya menatap Sehun tanpa berkedip. "Baiklah," gumam Jongin menyerah.

Sehun tersenyum kemudian merangkul pundak Jongin. "Ayo."

Jongin melempar tatapan meminta tolong, namun apa ada daya sepertinya otak Kyungsoo bereaksi lebih lambat hari ini. Jongin mencoba memberi serangan terakhir yang bisa ia pikirkan, ia duduk di kursi penumpang belakang dan membiarkan Kyungsoo duduk di kursi penumpang di samping pengemudi. Jelas-jelas Sehun tak menyukai ide itu.

Tidak ada masalah dengan Sehun, kecuali dia sedikit cerewet dan pemaksa. Jongin hanya ingin menunjukkan kepada Sehun bahwa dia bisa menolak, agar dikemudian hari seandainya mereka bekerjasama lagi, Sehun tidak terlalu memaksa dan seenaknya.

Jarak kediaman Sehun dengan apartemen Chanyeol kira-kira lima belas menit. Sehun menghentikan mobilnya di seberang jalan cukup jauh dari apartemen Chanyeol yang dikerubungi para fans, dia tidak ingin menambah keributan. "Jangan lupa mengundangku Jongin." Ucap Sehun saat tangan kanan Jongin bersiap membuka pintu.

Jongin mengangguk canggung, kemudian tersenyum simpul, ia bergegas keluar disusul Kyungsoo. Dari ekor matanya, Jongin tahu jika Kyungsoo sedang tersenyum. "Apa?!" ketus Jongin.

"Jelas sekali Sehun mneyukaimu."

"Terserah."

"Apa kau masih sakit hati soal Kris?"

"Tidak, aku tidak ingin memikirkan hubungan sekarang."

"Apa kau lupa bahwa sebentar lagi kau akan menikah?"

Jongin hanya menoleh, melempar tatapan tajam tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Kyungsoo. Dan Kyungsoo masih saja menampilkan senyum menyebalkan.

"Maafkan aku Chanyeol, aku butuh sebuah hubungan yang tenang dan aku tidak bisa mendapatkannya saat bersamamu."

"Kau datang hanya untuk mengatakan ini padaku?"

"Mengertilah, aku minta maaf."

"Kau tidak perlu repot-repot mengunjungiku Baekhyun, hubungan kita sudah berakhir. Kau sendiri yang mengakhirinya, apa kau lupa?"

Suasana ruang tamu terasa tegang, Xiumin duduk di samping Chanyeol sebagai penengah namun ia sadar kehadirannya sama sekali tak memberi pengaruh apa-apa.

"Aku tidak percaya kau memiliki hubungan dengan fotografer itu."

"Kenapa tidak percaya? Kau menjalin hubungan yang sama dengan Suho."

"Tidak dalam waktu singkat Chanyeol, aku tidak pernah tahu kau berhubungan dengan Jongin, kalian tak saling kenal, lalu pengumuman pernikahan itu…,"

"Kau dan Suho juga terlihat mengejutkan dengan pengumuman pernikahan itu Baek, kau bermain dibelakangku, jadi jangan ikut campur urusanku."

"Aku ingin berteman denganmu."

"Cih! Picik sekali, kau masih mengharapkan hubungan yang baik denganku." Dengus Chanyeol.

TING, TUNG…., suara bel pintu menginterupsi obrolan serius yang sedang terjadi. "Aku permisi membuka pintu." Ucap Xiumin, cepat-cepat ia berdiri dan berlari menghampiri pintu.

"Ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku?" Chanyeol melempar tatapan jengah, yang tentu saja sangat berbalik dengan perasaannya saat ini.

Baekhyun tersenyum lembut. "Aku menunggu undanganmu."

"Hmmm." Gumam Chanyeol seadanya.

"Park Chanyeol aku yakin kau masih mencintaiku."

Pertahanan Chanyeol hampir saja runtuh, saat kalimat itu meluncur dari bibir Baekhyun dan memunculkan harapan bahwa semuanya akan kembali seperti semula.

"Kami juga menunggu undangan darimu Baekhyun hyung."

