Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Maaf jika kalian bosan membaca cerita borongan saya, saya juga uploadnya borongan ya ampun, gratis teman-teman segarnya Big Cola, happy reading.
Previous
Jongin menelan ludahnya kasar, menatap Chanyeol sinis. "Itu cara berterimakasih yang aneh, lain kali jika kau melakukannya maka tunjangan bulananku aku naikkan." Ancam Jongin, berusaha agar dirinya terlihat tak terpengaruh oleh ciuman itu.
"Hmm." Gumam Chanyeol. "Hati-hati di jalan." Ucap Chanyeol, kemudian iapun berbalik dan berjalan pergi.
Jongin menghembuskan napas kasar, ia gigit pelan bibir bawahnya. Ciuman Chanyeol masih terasa jelas.
Bab Enam
"Terima kasih, maaf membuatmu kecewa sekali lagi aku minta maaf." Jongin menghembuskan napas kasar, setelah berdebat dengan Oh Sehun selama hampir satu jam, akhirnya model terkenal itu setuju untuk mengubah jadwal pertemuan mereka. Oh Sehun juga masuk dalam daftar manusia menyebalkan bagi Jongin setelah Kris dan Chanyeol, tapi model terkenal itu kliennya, dan menjaga kepercayaan klien sangat penting, begitu pesan Kyungsoo.
Jongin berbaring terlentang, menatap langit-langit kamarnya. Ia sudah tidur selama tujuh jam. Sekarang pukul sembilan pagi masih ada sisa waktu dua jam sampai Chanyeol mengganggunya. Suara alarm kokok ayam jantan terdengar nyaring, dengan kasar, Jongin meraih jam bekernya, menekan tombol merah jengkel untuk menghentikan suara berisik yang sebenarnya sangat berjasa untuknya.
Ia letakkan kembali bekernya ke atas meja nakas, dan kini giliran suara lain yang mengusiknya. Ponselnya, Jongin berharap itu bukan Sehun. Otaknya sedang buntu untuk merangkai kalimat meyakinkan Sehun. "Ibu!" pekik Jongin tertahan, ia sambar ponselnya dan melompat turun dari ranjang.
"Halo Ibu."
"Bocah tengik! Kau tidak memberi kabar pada keluargamu, lalu muncul berita mengejutkan kau akan menikah?! Anak macam apa kau?!"
Telinga Jongin berdenging, lengkingan suara ibunya memang tiada dua, Kyungsoo kalah telak."Maaf, aku sibuk Ibu."
"Apa kau masih bermain dengan para gorila?! Atau apa kau masih suka balapan liar?!"
"Tidak Ibu, aku sudah berubah, Ibu tahu sendiri apa pekerjaanku sekarang."Jongin memijit batang hidungnya, kepalanya pening, mendengar omelan pagi hari. Setelah perdebatan panjang dengan Sehun yang baru berakhir kurang dari lima menit yang lalu.
"Baiklah, tidak ada gunannya meneriakimu.
"Kenapa tidak daritadi…," keluh Jongin tanpa sadar.
"Hei apa yang kau katakan tadi?!"
"Tidak Ibu, tidak ada, mungkin Ibu salah dengar."
"Beri kabar kapan pastinya tanggal pernikahanmu, dan hei sejak kapan kau menjalin hubungan dengan penyanyi terkenal, Chan-Yeol? terakhir kali Ibu tahu pacarmu orang China blesteran Kanada."
"Kalau ada waktu aku ceritakan, Ibu aku harus siap-siap." Jongin memutus percakapan dengan seenaknya sendiri, tidak tahan terus diteriaki seperti pencuri. Jongin menghembuskan napas kasar, ada pesan dari Kyungsoo yang mengabarkan bahwa dia harus pergi ke apartemen Chanyeol untuk membereskan kekacauan bersama Xiumin.
"Apa lagi ulahnya?" gumam Jongin, ia putuskan untuk pergi ke dapur, membongkar isi lemari pendingin, dan memakan apapun yang bisa dimakan. Ramyun tadi malam sudah habis tercerna lambungnya.
