Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Update kilat karena akses internet gratis hahaha tebar bunga, gratisan dimana-mana asik broooo…. Ditemani Big Cola (iklan hehehe) efek mabuk Big Cola rasa stroberi… Happy reading…..
Previous
"Kau bersimpati padaku, jadi saat membantuku jangan setengah-setengah." Bisik Chanyeol, kemudian tertawa pelan, hembusan napas hangat Chanyeol membuat Jongin risih. Jongin menoleh ke arah lain dan menyadari ada beberapa wartawan yang sedang sibuk mengambil gambar keduanya.
"Baiklah," balas Jongin santai, ia lingkarkan tangan kirinya memeluk pinggang Chanyeol.
"Bagaimana jika setelah ini kita membicarakan uang tambahan tunjangan bulananku." Bisik Jongin menantang.
Bab Lima
Sesampainya di pusat kota lebih banyak orang lagi yang mengenali Chanyeol, hampir semua orang memuji keserasian Chanyeol dan Jongin, meski tak jarang Jongin juga menangakap suara-suara sumbang jika Baekhyun yang imut dan mungil lebih cocok dibandingkan dirinya yang berkulit gelap dan memiliki tinggi badan hampir sama dengan Chanyeol.
Tangan Chanyeol kini beralih melingkari pinggang ramping Jongin. Sementara Jongin dia tidak lagi memeluk pinggang Chanyeol karena jujur saja berjalan sambil memeluk pinggang seseorang itu sedikit mengganggu.
Keduanya akan naik Seoul City Tour Bus agar lebih banyak mata lagi yang menyaksikan kemesraan keduanya. Beruntung keduanya tidak harus menunggu di tengah kerumunan terlalu lama, bus yang didominasi warna merah itu datang setiap tiga puluh menit sekali, mengangkut para wisatawan domestik dan internasional yang ingin menikmati seluruh kawasan wisata di Seoul.
Jongin melangkah mendahului Chanyeol, lupa akan tugasnya. Meski cukup lama tinggal di Seoul ini pengalaman pertama Jongin naik bus tur dengan atap terbuka. Chanyeol hanya mendesah jengkel namun dia harus tetap menampakkan wajah bahagia karena begitu banyak bidikan kamera yang diarahkan kepadanya.
"Aku pikir bus seperti ini hanya ada di Hong Kong!" pekik Jongin dengan antusias seperti anak kecil yang masuk ke toko mainan.
"Kau pernah ke Hong Kong?" Jongin menggeleng pelan. "Tentu saja kau tidak akan ke sana, Hong Kong kan tidak punya binatang liar." Cibir Chanyeol pelan.
Jongin melempar tatapan tajam kepada Chanyeol. "Jangan memancing keributan." Ancam Jongin, Chanyeol tersenyum lebar.
Chanyeol duduk dan mulai melihat-lihat keadaan Seoul sedangkan Jongin dia sedang mengabadikan semuanya dengan kamera pocket yang dibawanya, Chanyeol menjulurkan lehernya mencoba melihat apa saja yang Jongin abadikan dengan kameranya. "Mau melihatnya?" tawar Jongin yang sejujurnya membuat Chanyeol terkejut.
"Kau bisa bersikap ramah juga, ternyata." Sindir Chanyeol yang diabaikan Jongin, Jongin memposisikan kameranya dengan tepat agar dirinya dan Chanyeol bisa melihat dengan jelas. Jongin dengan cepat menunjukkan foto pertamanya, Chanyeol melirik Jongin yang terlihat sangat antusias, Chanyeol yakin fotografi adalah hal yang sangat disukai Jongin.
Tidak ada yang istimewa dari gambar yang Jongin abadikan, hanya gedung-gedung, jalanan, pejalan kaki, mobil, perempatan, lampu lalu lintas, dan beberapa musisi jalanan. Objek-objek biasa, namun bidikan lensa Jongin sangat sempurna meski ia hanya menggunakan kamera pocket. "Kau hebat," ucap Chanyeol tanpa sadar.
"Terima kasih." Balas Jongin pelan. "Aku suka udara terbuka." Jongin memejamkan kedua matanya, mendongak, menikmati hembusan angin yang menyapa rambut dan kulit wajahnya.
Chanyeol menoleh, memperhatikan wajah Jongin, angin dan sinar matahari berpadu sempurna, seperti sebuah latar belakang di dalam mahakarya. Menampilkan sisi lain Jongin yang selama ini belum pernah Chanyeol lihat. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Jongin, sebelum dirinya benar-benar jatuh dalam pesona seorang Kim Jongin.
"Kita sampai!" Jongin kembali berteriak antusias, dan seperti yang tadi dilakukannya di pusat kota, dia kembali turun dari bus meninggalkan Chanyeol tidak peduli dengan semua perhatian yang diberikan kepadanya.