Chanyeol menelan ludahnya kasar, ia menoleh dan melihat Jongin sudah berdiri di ruang tamu bersama Xiumin dan Kyungsoo. Ia melempar senyuman manis kepada Baekhyun. Baekhyun menatap kemunculan Jongin tidak percaya,

Jongin langsung mengambil posisi duduk di samping Chanyeol. Chanyeol berusaha menampilkan akting terbaiknya dengan merangkul bahu Jongin.

"Kalian tampak serasi." Ucap Baekhyun lalu tersenyum. "Kalau begitu aku permisi, aku yakin kalian menginginkan waktu pribadi." Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, menggoda.

Jongin membalas dengan senyuman simpul sementara itu ia bisa merasakan tangan Chanyeol yang meremas bahunya semakin mengeras. Menahan emosi.

"Mari aku antar, Baekhyun." Ucap Xiumin.

Chanyeol melepas rangkulan tangannya pada bahu Jongin setelah kedua telinganya menangkap suara halus pintu yang tertutup. "Terima kasih," gumam Chanyeol.

"Kau tampak tak berdaya di hadapannya."

"Menyedihkan bukan?"

"Kau sangat mencintai Baekhyun, aku juga pernah merasakan pengkhianatan tapi aku tidak menyedihkan sepertimu. Justru sebaliknya aku ingin memukul mantan kekasihku."

Chanyeol tertawa pelan mendengar kalimat Jongin. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh itu—hanya memberi pelajaran pada seseorang. Di luar ramai sekali aku harus lewat pintu belakang."

"Kau datang di saat tepat, terima kasih banyak."

"Hmm, baiklah." Jongin melompat berdiri dari sofa. "Aku pergi dulu."

"Hanya seperti itu?!" pekik Chanyeol tak percaya. Jongin mengangguk santai.

"Jangan pergi dulu, kebetulan kau di sini. Aku akan menunjukkan kontrak pernikahan kita."

"Kau sudah membuatnya?"

"Hmm, kau punya pengacara?" Jongin menggeleng pelan. "Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkannya untukmu. Sementara menunggu, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."

Jongin berdiri dari tempat duduknya, ia melihat Kyungsoo sudah sibuk mendekati laki-laki idamannya. Chanyeol sendiri yang mengatakan bahwa dia bisa melakukan apa saja, maka Jongin memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam rumah tanpa meminta persetujuan Chanyeol karena dia sudah memberi ijin, begitu pikir Jongin, melakukan sedikit petualangan.

Banyak sekali potret Chanyeol bersama Baekhyun yang tergantung di dinding dan di atas perapian, Jongin menduga ruangan yang ia masuki sekarang adalah ruang keluarga. "Sepuluh menit lagi pengacaraku dan pengacaramu datang."

"Kau menyediakan pengacara untukku?"

"Ya."

"Mereka bisa dipercaya?"

"Tentu saja, mereka pengacara keluargaku."

"Mereka tidak akan berat sebelah kan?"

Chanyeol hanya tertawa pelan mendengar kalimat Jongin. "Jangan cemas."

"Baguslah." Balas Jongin datar.

"Kau mau minum apa?"

"Soda dingin aku rasa cukup."

"Baiklah, silakan duduk." Chanyeol berbalik memunggungi Jongin. Jongin menyamankan duduknya ke atas sofa empuk Chanyeol yang berharga mahal. Bibirnya bersiul-siul kecil menyenandungkan salah satu lagu kesukaannya.

"Ini." Chanyeol yang kembali dengan cepat menyodorkan kaleng soda dingin kepada Jongin.

"Terima kasih," gumam Jongin, ia buka penutup kaleng sodanya, kemudian meneguk sebanyak dua kali tegukan sebelum memegangi dan memandangi merk soda yang tadi dinikmatinya. "Aku membuang semua barang-barang yang berhubungan dengan mantanku."

"Apa kau menyindirku?"

Jongin mengendikkan kedua bahunya. "Kau merasa tersindir?" Chanyeol hanya tersenyum miring. "Aku tidak sedang menceramahimu, tapi logikanya jika kau terluka apa yang akan kau lakukan, mengobati lukamu atau menabur garam?"

"Bukan urusanmu." Balas Chanyeol dengan nada ketus.

"Melankolis sekali." Cibir Jongin kemudian kembali meneguk sodanya.