Saat Kyungsoo memutuskan ada orang lain yang lebih penting darinya, saat itulah Jongin merasa tak berdaya, di dalam lemari pendinginnya tidak ada makanan layak. Hanya ada soda kalengan, sekotak susu basi yang lupa ia keluarkan, dan kubis berair. Ia tutup kembali pintu lemari pendingin. Ia sandarkan dahinya di sana, tak berdaya. "Menyedihkan," gumam Jongin, memelas. "Aku harus melakukan hal yang berguna!" pekik Jongin menemukan semangatnya kembali.
Ia berlari kembali ke kamar, mandi, dan mencari makanan di luar. Salah satu hal yang ia sukai di musim panas adalah jadwal mandinya yang teratur, di musim lain karena udara terlalu dingin baginya, Jongin malas mandi. Alasan bodoh mengingat sekarang ada banyak mesin pemanas air dalam berbagai merk yang dijual. Kyungsoo menyebutnya Jong-Jong Pemalas sebutan lain setelah Papan Penggilasan.
Jongin bersiul-siul ceria sepanjang jalan, mengabaikan pandangan orang-orang yang tertuju kepadanya. Chanyeol dan Sehun yang terang-terangan mengatakan sebagai penggemar beratnya membuat nama Jongin jadi ikut terbawa tenar, jujur Jongin tidak suka hal itu. Jongin melangkahkan kakinya memasuki sebuah kafe untuk mengisi perutnya.
Kafe terlihat sepi hal yang aneh mengingat kafe yang didominasi dengan warna merah sehingga disebut Red Café itu merupakan salah satu kafe yang cukup terkenal di Gangnam. Mungkin ada artis di dalam, mengingat gedung tiga agensi besar terletak tidak jauh dari kafe ini. "Menyebalkan," keluh Jongin, ia terpaksa harus mencari kafe lain dan menahan rasa laparnya lebih lama, karena para orang terkenal yang menginginkan privasi selalu menutup kafe untuk umum ketika mereka berkunjung.
"Jongin!"
"Oh tidak," keluh Jongin, seharusnya dia lebih percaya pada firasatnya dan cepat-cepat angkat kaki dari depan Red Café. "Hai Sehun." Jongin mencoba terdengar ramah, meski dirinya sedikit jengkel.
"Ayo masuk." Ajak Sehun dengan senyum lebar menghias wajah tampannya.
"Tidak, kau sudah memesan kafe untukmu sendiri."
"Aku mengundangmu, apa kau menolak?"
Jongin ingin menolak, namun tatapan Sehun terlihat menuntut dan jangan lupakan tangan kanan Sehun yang kini telah menarik tangan kirinya. "Baiklah." Jongin pasrah. Ia berjalan mengekori Sehun, tidak ada seorangpun, seperti semua orang terkenal lakukan, Sehun memesan seluruh kafe untuk dirinya sendiri.
"Itu meja yang aku pilih, dan dia menejerku Chen hyung." Sehun menjelaskan bahkan sebelum Jongin sempat bertanya.
"Oh." Balas Jongin singkat.
"Chen hyung ini Jongin, fotografer yang akan bekerjasama dengan kita di London." Jongin tidak mengerti kenapa Sehun terdengar sangat antusias memperkenalkan dirinya, Jongin merasa tidak ada yang istimewa dari dirinya yang patut untuk dibanggakan oleh siapapun.
"Senang bertemu langsung denganmu, sebelum ini aku hanya melihatmu di berita."
Berita? Tentu saja, Jongin mencoba tersenyum menyambut uluran tangan Chen untuk berjabat tangan. "Kim Jongin, salam kenal."
"Panggil saja aku Chen." Jongin mengangguk pelan, ia duduk dan menarik kursinya lebih dekat ke arah meja.
"Pesanlah, aku traktir." Ucap Sehun, sembari menyodorkan daftar menu kepada Jongin. Jongin menerima daftar menu, membukanya, meneliti setiap menu dan gambar yang terpampang, semuanya tampak lezat, membuatnya bingung. "Aku akan menghadiri pertunangan Suho dan Baekhyun hari ini, pukul dua belas siang, kau hadir kan?"