"Kai!" Chanyeol berusaha menarik perhatian Jongin, usaha Chanyeol berhasil, Jongin menoleh dan berjalan kembali menghampirinya. Chanyeol terkejut saat Jongin menggenggam tangan kanannya.
"Maaf, aku hampir lupa," bisik Jongin.
"Baguslah kau ingat." Balas Chanyeol ketus.
"Kau ingin naik cable car?" tawar Jongin, ia sempat melihat beberapa drama yang Kyungsoo lihat menampilkan adegan sepasang kekasih naik cable car, sepertinya romantis.
"Ide yang bagus."
"Ayo!" pekik Jongin, ia bergegas berlari sambil menarik tangan Chanyeol. Keduanya memasuki gedung dan naik lift untuk bisa naik cable car. Chanyeol hanya diam dan menuruti semua keinginan Jongin.
Lift penuh dan semua perhatian tertuju kepada Chanyeol dan Jongin, Chanyeol mati-matian ingin menunjukkan kemesraannya dengan Jongin, sayang Jongin terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, namun Chanyeol tidak kehabisan ide, ia peluk pinggang Jongin dengan erat. Sekarang Chanyeol merasa seperti pengasuh Jongin. "Sampai!" pekik Jongin tertahan, beruntung ia tidak lupa menggandeng tangan Chanyeol untuk keluar lift.
"Sepertinya sudah penuh Jongin, kita tunggu giliran selanjutnya."
Jongin menggeleng cepat. "Masih ada tempat." Dengan penuh percaya diri Jongin menarik tangan Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan berusaha bersikap ramah kepada semua orang di dalam cabel car, yang mengenali dirinya. Jongin, dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Ini penuh," protes Chanyeol pelan.
"Lebih dekat." Balas Jongin santai, melihat Chanyeol yang tidak berencana untuk menggeser tempatnya berdiri, maka Jongin tarik tangan Chanyeol, membuat keduanya berdiri berhimpitan begitu dekat.
Perlahan cabel car bergerak naik, pemandangan yang tersaji diluar dimulai dari pegunungan dengan hutan gunung Namsan, kemudian disusul dengan pemandangan kota di bawah yang menakjubkan. "Semakin tinggi," gumam Chanyeol.
"Kau takut ketinggian?" Chanyeol menggeleng pelan.
Jongin memeluk lengan Chanyeol. "Aku sudah berjanji," bisik Jongin.
Pintu cable car terbuka keduanya mendapat giliran terakhir untuk keluar, Jongin masih memeluk lengan Chanyeol, keduanya berjalan kaki menuju menara, menaiki anak tangga dengan panorama indah.
"Kau tidak ingin mengambil gambar?"
"Aku sudah punya banyak foto di lokasi ini."
"Kau sering datang ke tempat ini?! Aku pikir ini pertama kalinya karena kau sangat antusias."
"Yang pertama kali naik tour bus kalau ke sini aku sudah sering. Kau juga sudah pernah ke sini kan?"
"Hmm, dengan Baekhyun."
"Kalian naik?"
"Kami memasang gembok cinta." Jawab Chanyeol pelan.
"Ah— sudah aku duga itu semua hanya takhyul, kenapa semua orang percaya dengan hal-hal tidak masuk akal seperti itu," gerutu Jongin.
"Kau mau memasang gembok cinta denganku?"
"Apa ada gembok permusuhan?" Chanyeol hanya mendengus mendengar pertanyaan Jongin.
"Baiklah, kita tidak akan naik ke menara. Hanya mengunjungi museum boneka beruang."
Chanyeol mendesah pelan. "Pemandangan di sini indah, ayo mengambil gambar bersama, lalu kita beli makanan ringan, bagaimana?" Chanyeol tersenyum lebar menatap wajah Jongin yang tampak terkejut. "Mau tidak?!" nada Chanyeol terdengar menuntut.
"Baiklah." Bisik Jongin.
Chanyeol mendekati pagar pembatas dengan pemandangan kota di kaki gunung Namsan. Jongin mendekati Chanyeol. "Kita pakai kamera ponselku."
"Aku tidak suka difoto," gerutu Jongin.
"Kau harus suka mulai sekarang, semoga kau terbiasa melihat wajahmu terpampang di majalah, internet, dan televisi." Jongin tidak membalas kalimat Chanyeol. Chanyeol menarik lengan Jongin supaya lebih dekat. "Sandarkan kepalamu di bahuku."
"Tidak mau."
"Supaya terlihat romantis."
Jongin mendesah pelan, ia melihat ada beberapa orang yang sedang mengambil gambar dirinya dan Chanyeol. Terpaksa, Jongin sandarkan kepalanya di bahu Chanyeol, terpaksa, Jongin harus tersenyum bahagia di depan kamera ponsel Chanyeol. "Selesai!" pekik Chanyeol antusias, Jongin yakin itu hanya pura-pura. "Lihat, hasilnya bagus."