"Jangan bertingkah seolah-olah kau tahu segalanya tentangku." Chanyeol tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.

Jongin menoleh, menarik kalung perak yang melingkari leher Chanyeol. "Liontin couple ring ini buktinya." Ucap Jongin santai.

PLAK! Chanyeol menepis tangan Jongin dari kalung yang melingkari lehernya. "Kau kuat juga." Sindir Jongin ia pandangi telapak tangannya yang memerah akibat ulah Chanyeol.

"Kau sangat menyebalkan Kim Jongin."

"Kau harus mulai terbiasa dengan sikapku. Apa kau menyesal dengan kesepakatan kita?"

Chanyeol mengerutkan dahinya, jengkel, dia harus memutar otak untuk menyerang balik Jongin. "Kau diantar Sehun kesini."

"Oh, kau tahu darimana?"

"Berita menyebar dengan cepat."

"Beritanya baik atau buruk?"

"Lumayan buruk, mereka mempertanyakan kesetianmu padaku." Chanyeol mengerutkan hidungnya, saat mengucapkan kalimat konyol tersebut.

"Kesetianku padamu," ulang Jongin dengan nada konyol. "Baiklah, apa aku harus membuat konfirmasi?"

"Abaikan saja." Balas Chanyeol. "Tadinya aku ingin membuatmu panik, tapi gagal. Kau tipe orang yang tidak mudah terintimidasi."

"Tidak juga, tergantung bagaimana caramu mengintimidasiku."

Chanyeol tertawa pelan. "Sudahlah, obrolan ini terasa semakin diluar topik." Jongin memilih diam dan menikmati soda dinginnya.

"Pengacara datang." Xiumin masuk ke ruang keluarga dan memberitahu dengan sopan, seolah-olah Chanyeol dan Jongin adalah pasangan nyata.

Dua orang laki-laki dengan pakaian santai dan terlihat muda, Jongin tidak percaya jika mereka pengacara. "Key dan Onew." Ucap Chanyeol sembari menunjuk kepada dua pengacara yang tersenyum ramah kepada Jongin. Key danOnew langsung duduk di hadapan Chanyeol dan Jongin, Kyungsoo dan Xiumin juga tak ketinggalan.

"Ini kopian surat perjanjian yang Chanyeol tulis, kau bisa melihat dan menambahkan atau mengubah jika menurutmu tidak sesuai." Key menyerahkan kopian kertas perjanjian dari dalam ranselnya kepada semua orang yang hadir.

"Berapa banyak kertas perjanjian ini digandakan?" Jongin tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Sepuluh kali atas permintaan Chanyeol." balas Key santai.

"Oh." Jongin mulai membaca isi surat perjanjian kontrak pernikahannya.

Wajib menjaga nama baik masing-masing

Dilarang bertengkar atau berdebat

Dilarang mencari tahu terlalu detail urusan pribadi masing-masing

Harus memberi kabar saat akan keluar rumah

Harus memberi kabar saat di luar rumah

Ikut pasangan saat ada acara resmi yang diliput media

Kim Jongin akan mendapat tunjangan sebesar $500.000/bulan

Setelah satu tahun akan ada perceraian, Kim Jongin akan mendapatkan tabungan sebesar $5.000.000, villa, dan mobil

"Bagaimana?" Chanyeol tidak sabar.

"Nomor dua sedikit memberatkan, apa kau yakin kita tidak akan mendebatkan hal-hal sepele?"

"Untuk itulah peraturan itu dibuat."

Jongin menajamkan kedua matanya, menatap Chanyeol. "Peraturan ada untuk dilanggar."

"Apa kau selalu melanggar peraturan saat disekolah?"

"Ya."

"Bangga sekali." Ejek Chanyeol.

"Aku melakukannya dengan sadar, untuk apa menutupi fakta, aku bukan orang terkenal."

"Kau terkenal, sering-seringlah membaca beritamu di media."

"Aku tidak tertarik."

"Mantan pacar pengusaha muda terkaya di China Kris Wu, dan model terkenal Oh Sehun adalah penggemar beratmu, kalian diisukan akan memulai kerja sama." Chanyeol menjelaskan panjang lebar bermaksud memancing Jongin.