"Hmm."
"Kita bisa pergi bersama jika kau mau?" Jongin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tidak tahu harus menjawab apa. "Aku bercanda, tentu sja kau akan pergi dengan Chanyeol."
"Chessy French Toast dan jus orange." Jongin menyebutkan pesanannya untuk sarapan, mengalihkan topik pembicaraan sebenarnya.
"Hmm," gumam Sehun, ia mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan kepada salah satu pelayan untuk mendekat. Jongin memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengamati interior kafe. "Kau dan Chanyeol saling mencintai."
Jongin ingin sekali menyumpal mulut Sehun membuatnya berhenti membicarakan Chanyeol yang berakibat buruk pada pikirannya karena terus memutar ciuman tidak jelas Chanyeol.
"Kalian terlihat romantis saat di tour bus, di Namsan, juga ciuman di lobi apartemen Chanyeol."
Jongin hampir tersedak ludahnya sendiri, Sehun terlalu terang-terangan mengatakan semua yang ia ketahui, ada Chen, menejer yang tak pernah Jongin temui sebelumnya. Dan kini Chen harus ikut mendengar kalimat tidak penting Sehun.
"Soal ciuman itu sangat mengejutkan, aku tidak menyangka kalian bisa dekat dalam waktu sangat singkat, mengingat Suho dan Baekhyun sama sekali belum menunjukkan kedekatan mereka, aku bahkan menduga jika pernikahan Suho dan Baekhyun hanya setingan belaka."
Jongin bungkam, memilih untuk tidak peduli. Menulikan telinganya dan membayangkan Sehun adalah salah satu badut taman hiburan yang lucu, meski ucapannya menyebalkan. "Ada sesuatu dibalik pernikahan Suho dan Baekhyun, mungkin di pernikahanmu juga." Sehun menatap tajam Jongin.
Jongin tersenyum manis. "Untuk seorang model yang sibuk, ternyata kau punya banyak waktu untuk membaca berita dan mencampuri urusan orang lain."
"Aku penasaran." Balas Sehun, ia angkat cangkir tehnya, menyesapnya sembari bersandar pada kursi rotan tempatnya duduk. Sehun menyilangkan kakinya, menatap Jongin dengan gesture menantang.
"Pesanan datang!" pekik Chen ceria, terlalu heboh dan terlihat aneh dia tidak peduli, yang penting suasana tegang seperti medan perang ini segera berakhir.
"Terima kasih," gumam Jongin pada pelayan wanita yang menyajikan pesanannya. Jongin mencabik French toastnya dengan cepat, ia tidak menyangka niatan untuk mengisi perut bisa berakhir tragis seperti ini.
"Jangan tergesa-gesa masih ada waktu dua jam setengah sebelum acara pertunangan Suho dan Baekhyun dilaksanakan, lagipula gedung acaranya di Gangnam."
"Cukup." Ucap Jongin tegas. "Berhenti membahas Suho, Baekhyun, dan Chanyeol."
"Ah, rupanya kau tidak nyaman, maafkan aku, aku tidak akan membahas mereka lagi." Sehun berucap santai dan tersenyum tanpa dosa.
Jongin memasukkan dan mengunyah potongan French toastnya dengan cepat, dia tidak ingin melihat Sehun lebih lama lagi. Jika Sehun tidak berhenti bersikap menyebalkan, Jongin takut tangannya akan melempar benda berbahaya ke wajah Sehun yang berharga.
Jongin mengunyah dan menelan potongan French toast terakhirnya, meski marah dan kesal namun kesejahteraan perut tetap nomor satu bagi Jongin. Ia minum jus jeruknya dengan cepat. Sehun menatap Jongin tidak percaya, orang semanis Jongin bisa makan dengan—brutal.
"Terima kasih sudah mentraktirku, jadi nanti malam kita tidak perlu bertemu, jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan hubungi Kyungsoo hyung." Jongin berdiri dari kursinya, pergi secepat mungkin sebelum Sehun memiliki amunisi lain untuk menyerangnya.
"Lain kali aku juga ingin naik motor balapmu."