"Hmm." Gumam Jongin.
"Baiklah, ayo beli camilan." Chanyeol menggandeng tangan Jongin melewati beberapa penggemarnya sembari melempar senyuman ramah. "Aku ingin makan kentang spiral, kau?"
"Aku mau yang ada sosisnya."
"Oke, tunggu di sini." Ucap Chanyeol. Jongin mengangguk pelan, Chanyeol berlari, bergabung dalam antrean. Jongin melihat-lihat keadaan sekitar sembari menunggu Chanyeol mendapatkan pesanan.
Jongin menajamkan pandangannya, sosok yang sangat ia kenal berjalan dengan seseorang. "Angry Bird, Kris—itu Luhan?" Jongin memperhatikan laki-laki imut dan cantik yang berjalan bersama Kris dengan gesture yang cukup intim. "Dia imut, pantas Kris mau." Ucap Jongin, dia langsung berbalik dan melihat sampai mana Chanyeol mengantre. "Cepat juga dia," gumam Jongin, Chanyeol mendapatkan pesanan dengan cepat sepertinya menjadi orang terkenal membawa keuntungan, tapi Chanyeol terlihat sedang berfoto dengan beberapa orang.
"Kai!" pekik Chanyeol dengan tingkat antusias yang dibuat-buat. "Ini." Ia sodorkan camilan pesanan Jongin.
"Terima kasih."
"Aku mau mencicipinya."
Jongin mengerutkan dahinya, tidak rela, namun pada akhirnya ia menyodorkan sosis kepada Chanyeol. "Hei!" pekik Jongin, karena Chanyeol menggigit sosisnya terlalu banyak. "Aku mau itu." Jongin melirik kentang spiral Chanyeol.
"Tidak, mehrong…," Chanyeol menjulurkan lidahnya kemudian berlari menjauhi Jongin.
"Chanyeol! Kai!" pekikan kesal Jongin bersamaan dengan panggilan seseorang. Jongin menoleh dan melihat Kris bersama seseorang yang Jongin duga sebagai Luhan.
"Apa yang kau lakukan di Korea?" Jongin langsung bertanya tajam tanpa basa-basi.
"Oh itu, Luhan ingin melihat menara Namsan."
"Hmm." Gumam Jongin tak tertarik, ia mulai menikmati sosisnya mengabaikan keberadaan Kris dan Luhan di hadapannya.
"Kalian belum berkenalan, Luhan kenalkan Kai."
"Hai Kai senang bertemu denganmu."
"Senang bertemu denganmu juga." Jongin menyambut uluran tangan Luhan, tersenyum ramah. "Kau tampan." Puji Jongin tulus. "Selamat menikamati Namsan." Jongin berbalik, melihat Chanyeol yang kini juga tengah menatapnya di kejauhan.
Jongin kembali menoleh kepada Kris dan Luhan. "Aku pergi dulu, selamat tinggal." Jongin sedikit membungkukkan badannya, walau bagaimanapun Kris lebih tua darinya, kemudian Jongin berlari menyusul Chanyeol.
"Itu Kris kan?" Chanyeol menatap Jongin ingin tahu.
"Hmm."
"Kenapa dia menghampirimu?"
"Dia ingin mengenalkan Luhan padaku, mereka terlihat serasi."
"Kau cemburu?"
"Tidak."
"Baiklah, mari pergi ke museum." Chanyeol melihat tidak ada celah baginya untuk memperpanjang topik perbincangan tentang kisah asmara antara Kris dan Jongin.
Museum teddy bear berada di lantai dasar menara Namsan, untuk masuk ke museum dikenakan biaya kurang lebih delapan ribu won perorang. Beruntung antrean tidak terlalu panjang, Jongin sempat melihat Kris dan Luhan namun ia memilih acuh. Tidak ada gunanya menyapa mereka berdua bagi Jongin.
"Kita masuk, kita masuk." Sekarang justru Chanyeol yang terlihat antusias.
"Kau suka boneka?" tanya Jongin penasaran.
"Lumayan," balas Chanyeol singkat, ia tengah sibuk membaca selebaran yang menjelaskan koleksi di dalam museum secara singkat.
Musem Teddy Bear di Namsan, menggambarkan kebudayaan Korea di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ada juga Teddy Bear di tempat tempat terkenal di kota Seoul seperti Cheonggyecheon Stream, Myeongdong, Insadong, dan Dongdaemun.
"Aku suka drama ini." Ucap Chanyeol saat keduanya berdiri di depan diorama Teddy Bear yang menampilkan salah satu scene dari drama populer The Great Queen Seon Deok.
"Aku suka Boys Before Flower." Kedua mata Chanyeol membulat sempurna mendengar kalimat Jongin. "Kenapa? Lee Minho keren." Balas Jongin santai.