"Wah, aku tidak menyangka kau tahu banyak hal tentangku." Balas Jongin santai.

Chanyeol tersenyum simpul. "Selamat, kita melewati ujian pertama dengan sukses, buktinya kau tidak berdebat saat aku memancingmu."

"Hmmm, aku rasa peraturan nomor dua bisa aku lewati dengan baik, karena aku memikirkan semua uang yang akan aku dapatkan."

"Mata duitan." Jongin tidak membalas, dia meminta bolpoin dari Onew dan menandatangani surat perjanjian, di bagian lain ada tandatangan Onew, Jongin berkesimpulan Onewlah pengacaranya. Chanyeol melakukan hal yang sama. Keduanya menandatangani kopian surat perjanjian yang lain, selanjutnya surat perjanjian itu diserahkan kepada Onew, Key, Xiumin, dan Kyungsoo, masing-masing satu.

"Baiklah semuanya beres, jika dikemudian hari salah satu di antara Chanyeol atau Jongin mengingkari isi perjanjian, ada dua orang saksi di sini." Onew menatap Xiumin dan Kyungsoo yang mengangguk mantap.

Jongin melipat kertas ditangannya asal, kertas itu ia lesakkan ke dalam ranselnya. "Semua sudah selesai kan? Aku permisi sekarang." Kyungsoo melempar tatapan protes. "Hyung bisa tinggal lebih lama." Ucap Jongin sembari melirik ke arah Kyungsoo.

"Aku ikut." Semua orang menatap Chanyeol seperti orang pandir, seolah Chanyeol baru saja mengucapkan kalimat dari bahasa baru yang belum tercatat sebagai salah satu bahasa resmi di dunia. "Aku ikut denganmu Jongin, kemanapun kau mau pergi hari ini."

Jongin menggaruk pelipis kanannya. "Baik."

"Xiumin hyung tolong siapkan semuanya, aku percaya padamu, aku ingin pernikahan ini terlaksana sebelum Suho dan Baekhyun." Xiumin menggangguk patuh.

Chanyeol bergegas menyusul Jongin. "Kau ingin pergi kemana?"

Jongin mengendikkan bahu. "Sejujurnya aku juga tidak tahu, kau punya ide tempat yang nyaman, sunyi, aman…,"

Chanyeol menarik tangan kanan Jongin menghentikan kalimat Jongin seketika, Chanyeol membawa Jongin masuk ke dalam kamarnya ia mengambil salah satu gitar akustik miliknya. Chanyeol mengisyaratkan Jongin untuk mengikuti dirinya. Jongin memendam semua pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Chanyeol dan melihat kemana mereka akan pergi.

Atap gedung, Chanyeol membawa Jongin ke atap gedung yang terlihat seperti taman lengkap dengan bangku panjangnya. "Ini adalah tempat terbaik di dunia menurutku."

Jongin meletakkan ranselnya ke atas bangku. "Tempat untukmu melarikan diri?"

"Ya, bisa dikatakan seperti itu." Chanyeol duduk sambil menurunkan guitar casenya.

"Kau tidak bernyanyi?"

"Kau ingin mendengarku bernyanyi?" Chanyeol balik bertanya, Jongin menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tapi kau membawa gitar aku pikir kau akan bernyanyi."

"Aku bisa menggelar pertunjukkan gratis sekarang juga, jika kau memintanya, anggap saja sebagai ucapan terimakasihku."

"Maaf, aku tidak tertarik."

"Wow! Kau orang pertama yang menolak pertunjukkan gratisku!" pekik Chanyeol dengan ekspresi terlalu berlebihan.

"Tapi aku bukan satu-satunya orang yang menolakmu." Chanyeol hanya mengerutkan dahinya, sadar maksud Jongin.

"Apa gosip itu benar, kau dan Kris Wu?"

"Ya, itu benar, kenapa? Silakan tertawa."

"Aku tidak akan tertawa. Tapi kau terlihat baik-baik saja." Chanyeol menoleh menatap dan meneliti Jongin.

"Aku bukan tipe orang melankolis sepertimu."

"Itu berarti kau tidak benar-benar mencintainya."

"Hubungan kami berlangsung selama tiga tahun!" pekik Jongin, tersinggung kesetiaannya dipertanyakan.