"Sial!" Jongin mengumpat pelan, tanpa menoleh Jongin mempercepat kedua langkah kakinya keluar kafe. "Sepertinya aku harus melakukan ritual buang sial, kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang menyebalkan macam Kris, Sehun dan Chanyeol." gerutu Jongin.
Cepat-cepat ia berlalu melintasi bangunan Red Café tanpa menoleh ke dalam karena ia yakin jika menoleh, saat ini Sehun tengah menatapnya, ia hanya tidak ingin terlihat canggung, memalukan, dan kalah di depan manusia menyebalkan macam Sehun.
"Kai!"
"Oh tidak," gumam Jongin, hari ini takdir benar-benar membencinyatanpa menoleh Jongin tahu siapa yang memanggilnya maka ia memilih untuk menyelamatkan diri dari orang menyebalkan lainnya. Taemin.
"Kai!"
"Berhenti! Jangan mengejarku!" pekik Jongin, ia langsung ambil langkah seribu melewati gang-gang di antara gedung, jalan pintas bertujuan agar Taemin kehilangan jejak. "Kenapa dia suka sekali mengejarku, aku yakin hutangku sudah aku bayar." Bahkan saat berlari Jongin masih sempat menggerutu.
"Berhenti atau semua orang akan tahu rahasia terbesarmu!" Taemin berteriak mengancam Jongin.
"Curang." Gerutu Jongin, tapi harga dirinya terlalu berharga untuk dikorbankan dia menurut dan berhenti, berbalik menatap Taemin dengan cengiran kemenangan menghiasi wajahnya. "Apa maumu?"
"Kau kasar sekali menyambut sahabat sendiri."
Jongin mengerutkan dahinya. "Tidak ada sahabat yang suka mengancam sepertimu."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Taemin langsung bertanya tanpa basa basi seperti biasa.
"Mencari makanan yang layak, kau sendiri?"
"Aku ingin kencan di Red café."
"Kau masih bersama Minho?"
"Ya, aku tipe setia, tidak sepertimu."
"Aku setia, ingat itu, aku menjalin hubungan setelah hubungan sebelumnya kandas, jadi jangan menyematkan julukan macam-macam padaku."
"Player."
"Tutup mulutmu."
Taemin tersenyum lebar. "Kau masih kesal padaku? Aku sudah minta maaf, Minho juga sudah minta maaf ayolah aku ingin hubungan persahabatan kita kembali normal."
"Ini sudah normal, memang kau mau yang seperti apa? Saling memuji dan bertukar hadiah." Keduanya berpandangan selama beberapa detik kemudian menggeleng cepat, membayangkannya saja terlalu menjijikkan.
"Jangan mencoba mengirim hadiah padaku." Peringat Taemin.
"Tapi kalau Minho yang melakukannya kau pasti terima."
"Dia berbeda."
"Hmmm." Balas Jongin malas.
"Kau tidak memberitahu kabar pernikahanmu, jahat sekali. Undang aku jangan lupa."
"Jika kau berhenti mengancamku, lagipula ancaman itu tidak berguna. Aku bukan orang terkenal."
"Belum. Lihat saja saat kau terkenal nanti dan berita ini menyebar pasti aku untung besar." Ucap Taemin dengan kedua bola mata yang berbinar membayangkan semua keuntungan yang akan didapatnya.
"Itu tidak akan terjadi, memang siapa yang mau mendengar kisah masa lalu memalukan." Jongin membalas santai.
"Kita lihat saja nanti."
"Taemin!" protes Jongin jengkel.
Taemin tertawa lepas. "Tentu saja aku tidak akan melakukan hal buruk seperti itu, meski kau jelek, kita tetap sahabat."
"Wajah kita mirip, jika aku jelek kau juga."
"Oh tidak aku lebih tampan dan keren darimu. Buktinya Minho betah denganku."
"Hah, aku menikah lebih dulu darimu." Jongin ingin sekali menggigit lidahnya karena menyombongkan pernikahan yang sesungguhnya tidak bisa dibanggakan sama sekali.