"Yang itu mirip denganmu." Jongin mengikuti arah telunjuk Chanyeol.
"Maksudmu beruang berwarna cokelat itu?"
"Hmm." Chanyeol mengangguk mantap."
"Terima kasih," ucap Jongin tulus, namun dia memberi hadiah berupa tinju pelan di lengan kanan Chanyeol. Chanyeol tertawa pelan melihat kekesalan di wajah Jongin.
"Sebenarnya aku datang untuk membicarakan konsep pernikahan kita, aku ingin sesuatu yang sedikit berhubungan dengan alam liar, pesta kebun, di ladang gandum, bagaimana menurutmu?"
"Tidak tahu, terserahlah aku tidak ingin ambil pusing."
"Jangan protes jika konsepnya tidak sesuai."
"Ini bukan pernikahan sungguhan, tidak perlu istimewa."
"Ya, kau benar Kai. Aku akan memberi kabar jika semua sudah siap."
"Aku percaya padamu."
Hampir dua jam keduanya berada di dalam museum. Chanyeol berpikir jika museum adalah tempat yang sangat membosankan, namun bersama Jongin semuanya menyenangkan. Tunggu, apa dirinya mulai bersimpati kepada Jongin?!
Seusai acara jalan-jalannya dengan Jongin suasana hati Chanyeol benar-benar baik, sayang, seseorang yang tidak ingin ia lihat kini duduk dengan tenang, tanpa dosa, di sofa ruang tamunya. "Suho hyung."
"Ya, ini aku. Aku mampir untuk memberimu undangan pertunanganku dengan Baekhyun."
"Sudah lama kau menungguku?"
"Kira-kira satu jam."
"Kenapa tidak meninggalkannya saja, aku pasti akan membacanya dan aku pasti hadir." Chanyeol melangkahkan kedua kakinya menuju dapur mengambil minuman dingin.
Suho melangkah menyusul di belakang Chanyeol "Aku tahu hubunganmu dengan Baekhyun."
"Tidak perlu membahas masa lalu."
"Maaf aku membuatmu terluka. Aku mohon jauhi Baekhyun mulai sekarang."
"Tidak perlu memintanya aku sudah melakukan hal itu Hyung."
"Semoga kau dan fotografer terkenal itu bahagia."
"Terima kasih atas doanya Hyung."
"Kau tidak perlu memaksa untuk hadir." Suho menatap Chanyeol, menunggu reaksinya, Chanyeol dengan santai meminum air putih dari dalam botol kaca. Aku pergi dulu." Chanyeol hanya menatap lurus tanpa ekspresi. Chanyeol terpaku di tempat selama beberapa saat menunggu Suho benar-benar pergi.
"Aku menyesal kita bersaudara." Geramnya, ia letakkan botol air mineral ke atas konter. Chanyeol bergegas menuju ruang keluarga, menurunkan semua potret Baekhyun dan dirinya, Chanyeol menggunakan kardus bekas buah dan bekas alat elektronik untuk menyimpan semua barang-barang yang berhubungan dengan Baekhyun. Semuanya, di seluruh ruangan apartemennya, tidak ada satupun yang boleh tersisa. Kemudian Chanyeol pindahkan semua kardus itu ke gudang.
Memasukkan semua kenangan ke dalam kardus bukan perkara mudah, setiap benda yang Chanyeol sentuh dan lihat membangkitkan kenangan tentang dirinya dan Baekhyun, kemeja, kaos, sweater, syal, sepatu, buku, dan semua foto-foto. "Apa yang terjadi Baekhyun, kenapa kau tiba-tiba berubah dan menusukku dari belakang?" Chanyeol memegang salah satu frame berisi fotonya bersama Baekhyun di sebuah taman dengan latar belakang pohon sakura di musim semi.
Chanyeol menghapus permukaan kaca frame yang basah karena air matanya yang tak sadar menetes, ia masukkan frame terakhir ke dalam kardus, menutup, dan menumpuknya bersama kardus-kardus lain. Chanyeol menutup dan mengunci pintu gudang, apartemennya benar-benar sepi. Xumin memilih pulang meninggalkannya seorang diri. Ia putuskan untuk kembali ke dapur, karena perutnya mulai mengeluarkan suara protes, Chanyeol ingat ia hanya makan camilan kentang spiral bersama Jongin di Namsan tadi siang.
Undangan berwarna krem, dengan paduan pita emas yang Suho letakkan di atas konter dapur menarik perhatian Chanyeol. Sebenarnya dia berniat menyuruh Xiumin membuka dan membacakannya. Tangan kanan Chanyeol meraih undangan berbentuk indah itu, membuka dan membacanya. "Pesta pertunangan besok. Kalian terburu-buru." Gumam Chanyeol menahan perih. Ia letakkan undangan itu ke atas konter. "Kim Junmyeon! Byun Baekhyun! Brengsek!" semua kemarahan yang diatahannya meledak. Chanyeol mendorong vas bunga dan botol air mineral dari atas konter, benda rapuh tersebut hancur berkeping-keping saat beradu dengan lantai marmer keras.