Chanyeol tersenyum miring. "Kalian tinggal terpisah negara, berapa kali kau menghkawatirkannya dalam sehari, berapa kali kalian berkomunikasi dalam sehari, apa kau mencemaskannya, apa kau pernah berpikir hari ini menu makanan seperti apa yang Kris nikmati, apa dia tidur dengan nyenyak, apa dia terserang flu, dan semua pertanyaan-pertanyaan lainnya?"

"Itu—sangat detail Park Chanyeol.

"Kau tidak pernah memikirkannya bukan?" Jongin menggeleng pelan. "Kau tidak benar-benar mencintainya, lalu bagaimana kalian bisa menjalin hubungan?"

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. Ia malu untuk mengakuinya. "Kau bahkan lupa detailnya, kapan kau mulai jatuh cinta, kapan kalian meresmikan hubungan." Jongin menelan ludahnya kasar, mendapat serangan telak Chanyeol.

"Ya, aku lupa semuanya. Apa kau merasakan hal seperti itu terhadap Baekhyun?"

"Tentu saja."

"Dan Baekhyun memutuskan hubungan kalian secara tiba-tiba?" Chanyeol tidak menjawab namun Jongin bisa menemukan semua jawaban yang ia inginkan hanya dari tatapan mata Chanyeol. "Sayang sekali Baekhyun tidak merasakan hal yang sama denganmu, selama ini apa kau merasa kaulah yang terlalu berusaha, dan semua yang kau lakukan salah dimata Baekhyun?"

"Jangan menjelekkan Baekhyun, dia tidak seperti yang kau pikirkan."

"Tapi dia akan menikah dengan kakak tirimu."

"Jongin tutup mulutmu, sebelum aku hilang kesabaran."

"Setelah hubungan kalian berkahir, kau sadar kan? Baekhyun tidak benar-benar mencintaimu, buktinya dia memilih Suho semudah membalik telapak tangan."

"Sudah aku katakan, Baekhyun tidak seperti itu aku yakin pasti ada sesuatu dan aku harus mencari tahu."

"Kalau begitu cari tahu, kenapa harus membuat pernikahan pura-pura."

"Agar niatku tidak terlihat jelas, dan agar Suho melihat jika aku tidak hancur."

Jongin mengerutkan keningnya. "Aku bingung dengan pemikiranmu."

"Bantu aku agar tak terlihat menyedihkan dimata Baekhyun dan Suho."

Jongin tertawa mengejek. "Kau terlalu terikat pada Baekhyun." Chanyeol melempar tatapan memelas. "Baiklah, akan aku bantu," Jongin mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Chanyeol. "Tapi jangan jatuh cinta padaku."

"Kau yang akan jatuh cinta padaku."

Jongin menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak akan jatuh cinta padamu, kita lihat saja nanti Park Chanyeol. Jangan jatuh cinta padaku atau kau akan memulai masalah baru yang lebih rumit dibanding Baekhyun."

"Kau tidak percaya pada cinta?"

Jongin menyipitkan kedua matanya. "Love a game wanna play?"

"Kau mengutip salah satu syair lagu?"

"But I got a blank space baby, and I'll write your name." Jongin mengedipkan sebelah matanya.

"Aku tidak menyangka kau penggemar Taylor Swift, terakhir kali aku dengar kau suka EMINEM?"

Jongin berdiri dari bangku yang ia duduki, ia sandang ranselnya dengan mantap pada bahu kirinya. "Jika kau punya waktu untuk mengetahui Kris Wu adalah mantanku, kau pasti punya cukup waktu untuk mengetahui nama-nama pada daftar mantan pacarku. Sampai jumpa Chanyeol."

"Jongin! Setelah menikah nanti kau tidak keberatan kan kita tinggal bersama?"

"Terserahlah, aku sudah terikat kontrak denganmu."

Chanyeol menarik napas dalam-dalam. "Tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta padamu." Chanyeol melempar tatapan tajam, Jongin berbalik dan melenggang pergi tak peduli.

Xiumin sibuk di depan laptopnya, ia mencari tempat yang cocok untuk menggelar pesta pernikahan Chanyeol dan Jongin. Jongin duduk di samping Xiumin, menatap layar laptop dengan tatapan kosong. "Kau ingin menikah di gedung mana?"