"Ya, aku akui kemenanganmu. Aku tidak peduli lagi dengan kisah cintamu, mantanmu terlalu banyak. Tapi Red café sedang dipesan khusus bagaimana kau bisa masuk?"
"Kau melihatku masuk?"
"Tidak, aku melihatmu keluar." Jelas-jelas tadi Jongin kabur darinya, Taemin menatap sahabatnya yang terkadang linglung itu, jengah.
"Oh, aku diundang salah satu klienku."
"Sehun?" Jongin mengangguk pelan. "Jadi benar ada Oh Sehun di sana, aku membaca berita di internet." Jongin kembali mengangguk membenarkan ucapan Taemin.
"Jadi—kabar kerjasamamu dengan Sehun benar, kau akan melakukan pemotretan dengannya di London? Apa Chanyeol memberimu ijin? Apa Chanyeol ikut? Kalian kan masih pengantin baru." Jongin hanya bisa menghembuskan napas berat meratapi hidupnya yang malang, setelah Kyungsoo dan ibunya, ada Taemin, orang cerewet lain yang harus ia hadapi.
"Aku tidak akan menjawabmu."
"Akan aku katakan rahasia terbesarmu."
"Katakan saja, jika aku menangis saat Choi Minho menyatakan cintanya padaku, karena aku takut dengan wajah Minho yang mirip Keroro." Taemin melempar tatapan sebal. "Sekarang dia kekasihmu, apa kau tidak merasa sakit hati orang yang disukai Minho pertama kali bukan kau?"
"Kenapa sakit hati, orang yang aku sukai pertama kali juga bukan Minho."
Jongin ingin melanjutkan obrolannya dengan Taemin, sayang ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia jawab panggilan Chanyeol yang sepertinya penting, Jongin mengerutkan dahi sepertinya dia melupakan sesuatu, tapi dia belum menemukan hal apa yang telah ia lupakan.
"Kau dimana? Aku di depan apartemenmu tidak ada orang di dalam."
"Oh, aku— kira-kira berada seratus meter dari Red Café, kenapa kau datang?"
"Apa kau lupa?! Kita harus menghadiri pertunangan Suho dan Baekhyun."
"Aku lupa." Jongin membalas tanpa dosa. Pertunangan Suho dan Baekhyun, tentu saja hal itu penting, penting bagi Chanyeol, bukan untuknya jadi tidak heran jika dirinya lupa.
"Apa kau sudah siap?"
"Belum, apa pestanya harus mengenakan stelan formal?"
Jongin berhenti sejenak, menoleh pada salah satu toko pakaian, memperhatikan penampilannya yang terpantul pada kaca etalase. Ia sedang menganakan kaos football berwarna putih dengan nomor punggung 21 dan nomor yang sama tercetak dalam ukuran kecil pada dada kiri kaos, berwarna hitam, jins hitam tanpa robekan. "Aku rasa—aku siap."
"Aku ke sana sekarang, jangan ubah posisimu."
"Hmm." Gumam Jongin, tidak sampai satu detik panggilan Chanyeol terputus.
"Siapa?" Taemin tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Chanyeol."
"Kalian akan kencan?"
"Tidak, kami akan..," Jongin ragu apa perlu mengatakan hal ini pada Taemin. "Kami akan menghadiri pesta pertunangan mantan Chanyeol."
"Maksudmu Baekhyun?"
"Ya."
"Kisah cinta yang tragis, beruntung Chanyeol menemukanmu disaat yang tepat." Taemin tersenyum tulus, Jongin merasa dadanya nyeri, ia sudah membohongi orang-orang terdekatnya tentang pernikahan, sesuatu yang seharusnya suci dan hanya dilakukan sekali seumur hidup.
Mobil sport kuning berhenti di depan Jongin dan Taemin. Jongin menoleh kepada Taemin, melambaikan tangannya singkat kemudian berjalan menghampiri mobil itu. jendela mobil diturunkan menampakkan wajah Chanyeol yang terlihat kesal. "Cepat masuk."