Pandangan Chanyeol mulai buram karena genangan air mata, dia tidak pernah menyangka, seperti ini rasanya dikhianati, dunianya hancur. Chanyeol meraih pecahan gelas terdekat, memegangnya, memperhatikan benda tajam dengan pinggiran yang terpotong sempurna itu, tidak, dia tidak akan bunuh diri atau bertindak diluar batas, ia hanya ingin tahu apa luka fisik sebanding dengan luka lain yang kini ia rasakan.
Jauh di dalam hati, Chanyeol masih percaya bahwa Baekhyun tidak akan pernah mengkhianatinya, ia yakin ada sesuatu yang Baekhyun sembunyikan dan dia harus mencari tahunya. Ia genggam pecahan kaca itu, membiarkan dagingnya terobek, dan aroma darah menguar. Chanyeol membuka genggamannya menjatuhkan pecahan gelas dengan noda darah ke atas lantai marmer.
Chanyeol mengambil ponsel dari dalam saku celananya, menghubungi nomor yang dengan cara ajaib ia ingat di luar kepala. Mungkin, karena Jongin mirip dengannya.
"Kai. Kau sibuk?"
"Tidak, kenapa?"
"Aku membaca berita tentangmu, kau mantan pembalap liar dulu."
"Ya, kau mau mengejekku?"
"Tidak, aku ingin lihat seberapa cepat kau dapat memacu motormu." Tidak ada jawaban dari seberang sana. "Kai?"
"Aku terima tantanganmu."
"Bagus. Jemput aku di apartemenku."
Chanyeol beranjak dari dapur, menghindari pecahan kaca. Ia ke kamar untuk mengambil jaket kulit dan helm yang selama ini tak pernah ia sentuh. Ia abaikan tangannya yang terluka dan masih mengucurkan darah segar. Dia harus melepas beban yang kini terasa menekan.
"Kau cepat juga sampai."
"Aku tidak menyangka kau sudah menunggu di depan gedung apartemen, bagaimana dengan penggemarmu?"
"Aku tidak peduli."
"Hmm." Gumam Jongin, ia melihat tangan kiri Chanyeol terluka namun Jongin memilih untuk diam karena Chanyeol terlihat tidak ingin membahas hal itu. "Pakai jaket dan helmmu."
"Kita akan ngebut di jalan raya?"
"Ya. Itu yang kau inginkan kan?"
"Polisi?"
"Itu bagian terserunya." Chanyeol tersenyum miring, ia melihat motor Jongin tanpa dilengkapi plat nomor.
"Kau gila," gumam Chanyeol.
"Aku tahu, tutup mulutmu dan naik sekarang."
Chanyeol memasang helm di kepalanya, memakai jaket kulitnya, dan naik ke boncengan motor Jongin. "Kai, tunjukkan kehebatanmu."
"Hmm." Gumam Jongin, ia hidupkan mesin motornya, deru mesin yang halus namun terdengar kuat meraung memecah kesunyian, Jongin mengetes gas motornya, setelah puas, ia lepaskan gas motor, memasukkan gigi motor balapnya, dan mulai melaju meninggalkan komplek apartemen Chanyeol dengan kecepatan rendah menuju jalan raya.
"Bersiaplah Chanyeol!" Teriak Jongin, ia harus berteriak karena suaranya teredam helm yang ia kenakan.
"Ya!" teriak Chanyeol membalas.
Jongin menarik napas dalam-dalam, jantungnya berdebar kencang, dia selalu menyukai hal-hal menantang. Sesuatu yang ditentang oleh mayoritas orang tua di seluruh belahan dunia manapun. Jongin memacu motornya dalam kecepatan tinggi, meliuk dengan lincah melewati kendaraan lain, menerobos lampu lalu lintas.
Chanyeol melihat gedung-gedung, pepohonan, orang-orang, dengan cara yang berbeda, semuanya terlalui dengan cepat, bahkan cahaya terlihat seperti kilatan sekarang. Kedua tangan Chanyeol yang tadinya berada di sisi tubuhnya, kini perlahan bergerak memeluk pinggang Jongin saat ia rasakan kecepatan motor mulai bertambah. Jantungnya berpacu, namun Chanyeol tidak tahu alasan jantungnya berdetak secepat itu, karena adrenalin pengalaman pertamanya menaiki motor dalam kecepatan tinggi, atau karena hal lain.