"Aku dengar Baekhyun dan Suho akan menyewa gedung di kawasan Gangnam." Ucap Chanyeol.

"Kau ingin menyainginya?"

"Sebaliknya, aku ingin sesuatu yang sederhana. Bagaimana jika aku menikah di ladang gandum? Sesuatu yang mirip alam liar mengingat pekerjaan terdahulu Kai."

Xiumin tersenyum miring. "Kau memanggil Jongin dengan Kai, sekarang, kalian benar-benar akrab. Ladang gandum karena pekerjaan Jongin yang dulu atau karena alasan lain?" Chanyeol memilih untuk tidak menjawab.

"Baiklah, pernikahan dengan pesta kebun. Aku akan menghubungi Chaerin untuk memesan pakaian pernikahan kalian dan semuanya, dan kau— pikirkan tentang bagaimana caramu menjawab para wartawan, kau tidak bertunangan dengan Jongin dan memutuskan langsung menikah, pasti banyak berita yang menyebalkan."

"Aku tidak peduli." Balas Chanyeol datar. "Aku serahkan padamu semuanya, aku ingin keluar mencari udara segar, oh ya Hyung tolong ambil gitarku di atap dan kembalikan ke kamar."

"Banyak sekali pekerjaanku?!" protes Xiumin, jengkel, marah, kesal, bercampur menjadi satu. Chanyeol bersikap seenaknya, sejak awal dia tidak terlalu suka Chanyeol menjalin hubungan dengan Baekhyun, menurut Xiumin, Baekhyun bukannya membawa kebahagiaan bagi Chanyeol justru sebaliknya membuat pemuda ceria itu selalu tegang dan selalu takut salah. Xiumin ingin melihat Chanyeol seperti dulu, Chanyeol yang ceria, lucu, dan bebas. Xiumin mendesah pelan, dia harus menghentikan pemikiran tentang Chanyeol untuk sekarang dan fokus pada persiapan pernikahan Chanyeol dan Jongin.

Chanyeol duduk di kursi kemudi, ia bingung harus kemana dan hal pertama yang terlintas di dalam pikirannya dalah menghubungi Kyungsoo, menejer Jongin. Chanyeol membuka ponselnya, mencari nomor Kyungsoo di kontak, nomor yang ia dapatkan dari Xiumin. Hanya satu kali nada tunggu, panggilannya langsung dijawab. Kyungsoo tipe menejer siap siaga.

"Tuan Chanyeol ada apa?"

"Panggilanmu terdengar janggal, panggil saja dengan Chanyeol atau Hyung, aku lebih tua."

"Oh, baiklah Hyung, ada apa?"

"Jongin ada?"

"Jo—Jongin? Apa dia membuat masalah?!" pekik Kyungsoo, Chanyeol bahkan harus menjauhkan ponselnya sedikit.

"Tidak, Jongin tidak melakukan apa-apa aku hanya ingin tahu apa dia ada di apartemen sekarang?"

"Ada tapi sebentar lagi dia akan keluar, rencananya ke Teddy Bear Museum di Namsan Tower."

"Baiklah, terima kasih Kyungsoo. Tolong katakan pada Jongin jangan pergi dulu, aku akan menjemputnya."

Chanyeol mendesah pelan, ia matikan ponsel dan ia letakkan ke atas dashboard. Dia juga tidak tahu apakah Jongin akan menuruti Kyungsoo, pasti dia akan mengajukan berbagai macam pertanyaan. Chanyeol memasukkan gigi, dan mobil mulai bergerak maju. Dia ingin membebaskan pikirannya dari Baekhyun.

Chanyeol tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Jongin berdiri di depan gedung apartemennya, Chanyeol mematikan mesin mobil dan turun. "Jangan basa-basi apa yang kau inginkan?" Jongin langsung bertanya tanpa sekedar sambutan sederhana untuk Chanyeol.

"Aku juga tidak tahu, tapi kau mau jalan-jalan ke tempat seru tanpa memberitahuku, bukankah itu menyebalkan."

"Memangnya kenapa aku harus memberitahumu?"