Sehun bilang gedung tempat Suho dan Baekhyun melangsungkan pesta pertunangan mereka berada di kawasan Gangnam, kenapa Chanyeol memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi, seolah-olah jarak gedung ada di pulau lain.
"Kita kemana?" Jongin melihat papan yang menunjukkan keduanya keluar dari distrik Gangnam.
"Grand Hyat." Balas Chanyeol singkat. Hotel mewah tentu saja, Grand Hyat di Yongsam, Hannam-Dong.
Ekspresi wajah Chanyeol benar-benar tidak enak untuk dilihat, karena itu Jongin memilih bungkam. Ia yakin Chanyeol bahkan akan marah mendengar lelucon.
Chanyeol keluar dari mobil tanpa menoleh untuk melihat Jongin, ia serahkan kunci mobilnya pada petugas hotel untuk diparkirkan. Chanyeol berjalan cepat memasuki gedung hotel, sekali lagi meninggalkan Jongin. Jongin juga tidak peduli dengan kelakuan unik Chanyeol. ia mengerti pasti Chanyeol sedang kacau sekarang. Siapa yang tidak kacau melihat orang yang kau cintai bersanding dengan orang lain. Jongin memilih untuk memperhatikan interior hotel yang sangat mewah, cocok dijadikan latar belakang pemotretan bernuansa kerajaan atau semacamnya.
"Jongin! Cepatlah!" pekik Chanyeol tidak sabar, ia hanya berjarak beberapa langkah dari pintu lift. "Cepat, atau aku tinggal."
Jongin mendengus sebal, kenapa dirinya harus terkena imbas padahal yang membuat Chanyeol kesal bukan dirinya. "Ya." Balas Jongin singkat, ia berlari kecil menghampiri Chanyeol. Tanpa basa-basi Chanyeol langsung menariknya masuk lift.
Tidak ada yang istimewa dari pesta orang-orang kaya, jika kau mengabaikan para undangan yang dipenuhi dengan nama-nama terkenal, dan semua hal mewah yang terlalu berlebihan. Semua mata tertuju pada Jongin, tentu saja karena gaya berpakaian Jongin yang pasti menurut mereka urakan, gaya berpakaian adalah hal sensitif di kalangan orang berada, kau harus tampil modis dan mewah, sedikit terlihat dibawah level maka tatapan meremehkan harus kau terima, tapi Jongin tidak peduli dengan semua hal itu.
"Kau tidak peduli dengan tatapan mereka?"
"Sehun!" kedua mata Jongin membulat sempurna.
"Apa kau lupa, aku juga diundang di pesta ini."
Jongin melirik ke arah lain mencari keberadaan Chanyeol yang terpisah darinya. "Jika kau mencari calon suamimu di ada sana bersama keluarganya. Aku pikir kau tidak pantas untuk bergabung."
"Kau mengejekku?"
"Aku bicara kenyataan. Aku berpikir apakah pernikahan kalian akan berjalan dengan baik, mengingat standar keluarga Chanyeol yang sangat tinggi."
"Baekhyun..," gumam Jongin, entah mengapa nama itu terlintas di benaknya, mungkin karena Baekhyun bukan berasal dari keluarga kaya raya menurut standar keluarga Chanyeol.
"Aku pikir dia pengecualian karena Suho tergila-gila padanya."
"Rupanya kau tahu banyak."
"Aku mengetahui semua hal yang berhubungan denganmu Kim Jongin."
"Kenapa kalimatmu terdengar lucu, Sehun."
"Mungkin keluarga Chanyeol setuju kalian menikah, jika kau keluarga Kim yang itu…," Sehun menatap Jongin lekat-lekat. "Kelurga Kim yang masuk majalah Forbes sebagai salah satu dari seratus orang terkaya di dunia."
"Itu bukan keluargaku!" balas Jongin cepat, ia berbalik dan berjalan meninggalkan Sehun dengan omongan menyebalkannya yang tak berhenti mengganggu.
"Bocah kecil pemberontak. Itu yang ayahmu sebutkan."
Jongin tak peduli dia terus melangkahkan kakinya cepat, menembus para undangan yang menatapnya remeh, suara pembawa acara menggema di seluruh gedung, acara pertunangan dimulai, semua undangan terfokus pada dua orang yang terlihat sangat serasi, Suho dan Baekhyun.