Suara sirine mobil polisi terdengar, Chanyeol bisa mendengar tawa mengejek Jongin di balik helmnya. Jongin menambah kecepatan motor, Chanyeol mengeratkan pelukannya pada pinggang Jongin. Sirine tak terdengar, Chanyeol menoleh dan melihat mobil polisi sepertinya tak sanggup mengejar kecepatan mereka.
Puas memacu adrenalin, Jongin membawa motornya ke tepian sungai Han. Tentu di bagian yang sepi, bagian sungai yang tidak terjamah pembangunan. Hanya tepian tak terawat ditumbuhi ilalang. Chanyeol melompat turun, ia buka helmnya. "Ini hebat!" pekik Chanyeol kemudian tertawa puas.
"Hmm, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, terlihat jelas."
"Begitulah." Chanyeol berjalan melewati Jongin yang masih duduk di atas motornya. Menuju tepian sungai.
Jongin turun dari motor, membiarkan mesin tetap menyala karena mereka butuh penerangan di tepi sungai tak terjamah ini. Jongin duduk di samping Chanyeol, memperhatikan garis wajah Chanyeol dan ekspresinya yang tak terbaca karena minim penerangan. "Rawat lukamu." Ucap Jongin, memecah kesunyian.
"Terima kasih atas saranmu." Balas Chanyeol acuh.
Chanyeol bisa mendengar hembusan napas kasar Jongin, ia hanya diam saat Jongin menarik tangannya yang terluka. Kemudian melakukan sesuatu pada lukanya. "Kau mengikatnya dengan sapu tangan?" Chanyeol melempar tatapan mengejek.
"Untuk mencegahnya terkena lebih banyak kotoran, kau mau lukamu infeksi dan parah? Kau ini, meski sedang marah perhatikan dirimu." Ceramah Jongin.
"Untuk seseorang yang gemar menantang bahaya, kau tidak pantas menasehatiku."
"Aku tidak pernah bertindak ceroboh, setiap tindakanku aku perhitungkan dengan matang. Buktinya hingga detik ini aku baik-baik saja."
"Ya, ya, terserahlah."
"Minta Xiumin hyung merawat lukamu jika kau terlalu malas melakukannya."
"Kenapa tiba-tiba kau peduli? Apa kau terlalu menghayati peranmu dalam hubungan pura-pura kita?" Chanyeol menatap lekat wajah Jongin yang kini tampak jelas, kedua matanya sudah beradaptasi dengan cahaya minim. Dilihatnya Jongin menggeleng pelan.
"Aku peduli pada orang-orang yang bekerja bersamamu dan orang-orang yang peduli padamu, itu saja."
"Kau salah satunya?"
"Kenapa tiba-tiba kau menuntut jawaban yang menyebalkan dariku. Apa kau berharap aku peduli?"
"Tidak juga. Terima kasih sudah merawat lukaku."
"Sama-sama." hening sejenak, Jongin mencoba menata kalimat yang akan ia ucapkan. "Jika tak keberatan, apa aku boleh tau sesuatu yang mengganggumu?"
"Oh itu—hanya pertunangan Suho dan Baekhyun besok."
"Kau datang?"
"Tidak ada pilihan lain, mungkin aku bisa menemukan jawaban Baekhyun di sana."
Jongin mencabut akar rumput terdekat, membuangnya ke sembarang arah bosan dengan pembicaraan Chanyeol yang topiknya tidak pernah jauh dari Baekhyun. "Bagaimana jika kesepakatannya kita ubah Chanyeol."
"Maksudmu?"
"Kita tidak usah menikah aku akan membantumu mencari tahu alasan Baekhyun memilih Suho, bagaimana?"
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya, akan terlihat sangat jelas jika aku menginginkan Baekhyun kembali. Kau tahu melawan Suho itu tidak mudah, seluruh anggota keluargaku pasti mendukung Suho, dia sosok yang sangat sempurna di mata keluargaku." Chanyeol mendesah pelan. "Dan aku hanya anak kecil pembuat onar."
"Memberikan kabar pernikahan mendadak, mengundang ke pertunangan juga dengan cara yang mendadak, jelas sekali jika Suho ingin kau terpuruk, apa dia menginginkan sesuatu darimu?" Jongin menatap Chanyeol dengan serius. "Mungkin Suho menyukai Baekhyun sejak lama."
Chanyeol mengangguk. Jongin tersenyum miring. "Sudah aku duga."
"Kau akan pergi bersamaku ke pertunangan mereka kan?"
"Tidak bisa, aku ada janji dengan Sehun."
"Sehun?!" pekik Chanyeol, tak percaya dengan nama yang baru saja Jongin ucapkan.
"Hmm. Aku bekerjasama dengannya, kenapa?"
"Apa yang akan kau lakukan besok dengan Sehun?"
"Hanya makan bersama, dan membicarakan pekerjaan itu saja. Tenang, aku tidak akan membicarakanmu, hubungan kalian tidak terlalu baik aku tahu itu."