"Kita akan menikah." Jongin hanya mendengus, Chanyeol berjalan mendekati Jongin. "Kau tahu agar publik tidak terlalu terkejut, kita harus menampakkan kesan seolah-olah kita berdua sedang dimabuk cinta." Bisik Chanyeol pada telinga kanan Jongin.

"Kau saja yang mabuk, bukan aku." Balas Jongin sambil mendorong pelan dada Chanyeol.

"Kenapa kau mau menungguku?" Chanyeol menatap Jongin intens.

"Aku tidak menunggumu, berterimakasihlah pada Kyungsoo hyung, karena dengan ceramahnya aku tertahan."

"Oh, kenapa kau mau pergi ke sana?"

"Tidak ada alasan khusus, aku ingin pergi saja. Jangan membuang banyak waktu." Chanyeol mengangguk pelan.

"Kai, bagaimana kalau kita pergi dengan caramu."

"Dengan caraku? Apa kau mau dikeroyok penggemarmu?!" Jongin menatap Chanyeol tidak percaya.

"Justru itu yang aku inginkan."

"Kau ingin semuanya tampak jelas?" Chanyeol mengangguk. "Baiklah, tapi tanggung sendiri resikomu."

Keduanyapun berjalan menuju pusat kota yang berjarak kurang lebih lima menit berjalan kaki dari apartemen Jongin. Chanyeol menggandeng tangan Jongin, meski sedikit terkejut, Jongin memilih diam karena baginya Chanyeol tampak sangat putus asa sekarang.

"Apa kau membaca berita tentang kita, Suho dan Baekhyun?" Jongin membuka percakapan karena kesunyian bukanlah hal yang menyenangkan baginya.

"Tidak, kenapa?"

"Baekhyun dan Suho dihujat, lalu banyak orang mendukung hubungan kita."

"Bukankah itu bagus?" Jongin menoleh melihat Chanyeol tersenyum lebar ke arahnya.

"Kau benar-benar ingin membalas dendam rupanya."

"Begitulah."

"Apa kau sudah menurunkan semua potret Baekhyun di apartemenmu?"

"Tidak, aku tidak akan menurunkannya dan kau jangan menyuruhku."

"Bagaimana bisa meyakinkan kalau kau tidak hancur, jika Suho datang ke apartemenmu atau Baekhyun datang dan melihat semua potret itu, maka rencanamu akan gagal." Chanyeol terdiam memperhatikan Jongin selama beberapa detik.

"Kau benar, akan aku turunkan hari ini juga."

"Chanyeol, Suho itu kakak tirimu kan, dia pasti pernah ke apartemenmu?" Chanyeol hanya berdeham menjawab pertanyaan Jongin. "Apa dia tidak melihat potretmu dan Baekhyun?"

"Mereka menusukku dari belakang." Balas Chanyeol dengan intonasi yang terlihat jelas menahan amarah.

"Aku turut bersimpati atas kemalanganmu Park Chanyeol. Aw!" Chanyeol meremas tangan Jongin yang berada di dalam genggamannya karena kesal mendengar kalimat Jongin.

"Maaf, tanganku licin." Balas Chanyeol datar.

"Menyebalkan…," gerutu Jongin pelan. "Hei!" protes Jongin saat Chanyeol menariknya tiba-tiba dan kini Chanyeol tengah melingkarkan tangan di bahunya.

"Kau bersimpati padaku, jadi saat membantuku jangan setengah-setengah." Bisik Chanyeol, kemudian tertawa pelan, hembusan napas hangat Chanyeol membuat Jongin risih. Jongin menoleh ke arah lain dan menyadari ada beberapa wartawan yang sedang sibuk mengambil gambar dirinya dan Chanyeol.

"Baiklah," balas Jongin santai, ia lingkarkan tangan kirinya memeluk pinggang Chanyeol.

"Bagaimana jika setelah ini kita membicarakan uang tambahan tunjangan bulananku." Bisik Jongin menantang.

Chanyeol tertawa pelan, sebuah tawa yang terlihat seperti tawa bahagia namun sebenarnya ia ingin sekali mencekik Jongin. Jongin tersenyum malu-malu, tampak manis, namun sebenarnya Jongin tengah mengancam agar Chanyeol serius menanggapi permintaannya.

TBC