Dada Jongin bergemuruh, ia tidak tahu kenapa dirinya harus mencari Chanyeol secepat mungkin. Kontrak, ya dirinya sudah terikat kontrak, maka dia harus menyelesaikan kontraknya dengan baik. Jongin mengedarkan pandangannya ke seluruh tamu undangan berpakaian mewah, tidak ada tanda-tanda keberadaan Chanyeol. "Kemana si telinga lebar itu?" gusar Jongin.
"Kau tergila-gila pada Jongin, sayang, sepertinya kali ini kau harus menyerah dia milik Chanyeol." gumam Chen yang kini berdiri di samping Sehun setelah sebelumnya pergi mengambil minum.
"Menyerah dan kalah tidak pernah ada dalam kamus hidupku Hyung." Chen menoleh pelan, seringai Sehun yang mengerikan terukir menghiasi wajahnya yang sempurna. "Aku akan mencari tahu drama apa yang sebenarnya terjadi dan Jongin akan menjadi milikku."
Chen mengangkat tangan kirinya yang bebas membawa gelas ke atas, gesture menyerah. "Apapun rencanamu Oh Sehun, aku tidak ikut campur."
Sehun tertawa pelan. "Hyung tenang saja, ini permainanku jadi Hyung cukup duduk dan menikmatinya seperti penonton film yang baik."
"Setelah acara pertunangan, pernikahan akan dilaksanakan empat bulan lagi karena kesibukan saya." Suho berbicara di depan pengeras suara dengan segelas anggur di tangan kanannya. Gemuruh tepuk tangan menggema.
Jongin melihat upacara pertunangan yang membosankan, ia tidak tau kenapa semua orang harus bertepuk tangan antusias seperti menonton konser. Tidak, konser paling membosankanpun lebih baik dibanding acara pertunangan orang-orang kelas atas.
"Apa-apaan pakaian itu?" Jongin langsung menoleh menatap tajam perempuan bergaun putih dengan taburan kristal, yang mengejek dan merendahkannya.
"Apa-apaan make up tebal itu." balas Jongin sarkas, si perempuan mendengus dan melangkah pergi. "Pasti operasi plastiknya berkali-kali," gumam Jongin. "Chanyeol!" pekiknya, setelah sadar tujuan awalnya, ia merangsek maju dan melihat upacara pertunangan konyol ala keluarga Park atau keluarga Kim? Entahlah ada dua marga di keluarga besar Chanyeol.
Suho menyebutkan berbagai hal yang telah ia berikan kepada keluarga Byun sebagai tanda awal dimulainya sebuah hubungan serius, atau sebagai tanda pinangan. Jongin menggaruk pelipisnya, menyebalkan sekali, mendengar semua orang bertepuk tangan kembali, setelah mendengar berbagai barang-barang mewah yang Suho sebutkan.
Langkah Jongin terhenti karena posisi para tamu undangan yang terlalu dekat. "Uang, perhiasan, vila, mobil, itu biasa." Dengus Jongin. "Coba kau hadiahkan Bulan atau Pluto, itu luar biasa, sombong." Jongin tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba merasa kesal.
Tidak sulit menemukan Chanyeol sebenarnya, postur tubuhnya terlihat menonjol di antara para undangan. Jongin mempercepat kedua langkah kakinya menghampiri Chanyeol, meski dia tidak tahu harus melakukan apa saat berhadapan dengan Chanyeol nanti. Yang jelas, ada sesuatu yang menyuruhnya mendekat.
"Cium! Cium! Cium!" pekik seluruh tamu undangan, diiringi tepukan-tepukan tunggal berirama. Suho tersenyum penuh rasa bangga, Baekhyun menundukkan wajahnya. Chanyeol menatap pasrah, Jongin mempercepat kedua langkah kakinya menghampiri Chanyeol, dan Sehun melipat kedua tangannya di depan dada menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika tidak ada keluarganya yang terus memperhatikan, Chanyeol pasti akan melarikan diri. Melihat Suho yang sebentar lagi akan mencium Baekhyun, sama seperti melihat mobil kesayanganmu terjun ke jurang, baiklah, itu konotasi yang tidak terlalu cocok. Kira-kira seperti itu rasanya, saat hatimu hancur berkeping-keping.