Chanyeol menelan ludahya kasar. Ia harus mencari ide agar Jongin tidak pergi dengan Sehun. "Aku tidak peduli, besok kau harus pergi denganku ke pertunangan Suho dan Bekhyun, ini bagian kontrak!" ucap Chanyeol tegas.
"Baiklah, sepertinya melawanmu hanya akan membuat kita bertengkar. Jam berapa kau akan pergi? Aku akan menyesuaikan jadwalku."
"Jam satu siang."
"Aku bisa bertemu dengan Sehun di malam hari."
"Itu bisa diterima," bisik Chanyeol.
"Jangan menangis di pertunangan Baekhyun."
"Kau pikir aku cengeng."
"Kau tidak kuat." Balas Jongin menusuk. Chanyeol diam, Jongin benar dia terlalu mencintai Baekhyun, ia ingin seperti Jongin bersikap acuh kepada seseorang yang telah melukainya, sayang, dirinya sangat berbeda dengan Jongin.
"Kris—dia terlihat bahagia dengan Luhan, Luhan juga imut tipe Kris sekali." Chanyeol menoleh menatap Jongin, terkejut kenapa ia membicarakan Kris secara tiba-tiba.
"Apa akhirnya kau merasakan sesuatu?" Ejek Chanyeol.
"Mustahil aku tidak merasakan apapun, setelah menjalin hubungan yang cukup lama. Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan. Itu saja."
"Kau aktor yang hebat Kai."
Jongin tertawa pelan. "Menyedihkan aku bercerita padamu."
"Kau sudah makan malam?" Chanyeol menglihkan topik pembicaraan.
"Belum, berniat untuk mentraktirku?"
"Ya, tapi kita ke apartemenku dulu, motormu terlalu berbahaya untuk dibawa keluar." Jongin melirik motor balap tanpa plat nomor miliknya, ia setuju dengan kalimat Chanyeol.
"Aku setuju." Jongin menjawab singkat.
Dapur Chanyeol terlihat seperti medan perang, begitulah kenyataan yang Jongin saksikan sekarang. "Kau tidak berniat untuk membersihkannya?"
"Tidak."
"Kasihan Xiumin." Jongin membayangkan laki-laki imut berpipi gembil yang Kyungsoo sukai, akan bernasib sial besok.
"Xiumin hyung sudah terbiasa dengan ini. Aku bukan orang baik."
Jongin menoleh memperhatikan Chanyeol yang sibuk keluar masuk kamar. "Aku percaya jika kau bukan orang baik."
"Kai!"
"Hmm?"
"Kau bisa menbantuku merawat luka ini?"
"Tentu, kemarilah." Jongin mengisyaratkan kepada Chanyeol untuk duduk di meja makan. Chanyeol menurut sambil membawa kotak obat di tangannya yang sehat. Jongin langsung membuka balutan sapu tangannya pada luka Chanyeol dan memeriksa luka di tangan kiri itu. "Aku rasa tidak perlu dijahit. Tunggu di sini."
Jongin berdiri, berjalan menuju dapur, kakinya menginjak pecahan kaca, menimbulkan suara mengganggu. Tidak masalah dirinya mengenakan boot kulit dengan sol tebal, pecahan kaca tak mampu menembus sol dan melukai telapak kakinya. Ia mengambil air mineral dan wadah plastik, Jongin juga mencuci kedua tangannya.
Keduanya duduk berhadapan, perlahan Jongin mencuci luka Chanyeol, membersikan dari debu dan darah kering yang melekat. Chanyeol diam memperhatikan. "Apa—kau pernah bergabung dengan Palang Merah di sekolah?"
"Tidak, aku sering terluka."
Chanyeol mengernyit merasakan sensasi menyengat saat Jongin mengoleskan salep luka tipis-tipis pada lukanya. Setelah olesan salep merata, luka itu kemudian dibalut dengan perban. "Selesai. Besok minta tolong Xiumin untuk membuka perban, membersihkan, mengolesi obat, dan membalutnya dengan perban. Ganti dua kali sehari."
Chanyeol mengangguk ia perhatikan balutan perban Jongin yang cukup rapi. "Mungkin, kau bisa jadi dokter."
Jongin tertawa pelan. "Jika aku ingin jadi dokter aku tidak akan kabur ke Afrika untuk bersinggungan dengan alam liar."
"Keluargamu memintamu jadi dokter?"
"Dulu, aku yakin mereka sudah menyerah sekarang."
"Hmm, tiba-tiba aku malas keluar, kau mau makan ramyun?"
"Ya, tidak masalah. Biar aku yang memasaknya. Tanganmu terluka."
Jongin meninggalkan Chanyeol di meja makan ia kembali menuju dapur, mengabaikan kedua kakinya yang menginjak pecahan kaca. Memasak ramyun instan adalah keahliannya, memang siapa yang tidak bisa memasak mie instan? "Dimana kau menyimpan ramyun?"