"Cium! Cium!" seluruh tamu undangan berteriak, Suho bergeser mendekati Baekhyun menarik tangan kanan Baekhyun. Chanyeol ingin berteriak menghentikan semua itu, berteriak bahwa Baekhyun miliknya, tapi ada daya Suho anak tertua salahkan ibunya yang menikah dengan ayah Suho, seandainya Chanyeol tidak pernah memiliki saudara, seandainya Suho tidak pernah bertemu dengan Baekhyun saat itu. Tapi kalimat seandainya hanya akan menambah luka dan penyesalan yang terlanjur mengendap dan berkerak.
Chanyeol menghembuskan napas putus asa saat wajah Suho kian mendekati Baekhyun. "Hei!" pekik Chanyeol yang teredam riuh rendah para undangan. Seseorang menarik lengannya keras, menyentaknya, membuat tubuhnya memunggungi panggung. "Jongin..," gumam Chanyeol lirih.
"Kau tidak perlu melihatnya jika tidak ingin."
Chanyeol tersenyum miring. "Aku tidak berdaya untuk pergi dari sini."
"Kalau begitu diam. Bersikaplah acuh."
Acuh?! Seandainya Chanyeol bisa melakukan hal sederhana itu, sayang, ia tidak bisa acuh akan apa yang terjadi antara Suho dan Baekhyun. Riuh rendah tepuk tangan menarik perhatian Chanyeol, meski akan sakit namun Chanyeol ingin melihat cara Suho mencium Baekhyun.
"Jangan." Jongin menahan kepala Chanyeol untuk menoleh.
Chanyeol menatap lekat-lekat kedua mata Jongin, merasakan kedua telapak tangan Jongin yang hangat menyentuh kulit wajahnya. Chanyeol mengalihkan pandangannya pada kaos yang Jongin kenakan. "Apa kau tahu angka 21 adalah angka favoritku."
"Tidak, hanya kebetulan. Ini nomor punggungku saat di tim football SMA." Balas Jongin, Chanyeol tertawa pelan merasa betapa konyol dirinya saat ini, berdiri memunggungi panggung, berusaha acuh pada adegan romantis yang terjadi di belakangnya dengan obrolan tentang angka.
"Apa mereka masih berciuman?" Jongin mengangguk tidak tahu harus menjawab dengan cara apa.
"Aku masih membawa mobilmu yang lain." Kali ini Chanyeol tersenyum kecil, mendengar topik tak berguna lainnya sebagai pengalih perhatian.
"Masih ada mobil yang lain, akan aku ambil kapan-kapan. Mungkin setelah kita menikah."
Jongin memutar kedua bola matanya. "Jangan membicarakan pernikahan kita seolah-olah kita menginginkannya."
"Aku tidak menginginkannya." Chanyeol masih menatap tajam Jongin.
"Aku juga tidak menginginkannya." Kali ini Jongin mengangkat wajahnya, agar matanya menatap langsung kedua mata bulat Chanyeol.
"Mungkin takdir menginginkan kita untuk bertemu."
Jongin mengendikkan bahu. "Itu—terdengar menjijikkan." Chanyeol tertawa pelan. "Aku ingin kabur dari sini, kau?" Chanyeol menjawab pertanyaan itu dengan anggukan mantap.
Tangan kanan Jongin bergerak meraih tangan kiri Chanyeol, menggenggamnya erat, menarik si pemilik tangan itu keluar dari ruangan besar nan megah yang entah mengapa terasa begitu panas dan sesak.
Suara tepuk tangan dan riuh rendah para penonton terdengar semakin seru, Suho dan Baekhyun mungkin masih berciuman, namun Chanyeol kali ini akan bersikap acuh dan memilih memandangi angka 21, angka favoritnya yang tercetak pada punggung kaos Football Jongin.
TBC