"Di dalam lemari pendingin." Jongin mengambil dua bungkus ramyun dengan rasa yang sama jadi dirinya tidak perlu memasak dua kali.
Chanyeol diam memperhatikan mangkuk buah di hadapannya, tidak ada obrolan yang tercipta karena Jongin terlalu sibuk dengan masakannya, selain itu, keduanya merasa tidak ada lagi topik yang bisa dibicarakan.
Lima menit kemudian, Jongin kembali ke hadapannya dengan dua mangkuk yang berisi ramyun. Mengepul, menguarkan aroma lezat. "Selamat makan," gumam Chanyeol sebelum menikmati ramyun lezatnya.
"Letakkan saja mangkuk kotornya."
"Oke." Jongin menurut ia tumpuk mangkuk dan sumpit kotor ke dalam bak cucian, ia mengambil dua botol air mineral dari dalam lemari pendingin, melemparkan salah satu botol kepada Chanyeol. Chanyeol menangkap botol itu dengan mantap. "Terima kasih."
"Hmm." Gumam Jongin membalas.
Jongin meneguk air mineral berisi 350ml sampai habis, ia masukkan botol kosong itu ke dalam tempat sampah di dapur Chanyeol. "Sudah pagi," layar ponselnya menunjuk angka dua. "Aku harus bangun pagi karena kau akan mengganggu lagi nanti." Ucap Jongin dengan nada bercanda sambil melirik Chanyeol.
Chanyeol tertawa pelan menanggapi kalimat Jongin. "Terima kasih kau bersedia aku ganggu." Jongin hanya mengendikkan bahu.
"Jongin!" Chanyeol merogoh kantong celananya. "Aku tidak bisa membiarkanmu pulang dengan motor tanpa platmu, bawa mobilku, kau bisa menyetir kan?"
"Hmm."
"Bagus." Chanyeol melempar kunci mobilnya, "Kau tahu mobilku kan? Ikuti papan petunjuk yang akan mengarahkanmu ke tempat parkir."
"Terima kasih."
Chanyeol berjalan di depan memimpin Jongin untuk keluar dari apartemennya, langkah kaki keduanya menggema dalam tempo yang serasi. Sesampainya di depan pintu, Chanyeol mengetikkan kode pengaman, membukakannya untuk Jongin.
Jongin melangkah keluar. "Kai." Panggilan Chanyeol menghentikannya. "Hati-hati di jalan, aku tidak akan mengganggumu sampai pukul sebelas siang, tidurlah yang nyenyak."
"Kata-katamu membuatku mual."
Jongin tertawa pelan. "Beruntung kau hanya mual, tidak muntah di lantai marmer mahalku."
"Brengsek," umpat Jongin kemudian tersenyum. "Aku titip motorku, oh ya kuncinya aku bawa supaya kau tidak bisa mengendarainya."
"Terserahlah, sampai besok Kai."
"Sampai besok."
Chanyeol tidak langsung menutup pintunya, ia perhatikan punggung Jongin yang menjauhinya. Memikirkan apartemen kosongnya benar-benar menyebalkan, ia yakin bayangan Baekhyun bebas mengganggunya setelah ini. Atau mungkin—dia bisa memikirkan hal lain. Chanyeol tidak sadar saat kedua kakinya bergerak dengan cepat menyusul Jongin.
"Kai!" Jongin berhenti, berbalik menatap Chanyeol tidak mengerti alasan Chanyeol menyusulnya.
"Aku janji mobilmu akan baik-baik saja." Chanyeol takut mobilnya lecet, hanya itu yang ada di pikiran Jongin. Memang ada alasan lain kenapa Chanyeol mengejarnya? Selain mobil?
Jongin hanya terpaku, terlalu terkejut dengan tindakan Chanyeol yang mencium dan melumat bibirnya. Chanyeol menekan tengkuk Jongin memperdalam ciumannya. Jongin berusaha sekuat tenaga untuk tak terbuai.
Chanyeol melepaskan ciumannya, Jongin menatap bingung. "Hmm—anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau menemaniku seharian ini."
Jongin menelan ludahnya kasar, menatap Chanyeol sinis. "Itu cara berterimakasih yang aneh, lain kali jika kau melakukannya maka tunjangan bulananku aku naikkan." Ancam Jongin, berusaha agar dirinya terlihat tak terpengaruh oleh ciuman itu.
"Hmm." Gumam Chanyeol. "Hati-hati di jalan." Ucap Chanyeol, kemudian iapun berbalik dan berjalan pergi.
Jongin menghembuskan napas kasar, ia gigit pelan bibir bawahnya. Ciuman Chanyeol masih terasa jelas pada permukaan bibirnya.
TBC
